Total Tayangan Halaman

Kamis, 29 Januari 2015

KONSEP KENABIAN


29. Apakah Berakhirnya Silsilah Kenabian Selaras dengan Cara Manusia untuk Meniti Kesempurnaan?

Tidakkah mungkin aktifitas masyarakat akan berhenti? Tidakkah jalan kesempurnaan itu memiliki batas? Tidakkah kita melihat dengan mata kepala kita sendiri bahwa manusia sekarang ini telah mencapai ilmu pengatahuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan manusia masa lalu?
Oleh karena itu, bagaimana mungkin kantor kenabian secara keseluruhan tutup dan manusia dalam meniti jalan kesempurnaannya akan kehilangan kepemimpinan nabi-nabi baru?
Jawaban atas pertanyaan ini akan menjadi jelas bila kita perhatikan bahwa acapkali manusia mencapai tingkatan kedewasaan berpikir dan berbudaya, ia dapat melanjutkan perjalanannya menuju kesempurnaan dengan senantiasa memanfaatkan prinsip dan ajaran yang secara umum telah diberikan oleh nabi pamungkas, tanpa perlu lagi kepada syariat baru.
Ketika seseorang telah mencapai suatu jenjang pendidikan, ia masih memerlukan seorang pengajar dan arahan baru sehingga ia dapat menempuh jenjang berikutnya. Namun, tatkala ia mencapai jenjang doktoral, mujtahid dan spesialis di suatu bidang ilmu, ia tidak lagi menjalani pendidikannya di bawah bimbingan dosen atau guru baru, tetapi bersandar pada apa yang telah didapatkannya dari para dosennya yang terakhir. Ia meluangkan waktunya untuk kembali melakukan penelitian dan pengkajian ilmu yang telah diraihnya selama ini.
Dengan kata lain, ia memecahkan persoalan-persoalannya berdasarkan kaidah-kaidah umum yang telah diperolehnya dari dosen-dosen terakhir. Oleh karena itu, dengan berlalunya waktu, ia tidak memerlukan lagi agama dan ajaran baru. (Perhatikan baik-baik).
Setiap nabi terdahulu telah memberikan kepada manusia peta dari setiap bagian perjalanan ini sehingga ia dapat mencapai kesempurnaan. Sangat jelas bahwa dengan mendapatkan peta perjalanan secara umum, ia tidak lagi memerlukan peta baru. Uraian ini merupakan penjelasan atas redaksi riwayat tentang berakhirnya silsilah para nabi. Dan Nabi saw. adalah peletak batu terakhir istana menawan dan kokoh risalah Ilahi ini.
Semua ini adalah pembahasan ihwal tidak perlu adanya ajaran dan agama baru. Akan tetapi, masalah kepemimpinan dan imâmah yang merupakan konsep universal untuk mengimplementasikan fondasi dan hukum-hukum serta menolong orang-orang yang lemah di tengah perjalanan, adalah masalah lain. Manusia sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri dari keperluan ini. Atas dasar inilah, berakhirnya silsilah konsep kenabian tidak berarti berakhirnya silsilah konsep imâmah, sebab penjelasan konsep kenabian dan implementasi praktisnya tanpa keberadaan seorang pemimpin maksum Ilahi mustahil dapat terwujud.

30. Apakah Ajaran yang Dimiliki oleh Nabi saw. sebelum Diutus sebagai Nabi?

Tidak syak lagi bahwa sebelum diutus menjadi nabi (bi'tsah), Nabi saw. tidak pernah sujud kepada berhala dan menyimpang dari garis tauhid. Dan sejarah kehidupannya dengan baik merefleksikan makna ini. Akan tetapi, ajaran manakah yang menjadi ikutan Nabi saw. sebelum periode pengutusan? Hal ini masih menjadi bahan dialog di antara ulama.
Sebagaian berpendapat bahwa Nabi saw. mengikuti ajaran Nabi Isa a.s., lantaran sebelum periode bi'tsah, ajaran yang resmi dan belum dihapus oleh ajaran lain adalah ajaran Nabi Isa a.s.
Sebagaian yang lain berpendapat bahwa Nabi saw. adalah pengikut ajaran Nabi Ibrahim a.s., karena Nabi Ibrahim a.s. merupakan Syaikh Al-Anbiyâ'; bapak para nabi. Sebagian ayat pun menerangkan Islam sebagai ajaran Nabi Ibrahim a.s., "... agama orang tuamu Ibrahim ...." (QS. Al-Hajj [22]: 78)
Sebagian lagi mengungkapkan ketidaktahuan mereka dan berkata, "Kita tahu bahwa Nabi saw. memiliki ajaran. Namun, ajaran apa? Hal ini tidak jelas bagi kita."
Meski masing-masing pendapat itu memiliki alasan, tetapi tidak satu pun yang dapat dipastikan. Namun, yang lebih mendekati kebenaran di antara ketiga pendapat di atas adalah pendapat yang keempat; bahwa Nabi saw. secara pribadi memiliki program khusus dari sisi Allah Swt. dan beramal berdasarkan program tersebut. Program khusus ini adalah ajaran khusus Nabi saw. hingga masa Islam diturunkan untuknya.
Dalil pendapat ini bertolak dari sebuah hadis yang terdapat di dalam Nahjul Balâghah: "Sejak masa Rasul saw. disapih, Allah menugaskan malaikatnya yang terbesar guna membinanya sesuai jalan-jalan kemuliaan dan budi pekerti, siang dan malam." Penugasan malaikat ini adalah dalil atas adanya program khusus bagi Nabi saw.
Dalil lain adalah tidak satu pun sejarah yang melaporkan bahwa Nabi saw. sibuk beribadah di dalam sinagog (peribadatan agama Yahudi) dan gereja. Beliau tidak pernah berada di samping seorang kafir, dan juga tidak di sisi Ahli Kitab untuk beribadah di tempat-tempat ibadah mereka. Sementara itu, beliau harus melanjutkan tongkat estafet dari nabi-nabi sebelumnya di atas jalan tauhid. Dan Nabi saw. konsisten pada prinsip akhlak mulia dan penyembahan kepada Tuhan.
Di samping itu, terdapat riwayat yang mutawatir sebagaimana yang dinukil oleh Allamah al-Majlisi dalam Bihâr al-Anwâr, bahwa Nabi saw. sejak usia belia ditopang oleh Ruhul Kudus. Berkat penopangan ini, beliau hidup berdasarkan ilham dari Ruhul Kudus.
Allamah Al-Majlisi secara pribadi meyakini bahwa Nabi saw. sebelum memegang kedudukan risalah telah menjadi seorang nabi. Terkadang para malaikat bercakap dengannya dan beliau juga mendengarkan suara mereka. Dan terkadang beliau memperoleh ilham dari Allah Swt. dalam mimpi. Setelah genap berusia empat puluh tahun, beliau mencapai kedudukan pengemban risalah, dan Al-Qur'an serta Islam secara resmi diturunkan kepada beliau. Allamah Al-Majlisi mengajukan enam dalil atas pendapat yang terakhir ini. Sebagian dalil-dalil tersebut sesuai dengan apa yang telah kami uraikan di atas.

31. Apa Perbedaan antara Kenabian (nubuwah), Kepemimpinan (imâmah) dan Kerasulan (risâlah)?

Berdasarkan arahan-arahan Al-Qur'an dan beberapa hadis yang menjelaskan orang-orang yang ditugaskan oleh Allah Swt., mereka memiliki kedudukan yang berbeda-beda:


a. Kedudukan Kenabian (Nubuwah)

Kedudukan kenabian adalah sebuah kedudukan penerimaan wahyu dari Allah Swt.. Oleh karena itu, nabi adalah orang yang mendapatkan wahyu dan menyampaikannya kepada orang-orang yang menghendakinya.


b. Kedudukan Kerasulan (Risâlah)

Kedudukan kerasulan adalah kedudukan yang mengemban tugas penyampaian wahyu, penyebaran hukum-hukum Tuhan, dan pembinaan jiwa-jiwa manusia melalui pengajaran ilmu dan menyucian diri. Oleh karena itu, rasul adalah orang yang bertugas untuk mengajak manusia kepada Tuhan dengan segenap upaya serta memanfaatkan segala fasilitas yang ada. Ia berusaha untuk mengusung sebuah revolusi budaya, pemikiran dan ideologi.


c. Kedudukan Kepemimpinan (Imâmah)

Imâmah adalah kepemimpinan umat. Sejatinya, imam adalah seorang yang -dengan membentuk sebuah pemerintahan Ilahi dan memperoleh kekuasaan yang diperlukan- berupaya untuk menerapkan hukum-hukum Tuhan di muka bumi. Dan sekiranya tidak mampu secara resmi mendirikan pemerintahan, ia tetap harus berupaya semaksimal kemampuan yang dimilikinya.
Dengan kata lain, tugas-tugas imam adalah menjalankan ketentuan Ilahi, sementara tugas-tugas rasul adalah menyampaikan ketentuan-ketentuan ini. Atau, rasul "menunjukkan jalan", dan imam "mengantarkan sampai ke tujuan".
Jelas bahwa kebanyakan para nabi, seperti Nabi saw., memiliki ketiga kedudukan di atas. Nabi saw., di samping memperoleh wahyu dan menyampaikannya, juga bertugas dan berupaya membentuk sebuah pemerintahan dalam rangka penerapan hukum-hukum Ilahi, dan menggelontorkanya melalui jalan batin dalam pembinaan jiwa.
Singkatnya, imâmah merupakan kepemimpinan yang berdimensi bendawi dan maknawi, jasmani dan ruhani, lahir dan batin. Imam adalah kepala pemerintahan dan pemimpin masyarakat, pemimpin agama, pembina akhlak, pemimpin lahir dan batin.
Dari satu sisi, imam memimpin orang-orang yang memiliki kelayakan menempuh jalan kesempurnaan dengan kekuatan spiritual. Dengan kekuatannya, ia mengajarkan orang-orang yang buta aksara dan dengan kekuasaan pemerintahannya atau kekuatan hukum lainnya, ia menerapkan asas keadilan.

32. Bagaimana Mungkin Kenabian dan Imâmah Diperoleh pada Usia Belia?

Di dalam surat Maryam [19], ayat 12 kita membaca, "Hai Yahya, ambillah al-Kitab [Taurat itu] dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak."
Berangkat dari ayat ini, soal yang kemudian mengemuka adalah bagaimana mungkin seorang manusia pada masa kecilnya telah mencapai kedudukan kenabian dan kerasulan?
Benar bahwa masa berseminya akal manusia biasanya memiliki batasan dan ukuran khusus. Akan tetapi, kita ketahui bahwa pada segenap manusia, terdapat orang-orang yang memiliki keistimewaan. Apa halangan bagi Allah Swt. -dengan alasan maslahat- menyingkat waktu sebagian hamba-hamba-Nya? Biasanya seseorang memerlukan waktu satu atau dua tahun untuk dapat berbicara. Sementara kita ketahui bahwa Nabi Isa a.s. telah dapat berbicara pada hari pertama kelahirannya ke dunia, itu pun dengan ucapan yang sarat makna yang -menurut kebiasaan umum- sebobot ucapan orang-orang dewasa.
Dari sini akan menjadi jelas bagi sebagian orang yang mempermasalahkan para Imam Syi'ah, yakni mengapa sebagian para imam maksum mencapai kedudukan kepemimpinan (imâmah) pada usia yang masih belia?
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa salah seorang sahabat Imam Al-Jawad bin Ali An-Naqi a.s. yang bernama Ali bin Asbath berkata, "Aku datang menghadap kepada Imam Al-Jawad a.s. (dan pada waktu itu beliau masih belia). Aku tegap berdiri di hadapannya dan memandangnya dengan seksama sehingga aku dapat mencamkan dalam benakku untuk kuceritakan segala apa yang telah terjadi kepada para sahabat sewaktu aku kembali ke Mesir (bahwa Imam al-Jawad a.s. masih belia). Pada saat aku berpikiran demikian, Imam Al-Jawad duduk (seakan-akan beliau dapat membaca seluruh pikiranku). Pandangannya mengarah kepadaku seraya berkata, 'Wahai Ali bin Asbath! Apa yang telah dilakukan oleh Allah Swt. mengenai imâmah persis dengan apa yang telah dilakukan oleh-Nya mengenai kenabian. Kadang-kadang Ia berfirman, '... Kami berikan kepada Yahya ....' dan kadang pula Dia berfirman tentang manusia, '... Tatkala manusia mencapai usia empat puluh tahun (masa baligh sempurna)....' Oleh karena itu, sebagaimana Allah Swt. mampu memberikan "hikmah" kepada manusia pada masa belianya, demikian juga Ia mampu untuk memberikan "hikmah" kepada manusia pada usia empat puluh tahun.'"
Sementara itu, ayat ini juga merupakan jawaban tegas bagi para pengkritik yang berpendapat bahwa Ali bukanlah pria pertama yang beriman kepada Rasulullah saw., lantaran ketika itu ia adalah seorang bocah kecil yang berusia sepuluh tahun, dan iman bocah sepuluh tahunan tidak dapat diterima.
Poin ini juga layak disebutkan di sini. Dalam sebuah hadis dari Imam Ali bin Musa Ar-Ridha a.s. kita membaca, "Sekelompok anak kecil datang kepada Nabi Yahya a.s. (yang masih kecil) seraya berkata, 'Ayo kita main bersama!' Yahya a.s. menjawab: 'Kita tidak diciptakan untuk bermain.' Di sini Allah Swt. berfirman, '... Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak.'"
Tentu saja, maksud dari bermain di sini adalah menghabiskan waktu senggang tanpa alasan dan manfaat. Dengan ungkapan lain, sebuah kekonyolan. Karena, terkadang permainan digunakan untuk mencapai sebuah tujuan logis dan rasional. Sangat jelas bahwa permainan seperti ini termasuk pengecualian dalam masalah ini.

33. Apakah Hakikat Wahyu yang Serbamisteri itu?

Tidak syak lagi, kita tidak dapat menemukan data yang banyak tentang wahyu dan hakikatnya. Lantaran wahyu adalah salah satu jenis pengetahuan di luar jangkauan pengetahuan kita. Di samping itu, wahyu merupakan salah satu bentuk hubungan yang berada di luar hubungan-hubungan yang telah kita ketahui. Ranah wahyu bagi kita adalah sebuah ranah yang asing dan berada di luar pengetahuan kita.
Sebenarnya, bagaimana seorang manusia bumi dapat menjalin hubungan dengan Sumber Awal alam semesta? Bagaimana Tuhan Yang Azali dan Abadi serta Nir-batas dari segala dimensi dapat menjalin hubungan dengan makhluk yang serba terbatas dan mumkin al-wujud? Dan pada detik-detik turunnya wahyu, bagaimana Nabi saw. mendapatkan keyakinan bahwa hubungan ini bersumber dari-Nya?
Segenap soal yang diuraikan di atas merupakan pertanyaan-pertanyaan yang pelik bagi kita untuk menjawabnya. Dan bersikeras untuk memahaminya adalah sangat tidak beralasan.
Satu-satunya pembahasan yang rasional dan dapat diuraikan bagi kita adalah wujudnya atau kemungkinan adanya hubungan seperti ini bersifat misterius.
Kita berasumsi bahwa tidak satu pun dalil rasional yang dapat menafikan masalah seperti ini. Akan tetapi, sebaliknya, kita melihat dalam kosmos diri kita sendiri terdapat hubungan-hubungan batin yang tidak dapat kita interpretasikan. Hubungan-hubungan ini menunjukkan bahwa apa yang ada di atas rasa dan hubungan-hubungan kita juga memiliki cerapan dan pandangan-pandangan yang lain.
Tidak ada salahnya kita menjelaskan masalah ini dengan menyebutkan perumpamaan.
Anggaplah kita hidup di kota orang-orang buta -tentu saja orang-orang buta semenjak lahir- dengan dua mata yang mampu melihat. Segenap penduduk kota bercatur indra (seperti yang kita ketahui bahwa keseluruhan indra lahiriah manusia berjumlah lima) dan hanya kitalah orang yang berpanca indra. Dengan mata, kita melihat banyak kejadian yang terjadi di kota itu dan mewartakan kepada penduduk kota tersebut. Namun, mereka semuanya akan merasa takjub, apakah kelima indra misterius ini memiliki aktifitas yang sedemikian luas dan lapang? Semampu apa pun kita membahas indra penglihatan ini berikut aplikasinya, tidaklah berguna, kecuali kebingungan yang tersisa di benak mereka. Dari satu sisi, mereka tidak dapat mengingkari keberadaan panca indra ini, lantaran mereka mendapatkan efek beragam darinya dan merasakannya. Di sisi lain, mereka tidak dapat mendapatkan hakikat penglihatan tersebut, sebab mereka tidak pernah melihat seumur hidup mereka.
Kita tidak berasumsi bahwa wahyu merupakan indra keenam. Akan tetapi, kita berasumsi bahwa wahyu ini merupakan satu jenis pengetahuan dan hubungan dengan alam gaib dan Dzat Kudus Ilahi. Karena kita tidak memiliki pengetahuan dan hubungan tersebut, kita tidak dapat mengetahui hakikatnya. Betapa pun kita beriman kepada keberadaannya melalui efeknya.
Maka sebatas ini, yang dapat kita lihat adalah adanya seorang manusia agung yang datang kepada umat manusia dengan membawa dakwah yang muatannya berada di luar pikiran mereka. Ia mengajak mereka kepada Tuhan dan ajaran-Nya dengan bukti mukjizat dan kekuatan supra-natural yang berada di luar kemampuan umat manusia, sehingga ia dapat mengadakan hubungan dengan dunia gaib. Efeknya tampak, namun hakikatnya laten.
Apakah kita telah mampu menyingkap seluruh rahasia jagad ini sehingga ketika kita bisa bersinggungan dengan fenomena wahyu dan sulit memahami hakikatnya, lalu mengingkarinya?
Kita bahkan di dunia ini melihat fenomena misterius yang tidak dapat kita interpretasikan. Coba perhatikan burung-burung yang suka eksplorasi, yang dalam perjalanan jauhnya melintasi angkasa dengan jarak delapan belas ribu kilometer dalam setahun, terbang dari kutub utara menuju kutub selatan dan demikian juga sebaliknya. Apakah kehidupan burung-burung yang sarat misteri itu sudah jelas bagi kita?
Bagaimana burung-burung ini menentukan arah terbangnya dan mengenal dengan baik jalan lintasnya? Terkadang pada waktu malam gelap gulita atau siang hari, mereka melanjutkan perjalanan panjang. Sementara ketika kita -tanpa alat-alat teknis dan penunjuk jalan- hendak melintasi bahkan satu per seratus jarak perjalanan mereka, segera kita akan kesasar. Hal ini merupakan sesuatu yang belum dapat disingkap oleh ilmu dan sains.
Sekelompok ikan yang habitatnya berada di kedalaman laut, biasanya pada saat bertelur mereka kembali ke tempat bertelur aslinya yang barangkali berjarak ribuan kilometer darinya. Dari mana mereka tahu dengan mudah tempatnya bertelur itu?
Fenomena-fenomena misterius seperti ini di alam yang kita huni ini sangatlah banyak. Dan segenap fenomena inilah yang mencegah kita untuk mengingkari dan menafikannya. Dan kita teringat penjelasan Ibnu Sina yang berkata, "Apabila Anda mendengar sesuatu yang aneh, janganlah segera Anda ingkari. Berikanlah sedikit kemungkinan sepanjang dalil pasti belum tersedia. Maka hal itu tidak akan menjadi kendala bagi Anda."
Kini lihatlah bagaimana upaya sia-sia kaum materialis dalam mengingkari masalah wahyu?


Logika Para Pengingkar Wahyu

Ketika masalah wahyu diuraikan, sebagian kaum materialis dengan tergesa-gesa seraya menyangkal: "Hal ini bertentangan dengan sains."
Dan ketika kita bertanya di manakah letak pertentanganannya dengan sains? Begitu yakin dan arogannya mereka mereka menjawab: "sekedar sesuatu tidak dapat dibuktikan oleh ilmu sains, sudah cukup bagi kami untuk mengingkarinya. Prinsip kami adalah asumsi bahwa segala sesuatu itu terbukti dengan standar empiris!"
Terlepas dari masalah ini, dalam menelaah penelitian-penelitian ilmiah tentang jiwa dan raga manusia, kita tidak bersinggungan dengan indra misterius yang dapat menghubungkan kita dengan dunia supranatural. Para nabi itu sejenis kita. Bagaimana dapat diyakini bahwa mereka memiliki pengetahuan dan indra di atas pengetahuandan indra kita?


Isykalan Dawam dan Jawaban Dawam

Keterlibatan kaum materialis tidak terbatas pada masalah ini saja. Dalam segenap urusan yang berkenaan dengan dunia metafisika, mereka bersikap seperti ini. Dalam mengoreksi kesalahan mereka, perlu kita sampaikan: "Janganlah Anda lupakan ruang lingkup ilmu. (Tentu saja bila maksud mereka adalah ilmu empirik). Parameter dan alat-alat yang digunakan untuk penelitian ilmiah, laboratorium, teleskop, mikroskop, ruang anatomi, semuanya bekerja dalam keterbatasan ini. Ilmu-ilmu dengan alat-alat dan parameter-parameter ini secara mutlak tidak dapat memberikan komentar di luar penelitian ilmu empirik; tidak menafikannya juga tidak memastikannya. Mengapa? Jawabannya juga jelas, bahwa parameter dan alat ilmu-ilmu itu memiliki kemampuan dan ruang lingkup aplikasi yang terbatas.
Instrumen setiap ilmu-ilmu alam juga khusus dalam ruang lingkupnya sendiri. Lebih dari itu, ia tidak memiliki kemampuan dan aplikasi. Sebagai contoh, apabila kita tidak melihat mikroba sel yang kita letakkan di balik teleskop raksasa astronomi, kita tidak dapat mengingkari keberadaan mikroba tersebut. Demikian juga, kita tidak dapat mempersoalkan apabila kita tidak dapat melihat planet Pluto dengan menggunakan mikroskop kecil.
Instrumen penelitian pada setiap subjek sesuai dengan disiplin ilmunya sendiri. Dan instrumen untuk mengenal dunia metafisik tidak lain adalah menggunakan penalaran akal yang membuka jalan bagi kita untuk masuk ke dunia tersebut.
Mereka yang mengeluarkan ilmu dari ruang lingkupnya, sejatinya bukanlah seorang ilmuwan, juga bukan seorang filsuf. Melainkan seorang pendakwa yang berbuat kekeliruan dan menyimpang dari jalannya.
Sebatas ini, kita melihat bahwa orang-orang besar datang dan mengetengahkan kepada kita masalah yang berada di luar kekuatan manusia dan menjalin hubungan dengan dunia di luar dunia materi. Namun, bagaimana hubungan misterius ini? Tidak jelas bagi kita. Yang terpenting adalah bahwa kita mengetahui adanya hubungan demikian.

34. Benarkah Nabi saw. itu seorang yang ummi?

Ada tiga kemungkinan yang populer ihwal pengertian "ummi": pertama, orang yang tidak belajar, kedua, orang yang lahir di bumi Makkah dan bangkit sebagai rasul (bi'tsah) dari Makkah, dan ketiga, orang yang bangkit dari tengah-tengah umat dan masyarakat (yang buta huruf). Pengertian yang paling akrab adalah kemungkinan yang pertama, karena lebih sesuai dengan penggunaan kalimat ini. Sebagaiman yang telah kami sebutkan, boleh jadi yang dimaksud adalah ketiga kemungkinan tersebut.
Realita bahwa Nabi saw. tidak pernah pergi ke suatu tempat belajar-mengajar dan tidak pernah menulis, dapat diterima oleh para sejarawan. Dan Al-Qur'an juga dengan tegas menyebutkan kondisi beliau sebelum bi'tsah.
Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya [Al-Qur'an] sesuatu kitab pun dan kamu tidak [pernah] menulis suatu kitab dengan tangan kananmu. Sekiranya [kamu pernah membaca dan menulis], benar-benar ragulah orang yang mengingkarimu. (QS. Al-'Ankabut [29]: 48)

Pada dasarnya, di lingkungan Hijaz, orang-orang yang pandai sangat sedikit sehingga mereka dengan mudah dikenal. Termasuk di Makkah, ibu kota Hijaz, jumlah orang-orang yang mampu membaca dan menulis tidak lebih dari 17 orang dan hanya seorang wanita yang pandai membaca dan menulis.
Tentu saja di lingkungan seperti ini, sekiranya Nabi saw. belajar membaca dan menulis pada seorang guru, beliau akan terkenal saat itu. Seandainya kita tidak menerima kenabiannya, bagaimana mungkin beliau dalam kitabnya menjelaskan keummian dirinya dengan tegas? Apakah masyarakat tidak akan protes kepadanya seraya barkata, "Kamu kan pernah belajar"? Hal ini merupakan indikasi yang jelas akan keummiannya.
Bagaimanapun, adanya sifat ummi ini pada diri Nabi saw. merupakan penegas kenabian beliau, sehingga seluruh kemungkinan selain hubungan dengan Tuhan dan dunia metafisik dalam ranah dakwahnya dapat ternafikan.
Kedua hal ini merupakan pembahasan sebelum masa kenabian. Demikian juga, setelah periode bi'tsah, tidak ada catatan sejarah bahwa beliau pernah mendapatkan pelajaran membaca dan menulis dari seseorang. Dengan demikian, keummian berlangsung hingga akhir hayat beliau.
Akan tetapi, kesalahan besar yang harus dihindari di sini adalah, bahwa tidak belajar bukan berarti tidak berpendidikan (tidak pandai). Dan orang yang menafsirkan bahwa ummi itu bermakna tidak berpendidikan, ia telah beranggapan bahwa kedua-duanya tidak berbeda.
Melalui pengajaran Ilahi, tidak satu pun kendala yang menghadang Nabi saw. untuk mampu membaca dan menulis, tanpa harus mendapatkannya dari orang lain, lantaran tak syak lagi bahwa kemampuan ini merupakan kesempurnaan insani dan penyempurna kenabian.
Argumentasinya adalah sebagaimana yang dinukil dalam riwayat dari para imam Ahlul Bait a.s., "Nabi saw. dapat membaca dan atau memiliki kemampuan untuk membaca, juga kemampuan untuk menulis." Namun, Nabi saw. tidak menggunakannya lantaran tidak ingin menyisakan secuil pun keraguan orang atas dakwahnya kepadanya.
Adapun klaim sebagian orang bahwa kemampuan membaca dan menulis tidaklah termasuk kesempurnaan seseorang, melainkan kedua hal ini merupakan kunci untuk mencapai kesempurnaan ilmu, bukan ilmu sejati dan kesempurnaan hakiki, pada hakikatnya jawaban atasnya tersisip di dalam klaim itu sendiri, karena mengetahui sesuatu merupakan salah satu perantara mencapai kesempurnaan. Beliau sendiri adalah kesempurnaan yang nyata.
Atau klaim sebagian orang bahwa ayat, "Membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, membersihkan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah...." (QS. Al-Jumu'ah [62]: 2) dan ayat-ayat lain dengan redaksi yang sama merupakan dalil bahwa Nabi saw. membacakan Al-Qur'an kepada masyarakat melalui tulisan. Klaim ini merupakan kesalahan besar. Karena, kosa kata tilâwah (membacakan, yang terdapat dalam ayat tersebut) dapat diartikan dengan membaca melalui tulisan dan membaca melalui hafalan. Mereka yang membaca Al-Qur'an, syair-syair, atau doa-doa melalui hafalan, dapat dikatakan bahwa mereka sedang melakukan tilâwah. Dan penggunaan semacam ini umum sekali.

35. Apakah Tujuan dari Mikraj?

Sudah jelas bagi kita bahwa Mikraj Rasulullah saw. tidaklah bermaksud untuk melihat Tuhan di atas langit sebagaimana anggapan orang-orang awam. Sayangnya, sebagian cendekiawan Barat, lantaran ketidaktahuannya atau ingin menggoncang Islam, menyoroti sedemikian rupa akan perjumpaan dengan Tuhan ini. Di antara mereka, Georgia dalam buku, Muhammad Payambariy keh az Nou Bayad Shenâkht berkata, "Dalam perjalanan Mikraj, Muhammad sampai di suatu tempat sehingga ia dapat mendengar suara pena Tuhan dan memahami bahwa Tuhan sedang sibuk menjaga hisâb (perhitungan) umat manusia. Akan tetapi, meskipun ia mendengar pena Tuhan, ia tidak melihat-Nya! Karena tidak seorang pun yang dapat melihat Tuhan meskipun ia adalah seorang nabi."
Hal ini menunjukkan bahwa jenis pena adalah pena kayu. Ketika bergerak di atas kertas pena itu bergerak kasar dan menimbulkan suara. Inilah salah satu contoh dari sekian khurafat dan takahayul.
Sebenarnya, tujuan Mikraj adalah agar ruh Nabi saw. menyaksikan rahasia keagungan Tuhan di jagad raya, khususnya menyaksikan alam atas yang merupakan kumpulan tanda-tanda keagungan-Nya. Selain itu, supaya beliau kembali menemukan pemahaman dan wawasan baru dalam memberikan petunjuk dan memimpin umat manusia.
Tujuan ini secara jelas tertuang di dalam surat Al-Isra' [17], ayat 1 dan surat An-Najm [53], ayat 18.
Terdapat juga riwayat yang menarik mengenai tema ini yang bersumber dari Imam Ash-Shadiq a.s. dalam menjawab pertanyaan sebab Mikraj Rasul saw. Beliau berkata, "Allah Swt. sama sekali tidak memiliki ruang, dan tidak berada dalam lintasan waktu. Akan tetapi, Ia menghendaki para malaikat dan para penghuni langit menghormati Nabi saw. yang melintas di antara mereka. Dan juga ingin menunjukkan kepada Nabi-Nya akan keagungan-Nya yang serba menakjubkan, sehingga Nabi saw. menerangkannya kepada masyarakat setelah kembali."

36. Apakah Mi'raj Sejalan dengan Perkembangan Sains Dewasa ini?

Dahulu, sebagian filsuf meyakini objek selestial (planet-planet) sembilan pandangan Ptolemius yang berada di balik garis yang menyerupai irisan bawang. Mereka beranggapan bahwa penghalang utama Mikraj ditinjau dari sisi ilmu pengetahuan adalah adanya objek selestial ini dan kemestian Kharq wa Ilitiyâm (conglutination).
Namun, dengan runtuhnya fondasi pandangan astronomi Ptolemius, masalah Kharq dan Ilitiyâm telah dilupakan. Akan tetapi, dengan kemajuan yang dicapai oleh ilmu astronomi, permasalahan baru muncul sekaitan dengan tema Mikraj dan tertuang dalam bentuk statemen-statemen sebagai berikut:
a. Untuk melakukan perjalanan ke angkasa, kendala pertama yang harus dihadapi adalah adanya kekuatan gravitasi bumi. Dan untuk mengalahkan kekuatan gravitasi ini, kita harus menggunakan peralatan super canggih (sophisticated). Sebab, untuk lari dari "domain gravitasi bumi" diperlukan kecepatan minimal sama dengan empat puluh ribu kilometer setiap jam.
b. Kendala yang lain, hampa udara di luar ruang bumi yang tanpa itu manusia tidak dapat hidup.
c. Kendala ketiga, panas terik matahari dan dingin yang membekukan pada bagian matahari bersinar secara langsung dan bagian yang tidak terkena sinar matahari.
d. Kendala keempat, sinar-sinar yang berbahaya yang berada di luar atmosfer, seperti sinar-sinar kosmos, sinar ultra violet, dan sinar X (X-Ray). Jika sinar ini berukuran kecil dan mengenai badan manusia, ia tidak akan membahayakan organisme badan manusia. Namun, di luar atmosfer bumi sinar ini sangat luar biasa banyaknya dan pembawa maut. Akan tetapi, dengan adanya lapisan ozon, kita penghuni bumi terlindung dari pendarannya.
e. Problema kondisi tanpa beban. Meskipun manusia secara gradual dapat membiasakan diri dengan kondisi tanpa beban, akan tetapi bagi kita penduduk bumi apabila pindah ke atmosfir lain tanpa adanya pendahuluan dan berhadapan dengan kondisi tanpa beban, sangat sulit -kalau tidak mustahil- bagi kita untuk dapat bertahan.
f. Dan pada akhirnya, kesulitan waktu adalah halangan keenam dan merupakan halangan utama bagi manusia untuk dapat menembus atmosfir. Lantaran sains dewasa ini mengklaim bahwa tidak ada kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya. Dan apabila seseorang hendak melancong ke seantero langit, kecepatan yang dimilikinya haruslah melebihi kecepatan cahaya.
Dalam menanggapi statemen-statemen seperti ini perlu kiranya kita memperhatikan beberapa poin di bawah ini:
a. Kita mengetahui bahwa dengan segenap kesulitan yang ada dalam perjalanan ruang angkasa, pada akhirnya manusia dapat memecahkan kesulitan ini dengan kekuatan sains yang dimilikinya. Dan selain kesulitan waktu, segenap kesulitan lainnya telah terpecahkan, dan kesulitan waktu juga berkaitan dengan perjalanan ke tempat-tempat jauh.
b. Tanpa syak lagi bahwa masalah Mikraj tidak berdimensi biasa, melainkan terjadi berkat kekuatan dan kekuasaan nir-batas Tuhan. Dan seluruh mukjizat para nabi terjadi dengan cara seperti ini. Dengan ungkapan lain, hal itu dapat terjadi secara rasional dan terselesaikan dengan kekuatan Tuhan.
Tatkala manusia dengan kemajuan sains memiliki kemampuan untuk menciptakan peralatan-peralatan super cepat, sedemikian cepat sehingga keluar dari domain gravitasi bumi; manusia menciptakan beraneka macam pesawat sehingga sinar laser pembawa maut di luar lapisan ozon dapat terkendali, ia mengenakan pakaian-pakaian yang dapat menjaganya dari panas dan dingin yang luar biasa, dengan latihan ia dapat membiasakan dirinya dalam kondisi tanpa beban. Ringkasnya, manusia dengan memanfaatkan kekuataannya yang terbatas dapat mengatasi kesulitan-kesulitan ini. Lalu, mengapa dengan kekuatan nir-batas Ilahi, kesulitan-kesulitan ini tidak dapat terpecahkan?!
Kita percaya bahwa Allah Swt. telah menganugerahkan kepada Nabi saw. kendaraan super cepat yang layak untuk meniti perjalanan ruang angkasa ini dan melindungi beliau dari bahaya-bahaya yang ada selama dalam perjalanan. Bagaimana kendaraan ini dan apa namanya? Buraq? Rafraf? Atau kendaraan yang lain? Pokoknya, kendaraan yang dikendarai oleh Nabi saw. adalah kendaraan misterius dan asing di telinga kita.
Terlepas dari semua itu, asumsi kecepatan maksimal yang telah disebutkan di atas telah mengguncang kalangan para ilmuwan, meskipun seorang Einstein dengan asumsinya yang kesohor dengan susah payah mempercayai asumsi tersebut.
Para ilmuwan hari ini berpendapat bahwa gelombang gravitasi tidak memerlukan waktu, berpindah dari satu sudut dunia ke sudut dunia lainnya dan menyisakan efek, dan bahkan, ada kemungkinan bahwa gerakan gravitasi ini berhubungan dengan luasnya jagad raya. (Kita ketahui bahwa jagad raya ini mengalami perkembangan, bintang dan sistem tata surya [kosmos] dengan cepat saling menjauh satu sama lainnya). Dan terdapat sistem tata surya (kosmos) yang kecepatannya melebihi kecepatan cahaya menjauh dari pusat alam semesta. (Perhatikan baik-baik).
Singkatnya, kesulitan-kesulitan yang telah disebutkan di atas tidak satu pun yang menyebabkan akal menganggap Mikraj sebagai kejadian yang mustahil. Kesulitan-kesulitan tersebut dapat terpecahkan dengan menggunakan peralatan dan kekuatan yang ada.
Di atas segalanya, masalah Mikraj tidak hanya tidak mustahil secara rasional, juga tidak mustahil secara empirik dan sains dewasa ini. Semua dapat menerima ihwal supranaturalnya Mikraj ini. Dengan demikian, meskipun masalah ini dibuktikan melalui dalil naratif (naqli) yang definitif, tentu kita harus menerimanya dengan lapang dada.

37. Apakah Kemaksuman Para Nabi Berdimensi Jabr (Determinasi)?

Tatkala menelaah pembahasan ihwal ''ishmah", sebagian besar orang akan segera bertanya kepada diri mereka sendiri bahwa kedudukan 'ishmah merupakan sebuah anugerah Ilahi yang secara mesti diberikan kepada para nabi dan para imam. Dan seseorang yang menerima anugerah ini mendapat jaminan terjaga dari dosa dan kesalahan. Oleh karena itu, kemaksuman mereka tidak termasuk sebagai keutamaan dan kehormatan bagi mereka. Siapa saja telah terliputi anugerah ini, ia akan terjaga dari segala dosa dan kesalahan, dan hal ini merupakan kemestian dari Allah swt.
Dengan demikian, berkat kedudukan 'ishmah, mustahil bagi mereka untuk dapat melakukan dosa dan kesalahan. Dan jelas bahwa meninggalkan kemustahilan tidak termasuk sebagai sebuah keutamaan. Umpamanya, sekiranya kita tidak berbuat aniaya terhadap orang-orang yang datang dalam kurun waktu seratus tahun yang akan datang atau seratus tahun sebelumnya, hal itu tidak akan menjadi kebanggaan bagi kita, lantaran tidak mungkin bagi kita untuk melakukan perbuatan ini.
Meskipun pembahasan ini tidak terfokus pada masalah pokok 'ishmah para nabi, akan tetapi mereka mempertanyakan keutamaan para nabi tersebut. Kini dengan memperhatikan beberapa poin di bawah ini, pertanyaan ini dapat terjawab dengan jelas:

a. Mereka yang menguraikan masalah ini tidak memperhatikan akar-akar 'ishmah para nabi. Mereka beranggapan bahwa kedudukan 'ishmah, misalnya, 'ishmah (kekebalan) terhadap sebagian penyakit yang bisa melalui jalan suntik dan bisa juga melalui jalan imunisasi. Dan barangsiapa telah diberikan suntikan, ia tidak akan pernah menderita penyakit, suka atau tidak suka.
Akan tetapi, kekebalan para maksum dari dosa bersumber dari derajat pengetahuan dan ketakwaan mereka. Persis seperti menghindar dari dosa-dosa yang dilakukan oleh setiap orang di antara kita berkat ilmu dan iman yang kita miliki. Ibarat seekor kancil dengan badan telanjang tidak akan melangkahkan kakinya di lorong dan di jalan. Demikian juga orang yang memiliki informasi cukup ihwal unsur-unsur destruktif obat-obat terlarang (psikotropika) bahwa pengaruh obat-obatan ini akan menyebabkan kematian secara perlahan. Maka, ia tidak akan pernah mau menjamahnya. Tentu saja, meninggalkan obat-obat terlarang ini merupakan sebuah keutamaan baginya yang bersumber dari ilmu yang dimilikinya. Dan pengetahuan ini -meskipun sedikit- tidak menimbulkan unsur pamaksaan, karena ia masih memiliki kemampuan untuk mengkonsumsi obat-obat terlarang tersebut.
Atas alasan ini, kita berupaya meningkatkan derajat ilmu kita melalui pendidikan dan pengajaran, sehingga sekurang-kurangnya ilmu ini dapat melindungi diri dari dosa-dosa besar, perbuatan-perbuatan buruk dan tercela.
Apakah mereka yang meninggalkan perbuatan dosa lantaran pendidikan dan pengajaran ini bukanlah sebuah keutamaan dan kebanggaan?
Dengan ungkapan lain, meninggalkan dosa bagi para nabi adalah mustahil secara praktis (muhâl 'âdî), bukan mustahil secara rasional (muhâl aqlî). Dan kita ketahui bahwa kemustahilan praktis selaras dengan kebebasan (ikhtiyar). Contoh, seorang alim dan mukmin membawa minuman keras ke masjid dan meminumnya di tengah-tengah barisan jamaah. Perbuatan ini tentu saja secara praktis mustahil, tidak secara rasional.
Singkatnya, ketinggian derajat ilmu dan iman para nabi sebagai sebuah kebanggaan dan keutamaan mereka, menjadi sebab utama sebuah kebangaan dan keutamaan lain, yaitu kedudukan 'ishmah. (Perhatikan baik-baik!).
Dan sekiranya seseorang bertanya; dari manakah mereka mendapatkan ilmu dan iman demikian itu? kita akan menjawab bahwa mereka mendapatkannya melalui inayah Allah Swt. Akan tetapi, dengan catatan (qaid) bahwa inayah-inayah Allah itu bukannya tanpa alasan. Mereka mendapatkan inayah Ilahi ini karena mereka memiliki kelayakan untuk itu. Sebagaimana Al-Qur'an menegaskan perihal Nabi Ibrahim, "Dan [ingatlah], tatkala Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat [perintah dan larangan], lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia ....'". (QS. Al-Baqarah [2]: 124)
Ihwal Nabi Yusuf a.s., Al-Qur'an menuturkan, "Dan tatkala ia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Yusuf [12]: 22)
Redaksi "Kadzâlika Nujzil Muhsinin (demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik) merupakan bukti atas apa yang kita maksudkan; bahwa mereka mendapatkan itu karena kelayakan tersebut. Nabi Yusuf telah menyiapkan dirinya sehingga layak menerima anugerah agung Ilahi.
Tentang Nabi Musa a.s., terdapat redaksi yang menjelaskan realitas ini. Al-Qur'an menyebutkan, "...Kami telah menguji dengan beberapa ujian; maka tinggallah engkau selama beberapa tahun di antara penduduk Madyan, kemudian engkau datang menurut waktu yang ditetapkan, wahai Musa." (QS. Thaha [20]: 40)
Jelas bahwa dalam diri para nabi ini terdapat berbagai kelayakan dan potensi. Namun, mengaktualkan potensi dan kelayakan ini bukan karena determinasi (ijbâr), tetapi berdasarkan kehendak bebas mereka sendiri sehingga dapat melintasi jalan ini. Dan betapa banyak orang yang memiliki berbagai kelayakan, tetapi ia tidak mengaktualkannya dan tidak mengoptimalkannya. Ini dari satu sisi.
Dari sisi lain, para nabi mendapatkan anugerah mulia ini lantaran mereka memikul tanggung jawab yang berat di pundak mereka. Dengan kata lain, Allah Swt. memberikan kekuatan dan kemampuan kepada mereka sesuai dengan kadar tanggung jawab yang mereka emban, dan hendak menguji mereka dengan tanggun jawab ini.

b. Jawaban yang lain yang dapat diberikan atas pertanyaan di atas adalah, meskipun dengan dukungan inayah Ilahi ('ishmah) tersebut para nabi telah kebal dari perbuatan dosa dan kesalahan sehingga mereka dapat menarik kepercayaan umat dan menjadi pelita hidayah bagi mereka, namun pada saat yang sama, pintu "tark al-aulâ" (meninggalkan yang lebih utama); yaitu sebuah pekerjaan yang tidak termasuk sebagai perbuatan dosa dan bukan kelas mereka untuk melakukannya, masih terbuka di hadapan mereka.
Kebanggaan mereka terletak pada upaya meninggalkan tark al-aulâ, dan upaya ini merupakan ikhtiar penuh mereka. Apabila tark al-aulâ datang menyapa kehidupan mereka, tak ayal lagi mereka akan mendapatkan celaan ('itâb) Ilahi secara setimpal. Dan terkadang mereka tersandung dari pelbagai deprivasi. Keutamaan apakah yang lebih besar dari realita bahwa lantaran menaati perintah Ilahi mereka meninggalkanidak melakukan tark al-aulâ?
Oleh karena itu, kebanggaan para nabi terletak pada penerimaan tanggung jawab sesuai dengan kadar anugerah dari Tuhan. Dan bahkan terletak pada keengganan mereka untuk menjamah ladang tark al-aulâ. Dan sekiranya tark al-aulâ mendatangi mereka, mereka dengan segera harus menebusnya.

KEADILAN ILAHI


24. Apakah Perbedaan Natural Manusia Sesuai dengan Prinsip Keadilan?

Pada ayat 32, surat An-Nisa' [4] kita membaca, "Janganlah Kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain."
Dengan memperhatikan ayat suci ini, banyak di antara kita bertanya, mengapa sebagian orang memiliki bakat lebih dan bakat sebagian lainnya kurang, sebagaian rupawan dan sebagian lagi tidak demikian. Ada sebagian orang yang kuat tubuhnya,ada pula yang tubuhnya biasa-biasa saja. Apakah perbedaan natural ini sejalan dengan prinsip keadilan?
Dalam menjawab pertanyaan ini, kita harus memperhatikan dua poin di bawah ini.

1. Bagian pertama dari perbedaan antara raga dan ruh manusia merupakan akibat dari perbedaan strata dan kezaliman kehidupan sosial, atau sikap menganggap remeh setiap orang, dan sama sekali tidak berhubungan dengan dunia penciptaan. Umpamanya, kebanyakan putra-putri kaum hartawan dibandingkan dengan putra-putri kaum miskin, baik dari sudut pandang jasmani, lebih indah dan lebih kuat, juga dari sisi potensi dan talenta lebih besar. Semua ini dikarenakan mereka mendapatkan makanan dan kesehatan yang memadai, sementara putra-putri orang miskin berada dalam keserbakurangan. Atau sebagian orang karena sikap malas dan acuh tak acuhnya, kekuatan jasmani dan ruhnya sirna begitu saja. Perbedaan-perbedaan ini harus diyakini sebagai "perbedaan-perbedaan rekaan (diciptakan) dan tanpa dalil". Dengan hilangnya sistem strata yang korup, pengadaan keadilan sosial juga akan sirna, dan Islam dan Al-Qur'an tidak menyetujui perbedaan-perbedaan semacam ini.

2. Bagian lain dari perbedaan itu bersifat natural dan suatu kelaziman penciptaan manusia. Maksudnya, sekiranya sebuah masyarakat bersinggungan dengan keadilan sosial secara sempurna, setiap anggotanya ibarat sebuah pabrik; produknya tidak akan berbentuk dan bercorak sama. Tentu saja masing-masing akan memiliki kperbedaan dan keunikan yang khas. Namun, harus diketahui bahwa galibnya, anugerah-anugerah Ilahi, potensi jasmani dan ruhani manusia sedemikian sudah dibagikan kepada mereka sehingga masing-masing memiliki bagian-bagian tertentu dari potensi ruh dan jasmani tersebut. Maksudnya, sangat jarang dijumpai anugerah-anugerah Ilahi ini terdapat pada satu tempat atau satu orang. Sebagian memiliki kekuatan badan yang kuat, sebagian memiliki potensi dan talenta matematika yang baik, sebagian memiliki bakat bersyair, dan sebagian lainnya menyukai bidang perniagaan, sebagian peduli pada bidang agrikultur. Alhasil, setiap orang memiliki potensi dan talenta yang khas. Yang penting adalah masyarakat atau individu harus menemukan potensi dan talentanya tersebut serta membinanya dalam lingkungan yang sehat, sehingga setiap orang dapat menunjukkan dan mengeksplorasi kekuatannya.
Subjek ini juga harus diingat bahwa sebuah masyarakat ibarat sebuah raga manusia yang memerlukan tekstur-tekstur, urat dan sel-sel yang beraneka ragam. Maksudnya, sekiranya satu badan, seluruh sel-sel subtil dibuat seperti sel-sel mata dan otak, maka keberadaannya tidak akan berlangsung lama. Atau apabila seluruh sel-sel itu keras dan tidak fleksibel sebagaimana sel-sel tulang, dia tidak dapat melakukan pekerjaan yang memikul tanggungjawab yang beragam. Akan tetapi, seluruh sel-sel yang ada pada diri manusia harus dibentuk dari sel-sel yang beragam. Setiap sel memiliki tugas khusus; ada yang memiliki tugas berpikir, yang lainnya memiliki tugas melihat, tugas mendengarkan, tugas berkata-kata.
Demikian juga untuk mewujudkan sebuah masyarakat yang sempurna diperlukan potensi-potensi, talenta-talenta dan struktur raga dan pikiran yang beragam. Namun, hal ini tidak berarti bahwa sebagian anggota masyarakat harus menjalani hidupnya di bawah garis kemiskinan, atau pelayanan mereka tidak dianggap khidmat yang besar atau malah dihina. Sebagaimana sel-sel yang ada pada tubuh dengan perbedaan-perbedaan yang dimilikinya, semuanya mendapatkan manfaat dari makanan dan udara serta kebutuhan-kebutuhan lainnya sesuai dengan kapasitasnya.
Dengan kata lain, perbedaan struktur ruh dan jasmani pada bagian-bagian yang bersifat natural (bukan karena kekuatan paksa) menuntut kemahabijaksanaan (hikmah) Sang Pencipta, dan keadilan Ilahi tidak dapat dipisahkan dari kemahabijaksanaan Ilahi tersebut. Seperti contoh, sekiranya seluruh sel-sel badan manusia diciptakan dalam satu bentuk, hal itu tidak sesuai dengan kemahabijaksanaan Ilahi, begitu pula keadilan -yang bermakna menempatkan segala sesuatu pada tempat yang selayaknya- tidak akan pernah terwujud. Demikian juga apabila suatu hari, seluruh masyarakat berpikiran yang sama dan memiliki potensi yang sama, pada hari itu juga kondisi mereka akan mengalami kekacauan.

25. Apakah Perbedaan Rezeki di Tengah Masyarakat Sesuai dengan Prinsip Keadilan?

Pada surat An-Naml [16], ayat 71 kita membaca, "Allah melebihkan sebagian atas yang sebagian lainnya di antara Kamu dalam urusan rezeki".
Pertanyaan yang muncul adalah apakah adanya perbedaan rezeki di antara masyarakat sejalan dengan asas keadilan Ilahi dan kesetaraan yang harus berlaku terhadap sistem kemasyarakatan manusia?
Dalam menjawab pertanyaan ini kita harus memperhatikan dua poin di bawah ini secara cermat.

1. Tidak diragukan bahwa bagian penting perbedaan yang ada di antara masyarakat dari sisi keuntungan materi dan pendapatan, bertalian dengan perbedaan potensi yang ada pada diri mereka. Perbedaan potensi dan talenta jasmani dan ruhani yang menjadi sumber perbedaan pada kuantitas dan kualitas kegiatan ekonomi menyebabkan berbedanya pendapatan yang mereka peroleh; sebagian meraup keuntungan yang banyak dan yang lainnya memperoleh keuntungan yang sedikit. Tentu saja, acap kali kejadian yang hanya menurut kita bersifat aksidental, malah membuat sebagian orang mendapatkan rezeki yang lebih banyak. Akan tetapi, hal ini dapat dihitung sebagai pengecualian. Yang menjadi dasar dan parameter asli pada kebanyakan urusan hidup ialah perbedaan kuantitas dan kualitas usaha. (Tentu saja tema pembahasan kita adalah sebuah masyarakat yang sehat dan bebas dari eksploitasi kaum tiran, bukan masyarakat yang menyimpang jauh dari aturan-aturan penciptaan dan nilai kemanusiaan).
Bahkan orang-orang yang kita jumpai cacat tangan dan kaki, kerapkali mendapatkan pendapatan banyak yang membuat kita takjub. Sekiranya kita merenungkan moralitas, ruh dan jasmani mereka dengan seksama dan melepaskan diri dari penilaian dangkal, kita akan melihat bahwa mereka -galibnya- memiliki kekuatan yang membuat mereka memperoleh apa yang sepatutnya. (Kembali kami tekankan, tema pembahasan kita adalah masyarakat sehat dan tidak korup).
Secara umum, perbedaan pendapatan bersumber dari perbedaan potensi dan talenta. Potensi dan talenta ini juga merupakan anugerah Ilahi. Boleh jadi dalam sebagian masalah bersifat perolehan (iktisâbi, dapat dicapai) namun dalam sebagian lainnya tidak. Bahkan dalam sebuah masyarakat sehat dari aspek ekonomi, perbedaan pendapatan juga sebuah realita yang tidak dapat diingkari. Kecuali jika kita mampu menciptakan manusia-manusia yang sejenis; satu warna dan satu potensi yang tidak memiliki satu pun perbedaan, justru masalah lain yang akan muncul.

2. Tidak diragukan juga bahwa ketika kita merenungkan nasib seseorang, batang sebuah pohon, dan sekuntum bunga, apakah mungkin struktur yang setimbang di antara anggota dan tubuh, dapat dijumpai persamaannya dari aspek apapun? Apakah kekuatan resistensi dan potensi akar pohon dari aspek apapun dapat disatukan dengan dedaunan bunga mawar yang lembut dan sedang bersemi, dan juga tulang tumit kaki dengan kelopak mata? Sekiranya Anda mampu menyatukan mereka, apakah Anda berpikir Anda telah melakukan pekerjaan yang benar?
Jika kita kesampingkan terlebih dahulu slogan-slogan yang mengecoh nalar (yang selalu menuntut persamaan di semua bidang), dan anggaplah suatu hari kita dapatkan manusia-manusia rekaan, dapat kita buat imaginer dari berbagai sudut pandang, dan menjejali planet bumi dengan manusia sebanyak lima miliar dalam satu bentuk, satu figur, satu talenta, satu pikiran, dan satu rupa dari setiap sisi, persis seperti kretek-kretek yang ditawarkan dari satu pabrik, apakah pada hari itu manusia memiliki kehidupan yang lebih baik? Tentu saja tidak. Alih-alih menjadi lebih baik, kehidupan manusia akan menjadi neraka yang di dalamnya setiap orang akan merasakan kejemuan. Semuanya akan bergerak kepada satu titik dan menghendaki sesuatu yang sama. Semuanya menghendaki satu kedudukan, menyukai satu jenis makanan, dan ingin mengerjakan satu pekerjaan.
Sangat jelas, usia kehidupan seperti ini segera akan berakhir. Dan seandainya kehidupan ini harus tetap berlangsung, kehidupan yang mereka alami adalah kehidupan kehilangan ruh; menjemukan, monoton, tidak ada bedanya dengan kematian.
Oleh karena itu, perbedaan potensi adalah demi memelihara keutuhan sistem masyarakat, bahkan membina potensi-potensi yang beragam adalah suatu kelaziman. Adapaun slogan-slogan kosong itu tidak dapat mengantisipasi kenyataan ini.
Namun, jangan sampai uraian ini ditafsirkan bahwa kami menerima masyarakat strata dan sistem eksploitasi. Tidak! Sama sekali tidak demikian! Maksud dari strata ini adalah strata alami, bukan rekayasa (baca : palsu). Perbedaan tidak hanya berfungsi sebagai penyempurna satu potensi dengan yang lainnya, akan tetapi juga berperan sebagai pendukung, bukan penghalang bagi kemajuan dan melanggar serta menganiaya yang lain.
Perbedaan strata (harap diperhatikan makna strata di sini adalah makna teknis; strata pengeksploitasi dan tereksploitasi) sekali-kali tidak sesuai dengan sistem penciptaan. Sistem yang sejalan dengan sistem penciptaan adalah perbedaan potensi dan usaha. Perbedaan antara sistem yang sejalan dengan penciptaan dan sistem yang tidak sejalan dengannya ibarat perbedaan antara bumi dan langit. (Perhatikan baik-baik!)
Dengan ungkapan lain, perbedaan pelbagai potensi harus digunakan pada rangka membangun, persis seperti perbedaan struktur anggota tubuh, atau sekuntum bunga. Dalam perbedaannya, ia saling membantu; tidak saling menggangu.
Singkatnya, perbedaan pelbagai potensi yang ada tidak seyogyanya disalahgunakan sehingga menjadi sebab terciptanya masyarakat strata.
Pada akhir ayat yang menjadi tema pembahasan kita kali ini Ia menegaskan, "Afabini'matillâhi yajhadûn."
Ayat ini menyiratkan bahwa perbedaan pada bentuk naturalnya, (bukan bentuk rekayasa dan cara-cara paksa) adalah limpahan anugerah Ilahi untuk menjaga sistem kehidupan masyarakat manusia.

26. Apakah Falsafah dari Musibah yang Kerap Menimpa Kehidupan Manusia?

Dalam surat Asy-Syura [42], ayat 30, kita membaca, "Dan musibah apa saja yang menimpa Kamu, maka semua itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri."
Dengan memperhatikan ayat ini, pertanyaan yang kemudian muncul adalah: dari manakah asal pelbagai musibah yang menghampiri kehidupan kita?
Pada ayat ini terdapat beberapa poin yang layak mendapat perhatian:

1. Ayat ini dengan baik mengindikasikan bahwa musibah-musibah yang menimpa manusia adalah salah satu jenis hukuman dan peringatan Ilahi (betapapun memiliki eksepsi, sebagaimana akan kami singgung pada kesempatan mendatang). Dengan demikian, salah satu falsafah terjadinya peristiwa yang mengerikan itu akan menjadi jelas.
Menariknya, dalam hadis yang diriwayatkan dari Amirul Mukminin a.s., yang menukil dari Nabi saw., beliau bersabda, "Wahai Ali, ayat ini (Tidaklah menimpa Kamu musibah…) merupakan ayat yang terbaik dalam Al-Qur'an Al-Karim. Setiap goresan kayu yang menghujam ke dalam raga manusia dan setiap lalai dalam langkah terjadi akibat dosa yang dia perbuat. Dan apa yang dimaafkan oleh Tuhan di dunia ini lebih santun dari apa yang dimaafkan oleh-Nya di akhirat. Di akhirat sana terjadi peninjauan kembali, dan apa yang ditimpakan kepada manusia di dunia ini lebih adil ketimbang di akhirat, di mana Tuhan sekali lagi memberikan hukuman kepadanya.
Dengan demikian, musibah semacam ini selain meringankan beban manusia dalam kaitannya dengan masa mendatang, dia juga akan terkendali.

2. Meski ayat ini secara lahiriah bersifat umum, dan seluruh musibah termasuk di dalamnya, akan tetapi pada kebanyakan urusan yang bersifat umum terdapat pengecualian. Umpamanya, musibah-musibah dan kesulitan-kesulitan yang menimpa para nabi dan imam a.s. yang berfungsi untuk meninggikan derajat atau menguji mereka. Demikian juga musibah berupa ujian yang menimpa selain para ma'shum a.s.
Dengan ungkapan lain, seluruh ayat Al-Qur'an dan riwayat menjawab bahwa ayat ini secara umum merupakan masalah yang mendapatkan takhshîsh (pengecualian), dan tema ini bukanlah sesuatu yang baru di kalangan para mufassir.
Ringkasnya, berbagai musibah dan kesulitan memiliki falsafah yang khas, sebagaimana yang telah disiratkan dalam pembahasan tauhid dan keadilan Ilahi. Berseminya potensi-potensi di bawah tekanan musibah, peringatan akan masa mendatang, ujian Ilahi, sadar dari kelalaian dan arogansi, dan penebus dosa adalah salah satu corak dari falsafah tersebut.
Akan tetapi, kebanyakan musibah yang harus diterima oleh kebanyakan orang -seperti telah terurai pada ayat di atas- secara umum memiliki sisi pembalasan dan tebusan.
Oleh karena itu, kita membaca dalam hadis, tatkala Imam Ali bin Husain a.s. telah memasuki istana Yazid, Yazid menoleh kepadanya dan berucap, "Wahai Ali! Musibah yang menimpamu berasal dari apa yang telah engkau lakukan." (Isyarat bahwa tragedi Karbala adalah hasil dari perbuatanmu sendiri).
Akan tetapi, Imam Ali bin Husain dengan segera menukas, "Tidaklah demikian! Turunnya ayat ini tidak berkenaan dengan kami. Ayat yang turun berkenaan dengan kami adalah ayat yang menegaskan bahwa, 'Setiap musibah di atas bumi, entah terjadi pada badan atau ruh Kamu, telah tercatat pada kitab Lauh Mahfuzh sebelum engkau diciptakan. Dan pengetahuan tentang urusan ini bagi Tuhan adalah mudah.' Ayat ini diturunkan untuk menjelaskan bahwa apa yang telah hilang dari tanganmu, jangan engkau tangisi, dan apa yang datang kepadamu, jangan membuatmu terlalu bergembira. (Tujuan dari musibah-musibah ini adalah supaya hatimu tidak hanyut dalam kesenangan dunia yang sementara, dan ini merupakan satu jenis pendidikan untukmu)."
Lalu, Imam menambahkan, "Kami adalah orang yang apabila sesuatu hilang dari tangan kami, kami tidak bersedih, dan apabila sesuatu datang ke tangan kami, kami tidak bergembira (Kami menganggap semua ini bersifat sementara dan kami hanya menambatkan hati kami kepada kasih (luthf) dan pertolongan (inayah) Tuhan)."

3. Terkadang musibah-musibah memiliki dimensi kolektif. Hal ini merupakan hasil dari dosa kolektif. Sebagaimana yang tertuang dalam ayat 41, surat Ar-Rum (30), "Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia ...."
jelas bahwa ayat ini berkenaan dengan sekelompok anak manusia yang -lantaran perbuatan-perbuatan mereka sendiri- terjerembab ke dalam musibah.
Dan pada ayat 11, surat Ar-Ra'd (13) disebutkan, "Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka sendiri yang mengubahnya."
Ayat-ayat yang senada ini memberikan kesaksian bahwa antara perbuatan-perbuatan manusia dan sistem penciptaan dan kehidupannya memiliki hubungan yang berjalin erat, sehingga sekiranya ia menjejakkan kaki berdasarkan kaidah fitrah dan hukum-hukum penciptaan, keberkahan Ilahi akan meliputi kehidupannya. Dan apabila ia berbuat kerusakan, niscaya kehidupannya juga akan mengalami kerusakan.
Barangkali keterangan ini benar dalam hubungannya dengan setiap individu manusia; barangsiapa melakukan dosa, ia sendiri akan terpuruk ke dalam musibah dan petaka, baik jiwa, raga maupun harta dan segala sesuatu yang menjadi miliknya. Demikianlah kisah ayat di atas.
Dalam kaitannya dengan pembahasan ini, terdapat banyak riwayat di dalam sumber-sumber Islam. Kami sebutkan sebagiannya di sini sebagai pelengkap.

a. Dalam salah satu khutbah Nahjul Balaghah disebutkan, "… Demi Allah! Tidak ada satu kaum yang tercampakkan dari kehidupan mewah, setelah mereka nikmati, kecuali sebagai hasil dari dosa-dosa yang mereka lakukan. Karena sesungguhnya Allah swt. tidak akan berbuat aniaya terhadap para hamba-Nya. Meskipun, tatkala musibah datang menimpa mereka dan kesenangan menjauh dari kehidupan mereka, mereka berpaling kepada Allah swt. dengan niat yang tulus dan hati berharap semoga Ia mengembalikan segala yang telah sirna dari mereka dan mengobati segala sakit yang mereka derita."
b. Dalam Jâmi' al-Akhbâr, hadis yang dinukil dari Amirul Mukminin a.s., beliau berkata, "Musibah yang menimpa kaum penindas adalah untuk memberi pelajaran kepada mereka. Musibah yang menimpa kaum mukmin adalah ujian. Musibah yang menimpa para nabi adalah untuk peningkatan derajat. Dan musibah yang menimpa para wali adalah untuk karamah dan maqam (kedudukan maknawi)." Hadis ini adalah saksi nyata untuk hal-hal pengecualian yang telah kami jelaskan sebelumnya.
c. Dalam Ushûl al-Kâfî, hadis yang diriwayatkan dari Imam Ash-Shadiq a.s., beliau berkata, "Tatkala manusia bertambah dosa-dosanya dan tidak memiliki perbuatan yang bisa menebus dosa-dosa itu, Allah swt. akan mengazabnya sehingga azab itu menjadi tebusan atas dosa-dosanya itu."
d. Dalam kitab al-Kâfî terdapat bab tentang tema ini yang telah diringkas, dan ia memuat 12 hadis mengenai pembahasan yang sama.
Lagi pula, semua dosa ini adalah selain dosa-dosa yang -berdasarkan ayat yang jelas di atas- Allah akan meliputinya dengan maaf dan rahmat-Nya, dosa-dosa itu sendiri sangatlah banyak.


Mengoreksi Sebuah Kesalahan

Barangkali ada orang-orang yang menyalahgunakan ajaran Qur'anik ini; lalu setiap jenis musibah yang menimpanya, dia sambut dengan lapang dada seraya berkata, "Pasrahlah dalam menghadapi setiap kejadian yang tidak menyenangkan", dan mengambil kesimpulan reaktif, yaitu kesimpulan yang menakutkan dari kaidah edukatif dan semangat kreatif Al-Qur'an. Perbuatan ini adalah perbuatan yang sangat berbahaya.
Tidak ada satu ayat pun di dalam Al-Qur'an yang memerintahkan kita pasrah diri dalam menghadapi setiap musibah dan melarang kita untuk berusaha memecahkan segala kesulitan. Atau ia memerintahkan kita untuk menyerahkan raga kita kepada para tiran, despot dan setiap peyakit. Akan tetapi, yang ditegaskan oleh Al-Qur'an adalah sekiranya segenap upaya engkau lakukan, namun kesulitan-kesuitan tetap menemanimu, ketahuilah bahwa engkau telah melakukan dosa. Dan hasil kesulitan-kesulitan yang menimpamu itu merupakan tebusan dan hasil dari perbuatanmu sendiri. Tengoklah kembali perbuatan-perbuatan yang telah kau lakukan pada masa-masa lalu, dan bertaubatlah atas dosa-dosamu, bangunlah dirimu dan perbaikilah kelemahanmu.
Dan apabila kita melihat di sebagian riwayat bahwa ayat ini diperkenalkan sebagai ayat yang terbaik, hal itu disebabkan oleh aspek pendidikan yang ditanamkan oleh musibah-musibah ini. Dari satu sisi, musibah itu dapat meringankan beban manusia dari pundaknya dan dari sisi lain, ia dapat menghidupkan pelita harapan dan cinta kepada Tuhan di sanubari dan jiwanya.

27. Mengapa Tuhan Menciptakan Setan?

Banyak yang bertanya bahwa sekiranya manusia diciptakan untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan melalui jalan penyembahan (ibadah), keberadaan setan sebagai makhluk pembinasa adalah oposisi kesempurnaan. Apakah alasannya sehingga setan mesti ada? Ia adalah makhluk yang licik, penuh dendam, makar, penuh tipu-daya, dan beracun!
Apabila kita sedikit merenung, kita akan ketahui bahwa kehadiran musuh ini adalah untuk mendukung pencapaian manusia ke tingkat kesempurnaan.
Kita tak perlu pergi jauh. Kekuatan resistensi dalam menghadapi musuh-musuh senantiasa ada pada jiwa manusia dan ia dapat mengantarkannya ke jalan kesempurnaan.
Para komandan dan prajurit-prajurit tangguh dan terlatih adalah orang-orang yang berjibaku dengan musuh-musuh berat pada pertempuran-pertempuran besar.
Para politikus yang berpengalaman dan berpengaruh adalah mereka yang bertarung dengan musuh-musuh yang kuat dalam dunia politik yang kritis dan pelik.
Para jawara besar gulat adalah pegulat-pegulat yang berjajal dengan rival-rival tangguh dan berat.
Oleh karena itu, tidak perlu takjub bila kita menyaksikan para hamba Tuhan setiap hari semakin kuat dan gairah dalam bertempur secara berkesinambungan dengan setan.
Dewasa ini, para ilmuwan berkomentar tentang filsafat adanya mikroba-mikroba penggangu, "Sekiranya mikroba-mikroba tidak ada, maka sel-sel badan manusia pada suatu keadaan akan lemah dan kebas (karena kedinginan), dan kemungkinan tingginya postur manusia tidak akan melewati 80 sentimeter; semuanya dalam bentuk manusia-manusia cebol. Dengan demikian, manusia hari ini memperoleh kekuatan dan tinggi tubuh yang lebih karena mereka selalu dalam kontraksi dengan mikroba-mikroba pengganggu itu.
Demikian juga ruh manusia dalam berkonfrontasi dengan setan dan hawa nafsu.
Namun, hal ini tidak berarti bahwa setan memiliki tugas untuk menyelewengkan para hamba Tuhan. Setan sejak awal penciptaannya memiliki kekudusan sebagaimana makhluk-makhluk lainnya. Setan dengan ikhtiar penuhnya jatuh, menyimpang dan memilih sendiri untuk celaka. Oleh karena itu, Tuhan tidak menciptakan iblis sebagai setan. Ia sendiri yang menghendaki dirinya menjadi setan. Namun, tindakan setaninya itu tidak sekedar mencelakakan para hamba Tuhan, tetapi juga merupakan tangga kesempurnaan mereka. (Perhatikan baik-baik)
Kendati demikian, pertanyaan yang tersisa adalah mengapa Tuhan mengabulkan permohonannya untuk tetap hidup? Mengapa Tuhan tidak melenyapkannya sejak dahulu?
Jawaban pertanyaan ini sama dengan jawaban yang telah kami sebutkan di atas. Dengan ungkapan lain, alam semesta adalah arena ujian dan cobaan. (Ujian ini adalah wasilah pembinaan dan penyempurnaan manusia). Dan kita ketahui, ujian hanya berarti bila berhadapan dengan musuh-musuh besar, krisis-krisis kehidupan yang datang menekan.
Tentu saja, sekiranya setan tidak ada, hawa nafsu dan sifat was-was manusia akan ditempatkan menjadi medan ujian baginya. Namun, dengan kehadiran setan, tanur ujian ini semakin membara, lantaran setan adalah pelaku eksoteris (lahir), sementara hawa nafsu adalah pelaku esoteris (batin).


Jawaban atas Sebuah Pertanyaan

Satu pertanyaan lain yang muncul adalah bagaimana mungkin Tuhan membiarkan kita sendiri berkonfrontasi dengan musuh tanpa welas asih dan kuat ini?
Jawaban pertanyaan ini dapat diperoleh dengan menaruh perhatian terhadap satu poin, yaitu -sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Qur'an- bahwa Allah swt. mempersenjatai mukminin dengan para malaikat sebagai lasykar mereka untuk membangun dunia bersama kekuatan-kekuatan gaib dan maknawi yang mereka miliki dalam rangka memerangi diri sendiri (jihâd an-nafs) dan bertempur melawan musuh.
Sesungguhnya orang-orang yang berkata, "Tuhan kami adalah Allah", kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka [dengan mengatakan], 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; gembirakanlah mereka dengan [memperoleh] surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat ....'" (QS. Fushshilat [33]: 30-31)
Poin penting lainnya adalah setan sekali-kali tidak akan masuk ke relung hati kita. Dan ia tidak akan dibiarkan melewati batas negara ruh tanpa memegang pasport. Serangannya tidak pernah membuat manusia lalai. Ia masuk ke dalam kediaman hati kita dengan ijin kita. Ya! Ia masuk melalui pintu, tidak melalui celah-celah rumah hati kita. Dan kitalah yang membuka pintu baginya untuk masuk. Demikianlah di dalam Al-Qur'an ditegaskan, "Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya [setan] hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah." (QS.An-Nahl [16]: 99-100)
Secara asasi, perbuatan-perbuatan manusialah yang menyediakan lapangan bagi setan untuk melakukan infiltrasi. Sebagaimana disinggung dalam Al-Qur'an, "Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS. Al-Isra' [17]: 27)
Namun di atas segalanya, untuk meraih keselamatan dari jerat-jerat setan dan prajuritnya dalam bentuk yang beraneka ragam, seperti syahwat, pusat-pusat kerusakan, politik-politik busuk, sekte-sekte yang menyimpang, budaya-budaya rusak (fâsid) dan merusak (mufsid), jalan untuk selamat hanyalah berlindung kepada iman dan takwa, serta sinar kasih Tuhan Yang Mahakasih, dan menyerahkan diri kepada Dzat Yang Mahakudus. Al-Qur'an berfirman, "... kalau tidaklah karena rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja [di antaramu]." (QS. An-Nisa [4]: 83)

28. Apakah Keabadian di dalam Neraka Selaras dengan Keadilah Ilahi?

Di dalam surat Hud [11], ayat 106 kita membaca, "Adapun orang-orang yang celaka, maka [tempatnya] di dalam neraka. Di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas [dengan merintih]. Mereka kekal di dalamnya ...."
Dengan menyimak ayat suci di atas, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana kita dapat menerima manusia yang selama hidupnya -maksimal usianya seratus tahun, misalnya-melakukan pekerjaan buruk, dan lenyap dalam kekufuran dan dosa, namun usia seratus tahun ini harus dibayar dengan siksa seribu tahun?
Mereka yang mengajukan pertanyaan ini lalai akan satu poin penting, yaitu perbedaan antara hukuman konvensional dan hukuman penciptaan yang merupakan hasil dari rangkaian realitas perbuatan dan kehidupan.


Penjelasan

Terkadang pembuat hukum merumuskan sebuah hukum sehingga setiap orang yang melanggarnya harus membayar tebusan uang dalam jumlah tertentu, atau harus berdiam di dalam penjara selama beberapa waktu. Tentu, dalam asumsi seperti ini kesesuaian antara pelanggaran dan hukuman harus diperhatikan. Hanya lantaran pelanggaran kecil, ia tidak akan dieksekusi atau mendapatkan hukuman abadi. Dan sebaliknya, karena perbuatan seperti membunuh, lalu ia dikenakan hukuman sehari penjara saja, hukuman seperti ini tidaklah memiliki arti baginya. Hikmah dan keadilan menjawab bahwa kedua hukuman ini harus setimpal.
Akan tetapi, hukuman yang pada hakikatnya adalah efek natural sebuah perbuatan dan termasuk tipologi penciptaan, atau hasil langsung perbuatan tersebut di hadapan manusia, ia tidak menerima asumsi tersebut di atas, baik dalam kaitannya dengan efek-efek perbuatan di alam dunia ini ataupun di alam yang lain.
Contoh, seseorang melanggar aturan lalu-lintas; melaju melebihi batas kecepatan yang telah ditentukan, berlomba tanpa sebab, dan melintas zona terlarang. Barangkali karena beberapa kali melanggar aturan, ia mengalami tabrakan dan patah tangan serta kakinya, atau akan menderita kelumpuhan seusia hidupnya. Resiko buruk akibat sebuah kesalahan kecil ini jelas tidak mencerminkan keadilan (jika ditinjau dari sisi hukuman konvensional). Tapi, hal ini tidak berasal dari sisi hukuman-hukuman konvensional lalu-lintas jalan raya yang di dalamnya keseimbangan antara pelanggaran dan hukuman harus mendapatkan perhatian. Kondisi ini merupakan dampak alami dari perbuatan yang secara sadar dilakukan oleh manusia. Dan ia sendirilah yang membuat dirinya terpuruk ke dalam kondisi tersebut.
Demikian juga ketika dianjurkan kepada Anda agar jangan mengkonsumsi minuman-minuman beralkohol atau bahan-bahan psikotropika lainnya. Lantaran dalam waktu yang singkat, semua jenis minuman itu akan mengoyak hati, perut, otak dan syaraf Anda. Kini sekiranya Anda mengkonsumsinya, niscaya Anda akan menderita syaraf lemah, penyakit-penyakit hati, perut luka dan kerusakan pembuluh darah. Hanya beberapa hari menuruti hawa nafsu, Anda terpaksa menjalani sisa hidup Anda di dalam siksa yang pedih. Di sini tak seorang pun akan keberatan dengan ketaksetimbangan antara pelanggaran dan hukuman tersebut.
Kini anggaplah orang seperti ini -alih-alih seratus tahun usianya- seribu tahun atau sejuta tahun sekalipun ia bermukim di dunia ini, tentu saja ia harus menahan derita dan azab selama waktu yang panjang ini lantaran beberapa hari saja menuruti hawa nafsunya.
Tentang banyaknya azab dan hukuman kehidupan ukhrawi adalah masalah yang melebihi masalah duniawi. Dampak-dampak riel sebuah perbuatan dan hasil-hasil pembawa mautnya barangkali senantiasa bersandar kepada manusia. Perbuatan-perbuatan itu sendirilah nanti yang akan menjelma di hadapan manusia (tajassum al-a'mâl). Dan lantaran kehidupan alam sana adalah kehidupan abadi, perbuatan baik dan buruk juga abadi.
Sebelumnya telah kami singgung bahwa hukuman dan siksa pada Hari Kiamat memiliki dampak riel yang lebih kuat. Al-Qur'an berfirman, "Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh [azab] yang mereka selalu memperolok-olokkannya." (QS. al-Jatsiyah [45]: 33)
Al-Qur'an juga berfirman, "... dan kamu tidak dibalas kecuali dengan apa yang telah Kamu kerjakan." (QS. Yasin [36]: 54)
Muatan ayat ini, kendati terdapat sedikit perbedaan, juga terkandung dalam ayat-ayat yang lain.
Dengan demikian, ruang untuk pertanyaan ini tidak tersisa lagi, bahwa mengapa kesetimbangan antara hukuman dan pelanggaran tidak diperhatikan?
Manusia harus terbang dengan dua sayap iman dan amal saleh demi mendapatkan kenikmatan surgawi dan kebahagiaan berada di hadirat Tuhan Yang Mahakuasa. Kini, dengan menuruti hawa nafsu barang sedetik atau seratus tahun lamanya, ia telah mematahkan kedua sayapnya sendiri dan untuk selamanya ia harus menderita dalam kehinaan. Di sini, aspek ruang dan waktu, serta ukuran pelanggaran tidak menjadi pokok persoalan. Yang menjadi tolok ukur adalah sebab dan akibat serta dampak lama dan singkatnya. Sebuah korek kecil boleh jadi dapat membakar seisi kota. Dan dengan menanam satu gram duri, barangkali setelah beberapa waktu, sahara yang luas penuh dengan duri dan dapat menggangu manusia selamanya. Demikian juga dengan menanam satu gram bunga, barangkali dengan berlalunya sang waktu, akan tercipta sahara yang dihiasi bunga-bunga yang begitu indah mewangi sehingga semerbak baunya menggairahkan jiwa dan memuaskan hati.
Kini sekiranya seseorang bertanya apa keseimbangan antara sebatang korek dengan terbakarnya sebuah kota, dan antara beberapa tanaman kecil dengan sebuah sahara duri. Maka, perbuatan-perbuatan baik dan buruk juga demikian adanya. Dan barangkali dampak keabadian yang teramat panjang menjadi kenangan dan memori baginya. (Perhatikan baik-baik)
Masalah yang penting di sini adalah, para nabi besar dan washi Ilahi telah memberikan peringatan kepada kita bahwa dampak maksiat dan dosa ini adalah azab yang abadi, dan dampak ketaatan dan kebajikan adalah kenikmatan abadi. Persis seperti peringatan para penjaga taman yang telah menjelaskan kepada kita dampak keluasan tanaman berduri dan bunga tersebut. Dan kita sendiri dengan sadar yang memilih jalan ini.
Di sini kepada siapa kita harus ajukan keberatan, dan kesalahan siapa yang harus kita cari, serta hukum mana yang kita harus protes, selain pada diri kita sendiri?


CATATAN KAKI:

Tafsir-e Nemuneh, jilid 3, hal. 365.
Tafsir-e Nemuneh, jilid 11, hal. 312.
Majma' al-Bayân, jilid 9, hal. 31. Hadis yang serupa juga terdapat dalam ad-Durr al-Mantsûr dan Tafsir Rûh al-Ma'ânî dengan sedikit perbedaan. Hadis tentang masalah ini banyak jumlahnya.
Tafsir Ali bin Ibrahim, menukil dari Nûr ats-Tsaqalain, jilid 4, hal. 580.
Al-Mîzân, jilid 18, hal. 61.
Nahjul Balâghahh, khutbah 178.
Tafsir-e Nemuneh, jilid 20, hal. 440.
Tafsir-e Payâm-e Qur'ân, jilid 1, hal. 423.
Tafsir-e Payâm-e Qur'ân, jilid 6, hal. 501.

MENGENAL ALLOH SWT ( bagian 3 )


Apakah Maksud dari Petunjuk dan Kesesatan dari Tuhan?

Hidâyah secara leksikal berarti petunjuk disertai dengan perhatian. Hidâyah ini terbagi kepada dua; menunjukkan jalan dan menyampaikan sesuatu ke tujuannya secara langsung, atau dengan ungkapan lain; hidâyah tasyrî'î dan hidâyah takwînî.


Penjelasan

Tatkala seseorang menunjukkan jalan kepada orang yang sedang mencari sebuah alamat, terkadang ia menunjukkan alamat tersebut dengan lengkap; disertai dengan seluruh kriterianya. Akan tetapi, untuk menempuh jalan dan menuju ke tempat tujuannya, ia serahkan kepada si pencari alamat tersebut. Namun, terkadang ia mengambil tangannya, dan sambil menunjukkan jalan, ia juga mengantarkannya hingga mencapai tempat tujuannya.
Dengan kata lain, pada cara pertama, yang dijelaskan hanya aturan (qânûn), syarat-syarat untuk menempuh jalan dan mencapai tujuan. Namun, pada cara kedua, selain hal tersebut, segala sarana perjalanan juga dipersiapkan; menyingkirkan segala rintangan, mencarikan solusi atas masalah-masalah yang ada, dan membantu serta menjaga para pencari hingga mencapai tujuan.
Tentu saja, lawan dari hidâyah adalah kesesatan (dhalâlah).
Secara global, permasalahan ini akan menjadi jelas dengan menilik ayat-ayat Al-Qur'an. Al-Qur'an menyatakan bahwa petunjuk dan kesesatan adalah perbuatan Tuhan. Dan keduanya dinisbahkan kepada Tuhan. Dan sekiranya kita ingin membahas seluruh ayat yang menyinggung perkara ini, tentu memeprlukan waktu yang panjang. Kami kira sudah memadai jika kita renungkan dua ayat berikut ini:
Allah memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki. (QS. Al-Baqarah [2]: 213).
… tetapi, Allah memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki dan menyesatkan siapa saja yang dikehendaki. (QS. An-Nahl [16]: 93)
Kita juga akan menjumpai ayat-ayat yang mengisyaratkan petunjuk (hidâyah) dan kesesatan (dhalâlah) yang serupa dengan redaksi kedua ayat di atas.
Dan selain itu, sebagian ayat Al-Qur'an dengan gamblang menafikan hidayah dari sisi Nabi saw. dan menisbahkannya hanya kepada Allah Swt. semata.
Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak dapat memberikan petunjuk kepada orang yang engkau cintai, melainkan Allah memberikan petujuk kepada siapa saja yang dikehendaki. (QS. Al-Qashash [28]: 56)
... Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk. Akan tetapi, Allahlah yang memberikan petunjuk [memberi taufik] kepada siapa yang dikehendaki .... (QS. Al-Baqarah [2]: 272)
Menelaah hanya pada permukaan ayat-ayat ini dan tidak menyentuh makna ayat tersebut telah menyebabkan sekelompok orang -dalam menafsirkan ayat-ayat ini- terjerembab ke dalam kesesatan, dan menyimpang dari jalan petunjuk serta terperosok dalam Determinisme (jabr). Bahkan, sebagian mufassir terkenal tidak lepas dari petaka ini dan terjatuh ke dalam kesalahan yang fatal. Ia meyakini bahwa urusan petunjuk dan kesesatan dengan segenap tingkatannya merupakan bentuk Determinisme.
Anehnya, lantaran kontradiksi pekercayaan ini dengan prinsip Keadilan dan Hikmah Ilahi, mereka memberikan preferensi yang mengingkari keadilan secara terang-terangan.
Pada prinsipnya bahwa seandainya kita terima Determinisme, maka makna taklif (tugas-tugas syar'i, -AK), tanggung-jawab, pengutusan para rasul dan penurunan kitab-kitab samawi tidak lagi berarti.
Akan tetapi, pendukung paham kebebasan penuh (ikhtiyâr) percaya bahwa tidak satu pun akal sehat yang dapat menerima asumsi bahwa Allah Swt. memaksa mereka untuk mengambil jalan kesesatan, dan setelah itu -karena keterpaksaan ini- mereka harus menerima hukuman. Atau ada sekelompok manusia yang telah diberi petunjuk dan setelah itu, tanpa alasan mereka diganjar pahala, padahal keistimewaan yang mereka dapatkan ini bukan karena amalan yang mereka lakukan.
Atas dasar paham inilah memilih cara-cara lain dalam menafsirkan ayat-ayat tersebut.
Penafsiran yang akurat dan relevan dengan seluruh ayat-ayat ihwal petunjuk dan kesesatan adalah penafsiran yang tidak sedikit pun berselisih dengan makna lahiriah ayat-ayat berikut ini:
Hidayâh tasyrî'î bermakna menunjukkan jalan secara umum tanpa adanya syarat dan ikatan. Sebagaimana ayat yang berfirman, "Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepada mereka jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir." (QS. Ad-Dahr: 3) "... dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (QS. Asy-Syura [42]: 52) Sangat jelas bahwa ajakan nabi ini adalah kepanjangan ajakan Tuhan, karena apa saja yang dimiliki oleh Nabi berasal dari-Nya.
Tentang kaum musyrikin dan sekelompok orang yang tersesat, Allah Swt. berfirman, "… dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka." (QS. An-Najm [53]: 23)
Adapun hidâyah takwînî bermakna menyampaikan (îshâl) ke tujuan dan menuntun tangan para hamba sehingga mereka dapat menempuh jalan yang berliku, serta menjaga dan menolong mereka hingga sampai di ambang keselamatan.
Hidâyah takwînî ini menjadi topik pembahasan dalam banyak ayat yang lain tanpa adanya kait dan syarat. Hidayah ini khusus bagi orang-orang yang ciri-ciri khas mereka telah dijelaskan di dalam Al-Qur'an. Dan kesesatan yang berarti sebagai lawan dari hidayah, khusus bagi orang-orang yang ciri-ciri khas mereka juga telah dijelaskan di dalam Al-Qur'an.
Kendati sebagian ayat-ayat ini bersifat mutlak, namun banyak pula ayat-ayat yang menjelaskan kait dan syaratnya secara teliti. Dan ketika ayat-ayat yang berkait (muqayyad) dan mutlak ini bersanding satu dengan yang lainnya, permasalahannya akan menjadi sangat jelas dan tidak tersisa lagi sedikit pun keraguan dan ambiguitas. Ayat-ayat ini tidak hanya tidak bertentangan dengan masalah kebebasan manusia, akan tetapi justru menekankannya.
Kini perhatikan baik-baik penjelasan di bawah ini!
Allah Swt berfirman: "...dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu [pula] banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada orang yang disesatkan Allah kecuali orang-orang fasik." (QS. Al-Baqarah [2]: 26)
Ayat ini menyitir sumber kesesatan, kefasikan dan keluarnya mereka dari ketaatan dan perintah Allah Swt.
Pada kesempatan yang lain, Allah Swt. berfirman, "… dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim." (QS. Al-Baqarah [2]: 258)
Ayat ini menerangkan masalah kezaliman (tirani dan despotisme) yang kemudian menjadi lahan tumbuhnya kesesatan.
Pada kesempatan ketiga, kita membaca, "... dan Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang kafir." (QS. al-Baqarah [2]: 264)
Di dalam ayat ini dijelaskan ihwal kekufuran (kufr) yang menjadi ladang berseminya kesesatan.
Di dalam ayat yang lain Allah berfirman: "… sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang pendusta dan sangat ingkar." (QS. az-Zumar [39]: 3)
Di dalam ayat ini juga berdusta dan kekafiran disebutkan sebagai awal kesesatan.
Dan di tempat lain disebutkan, "... sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang berlebih-lebihan lagi pendusta." (QS. al-Ghafir [40]: 28) Maksudnya adalah bahwa perbuatan berlebih-lebihan (isrâf) dan berkata dusta menjadi penyebab kesesatan.
Tentu saja, apa yang telah kami sebutkan di sini hanyalah sebagian dari ayat-ayat Al-Qur'an yang bersangkutan dengan dengan pembahasan ini. Sebagian lainnya dengan redaksi yang sama banyak disebutkan secara berulang-ulang di dalam Al-Qur'an.
Konklusinya, penegasan Al-Qur'an bahwa kesesatan hanya berasal dari Allah Swt. semata, hanya khusus bagi orang-orang yang memiliki kriteria kufur, tirani, fasik, dusta, berlebih-lebihan, dan enggan berterima kasih.
Apakah orang-orang yang memiliki kriteria-kriteria seperti ini tidak pantas mendapatkan kesesatan?
Dengan ungkapan lain, apakah terjeratnya seseorang di dalam kriteria-kriteria ini tidak akan menjadi hijab dan kegelapan di dalam hatinya?
Lebih jelas lagi, perbuatan dan kriteria yang dimiliki orang itu mau atau tidak mau akan menjadi tirai yang menutupi mata, telinga dan akalnya sehingga ia akan masuk ke dalam jurang kesesatan. Mengingat bahwa seluruh benda dan efek seluruh sebab-sebab terjadi atas perintah Allah Swt., kesesatan dalam seluruh perkara ini dapat dinisbahkan kepada Allah Swt. Namun, penisbahan ini bersemayam pada ikhtiyar dan kebebasan berkehendak manusia.
Uraian di atas ini berkenaan dengan masalah kesesatan (dhalâlah). Adapun mengenai masalah petunjuk (hidâyah), Al-Qur'an juga menyebutkan sifat dan syarat-syaratnya. Hal ini menunjukkan bahwa petunjuk juga bukan tanpa sebab, tidak pula bertentangan dengan hikmah Ilahi.
Sebagian dari karakteristik yang menjadikan seseorang berhak mendapatkan petunjuk dan merengkuh kasih sayang Ilahi telah disebutkan pada ayat-ayat di bawah ini:
Dengan kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan [dengan kitab itu pula] Allah mengeluarkan orang-orang dari kegelapan kepada cahaya yang terang benderang dengan izin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS.Al-Maidah [5]: 16)
Pada ayat ini, mengikuti perintah Allah Swt. dan merengkuh keridaan-Nya merupakan ladang berseminya petunjuk Ilahi.
... sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya. (QS. ar-Ra'd [13]: 27)
Di sini ditegaskan bahwa taubat dan inâbah (kembali) merupakan penyebab datangnya petunjuk.
Dan orang yang berjihad [untuk mencari keridhaan] Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami .... (QS.al-Ankabut [29]: 69)
Di sini dijelaskan bahwa jihad (kesungguhan); jihad yang tulus di jalan Allah swt. adalah syarat utama petunjuk.
Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambahkan petunjuk dan menganugrahkan ketakwaan kepada mereka. (QS.Muhammad [47]: 17)
Di dalam ayat ini disebutkan, melintasi beberapa jalan petunjuk sebagai syarat keberlanjutan jalan ini menuju kemurahan (lutf) Allah Swt.
Konklusi dari ayat-ayat yang disebutkan di atas adalah, bahwa apabila taubat tidak datang dari para hamba, tidak mengikuti perintah-Nya, tidak berjihad dan berusaha, dan tidak melangkahkan kaki di jalan hak, maka kemurahan (lutf) Ilahi tidak akan mendatangi kehidupan mereka, tidak akan menuntun tangan mereka, dan tidak akan mengantarkan mereka mencapai tujuan.
Apakah mengkhususkan petunjuk untuk orang-orang yang memiliki sifat-sifat ini merupakan hal yang tak berdasar atau termasuk determinisme?
Anda perhatikan bagaimana ayat-ayat Al-Qur'an dalam pembahasan ini sangat jelas dan gamblang. Orang-orang yang tidak mampu atau tidak ingin mengklasifikasikan hal-hal yang benar dari ayat-ayat petunjuk dan kesesatan telah terjebak dalam kesalahan fatal. Karena tidak melihat hakikat, terpaksa memilih jalan fiktif. Harus diakui bahwa lahan kesesatan ini telah dipersiapkan oleh dirinya sendiri.
Bagaimanapun, kehendak (masyiyah) Ilahi pada ayat-ayat hidayah dan kesesatan bersandar kepada kehendak (kebebasan) tersebut. Kehendak Ilahi itu sama sekali tidak akan berlaku tanpa dasar; tanpa hikmah. Tetapi pada setiap perkara, kehendak Ilahi itu memiliki syarat-syarat khusus yang selaras dengan sifat kemahabijaksaan Ilahi.

20. Apakah Maksud dari Bertasbihnya segala sesuatu di alam semesta?

Di dalam beberapa ayat Al-Qur'an disebutkan tasbih dan tahmîd (puja dan puji) seluruh makhluk semesta kepada Allah Swt. Barangkali yang paling gamblang dari ayat-ayat tersebut adalah firman Allah: "... dan tidak suatu pun melainkan bertasbih memuji kepada-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka ...." (QS. Al-Isra' [17]: 44). Dalam ayat ini disebutkan bahwa seluruh makhluk alam memuji dan bertasbih kepada Allah Swt.
Dalam penafsiran hakikat tasbih dan pujian ini, terdapat perbedaan pendapat yang tidak sedikit di antara para ulama, filsuf dan mufassir.
Sebagian mereka beranggapan bahwa tasbih dan pujian seluruh makhluk adalah dengan bahasa wujud masing-masing. Dan sebagian yang lain berkeyakinan bahwa tasbih dan pujian mereka adalah bahasa lisan. Kesimpulan pendapat mereka yang dapat kita terima adalah di bawah ini:
a. Sebagian berkeyakinan bahwa seluruh partikel alam cipta ini, dari yang kita anggap berakal, atau tanpa ruh dan tidak berakal, memiliki satu jenis pengetahuan. Dan pada wujudnya masing-masing, mereka bertasbih dan memuji Allah Swt. Kendati demikian, kita tidak mampu memahami jenis pengetahuan mereka dan mendengarkan alunan tasbih dan pujian mereka. Ayat-ayat seperti, "... di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah ...." (QS.Al-Baqarah [2]: 74), dan, "... Lalu Ia berkata kepadanya dan kepada bumi, 'Datanglah Kamu berkedua menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.' Keduanya menjawab, 'Kami datang dengan suka hati dan taat kepada perintahMu.'" (QS.Fushshilat [33]: 11) atau ayat-ayat senada yang dapat dijadikan sebagai bukti atas akidah ini.
b. Mayoritas mufassirin (pakar dalam bidang tafsir) meyakini bahwa tasbih dan pujian adalah sesuatu yang kita kenal sebagai bahasa wujud, bermakbna hakiki, bukan figuratif; dalam bahasa wujud, bukan bahasa lisan. (Perhatikan baik-baik!).


Penjelasan

Ketika kita melihat seseorang sedang bersedih dan tampak kurang tidur, kita dapat mengatakan kepadanya, "Meskipun engkau tidak menceritakan kesedihanmu, matamu menunjukkan bahwa engkau tidak tidur semalam suntuk, dan raut wajahmu memberikan kesaksian bahwa engkau sakit."
Bahasa wujud ini kerap sedemikian kuat dan energiknya sehingga ia dapat membuat bahasa lisan berada di bawah kekuatannya dan ia tidak dapat didustakan. Seorang pujangga bersyair,
Kuberkata dengan tipu dan kecoh, kututupi rahasia diri,
Tak tertutup darah berlalu dari pandanganku.
Untaian syair ini serupa dengan apa yang disampaikan oleh Imam Ali a.s. dalam ucapannya yang terkenal, "Seseorang tidak dapat menyembunyikan rahasia hatinya kecuali akan tersingkap dari kata-kata yang tersirat dan raut wajahnya."
Dari sisi lain, apakah seseorang dapat mengingkari sebuah papan yang amat indah sebagai tanda nilai seni yang tinggi (artistik) yang menjadi saksi atas kepandaian dan talenta seorang pelukis, lalu memuji dan memujanya? Apakah ia dapat mengingkari diwân (kumpulan bait) syair para pujangga besar dan ternama yang mengisahkan disposisi fitrah tinggi mereka, lalu senantiasa memujinya? Apakah dapat diingkari bahwa gedung-gedung tinggi dan pabrik-pabrik besar serta otak-otak rumit elektronika dan semisalnya adalah ungkapan lisan; tanpa wicara dari seorang pencipta dan perancangnya? tidakkah masing-masing sesuai dengan batas profesi dan karya mereka, pasti akan dipuji oleh orang-orang yang menyaksikannya?
Oleh karena itu, harus diterima bahwa keajaiban alam wujud dengan sistemnya yang menakjubkan, dengan rahasia dan misteri, dengan keagungan yang membawa kebaikan, dan dengan pekerjaan-pekerjaan sempurnanya akan sekalu bertasbih dan memuja Allah swt.
Bukankah tasbih tidak lain adalah penyucian dan pengudusan sesuatu dari segala aib dan noda? Bangunan dan sistem alam semesta yang dibuat oleh Penciptanya ini terbebas dari segala aib dan noda.
Bukankah pujian tidak lain adalah penjelasan atas kesempurnaan? Sistem penciptaan menyingkapkan kesempurnaan Tuhan; sistem yang bersumber dari ilmu dan kemahakuasaan-Nya yang Nir-batas, dari hikmah-Nya yang serba luas dan meliput.
Inilah makna tasbih dan pujian seluruh makhluk alam semesta secara umum, yang secara sempurna dapat kita pahami, dan tanpa kita perlu percaya bahwa seluruh atom-atom alam ini memiliki pengetahuan, lantaran kita tidak memiliki dalil pasti atas hal ini. Dan ayat-ayat yang disitir di atas juga memberikan kemungkinan besar bahwa yang dimaksudkan adalah bahasa wujud.
Akan tetapi, di sini masih tersisa pertanyaan. Yaitu, sekiranya maksud dari tasbih dan pujian itu hanyalah mengisahkan sistem penciptaan yang bersumber dari kesucian, keagungan dan kemahakuasaan Tuhan Yang Mahakuasa, dan menjelaskan sifat Salbiyah dan Tsubutiyah Allah Swt., lalu mengapa Al-Qur'an menyatakan bahwa Kamu tidak memahami tasbih dan pujian mereka? Kalau benar bahwa sebagian orang (awam) tidak memahaminya, setidaknya ulama dapat memahami ihwal tersebut!
Ada tiga jawaban atas pertanyaan ini:
Pertama, mayoritas manusia, khususnya musyrikin tidak mengerti, sementara para ulama tergolong minoritas. Maka, mereka masuk ke dalam pengecualian, karena pada hal yang bersifat umum terdapat pengecualian.
Kedua, apa yang kita ketahui tentang rahasia semesta dibandingkan dengan apa yang tidak kita ketahui ibarat setetes air di samudra dan sebiji atom di gunung raksasa. Sejenak saja benar-benar merenungkannya, kita tidak dapat melekatkan nama ilmu atau pengetahuan atasnya.

Hingga titik aku mengetahui ilmuku,
Kini aku tahu bahwa aku tidak tahu.

Oleh karena itu, sejatinya kita tidak dapat mendengarkan tasbih dan pujian wujud-wujud ini, betapapun kita adalah seorang ulama. Karena apa yang kita dengarkan hanyalah sebuah kalimat dari sebuah buku besar. Maka dari itu, dapat diasumsikan melalui sebuah hukum umum atas seluruh makhluk, bahwa Kamu tidak mampu mengetahui tasbih dan pujian seluruh makhluk yang memiliki bahasa wujud ini. Karena apa yang kita ketahui bukanlah sesuatu sehingga dapat diperhitungkan.
c. Sebagian mufassir juga memberikan kemungkinan bahwa tasbih dan pujian seluruh makhluk secara umum di sini merupakan sintesa dari bahasa wujud dan bahasa lisan. Dengan kata lain, tasbih takwînî dan tasbih tasyrî'î. Kerena, kebanyakan manusia dan seluruh malaikat -berdasarkan pengetahuan- memuji dan memuja-Nya dan seluruh partikel alam semesta juga dengan bahasa wujud memuja kebesaran dan keagungan-Nya.
Meski dua jenis pujian dan tasbih berbeda satu dengan yang lainnya, namun secara umum makna tasbih dan pujian dalam arti luas adalah sinonim.
Meski begitu, tampaknya tafsir yang kedua dengan elaborasi yang kami uraikan di atas lebih melegakan hati dibandingkan yang lain.

21. Bagaimana Menjabarkan Ilmu Tuhan tentang Kejadian-kejadian yang akan Datang?

Kejadian-kejadian di masa datang belum memiliki wujud nyata sehingga ia termasuk dalam kekuasaan ilmu Tuhan. Lalu, apakah gambaran akan kejadian-kejadian itu berada dalam benak Tuhan? Sementara Tuhan tidak memiliki benak. Ilmu yang dimiliki-Nya tidak bersumber dari refleksi atau reaksi. Oleh karena itu, kita harus menerima bahwa Dia tidak memiliki ilmu tentang kejadian-kejadian akan terjadi. Sebab, ilmu presentif ('ilm al-hudhûrî) tidak berkaitan dengan masalah-masalah yang ma'dum (yang tidak ada), juga ilmu representif ('ilm al-hushûlî) tidak ada pada Tuhan (yakni, tidak dapat dikatakan bahwa Tuhan memiliki ilmu hushûlî).
Meskipun pertanyaan ini berkaitan dengan kejadian-kejadian yang akan terjadi, akan tetapi ihwal kejadian-kejadian yang telah berlalu dan sirna juga masih dapat diuraikan di sini. Sebab, kejadian-kejadian masa lalu kini sudah tidak ada lagi. Wujud Fir'aun, Bani Israil, dan sahabat-sahabat Musa misalnya telah sirna, dan sejarah mereka juga telah berlalu. Kita hanya dapat menghadirkan gambaran mereka dalam benak kita sehingga kita dapat menyusuri sejarah kehidupan mereka. Karena ilmu yang kita miliki melalui jalan imajinasi. Maksudnya, kita membayangkannya di dalam benak kita. Akan tetapi, sekaitan dengan Allah Swt., benak dan gambaran-gambarannya tidak lagi berarti, karena ilmu Tuhan hanyalah ilmu hudhûrî. Dengan demikian, bagaimana kita dapat mengerti bahwa Tuhan memiliki pengetahuan tentang kejadian yang telah berlalu?
Pertanyaan ini dapat dituntaskan melalui tiga jawaban berikut ini:

a. Tuhan senantiasa menguasai ilmu tentang Dzat-Nya nan kudus yang senantiasa menjadi sebab atas segala sesuatu. Dan ilmu ini disebut sebagai ilmu ijmâlî (pengetahuan global) terhadap seluruh kejadian dan makhluk alam semesta ini; sesudah dan sebelum penciptaannya.
Dengan kata lain, apabila kita tahu sebab terjadinya sesuatu, kita pasti mengetahui hasil dan akibatnya. Karena, setiap sebab ('illat) memiliki seluruh kesempurnaan akibat (ma'lûl), atau bahkan lebih sempurna.
Lebih jelasnya, kejadian-kejadian masa lalu belumlah sirna dan punah secara keseluruhan. Efek-efeknya masih tersisa di balik kejadian-kejadian masa kini. Demikian juga kejadian-kejadian masa datang tidak terpisah dengan kejadian-kejadian masa kini, dan bertalian erat dengan kejadian masa kini. Dengan demikian, "masa lalu", "masa datang" dan "masa kini" ibarat satu mata rantai yang menghasilkan sebab ('illat) dan akibat (ma'lûl) sehingga apabila kita mengetahui salah satunya, kita akan menemukan runtutan sebelum dan sesudahnya.
Misalnya, apabila aku mengetahui dengan pasti suhu udara seluruh planet bumi dengan seluruh partikular-partikular dan tipologinya, sebab dan akibatnya, gerakan planet bumi, masalah gravitasi dan repulsi, niscaya aku dapat mengetahui secara pasti suhu udara jutaan tahun yang lalu, atau jutaan tahun yang akan datang, lantaran kita memiliki data tentang masa lalu dan masa datang. Bukan data global (ijmali), karena data rincinya terefleksi dalam bagian file yang terkini.
Hari ini-persisnya-merupakan refleksi hari kemarin. Dan besok merupakan refleksi hari ini. Dan pengetahuan tentang seluruh bagian-bagian hari ini yaitu pengetahuan terhadap masa lalu dan masa datang.
Dengan demikian, jika kejadian-kejadian hari ini dengan segala tipologi dan kekhususannya berada di sisi Tuhan, ini berarti bahwa masa lalu dan masa datang juga berada di sisi-Nya.
Hari ini merupakan cermin masa lalu dan masa datang. Dan seluruh kejadian hari kemarin dan hari esok dapat kita saksikan pada cermin hari ini. (Perhatikan baik-baik).

b. Cara lain untuk menjawab pertanyaan itu, yaitu kita harus memperhatikan satu perumpamaan yang nyata. Anggaplah seseorang yang terpenjara dalam biliknya yang hanya memiliki lubang kecil untuk keluar. Sementara ada sederetan unta melintas di hadapan lubang kecil ini. Pertama kali ia melihat kepala dan leher unta tersebut. Lalu punuknya, dan setelah itu kaki-kaki dan ekornya. Demikian juga unta-unta lainnya yang berada di dalam deretan tersebut. Dari lubang kecil ini, ia membuat masa lalu dan masa datangnya. Akan tetapi, bagi seseorang yang berada di luar bilik ini dan berdiri di atas atap terbuka, ia melihat seluruh sahara. Jelas, permasalahanya menjadi lain. Ia melihat seluruh deretan unta tersebut berada pada satu tempat yang sedang bergerak.
Dari sini akan menjadi jelas bahwa membangun sebuah pemahaman dari masa lalu, masa kini dan masa datang merupakan hasil dari keterbatasan pandangan manusia. Masa yang lalu bagi kita adalah masa yang datang bagi orang-orang terdahulu. Dan apa yang menjadi masa datang bagi kita, menjadi masa lalu bagi orang-orang yang akan datang.
Akan tetapi, Dzat yang hadir di setiap tempat, yang meliputi secara azali (tak berawal) dan abadi (tak berakhir), masa lalu, masa datang dan masa kini tidaklah berarti bagi-Nya. Seluruh kejadian yang terjadi sepanjang masa hadir di pada-Nya, (namun masing-masing berada pada kapasitas khasnya) dan Dia Mahatahu akan seluruh kejadian dan wujud yang ada di alam semesta ini; apakah ia berada di masa lalu, masa datang atau masa lalu. Dia menguasainya secara menyeluruh dan satu.
Tentu saja kita akui bahwa permasalahan ini bagi kita yang berada dalam penjara ruang dan waktu indrawi begitu sulit. Permasalahan ini memang memerlukan kajian yang teliti.

c. Cara lain untuk menjawab pertanyaan ini adalah cara yang menjadi landasan kebanyakan filsuf. Yaitu, bahwa Tuhan adalah Mahamengetahui Dzat-Nya, dan Dzat-Nya merupakan sebab ('illat) bagi terwujudnya seluruh makhluk. Ilmu terhadap sebab ('illat) adalah sumber ilmu terhadap akibat (ma'lûl).
Dengan ungkapan lain, Tuhan memiliki segala kesempurnaan seluruh makhluk, bahkan dalam bentuk yang paling sempurna. Tidak secuil pun cacat ada pada Dzat-Nya yang suci sebagaimana cacat yang dimiliki oleh seluruh mahkluk. Oleh karena itu, jika Dia Mahatahu akan Dzat-Nya, niscaya Dia mengetahui seluruh makhluk.
Dibandingkan dengan jawaban pertama, jawaban ini memiliki perbedaan yang amat tipis, sebagaimana akan tampak jelas bila diamati secara seksama dan akurat.

22. Mengapa Taubat Orang yang Murtad secara Fitri tidak Diterima?

Islam dalam urusannya dengan orang-orang yang belum menerimanya (Ahli Kitab) tidak pernah memaksa dan menyusahkan. Malahan Islam mengajak mereka dengan dakwah secara berkesinambungan dan tabligh yang diimplementasikan secara logis. Jika mereka tidak menerima Islam dan bersedia menerima syarat-syarat dzimmah (dilindungi), mereka dapat hidup bersama Muslimin secara damai. Dalam keadaan ini, keamanan mereka tidak hanya dijamin, tetapi Islam juga menanggung penjagaan harta, jiwa dan kepentingan-kepentingan lain mereka.
Akan tetapi, berkenaan dengan orang-orang yang telah memeluk Islam, lalu berpindah ke agama lain, Islam sangat ketat memperlakukan mereka. Sebab, hal ini akan mengakibatkan goncangan di dalam masyarakat Islam, dan termasuk sebuah pembangkangan terhadap sebuah pemerintahan Islam. Dan galibnya, mereka memiliki niat jahat, sehingga rahasia muslimin akan jatuh ke tangan musuh-musuh.
Oleh karena itu, orang-orang yang dilahirkan dari kedua orang tua Muslim lalu berpindah ke agama lain, maka darahnya -berdasarkan ketetapan pengadilan- terhitung mubah/halal, hartanya harus dibagikan kepada pewarisnya dan istrinya harus berpisah darinya, serta taubatnya -secara lahiriah- tidak diterima. Maksudnya ketiga hukum di atas (darahnya terhitung mubah, hartanya harus dibagikan kepada ahli warisnya dan istrinya harus bercerai darinya-pen.) harus diberlakukan ke atas orang-orang seperti ini. Meskipun demikian, jika ia benar-benar menyesal, taubatnya pasti akan diterima di haribaan Tuhan. (Tentu saja, apabila pelaku kesalahan itu adalah seorang wanita, taubatnya secara mutlak akan diterima).
Akan tetapi, apabila seseorang meninggalkan Islam dan ia bukanlah seorang keturunan Muslim, Islam masih memberikan tenggat kepadanya untuk bertaubat. Apabila ia bertaubat, taubatnya akan diterima dan seluruh hukuman tidak lagi berlaku atasnya.
Mungkin sebagian orang akan mengkritik, jika hukum politik murtad fitri ini dikenakan ke atas mereka sedangkan mereka tidak mengetahui hukum ini, barangkali hal ini termasuk salah satu jenis kekerasan, pemaksaan akidah dan menafikan kebebasan.
Akan tetapi, yang harus kita perhatikan adalah, bahwa hukum ini tidak akan dijatuhkan ke atas seseorang yang hanya sekedar memiliki keyakinan dalam hatinya namun tidak berusaha untuk menampakkannya pada level kehidupan sehari-hari. Jika ia telah mengekspresikan dan mengeluarkan statemen terbuka dan menentang pemerintahan yang mengatur sebuah kehidupan sosial, jelas bahwa kekerasan semacam ini bukan tanpa dasar, justru sangat selaras dengan prinsip kebebasan berpikir. Aturan semacam ini juga terdapat pada negara-negara Timur dan Barat dengan perbedaan-perbedaan yang ada.
Poin ini juga perlu mendapatkan perhatian bahwa menerima Islam harus sesuai dengan logika, khususnya bagi mereka yang terlahir dari seorang ibu dan bapak Muslim dan mendapatkan pendidikan di lingkungan keluarga Muslim. Tampaknya sangat kecil kemungkinan bahwa ia tidak mengetahui hukum-hukum Islam. Oleh karena itu, berpindahnya ke agama lain dengan maksud konspirasi dan berkhianat adalah lebih biosa dimengerti ketimbang alasan terjerat dalam kesalahan dan tidak dapat memahami kebenaran. Jelas, orang seperti ini layak untuk mendapatkan hukuman.
Dalam pada itu, sebuah hukum sekali-kali tidak akan pernah mempertimbangkan satu-dua orang, akan tetapi ia lebih mementingkan mayoritas. Oleh karena itu, ia harus dinilai secara kolektif.
Pada hakikatnya, hukum ini memiliki filsafat asasi, yaitu menjaga kekuatan dalam negara Islam, mencegah keterpurukannya, dan penetrasi tangan asing dan munafikin. Karena sejatinya, murtad adalah salah satu jenis pembangkangan terhadap negara Islam. Mayoritas hukum internasional dewasa ini juga menghukumnya dengan eksekusi.
Sekiranya diberikan izin kepada setiap seorang untuk memperkenalkan dirinya sebagai Muslim setiap hari dan pada hari itu juga ia meninggalkan Islam, tentu basis kekuatan Islam lambat laun akan porak-poranda, dan jalan akan terbuka bagi para musuh untuk melakukan penetrasi dan politik busuk mereka. Akibatnya, kondisi anarki menguasai masyarakat Islam. Oleh karena itu, hukum berkenaan dengan murtad yang telah disebutkan di atas, sejatinya adalah hukum politik yang dijatuhkan untuk menjaga kestabilan pemerintahan dan masyarakat Islam. Berjuang melawan kekuatan dan unsur-unsur asing adalah kewajiban.
Terlepas dari masalah ini, seseorang yang telah melakukan penelitian dan menerima ajaran seperti Islam, kemudian meninggalkannya dan berpindah kepada ajaran lain, galibnya tidak memiliki motivasi yang tulus. Oleh karena itu, orang seperti ini dapat dikenakan hukuman berat. Dan jika hukum ini tampak lebih ringan terhadap wanita, hal itu dikarenakan seluruh hukuman yang dikenakan kepada mereka memang mendapat keringanan.

23. Mengapa Kita Menengadahkan Tangan ke Langit Ketika Berdoa?

Umumnya, pertanyaan seperti ini dikemukakan oleh masyarakat umum. Allah Swt. tidak memiliki ruang dan tempat, lalu mengapa ketika memanjatkan doa sambil mengarahkan mata ke langit dan menengadahkan tangan ke atas sana? Memangnya-al'iyâdzubillah-Tuhan bersemayam di langit?
Pertanyaan ini juga pernah bergulir pada masa para Imam Maksum a.s. Hisyam bin Hakam berkata, "Seorang kafir zindiq datang kepada Imam Ash-Shadiq a.s. dan bertanya ihwal ayat 'ar-Rahmân 'ala al-'arsyi-stawa.'
Imam dalam menjelaskan ayat ini berkata, "Allah tidak memerlukan sedikit pun kepada ruang dan makhluk. Justru seluruh makhluk bergantung kepada-Nya."
Si kafir zindiq bertanya kembali, "Lalu apa bedanya ketika berdoa; Anda menengadahkan tangan ke langit atau menurunkan tangan Anda ke bumi?"
Beliau barkata, "Masalah ini dalam ilmu dan kekuasan Tuhan adalah sama saja. Akan tetapi, Allah Swt. memberikan tuntutan kepada para kekasih dan hamba-Nya untuk menengadahkan tangan mereka ke langit, ke arah 'Arsy Ilahi. Sebab, sumber rezeki berada di sana. Kami akan buktikan hal ini dengan apa yang ditegaskan oleh Al-Qur'an dan Nabi saw. Beliau bersabda, 'Tengadahkan tangan-tanganmu kepada Allah.' Dan sabda ini disepakati oleh seluruh umat.'"
Dalam hadis yang lain diriwayatkan dari Imam Amirul Mukminin Ali a.s., dalam kitab Al-Khishâl, "Ketika salah seorang dari Kamu telah menunaikan shalat, tengadahkanlah tanganmu ke langit dan sibukkan dirimu dengan berdoa."
Seseorang berkata, "Wahai Amirul Mukminin! Bukankah Tuhan ada di mana saja?"
Imam bersabda, "Benar! Ia berada di mana saja."
Orang itu berkata lagi, "Lalu mengapa para hamba menengadahkan tangan mereka ke langit?"
Imam berkata, "Apakah engkau tidak membaca (dalam Al-Qur'an), 'Rezeki Kamu berada di langit dan apa saja yang dijanjikan kepadamu?' Dengan demikian, dari manakah manusia mencari rezeki kecuali dari tempatnya. Tempat rezeki dan janji Tuhan bersemayam di langit.
berdasarkan riwayat ini, umumnya rezeki seluruh manusia berasal dari langit; hujan yang memberikan kehidupan bumi yang mati tercurahkan dari langit, cahaya mentari yang menjadi sumber kehidupan bersinar dari langit, dan udara yang menjadi penyebab kehidupan berada di langit. Langit dikenal sebagai sumber berkah dan rezeki Ilahi. Dan ketika berdoa, memohon kepada Sang Pencipta dan Pemilik rezeki, perhatian kita hendaknya tertuju ke langit supaya masalah yang sedang kita hadapi terpecahkan.
Dalam sebagaian riwayat disebutkan falsafah lain di balik berdoa ke arah langit, yaitu untuk menunjukkan kerendahan dan kehinaan di haribaan Tuhan, dimana manusia ketika hendak menunjukkan kerendahan atau penyerahan diri di hadapan seseorang atau sesuatu, mereka mengangkat tangannya ke atas.


CATATAN KAKI:

Tafsir Payâm-e Qur'ân, jilid 2, hal. 24.
Abdul Karim adalah nama asli Ibn Abi al-Aujah. Karena ia mengingkari keberadaan Tuhan, Imam ash-Shadiq as secara khusus memanggilnya dengan nama demikian supaya membuatnya malu.
Al-Kâfî, jilid 1, hal. 61, kitab at-Tauhid, bab Hudûts al-'?lam; Tafsir Nemûnehh, jilid 20, hal. 325.
Ghurar al-Hikâm
Idem.
Bihâr al-Anwâr, jilid 77, hal. 421, cetakan Akhundi.
Tuhaf al-Uqûl, hal. 37, bagian hadis-hadis Nabi saw.
Indikasi kepada ayat pertama surat al-Fath yang dapat dijumpai dengan gamblang pada Tafsir Nemûnehh, jilid 22, hal. 18.
Ushûl al-Kâfî, jilid 2, bab Syukr, hadis ke-6.
QS. Hud [11] : 2.
QS. Hud [11] : 26.
QS. Yusuf [12] : 40.
QS. al-Ahqaf [46] : 21.
Tafsir Payâm-e Qur'ân, jilid 2 hal. 34.
Jâme'eh Syinâsi (Sosiologi), Samuel Kanik, hal. 207.
Dunyâ-i keh Mibînam, (Dunia Yang Kusaksikan) hal. 57. Begitu aneh apa yang diucapkan oleh August Compte, "Sains telah memisahkan Bapak Semesta dari pekerjaannya dan ia-lah yang menggantikan peran-Nya!" Artinya, dengan menyingkap sebab-sebab natural, tidak ada ruang yang tersisa untuk beriman kepada Tuhan. ('Ilal-e Gerâyesy be Mâddigeri, hal. 76. Anda juga dapat merujuk buku Kritik Islam Terhadap Materialisme, Syahid Mutahhari, hal. 29-30, terbitan Alhuda Jakarta-AK.)
Târikh-e Tamaddun, terjemahan edisi Persia dari History of Civilizations, Will Durant, jilid 1, hal. 89.
Jahân-i keh Man Misyenâsam, hal. 54.
Dunyâ-i keh Mîbînam, hal. 53.
Dunyâ-i keh Mîbînam, hal. 56 dan 61.
Untuk keterangan yang lebih jeluk dan luas, Silakan rujuk "Anggizeh-e Peidâyesy-e Madzâhib" dan Tafsir Payâm-e Qur'ân, jilid 2, hal. 44.
Makna "nir-terbatas" ini tidak dapat kita ilustrasikan. Apabila dipertanyakan bahwa bagaimana kalimat "nir-terbatas" ini digunakan, sementara dengan kalimat ini kita sedang memberikan sebuah kabar dan membicarakan hukum-hukumnya? Memangnya tashdiq (penegasan) tanpa tasawwur (gagasan) dapat terwujud? Jawaban atas pertanyaan ini adalah, dalam menggunakan kalimat ini, kita mengambilnya dari dua singular (kalimat tunggal), nâ ('adam) nir yang bermakna tidak, dan mutânâhi yang bermakna terbatas. Maksudnya, kedua kalimat ini dapat kita konsepsikan secara terpisah nir dan terbatas. Setelah itu, kita sintesakan satu dengan yang lainnya dan mengisyaratkannya kepada wujud yang tidak tergagaskan dalam benak. Dari pengetahuan tentang wujud ini kita temukan pengetahuan global. (Perhatikan baik-baik).
Payam-e Qur'an, jilid 4, hal. 33.
Tafsir Ali bin Ibrahim berdasarkan nukilan dari Nur ats-Tsaqalain, jilid 5, hal. 170.
Payâm-e Imâm, Syarah Nahjul Balâghah, jilid 1, hal. 91.
Bertrand Russel, Cherâ Masîhî Nistam?
Tafsir Payâm-e Qur'ân, jilid 4, hal. 195.
Di antaranya segala sesuatu yang bersifat nonindrawi. Tidak satu pun dari realitas benda-benda tersebut yang terkuak bagi para ilmuwan. Planet bumi memiliki gerakan-gerakan yang beraneka ragam. Misal, gerakan pasang-surut yang memasuki kortex planet bumi. Dan akibat pengaruh dari gerakan pasang-surut tersebut, sehari dua kali tingkatan permukaan (surface) bumi di bawah kaki kita akan naik seukuran 30 centimeter. Dan tidak satu pun tanda-tanda yang dapat menuntun kita untuk dapat mengetahui gerakan ini. Yang lainnya, udara yang berhembus di seputar kita, yang nota-bene memiliki beban dan berat yang sangat besar, dan badan manusia mampu memikul seukuran 16 ribu kilogram dari berat dan beban udara tersebut. Tentu saja, tekanan ini akan dinetralkan ketika berhadapan dengan tekanan internal badan yang bagi kita bukanlah sesuatu yang merisaukan. Di sini pun, tidak seorang pun yang membayangkan bahwa udara memiliki berat dan beban. Sebelum masa Galileo dan Pascal, masalah ini masih misterius bagi seluruh manusia. Dan kini, meskipun sains memberikan kesaksian atas validitas perkara ini, akan tetapi indra kita tidak dapat merasakannya. Dan kebanyakan dari ilmuwan ilmu alam mengakui keberadaan wujud segala sesuatu yang bersifat nonindrawi. Contohnya, keberadaan ether -sesuai dengan keyakinan para ilmuwan ilmu alam- yang memenuhi segala tempat di alam tabiat ini dan sebagian orang beranggapan bahwa ether ini merupakan sumber seluruh maujud. Mereka menguraikan bahwa ether ini merupakan wujud yang tanpa beban, tanpa warna dan... yang memenuhi seluruh planet dan tempat serta merasuk (infiltrasi) ke dalam seluruh benda, dan tentu saja tidak terlihat oleh kita. (Ether, derivasi dari kata Yunani, aith?r yang berarti upper air (meta udara), di atas udara. Dalam chemistry (industri dan ilmu kimia), ether ini adalah sebuah cairan pelarut yang terbuat dari alkohol, tanpa warna dan tanpa beban. Biasanya digunakan untuk membius (anaestasia), dengan formula C2H5OC2H5. Biasa juga disebut sebagai diethyl ether-AK.).
Untuk menegaskan perkara ini, tidak ada salahnya kita menukil ucapan Flamariun dalam bukunya "Rahasia-rahasia Kematian". Ia berkata, "Manusia hidup dalam ngarai kejahilan dan ketidaktahuan. Dan ia tidak mengetahui bahwa susunan badan manusia ini tidak dapat menuntunnya kepada hakikat-hakikat. Kelima indra manusia ini menipunya dalam segala hal. Dan satu-satunya yang dapat menuntun manusia kepada hakikat dan kebenaran adalah akal, pemikiran dan akurasi ilmiah." Kemudian ia memulai menjelaskan satu persatu perkara yang tidak dapat dicerap oleh panca indra manusia dan membuktikan keterbatasan setiap indra. Ia berkata, "Oleh karena itu, kesimpulannya adalah bahwa akal dan pengetahuan kita hari ini memberikan hukum pasti kepada kita bahwa terdapat sebagian gerakan-gerakan atom, udara dan benda-benda, serta kekuatan-kekuatan yang tidak terlihat oleh indra pengelihatan kita, dan kita tidak dapat merasakan benda non-kasat mata ini melalui panca indra. Dengan demikian, boleh jadi di sekeliling kita terdapat wujud-wujud yang lain selain atom, udara dan sebagainya; wujud-wujud hidup dan memiliki kehidupan yang tidak dapat kita rasakan. Aku tidak berkata bahwa benda-benda tersebut ada, akan tetapi aku berkata barangkali ia ada. Lantaran kesimpulan dari penjelasan-penjelasan sebelumnya adalah bahwa kita tidak dapat berkata segala yang tidak kita lihat berarti tidak ada. Oleh karena itu, ketika dengan argumentasi-argumentasi ilmiah telah terbukti bagi kita bahwa indra lahir yang kita miliki tidak memiliki kelayakan untuk dapat menyingkap seluruh wujud-wujud yang ada dan acap kali indra ini mengelabui kita serta menunjukkan hal-hal yang bertentangan dengan realitas kepada kita, kita tidak boleh mengkonsepsikan bahwa seluruh hakikat wujud terbatas pada apa yang kita rasakan dan saksikan. Akan tetapi, kita harus percaya yang sebaliknya, bahwa barangkali terdapat wujud yang tidak dapat kita rasakan. Sebelum ditemukannya mikroba, seseorang tidak berkhayal bahwa terdapat jutaan mikroba di sekeliling setiap benda dan kehidupan setiap makhluk yang menjadi medan laga bagi mikroba-mikroba tersebut. Kesimpulannya, indra lahir ini tidak memiliki kelayakan untuk menyingkap realitas seluruh wujud. Dan satu-satunya yang dapat memperkenalkan realitas wujud secara paripurna adalah akal dan pikiran kita. Menukil dari 'Alâ Itlan al-Madzhab al-Mâddi, karya Farid Wajdi, hal. 4.
?faridegâr-e Jahân, kumpulan tulisan berharga Ayatullah Makarim Syirazi, hal. 248.
Ma'ânî al-Akbâr, Syaikh Shaduq, hal. 11, hadis ke-1.
Tafsir Nemûneh, jilid 27, hal. 446.
History of Civilization, Edisi Persia, jilid 1, hal. 87 dan 89.
Idem.
Fitrat, Syahid Mutahhari, hal. 153.
Silakan rujuk Makalah Kuantaim, terjemahan Ir. Bayani, dalam buku, Hess-e Mazhabi yâ bo'd-e Chahâr-e Rûh-e Insâni.
Perlu diketahui bahwa agama yang dimaksud di sini adalah agama Kristen. Karena agama yang mendominasi lingkungan mereka kala itu adalah agama Kristen.
Dunyâ-i keh Mîbinam, dengan ringkasan, hal. 53.
Sair-e Hekmat dar Orupa, jilid 2, hal. 14.
Idem, hal. 321.
Idem, hal. 31.
Fitrat, Syahid Mutahhari, hal. 147.
Muqaddameh-ye Niyâyesh, hal. 31.
Jâme'eh-shenâsi, Samuel Kning, hal. 191.
History of Civilizations, Edisi Persia, Tarikh-e Tamaddun, jilid 1, hal. 88; Tafsir Payâm-e Qur'ân, jilid 3, hal. 120.
Tauhid Shaduq, sesuai dengan nukilan dari Tafsir Nûr ats-Tsaqalain, jilid 3, hal. 417 dan 418.
Idem.; Tafsir Nemûneh, jilid 13, hal. 373.
Tafsir al-Mîzân, jilid 15, hal. 103 dan jilid 10, hal. 69.
Ringkasan Tauhid Shaduq, hal. 267.
Tafsir Payâm-e Qur'ân, jilid 5, hal. 44.
At-Tafsir al-Kabîr, Fakhrurrazi, ayat yang bersangkutan; Tafsir Nemûnehh, jilid 17, hal. 359.
Nahjul Balaghâh, ceramah ke-179.
Tafsir Nemûneh, jilid 1, hal. 217.
Tafsir Nemûneh, jilid 2, hal. 263.
Tafsir Payâm-e Qur'ân, 59/4.
Tafsir Payâm-e Qur'ân, 319/4.
Sebagian filsuf beranggapan bahwa kehendak (irâdah) adalah syauq muakkad (keinginan yang sangat). Sementara, sebagian yang lain beranggapan bahwa selain syauq muakkad, ia juga bermakna perbuatan dan gerakan. Dan ia memandang kehendak (irâdah) itu adalah amalan nafsâni. (Perhatikan baik-baik)
Tafsir Payâm-e Qurân, jilid 4, hal. 153.
Tafsir Nemûneh, jilid 2, hal. 278; Payâm-e Qur'ân, jilid 4, hal. 379.
Tafsir Nemûneh, jilid 18, hal. 284.
Tafsir al-Manâr, jilid 7 hal. 653.
Ma'âni al-Akhbâr sesuai dengan nukilan dari tafsir al-Mizân, jilid 8, hal. 268.
Nûr ats-Tsaqalaîn, jilid 1, hal. 753.
Tafsir Nemûneh, jilid 5, hal. 381.
Bihâr al-Anwâr, jilid57, hal, 28, hadis ke-26-27.
Bihâr al-Anwâr, jilid 58, hal. 39.
Idem.
Idem.
Tafsir Nemûneh, jilid 20, hal. 35.
Tafsir Nemûneh, jilid 7, hal. 6.
Mufradat kalimat hadâ.
Perhatikan baik-baik! Hidâyah takwînî di sini bermakna luas. Termasuk setiap bentuk petunjuk selain jalan penjelasan undang-undang dan penunjukan jalan secara langsung.
Misalnya Fathir: 8, az-Zumar: 23, al-Muddatstsir: 31, al-Baqarah: 272, al-An'am: 88, Yunus: 25, ar-Ra'd: 27, dan Ibrahim: 4.
Nahjul Balâghah, Hikmah-hikmah Pendek, No. 26)
Tafsir Nemûneh, jilid 12, hal. 134.
Tafsir Nemûneh, jilid 11, hal. 426.
Tafsir Nemûneh, jilid 2, hal. 497.
Bihâr al-Anwâr, jilid 3, hal. 330; Tauhid ash-Shaduq, hal. 248, hadis ke-1, bab ke-36; bab ar-Radd 'alâ ats-Tsanawiyah wa az-Zanâdiqah.
Bihâr al-Anwâr, jilid 90, hal. 308, hadis ke-7. Hadis yang dinukil di atas terdapat juga pada Nûr ats-Tsaqalain, jilid 5, hal. 124 dan 125.
Tafsir Payâm-e Qur'ân, jilid 4, hal. 270.