Total Tayangan Halaman

Selasa, 04 Agustus 2015

FADILAH SYAHADATAIN


Rasulullah SAW telah bersabda : “Syari’at adalah ucapanku, Thoriqot adalah perbuatanku, Hakekat adalah keadaanku.
Soal : Apakah membaca syahadat itu ada fadhilahnya ?
Jawab             : Ya, ada fadhilahnya, bahkan Rasulullah SAW. memerintahkan untuk membacanya.
            Diantara fadhilahnya adalah firman Allah SWT : “Sesungguhnya orang yang mengucapkan : “Allah Tuhan kami”, kemudian selalu beristiqomah, maka akan turun malaikat kepada mereka dengan mengatakan; janganlah kamu merasa takut dan sedih dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Fushshilat/Assajdah ayat 30).
            Dan termasuk istiqomah adalah terus menerus membaca kalimat syahadat di setiap waktu.

Disebutkan dalam Tafsir SHOWI dari Juz awal halaman 135 sesungguhnya syahadat itu akan menghancurkan sendi-sendi kemusyrikan didalam hati dan menghilangkan keraguan, karena itu para arifin memilih syahadat untuk dibaca setiap selesai shalat.

Dan di terangkan pula dalam Tafsir SHIROJUL MUNIR Juz awal halaman 436, sebagai berikut : Ibnu Abbas r.a. berkata : “Barang siapa mendawamkan syahadat selama hidup didunia maka Allah SWT akan menetapkan syahadat itu kepadanya didalam quburnya dan Allah akan menuntunnya membaca dua kalimat syahadat”.
“ Allah akan menetapkan ucapan-ucapan yang ditetapkan oleh orang yang beriman pada waktu hidup di dunia dan di akhirat dan Allah akan menyesatkan orang orang yang dzalim. Dan Allah akan berbuat apa yang dikehendaki-Nya.”
Soal    :  Apakah Rasulullah SAW membaca syahadat setelah beliau shalat ?
Jawab :  Ya, Rasulullah SAW membacanya setelah salam dari shalat, sebagaimana terdapat dalam hadits yang ada pada kitab Ibnu Sunni : Dari Anas r.a. dia berkata : Rasulullah SAW setelah selesai shalat beliau memegang dahi dengan tangan kanan seraya mengucapkan “Aku bersaksi bahwasanya tiada tuhan melainkan Allah yang maha pengasih dan penyayang, Ya Allah, lepaskanlah dariku kesusahan dan kesedihan”. (ADZKAARUN NAWAWY Halaman 69).
Soal : Mengapa Rasulullah SAW tidak membaca syahadat rasul sedangkan kita membacanya?
Jawab :  Karena Rasulullah SAW telah bersaksi bahwa dirinya adalah Rasulullah adapun kita adalah ummat rasul seandainya tergelincir kedalam syirik atau murtad, maka wajib membaca dua kalimat syahadat, apalagi di zaman akhir ini, didalam hadits, Abu Hurairah r.a. ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Fitnah di zaman akhir dapat menjadikan seseorang mu’min di pagi hari, dan kafir di sore hari, kecuali orang yang telah diselamatkan oleh Allah SWT dengan ilmu pengetahuan atau dengan seorang guru yang memberi petunjuk (Guru mursyid) (DASUQY Halaman 89) ; Apakah anda tidak senang Habib Umar mengajarkan dua kalimat syahadat di zaman ini.
Syirik lebih samar dari pada semut hitam kecil yang berjalan diatas batu hitam yang licin pada waktu malam hari yang gelap gulita.
Soal : Apakah hikmah dan maksud membaca dua kalimat syahadat tiga kali setelah salam dari shalat ?
Jawab : Hikmah dan maksud (tujuan) nya ada tiga :
           Pertama          :  Mohon ditetapkan Iman Islam saat dicabut rukh
           Kedua : Mohon ditetapkan dua kalimat syahadat untuk menjawab pertanyaan mlaikat Munkar Nakir didalam kubur.
           Ketiga  : Mohon diselamatkan dari kebingungan pada hari Qiyamat dan makhsyar.
Wasallam dibaca fiil madhi, karena dalam kitab Alfiyah dalam bab ‘ataf, fiil madhi boleh di’atafkan kepada fiil amar dengan sama tujuannya.
Imam Ibu Aqil mengatakan bahwa ‘athaf tidak dikhususkan pada isim saja, bahkan bisa diterapkan dalam isim dan fiil seperti dalam kalimat  يَقُوْمُ وَ يَقْعُدُ زَيْدٌ وَ رَكِبَ وَ اِضْرِبْ زَ يْدًا وَ قُمْ dan seperti dalam ayat al-Qur’an :  فَالْمُغِيْرَاتِ صُبْحًا فَأَثَرْنَ بِه نَقْعًا  (IBNU AQIL Halaman 137).
Soal  : Apakah boleh talqin mayyit hanya dengan membacakan dua kalimat syahadat ?
Jawab : Ya boleh, bahkan yang dimaksud dengan talqin adalah menalqinkan dua kalimat syahadat, seperti yang tertera dalam buku talqin yang biasa digunakan oleh kaum muslimin itu ada ucapan :
Ingatlah akan perjanjian ketika engkau keluar dari dunia ke akhirat, ialah mengenai syahadat, yaitu menyaksikan tidak ada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah.
Dan sebagaimana tersebut dalam kitab RIYADHUSSHOLIHIN dari Barra Bin ‘Azib, bahwa Rasulullah SAW., bersabda : Apabila mayat ditanya oleh malaikat Munkar Nakir dikuburnya, dan menyaksikan tidak ada tuhan melainkan Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah. Allah berfirman : Allah menetapkan kepada orang-orang mu’min ucapan-ucapan yang tetap pada waktu hidup di dunia dan di akhirat. (HR. Buchari Muslim).
Soal    : Adakah dalil yang menunjukkan membaca tasbih, tahmid dan takbir dibaca tiga kali ?
Jawab : Ya, ada dalilnya ; sebagaimana tersebut dalam ATTUHFAH juz awal halaman 277 (peringatan) sesungguhnya ada riwaat-riwayat bahwa ada yang kurang dan ada yang lebih dari 33 kali, seperti 25, 11, 3, 1 ada pula yang 70 dan 100 kali dalam membaca tasbih.
Soal    : Mengapa kita memakai pakaian putih ketika shalat ?
Jawab : Karena Rasulullah SAW., memakai dan memerintahkannya. Seperti yang tersebut dala kitab BULUGHULMARAM halaman 63 terdapat keterangan dari Ibnu Abbas r.a. sesungguhnya Nabi SAW, telah bersabda : “Pakailah olehmu pakaian yang putih, sesunguhnya pakaian yang putih itu adalah pakaian yang terbaik bagimu, dan bungkuslah mayatmu dengan kain putih. (Diriwayatkan oleh : Lima Ulama kecuali Imam an-Nasa’i dan di shahihkan oleh Imam Turmudzi).
Dan tersebut didalam kitab FATHUL WAHHAB halaman 87 dan kitab IQNA’ halaman 179 dan Kitab JAMI’ISH SHAGHIIR halaman 130 dari juz 2 hadits nomor 5515 : tetapkanlah atasmu pakaian yang putih dan pakailah bagi orang yang hidup dengan pakaian yang putih, dan bungkuslah mayatmu dengan pakaian yang putih, sesungguhnya pakaian putih adalah pakaian yang terbaik bagimu.
Dan telah tersebut dalam kitab IHYA pada juz awal dalam bab adabul jum’at, telah berkata Imam Syafi’i : “ Barang siapa bersih pakaiannya, maka sedikit susahnya, dan barang siapa wangi baunya, akan ditambah akalnya, dan adapun pakaian yang lebih dicintai adalah pakaian putih, karena pakaian yang lebih dicintai oleh Allah adalah pakaian putih yang tidak loreng, dan berpakaian hitam tidak termasuk sunnah, dan tidak ada fadhilahnya (keutamaannya) bahkan sekelompok ulama, memakruhkan melihatnya, karena bid’ah yang diada-adakan sesudah wafatnya Rasulullah SAW., dan sorban disunnahkan sampai hari ini.
Soal : Mengapa kita memakai Gamis, Jubbah, dan sorban khususnya pada waktu shalat ?
Jawab :           Karena sunnat, seperti dalam Kitab BUGHYATUL MUSTARSYIDIIN halaman 86 terdapat masalah : disunnahkan memakai Gamis, sarung dan sorban dan thoilasan (pakaian untuk menutup kepala sebelum memakai sorban) diwaktu shalat atau diluar shalat, kecuali diwaktu tidur dan sebagainya akan tetapi thoilasan itu khusus bagi orang-orang yang mulia dari ulama dan pemimpin.
Dan telah berkata dalam kitab DI’AMAH halaman 8-9 ; terdapat keterangan bahwa Imam Ad-Dailamy telah menerangkan dalam kitab Musnadil Firdaus dari Jabir , Hadits marfu’ : shalat satu raka’at dengan memakai sorban itu lebih baik dari pada 70 roka’at dengan tidak memakai sorban. Dan Imam Munawi telah memberi keterangan dalam kitab Taisir : sesungguhnya shalat itu menghadap raja (Allah) adapun menghadap raja tidak memakai pakaian yang baik adalah tidak beradab. Dan shalat jum’at sekali dengan memakai sorban adalah berlipat 70 kali lipat (pahala) jum’atan dengan tidak memakai sorban.
Soal : Mengapa kita bertawassul kepada para Nabi para wali dan para sholihin ?
Jawab : Karena kita beramal atas dasar firman Allah yang ada dalam surat al-Maidah ayat 35 : “Hai oang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah, dan carilah jalan yang mendekatan diri kepada-Nya, dan berjihadlah kepadanya, supaya kamu mendapat keberuntungan (surga). Sebagaimana tersebut dalam kitab FATAWI ALKHALILI Halaman 258.
Dan telah berkata IBNU ABBAS r.a. : Sesungguhnyawasilah itu adalah sesuatu yang bisa mendekatkan diri kepada Allah.
Dan yang termasuk wasilah adalah cinta kepada para Nabi, kepada para wali , shodaqoh, ziyarah kepada para kekasih Allah, memperbanyak do’a dan lain-lain. Yang dimaksud, kerjakanlah sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah, dan tinggalkanlah sesuatu yang menjauhkan diri kepada Allah. Karena itu kita diharapkan tahu, maka termasuk kekeliruan dan merugi orang yang mengatakan kafir kepada orang yang berziyarah kepada waliyullah dengan bersyakwa sangka bahwa ziyarahnya itu beribadah selain kepada Allah. Janganlah demikian, justeru yang demikian itu termasuk cinta kepada Allah. Rasulullah SAW., bersabda : “Ingatlah tidak sempurna iman seseorang yang tidak mahabbah (mencintai) kepadanya”. (TAFSIR SHOWI Juz awal halaman 265).
Dan telah bersabda Nabi SAW. : “Manusia itu bersama orang yang dicintai” Dan Nabi SAW. telah bersabda pula : “Ingatlah ! (wahai ummatku) kepada Allah jika ia tidak bisa mengingat, maka berkumpullah bersama orang yang ingat kepada Allah”. Dan diterangkan oleh sebagian ulama bahwa cinta kepada guru, itu sebagian permulaan cinta kepada Allah. Sebagaimana tersbut dalam kitab TANWIRUL QULUB halaman 57.
Dan telah berkata dalam kitab BAJURI dari juz kedua halaman 700 ; Dan telah berkata dalam Nahjissa’adah Rasulullah SAW., telahbersabda : “Bertawassullah kamu dengan ku dan degan ahli bait ku, sesungguhnya orang yang bertawassul kepada ku tidak akan ditolak” (H.R. IBNU HIBBAN dalam Hadits Shahihnya).
Dan Nabi SAW telah bersabda : “Bertawassullah kamu dengan kebesaranku, sesungguhnya sifat kehormatanku bagi Allah adalah suatu perkara yang berfaidah” (sebagaimana tersebut dalam kitab BUGHYATUL AWAM).
Dan tersebut dalam kitab IHYA Juz awal halaman 233; Rasulullah SAW telah mengajar Abu Bakar Ash-shiddiq r.a. supaya membaca doa :
اَللّهُمَّ إِ نِّيْ أَسْـئـــَلُكَ بِمُحَمَّدٍ .... الخ
Dan telah diterangkan dalam kitab BUGHYATUL MUSTARSYIDIIN halaman 358 : “adapun bertwassul dengan para Nabi dan para sholihin adalah sesuatu yang dicintai syara’ dan sudah ditetapkan dengan hadits yang shohih. Dan para ulama telah sepakat dengan menjalankan tawassul bahkan sudah tetap (diperbolehkan) tawassul dengan amal shaleh padahal amal shaleh itu suatu sifat, maka dari itu lebih utama tawassul dengan dzat, adapun tawassul dengan para Nabi dan para wali dimasa hidupnya dan sesudah wafatnya itu diperbolehkan secara hukum syara’, seperti yang telah berlaku dalam hadits yang shohih.

Dan telah berkata dalam kitab Adzkar pada bab Dzikir dalam shalat Istisqa’, halaman 134 : Dan disunnatkan bertawassul dengan orang-orang yang masyhur kebaikannya seperti berdo’a dengan membaca : اَللّهُمَّ إِنــَّا نَسْتَسْقِيْ.... الخ
Soal  : Boleh atau tidak memanggil-manggil para Nabi, para Wali, atau guru dipinggir quburan pada waktu ada kesulitan dan apakan para Nabi, para Wali dan Guru itu bisa memberi pertologan kepada orang yang minta tolong ?
Jawa  : Boleh dan para Nabi, Wali atau guru itu masih bisa memberi pertolongan pada orang yang minta tolong sesuai dengan keterangan dari Hamis-nya (penjelasan pinggir) kitab FATAWY AL-KUBRA halaman 382 juz 4 yang artinya : “bagaimana orang awam yang mengucapkan : “Ya Rasulullah, ya syaikh fulan ….” dan yang semacam dengan itu, dipinggir Quburan dengan tujuan meminta pertolongan kepada mereka, apakah mereka masih bisa memberi pertolongan ? (Jawabannya) boleh dan masih bisa memberi pertolongan , karena mukjizat para Nabi dan karomat para Wali tidak putus karena kematiannya. Namun para Nabi dan para Wali hidup di alam quburnya, masih menjalankan shalat dan haji, seperti dalam Hadits : Para Nabi masih bisa memberi pertolongan kepada yang meminta tolong sebagai mukjizatnya. Dan para syuhadapun masih hidup dan bisamembantu orang-orang yang perang dijalan Allah (sabilillah). Para Wali, Guru juga masih bisa memberi pertolongan kepada orang yang meminta tolong sebagai karomahnya, sesungguhnya para ulama ahli haq sekeyakinan dalam hal karomah, syafa’at, mu’jizat, sesungguhnya beberapa perkara yang tidak seperti biasanya (mustahil menurut akal) seperti yang sering terjadi di kalangan para Wali, baik sengaja ataupun tidak, itu sesuatu yang aneh (yang diluar kebiasaan) yang dijalankan Allah. Dalil adanya karomah, bahwa karomah itu suatu perkara yang mungkin, tidak termasuk sesuatu yang mustahil dan semua keadaan ini sesuatu yang mungkin, masalah tersebut sama dengan kisah Siti Maryam pada waktu mash kecil, ditemptkan di loteng kamar masjid baitul muqaddas dan pintunya dikunci rapat oleh Nabi Zakaria, setiap pagi Nabi Zakaria membuka pintunya dengan maksud memberi makanan pada Siti Maryam, akan tetapi didepan Siti Maryam sudah terhidang buah-buahan, pada musim hujan terhidang buah-buahan musim kemarau dan pada musim kemarau terhidang buah-buahan musim hujan. Ini sudah di Nash dalam al-Qur’an.
Karomah para wali jelas dan nyata tidak bisa diingkari, keterangan dari kitab SIROJUL BAYAN halaman 15 : Dan dalam kitab SIROTUSYSYAMIYAH ada keterangan bahwa Ahli sunnah wal jama’ah berpendapat tentang adanya karomah para wali baik semasa hidupnya maupun setelah wafatnya.
Rasulullah SAW telah bersabda : Apabila kamu mempunyai kesulitan dalam suatu masalah maka mintalah pertolongan pada ahli qubur  (Dari Kitab Bahjatussaniyyah halaman 14)
Soal : Dengan cara apakah berdo’a kepada Allah yang lebih utama ? apakah dengan tawassul kepada Nabi, Wali, atau Guru ? atau secara langsung tidak dengan cara tawassul ?
Jawab :                       Masalah tersebut bersifat tafsil artinya tergantung keadaan, bagi orang awam seperti kita, apabila berdo’a atau beribadah kepada Allah belum bisa wusul (rukhaninya kepada Allah), sehingga tidak mempunyai rasa adanya panca indra atau badan yang wujud ini, maka berdo’a itu lebih utama dengan cara tawassul, bagi orang yang bisa wusul, maka berdo’a itu lebih utama langsung seperti : Nabi Ibrohim pada waktu dilemparkan kedalam bara api, juga seperti Siti Aisyah pada waktu dituduh zina dengan sahabat Sofwan Bin Muaththal Assulami, setelah Siti Aisyah mempunyai perasaan bahwa wujud dirinya itu terasa wusunya (konsentrasi wusulnya kepada Allah) terasa kurang, maka Siti Aisyah dengan segera tawassul kepada Nabi SAW, karena syukuran kepadanya. Sebagaimana Rasulullah SAW telah bersabda : “Tidak bersyukur kepada Allah, barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia” (HIKAM Juz 2 halaman 87).
Soal  :  Bolehkah memanggil gurunya dengan ucapan Yaa hadii, yaa ‘aliim, yaa khobiir, yaa mubiin, yaa waliy, yaa hamiid, yaa qowiim, yaa hafiidz ? yag dimaksud guru disini adalah Habib Umar, dalam ucapannya, adapun hakekatnya adalah memohon kepada Allah SWT ?
Jawab :           Boleh, karena Habib Umar termasuk ahli bait Rasulullah SAW da waliyullah (pendapat kami), sebagaimana Rasulullah SAW telah bersabda : “bertawassullah kamu sekalian dengan ku dan dengan keluargaku, sesungguhnya tidak akan ditolak orang yang bertawasssul dengan kami. (H.R. IBNU HIBBAN dalam shohihnya). Begitu pula IMAM HAKIM meriwayatkan dari Sahabat Abu Dzarrin, bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Ahli Baitku bagimu laksana kapalnya Nabi Nuh AS. bagi kaumnya, orang yang mengikuti kebaikan akan selamat dan oang yang tida mengikuti dalam kebaikan akan tenggelam”.
IMAM MUNAWY berkata : karena ini berpendapatlah para ulama : sesungguhnya kutubul auliya, dalam setiap masa itu terdiri dari mereka ahli bait Nabi, dan murid-murid Al-Habib Umar, termasukkutubul auliya dizaman kita, dan hadits-hadits ini menunjukkan tentang bolehnya seseorang murid minta tolong kepada seorang guru dan hal itu dinamakan robithoh artinya ikatan hati murid dengan gurunya. Dan Habib Umar adalah orang yang mulia, lagi pula dzurriyat Rasulullah SAW, dan ahli warisnya dalam ucapan, perbuatan, dan keadaannya. Dan warisan yang paling sempurna adalah tiga : ucapan, perbuatan (kelakuan), dan i’tikad (kata hati) sebagaimana Rasulullah SAW telah bersabda : “Syari’at adalah ucapanku, Thoriqot adalah perbuatanku, Hakekat adalah keadaanku. Dan mencintai Ahlullah adalah wajib, sebab merekalah orang yang tergolong ahlushshafa wal wafaa (orang yang bersih dan mengabdikan diri kepada Allah) bahkan bagi orang yang mengikuti jejak langkah mereka (ahlushshafaa wal wafaa).
IMAM SUFYAN berkata : Sesungguhnya orang yang cinta kepada orang yang mencintai Allah, berarti orang tersebut mencintai Allah, dan orang yang memuliakan terhadap orang yang memuliakan Allah, berarti orang tersebut memuliakan Allah. Dan sebuah Hadits yang panjang dari Sayyidina Umar r.a. Bahwa Rasulullah SAW ditanya : Siapakah aali (Keluarga) Muhammad yang harus kami cintai dan harus kami muliakan ? dan kami diperintah untuk berbuat baik kepada mereka ?. Maka berkata ahlush shafaa wal wafaa : yang beriman kepadaku dan ikhlas. Hai saudara-saudaraku fahamilah hadits-hadits auliya, agar kalian tidak termasuk golongan yang dikecam oleh Allah. Dialam hadits Qudsi diterangkan : Barang siapa memusuhi kekasihku, maka kami memberitahu kepadanya dengan perang.
Soal  :  Bolehkah murid berdo’a (Tawassul) kepada gurunya dengan mengucapkan ucapan khalifatu Rasulillah ?
Jawab :           Ya boleh, seperti Sabda Rasulullah SAW yang tertera dalam Syarah Azkiya halaman 83 : “Rakhmat Allah mudah-mudahan tetap atas khalifahku”. Sebagian sahabat bertanya : “Siapakah khalifah-khalifahmu ya Rasulullah ?”. Nabi SAW menjawab : “Khalifah-khalifahku dalah orang-orang yang menghidupkan dan mengamalkan sunnah-sunnahku dan mengajarkan kepada hamba-hamba Allah”. Sedangkan guru kita yang mulia (Al-Habib Umar Bin Isma’il Bin Yahya) sebagian dari orang yang menghidupkan, mengamalkan dan mengajarkan kepada hamba Allah akan sunnah-sunnah Rasul yang tidak diamalkan oleh umat Islam masa sekarang ini terutama mengajarkan dua kalimat syahadat.
Soal  : Bolehkah memakai asma’ul husna (nama) dari Asma Allah untuk seseorang ?
Jawab :           Ya Boleh sebagaimana dijelaskan dalam kitab Sulam Taufiq halaman 4 : Allah SWT telah memberikan kepada hamba-Nya (Adam AS.) beberapa sifat dan digunakan sebagai nama. Digunakannya nama itu bagi Allah SWT adalah sebagai penghormatan kepada hamba itu. Misalnya aku hidup …… dan sebagainya, akan tetapi jelas berbeda dengan sifat Allah SWT pada hakekatnya.
Soal  :  Apakah boleh berdzikir sambil berdiri, sambil duduk dan lainnya ?
Jawab :           Ya, boleh, Berdzikir dalam posisi apapun kecuali seperti pada waktu buang air besar, maksiyat, seperti diterangkan dalam kitab ADZKAR halaman 7, demikian : “ketahuilah bahwa keutamaan dzikir itu tidak di khususkan pada ucapan tasbih, tahmid, takbir, dan semacamnya. Bahkan setiap orang beramal karena Allah dengan taat,itu termasuk orang yang dzikir kepada Allah. Begitu pula dikatakan oleh Said Bin Jabir r.a. dan yang lainnya yakni dari para ulama berkata Ibnu Abbas dalam menafsirkan firman Allah : Yang dimaksud adalah mereka yang berdzikir kepada Allah , setelah melaksanakan shalat, pada waktu pagi, waktu sore, berdzikr sambil tiduran, dan setiap bangun dari tidurnya, dan tiap-tiap berangkat pagi atau pulang sore ke rumahnya, maka dia berdzikir kepada Allah. Berkata Imam Mujahid : “Tidak termasuk orang yang banyak berdzikir kepada Allah, kecuali dia berdzikir sambil berdiri, duduk, dan tiduran.
Dan tersebut dalam kitab FATAWY AL-KHALILI halaman 259 sebagai berikut : meriwayatkan Imam Khafidz Abu Na’im dengan Sanadnya dari sahabat Ali Bin Abi Thalib, bahwa beliau pada suatu hari menerangkan keadaan para sahabat, mereka berdzikir kepada Allah SWT, maka mereka bergerak-gerak, seperti gerakannya pohon yang diterpa oleh hembusan angin besar, dan mereka berdzikir sambil menangis, air matanya membasahi pakaiannya.
Dan berkata Siti Aisyah r.a. Bahwa Nabi SAW berdzikir kepada Allah SWT., dalam seluruh waktunya. Kesimpulan dari hadits ini bahwa orang tidak bisa disalahkan berdzikir dengan gerakannya atau sambil duduk, sambil berdiri, atau tenang (tidak bergerak-gerak). Dan Firman Allah SWT dalam surat AN-NISA’ ayat 103 dijelaskan : “Apabil kamu telah selesai mengerjakan shalat hendaklah kamu ingat kepada Allah (berdzikir kepada Allah), dengan berdiri, begerak dan berbaring. Apabila kamu telah aman (tenang) maka dirikanlah shalat sebaik-baiknya. Sesungguhnya shalat itu diperlukan atas orang-orang mukmin pada waktunya (shalat itu diwajibkan atas semua orang mukmin)”. Dan didalam surat ALI-IMRAN ayat 190-191 : “Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang menjadi tanda atas kekuasaan Allah SWT bagi orang-orang yang berakal yaitu orang-orang yang mengingat Allah (berdzikir kepada Allah) ketika berdiri, duduk, dan saat berbaring. Dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi sambil berkata : Ya tuhan kami, bukankah engkau jadikan ini dengan percuma (sia-sia). Maha suci engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. Dalam dua ayat ini ada penjelasan dengan adanya gerakan-gerakan pada waktu berdzikir. Karena berdiri, duduk dan berbaring, itu merupakan gerakan seperti gerakannya mereka yang berdiri ketika mendengarkan cerita kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Dan tersebut dalam kitab MADARIJISSU’UD halaman 15 dan didalam kitab FASYNI halaman 91 syair mengatakan : Orang yang mulia, mereka bangun ketika mendengar asma Nabi disebut, sambil berdiri dan berbaris atau berdiri diatas lutut.
Dan IMAM TAQIYUDDIN ASSUBUKI, beliau pasti bangun ketika mendengar sebutan asma Nabi. IMAM SIBRO MALISI mengatakan : merupakan kebiasaan orang-orang dari golongan mukhibbin, mereka berdiri ketika mendengar sifat-sifat Nabi SAW karena mengagungkan beliau.
Dan tersebut dalam kitab ADZKAR pada halaman 6 : “Ketahuilah bahwa sebagaimana disunnatkan berdzikir, juga disunnatkan duduk-duduk dilingkungan dzikir, dan amat jelas dalil-dalil yang menunjukkan hal itu. Hadits Ibnu Umar r.a. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW : “Apabila kalian melewati taman-taman surga maka menggembalalah disana (mampirlah disana)”. Mereka bertanya : “Apakah taman surga itu ya Rasulullah ?”. Rasulullah SAW menjawab : “Taman surga adalah lingkungan dzikir dan apabila mereka menghadirinya, dengan duduk berlingkar”.
Telah berkata Al-Habib Muhammad Bin Ahmad Al-Mahdhor Surabaya :
“Andaikata mereka tidak berdiri untuk memuliakannya maka mereka akan mendapat kebodohan dan bahayanya”.
Manusia tidak murtad (kufur) dengan mengerjakan maksiyat, akan tetapi dia kufur sebab meninggalkan hormat (tidak hormat).
Dan dalam hadits qudsi, Allah berfirman : Bahwa aku mempunyai hamba, hamb yang mencintaiku dan aku mencintai mereka, dan mereka merindukanku, akupun rindu kepada mereka. Mereka menyebut-nyebut aku, dan akupun menyebut-nyebut mereka. Sebagian orang (Shiddiqiin) bertanya : Ya Allah bagaimana ciri-ciri mereka ?. ciri-ciri mereka diantaranya adalah berteriak-teriak dan menangis sambil memanggil-manggil serta mengaduka persoalan kepadaku, dan diantara mereka, ada yang ruku’, ada yang berdiri, ada yang sujud. Maka yang pertama aku berikan kepada mereka tiga hal :
Yang pertama : aku meletakkan nur-ku sendiri dalam hati mereka
Yang kedua : apabila langit dan bumi beserta isinya ditimbang dengan amal mereka , pasti aku katakan timbangan itu sedikit dibandingkan amal mereka.
Yang ketiga : aku hadapkan wajahku kepada mereka.
Tersebut dalam kitab FASYNI Halaman 91. (Faidatun) Imam Ibnu Juzi dari Ibnu Sufyan Bin Uyainah, beliau berkata : “Apabila disebut-sebut orang yang soleh, maka turunlah rokhmat terebut”. Dalam Kitab Khoirotul khisan halaman 19.

Soal  :  Bagaimanakah hukum berdzikir dengan suara keras setelah salam dari shalat?
Jawab :           Hukumnya sunnah karena Allah berfirman dalam al-Qur’an surat an-Nur ayat 36 ; “didalam masjid, Allah mengizinkan dzikir dikeraskan, disebut didalamnya akan asma-Nya, memaha sucikan kepada-Nya didalam masjid di waktu pagi dan sore”.
Dan tersebut dalam kitab FATAWY AL-KHALILY Halaman 262 sebagaimana berikut : Dzikir adalah seperti membaca Al-Qur’an dengan keterangan ayat dan beberapa riwayat, dan dzikir dengan suara keras itu lebih utama. Dan dalil yang menunjukkan keutamaannya dzikir dengan suara keras, bahwasanya beramal dengan suara keras itu lebih besar manfaatnya terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain, membangunkan hati pembaca, menyatukan himmah, mengumpulkan cita-cita dan pikiran, mengkhususkan pendengaran. Dan dengan suara keras, hilanglah rasa kantuk, bertambah giat, membangunkan yang oranglain dari tidur dan lupa, dan menggiatkannya, maka apabila dengan niat-niat ini, berdzikir dengan suara keras itu lebih utama.
Dan tertera dalam hadits qudsi yang tujuannya diperintahkan berdzikir dengan suara keras, sebagaimana hadits ini : Allah SWT berfirman : Dan apabila dia menyebut-nyebut aku di suatu tempat yang ramai, maka akupun menyebut-nyebutnya di tempat yang lebih ramai darinya (H.R. Bukhari, Muslim, Nasa’i, da Ibnu Majah). Dan menyebut di tempat ramai itu tidak ada kecuali dengan suara keras.
Dan tersebut dalam kitab RIMAHI HIZBIRROHIIM halaman 167 sebagaimana berikut : Dari Abdullah Bin Abbas r.a. : Bahwa berdzikir dengan suara keras ketika selesai dari shalat itu sudah ada sejak masa Rasulullah SAW.
Dan tersebut dalam kitab RIMAHIHIZBIRROHIIM Juz Awal halaman 167 : Dalam menyenangkan (membiasakan) saat berkumpul untuk berdzikir dan bersuara keras, dan menganjurkan atasnya. Dan memberitahu bahwa bersuara keras itu patut untuk dipegangnya karena keutamaannya dan menolak terhadap orang yang mengingkari berdzikir dengan berjamaah karena kebodohannya dengan kitab, hadits dan sepakatnya para ulama.
Dan tersebut dalam kitab RIMAHI HIZBIRRAHIIM, halaman 172. Dan jumhur mengambil dalil dengan hadits tersebut, atas disunnahkannya dzikir dengan suara keras pada waktru membaca dan berdo’a, kecuali dengan ucapannya orang yang syaz (sekehendak sendiri). Sebagian dari ulama salaf atas hadits ini, yakni disunnahkannya suara keras ketika bertakbir, berdzikir setelah shalat fardhu dan diantara yang menyamarkannya dari golongan muta’akhkhirin ialah Ibnu Khazmin.
Adapun firman Allah SWT yang artinya sebagai berikut : “Sebutlah Tuhan mu di hatimu dengan rendah diri dan menyamar”. Itu adalah ayat makiyyah seperti ayat Isra, yang maknanya : “Janganlah engkau mengerjakan shalat dengan terang-terangan”, ayat ini diturunkan agar tidak didengarkan oleh orang-orang musyrik, yang akhirnya mereka mencela al-Qur’an dan yang menurunkan al-Qur’an (Allah) maka diperintah dengan suara pelan untuk menghindari celaan, sebagaimana dilarang dari mencela berhala, yang buktinya sekarang tidak ada.
Soal : Apakah Dzikir dengan berjama’ah itu ada faedahnya ?
Jawab : Ya, ada, tersebut dalam kitab RIYADHUSSHOLIHIIN ; dan tertera dalam hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW beliau telah bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT mempunyai sekelompok malaikat yang ditugaskan untuk mencari lingkaran dzikir, maka apabila mereka menjumpai lingkaran dzikir, maka mereka duduk bersama orang-orang yang berdzikir, dan membuka sayap-sayap mereka, dan memenuhi majlis dzikir sampai ke langit, apabila mereka selesai berdzikir, maka para malaikat kembali ke langit, kemudian Allah bertanya kepada malaikat : Hai malaikat-malaikat ku, kalian dari mana ? Malaikat menjawab : Kami datang dari hamba-Mu di bumi, yang mereka mensucikan Tuhan, memuji, bertahlil, dan mereka memohon kepada Tuhan. Allah SWT bertanya : Apakah yang mereka pinta ? Malaikat berkata : Sorga-Mu, Allah SWT bertanya : Apakah mereka sudah mengetahui sorga-Ku ? Malaikat menjawab : belum mengetahui, Allah SWT bertanya : Bagaimanakah apabila mereka mengetahui sorga-Ku ? Jawab Malaikat : Dan mereka memohon selamat kepada-Mu, Allah SWT bertanya : Minta selamat kepada-Ku dari apa ? Malaikat menjawab : Dari Neraka-Mu, Allah SWT bertanya : Apakah mereka sudah mengetahui neraka-Ku ? Bertanyalah Malaikat : mereka mohon ampunan kepada-Mu, Allah SWT menjawab : Aku telah mengampuni mereka dan Aku akan mengabulkan permohonannya, dan Aku selamatkan mereka dari apa-apa yang mereka mohon (mohon selamat). Malaikat menjawab : Ya Tuhanku disitu ada si Fulan yang banyak dosanya, dan dia datang hanya untuk duduk bersama mereka, Allah SWT menjawab : Aku sudah mengampuninya, mereka adalah kaum yang tidak akan rugi bagi orang yang mengikutinya.
Soal  : Apakah sebabnya mengangkat kedua tangan ketika berdo’a ?
Jawab : Sebab langit itu tempat turunnya wahyu, tempat turunnya hujan, tempat suci, dan tempat malaikat, dan kelangitlah tempat diangkatnya amal ibadah dan diatas langitlah arasy dan surganya Allah SWT.

 Dalam Kitab IKHYA Juz awal alaman 275 Nabi SAW bersabda : “Apabila kamu memohon kepada Allah, mintalah dengan telapak tangan mu dan jangan dengan puggung tangan mu”. (HR.Abu Dawud dari Malik bin Yasir Al-Kufi dan Ibnu Majah da Thabrani dalam kitab KABIR, dan Imam Hakim dari Kitab Mustadroknya, dan Imam Hakim menambahkan : Dan usaplah mukamu dengan kedua telapak tangan mu.
Soal  : Apakah boleh berdo’a dengan mengangkat kedua telapak tangan sambil ditelungkupkan, sebagaimana diperbolehkannya berdo’a dengan menengadahkan telapak tangan ke langit ?
Jawab : Boleh, bahkan sunnah, tertera dalam kitab Fatkhul mubin, syarah arba’in halaman 139 bahwa Rasulullah SAW ketika beliau berdo’a kadang-kadang menjadikan kedua telapak tangan menelungkup, pendapat ahli hadits bahwa berdo’a dengan menengadahkan tangan ke langit yakni ketika beliau memohon sesuatu yang di inginkan dan berdo’a dengan menelungkupkan tangan ketika memohon dihilangkan musibah-musibah (bencana).
Soal  : Apakah yang dilakukan Imam setelah salam dari shalat ?
Jawab :           Disunnahkan menghadap kepada Makmum dan masing-masing duduk berdzikir kepada Allah SWT, setelah shalat shubuh sampai matahari terbit (IRSYADUL IBAD Halaman 20)
Soal  : Bagaimana hukumnya memakai Hadits Dho’if dalam keutamaan beramal ?
Jawab :           Boleh, dan disunnahkan memakai Hadits Dho’if dalam masalah fadha’il (keutamaan), Targhib dan Tarhib, asal bukan Hadits Maudhu’ (sangat dho’if) (ADZKAARUNNAWAWIY Halaman 7)
Soal  : Apakah makna Ali Adam dan Ali Jibril ?
Jawab :           Makna Ali terbagi atas 3 makna :
1.      makna Keluarga, yakni isteri, anak, dan keturunan
2.      makna Jiwa, seperti firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 33 :
إِنَّ  اللهَ  إِصْطَفى  ادَمَ  وَنُوْحًا وَّالَ  إِبْرَاهِيْمَ  وَالَ عِمْرَانَ  عَلَى الْعَالَمِيْنَ 
3.      makna teman (bala tentara) seperti firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 8 :

وَإِذ  ْ  نَجَّيْنَاكُمْ  مِنْ الِ  فِرْعَوْنَ  ... الخ 
Soal : Apakah duduk setelah shalat shubuh sampai matahari terbit itu ada fadhilahnya ?
Jawab            :           Ya, ada fadhilahnya, seperti diterangkan dalam kitab IRSYADUL IBAD halaman 20, Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa shalat shubuh dengan berjama’ah, kemudian duduk berdzikir sampai matahari terbit, kemudian shalat dua raka’at, maka baginya seperti pahala ibadah haji dan umroh yang sempurna (HR. TURMUDZI dan Imam TURMUDZI menghasankan haditsnya)
Soal : Apakah boleh Wanita keluar malam pergi ke masjid untuk shalat ?
Jawab            : Ya Boleh, sebagaimana Ibnu Umar berkata ; Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kamu cegah wanita untuk keluar untuk pergi ke masjid pada malam hari”

Senin, 03 Agustus 2015

DIALOG RASULULLOH SAW DENGAN YAHUDI


Beberapa Persoalan Yahudi Kepada Rasulullah S.A.W Dan Jawapannya

Bismillahi r-Rahmani r-Rahim

Beliau (al-Mufid) berkata: Abd al-Rahman bin Ibrahim telah memberitahu kami, al-Husain bin Mihran telah memberitahu kami, al-Husain bin Abdullah telah memberitahuku daripada bapanya daripada datuknya daripada Ja'far bin Muhammad a.s daripada bapanya daripada datuknya al-Husain bin Ali bin Abu Talib a.s berkata: Seorang lelaki Yahudi datang kepada nabi s.a.w dan berkata: Wahai Muhammad! Andalah yang menyangka bahawa anda seorang Rasulullah dan diwahyukan kepada anda sebagaimana diwahyukan kepada Musa bin Imran? Rasulullah s.a.w bersabda: Ya, akulah penghulu manusia (ana sayyid walad Adam ) tanpa meninggikan diri, aku adalah penutup para nabi, imam para muttaqin dan Rasul Tuhan semesta alam.

Yahudi berkata: Wahai Muhammad ! Adakah anda kepada kaum Arab atau kepada bukan Arab atau kepada kami?

Rasulullah s.a.w bersabda: Aku adalah Rasulullah kepada semua manusia.

Yahudi berkata: Sesungguhnya aku akan bertanya anda tentang sepuluh kalimah yang telah dikurniakan Allah kepada Musa di tempat yang diberkati ketika dia bermunajat dengan-Nya. Tidak mengetahuinya melainkan seorang nabi yang diutus atau malaikat muqarrab.

Maka Rasulullah s.a.w bersabda: Kemukakan soalan yang terlintas di hati anda.

Yahudi berkata: Wahai Muhammad ! Beritahukan kepadaku tentang kalimah yang telah dipilih oleh Allah untuk Ibrahim a.s ketika beliau membina rumah ini (Ka'bah)?

Rasulullah s.a.w bersabda: Subhana l-Lah wal-Hamdu li-Lah wa la ilaha illa llah wal-Lahu akbar.

Yahudi berkata: Wahai Muhammad! Kenapakah Ibrahim a.s. telah membina Ka'bah empat persegi?

Rasulullah s.a.w bersabda: Kerana kalimah adalah empat.

Yahudi berkata: Kenapakah Ka'bah dinamakan Ka'bah?

Rasulullah s.a.w bersabda: Kerana ia berada di tengah dunia.

Yahudi berkata: Beritahu aku tentang tafsir "Subhana l-Lah wa l-Hamdu li l-Lah wa la ilaha illa lla wal-Lahu akbar?

Rasulullah s.a.w bersabda: Allah telah mengetahui bahawa manusia dan jin akan berbohong terhadap Allah s.w.t, maka Dia berfirman: Subhana l-Lah" iaitu Dia bersih dari apa yang mereka katakan terhadap-Nya, adapun firman-Nya "wa l-Hamdu li-Lah" Allah telah mengetahui bahawa hamba-hamba-Nya tidak berterima kasih kepada nikmat-Nya, lantaran itu Dia telah memuji diri-Nya sebelum makhluk memuji-Nya, ia adalah ucapan pembukaan, jika tidak, Allah tidak mengurniakan nikmat-Nya ke atas makhluk-Nya, adapun firman-Nya "la ilaha illa-Lah" iaitu keesaan-Nya di mana Allah tidak akan menerima amalan melainkan dengannya, tiada seorang pun yang akan memasuki syurga melainkan dengannya, ia adalah Kalimah Taqwa, ia dinamakan kalimah Taqwa kerana ia memberatkan timbangan (al-Mizan) di hari Kiamat, adapun "Allahu akbar" adalah kalimah yang tertinggi dan paling dicintai Allah iaitu tidak ada yang lebih besar daripada-Nya kerana dengannya solat dimulai dan dihormati Allah. Ia adalah salah satu daripada nama-nama Allah yang besar.

Yahudi berkata: Benar kata-kata anda, apakah ganjaran mereka yang mengucap dengannya?

Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila seorang hamba berkata: Subhana l-Lah, semua perkara selain daripada 'Arasy bertasbih bersamanya. Maka Dia memberi sepuluh kali ganda pahala kepadanya. Apabila beliau berkata: Al-Hamdulillah", maka Allah memberi nikmat dunia kepadanya sebelum dia diberi nikmat akhirat, ia adalah kalimah yang diucapkan oleh penghuni syurga apabila mereka memasukinya. Percakapan terputus di dunia selain daripada al-Hamdu. Demikianlah firman-Nya di dalam Surah Yunus (10):10 "Salam penghormatan mereka ialah salam.. Dan penutup doa mereka adalah al-Hamdulillahi Rabbi l-Alamin. Adapun pahala La ilaha illa l-Lah adalah syurga sebagaimana firman-Nya di dalam Surah al-Rahman (55): 6 "Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). Ia adalah darjat yang paling tinggi di syurga dan yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah.

Yahudi berkata: Memang benar wahai Muhammad! Anda telah menunaikan satu soalan. Adakah anda mengizinkan aku untuk bertanya anda soalan kedua? Rasulullah s.a.w bersabda: Bertanyalah kepadaku apa yang anda mahu. Jibrail di kanan Rasulullah s.a.w dan Mikail di kirinya memberitahu.

Yahudi berkata: Kenapakah anda dinamakan Muhammad, Ahmad, Abu l-Qasim, Basyir, Nadhir dan Da'i?

Rasulullah s.a.w bersabda: Adapun Muhammad kerana aku dipuji di langit, adapun Ahmad kerana aku dipuji di bumi, adapun Abu al-Qasim kerana Allah s.w.t membahagi-bahagikan neraka untuk mereka yang mengingkari aku (kafara bi) atau membohongi aku (yukadhibbuni) daripada mereka yang terdahulu dan terkemudian. Adapun Basyir kerana aku memberi berita gembira tentang syurga kepada mereka yang mentaati aku, adapun Nadhir kerana aku memberi amaran tentang neraka kepada mereka yang menderhaka kepadaku, adapun Da'i kerana aku menyeru manusia kepada agama Tuhanku; Islam.

Yahudi berkata: Memang benar wahai Muhammad! Beritahu aku tentang yang ketiga: Kenapakah Allah menetapkan masa solat yang lima kepada lima waktu kepada umat anda pada masa malam dan siang

Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya matahari ketika gelincir (al-zawal), satu bulatan memasukinya, semuanya bertasbih kepada Tuhanku selain daripada 'Arasy, maka pada masa itulah doa dilakukan kepada Tuhanku. Lantaran itu, Allah mewajibkan ke atas aku dan umat aku solat pada waktunya. Justeru Dia berfirman dalam Surah al-Isra' (17):78 "Dirikanlah solat dari sesudah matahari gelincir". Iaitu waktu neraka Jahanam didatangi pada hari Kiamat. Justeru seseorang mukmin yang mengerjakan solat pada waktu tersebut maka Allah akan mengharamkan jasadnya daripada neraka. Solat Asar adalah waktu di mana Adam a.s telah memakan bahagian pokok dan dikeluarkannya dari syurga.

Justeru Allah telah memerintahkan zuriatnya mengerjakan solat ini sehingga hari Kiamat, Dia telah memilihnya dan mewajibkannya ke atas zuriatnya, ia merupakan solat yang paling dicintai Allah s.w.t. Oleh itu, Alah s.w.t. telah berwasiat kepadaku supaya memeliharanya, Dia berfirman dalam Surah al-Baqarah (2):238 " Peliharalah segala solatmu dan (peliharalah) solat wusta " iaitu solat Asar. Solat Isyak adalah waktu Allah s.w.t telah menerima taubat Adam a.s. Jarak masa antara dia memakan buah dari pokok dan masa diterima taubatnya adalah tiga ratus tahun hari dunia dan satu hari akhirat adalah menyamai seribu tahun menurut hitungan kamu. Oleh sebab itu Adam a.s mengerjakan solat tiga rakaat, satu rakaat kerana kesalahannya.

Satu rakaat kerana kesalahan Hawa' dan satu rakaat adalah kerana taubatnya. Allah telah menerima taubatnya dan memfardukan ke atas umat aku tiga rakaat ini, iaitu waktu yang paling mustajab untuk memohon doa. Tuhanku telah berjanji kepadaku bahawa Dia tidak akan menghampakan siapa yang memohon kepada-Nya. Dia berfirman dalam Surah al-Rum (30):17 "Maka bertasbihlah kamu kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh" Adapun solat al-'Atamah, kerana kegelapan kubur dan kegelapan hari Kiamat. Lantaran itu, Allah telah memerintahkan aku dan umat aku supaya mengerjakan solat ini, tidak ada kaki yang berjalan kepada solat al-'Atamah melainkan Allah mengharamkan neraka ke atasnya, Allah akan menyinari kuburnya pada hari Kiamat dan akan memberinya cahaya yang membolehkannya melintasi titian (al-Sirat). Ia adalah solat yang Dia telah pilih untuk para rasul sebelumku. Adapun solat Subuh kerana ketika matahari naik maka ia naik dari tanduk syaitan (qarn al-Syaitan). Allah telah memerintahkan aku supaya mengerjakan solat Subuh sebelum naik matahari sebelum mereka kafir sujud kepadanya, maka umat aku sujud kepada Allah, lebih awal dilakukannya adalah lebih dicintai Allah, ia adalah solat yang disaksikan oleh malaikat malam dan siang.

Yahudi berkata: Anda memang benar. Wahai Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang perkara ke empat; Kenapakah Allah memerintahkan empat anggota dibasuh sedangkan ia adalah tempat yang paling bersih pada anggota badan?

Rasulullah s.a.w bersabda: Ketika syaitan mendatangkan waswasnya, maka Adam a.s. menghampiri pokok tersebut, lantas melihat kepadanya dan hilang perasaan malu. Dia berdiri dan kaki pertama yang berjalan kepada kesalahan (al-Khati'ah). Dia mengambilnya, membelahnya dan memakannya. Apabila dia memakannya, maka terlerailah ikatan cahaya dari tubuhnya, kemudian Adam telah meletakkan tangan di atas kepala dan menangis.

Setelah Allah menerima taubat Adam, maka Allah memfardukan ke atasnya dan zuriatnya membasuh empat anggota tersebut. Allah memerintahkan supaya membasuh muka kerana Adam melihat kepada pokok tersebut. Allah memerintahkan supaya membasuh lengan sehingga ke siku kerana dia telah menghulurkan kedua tangannya kepada kesalahan. Allah memerintahkan supaya disapukan kepala kerana dia telah meletakkannya di atas ubun-ubunnya (ummu ra'si-hi). Allah memerintahkan supaya menyapu kaki kerana dia berjalan kepada kesalahan. Kemudian disunatkan ke atas umat aku berkumur (al-Madhmadhah) dan menghisap air ke dalam hidung (al-Istinsyaq). Berkumur membersihkan hati daripada perkara yang haram dan menghisap air ke hidung menegah bauan neraka.

Yahudi berkata: Anda memang benar wahai Muhammad, apakah balasan bagi mereka melakukan wuduk sebagaimana diperintahkan?

Rasulullah s.a.w bersabda: Pertama kali seseorang menyentuh air, maka syaitan akan menjauhinya. Apabila dia berkumur, maka Allah akan menyinari lidah dan hatinya dengan hikmat. Apabila dia menghisap air ke dalam hidung, maka Allah menyelamatkannya daripada seksa kubur dan azab neraka. Apabila dia membasuh mukanya, maka Allah menyerikan mukanya di hari muka-muka menjadi hitam. Apabila dia membasuh dua lengannya, maka Allah mengharamkan ke atasnya ledakan neraka. Apabila dia menyapukan kepalanya, maka Allah menyapukan segala kesalahannya. Apabila dia menyapukan dua kakinya, maka Allah membolehkannya melintasi titian (al-Sirat) pada hari tergelincirnya kaki-kaki.

Yahudi berkata: Anda memang benar wahai Muhammad. Beritahukan kepada aku tentang yang kelima; Kenapakah Allah memerintahkan mandi junub (al-Ightisal) setelah keluar air mani (al-Nutfah), tetapi Dia tidak memerintahkan "mandi" setelah kencing dan berak sedangkan air mani lebih bersih daripada kencing dan berak?

Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila Adam a.s. memakan (buah) pokok tersebut, maka ia berpindah kepada peluhnya, rambutnya dan kulitnya. Apabila seorang lelaki melakukan persetubuhan dengan isterinya, maka air maninya keluar juga melalui setiap peluh dan rambutnya (kharajat al-Nutfah min kulli 'arqin wa sya 'rin). Lantaran itu, Allah mewajibkan ke atas zuriat Adam sehingga hari Kiamat supaya mandi junub. Kencing dan berak hanya mengeluarkan sisa makanan dan minuman manusia, maka ia memadai dengan wuduk.

Yahudi berkata: Apakah balasan bagi mereka yang telah mandi (ightisal) daripada yang halal?

Rasulullah s.a.w bersabda: Allah membina untuknya setiap titik air ialah sebuah istana baginya di syurga iaitu perkara di antara Allah dan hamba-Nya daripada junub.

Yahudi berkata: Wahai Muhammad, beritahu aku soalan yang ke enam tentang lapan perkara yang tertulis di dalam Taurat bahawa Allah telah memerintahkan Bani Israel supaya menyembah-Nya selepas Musa?

Rasulullah s.a.w bersabda: Aku menyeru anda kepada Allah, jika aku memberitahu anda akan mengakuinya?

Yahudi berkata: Ya, wahai Muhammad.

Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya perkara pertama tertulis di Taurat ialah Muhammad Rasulullah, kemudian baginda s.a.w. membaca Surah al-A'raf(7):157 "mereka dapatinya tertulis di dalam Taurat dan Injil" dan Surah al-Saf (61): 6 "memberi khabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang sesudahku yang namanya Ahmad". Adapun tentang perkara kedua, ketiga dan ke empat, maka Ali, Fatimah; Puteri wanita syurga dan dua anak lelaki mereka berdua. Di dalam Taurat disebut sebagai Ilya, Syabra, Syubaira dan Haliyun, iaitu Fatimah,al-Hasan, al-Husain dan Ali a.s.

Yahudi berkata: Anda memang benar wahai Muhammad, beritahu aku tentang kelebihan anda ke atas para nabi dan kelebihan keluarga anda ke atas manusia

Rasulullah s.a.w bersabda: Adapun kelebihan aku di atas segala para nabi kerana aku telah memilih dakwah aku sebagai syafaat aku kepada umat aku pada hari Kiamat sementara para nabi selain daripada aku melakukan sebaliknya jika dakwah mereka diingkari. Adapun kelebihan keluarga aku; Ahlu l-Bait aku dan zuriat aku seperti kelebihan air ke atas setiap sesuatu, dengan airlah sesuatu itu hidup sebagaimana firman Allah s.w.t dalam Surah al-Anbiya' (21):30 " Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?". Justeru mencintai Ahlu l-Bait aku, keluarga aku dan zuriat aku melengkapkan agama (yastakmilu d-Din).

Yahudi berkata: Anda memang benar wahai Muhammad. Beritahu kepada aku tentang perkara yang ketujuh; apakah kelebihan lelaki ke atas wanita?

Rasulullah s.a.w bersabda: Seperti kelebihan langit ke atas bumi, seperti kelebihan air ke atas bumi. Dengan air semua dapat hidup, begitulah dengan lelaki hiduplah wanita, tanpa lelaki Allah tidak akan menciptakan wanita. Wanita tidak akan memasuki syurga melainkan dengan kelebihan lelaki. Allah s.w.t berfirman dalam surah al-Nisa' (4):34 "Kaum lelaki itu adalah pemimpin kaum wanita kerana Allah telah melebihkan sebahagian mereka (lelaki) atas sebahagian yang lain(wanita)".

Yahudi berkata: Wahai Muhammad! Kenapakah ia menjadi begitu?

Rasulullah s.a.w bersabda: Adam a.s diciptakan dari tanah, dari salbinya dan dirinya diciptakan wanita, orang yang pertama mentaati wanita adalah Adam a.s. Maka Allah telah menurunkannya dari syurga. Sesungguhnya Allah telah melebihkan kaum lelaki daripada kaum wanita di dunia, tidakkah anda terfikir bahawa wanita mengalami masa haid? Justeru mereka tidak boleh beribadat kerana kekotoran tersebut, sementara kaum lelaki tidak mengalami perkara tersebut.

Yahudi berkata: Anda memang benar wahai Muhammad, beritahu aku tentang perkara yang kelapan; kenapakah Allah telah mewajibkan puasa ke atas umat anda tiga puluh hari sedangkan Dia telah mewajibkan ke atas umat yang lain lebih banyak?

Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya Adam a.s manakala beliau memakan bahagian pokok, maka ia tinggal di dalam perutnya selama tiga puluh hari. Oleh itu Allah s.w.t. memfardukan ke atas zuriatnya tiga puluh hari lapar dan dahaga. Adapun mereka dapat makan di waktu malam adalah suatu kurniaan Allah ke atas makhluk-Nya. Demikian juga ke atas Adam a.s adalah tiga puluh hari sebagaimana ke atas umat aku. Kemudian baginda s.a.w. membaca Surah al-Baqarah (2):183 " Diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan ke atas mereka sebelum kami agar kamu bertakwa"

Yahudi berkata: Anda memang benar wahai Muhammad, apakah balasan mereka yang berpuasa selama tiga puluh hari?

Rasulullah s.a.w bersabda: Tidak seorang pun mukmin berpuasa satu hari daripada bulan Ramadhan dengan penuh muhasabah melainkan Allah mewajibkan baginya tujuh sifat. Pertama: Perkara yang haram menjadi cair (yadhubu) dari jasadnya. Kedua: Ia menghampiri dirinya kepada rahmat Allah. Ketiga: Ia dapat menghapuskan kesalahannya, tidakkah anda mengetahui bahawa kafarah di dalam puasa itu dapat menghapuskan dosa? Keempat: Ia menyenangkan kematian. Kelima: Allah menyelamatkannya daripada lapar dan dahaga di hari Kiamat. Keenam: Pelepasan dirinya daripada neraka. Ketujuh: Allah akan memberinya makanan syurga.

Yahudi berkata: Anda memang benar wahai Muhammad, beritahu aku perkara yang ke sembilan; kenapakah Allah telah memerintahkan wuquf di 'Arafat selepas Asar?

Rasulullah s.a.w bersabda: Kerana selepas Asarlah waktu Adam a.s menderhaka kepada Tuhannya. Justeru Allah memfardukan ke atas umat aku wuquf, ibadat dan doa di tempat yang paling dicintai Allah iaitu di 'Arafat. Allah s.w.t. menjamin untuk menerima doa mereka dan waktu sekembalinya dari 'Arafat itulah waktu Adam menerima kalimat (wahyu) daripada Tuhan serta menerima taubatnya. Sesungguhnya Dia Penerima taubat lagi Penyayang.

Yahudi berkata: Anda memang benar wahai Muhammad, apakah pahala bagi mereka yang melakukannya?

Rasulullah s.a.w bersabda: Dia yang telah mengutus aku dengan kebenaran sebagai pembawa berita gembira (basyiran) dan pemberi amaran (nadhiran). Sesungguhnya Allah s.w.t mempunyai tujuh pintu di langit: Pintu al-Taubat, pintu al-Rahmat, pintu al-Tafadhdhul, pintu al-Ihsan, pintu al-Jud, pintu al-Karam dan pintu al-'Afwu. Seseorang itu tidak berkumpul di 'Arafat melainkan dia layak memasuki pintu-pintu tersebut. Sesungguhnya Allah mempunyai seratus ribu malaikat. Setiap malaikat mempunyai seratus dua puluh ribu malaikat yang lain pula. Allah mempunyai seratus rahmat yang diturunkan kepada penghuni 'Arafat. Ketika mereka pulang, Allah mempersaksikan malaikat tersebut dengan memerdekakan penghuni 'Arafat dan apabila mereka pulang, maka Allah mempersaksikan malaikat bahawa Dia telah mewajibkan ke atas mereka syurga. Ada suara yang menyeru: Kembalilah kamu semua dalam keadaan diampuni, sesungguhnya kamu telah meredai-Ku dan Aku telah meredai kamu.

Yahudi berkata: Anda memang benar wahai Muhammad. Beritahu aku perkara yang ke sepuluh tentang sembilan sifat yang telah dikurniakan Allah kepada anda berbanding dengan para nabi yang lain dan kepada umat anda berbanding dengan umat-umat yang lain?

Rasulullah s.a.w bersabda: Fatihah, azan, iqamah, berjemaah di Masjid-masjid, hari Jumaat, pembacaan secara nyaring (ijhar) di dalam tiga solat, rukhsah kepada umatku ketika sakit dan musafir, solat jenazah dan syafaat kepada pelaku-pelaku dosa besar dari umatku.

Yahudi berkata: Anda memang benar wahai Muhammad, apakah pahala mereka yang membaca al-Fatihah?

Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa yang membaca al-Fatihah, maka Allah akan memberi kepadanya pahala bilangan kitab yang diturunkan dari langit termasuk pahala pembacaanya. Adapun azan, maka muazin dari umatku akan dihimpunkan bersama para nabi, para siddiqin dan para syuhada'. Adapun solat berjemaah kerana saf-saf umatku seperti saf-saf para malaikat di langit yang ke empat. Satu rakaat di dalam berjemaah ialah dua puluh empat rakaat. Setiap rakaat itu lebih dicintai Allah dari beribadat selama empat puluh tahun. Adapun hari Jumaat merupakan hari yang Allah mengumpulkan mereka yang terdahulu dan terkemudian pada hari Hisab. Tidak ada mukmin yang berjalan dengan dua kakinya untuk mengerjakan solat Jumaat melainkan Allah meringankan kesengsaraan di hari Kiamat.

Selepas imam memberi khutbah merupakan waktu Allah merahmati mukminin dan mukminat. Adapun pembacaan secara nyaring (ijhar), maka tidak ada mukmin yang memandikan jenazah melainkan api neraka menjauhinya, meluaskan Titian (al-Sirat) untuknya menurut kadar kenyaringan suaranya dan memberi cahaya kepadanya sehingga memasuki syurga. Adapun rukhsah, maka Allah akan meringankan kesengsaraan hari Kiamat ke atas umatku yang melakukan rukhsah sebagaimana Allah membenarkannya di dalam al-Qur'an. Adapun solat jenazah, maka tidak ada mukmin yang mengerjakan solat jenazah melainkan dia boleh memberi syafaat atau diberi syafaat. Adapun syafaat aku adalah untuk pelaku-pelaku dosa besar daripada umatku selain daripada syirik dan kezaliman.

Yahudi berkata: Anda memang benar wahai Muhammad, aku naik saksi bahawa tiada tuhan melainkan Allah Yang Satu, tiada sekutu bagiNya. Sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan pesuruh-Nya, sesungguhnya anda adalah penutup para nabi, imam para muttaqin dan Rasul Tuhan semesta alam.

Kemudian Yahudi itu mengeluarkan kertas putih dari tapak tangannya tertulis di atasnya semua jawapan Nabi s.a.w adalah benar, maka beliau berkata: Wahai Rasulullah! Demi Yang Mengutus anda dengan kebenaran sebagai seorang nabi bahawa aku tidak menyalinnya melainkan dari alwah (loh-loh) yang telah ditulis oleh Allah kepada Musa bin Imran. Sesungguhnya aku telah membaca di dalam Taurat seratus ribu ayat. Maka tidak ada satu ayat yang aku telah membacanya melainkan aku dapati tertulis padanya. Sesungguhnya aku telah membaca di dalam Taurat kelebihan anda sehingga aku mengesyaki nya. Wahai Muhammad! Aku telah memadamkan nama anda di dalam Taurat selama empat puluh tahun, setiap kali aku memadamkannya, aku dapati nama anda tertulis padanya. Sesungguhnya aku telah membaca di dalam Taurat masalah ini. Ia tidak boleh dijawab selain daripada anda. Pada masa anda menjawabnya Jibrail di kanan anda dan Mikail di kiri anda, Rasulullah s.a.w bersabda: Jibrail di kanan aku dan Mikail di kiri aku, selawat dan salam kepada Muhammad dan keluarganya.