Fâtimah az- Zahrâ Penghulu Wanita
Alam Semesta
Adik-adik dan remaja tercinta
Adik-adik, dalam kehidupan dunia ini, kita memerlukan teladan dari yang
berakhlak agung dan mulia, sehingga dengan keteladanan dari mereka, kita dapat
meniru akhlak luhur mereka. Para pemimpin agama dan para Imam Ahlul Bait As
adalah contoh dan teladan bagi kita semua. Oleh karena itu, kami telah membuat
penelitian perihal kehidupan mereka, dengan maksud untuk memperkenalkan kepada
adik-adik akan kehidupan mereka. Dan semaksimal mungkin kami telah menyusun
buku-buku ihwal kehidupan mereka dengan bahasa sederhana sehingga dapat
dipahami dengan mudah.
Kumpulan kisah manusia-manusia suci ini disusun seringkas mungkin dengan tidak
melupakan keabsahan kisah-kisah teladan Imam Ahlul Bait itu.
Para ahli sejarah Islam telah mengkajinya secara serius dan mereka mendukung
adanya penyusunan buku ini.
Kami berharap, adik-adik sekalian sudi mengkajinya secara serius pula. Hasil
dari pelajaran ini, kami meminta kepada adik-adik untuk dapat menyampaikan
kesan dan pandangannya.
Kami sangat berterima kasih atas perhatian adik-adik. Dan semoga adik-adik mau
bersabar menantikan edisi-edisi selanjutnya.
Mukaddimah
Dahulu masyarakat memandang perempuan bagaikan hewan atau bagian dari kekayaan
yang dimiliki oleh seorang laki-laki.
Masyarakat Arab pada masa jahiliyah senantiasa memandang wanita seperti sesuatu
hal yang cela dan sebagian diantara mereka ada yang menguburkan putri mereka
hidup-hidup.
Ketika fajar mentari Islam terbit, Islam memberikan hak kepada kaum hawa dan
telah menentukan pula batas-batasnya seperti: hak sebagai ibu, sebagai istri
dan sebagai pemudi. Kita semua sering mendengar hadits Nabi Saw yang
menyatakan:
الجنة
تحت اقدام الامها
"Surga itu terletak di bawah kaki ibu."
رضاالله
ف? رضا الولدين
"Kerelaan dan keridloan Allah terletak pada keridloan orang tua" (dan
perempuan termasuk salah satu daripada orang tua).
Islam telah memberikan batasan kemanusiaan kepada wanita dan memberikan aturan,
dustur (undang-undang) yang memberikan perlindungan, penjagaan terhadap
kemuliaan wanita dan kehormatannya.
Sebagai contoh hijab/jilbab. Ia bukanlah penjara bagi wanita tapi ia merupakan
kebanggaan baginya sebagaimana kita lihat intan permata yang dibungkus di
antara kotak-kotaknya dan buah-buahan di dalam kulitnya.
Sedang bagi wanita muslimah, Allâh telah memberikan aturan yang dapat
melindunginya dan menjaganya yaitu hijab. Bahkan ia tidak hanya sekedar
penjaga, melainkan pula dapat menambah ketenangan dan kecantikan pada diri
wanita tersebut.
Wanita dalam pandangan Islam berbanding terbalik dengan apa yang menggejala di
Barat. Dunia barat memandang wanita laksana benda atau materi yang layak untuk
diiklankan, diperdagangkan dan bisa diambil keuntungan materinya dengan dalih
memelihara etika dan kemuliaan wanita sebagai manusia.
Pandangan ini benar-benar telah membuat nilai wanita terpuruk dan terpisah dari
naluri dan nilai-nilai kemanusiaan. Kita juga menyaksikan keretakan keluarga,
perceraian yang terjadi di dalam masyarakat barat telah sedemikian gawat.
Wanita dalam pandangan dunia barat telah berubah menjadi seonggok barang yang
tidak berharga, baik dalam dunia perfilman, iklan, promosi atau dalam dunia
kontes kecantikan.
Teman-teman, marilah kita menengok dan mengenal sosok teladan seorang wanita
dalam Islam yang terermin dalam kehidupan putri Rasulullah, Fâtimah Az-Zahra
As.
Fâtimah Az-Zahra putri Muhammad Saw
Fâtimah Az-Zahra istri tercinta Ali As
Fâtimah Az-Zahra Bunda Hasan, Husain, dan Zainab As.
Wiladah
Fâtimah As dilahirkan pada tahun ke lima setelah pengangkatan Muhammad Saw
menjadi Nabi (bi'tsat) dan bertepatan dengan tiga tahun setelah peristiwa Isrâ'
Mi'râj Rasulullah Saw. Sebelumnya Jibril As telah memberi kabar gembira kepada
Rasulullah akan kelahirannya. Fâtimah lahir pada hari Jumat, 20 Jumâdil Akhir di
kota suci Mekkah.
Fâtimah di Rumah Wahyu
Fâtimah As hidup dan tumbuh dalam haribaan wahyu dan nubuwwah. Beliau
dibesarkan dalam rumah yang penuh dengan kalimat-kalimat kudus Allah 'Azza wa
Jalla dan ayat-ayat suci al-Qur'ân.
Rasulullah Saw apabila melihat Fâtimah masuk ke dalam rumahnya beliau langsung
menyambut dan berdiri kemudian mencium kepala dan tangannya.
Suatu saat '?isyah bertanya pada Rasulullah Saw tentang sebab kecintaan beliau
yang sedemikian besar pada Fâtimah As. Nabi Saw berkata kepada '?isyah.
"Wahai '?isyah, jika engkau tahu apa yang aku ketahui tentang Fâtimah
niscaya engkau akan mencintainya sebagaimana aku mencintainya. Fâtimah adalah
darah dagingku. Ia tumpah darahku. Barang siapa yang membencinya berarti telah
membenciku dan barang siapa membahagiakannya berarti telah
membahagiakanku".
Kaum Muslimin telah mendengar sabda Rasulullah yang menyatakan bahwa
sesungguhnya Fâtimah diberi nama Fâtimah karena dengan nama itu Allâh Swt telah
memelihara setiap pecintanya dari azab api neraka.
Fâtimah Az-Zahrâ menyerupai ayahnya Muhammad Saw di dalam rupa dan akhlaknya.
Ummu Salamah Ra istri Rasulullah menyatakan bahwa Fâtimah adalah orang yang
paling mirip dengan Rasulullah. Demikian juga '?isyah, ia berkata bahwa Fâtimah
As adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah dalam ucapan dan fikirnya.
Fâtimah As mencintai ayahandanya melebihi cintanya kepada siapa pun.
Setelah ibunda kinasihnya Khadijah As wafat, beliau yang merawat ayahnya pada
usia ketika beliau masih berusia enam tahun. Beliau senantiasa berusaha untuk
menggantikan peranan ibundanya bagi ayahnya.
Pada usianya yang masih belia itu, ia menyertai ayahnya dalam berbagai cobaan
dan ujian yang dilancarkan oleh orang-orang musyrikin Mekkah kepadanya. Dialah
yang membalut luka-luka ayahnya dan yang mencuci kotoran-kotoran yang
dilemparkan ke arah ayahanda beliau yang dilakukan oleh orang-orang bodoh
Quraisy.
Beliau senantiasa mengajak bicara dengan ayahnya dengan pembicaraan yang dapat
menggembirakan dan menyenangkan hati ayahnya. Untuk itu Rasulullah Saw
menyebutnya dengan julukan "Ummu Abîha" yaitu ibu bagi ayahnya,
karena kasih sayangnya yang sedemikian tercurah kepada ayahandanya.
Perkawinan Fâtimah As
Setelah Fâtimah mencapai usia dewasa dan tiba pula saatnya untuk beranjak
pindah ke rumah suaminya (menikah, red-), maka banyak para sahabat yang
berupaya untuk meminangnya. Di antara mereka adalah Abû Bakar dan 'Umar.
Rasulullah menolak semua pinangan mereka. Rasulullah Saw berkata kepada mereka:
"Saya menunggu keputusan wahyu dalam urusannya (Fâtimah As)."
Kemudian Jibril datang untuk mengkhabarkan kepada Rasulullah Saw bahwa Allah
telah menikahkannya dengan 'Ali As. Kemudian 'Ali As datang menghadap
Rasulullah dengan perasaan malu menyelimuti wajahnya untuk meminang Fâtimah As.
Rasulullah pun menghampiri Fâtimah As untuk diminta pendapatnya seraya
menyatakan:
"Wahai Fâtimah, 'Ali bin Abî Tâlîb adalah orang yang telah kau kenali
kekerabatannya, keutamaan dan ke-Islamannya. Dan sesungguhnya aku (Rasulullah)
telah memohonkan pada Tuhanku agar menjodohkan engkau dengan sebaik-baik
mahkluk-Nya dan seorang pecinta sejati-Nya. Ia telah menyampaikan pinangannya
atasmu, bagaimana pendapatmu atas pinangan ini? Fâtimah As diam dan kemudian
Rasulullah mengangkat suaranya seraya bertakbir: "Allâhu Akbâr...! Diamnya
adalah tanda kerelaannya."
Acara Perkawinan
Rasulullah Saw mendatangi 'Ali As sambil mengangkat tangan 'Ali As seraya
berkata: "Bangunlah! Bismillâh Barakatillâh, 'Mâsyâ Allâh lâ quwwata îllâ
billâh, 'tawakkaltu 'alâ Allâh." Kemudian Nabi Saw menuntun 'Ali As dan
mendudukkannya di samping Fâtimah As. Beliau berdoa: "Ya Allâh,
sesungguhnya keduanya adalah makhluk-Mu yang paling aku cintai, maka cintailah
keduanya dan berkahilah keturunannya dan peliharalah keduanya. Sesungguhnya aku
menjaga keduanya dan keturunannya dari syaitan yang terkutuk. Kemudian
Rasulullah mencium keduanya sebagai tanda ungkapan selamat berbahagia, beliau
berkata : "Wahai 'Ali, sebaik-baik istri adalah istrimu". Kepada
Fâtimah As beliau menyatakan: "Wahai Fâtimah, sebaik-baik suami adalah
suamimu."
Di tengah-tengah keramaian dan kerumunan wanita yang berasal dari kalangan kaum
Ansâr, Muhâjirîn dan Banî Hâsyîm telah lahir sesuci-suci dan seutama-utamanya
keluarga dalam sejarah Islam yang kelak menjadi benih bagi Ahli Baît Nabi yang
telah Allâh hilangkan kotoran dari mereka dan telah Allah sucikan dengan
sesuci-sucinya.
Acara pernikahan kudus itu berlangsung dengan kesederhanaan. Saat itu 'Ali As
tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan sebagai mahar kepada istrinya selain
pedang dan perisainya. Untuk menutupi keperluan mahar perkawinan kudus itu, ia
bermaksud menjual pedangnya. Tetapi Rasulullah Saw mencegahnya karena Islam
memerlukan pedangnya dan setuju apabila yang dijual hanya perisainya . Lantas
'Ali As menjualnya dan uangnya diberikan kepada Nabi. Dengan uang tersebut
Rasulullah Saw memerintahkan 'Ali untuk membeli minyak wangi dan perabot rumah
tangga yang sederhana untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang baru ini.
Kehidupan mereka sangat bersahaja. Rumah mereka hanya memiliki satu kamar,
letaknya di samping masjid Nabi Saw.
Hanya Allâh Swt saja yang mengetahui kecintaan yang terpatri dan terjalin
diantara dua hati, 'Ali As dan Fâtimah As. Kecintaan mereka hanyalah untuk
Allâh dan di jalan Allah.
Fâtimah As senantiasa mendukung perjuangan 'Ali As dan pembelaannya terhadap
risalah Islam sebagai risalah ayahnya yang agung nan mulia. Dan suaminya dalam
setiap peperangan senantiasa berada pada barisan utama dan terdepan. Dialah
yang membawa panji Islam dalam setiap peperangan yang dilancarkan kaum
muslimin. Dan 'Ali As senantiasa berada di samping ayah mertuanya, Rasulullah
Saw.
Fâtimah As senantiasa berusaha untuk berkhidmat dan membantu suaminya. Juga
berupaya untuk meringankan kepedihan dan kesedihan suaminya. Beliau adalah
sebaik-baik istri yang taat. Beliau bangkit untuk memikul tugas-tugas sebagai
ibu rumah tangga, setiap kali suaminya pulang ke rumah, ia mendapatkan
ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan di sisi sang istri tercinta.
Fâtimah As merupakan pohon yang baik yang akarnya menghujam kokoh ke bumi dan
cabangnya menjulang tinggi ke langit. Fâtimah dibesarkan dengan cahaya wahyu
dan beranjak dewasa dengan cakrawala Al-Qur'ân.
Keluarga Teladan
Kehidupan suami istri adalah gabungan yang sempurna bagi dua kehidupan manusia
untuk menjalin kehidupan yang satu-padu dan bersama.
Kehidupan keluarga dibangun atas dasar kerjasama, tolong menolong, cinta, dan
saling menghormati.
Kehidupan 'Ali As dan Fâtimah As merupakan contoh dan teladan bagi kehidupan
suami istri yang bahagia. 'Ali As senantiasa membantu Fâtimah As dalam
pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya dan sebaliknya, Fâtimah As selalu berupaya
untuk mencari keridhaan dan kerelaan 'Ali As serta senantiasa memberikan rasa
gembira pada suaminya.
Pembicaraan mereka penuh dengan adab dan sopan santun. Apabila 'Ali As
memanggil Fâtimah As, beliau memanggilnya dengan "Yâ Binta
Rasulillah", Wahai putri Rasulillâh, dan apabila Fâtimah As memanggil 'Ali
As, ia memanggilnya dengan panggilan "Yâ Amirul Mu'minin."
Demikianlah, keduanya adalah contoh dan teladan bagi kedua pasangan suami-istri
dan bagi orang tua terhadap anak-anaknya .
Buah Hati
Pada tahun kedua Hijriah Fâtimah as melahirkan putra pertamanya yang oleh
Rasulullah Saw diberi nama "Al-Hasan". Rasul Saw sangat gembira atas
kelahiran al-Hasan. Beliau pun menyuarakan adzân pada telinga kanan Al-Hasan
dan iqamah pada telinga kirinya, kemudian dihiburnya pula dengan ayat-ayat
Al-Qur'ân.
Setahun kemudian lahirlah "Al-Husain". Rupanya Allâh Swt berkehendak
menjadikan keturunan Rasulullah Saw dari Fâtimah Zahra As. Rasul Saw mengasuh
kedua cucunya denga penuh perhatian, beliau senantiasa menyatakan tentang
keduanya sebagai buah hatinya di dunia.
Rasulullah selalu membawa mereka bersamanya. Bila beliau Saw keluar rumah,
beliau Saw selalu mendudukkan mereka berdua di haribaannya dengan penuh
kehangatan.
Suatu hari Rasul Saw lewat di depan rumah Fâtimah As. Tiba-tiba beliau
mendengar tangisan Al-Husain As. Kemudian Nabi dengan hati yang pilu dan sedih
mengatakan: "Tidakkah kalian tahu bahwa tangisnya menyedihkanku dan
menyakiti hatiku."
Setelah setahun berselang, Fâtimah As melahirkan Zaînab As. Setelah itu Ummu
Kultsûm. Sepertinya Rasul Saw teringat akan kedua putrinya Zaînab dan Ummu
Kultsûm ketika menamai kedua putri Fâtimah As dengan nama-nama tersebut.
Dan begitulah Allâh swt menghendaki keturunan Rasul Saw berasal dari putrinya
Fâtimah Zahrâ As secara turun temurun.
Kedudukan Fâtimah Zahra As
Meskipun kehidupan beliau sangat singkat tetapi beliau telah membawa kebaikan
dan berkah bagi semesta. Beliau adalah panutan dan cermin bagi wanita-wanita
lain. Beliau adalah pemudi teladan, istri panutan dan figur yang paripurna bagi
seorang wanita. Dengan keutamaan dan kesempurnaan yang dimiliki ini, beliau
disebut sebagai "Sayyidatun Nisâ' Al-'?lamîn ", Penghulu Wanita Alam
Semesta.
Bila Maryâm binti Imrân sebagai penghulu wanita pada zamannya, demikian juga
Asiah istri Fir'aun dan Khâdijah binti Khâwalid mereka semua adalah penghulu
kaum wanita pada zamannya, tetapi Sayyidah Fâtimah As beliau adalah penghulu
kaum wanita di sepanjang zaman semenjak dari wanita pertama hingga akhir zaman
nanti. Beliau adalah panutan dan suri teladan dalam segala hal.
Di kala masih gadis, ia senantiasa menyertai ayahnya dan ikut serta merasakan
kepedihan ayahnya. Dan pada saat menjadi istri 'Ali As, beliau selalu merawat
dan menjaga suaminya dan menyelesaikan segala urusan rumah tangganya hingga
suaminya merasa tenteram bahagia.
Demikian pula ketika beliau menjadi seorang ibu. Beliau telah mendidik
anak-anaknya sedemikian rupa atas dasar cinta, kebaikan, keutamaan, dan akhlak
yang luhur dan mulia. Hasan, Husain dan Zaînab As kesemuanya adalah teladan
yang tinggi dalam dunia akhlak dan kemanusiaan.
Kepergian Sang Ayah
Setelah Rasulullah Saw kembali dari Haji al-Wadâ', beliau Saw menderita sakit
bahkan Rasul pun sempat pingsan akibat panas dan demam keras yang menimpanya.
Fâtimah As bergegas menghampiri Rasulullah Saw dan berusaha untuk
menyelamatkannya dari kematian. Dengan air mata yang luruh berderai, Sayyidah
Fâtimah As berharap agar sang maut memilih dirinya dan merenggut nyawanya
sebagai ganti dan tebusan jiwa ayahandanya.
Tidak lama kemudian Rasul Saw membuka kedua matanya dan mulai memandang putri
satu-satunya itu dengan penuh perhatian. Lantas meminta padanya untuk
membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'ân. Fâtimah As pun dengan segera membacakan
Al-Qur'ân dengan suara yang khusyu'. Sedang sang ayah tenggelam dalam
kekhusu'an mendengarkan kalimat-kalimat suci Al-Qur'ân dan lantunan bacaan
Al-Qur'ân itu, Fâtimah pun memenuhi suasana rumah Nabi.
Beliau ingin menghabiskan detik-detik akhir hayatnya dalam keadaan mendengarkan
suara putrinya yang telah menjaganya di waktu masih kecil dan berada di samping
ayahnya di saat dewasa.
Rasul Saw meninggalkan dunia dan ruhnya yang suci mi'râj ke langit.
Kepergian Rasul Saw merupakan musibah yang sangat besar bagi putrinya sampai
hatinya tidak kuat memikul musibah besar tersebut hingga siang dan malam,
beliau selalu menangis.
Belum habis penderitaan yang satu ini ia mendapat pukulan yang lebih berat lagi
dari para sahabat yang bermain politik dan rakus akan kedudukan. Setelah mereka
merampas tanah "Fadak" dan berpura-pura bodoh terhadap hak suaminya dalam
masalah kekhalîfahan (kepemimpinan).
Fâtimah Al-Zahra As berupaya untuk mengambil dan mempertahankan haknya dengan
penuh keberanian yang tinggi.
Imam 'Ali As melihat bahwa perlawanan terhadap khalifah yang dilakukan Sayyidah
Fâtimah As secara terus menerus bisa menyebabkan negara terjerumus ke dalam
fitnah dan bahaya. Hingga dengan demikian seluruh perjuangan Rasul Saw akan
sirna dan manusia akan kembali ke dalam masa jahiliyah.
Maka 'Ali As memohon kepada istrinya yang mulia untuk menahan diri dan bersabar
demi menjaga risalah Islam yang suci ini.
Akhirnya Sayyidah Fâtimah as pun berdiam diri, tetapi dengan penuh kemarahan
dan mengingatkan kaum muslimin bahwa "kemarahannya adalah kemarahan
Rasulullah Saw dan kemarahan Rasulullah Saw adalah kemarahan Allâh Swt."
Sayyidah Fâtimah As diam dan bersabar diri hingga beliau wafat. Bahkan beliau
berwasiat agar supaya dikuburkan di tengah malam secara rahasia.
Kepergian Fâtimah Al-Zahra As
Fâtimah Al-Zahra As bagaikan cahaya lilin yang menyala-nyala kemudian
perlahan-lahan redup. Ia tidak bisa tinggal lama setelah kepergian ayahnya.
Kesedihan senantiasa muncul setiap kali adzan dikumandangkan, terlebih ketika
sampai pada kalimat: "Asyhadu anna Muhammad ar-Rasulullah ".
Kerinduannya untuk segera bertemu dengan ayahnya semakin bertambah. Bahkan kian
lama kesedihannya pun makin bertambah. Badannya terasa lemah tidak sanggup
menahan renjana jiwanya kepada ayahnya.
Demikianlah keadaan Sayyidah Fâtimah As saat meninggalkan dunia. Beliau
tinggalkan Al-Hasan As yang masih 7 tahun, Al-Husain As 6 tahun, Zaînab As yang
masih 5 tahun dan Ummi Kultsûm dalam usianya yang memasuki umur 3 tahun.
Dan yang paling berat dalam perpisahan ini adalah ia harus meninggalkan 'Ali
As, suami sekaligus pelindung ayahnya dalam jihad dan teman hidupnya di segala
medan.
Sayyidah Fâtimah As memejamkan mata untuk selamanya setelah berwasiat pada
suaminya akan anak-anaknya yang masih kecil agar hendaknya ia dikuburkan secara
rahasia. Hingga sekarang pun marqad suci (kubur) Sayyidah Fâtimah As masih
misterius. Dengan demikian terukirlah tanda tanya besar dalam sejarah tentang
dirinya.
Fâtimah Al-Zahra As senantiasa memberikan pemahaman kepada sejarah akan
penuntutan beliau atas hak-haknya yang telah terampas. Sehingga umat Islam pun
kian bertanya-tanya terhadap rahasia kemisteriusan kuburan beliau.
Imam 'Ali As dengan penuh kesedihan duduk di tepi kuburannya diiringi kegelapan
yang menyelimuti malam ketika itu. Kemudian Imam As mengucapkan salam:
"Salam sejahtera bagimu duhai Rasulullah... dariku dan dari putrimu yang
kini berada di sampingmu dan yang paling cepat datang menjumpaimu. Duhai
Rasulullah telah berkurang kesabaranku atas kepergian putrimu dan telah
berkurang pula kekuatanku... Putrimu akan mengkhabarkan padamu tentang umatmu
yang telah menghancurkan hidupnya. Pertanyaan yang meliputinya dan keadaan yang
akan menjawab. Salam sejahtera untuk kalian berdua!".
Riwayat
Hidup Sayyidah Fâtimah As
Nama : Fâtimah As
Julukan : Az-Zahrâ, Al-Batul, At-Tâhirah
Nama Ayah : Muhammad Saw
Ibu : Khâdijah binti Khâwailid As
Tanggal Lahir: Jumat 20 Jummadil Akhir
Tempat : Makkah Al- Mukarramah
Wafat : Madinah, Tahun 11 H
Haram : Misteri (rahasia)
Jawablah pertanyaan-pertanyaan
berikut ini dengan cermat!
1. Mengapa Nabi Saw sangat mencintai Fâtimah As?
2. Mengapa Nabi Saw menolak setiap orang yang meminang Fâtimah Al-Zahra As?
3. Mengapa Fâtimah As berwasiat supaya dikuburkan secara rahasia?
* * * *
Seri
Pemuka Manusia Suci
Muhammad bin Abdullâh
'Ali bin Abî Tâlîb
Fâtimah binti Muhammad
Hasan bin 'Ali bin Abî Tâlîb
Husaîn bin 'Ali bin Abî Tâlîb
'Ali bin Husaîn Zainal Abidin
Muhammad bin 'Ali al-Bâqir
Ja'far bin Muhammad Bâqir
Mûsâ bin Ja'far al-Kâzim
'Ali bin Mûsâ ar-Ridâ
Muhammad bin 'Ali al-Jawâd
'Ali bin Muhammad al-Hâdî
Hasan bin 'Ali al-'Askarî
Muhammad bin Hasan al-Mahdî