Total Tayangan Halaman

Kamis, 10 Desember 2015

Membid’ahkan Maulid, Upaya Menghancurkan Pilar Islam






"Tradisi mauludan memiliki peran yang sangat signifikan dalam menjaga umat dari berbagai musibah yang mengancam. Tradisi ini bukan hanya akan membangkitkan atau menyuburkan kembali kecintaan mereka kepada nabinya, namun ia berpotensi mengantar mereka kepada pintu kejayaan dan kebahagiaan yang abadi."

Bulan Rabiul Awwal salah satu bulan Hijriah yang memiliki khas tersendiri bagi kaum muslimin di seluruh dunia. Hal ini tidak lain dikarenakan pada bulan ini telah dilahirkan nabi mereka, manusia teragung sepanjang sejarah manusia, manusia yang kelahirannya telah diberitakan puluhan abad sebelumnya dan menjadi kabar gembira yang bersumber dari lisan suci para pembawa risalah Ilahi.

Kecintaan dan kesetiaan umat Islam terhadap nabi mereka telah menjadikan mereka beratusias untuk selalu mengenang dan mengabadikan sejarah kehidupannya, mengingat perjuangan dan jasa yang telah diberikannya. Salah satu manifestasi dari tujuan ini, ialah dengan memperingati hari kelahiran manusia pilihan ini.

Dengan memperingati kelahiran nabi yang biasa disebut dengan Mauludan, kaum muslimin berupaya menjaga dan menghidupkan misi serta ajaran yang dibawa nabi mereka, sehingga ajaran ini tetap eksis di tengah masyarakat dan hidup di kalbu umat dari generasi ke generasi. Bayangkan, andaisaja umat Islam enggan mengenang sejarah nabi mereka, maka lambat laun sirah dan ajarannya akan terlupakan. Generasi yang akan datang tidak lagi akan mengenal kepribadian agung nabi terakhir, yang tentunya hal ini akan menjauhkan mereka dari hidayah yang dibawanya.

Saat kaum muslimin tidak mengenal pribadi dan sirah nabi mereka, maka berbagai musibah besar akan datang menimpa. Beragam bid’ah dan inovasi dalam agama akan bermunculan secara ekstrim tanpa ada yang mampu membendungnya, kejahilan umat akan ajaran nabi mereka menjadikan mereka kehilangan barometer yang dapat membedakan antara ajaran sebenarnya dan yang telah terdistorsi, antara ajaran asli Ilahi dan ajaran baru syaitani. Pesan-pesan suci qur’ani akan kehilangan fungsinya, karena umat tidak lagi memahami dan mengamalkannya. Pilar-pilar kekuatan umat Islam akan runtuh, sehingga bukan hanya dalam ideologi dan iman, namun dalam berbagai ranah baik politik, sosial, ekonomi, budaya, mereka akan mengalami keterpurukan. Agama Ilahi yang sempurna pun akan menjadi bahan cemoohan sebagai imbas dari kondisi memprihatinkan para pemeluknya.

Tradisi mauludan memiliki peran yang sangat signifikan dalam menjaga umat dari berbagai musibah yang mengancam. Tradisi ini bukan hanya akan membangkitkan atau menyuburkan kembali kecintaan mereka kepada nabinya, namun ia berpotensi mengantar mereka kepada pintu kejayaan dan kebahagiaan yang abadi. Bagaimana tidak, dengan memperingati hari kelahiran Nabi tercinta Saw, kita akan mengenal kepribadian agungnya dan misi suci yang diperjuangkannya, tentunya pengenalan ini akan melahirkan tekad pada diri kita untuk mengimplementasikan misi tersebut dalam diri dan masyarakat sekitar kita. Dengan mengamalkan ajaran suci Nabi Saw, umat akan mampu melewati berbagai rintangan sehingga mereka berhasil mencapai kejayaan dan kebahagian hakiki yang menjadi tujuan penciptaan manusia itu sendiri.

Memperingati kelahiran Rasulullah Saw bukan hanya selaras dengan fitrah dan naluri manusia sebagai umat yang mencintainya, namun ia juga sejalan dengan tujuan pengutusan para nabi, penurunan kitab suci dan pensyariatan hukum-hukum Ilahi. Tidak diragukan, kecintaan yang tertanam pada diri seseorang akan memotifasinya untuk mengagungkan dan mengenang pribadi yang dicintainya. Di saat yang sama, misi Ilahi dalam membawa manusia kepada hidayah dan jalan menuju cahaya-Nya, juga tersirat dalam tradisi mulia ini. Para nabi adalah penyampai risalah Ilahi kepada manusia, dengan mengenalkan masyarakat kepada pengemban misi suci ini, berati kita telah mendekatkan mereka kepada hidayah yang terkandung di dalamnya.

Dengan demikian, tradisi maulid adalah salah satu bentuk dari upaya menyampaikan misi Ilahi yang menjadi tanggung jawab para nabi. Perkara agung yang untuk merealisasikannya, Allah Swt rela mengorbankan para kekasih-Nya dilecehkan bahkan dianiaya oleh para musuh-Nya. Betapa banyak utusan Allah yang mati syahid ditangan umatnya sendiri dikarenakan mereka tidak bersedia meninggalkan misi yang diembannya itu. Semua ini menunjukkan betapa besarnya urgensitas perkara tersebut, sehingga Allah Swt pun menjanjikan imbalan yang sangat besar bagi mereka yang menjalankannya. “Dan barangsiapa menghidupkan satu jiwa, ia bagaikan menghidupkan seluruh jiwa manusia.” (QS. Al-Maa'idah [5] : 32)

Ulama dan kaum mukmin dengan mencontoh nabi mereka dan berharap ridha Ilahi, sepanjang masa selalu berupaya mengisi peran Rasul Saw sebagai perantara hidayah Ilahi kepada umat manusia. Berbagai bentuk upaya telah dikerahkan demi terealisasinya tujuan ini, yang salah satunya adalah dengan merayakan hari kelahiran nabi terakhir utusan termulia Tuhan. Oleh karenanya, tradisi maulid tidak bisa dikatagorikan sebagai bid’ah atau inovasi baru dalam agama, karena ia merupakan variasi dari upaya penyebaran risalah Ilahi yang telah diperintahkan sejak diturunkannya Adam as ke muka bumi, bahkan merupakan tujuan utama penciptaannya.

Tidak bisa dibayangkan, bagaimana jika seluruh kaum muslimin meyakini bahwa memperingati kelahiran nabi mereka adalah perbuatan bid’ah dan ritual yang meyimpang, maka cepat atau lambat berbagai musibah besar akan menimpa mereka. Mereka akan merasa asing dan terjauhkan dari simbol terbesar hidayah Ilahi, tidak lagi mengenal serta menyadari akan ajaran suci nan sempurna yang dibawa oleh Nabi Saw, dan pada akhirnya mereka akan terjerumus kepada propaganda besar musuh-musuh Islam sehingga mereka pun akan mengalami keterpurukan yang fatal.

Mengapa perayaan maulid dianggap bid’ah oleh sebagian kolompok umat Islam? Apakah mereka tidak mengetahui maksud dari bid’ah yang sebenarnya? Mungkinkah mereka tidak mencintai pribadi yang mereka anggap sebagai nabi pembawa hidayah dan kebahagiaan hakiki bagi diri mereka? Ataukah ada niat tersembunyi di balik pandangan yang sangat kontrafersial ini? Jika perayaan besar ini dianggap bid’ah hanya lantaran tidak pernah dilakukan oleh para salaf, maka akan banyak sekali tradisi umat Islam yang tergolong bid’ah. Bukan hanya tahlilan dan doa bersama, tetapi menggunakan pakaian yang kita miliki saat ini untuk melaksanakan shalat juga termaksud bid’ah. Karena kaum salaf tidak pernah menggunakan pakaian model seperti ini saat melakukan shalat. Dakwah via internet pun termaksud bid’ah, karena tidak ada satu sejarawan pun yang mengatakan bahwa ada dari salaf yang pernah berdakwah melalui internet. Seorang yang berakal dan bijak, tidak akan melakukan sesuatu yang berdapak besar sebelum ia meneliti dan mengkaji terlebih dahulu. Oleh karenanya, alangkah baiknya jika kelompok yang membid’ahkan maulid itu terlebih dahulu mempelajari pengertian dari bid’ah sebelum mereka mengutarakan dan menyakini pandangan berbahaya tersebut.

Bulan Rabuil Awwal adalah bulan yang mulia, bulan ini adalah momentum yang sangat tepat bagi kaum muslimin untuk kembali merapatkan barisan mereka. Karena pada bulan inilah telah dilahirkan pribadi mulia yang menjadi panutan seluruh umat Islam di mana pun mereka berada dan apa pun aliran serta mazhab yang dianutnya. Saat ini musuh-musuh Islam dengan segala daya dan dengan berbagai fasilitas yang mereka miliki, semangkin gencar dan agresif dalam memerangi Islam dan kaum muslimin. Di mata mereka tidak ada Sunni dan Syiah, Syafii dan hanafi, Jakfari atau Zaydi, yang ada di benak mereka, umat Islam adalah satu yang mereka anggap sebagai kaum yang tidak berguna, yang hanya layak diperbudak atau dimusnahkan.

CATATAN KAKI kitab sulaim bin qais al- hilali



1. Al-Bukhari, Sahih, viii, hlm. 378-385, (Bab fi al-Haudh), hadis no. 578, 584, 585, 586, 587 dan 590, telah meriwayatkan bahawa para sahabat Nabi Saw. telah menjadi kafir-murtad selepas kewafatannya. Hadis no. 585. ''Aku akan mendahului kalian di Haudh. Sesiapa yang melalui di hadapanku akan meminumnya dan siapa yang telah meminumnya tidak akan dahaga selama-lamanya. Kelak sebilangan orang yang aku kenali dan mereka pula mengenaliku akan dikemukakan di hadapanku. Kemudian mereka (para sahabatku) dipisahkan daripadaku. Ketika itu aku akan berkata: Mereka itu adalah daripadaku (para sahabatku). Dijawab: Sesungguhnya mereka telah melakukan bid'ah-bid'ah (ahdathu ba'da-ka) selepas anda meninggalkan mereka. Maka aku bersabda: Terjauh, terjauh (daripada rahmat) mereka yang telah mengubahkan (ghayyara) Sunnahku selepasku. Di dalam riwayat yang lain, Nabi saw bersabda: Wahai Tuhanku! Sesungguhnya mereka adalah para sahabatku (ashabi)! Dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui bid'ah-bid'ah (ahdathu) yang telah dilakukan oleh mereka selepas anda. Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir-murtad kebelakang". Hadis no.587 "Hanya sedikit daripada mereka terselamat seperti unta yang terpisah daripada pengembalanya." Lihat juga Muslim, Sahih, iv, hlm.1793-6 (Kitab al-Fadha'il), hadis no. 26, 28, 29, 31 dan 32. Hadis no. 26.''Kerana kamu tidak mengetahui apa yang telah dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka. Maka aku bersabda: Terjauhlah, terjauhlah (daripada rahmat) mereka yang telah mengubah (baddala) sunnahku selepasku".

2. Ibid.

3. Al-Hakim, al-Mustadrak, ii, hlm. 343. Al-Dhahabi, al-Talkhis, ii, 345. al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah , i, hlm. 27. al-Tabrani, al-Ausat, hlm. 216.

4. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, i, hlm. 27. al-Tabrani, al-Ausat, hlm. 216.

5. al-Qur'an: Surah al-Naml (27): 83 ''Dan pada hari kami kumpulkan daripada setiap umat satu kumpulan (faujan) di kalangan mereka yang mendustakan ayat-ayat kami, mereka akan dikumpulkan"

6. Al-Bukhari, Sahih, viii, hlm. 380. Hadis no. 581, Nabi Saw. bersabda: "Haudhku adalah perjalanan sebulan. Airnya lebih putih daripada susu. Bauannya lebih wangi daripada Misk. Cawan minumannya banyak seperti bintang di langit. Siapa yang meminumnya tidak akan dahaga selama-lamanya".

7. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi'al-Mawaddah, i, hlm.102.

8. Al-Bukhari, Sahih, viii, hlm. 379-385, hadis no.578, 584, 585, 586. Nabi Saw. bersabda: "Manakala aku sedang tidur, tiba-tiba sekumpulan (para sahabatku dibawakan kepadaku) sehingga aku mengenali mereka. Tiba-tiba seorang lelaki (Malaikat) keluar di antara aku dan mereka. Dia berkata (kepada mereka): Datang kemari, akupun bertanya kepadanya: Di mana? Dia menjawab: Ke Neraka. Demi Allah! aku bertanya lagi: Apakah kesalahan mereka? Dia menjawab: Mereka telah menjadi murtad selepas anda meninggalkan mereka" Lihat juga Muslim, Sahih, iv, hlm. 1792-6 (Kitab al-Fadha'il), Hadis no. 26, 28, 29, 30, 31 dan 32.

9. Ibid, hlm. 384 hadis no. 587.

10. Al-Bukhari, Sahih, viii, hlm. 384-385. ''Sesungguhnya mereka (para sahabat) telah menjadi murtad selepas anda (irtaddu ba'da-ka). Hanya sedikit daripada mereka yang terselamat seperti unta yang tersesat daripada pengembalanya". Ia sejajar dengan firman-Nya Surah al-Saba' (34):13 ''Dan sedikit sekali daripada hamba-hamba-Ku yang bersyukur".

11. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 153. al-Hakim, al-Mustadrak, iii, 159. al-Kanji al-Syafi'i, Kifayah al-Talib, hlm. 491.

12. Al-Haithami, Majma' al-Zawa'id, viii, hlm. 353. al-Hakim, al-Mustadrak, iii, 159.

13. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 447.

14. Al-Isfahani, Hilyah al-Auliya', i, hlm. 65.

15. Al-Hakim, al-Mustadrak, iii, hlm. 110. al-Isfahani, Hilyah al-Auliya', i, hlm. 68.

16. Muhibb al-Din al-Tabari, al-Riyadh al-Nadhirah, i, hlm. 13. al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, v, hlm. 40.

17. Al-Khatib, Tarikh Baghdad, xii, hlm. 397 .al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 408.

18. Ahli Jamal yang telah dipimpin oleh Aisyah, Talhah dan al-Zubair.

19. Ahli Siffin yang telah dipimpin oleh Mu'awiyah.

20. Ahli Nahrawan (Khawarij).

21. Al-Haithami, Majma' al-Zawa'id, ix, hlm. 111. al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 154.

22. Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, i, hlm. 9-10.

23. Bandingkan Abu al-Fida',Tarikh, hlm. 156-8.

24. al-Turmudhi al-Hanafi, al-Kaukab al-Durriyy, hlm. 143, meriwayatkan sebuah hadis: ''Ali adalah saudaraku, khalifahku dan pewaris ilmuku".

25. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 441, meriwayatkan bahawa Nabi Saw. telah menetapkan para imam dua belas. al-Bukhari, Sahih, iv, hlm.
120. Muslim, Sahih, ii, hlm. 81, meriwayatkan berkenaan dengan dua belas amir/khalifah/lelaki.

26. Al-Syarif al-Radhi, Nahj al-Balaghah, hlm.139.

27. Muslim, Sahih, i, hlm. 1454 (Bab al-Imarah).

28. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, iii, hlm. 139.

29. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, iii, hlm.139.

30. Ibid.

31. Abu al-Fida', Tarikh, i, hlm. 156. al-Tabari, Tarikh, iii, hlm.156-7.

32. Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, i, hlm. 14-15. al-Tabari, Tarikh, iii, hlm. 198.

33. Ibn Hanbal, Fadha'il al-Sahabah, ii, hlm. 617.

34. Ibn Qutaibah, Kitab al-Ma'arif, hlm. 251-2. Al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, ii, hlm. 298.

35. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 120-1.

36. Al-Syarif al-Radhi, Nahj al-Balaghah, hlm.162-3.

37. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 124-5.

38. Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, xxx, hlm. 98-99.

39. Bandingkan, al-Tabari, Tarikh, iii, hlm. 198-20. Abu al-Fida', Tarikh, hlm. 156-9.

40. Lihat misalnya Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, hlm. 10-11.

41. Abu Nu'aim al-Isfahani, Hilyah al-Auliya, i, hlm. 66. al-Kanji al-Syafi'i, Kifayah al-Talib, hlm. 72.

42. Ibn Hanbal, Musnad, iii, hlm. 84,94.

43. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 157. Abu Nu'aim al-Isfahani, Hilyah al-Auliya', i, hlm. 63. al-Kanji al-Syafi'i, Kifayah al-Talib, hlm. 332.

44. Al-Turmudhi, Sahih, iii, hlm. 306. al-Nasa'i, al-Khasa'is, hlm. 117-8.

45. Ibn Hanbal, Fadhl al-Sahabah, ii, hlm. 597. Ibn al-Maghazali, al-Manaqib, hlm. 38.

46. Al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, ii, hlm. 298 .al-Khatib, Tarikh Baghdad, viii, hlm. 290.

47. Al-Bukhari, Sahih, iii, hlm. 54. Muslim, Sahih, ii, hlm. 236-237 dan lain-lain.

48. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 108 dan lain-lain.

49. Ibn al-Maghazali, al-Manaqib, hlm.212. al-Dhahabi, Mizan al-I'tidal, ii, hlm.3-4.

50. Al-Qur'an, Surah al-Nisa' (4): 59.

51. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 441-2.

52. Bandingkan al-Syarif al-Radhi, Nahj al-Balaghah, hlm. 163.

53. Muslim, Sahih, ii, hlm. 238.

54. Ibid., i, hlm. 45-6.

55. Bandingkan al-Syarif al-Radhi, Nahj al-Balaghah, hlm. 279.

56. Ibid., hlm. 113.

57. Muslim, Sahih, ii, hlm. 238. al-Hakim, al-Mustadrak, iii, hlm. 109, 148, 532.

58. Ibn Hanbal, Musnad, iii, hlm. 17, 26, iv, hlm. 367. Muslim, Sahih, ii, hlm. 238.

59. Al-Syarif al-Radhi, Nahj al-Balaghah, hlm. 325

60. Ibid.

61. Ibid.

62. Ibid., hlm. 326-327.

63. Ibid.

64. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 441-442.

65. Ibid.

66. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 447. al-Bukhari, Sahih, iv, hlm. 120, meriwayatkan dengan perkataan dua belas amir. Muslim, Sahih, ii, hlm. 81, meriwayatkan dengan perkataan dua belas khalifah/lelaki.

67. Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, i, hlm. 24. Khalifah Umar telah membentuk majlis Syura yang aneh dan menakutkan ''Jika seorang daripada mereka menentang dan lima bersetuju, maka bunuhlah dia. Jika dua menentang dan empat bersetuju maka bunuhlah kedua-duanya. Dan jika tiga menentang dan tiga bersetuju maka pilihlah pihak yang ada Abd al-Rahman bin Auf".

68. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 439-440.

69. Ibid.

70. Boleh bercakap dengan Malaikat dengan izin Allah SWT.

71. Al-Turmudhi, Sahih, ii, hlm. 36. Ibn Hanbal, Musnad, i, hlm. 377. al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 445. Abu Daud, al-Sunan, ii, hlm. 207.

72. Muslim, Sahih, iii, hlm. 1451-1452.

73. Orang yang telah dimandikan jenazahnya oleh Malaikat.

74. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 10-11.

75. Ibid.

76. Ibn Hanbal, Fadhl al-Sahabah, ii, hlm. 617 (Hadis no.1055).

77. Al-Turmudhi, Sahih, ii, hlm. 301. al-Nasa'i, al-Khasa'is, hlm. 73. Ibn Hanbal, Musnad, iv, hlm. 369. al-Hakim, al-Mustadrak, iii, hlm. 125.

78. Sabt Ibn al-Jauzi, Tazkirah al-Khawwas, hlm. 41-42. Muhibb al-Din al-Tabari, al-Riyadh al-Nadhirah, ii, hlm. 192 dan lain-lain.

79. Al-Bukhari, Sahih, iii, hlm. 54. Muslim, Sahih, ii, hlm. 236-7. Ibn Hanbal, Musnad, i, hlm. 98, 118-9.

80. Al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf, i, hlm. 482. Ibn Hanbal, Musnad, i, hlm. 185. al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, ii, hlm. 38.

81. Ibn Hanbal, Fadha'il al-Sahabah, ii, hlm. 564. Ibn Hanbal, Musnad, v, hlm. 333.

82. al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 154. al-Dhahabi, Mizan al-I'tidal, i, hlm. 124.

83. Ibn al-Maghazali, al-Manaqib, hlm. 399. al-Turmudhi, Sahih, v, hlm. 703.

84. Muslim, Sahih, ii, hlm. 238. Ibn Hanbal, Musnad, iii, hlm. 17, 26, 59 dan jid. iv, hlm. 367.

85. Al-Tabari, Tarikh, ii, hlm. 198. al-Nasa'i, al-Khasa'is, hlm. 87-88.

86. Ibn al-Athir, al-Kamil fi al-Tarikh, iii, hlm. 24.

87. Al-Bukhari, Sahih, iii, hlm. 54. Muslim, Sahih, ii, hlm. 236-7 dan lain-lain.

88. Al-Tabari, Tarikh, ii, hlm. 63. al-Nasa'i, al-Khasa'is, hlm. 86.

89. Abu Nu'aim al-Isfahani, Hilyah al-Auliya', i, hlm. 65.

90. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 114-5.

91. Ibn Hajr, al-Isabah, ii, hlm. 509. al-Turmudhi, Sahih, ii, hlm. 461. Muhibb al-Din al-Tabari, Dhakha'ir al-'Uqba, hlm. 61.

92. Muslim, Sahih, ii, hlm. 238. Ibn Hanbal, Musnad, iii, hlm. 17, 26, 59 dan jld. iv, hlm. 367 dan lain-lain.

93. Al-Haithami, Majma al-Zawa'id, ix, hlm. 111. al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 154.

94. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 114-5.

95. Al-Suyuti, al-Itqan, ii, hlm. 82 menyatakan Aisyah telah meriwayatkan bahawa Surah al-Ahzab pada masa Nabi Saw. adalah lebih panjang iaitu sebelum
khalifah Uthman menyusun mushaf. Ibn Hanbal, Musnad, i, hlm. 394, al-Turmudhi, Sahih, v, hlm. 191 menyatakan Surah al-Dhariyat (51): 58 telah diubah dari teks asalnya ''inni Ana al-Razzaq" kepada ''Inna llaha Huwa al-Razzaq"

96. A-Bukhari, Sahih, vi, hlm. 210 menyatakan Surah al-Lail (92):3 telah ditambah perkataan ''Ma khalaqa". Oleh itu, ayat yang asal adalah ''Wa al Dhakari wa al-Untha" tanpa ''Ma khalaqa". Hadis ini telah diriwayatkan oleh Abu Darda', kemudian dicatat pula oleh Muslim, Sahih, i, hlm. 565, al-Turmudhi, Sahih, v, hlm. 191.

97. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 65-66. al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 154.

98. al-Suyuti, al-Itqan, iii, hlm. 41 telah mencatat riwayat daripada Abdullah bin Umar daripada bapanya (Umar al-Khattab), beliau berkata: "Janganlah
seseorang itu berkata aku telah mengambil keseluruhan al-Qur'an kerana apakah dia tahu keseluruhan al-Qur'an itu? Sesungguhnya sebahagian al-Qur'an telah hilang, oleh itu katakanlah bahawa aku telah mengambil al-Qur'an apa yang ada".

99. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 441-2.

100. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vii, hlm. 171. al-Dhahabi, Mizan al-I'tidal, ii, hlm. 181-2.

101. Al-Bukhari, Sahih, viii, hlm. 384.

102. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 154. Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, iv, hlm. 33.

103. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 135.

104. Sibt Ibn al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 30-31. al-Nasa'i, al-Khasa'is, hlm. 39-40.

105. Al-Tabari, Tarikh, ix, hlm. 192. Ibn Hisyam, al--Sirah al-Nabawiyyah, iv, hlm. 309.

106. Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, iv, hlm.33. al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 88.

107. Muhibb al-Din al-Tabari, al-Riyadh al-Nadhirah, ii, hlm. 190-2.

108. Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, iii, hlm. 163-4.

109. Ibid.

110. Al-Bukhari, Sahih, viii, hlm. 382 (Hadis no. 585) ''Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang telah dilakukan oleh mereka (para sahabat). (inna-ka la tadri ma ahdathu ba'd-ka) selepas anda meninggalkan mereka. Maka aku berkata: Terjauhlah, terjauhlah daripada rahmat Tuhan, mereka yang telah mengubah (Sunnahku) selepasku. Mereka telah menjadi kafir-murtad selepas anda".

111. Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa', hlm. 137.

112. Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, v, hlm. 522. al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 219. Muhibb al-Din al-Tabari, Dhakha'ir al-'Uqba, hlm. 39. al-Baihaqi,
Sunan, ii, hlm. 300.

113. Al-Haithami, Majma' al-Zawa'id,vii, hlm. 49. al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, ii, hlm. 158. al-Dhahabi, Mizan al-I'tidal, ii, hlm. 228.

114. Al-Haithami, Majma' al-Zawa'id, vii, hlm. 49. al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, ii, hlm. 158. al-Dhahabi, Mizan al-I'tidal, ii, hlm. 228.

115. Ibid.

116. Harta yang diambil daripada Musyrikin tanpa peperangan.

117. al-Tabari, Jami' al-Bayan, xxii, hlm. 5-6. al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, v, hlm. 108. Ibn Hanbal, Musnad, iii, hlm. 259.

118. A-Suyuti, al-Durr al-Manthur, v, hlm. 192. al-Syablanji, Nur al-Absar, hlm. 86.

119. Al-Fadhl bin Syadhan, al-Idhah, hlm. 155-8. Bandingkan Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, iv, hlm. 190-3.

120. Al-Fadhl bin Syadhan, al-Idhah, hlm. 155-8. Bandingkan Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, iv, hlm. 190-3.

121. Ibn Hanbal, Musnad, i, hlm. 320. al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa', hlm. 137.

122. Al-Nasa'i, al-Sunan, i, hlm.59. Ibn Majah, al-Sunan, i, hlm. 200.

123. Al-Nasa'i, al-Sunan, i, hlm. 59. Ibn Majah, al-Sunan, i, hlm. 200.

124. Al-Nasa'i, al-Sunan, i, hlm. 59. Ibn Majah, al-Sunan, i, hlm. 200.

125. Khalifah Umar telah memerintahkan supaya direjam seorang wanita gila yang berzina. Ali a.s. memperingatkannya dan berkata: "Qalam diangkat daripada orang gila sehingga dia sembuh". Kemudian Umar berkata: "Sekiranya Ali tidak ada nescaya binasalah Umar". Ibn 'Abd al-Birr, al-Isti'ab, iii, hlm. 39.

126. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 15.

127. Muhammad al-Khawarizmi, Jami' Masanid al-Imam al-A'zam, ii, hlm. 158.

128. Al-Bukhari, Sahih, viii, hlm. 382. Hadis no. 585. Muslim, Sahih, iv, hlm. 1793. Hadis no. 26 ''Kamu tidak mengetahui apa yang telah dilakukan oleh mereka (ahdathu ba'd-ka), maka aku berkata: Terjauhlah, terjauhlah (daripada rahmat Tuhan), mereka yang telah mengubah (Sunnahku) selepasku".

129. Al-Halabi, al-Sirah, ii, hlm. 110.

130. Orang bukan Arab.

131. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, iii, hlm. 116.

132. Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Niihal, i, hlm. 21. Ibn Sa'd, al-Tabaqat, ii, hlm. 249 dan lain-lain.

133. Al-Bukhari, Sahih, i, hlm. 86. Hadis no. 114.

134. Al-Haithami, Majma' al-Zawa'id, viii, hlm 269.

135. Surah al-Ahzab (33): 33.

136. Al-Bukhari, Sahih, iii, hlm. 54. Muslim, Sahih, ii, hlm. 236-7.

137. Al-Kanji al-Syafi'i, Kifayah al-Talib, hlm. 479. al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vii, hlm. 188.

138. Ibn Hanbal, Musnad, vi, hlm. 292.

139. Al-Kanji al-Syafi'i, Kifayah al-Talib, hlm. 479.

140. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 445.

141. Ibid.

142. Al-Turmudhi, Sahih, v, hlm. 656.

143. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 12-13.

144. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 117.

145. Al-Turmudhi, Sahih, ii, hlm. 185.

146. Al-Bukhari, Sahih, ii, hlm. 111. Muslim, Sahih, iv, hlm. 12-14.

147. Al-Tabari, Tarikh, ii, hlm. 62. al-Khatib, Tarikh Baghdad, xii, hlm. 169.

148. Ibid.

149. Al-Fadhl bin Syadhan, al-Idhah, hlm. 259-262. Aisyah dan Hafsah berkata kepada Uthman: "Wahai Na'thal! Rasulullah Saw. telah menyamakan anda dengan Na'thal Yahudi". Maka Khalifah Uthman menjawab dengan Firman Allah SWT dalam Surah al-Tahrim (66): 10, ''Allah telah memberi contoh bagi orang yang kafir; iaitu isteri Nuh dan isteri Lut". Lantas mereka berdua keluar dari sisinya.

150. Al-Syarif al-Radhi, Nahj al-Balaghah, hlm. 91-2.

151. Ibid.

152. Al-Bukhari, Sahih, iii, hlm. 46. al-Hakim, al-Mustadrak, iii, hlm. 37. al-Dhahabi, al-Talkhis, iii, hlm. 37.

153. Ibid.

154. Al-Syarif al-Radhi, Nahj al-Balaghah, hlm. 61-2.

155. Al-Tulaqa' adalah Abu Sufyan, Mu'awiyah dan mereka yang terlibat dalam peperangan al-Ahzab dan mereka tidak boleh menjadi khalifah. Ibn al-Athir, Usd
al-Ghabah, iii, hlm. 318.

156. Al-Turada' adalah orang yang telah diusir.

157. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 153. al-Kanji al-Syafi'i, Kifayah al-Talib, hlm. 332-3.

158. Al-Tabari, Tarikh, ii, hlm. 197-8. al-Nasa'i, al-Khasa'is, hlm. 87-8

159. Al-Bukhari, Sahih, iii, hlm. 46. al-Hakim, al-Mustadrak, iii, hlm. 37. al-Dhahabi, al-Talkhis, iii, hlm. 37.

160. Rasulullah Saw.

161. Al-Hakim, al-Mustadrak, iii, hlm. 5. Ali a.s. telah memecahkan berhala Quraisy yang paling besar.

162. Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, i, hlm. 10-11.

163. Al-Qur'an, Surah al-Nahl (16):106, "Barang siapa yang kafir (ingkar) akan Allah sesudah beriman, kecuali orang yang dipaksa sedang hatinya masih tetap beriman". For taqiyyah must be practiced in a situation where a man faces a danger which he cannot fight", Al-'Allamah al-Tabataba'i, The Shi'ite Islam, hlm. 26.

164. Al-Kanji al-Syafi'i, Kifayah al-Talib, hlm. 497.

165. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 440-2

166. Al-Turmudhi, Sahih, ii, hlm. 319. Ibn Majah, Sahih, hlm. 14. Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, v, hlm. 523.

167. Ibn Sa'd, Tabaqat, iv, hlm. 4-5. al-Hakim, al-Mustadrak, iv, hlm. 464.

168. Ibn Hanbal, Musnad, ii, hlm. 442. Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, iii, hlm. 11.

169. Al-Syarif al-Radhi, Nahj al-Balaghah, hlm. 137.

170. Tumpuan Mukminin.

171. Ibn al-Maghazali al-Syafi'i, al-Manaqib, hlm. 286.

172. Manaya ialah ilmu ramalan mengenai perkara yang akan datang. Balaya ialah ilmu tentang bala dan malapetaka.

173. Fasl al-Khitab: Ilmu kefasihan dan kepintaran bercakap.

174. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 447-9

175. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 39, 36. al-Hakim, al-Mustadrak, iv, hlm. 480.

176. Al-Syarif al-Radhi, Nahj al-Balaghah, hlm. 136-7.
 
177. Al-Turmudhi, Sahih, ii, hlm. 36. Abu Daud, al-Sunan, ii, hlm. 207.

178. Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, v, hlm. 523. Ibn Hajr al-Haithami, al-Sawa'iq al-Muhriqah, hlm. 112.

179. Al-Syarif al-Radhi, Nahj al-Balaghah, hlm. 88.

180. Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa', hlm. 137.

181. Al-Hakim, al-Mustadrak, iii, hlm. 153. Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, v, hlm. 522.

182. Ibn Hanbal, Musnad, i, hlm. 314. Muslim, Sahih, i, hlm. 574.

183. Ibn 'Abd al-Birr, al-Isti'ab, ii, hlm. 460. Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, iii, hlm. 178.

184. Ibn al-Athir, al-Kamil, ii, hlm. 35.

185. Ibn Hanbal, Musnad, i, hlm. 248. Surah al-Anfal (8):41.

186. Al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, ii, hlm. 259. Ibn Hanbal, Musnad, iv, hlm. 382.

187. Al-Turmudhi, Sahih, ii, hlm. 31. al-Hakim, al-Mustadrak, iii, hlm. 137. al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 163.

188. Ibn 'Abd al-Birr, al-Isti'ab, ii, hlm. 423. al-Isfahani, Hilyah al-Auliya', i, hlm. 190. Muhibb al-Din al-Tabari, al-Riyadh al-Nadhirah, ii, hlm. 209.

189. Al-Bukhari, Sahih, viii, hlm 379-385. Hadis no.578, 584-587.

190. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 253. al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al 'Ummal, vi, hlm. 218.

191. Mereka yang berkonspirasi untuk membunuh Nabi Saw. pada waktu malam di sebuah lorong kecil di 'Aqabah selepas Haji Wida'. Al-Aqabah adalah bukit
panjang dan mempunyai laluan yang sukar. Lihat Ibn Manzur, Lisan al-Arab, i, hlm. 621. Mereka telah cuba untuk menolak Nabi Saw. dari untanya. Mereka berkata: "Sekiranya kita menolaknya dari unta nescaya tengkuknya akan patah dan kita terselamat daripadanya" Abu Nu'aim Ahmad al-Isfahani, Dala'il al-Nubuwwah, hlm. 461. Ibn Asakir, Mukhtasar Tarikh Dimasyq, vi, hlm. 253. Ibn Kathir, al-Bidayah wa al-Nihayah, v, hlm. 24-26.

192. Ibn Asakir, Mukhtasar Tarikh Dimasyq, vi, hlm. 253. al-Hakim, al-Mustadrak, iii, 381. Ibn Hazm, al-Muhalla, ii, hlm. 225. Hudzaifah tidak melakukan solat jenazah ke atas mereka.

193. Ahmad bin Hanbal, Musnad, ii, hlm. 163. Ibn Hajr, al-Isabah, iii, hlm. 622. al-Hakim, al-Mustadrak, iii, hlm. 342.

194. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 253.

195. Ibn Hajr, al-Isabah, iii, hlm. 622.

196 . Ahmad bin Hanbal, Musnad, i, hlm. 77. al-Turmudhi, Sahih, ii, hlm. 301.

197. Ibn Hanbal, Musnad, i, hlm. 101. al-Tumudhi, Sahih, v, hlm. 641.

198. Al-Nasa'i, al-Khasa'is, hlm. 117-8. al-Hakim, al-Mustadrak, iii, hlm.151.

199. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 444-5

200. Ibid.

201. Al-Bukhari, Sahih, v, hlm. 26 (Bab Manaqib al-Hasan wa al-Husain).

202. Syaikh Muhammad bin Darvisy, Asna al-Matalib, hlm. 123 menyatakan bahawa hadis-hadis tersebut adalah palsu.

203. Al-Haithami, Majma' al-Zawa'id, vii, hlm. 247-8. al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 88-9.

204. Al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, vi, hlm. 271. al-Dhahabi, Mizan al-I'tidal, iii, hlm. 311. al-Haithami, Majma' al-Zawa'id, viii, hlm. 121.

205. Al-Tabari, Tarikh, iv, hlm. 28-9.

206. Malik, al-Muwatta', ii, hlm. 12. Ia bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Saw. yang tidak membezakan Arab dengan bukan Arab melainkan dengan takwa

207.''Tidak ada kelebihan orang Arab dengan orang bukan Arab melainkan dengan takwa", al-Haithami, Majma' al-Zawa'id, iii, hlm. 266.

208. Ibid.

209. Al-Dhahabi, Mizan al-I'tidal, ii, hlm. 17. Rasulullah Saw. bersabda: "Apabila kalian melihat Mu'awiyah di atas mimbarku maka bunuhlah dia".

210. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al 'Ummal, iii, hlm. 116.

211. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 448.

212. Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa', hlm. 137.

213. Ibn Majah, al-Sunan, i, hlm. 200. al-Nasa'i, al-Sunan, i, hlm. 59.

214. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 448.

215. Ibn Hanbal, Musnad, i, hlm. 84, 95, 128. al-Khatib, Tarikh Baghdad, ii, hlm. 255. Ibn Hajr, Mizan al-I'tidal, i, hlm. 162.

216. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 445-7.

217. Al-Tulaqa' adalah orang yang tidak boleh menjadi khalifah (Mu'awiyah dan bapanya) kerana mereka telah menjadi pemimpin dalam peperangan al-Ahzab.

218.Lihat,Ibn 'Abd al-Birr, al-Isti'ab, iii, hlm. 318.

219. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 154. Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, iv, hlm. 33.

220. Al-Bukhari, Sahih, iii, hlm. 54 (kitab al-Maghazi). Muslim, Sahih, ii, hlm. 236. Ibn Hanbal, Musnad, i, hlm. 98, 118-9. al-Hakim, al-Mustadrak, iii, hlm. 109 dan lain-lain.

221. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 445-6. Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siasah, i, hlm. 15-6.

222. Khalifah Uthman telah memukul Abu Dhar kemudian mengusirnya ke Rabzah. Tindakkan itu disebabkan Abu Dhar telah mengkritiknya kerana mengguna harta Baitul-Mal untuk keluarganya. Al-Ya'qubi, Tarikh, ii, hlm. 162. Ibn 'Abd al-Birr, al-Isti'ab, i, hlm. 114. Abu Dhar berkata: "Sesungguhynya anda telah melakukan perkara yang tidak ada di dalam Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya. Demi Tuhan! Aku melihat kebenaran dipadamkan, kebatilan dihidupkan, kebenaran dibohongi, cintakan kebendaan tanpa ketakwaan". Lihat al-Ya'qubi, Tarikh, ii, hlm. 161.

223. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 445-6

224. Ibid.

225. Khalifah Uthman tidak menjalankan hukum qisas ke atas Ubaidillah bin Umar al-Khattab kerana membunuh Hurmuzan dan Jupainah. Sebaliknya dia telah membawanya ke Kufah dan membenarkannya menetap di sana. Kaum Muslimin telah menentang sunnahnya itu kerana ia bertentangan dengan al-Qur'an dan Sunnah Nabawiyyah yang menuntut qisas dijalankan. Ibn Hajr, al-Isabah, i, hlm. 619. Ibn Sa 'd, Tabaqat, v, hlm. 8-10.

226. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 445.

227. Ibid., hlm. 121.

228. Ibid., hlm. 114-5

229. Ibid., hlm. 251.

230. Ibn 'Abd al-Birr, al-Isti'ab, ii, hlm. 463. al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al- 'Ummal, vi, hlm. 392. Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, ii, hlm. 448. Muhibb al-Din al-Tabari, Dhakha'ir al-'Uqba, hlm. 78.

231. Al-Tabari, Tafsir, xxii, hlm. 5. al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, v, hlm. 198.

232. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 119.

233. Al-Bukhari, Sahih, iii, hlm. 54. Muslim, Sahih, ii, hlm. 236-7. Ibn Hanbal, Musnad, i, hlm. 98, 118-9.

234. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 441.

235. Muslim, Sahih, ii, hlm. 238.

236. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 441.

237. Al-Bukhari, Sahih, viii, hlm. 379-386. Hadis. no. 578, 584-587, 590.

238. Al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, vi, hlm. 271. Al-Tabari, Tafsir, xxx, hlm. 167.

239. Al-Hakim, al-Mustadrak, iv, hlm. 479. al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 39.

240. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 117.

241. Al-Bukhari, Sahih, iii, hlm. 54. Muslim, Sahih, ii, hlm. 236-7.

242. Imam Ja'far al-Sadiq berkata: Nasibi bukanlah orang yang menentang kami Ahl al-Bait kerana kalian tidak mendapati seseorang yang berkata: Aku memarahi Muhammad dan keluarga Muhammad, tetapi Nasibi adalah orang yang menentang kalian dan mereka mengetahui bahawa kalian setia kepada kami dan kalian membersihkan diri daripada musuh kami serta kalian adalah daripada Syi'ah kami", al-Majlisi, Bihar al-Anwar, xxvii, hlm.232 (hadis no. 42).

243. Al-Haithami, Majma' al-Zawa'id, ix, hlm. 111.

244. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 121.

245. Al-Hakim, al-Mustadrak, iv, hlm. 479. al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf, ii (surah Ibrahim), hlm. 127.

246 . Al-Hakim,al-Mustadrak, iv, hlm. 479. al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 39.

247. Al-Tabari, Tarikh, ii, hlm. 125 (peristiwa tahun 63H). Ibn 'Abd Rabbih, 'Aqd al-Farid, ii, hlm. 96.

248. Al-Kanji al-Syafi'i, Kifayah al-Talib, hlm. 495. Abu Daud, al-Sunan, ii, hlm. 208.

249. Al-Ya'qubi, Tarikh, ii, hlm. 127. Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siasah, i, hlm. 18-19.

250. Al-Tabari, Tarikh, ii, hlm. 216.

251. Ibid., hlm. 216-7. Ibn al-'Imad, Syadharat al-Dhahab, ii, hlm. 327. al-Nasa'i, al-Khasa'is, hlm. 86.

252. Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, i, hlm. 10-12

253. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 102-3.

254. Al-Bukhari, Sahih, iii, hlm. 54. Muslim, Sahih, ii, hlm. 236-7.

255. Bani Umayyah telah mencaci Ali dan Ahl Baitnya di atas mimbar masjid selama 70 tahun, bermula daripada Mu'awiyah dan berterusan sehingga pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Cacian dihentikan selama dua tahun lebih, kemudian diteruskan semula oleh para khalifah selepasnya. Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa', hlm. 243. Mu'awiyah telah memerintahkan Sa'd bin Abi Waqas supaya melaknati Ali a.s. tetapi Sa'd enggan melakukannya dan berkata: "Aku tidak akan melaknatinya selama-lamanya" Sahih Muslim bi-Syarh al-Nawawi, xv, hlm. 175.

256. Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa', hlm. 243.

257. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 440.

258. Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa', hlm. 243-4.

259. Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, iii, hlm. 595-6.

260. Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, iii, hlm. 595-6.

261. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 439-40.

262. Ibid.

263. Ibid.

264. Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, ii, hlm. 164. Ibn Hanbal, Musnad, v, hlm. 347.

265. Ibn Hanbal, Fadha'il al-Sahabah, ii, hlm. 617 (hadis no. 1055).

266. Al-Bukhari, Sahih, iii, hlm. 54. Muslim, Sahih, ii, hlm. 236-7.

267. Fakhr al-Din al-Razi, Mafatih al-Ghaib, iii, hlm. 20. al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf, i, hlm. 482.

268. Muhibb al-Din al-Tabari, al-Riyadh al-Nadhirah, ii, hlm. 202.

269. Al-Turmudhi, Sahih, ii, hlm. 421. Ibn Hajr, al-Isabah, ii, hlm. 509.

270. Ibn Hanbal, Fadha'il al-Sahabah, ii, hlm. 617.

271. Al-Bukhari, Sahih, v, hlm. 141 (Bab 'Umrah al-Qadha').

272. Al-Turmudhi, Sahih, iii, hlm. 306. al-Hakim, al-Mustadrak, iii, hlm. 151.

273. Muslim, Sahih, ii, hlm. 238. Ibn Hanbal, Musnad, iii, hlm. 17, 26, 59 dan jld. iv, hlm. 367.

274. Al-Tabari, Tarikh, ii, hlm. 197. al-Nasa'i, Sahih, hlm. 87-8.

275. Ibid.

276. Al-Bukhari, Sahih, i, hlm. 86. Hadis. no. 114. Khalifah Umar telah menghalang Nabi Saw. daripada menulis wasiatnya dengan mengatakan bahawa Nabi Saw. sedang sakit tenat/meracau. Al-Qur'an adalah cukup untuk kita (hasbi-na kitabu llahi). Sementara Sunnah Nabi Saw. tidak perlu. Rasulullah Saw. bersabda: "Kalian bawakan kepadaku kertas (kitaban) di mana kalian tidak akan sesat selama-lamanya". Lantas Umar berkata: "Nabi sedang sakit tenat". (Dalam riwayat yang lain: "Nabi Saw. sedang meracau. Di sisi kita ada Kitab Allah dan ia adalah mencukupi bagi kita)". Akhirnya Nabi Saw. bersabda: "Kalian pergilah dariku kerana tidak layak bagi kalian bertengkar di hadapanku"

277. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 154. al-Haithami, Majma' al-Zawa'id, ix, hlm. 111.

278. Ibid.

279. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 154.

280. Abu Nu'aim al-Isfahani, Hilyah al-Auliya', i, hlm. 67. Ibn Hajr, Tahdhib al-Tahdhib, vii, hlm. 337.

281. Al-Sya'rani, al-Yawaqit wa al-Jawahir, hlm. 14 menyatakan bahawa Ali a.s. berkata: "Sekiranya aku meriwayatkan kepada kalian apa yang aku dengar
dari mulut Abu al-Qasim (Rasulullah Saw.) nescaya kalian akan keluar dari sisiku dan berkata: Sesungguhnya Ali adalah pembohong besar". Ini bererti bahawa orang ramai tidak dapat menerimanya meskipun ia adalah sabda Rasulullah Saw. sendiri.

282. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 253. al-Turmidhi al-Hanafi, al-Kaukab al-Durriyy, hlm. 133.

283. Lihat umpamanya Muhibb al-Din al-Tabari, Dhakha'ir al-'Uqba, hlm. 74. al-Kanji al-Syafi'i, Kifayah al-Talib, hlm. 277.

284. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 88. al-Haithami, Majma' al-Zawa'id, vii, hlm. 248, menyatakan bahawa Rasulullah Saw. bersabda: "Mu'awiyah
dan 'Umru tidak akan berhimpun melainkan untuk melakukan pengkhianatan".

285. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 247. al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 159.

286. Al-Hakim, Al-Mustadrak, iv, hlm. 487. al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 40, menyatakan bahawa Rasulullah Saw. bersabda: "Sesungguhnya Ahl Baitku akan menghadapi pembunuhan dan pengusiran daripada umatku selepasku. Manakala kaum yang paling memusuhi kami adalah Bani Umayyah dan Bani Makhzum".

287. Ibn Hanbal, Fadha'il al-Sahabah, ii, hlm. 617 (hadis no. 1055).

288. Al-Bukhari, Sahih, iii, hlm. 54. Muslim, Sahih, ii, hlm. 236-7.

289. Ibn Hanbal, Fadha'il al-Sahabah, ii, hlm. 214 (hadis no.1051) "Sesungguhnya Abu Bakr dan Umar telah meminang Fatimah a.s. Maka Rasulillah Saw. bersabda: Beliau masih kecil. Kemudian Ali a.s. meminangnya lalu Rasulullah Saw. menerima dan menikahkannya dengan Ali a.s."

290. Ibn 'Abd al-Birr, al-Isti'ab, ii, hlm. 402.

291. Ibid.

292. Semoga Muslim yang mati dalam keadaan meracau akan diampuni Allah, insya' Allah kerana ''Qalam diangkat daripada tiga orang" Lagipun rahmat Allah adalah luas.

293. Apabila khalifah Umar berkata bahawa Nabi Saw. sedang meracau, tidak ramai yang membantahnya dan mengaibkannya malah mereka mempertahankan pendapat Umar daripada Nabi Saw. Muslim, Sahih, iii, hlm. 69. Kemudian dia mengatakan bahawa Khalifah Abu Bakr pula meracau dan orang yang meracau diampuni oleh Allah.

294. Boleh bercakap dengan Malaikat dengan izin Allah.

295. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 117-8.

296. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 398. Abu Nu'im al-Isfahani, Hilyah al-Auliya', i, hlm. 66.

297. Seratus sepuluh perawi yang terdiri daripada para sahabat telah meriwayatkan hadis al-Ghadir dan dicatat oleh para ulama Ahl al-Sunnah dalam buku-buku mereka. Kemudian diikuti oleh lapan puluh empat perawi daripada kalangan Tabi'in serta tiga ratus enam puluh perawi daripada kalangan para ulama Ahl al-Sunnah telah meriwayatkan hadis al-Ghadir dalam buku-buku mereka. Justeru itu, ia telah sampai ke tahap mutawatir menurut penilaian Ahli Hadis. Lihat al-Amini, al-Ghadir, i, hlm. 14-158.

298. Ibn Hanbal, Musnad, iv, hlm. 370 dan lain-lain.

299. Muhibb al-Din al-Tabari, Dhakha'ir al-'Uqba, hlm. 64. Ibn Hajr al-Makki, al-Sawa'iq al-Muhriqah, hlm. 108.

300. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi'al-Mawaddah, hlm. 251-2.

301. Al-Bukhari, Sahih, v, hlm. 29 (Bab Manaqib Fatimah).

302. Al-Hakim, al-Mustadrak, ii, hlm. 343. al-Tabrani, al-Ausat, hlm. 216.

303. Al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, vi, hlm. 379.

304. Ibid.

305. Rasulullah Saw. telah memerintahkan Ali a.s. memerangi al-Qasitin iaitu Mu'awiyah dan para sahabatnya dalam peperangan Siffin.al-Khatib, Tarikh
Baghdad, xiii, hlm. 186.

306. Al-Hakim, al-Mustadrak, iv, hlm. 479. al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, vi, hlm. 39.

307. Ibn Hanbal, Musnad, iv, hlm. 370. Ibn Qutaibah, Kitab al-Ma'arif, hlm. 250-2 dan lain-lain.

308. Al-Baladhuri, Ansab al-Asyraf, i, hlm. 576.

309. Al-Hakim, al-Mustadrak, iii, hlm. 60.

310. Ibid.

311. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 40. al-Hakim, al-Mustadrak, iv, hlm. 487.

312. Al-Bukhari, Sahih, viii, hlm. 379-386. Hadis no. 578, 584, 587, 590. "Sesungguhnya mereka (para sahabat) telah menjadi kafir-murtad selepas anda. Aku tidak fikir mereka terselamat melainkan segelintir seperti unta yang tersesat daripada pengembalanya" (Hadis no. 587). Lihat juga al-Bukhari, Sahih, v, hlm. 343 (hadis no.488) di mana Ibn al-Musayyab berkata: "Aku telah berjumpa al-Barra' bin 'Azib r.a, maka aku berkata: Alangkah beruntungnya anda! Anda telah bersahabat dengan Nabi Saw. dan anda telah membai'ahnya di bawah pokok. Maka beliau menjawab: Wahai anak saudaraku! Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang telah kami lakukan (Ahdathna-hu) selepasnya".

313. Al-Haithami, Majma'al-Zawa'id, ix, hlm.173. Ibn Hajr, al-Sawa'iq al-Muhriqah, hlm. 96.

314. Ibn Hanbal, Musnad, iii, hlm. 84, 89.

315. Al-Bukhari, Sahih, viii, hlm. 382-3. Hadis no. 586.

316. Al-Tahawi, Musykil al-Athar, ii, hlm. 309. Ibn Hanbal, Musnad, vi, hlm. 178.

317. Muslim, Sahih, ii, hlm. 236-7. Ibn Hanbal, Musnad, i, hlm. 98, 118-9.

318. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 115.

319. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 117.

320. Muslim,Sahih,ii,hlm.238.Ibn Hanbal,Musnad,iii,hlm.17,26,29.

321. Muhibb al-Din al-Tabari, Dhakha'ir al-'Uqba, hlm. 81. al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, i, hlm. 288 menyatakan bahawa Khalifah Umar telah mengakui kekurangan ilmunya terutamanya jika dibandingkan dengan Ali a.s. Di antara kata-katanya:(a) Sekiranya Ali tidak ada nescaya binasalah Umar.(b) Aku memohon perlindungan dengan Allah daripada sebarang permasalahan di mana Abu l-Hasan tidak ada. (c) Setiap orang lebih mengetahui daripada Umar sehingga anak-anak dara sunti di rumah-rumah.

322. Al-Syarif al-Radhi, Nahj al-Balaghah, hlm. 303-4.

323. Ibid.hlm. 303-5.

324. Ibid.

325. Al-Syarif al-Radhi, Nahj al-Balaghah, hlm. 305-6.

326. Ibid.

327. Ibid.

328. Ibid.

329. Ibn al-Maghazali, al-Manaqib, hlm. 242.

330. Al-Tabari, Tarikh, ii, hlm. 197. al-Nasa'i, al-Khasa'is, hlm. 87-8.

331. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 129-30.

332. Ibid., hlm. 486-7.

333. Ibid.

334. Ibid.

335. Haji Sayyid Hasyim Musawi Haddad, Ruh Mujarrad, hlm. 390 menyatakan bahawa Ali a.s. berkata: "Sekiranya Abu Dhar mengetahui apa yang ada di hati Salman nescaya beliau membunuhnya. Sedangkan Rasulullah Saw. telah mempersaudarakan antara mereka berdua. Apakah sangkaan kalian kepada orang ramai?" Ini bererti bahawa Salman mengetahui lebih banyak keajaiban hadis Rasulullah Saw. berbanding Abu Dhar. Manakala orang ramai kurang mengetahuinya. Dan sekiranya mereka mengetahuinya, mereka tidak akan mempercayainya pula.

336. Ibn al-Maghazali, al-Manaqib, hlm. 70 di mana Rasulullah Saw. bersabda: "Sekiranya anda tidak ada nescaya Mukminun tidak dikenali selepasku".

337. Rasulullah Saw. bersabda: "Ali adalah sebaik-baik manusia. Sesiapa yang enggan maka dia menjadi kafir" Ibn Hajr, Tahdhib al-Tahdhib, ix, hlm. 419. al-Khatib, Tarikh Baghdad, vii, hlm. 421. al-Muhibb al-Din al-Tabari, Dhaka'ir al-'Uqba, hlm. 220.

338. Rasulullah Saw. bersabda: "Sesiapa yang tidak berkata bahawa Ali adalah sebaik-baik manusia maka dia menjadi kafir". al-Khatib, Tarikh Baghdad, iii, hlm. 192. Ibn Hajr, Tahdhib al-Tahdhib, ix, hlm. 419.

339. Haji Sayyid Hasyim Musawi al-Haddad, Ruh Mujarrad, hlm. 391 menyatakan bahawa Ali Zain al-Abidin a.s. berkata: "Aku menyembunyikan jauhar keilmuanku supaya si jahil tidak melihat kebenarannya lantas dia memfitnahkan kami". Ini bererti bahawa kebenaran hendaklah diberikan kepada ahlinya sahaja bagi mengelakkan fitnah. Lihat juga Ibn Hajr, al-Isabah, vii, hlm. 167 bahawa Rasulullah Saw. bersabda: Beliau (Ali a.s.) adalah pintuku…"

340. Bandingkan al-Hakim, al-Mustadrak, iii, hlm. 129.

341. Ibn Hisham, al-Sirah al-Nabawiyyah, iv, hlm. 309. al-Tabari, Tarikh, ix, hlm. 102.

342. Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, i, hlm. 14-17. al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, iii, hlm. 139-40.

343. Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, i, hlm. 14-17 .al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, iii, hlm. 139-40.

344. Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, ii, hlm. 325. Ibn 'Abd al-Birr, al-Isti'ab, iii, hlm. 975.

345. Al-Tabari, Tarikh, iii, hlm. 198. Abu al-Fida', Tarikh, i, hlm. 156. Al-Hakim, al-Mustadrak, iii, hlm. 153.

346. Ibid.

347. Ibn 'Abd. al-Birr, al-Isti'ab, iii, hlm. 975.

348. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, iii, hlm. 139. Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, i, hlm. 18-20.

349. Bandingkan Al-Syablanji al-Syafi'i, Nur al-Absar, hlm. 69.

350. Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, iii, hlm. 318.

351. Khalid bin al-Walid adalah seorang yang ganas. Lantaran itu, Rasulullah Saw. telah membersihkan diri daripada perbuatannya. Lihat Ibn Hajr, al-Isabah, iii, hlm. 336-7. al-Tahawi, Musykil al-Athar, iv, hlm. 254. Ibn Hajr, Fath al-Bari, ix, hlm. 119.

352. Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, i, hlm. 14-7 (Bagaimana Ali dibai'ah). Al-Baladhuri, Ansab al-Asyraf, i, hlm. 585. al-Tabari, Tarikh, i, hlm. 18-20. al-Ya'qubi, Tarikh, ii, hlm. 126-7.

353. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, ii, hlm. 158. al-Haithami, Majma' al-Zawa'id, vii, hlm. 49.

354. Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, i, hlm. 14. al-Bukhari, Sahih, vi, hlm. 177-8.

355. Bukhari, Sahih, vi, hlm. 177. Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, i, hlm. 14-5. Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, v, hlm. 523-4.

356. Fatimah a.s. adalah salah seorang Wanita al-'Alamin dan bukan wanita biasa. Lihat Ibn al-Maghazali, al-Manaqib, hlm. 363.

357. Al-Bukhari, Sahih, vi, hlm. 177 menyatakan bahawa Fatimah a.s. telah hidup selepas kewafatan Nabi Saw. selama enam bulan.

358. Al-Haithami, Majma' al-Zawa'id, ix, hlm. 111. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-'Ummal, vi, hlm. 154.

359. Al-Bukhari, Sahih, vi, hlm. 177. Ibn 'Abd al-Birr, al-Isti'ab, ii, hlm. 751.

360. Muhibb al-Din al-Tabari, al-Riyadh al-Nadhirah, ii, hlm. 190.

361. Khalid bin al-Walid telah membunuh Malik bin Nuwairah seorang muslim, kemudian menyetubuhi isterinya yang cantik pada malam itu juga. Ali a.s. dan para sahabatnya mahu Khalid direjam kerana perbuatan zinanya tetapi Khalifah Abu Bakr tidak mahu mengenakan had ke atasnya. Lihat Ibn Hajr, al-Isabah, iii, hlm. 336. al-Tabari, Tarikh, ii, hlm. 502. Justeru itu, tidak hairanlah jika Khalid telah menerima perintah daripada Abu Bakr dan umar untuk membunuh Ali a.s.kerana penolakannya untuk memberi bai'ah kepada Abu Bakr.

362. Al-Fadhl bin Syadhan, al-Idhah, hlm. 155-9. Bandingkan Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, iv, hlm. 190-1.

363. Ibid.

364. Al-Fadhl bin Syadhan, al-Idhah, hlm. 155-9. Bandingkan Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, iv, hlm. 190-1.

365. Ibn al-Maghazali, al-Manaqib, hlm. 243 menyatakan bahawa Rasulullah Saw. bersabda: "Tanda Sahifah Mukmin adalah mencintai Ali bin Abi Talib".

366. Ulama tidak sepakat tentang tarikh kewafatannya. Ada yang berpendapat bahawa Fatimah a.s. wafat empat puluh hari selepas kewafatan Rasulullah Saw.
dan pendapat lain mengatakan tujuh puluh lima hari. Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, i, hlm. 14. Sementara al-Bukhari berpendapat bahawa Fatimah a.s. wafat enam bulan selepas kewafatan ayahandanya. al-Bukhari, Sahih, v, hlm. 139 (Bab Ghazwah Khaibar).

Serangan Umar ke atas rumah Fatimah a.s. dan pukulan terhadapnya dengan cemeti



Lantas dia memanggil Khalid bin al-Walid dan Qunfudh. Dia memerintahkan mereka berdua supaya membawa kayu (api) dan api. Kemudian dia pergi ke pintu rumah Ali dan Fatimah a.s. Fatimah a.s. pada masa itu sedang duduk di sebalik pintu. Kepala beliau naik darah dan tubuhnya kurus selepas kewafatan Rasulullah Saw. Umar pun datang lalu memukul pintu. Kemudian dia memanggil: Wahai Ibn Abu Talib! Bukakan pintu. Maka Fatimah berkata: Wahai Umar! Kami tidak ada kaitan dengan anda, lantaran itu jangan campur tangan dalam urusan kami. Umar berkata: Bukakan pintu. Jika tidak, kami akan membakarnya ke atas kalian. Beliau berkata: Wahai Umar! Bertakwalah kepada Tuhan, anda memasuki rumahku dan menyerang rumahku. Umar enggan berundur. Kemudian Umar menyeru dengan api, lalu dia menyalakannya di pintu rumah Fatimah a.s. dan membakar pintu kemudian menolaknya. Lantas dia berdepan dengan Fatimah a.s. Beliau melaung: Wahai bapakku! Wahai Rasulullah!. Umar mengangkat pedangnya yang masih tersarung lalu diacukan ke rusuknya. Maka beliau a.s. melaung. Lantas Umar mengangkat cemetinya, lalu memukul lengan beliau a.s.


Ali a.s. memegang leher Umar dan terlintas di hati untuk membunuhnya.

Fatimah a.s. terus menangis dan melaung: Wahai bapaku! Ali a.s. melompat dan memegang Umar. Kemudian beliau menolak, memulas, memegang hidung dan lehernya dengan kuat. Terlintas di hatinya untuk membunuhnya, lantas beliau teringat sabda Rasulullah dan wasiatnya supaya sentiasa bersabar dan taat. Maka beliau a.s. berkata: "Demi Yang telah memuliakan Muhammad dengan kenabian! Wahai Ibn Sahhak! Sekiranya tidak ada kitab daripada Allah yang terdahulu, nescaya anda mengetahui bahawa anda tidak akan memasuki rumahku". Umar pun mengutus (seseorang) meminta pertolongan. Lalu orang ramai datang beramai-ramai sehingga memasuki rumah.


Khalid bin al-Walid menghunus pedang untuk memukul Fatimah a.s. dan reaksi Ali a.s.

Khalid bin al-Walid menghunus pedangnya untuk memukul Fatimah a.s. Dia mengangkat pedangnya di atasnya. Dia juga bersumpah untuk menentang Ali a.s. Kemudian Al-Miqdad, Salman, Abu Dhar, Ammar dan Buraidah al-Aslami datang, kemudian mereka memasuki rumah sebagai pembantu-pembantu Ali a.s. sehingga hampir berlaku fitnah. Maka Ali a.s. dikeluarkan dari rumahnya. Kemudian orang ramai mengikutinya.

Salman, Abu Dhar, al-Miqdad, Ammar dan Buraidah mengikuti Ali a.s. dan berkata: Alangkah cepatnya kalian mengkhianati Rasulullah (Saw.) dan kalian telah mengeluarkan dendam kesumat di dada kalian. Buraidah al-Aslami berkata: Wahai Umar! Anda telah menentang saudara Rasulullah, wasinya dan anak perempuannya, maka anda memukulnya. Anda memang dikenali oleh Quraisy dengan perangai anda. Lantas Khalid bin al-Walid mengangkat pedangnya yang masih tersarung untuk memukul Buraidah. Maka Umar menghalangnya daripada melakukannya.


Ali a.s. dikeluarkan dari rumah dalam keadaan leher terikat supaya membai'ah Abu Bakr

Maka mereka membawa Ali a.s. kepada Abu Bakr dalam keadaan lehernya terikat. Manakala Abu Bakr melihatnya, dia melaung: Kalian berilah jalan kepadanya. Ali a.s. berkata: Alangkah cepatnya kalian menerkam ke atas Ahl Bait Nabi kalian. Wahai Abu Bakr! Hak yang mana, warisan yang mana dan keutamaan yang mana anda menggesa orang ramai supaya membai'ah anda. Tidakkah anda telah membai'ahku kelmarin dengan perintah Rasulullah?

Umar berkata: Tinggalkan perkara ini daripada anda wahai Ali! Demi Tuhan! Jika anda tidak memberi bai'ah, kami akan membunuh anda. Ali a.s. berkata: Jikalaulah begitu, demi Tuhan! Aku adalah seorang hamba Allah dan saudara Rasulullah yang dibunuh? Umar berkata: Adapun hamba Allah yang terbunuh, maka ia adalah benar. Adapun saudara Rasulullah, maka jawapannya tidak.

Ali a.s. berkata: Sekiranya tidak ada Qadha' daripada Allah yang terdahulu dan janji yang telah dijanjikan oleh khalilku, nescaya aku tidak menerimanya dan anda mengetahui siapakah daripada kita yang mempunyai pembantu yang lemah dan sedikit. Abu Bakr diam, tidak bercakap.


Kata-kata Salman, Abu Dhar, al-Miqdad, 'Ammar dan Buraidah di majlis Abu Bakr

Maka Buraidah berdiri dan berkata: Tidakkah kalian berdua telah disabdakan oleh Rasulullah: Pergilah kepada Ali dan berilah salam kepadanya kerana menjadi pemimpin Mukminin. Dan kalian berdua berkata: Adakah ia daripada perintah Allah dan Rasul-Nya? Umar berkata: Ya. Maka Abu Bakr berkata: Memang benar. Tetapi anda ketika itu tidak ada dan kami telah menyaksikan perkara ini selepas itu. Umar berkata: Apakah kaitan anda dengan perkara ini, wahai Buraidah! Dan apakah yang membuat anda masuk campur dalam perkara ini? Buraidah berkata: Demi Tuhan! Aku tidak akan tinggal di dalam negeri di mana kalian menjadi pemerintah. Maka Umar memerintahkan supaya beliau dipukul dan dikeluarkan. Kemudian Salman berdiri dan berkata: Wahai Abu Bakr! Bertakwalah anda kepada Tuhan dan berdirilah daripada majlis ini serta tinggalkan kepada ahlinya supaya mereka menjalankan urusannya dengan senang hati sehingga Hari Kiamat. Dua pedang tidak akan bertentangan pada umat ini. Tetapi Abu Bakr tidak menjawabnya. Lantaran itu, Salman mengulanginya dengan perkataan yang sama. Lantas Umar memarahinya dan berkata: Apakah kaitan anda dengan perkara ini dan apakah yang membuat anda masuk campur di dalam perkara ini? Beliau berkata:Nanti dahulu wahai Umar! Berdirilah wahai Abu Bakr daripada majlis ini dan tinggalkan kepada ahlinya, nescaya mereka akan menjalankan urusannya dengan berwibawa sehingga Hari Kiamat. Jika kalian enggan, kalian akan memerah darah manakala Tulaqa' (orang yang diusir) dan Munafiqun akan berlumba-lumba untuknya.

Demi Tuhan! Sekiranya aku mengetahui bahawa aku dapat menolak kezaliman atau memuliakan agama Allah, nescaya aku meletakkan pedangku di atas bahuku, kemudian aku memukul dengannya secara langsung. Adakah kalian melompat ke atas wasi Rasulullah (Saw.)? Justeru itu, bergembiralah dengan bala dan berputus asalah daripada kesenangan. Kemudian Abu Dhar, al-Miqdad dan 'Ammar berdiri dan berkata kepada Ali: Apakah perintah anda? Demi Tuhan! Sekiranya anda memerintahkan kami, nescaya kami memukulnya dengan pedang sehingga kami membunuh.

Ali (a.s.) berkata: Tahanlah diri kalian rahima-kumu-Llahu. Ingatlah janji Rasulullah (Saw.) dan wasiatnya kepada kalian. Justeru itu, tahanlah diri kalian. Umar berkata kepada Abu Bakr yang sedang duduk di atas mimbar. Apakah yang membuat anda duduk di atas mimbar. Ini (Ali) duduk sebagai orang yang menentang, tidak berdiri untuk memberi bai'ah kepada anda atau anda perintahkannya supaya memberi bai'ah. Jika tidak, penggallah kepalanya.

Al-Hasan dan al-Husain a.s. sedang berdiri di hadapan Ali a.s. Apabila mereka berdua mendengar kata-kata Umar, merekapun terus menangis lalu mengangkat suara mereka: Wahai Datuk! Wahai Rasulullah! Maka Ali memeluk mereka dan berkata: Janganlah kalian menangis. Demi Tuhan! Mereka berdua tidak berkuasa untuk membunuh bapa kalian kerana mereka lebih hina untuk melakukan sedemikian.


Kata-kata Umm Aiman (penyusu Nabi) kepada Abu Bakr

Umm Aiman al-Nubiyyah (penyusu Nabi) dan Umm Salamah datang dan berkata: Wahai 'Atiq! Alangkah cepatnya kalian melahirkan hasad kalian terhadap keluarga Muhammad. Maka Umar memerintahkan supaya mereka berdua dikeluarkan dari Masjid. Dia berkata: Apakah kaitan kami dengan perempuan ini?


Bai'ah Ali a.s. kepada Abu Bakr adalah secara terpaksa

Kemudian dia berkata: Wahai Ali! Berdirilah dan berilah bai'ah. Ali a.s. berkata: Jika aku tidak melakukannya? Dia berkata: Jika begitu, kami akan penggal kepala anda. Ali a.s. berkata: Anda telah berbohong. Demi Tuhan! Wahai Ibn Sahhak! Anda tidak berkuasa melakukannya. Lalu Khalid bin al-Walid melompat dan mencabut pedangnya lalu berkata: Demi Tuhan! Sekiranya anda tidak melakukannya, nescaya aku akan membunuh anda.

Lantas Ali a.s. menghampiri dan memegang kainnya. Kemudian beliau menolaknya. Lalu pedangnya terjatuh dari tangannya. Umar berkata: Berdirilah wahai Ali dan berilah bai'ah. Beliau berkata: Sekiranya aku tidak memberi bai'ah? Beliau berkata: Jika begitu, demi Tuhan! Kami akan membunuh anda. Ali a.s. telah berhujah ke atas mereka sebanyak tiga kali. Kemudian beliau menghulurkan tangan tanpa membuka tapak tangannya. Lantas Abu Bakr memukul ke atasnya dan meridhainya. Kemudian dia pulang ke rumahnya lalu diikuti oleh orang ramai.


Ucapan Fatimah a.s. di majlis Abu Bakr selepas Fadak dirampas

Sulaim berkata: Telah sampai berita kepada Fatimah a.s. bahawa Abu Bakr telah merampas Fadak, lalu beliau a.s. keluar berjumpa wanita-wanita Bani Hasyim sehingga kemudian berjumpa Abu Bakr. Fatimah a.s. berkata: Wahai Abu Bakr! Anda mahu mengambil daripadaku tanah yang telah dijadikan untukku oleh Rasulullah dan beliau memberikan kepadaku di mana ia tidak diperolehi melalui peperangan dan kepenatan. Tidakkah Rasulullah (Saw.) bersabda: Seseorang itu dijaga pada anaknya. Dan anda mengetahui bahawa beliau tidak meninggalkan kepada anaknya sesuatupun selain daripadanya?


Umar menegah Abu Bakr daripada menulis tentang Fadak untuk Fatimah

Manakala Abu Bakr mendengar kata-katanya dan perempuan yang bersama-samanya, dia menyeru supaya dibawa kepadanya kertas untuk menulis kepada Fatimah. Maka Umar datang dan berkata: Wahai Khalifah Rasulillah! Janganlah anda menulis untuknya sehinggalah dia mengemukakan keterangan di atas apa yang didakwanya.


Fatimah a.s. mengemukakan dua saksi tetapi ditolak oleh Umar

Fatimah a.s. berkata: Ya. Aku akan mengemukakan keterangan. Dia berkata: Siapa? Beliau berkata: Ali dan Umm Aiman. Lantas Umar berkata: Penyaksian perempuan asing yang tidak fasih tidak diterima. Adapun Ali, dia akan menyokong isterinya. Lalu Fatimah a.s. pulang dengan penuh kemarahan yang tidak terkira. Beliaupun jatuh sakit. Ali a.s. mengerjakan solat lima waktu di Masjid.

Manakala beliau selesai solat, Abu Bakr dan Umar berkata kepadanya: Bagaimanakah dengan anak perempuan Rasulullah sehingga dia jatuh sakit? Mereka berdua berkata: Adalah di antara kami dan dia sebagaimana anda ketahui. Sekiranya anda fikir bahawa anda akan membenarkan kami, maka kami akan meminta maaf kepadanya daripada dosa kami. Beliau berkata: Itu terserah kepada kalian berdua. Maka kedua-dua mereka, kemudian duduk di pintu. Ali a.s. masuk berjumpa Fatimah a.s. dan berkata kepadanya: Wahai al-Hurrah (perempuan yang merdeka)! Fulan dan fulan di pintu. Mereka berdua ingin memberi salam kepada anda. Apakah pendapat anda? Fatimah a.s. berkata: Rumah adalah rumah anda dan al-Hurrah adalah isteri anda. Lakukanlah apa yang anda mahu. Beliau berkata: Perkukuhkanlah pendirian anda. Maka Fatimah pun memperkukuhkan pendiriannya dan memalingkan mukanya ke dinding.


Abu Bakr dan Umar memohon kemaafan dan pengakuan akan kesalahan mereka

Mereka berdua pun masuk dan memberi salam kepadanya seraya berkata: Maafkan kami, nescaya Tuhan memaafkan anda. Lalu beliau a.s. berkata: Apakah yang membawa anda kemari? Mereka berdua berkata: Kami mengakui kekasaran (isa'ah) kami. Kami berharap anda memaafkan kami dan mengeluarkan kemarahan anda. Beliau berkata: Sekiranya kalian berdua benar, beritahukan kepadaku apa yang telah aku tanyakan kepada kalian kerana aku tidak bertanyakan kalian sesuatu perkara melainkan aku mengetahui bahawa kalian mengetahuinya. Sekiranya kalian membenarkannya, nescaya aku mengetahui bahawa kalian adalah benar tentang kedatangan kalian. Mereka berdua berkata: Tanyalah apa yang anda mahu. Beliau berkata: Aku menyeru kalian dengan nama Allah, adakah kalian berdua mendengar Rasulullah (Saw.) bersabda: Fatimah adalah sebahagian daripadaku. Sesiapa yang menyakitinya, maka dia menyakitiku. Mereka berkata: Ya. Lantas beliau mengangkat tangannya ke langit dan berkata: Wahai Tuhanku! Sesungguhnya mereka berdua telah menyakitiku, maka aku mengadu kedua-duanya kepada Engkau, kepada Rasul Engkau. Tidak.


Fatimah a.s. tidak meridhai Umar dan Abu Bakr

Aku tidak meridhai kalian berdua selama-lamanya sehingga aku berjumpa bapaku Rasulullah. Dan aku akan memberitahunya apa yang telah kalian berdua lakukan. Dia akan menjadi hakim. Ibn Abbas berkata: Ketika itu Abu Bakr menyeru Neraka Wail dan kecelakaan. Dia berasa amat sedih. Lalu Umar berkata: Anda bersedih wahai Khalifah Rasulullah kerana kata-kata seorang perempuan? Ibn Abbas berkata: Fatimah a.s. hidup empat puluh hari selepas kewafatan bapanya.


Wasiat Fatimah kepada Ali a.s. ketika hampir wafat

Manakala keadaannya bertambah serius, beliau memanggil Ali (a.s.) dan berkata: Wahai anak bapa saudaraku! Aku fikir aku tidak akan hidup lama lagi. Aku berwasiat kepada anda supaya mengawini anak perempuan saudaraku, Zainab. Anak-anakku menganggapnya sepertiku. Biarkanlah aku berehat sejenak kerana aku telah melihat malaikat menceritakan kematianku. Janganlah seorangpun daripada musuh-musuh Allah menyaksikan jenazahku, pengkafananku dan solat ke atasku.

Ibn Abbas- iaitu kata-kata Amir al-Mukminin a.s.- berkata: Banyak perkara yang aku tidak dapat meninggalkannya kerana al-Qur'an yang dengannya diturunkan ke atas hati Muhammad (Saw.). Memerangi al-Nakithin, al-Qasitin dan al-Mariqin yang beliau telah berwasiat kepadaku. Khalilku Rasulullah telah berjanji kepadaku supaya aku memerangi mereka. Dan Fatimah berwasiat kepadaku supaya aku mengahwini Umamah Binti Zainab.


Kewafatan Fatimah a.s. dan kegemparan Madinah dengan tangisan

Ibn Abbas berkata: Apabila Fatimah wafat, Madinah menjadi gempar dengan tangisan daripada lelaki dan perempuan. Orang ramai terharu sebagaimana pada hari wafatnya Rasulullah (Saw.). Abu Bakr dan Umar datang memberi takziah kepada Ali (a.s.) dan berkata: Wahai Abu al-Hasan! Janganlah anda mendahului kami mengerjakan solat ke atas anak perempuan Rasulullah.

Apabila tiba waktu malam, Ali (a.s.) memamggil al-Abbas, al Fadhl, al-Miqdad, Salman, Abu Dhar dan Ammar. Maka beliau telah mendahulukan al-Abbas, lalu beliau mengerjakan solat ke atasnya. Kemudian mereka mengebumikannya.

Pada keesokan pagi, Abu Bakr dan Umar datang, dan orang ramai mahu mengerjakan solat ke atas Fatimah (a.s.). Maka al-Miqdad berkata: Kami telah mengebumikan Fatimah semalam. Lalu Umar berpaling kepada Abu Bakr dan berkata: Tidakkah aku telah memberitahu anda bahawa mereka akan melakukannya? Al-Abbas berkata: Beliau telah berwasiat supaya kalian berdua tidak mengerjakan solat ke atasnya.

Lantas Umar berkata: Kalian masih tidak meninggalkan wahai Bani Hasyim, hasad kalian yang lama selama-lamanya. Sesungguhnya segala hasad di dada kalian tidak akan hilang. Demi Tuhan! Aku berasa mahu menggalinya semula sehingga aku mengerjakan solat ke atasnya. Ali (a.s.) berkata: Demi Tuhan! Sekiranya anda melakukannya wahai Ibn Sahhak! Nescaya aku akan mengembalikan sumpah anda. Sekiranya aku menghunuskan pedangku, aku tidak akan menyarungkannya kembali tanpa membunuh anda.

Akhirnya Umar diam kerana dia mengetahui bahawa apabila Ali bersumpah, beliau membenarkannya. Kemudian Ali (a.s.) berkata: Wahai Umar! Tidakkah Rasulullah ingin membunuh anda, lalu beliau mengutusku. Lantas aku mengangkat pedangku, kemudian aku menuju kepada anda untuk membunuh anda. Maka Allah telah menurunkan firman-Nya di dalam Surah Maryam (19): 84, "Janganlah engkau menyegerakan siksaan untuk mereka. Sesungguhnya Kami hanya menghitung (hari) mereka dengan bilangan". Ibn Abbas berkata: Kemudian mereka melakukan konspirasi dan berkata: Urusan kita tidak akan kukuh selama lelaki ini masih hidup.


Keinginan Abu Bakr untuk membunuh Ali, perintahnya kepada Khalid dan penyesalannya

Abu Bakr berkata: Siapakah yang akan membunuhnya untuk kita? Umar berkata: Khalid bin al-Walid . Maka mereka berdua mengutus kepadanya. Mereka berdua berkata: Wahai Khalid! Apakah pendapat anda pada perkara yang kami akan pertanggung jawabkan ke atas anda? Dia berkata: Pertanggung jawabkanlah aku di atas apa yang kalian berdua kehendaki. Demi Tuhan! Sekiranya kalian berdua mempertanggung jawabkan aku untuk membunuh Ibn Abi Talib, nescaya aku akan melakukannya. Mereka berdua berkata: Itu sahajalah yang kami mahu. Dia berkata: Aku akan melakukannya.

Abu Bakr berkata: Apabila kami berdiri untuk mengerjakan solat Subuh, maka berdirilah di sisinya dan pedang bersama anda. Apabila aku memberi salam, maka penggallah kepalanya. Dia berkata: Ya. Mereka berazam untuk melakukannya. Kemudian Abu Bakr mulai berfikir tentang perintahnya untuk membunuh Ali (a.s.). Dia mengetahui sekiranya dia melakukannya, maka akan berlaku peperangan yang besar dan bala yang berpanjangan. Maka diapun menyesal di atas perintahnya sehingga dia tidak dapat tidur pada malam itu.

Abu Bakr datang ke Masjid pada pagi itu. Solat didirikan, dia telah mengerjakan solat dengan orang ramai dan tidak mengetahui apa yang dikatakannya. Khalid datang membawa pedangnya sehingga dia berdiri di sisi Ali. Tetapi Ali (a.s.) dapat mengagak sesuatu yang akan berlaku. Apabila Abu Bakr selesai daripada tasyahhudnya, dia melaung sebelum memberi salam: Wahai Khalid! Jangan anda lakukan apa yang aku telah perintahkan anda untuk melakukannya. Sekiranya anda melakukannya, nescaya aku akan membunuh anda. Kemudian dia memberi salam ke kanan dan ke kirinya.

Lantas Ali (a.s.) melompat dan memegang leher Khalid serta mencabut pedang di tangannya. Kemudian beliau bergumpal dengannya dan duduk di atas dada Khalid. Lalu beliau mengambil pedangnya untuk membunuhnya. Ahli Masjid berkumpul di sekelilingnya untuk membebaskan Khalid, tetapi mereka tidak mampu menguasainya. Maka Abbas berkata: Kalian membuat sumpah kepadanya dengan hak kubur supaya beliau berhenti. Lantas beliau meninggalkannya, berdiri dan terus pulang ke rumahnya.

Kemudian al-Zubair, al-Abbas, Abu Dhar, al-Miqdad dan Bani Hasyim datang. Mereka mengangkat pedang dan berkata: Demi Tuhan! Mereka tidak akan berhenti sehingga beliau bercakap dan melakukannya. Orang ramai bertengkar dan keadaan menjadi riuh-rendah. Sementara wanita-wanita Bani Hasyim telah keluar dan bertempik, seraya berkata: Alangkah cepatnya kalian melahirkan permusuhan dengan Rasulullah dan Ahl Baitnya. Sudah lama kalian mahu perkara ini daripada Rasulullah tetapi kalian tidak dapat menguasainya.

Kalian telah membunuh anak perempuannya kelmarin, kemudian kalian mahu hari ini membunuh saudaranya, sepupunya, wasinya dan bapa anak-anaknya. Kalian telah berbohong demi Tuhan Ka'bah! Kalian tidak akan dapat membunuhnya sehingga orang ramai khuatir akan berlaku fitnah yang besar.

Penjelasan Nabi Saw. tentang keutamaan Ali a.s.



Ali bin Abu Talib a.s. berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah! Nasabkan aku, siapakah aku? Supaya orang ramai mengetahui kekerabatanku dengan anda. Maka beliau bersabda: Wahai Ali! Aku dan anda telah diciptakan daripada dua tiang daripada satu cahaya yang tergantung di bawah 'Arasy dan mengtaqdiskan Malaikat sebelum Dia menciptakan makhluk selama dua ribu tahun. Kemudian Dia telah menciptakan dua nutfah putih daripada dua tiang yang bertaut di antara keduanya.

Kemudian Dia memindahkan kedua-dua nutfah tersebut pada sulbi-sulbi yang mulia kepada rahim-rahim yang cerdik lagi bersih sehingga Dia menjadikan separuhnya pada sulbi Abdullah, dan separuhnya pada sulbi Abu Talib. Maka sebahagiannya adalah aku, dan sebahagian adalah anda sebagaimana firman Allah "Dialah yang telah menciptakan manusia daripada air dan Dia telah menjadikannya keturunan dan ipar, dan adalah Tuhan kamu Maha Berkuasa". Wahai Ali! Anda adalah daripada aku dan aku adalah daripada anda. Daging anda adalah dagingku. Darah anda adalah darahku. Anda adalah sebab antara Allah dan makhluk-Nya selepasku. Sesiapa yang mengingkari wilayah anda, sesungguhnya dia telah memutuskan sebab antaranya dan Allah. Dan dia berada di peringkat yang terkebawah.

Wahai Ali! Allah tidak akan dikenali melainkan denganku, kemudian dengan anda. Sesiapa yang mengingkari wilayah anda, sesungguhnya dia telah mengingkari Allah akan rububiyyah-Nya. Wahai Ali! Anda adalah bendera Allah yang akbar selepasku di Bumi. Anda adalah tiang yang akbar pada Hari Kiamat. Sesiapa yang berteduh di bawah kumpulan anda, maka dia berjaya. Kerana hisab makhluk adalah kepada anda. Tempat rujuk mereka adalah kepada anda.

Timbangan adalah timbangan anda. Sirat adalah Sirat anda. Tempat berhenti adalah tempat berhenti anda. Hisab adalah hisab anda. Sesiapa yang cenderung kepada anda, maka dia berjaya. Sesiapa yang menyalahi anda, maka dia binasa. Wahai Tuhanku! Persaksikanlah. Wahai Tuhanku! Persaksikanlah. Kemudian beliau pun turun.


Kata-kata Quraisy: "Umpama Muhammad sepertilah pokok kurma yang tumbuh di dalam sampah"

Abban daripada Sulaim berkata: Apabila Quraisy telah berada di majlisnya, dia melihat seorang lelaki daripada Ahl al-Bait, lantas dia memotong percakapannya semasa duduk. Tiba-tiba seorang lelaki di kalangan mereka berkata: Umpama Muhammad pada Ahl al-Baitnya sepertilah pokok kurma yang tumbuh di dalam sampah. Kata-kata sedemikian telah sampai kepada Rasulullah (Saw.), lantas beliau menjadi marah. Kemudian beliau keluar, menaiki mimbar dan mendudukinya sehingga orang ramai berkumpul. Beliau berdiri memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya.

Kemudian bersabda: Wahai manusia! Siapakah aku? Mereka berkata: Anda adalah Rasulullah (Saw.) Beliau bersabda: Aku adalah Rasulullah (Saw.) dan aku adalah Muhammad bin Abdullah bin Abd al-Muttalib bin Hasyim. Kemudian beliau terus menyebut nasabnya sehingga berakhir kepada Nizar. Kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya aku dan Ahl Baitku adalah cahaya yang berjalan di hadapan Allah sebelum Allah menciptakan Adam dua ribu tahun. Apabila Cahaya tersebut bertasbih, para Malaikat turut sama bertasbih kerana tasbihnya. Apabila Dia menciptakan Adam, Dia meletakkan cahaya tersebut di sulbinya. Kemudian Dia menurunkannya ke Bumi pada sulbi Adam.

Kemudian Dia telah membawanya pada bahtera Nuh pada sulbi Nuh. Kemudian Dia mencampakkannya pada sulbi Ibrahim. Kemudian Dia sentiasa memindahkan kami pada sulbi-sulbi yang mulia sehingga Dia mengeluarkan kami daripada galian yang terbaik antara bapa-bapa dan ibu-ibu yang tidak pernah berzina.

Sesungguhnya kami Bani Abd al-Muttalib adalah penghulu Ahli syurga. Aku, Ali, Ja'far, Hamzah, al-Hasan, al-Husain, Fatimah dan al-Mahdi. Sesungguhnya Allah telah merenung kepada ahli Bumi satu renungan, maka Dia memilih daripada mereka dua lelaki. Salah seorang daripadanya adalah aku, lalu Dia mengutusku sebagai Rasul dan Nabi. Dan yang satu lagi adalah Ali bin Abu Talib.

Dia telah mewahyukan kepadaku supaya mengambilnya sebagai saudara, khalil, wazir, wasi dan khalifah. Sesungguhnya beliau adalah wali kepada setiap Mukmin selepasku. Sesiapa yang menjadikannya wali, maka Allah memuliakannya. Seiapa yang memusuhinya, maka dia telah memusuhi Allah. Tidak mencintainya melainkan Mukmin dan tidak membencikannya melainkan orang kafir. Beliaulah Dhar al-Ardh selepasku dan penghuninya. Beliaulah Kalimatu Llah al-Taqwa dan 'Urwah-Nya al-Wuthqa.

Mereka mahu memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka. Dan Allah menyempurnakan cahayanya sekalipun dibenci oleh orang kafir. Sesungguhnya Allah merenung pada kali kedua, maka Dia memilih selepas kami dua belas wasi dan Ahl Baitku. Maka Dia menjadikan mereka sebaik-baik umatku seorang demi seorang seperti bintang-bintang di langit. Setiap kali satu bintang hilang, muncul pula bintang yang lain. Mereka adalah para imam yang mendapat petunjuk. Tipu-daya tidak akan memudaratkan mereka. Tidak ada penghinaan yang boleh menghina mereka. Mereka adalah hujah-hujah Allah di Bumi-Nya, saksi-saksi-Nya ke atas makhluk-Nya.

Penyimpan-penyimpan ilmu-Nya. Penterjemah-penterjemah wahyu-Nya dan galian-galian hikmat-Nya. Sesiapa yang mentaati mereka, maka dia mentaati Allah. Sesiapa yang menderhakai mereka, maka dia menderhakai Allah. Mereka bersama al-Qur'an dan al-Qur'an bersama mereka. Mereka tidak akan berpisah dengannya sehingga mereka dikembalikan ke atasku di al-Haudh. Hendaklah orang yang hadir memberitahu akan orang tidak hadir. Wahai Tuhanku! Persaksikanlah. Wahai Tuhanku! Persaksikanlah. Wahai Tuhanku! Persaksikanlah.


Pemberitahuan Abu Dhar tentang keajaiban Hadis Nabi Saw. mengenai Ali

Abban bin Abi 'Iyasy daripada Sulaim bin Qais berkata: Aku telah berkata kepada Abu Dhar: Beritahukan kepadaku rahima-ka-Llahu tentang keajaiban hadis yang anda dengar daripada Rasulullah (Saw.) mengenai Ali bin Abu Talib? Beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah (Saw.) bersabda: Sesungguhnya di sekeliling 'Arasy ada sembilan puluh Malaikat yang tidak bertasbih dan tidak pula beribadah melainkan ketaatan kepada Ali bin Abu Talib, membersihkan diri ke atas musuh-musuhnya dan beristighfar kepada Syi'ahnya.

Aku berkata: Adakah hadis yang lain daripada ini rahima-ka-Llahu? Beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah (Saw.) bersabda: Allah sentiasa berhujah dengan Ali pada setiap umat yang diutuskan-Nya Nabi dan mempersaksikan mereka bahawa mengenali Ali adalah sebesar-besar darjat di sisi Allah. Aku berkata: Adakah hadis selain daripada ini rahima-ka-Llahu? Beliau berkata: Ya. Aku mendengar Rasulullah (Saw.) bersabda: Sekiranya aku dan Ali tidak ada, nescaya Allah tidak dikenali. Sekiranya aku dan Ali tidak ada, nescaya Allah tidak disembah. Sekiranya aku dan Ali tidak ada, nescaya tidak ada pahala dan siksa. Tidak ada penutup yang menutupi Ali daripada Allah dan tidak ada hijab yang menutupinya daripada Allah. Beliaulah penutup (sitrun) dan hijab di antara Allah dan makhluk-Nya.


Pemberitahuan al-Miqdad tentang keajaiban Hadis Nabi Saw. mengenai Ali

Sulaim berkata: Kemudian aku telah bertanyakan al-Miqdad, maka aku berkata: Beritahukan aku rahima-ka-Llahu keutamaan hadis yang anda dengar daripada Rasulullah (Saw.) tentang Ali bin Abu Talib? Beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah (Saw.) bersabda: Sesungguhnya Allah telah menyatukan kekuasaan-Nya lalu memperkenalkan cahaya-cahaya-Nya akan diri-Nya. Kemudian Dia memfardukan kepada mereka suruhan-Nya dan mengharuskan mereka Syurga-Nya. Sesiapa yang mahu membersihkan hatinya daripada Jin dan manusia, hendaklah dia mengenali wilayah Ali bin Abu Talib. Sesiapa yang mahu memadamkan hatinya, hendaklah dia menahan dirinya daripada mengenali (ma'rifah) Ali bin Abu Talib.

Demi Yang diriku di tangan-Nya! Bahawa Adam tidak boleh mewajibkan Allah untuk menciptakannya, menghembuskan padanya daripada roh-Nya, menerima taubatnya dan mengembalikannya ke Syurga-Nya melainkan dengan kenabianku dan wilayah Ali selepasku. Demi Yang diriku di tangan-Nya! Bahawa Dia tidak memperlihatkan Ibrahim keajaiban alam malakut dan tidak mengambilnya sebagai khalil melainkan dengan kenabianku dan pengakuan kepada Ali selepasku. Demi Yang diriku di tangan-Nya! Bahawa Allah tidak bercakap dengan Musa sebarang percakapan, begitu juga 'Isa tidak mendirikan bukti (ayatan) bagi segala Alam melainkan dengan kenabianku dan mengenali Ali selepasku. Demi Yang diriku di tangan-Nya! Bahawa seseorang itu tidak menjadi Nabi melainkan dia mengetahui dan mengakui wilayah kami. Dan tidak berhak makhluk Allah "melihat" kepada-Nya melainkan dengan beribadat kepada-Nya, dan mengakui (Ali) selepasku. Kemudian beliau diam.

Maka aku berkata: Adakah hadis selain daripada ini rahima-ka-Llahu? Dia berkata: Ya. Aku mendengar Rasulullah (Saw.) bersabda: Ali adalah orang yang paling kuat beragama pada umat ini, saksi ke atas-Nya, pengendali hisab-Nya. Beliaulah tuan kepada kedudukan yang tinggi, jalan kebenaran, jalan Allah yang lurus, beliau adalah penunjuk selepasku dari kesesatan. Dengan beliaulah seorang itu dapat melihat kebenaran. Dengan beliaulah berjayanya orang yang berjaya. Dengan beliaulah seorang itu dapat mengelakkan dirinya dari kematian yang sia-sia dan aman daripada ketakutan. Dengan beliaulah kejahatan dipadamkan, kesedihan dihilangkan dan rahmat diturunkan.

Beliau adalah mata Allah yang melihat, telinga-Nya yang mendengar, lidah-Nya yang bercakap pada makhluk-Nya. Dialah tangan Allah yang terbentang ke atas hamba-Nya dengan rahmat, muka-Nya di Langit dan di Bumi, rusuk kanan-Nya yang zahir (janbu-hu al-Zahir al-Yamin), tali-Nya yang kuat lagi utuh. Ikatan-Nya yang kuat tanpa perpisahan. Pintu-Nya yang dikunjungi, rumah-Nya di mana sesiapa yang memasukinya adalah terselamat dan bendera-Nya di atas Sirat. Sesiapa yang mengenalinya, akan berjaya ke Syurga. Dan sesiapa yang mengingkarinya, akan masuk ke Neraka.


Kata-kata Salman al-Farisi bahawa Ali a.s. adalah pintu yang dibukakan Allah

Abban daripada Sulaim bin Qais berkata: Aku mendengar Salman al-Farisi berkata: Sesungguhnya Ali (a.s.), adalah pintu yang telah dibukakan oleh Allah. Sesiapa yang memasukinya adalah Mukmin dan sesiapa yang keluar daripadanya adalah kafir.


Pemberitahuan Abdullah bin Abbas tentang apa yang berlaku selepas kewafatan Nabi Saw.

Abban daripada Sulaim bin Qais berkata: Aku berada di sisi Abdullah bin Abbas di rumahnya. Bersama kami adalah sekumpulan Syi'ah Ali a.s. Kami bercakap-cakap sehingga beliau berkata: Wahai saudara-saudaraku! Rasulullah (Saw.) telah wafat dan sejak hari kewafatannya (hingga kini), beliau masih belum diletakkan ke lubang lahadnya sehingga orang ramai bercakap perkara yang lucu. Mereka menjadi murtad dan bersetuju di atas perkara yang bertentangan (khilaf).

Ali bin Abu Talib sibuk dengan urusan jenazah Rasulullah Saw. sehingga beliau selesai daripada memandi, mengkafan dan mengtahnitkannya. Lantas beliau meletakkan Rasulullah Saw. di lubang lahadnya. Kemudian beliau menumpukan sepenuh masa mengumpul al-Qur'an, tanpa memusatkan kepada wasiat Rasulullah (Saw.) kerana tujuannya bukanlah untuk kekuasaan (al-Mulk) dan Rasulullah (Saw.) telah memberitahunya tentang kaum yang akan belot.


Kejadian yang berlaku ke atas Ali a.s. dan Fatimah a.s. serta para mereka selepas membai'ah Abu Bakr

Manakala orang ramai telah menerima fitnah daripada dua lelaki itu Abu Bakr dan Umar), maka tidak tinggal melainkan Ali, Bani Hasyim, Abu Dhar, al-Miqdad dan Salman dalam bilangan yang sedikit. Umar berkata kepada Abu Bakr: Apa ini? Sesungguhnya orang ramai telah memberi bai'ah kepada anda selain lelaki ini, Ahl Baitnya dan beberapa orang lain. Lantaran itu, utuslah kepadanya.

Maka Abu Bakr pun mengutuskan sepupu Umar bernama Qunfudh dan berkata: Pergilah kepada Ali dan katakan kepadanya: Sahutilah seruan Khalifah Rasulullah (Saw.). Maka diapun pergi dan menyampaikannya. Lalu Ali (a.s.) berkata: Alangkah cepatnya kalian berbohong terhadap Rasulullah (Saw.), dan kalian telah menjadi murtad. Demi Tuhan! beliau tidak melantik selain daripadaku. Justeru itu, pulanglah wahai Qunfudh! Kerana anda adalah pesuruhnya. Ali berkata kepada anda: Demi Tuhan! Rasulullah (Saw.) tidak pernah melantik anda. Sesungguhnya anda memang mengetahui siapakah Khalifah Rasulullah (Saw.). Qunfudh pun pulang kepada Abu Bakr dan menyampaikan risalah kepadanya.

Maka Abu Bakr berkata : Ali memang benar bahawa Rasulullah (Saw.) tidak pernah melantikku. Maka Umar menjadi marah Dia melompat dan berdiri sambil berkata: Duduklah. Kemudian dia berkata kepada Qunfudh: Pergilah kepadanya dan katakan kepadanya: Sahutilah seruan Amir al-Mukminin Abu Bakr. Maka Qunfudh pun pergi sehingga dia berjumpa Ali (a.s.), lalu menyampaikan risalah.

Beliau a.s. berkata: Abu Bakr telah berbohong. Demi Tuhan! Kembalilah kepadanya dan katakan kepadanya: Anda telah menamakan diri anda bukan dengan nama anda. Sesungguhnya anda mengetahui bahawa Amir al-Mukminin adalah selain daripada anda. Lalu Qunfudh pun pulang dan memberitahu mereka berdua. Lantas Umar melompat di dalam keadaan marah dan berkata: Demi Tuhan! Sesungguhnya aku mengetahui kecetekannya dan kelemahan pendapatnya. Sesungguhnya urusan kita tidak akan berjalan dengan baik sehingga anda membunuhnya. Lantaran itu, biarkan aku mendatangi anda dengan kepalanya.

Maka Abu Bakr berkata: Duduklah. Namun Umar enggan. Dia bersumpah ke atasnya, lalu duduk. Kemudian dia berkata: Wahai Qunfudh! Pergilah dan katakan kepadanya: Sahutilah seruan Abu Bakr. Maka qunfudh pun pergi berjumpa Ali a.s. dan berkata: Wahai Ali! Sahutilah seruan Abu Bakr. Ali a.s menjawab: Aku terlalu sibuk. Lagipun aku tidak mahu meninggalkan wasiat khalilku dan saudaraku. Dia pergi kepada Abu Bakr dan memberitahunya. Lalu Umar melompat dalam keadaan marah.