Total Tayangan Halaman

Sabtu, 28 April 2018

Kedudukan Hadis “Imam Ali Pemimpin Bagi Setiap Mukmin Sepeninggal Nabi SAW”

Diriwayatkan dengan berbagai jalan yang shahih dan hasan bahwa Rasulullah SAW bersabda kalau Imam Ali adalah Pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggal Beliau SAW. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imran bin Hushain RA, Buraidah RA, Ibnu Abbas RA dan Wahab bin Hamzah RA. Rasulullah SAW bersabda


إن عليا مني وأنا منه وهو ولي كل مؤمن بعدي


Ali dari Ku dan Aku darinya dan Ia adalah Pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggalKu.


Takhrij Hadis

Hadis di atas adalah lafaz riwayat Imran bin Hushain RA. Disebutkan dalam Musnad Abu Dawud Ath Thayalisi 1/111 no 829, Sunan Tirmidzi 5/296, Sunan An Nasa’i 5/132 no 8474, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 7/504, Musnad Abu Ya’la 1/293 no 355, Shahih Ibnu Hibban 15/373 no 6929, Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 18/128, dan As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1187. Semuanya dengan jalan sanad yang berujung pada Ja’far bin Sulaiman dari Yazid Ar Risyk dari Mutharrif bin Abdullah bin Syikhkhir Al Harasy dari Imran bin Hushain RA. Berikut sanad Abu Dawud


حدثنا جعفر بن سليمان الضبعي ، حدثنا يزيد الرشك ، عن مطرف بن عبد الله بن الشخير ، عن عمران بن حصين


Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman Ad Dhuba’iy yang berkata telah menceritakan kepada kami Yazid Ar Risyk dari Mutharrif bin Abdullah bin Syikhkhir dari Imran bin Hushain-alhadis- [Musnad Abu Dawud Ath Thayalisi no 829]

Hadis Imran bin Hushain ini sanadnya shahih karena para perawinya tsiqat

* Ja’far bin Sulaiman Adh Dhuba’iy adalah seorang yang tsiqat. Ja’far adalah perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Muslim dan Ashabus Sunan. Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Ibnu Madini dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat. Ahmad bin Hanbal berkata “tidak ada masalah padanya”. Abu Ahmad mengatakan kalau Ja’far hadisnya baik, ia memiliki banyak riwayat dan hadisnya hasan [At Tahdzib juz 2 no 145]. Al Ajli menyatakan Ja’far bin Sulaiman tsiqat [Ma’rifat Ats Tsiqat no 221]. Ibnu Syahin juga memasukkannya sebagai perawi tsiqat [Tarikh Asma Ats Tsiqat no 166]. Kelemahan yang dinisbatkan kepada Ja’far adalah ia bertasayyyu’ tetapi telah ma’ruf diketahui bahwa tasyayyu’ Ja’far dikarenakan ia banyak meriwayatkan hadis-hadis keutamaan Ahlul Bait. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq tasyayyu’ [At Taqrib 1/162]. Adz Dzahabi menyatakan Ja’far bin Sulaiman tsiqat [Al Kasyf no 729]

* Yazid Ar Risyk adalah Yazid bin Abi Yazid Adh Dhuba’iy seorang yang tsiqat perawi kutubus sittah. Tirmidzi, Abu Hatim, Abu Zar’ah, Ibnu Hibban dan Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqah. Ahmad bin Hanbal menyatakan ia “shalih al hadis”.[At Tahdzib juz 11 no 616]. Disebutkan kalau Ibnu Ma’in mendhaifkannya tetapi hal ini keliru karena telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih kalau Ibnu Ma’in justru menta’dilkannya. Ibnu Abi Hatim menukil Ad Dawri dari Ibnu Ma’in yang menyatakan Yazid “shalih” dan menukil Abu Bakar bin Abi Khaitsamah dari Ibnu Main yang menyatakan Yazid “laisa bihi ba’sun”. perkataan ini berarti perawi tersebut tsiqah menurut Ibnu Ma’in. [Al Jarh Wat Ta’dil 9/298 no 1268].

* Mutharrif bin Abdullah adalah tabiin tsiqah perawi kutubus sittah. Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqah. Al Ajli mengatakan ia tsiqah. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqah. [At Tahdzib juz 10 no 326]. Ibnu Hajar menyatakan Mutharrif bin Abdullah tsiqah [At Taqrib 2/188].

Hadis Imran bin Hushain di atas jelas sekali diriwayatkan oleh perawi tsiqah dan shahih sesuai dengan syarat Imam Muslim. Ja’far bin Sulaiman adalah perawi Muslim dan yang lainnya adalah perawi Bukhari dan Muslim. Ibnu Hajar menyatakan sanad hadis ini kuat dalam kitabnya Al Ishabah 4/569. Syaikh Al Albani menyatakan hadis ini shahih [Zhilal Al Jannah Takhrij As Sunnah no 1187]. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan hadis ini sanadnya kuat [Shahih Ibnu Hibban no 6929]. Syaikh Husain Salim Asad menyatakan hadis ini para perawinya perawi shahih [Musnad Abu Ya’la no 355]

Selain riwayat Imran bin Hushain, hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Buraidah RA. Hadis Buraidah disebutkan dalam Musnad Ahmad 5/356 no 22908[tahqiq Ahmad Syakir dan Hamzah Zain], Sunan Nasa’i 5/132 no 8475, Tarikh Ibnu Asakir 42/189 dengan jalan sanad yang berujung pada Ajlah Al Kindi dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya. Berikut sanad riwayat Ahmad


ثنا بن نمير حدثني أجلح الكندي عن عبد الله بن بريدة عن أبيه بريدة قال


Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair yang berkata telah menceritakan kepadaku Ajlah Al Kindi dari Abdullah bin Buraidah dari Ayahnya Buraidah yang berkata-hadis marfu’-[Musnad Ahmad 5/356 no 22908]

Hadis Buraidah ini sanadnya hasan karena diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah yaitu Ibnu Numair dan Abdullah bin Buraidah dan perawi yang hasan yaitu Ajlah Al Kindi.

* Ibnu Numair adalah Abdullah bin Numair Al Hamdani adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqah. Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban, Al Ajli dan Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqah. [At Tahdzib juz 6 no 110]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/542]. Adz Dzahabi menyatakan ia hujjah [Al Kasyf no 3024]

* Ajlah Al Kindi adalah seorang yang shaduq. Ibnu Main dan Al Ajli menyatakan ia tsiqat. Amru bin Ali menyatakan ia seorang yang shaduq dan hadisnya lurus. Ibnu Ady berkata “ia memiliki hadis-hadis yang shalih, telah meriwayatkan darinya penduduk kufah dan yang lainnya, tidak memiliki riwayat mungkar baik dari segi sanad maupun matan tetapi dia seorang syiah kufah, disisiku ia seorang yang shaduq dan hadisnya lurus”. Yaqub bin Sufyan menyatakan ia tsiqat tetapi ada kelemahan dalam hadisnya. Diantara yang melemahkannya adalah Ibnu Sa’ad, Abu Hatim, Abu Dawud dan An Nasa’i. [At Tahdzib juz 1 no 353]. Abu Hatim dan An Nasa’i menyatakan ia “tidak kuat” dimana perkataan ini bisa berarti seorang yang hadisnya hasan apalagi dikenal kalau Abu Hatim dan Nasa’i termasuk ulama yang ketat dalam menjarh. Ibnu Sa’ad dan Abu Dawud menyatakan ia dhaif tanpa menyebutkan alasannya sehingga jarhnya adalah jarh mubham. Tentu saja jarh mubham tidak berpengaruh pada mereka yang telah mendapat predikat tsiqat dari ulama yang mu’tabar. Ibnu Hajar menyatakan ia seorang syiah yang shaduq [At Taqrib 1/72]. Adz Dzahabi juga menyatakan Ajlah seorang yang shaduq [Man Tukullima Fiihi Wa Huwa Muwatstsaq no 13]. Bagi kami ia seorang yang tsiqah atau shaduq, Bukhari telah menyebutkan biografinya tanpa menyebutkan cacatnya [Tarikh Al Kabir juz 2 no 1711]. Hal ini menunjukkan kalau jarh terhadap Ajlah tidaklah benar dan hanya dikarenakan sikap tasyayyu’ yang ada padanya.

* Abdullah bin Buraidah adalah seorang tabiin yang tsiqah. Ibnu Ma’in, Al Ajli dan Abu Hatim menyatakan ia tsiqat. Ibnu Kharasy menyatakan ia shaduq [At Tahdzib juz 5 no 270]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/480] dan Adz Dzahabi juga menyatakan ia tsiqat [Al Kasyf no 2644].

Sudah jelas hadis Buraidah ini adalah hadis hasan yang naik derajatnya menjadi shahih dengan penguat hadis-hadis yang lain. Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadis Buraidah ini sanadnya jayyid [Zhilal Al Jannah Takhrij As Sunnah no 1187].

Selain Imran bin Hushain dan Buraidah, hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dengan sanad yang shahih. Riwayat Ibnu Abbas disebutkan dalam Musnad Abu Dawud Ath Thayalisi 1/360 no 2752, Tarikh Ibnu Asakir 42/199, dan Tarikh Ibnu Asakir 42/201, Musnad Ahmad 1/330 no 3062, Al Mustadrak 3/143 no 4652, As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1188, dan Mu’jam Al Kabir 12/77. Berikut sanad riwayat Abu Dawud


حدثنا أبو عوانة عن أبي بلج عن عمرو بن ميمون عن بن عباس ان رسول الله صلى الله عليه و سلم


Telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Abi Balj dari Amru bin Maimun dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW bersabda [Musnad Abu Dawud Ath Thayalisi no 2752]

Hadis Ibnu Abbas ini sanadnya shahih dan diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat.

* Abu Awanah adalah Wadhdhah bin Abdullah Al Yasykuri seorang perawi kutubus sittah yang tsiqat. Abu Hatim, Abu Zar’ah, Ahmad, Ibnu Sa’ad, Ibnu Abdil Barr menyatakan ia tsiqat. [At Tahdzib juz 11 no 204]. Al Ajli menyatakan ia tsiqah [Ma’rifat Ats Tsiqat no 1937].Ibnu Hajar menyatakan Abu Awanah tsiqat tsabit [At Taqrib 2/283] dan Adz Dzahabi juga menyatakan ia tsiqat [Al Kasyf no 6049].

* Abu Balj adalah Yahya bin Sulaim seorang perawi Ashabus Sunan yang tsiqat. Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Nasa’i dan Daruquthni menyatakan ia tsiqat. Abu Fath Al Azdi menyatakan ia tsiqat. Abu Hatim berkata “shalih laba’sa bihi”. Yaqub bin Sufyan berkata “tidak ada masalah padanya”. Al Bukhari berkata “fihi nazhar” atau perlu diteliti lagi hadisnya. [At Tahdzib juz 12 no 184]. Perkataan Bukhari ini tidaklah tsabit karena ia sendiri telah menuliskan biografi Abu Balj tanpa menyebutkan cacatnya bahkan dia menegaskan kalau Syu’bah meriwayatkan dari Abu Balj [Tarikh Al Kabir juz 8 no 2996]. Hal ini berarti Syu’bah menyatakan Abu Balj tsiqat karena ia tidak meriwayatkan kecuali dari perawi yang tsiqat. Ibnu Abdil Barr dan Ibnu Jauzi menyatakan bahwa Ibnu Main mendhaifkan Abu Balj [At Tahdzib juz 12 no 184]. Tentu saja perkataan ini tidak benar karena telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ishaq bin Mansur kalau Ibnu Ma’in justru menyatakan Abu Balj tsiqat [Al Jarh Wat Ta’dil 9/153 no 634]. Kesimpulannya pendapat yang rajih adalah ia seorang yang tsiqat.

* Amru bin Maimun adalah perawi kutubus sittah yang tsiqah. Al Ajli, Ibnu Ma’in, An Nasa’i dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 8 no 181]. Ibnu Hajar menyatakan Amru bin Maimun tsiqat [At Taqrib 1/747].

Hadis Ibnu Abbas ini adalah hadis yang shahih dan merupakan sanad yang paling baik dalam perkara ini. Hadis ini juga menjadi bukti bahwa tasyayyu’ atau tidaknya seorang perawi tidak membuat suatu hadis lantas menjadi cacat karena sanad Ibnu Abbas ini termasuk sanad yang bebas dari perawi tasyayyu’. Hadis Ibnu Abbas ini telah dishahihkan oleh Al Hakim, Adz Dzahabi [Talkhis Al Mustadrak no 4652] dan Syaikh Ahmad Syakir [Musnad Ahmad no 3062].

Hadis dengan jalan yang terakhir adalah riwayat Wahab bin Hamzah. Diriwayatkan dalam Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 22/135, Tarikh Ibnu Asakir 42/199 dan Al Bidayah Wan Nihayah 7/381. Berikut jalan sanad yang disebutkan Ath Thabrani


حدثنا أحمد بن عمرو البزار وأحمد بن زهير التستري قالا ثنا محمد بن عثمان بن كرامة ثنا عبيد الله بن موسى ثنا يوسف بن صهيب عن دكين عن وهب بن حمزة قال


Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Amru Al Bazzar dan Ahmad bin Zuhair Al Tusturi yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Utsman bin Karamah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Musa yang berkata telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Shuhaib dari Dukain dari Wahab bin Hamzah yang berkata [Mu’jam Al Kabir 22/135]

Hadis ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat kecuali Dukain, ia seorang tabiin yang tidak mendapat predikat ta’dil dan tidak pula dicacatkan oleh para ulama.

* Ahmad bin Amru Al Bazzar adalah penulis Musnad yang dikenal tsiqah, ia telah dinyatakan tsiqah oleh Al Khatib dan Daruquthni, Ibnu Qattan berkata “ia seorang yang hafizh dalam hadis [Lisan Al Mizan juz 1 no 750]

* Ahmad bin Zuhair Al Tusturi adalah Ahmad bin Yahya bin Zuhair, Abu Ja’far Al Tusturi. Adz Dzahabi menyebutnya Al Imam Al Hujjah Al Muhaddis, Syaikh Islam. [As Siyar 14/362]. Dalam Kitab Tarajum Syuyukh Thabrani no 246 ia disebut sebagai seorang Hafizh yang tsiqat.

* Muhammad bin Ustman bin Karamah seorang perawi yang tsiqat. Abu Hatim berkata “shaduq”. Maslamah dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat. Muhammad bin Abdullah bin Sulaiman dan Daud bin Yahya berkata “ia shaduq”. [At Tahdzib juz 9 no 563]. Ibnu Hajar menyatakan Muhammad bin Utsman bin Karamah tsiqat [At Taqrib 2/112]

* Ubaidillah bin Musa adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqah. Ibnu Ma’in, Abu Hatim, Ibnu Hibban, Al Ajli, Ibnu Syahin, Utsman bin Abi Syaibah dan Ibnu Ady menyatakan ia tsiqah.[At Tahdzib juz 7 no 97]. Ibnu Hajar menyatakan Ubaidillah tsiqat tasyayyu’ [At Taqrib 1/640]. Adz Dzahabi juga menyatakan ia tsiqah [Al Kasyf no 3593].

* Yusuf bin Shuhaib adalah seorang perawi tsiqat. Ibnu Ma’in, Abu Dawud, Ibnu Hibban, Utsman bin Abi Syaibah, Abu Nu’aim menyatakan ia tsiqat. Abu Hatim dan An Nasa’i berkata ‘tidak ada masalah padanya”. [At Tahdzib juz 11 no 710]. Ibnu Hajar menyatakan Yusuf bin Shubaih tsiqat [At Taqrib 2/344] dan Adz Dzahabi juga menyatakan Yusuf tsiqat [Al Kasyf no 6437]

* Dukain adalah seorang tabiin. Hanya Ibnu Abi Hatim yang menyebutkan biografinya dalam Al Jarh Wat Ta’dil dan mengatakan kalau ia meriwayatkan hadis dari Wahab bin Hamzah dan telah meriwayatkan darinya Yusuf bin Shuhaib tanpa menyebutkan jarh maupun ta’dil terhadapnya. [Al Jarh Wat Ta’dil 3/439 no 1955]. Dukain seorang tabiin yang meriwayatkan hadis dari Wahab bin Hamzah dan sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Sakan kalau Wahab bin Hamzah adalah seorang sahabat Nabi [Al Ishabah 6/623 no 9123]

Hadis Wahab bin Hamzah ini dapat dijadikan syawahid dan kedudukannya hasan dengan penguat dari hadis-hadis lain. Al Haitsami berkata mengenai hadis Wahab ini “Hadis riwayat Thabrani dan di dalamnya terdapat Dukain yang disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim, tidak ada ulama yang mendhaifkannya dan sisanya adalah perawi yang dipercaya “ [Majma’ Az Zawaid 9/109].



Ibnu Taimiyyah Mendustakan Hadis Shahih

Jika kita mengumpulkan semua hadis tersebut maka didapatkan

* Hadis Imran bin Hushain adalah hadis shahih [riwayat Ja’far bin Sulaiman]
* Hadis Buraidah adalah hadis hasan [riwayatAjlah Al Kindi]
* Hadis Ibnu Abbas adalah hadis shahih [riwayat Abu Balj]
* Hadis Wahab bin Hamzah adalah hadis hasan [riwayat Dukain]

Tentu saja dengan mengumpulkan sanad-sanad hadis ini maka tidak diragukan lagi kalau hadis ini adalah hadis yang shahih. Dan dengan fakta ini ada baiknya kita melihat apa yang dikatakan Ibnu Taimiyyah tentang hadis ini, ia berkata


” أنت ولي كل مؤمن بعدي ” فهذا موضوع باتفاق أهل المعرفة بالحديث


“kamu adalah pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggalKu” ini adalah maudhu’ (palsu) menurut kesepakatan ahli hadis [Minhaj As Sunnah 5/35]


قوله : هو ولي كل مؤمن بعدي كذب على رسول الله صلى الله عليه وسلم


Perkataannya ; “Ia pemimpin setiap mukmin sepeninggalku” adalah dusta atas Rasulullah SAW [Minhaj As Sunnah 7/278]

Cukuplah kiranya pembaca melihat dengan jelas siapa yang sebenarnya sedang berdusta atau sedang mendustakan hadis shahih hanya karena hadis tersebut dijadikan hujjah oleh orang syiah. Penyakit seperti ini yang dari dulu kami sebut sebagai “Syiahpobhia”.



Singkat Tentang Matan Hadis

Setelah membicarakan hadis ini ada baiknya kami membicarakan secara singkat mengenai matan hadis tersebut. Salafy nashibi biasanya akan berkelit dan berdalih kalau hadis tersebut tidak menggunakan lafaz khalifah tetapi lafaz waliy dan ini bermakna bukan sebagai pemimpin atau khalifah. Kami tidak perlu berkomentar banyak mengenai dalih ini, cukuplah kiranya kami bawakan dalil shahih kalau kata Waliy sering digunakan untuk menunjukkan kepemimpinan atau khalifah

Diriwayatkan oleh Ibnu Katsir [dan beliau menshahihkannya] dalam Al Bidayah wan Nihayah bahwa ketika Abu Bakar dipilih sebagai khalifah, ia berkhutbah


قال أما بعد أيها الناس فأني قد وليت عليكم ولست بخيركم


Ia berkata “Amma ba’du, wahai manusia sekalian sesungguhnya aku telah dipilih menjadi pimpinan atas kalian dan bukanlah aku yang terbaik diantara kalian. [Al Bidayah wan Nihayah 5/269]

Diriwayatkan pula oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad bin Hanbal bahwa Jabir bin Abdullah RA menyebutkan kepemimpinan Umar dengan kata Waliy


ثنا بهز قال وثنا عفان قالا ثنا همام ثنا قتادة عن عن أبي نضرة قال قلت لجابر بن عبد الله ان بن الزبير رضي الله عنه ينهى عن المتعة وان بن عباس يأمر بها قال فقال لي على يدي جرى الحديث تمتعنا

مع رسول الله صلى الله عليه و سلم قال عفان ومع أبي بكر فلما ولي عمر رضي الله عنه خطب الناس فقال ان القرآن هو القرآن وان رسول الله صلى الله عليه و سلم هو الرسول وأنهما كانتا متعتان

على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم إحداهما متعة الحج والأخرى متعة النساء


Telah menceritakan kepada kami Bahz dan telah menceritakan kepada kami Affan , keduanya [Bahz dan Affan] berkata telah menceritakan kepada kami Hamam yang berkata telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Abi Nadhrah yang berkata “aku berkata kepada Jabir bin Abdullah RA ‘sesungguhnya Ibnu Zubair telah melarang mut’ah dan Ibnu Abbas memerintahkannya’. Abu Nadhrah berkata ‘Jabir kemudian berkata kepadaku ‘kami pernah bermut’ah bersama Rasulullah’. [Affan berkata] “ dan bersama Abu Bakar. Ketika Umar menjadi pemimpin orang-orang, dia berkata ‘sesungguhnya Al Qur’an adalah Al Qur’an dan Rasulullah SAW adalah Rasul dan sesungguhnya ada dua mut’ah pada masa Rasulullah SAW, salah satunya adalah mut’ah haji dan yang satunya adalah mut’ah wanita’. [Musnad Ahmad 1/52 no 369 dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Ahmad Syakir]

Kedua riwayat di atas dengan jelas menunjukkan bahwa kata Waliy digunakan untuk menyatakan kepemimpinan para Khalifah seperti Abu Bakar dan Umar. Oleh karena itu tidak diragukan lagi bahwa hadis di atas bermakna Imam Ali adalah Pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggal Nabi SAW.

Imam Ali Manusia Yang Paling Dicintai Allah SWT

Telah diriwayatkan dengan berbagai jalan dari sahabat Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW bersabda kalau Imam Ali adalah manusia yang paling dicintai Allah SWT. Hadis tersebut dikenal dengan sebutan hadis Thayr dan hadis ini termasuk salah satu hadis yang menjadi korban sinisme sepanjang masa oleh para ahli hadis. Sebagian ulama menyatakan hadis tersebut maudhu’ mungkar dan tentu saja perkataan ini bathil karena hadis ini diriwayatkan dengan berbagai jalan dan diantaranya terdapat sanad yang jayyid sehingga dengan mengumpulkan sanad-sanadnya maka hadis tersebut sudah jelas shahih. Pada pembahasan ini kami akan membahas sanad yang jayyid mengenai hadis ini. Diriwayatkan dari Anas RA kalau Rasulullah SAW pernah mendapatkan daging burung kemudian Rasulullah SAW bersabda


فقال اللهم ائتني بأحب خلقك إليك يأكل معي من هذا الطير فجاء علي بن أبي طالب فدخل يأكل معه من ذلك الطير


Rasulullah SAW bersabda “Ya Allah datangkanlah hambamu yang paling Engkau cintai agar dapat memakan daging burung ini bersamaKu. Maka datanglah Ali dan ia memakan daging burung itu bersama Nabi SAW”. [Tarikh Ibnu Asakir 42/254]
.

Takhrij Hadis

Hadis ini diriwayatkan dengan sanad yang jayyid dari As Suddi dari Anas Ra. Yang meriwayatkan dari As Suddi adalah Isa bin Umar Al Qari dan yang meriwayatkan dari Isa bin Umar Al Qari adalah Ubadiillah bin Musa dan Mushir bin Abdul Malik. Yang meriwayatkan dari Ubaidillah bin Musa adalah Sufyan bin Waki’ dan Hatim bin Laits sedangkan yang meriwayatkan dari Mushir adalah Hasan bin Hamad. Sanad As Suddi diriwayatkan dalam Sunan Tirmidzi 5/636 no 3721, Musnad Abu Ya’la 7/105 no 4052, Sunan Nasa’i 5/107 no 8398, dan Tarikh Ibnu Asakir 42/254. Berikut sanad yang jayyid dalam Tarikh Ibnu Asakir

أخبرنا أبو غالب بن البنا أنا أبو الحسين بن الابنوسي أنا أبو الحسن الدار قطني نا محمد بن مخلد بن حفص نا حاتم بن الليث نا عبيد الله بن موسى عن عيسى بن عمر القارئ عن السدي نا أنس بن مالك


Telah menceritakan kepada kami Abu Ghalib bin Al Bana yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Husain bin Al Banusi yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Hasan Daruquthni yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Makhlad bin Hafsh yang berkata telah menceritakan kepada kami Hatim bin Laits yang berkata telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Musa dari Isa bin Umar Al Qari dari As Suddi dari Anas bin Malik [Tarikh Ibnu Asakir 42/254]

Hadis ini sanadnya shahih diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya. As Suddi adalah tabiin yang meriwayatkan dan mendengar dari Anas bin Malik. Hadis As Suddi dari Anas telah dijadikan hujjah oleh Imam Muslim

* Abu Ghalib bin Al Bana adalah seorang Syaikh shalih tsiqat musnad Baghdad sebagaimana yang disebutkan oleh Adz Dzahabi [As Siyar 19/603 no 352]

* Abu Husain bin Al Banusi adalah Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ali Ibnu Banusi seorang Syaikh yang tsiqat [As Siyar 18/85 no 38]

* Abu Hasan Daruquthni adalah penulis kitab Sunan yang mayshur. Al Imam Syaikh Islam Al Hafizh. Ia dikatakan Amirul mukminin dalam hadis [Tadzkirah Al Huffazh 3/123 no 925]

* Muhammad bin Makhlad bin Hafsh adalah Al Imam Mufid tsiqat musnad Baghdad. Daruquthni berkata “tsiqat ma’mun” [Tadzkirah Al Huffazh 3/33 no 811]

* Hatim bin Laits adalah Hatim bin Laits bin Al Harits bin Abdurrahman Abu Fadhl seorang yang tsiqat tsabit mutqin hafizh [Tarikh Baghdad 8/240 no 4346]

* Ubaidillah bin Musa adalah perawi kutubus sittah. Ibnu Ma’in, Abu Hatim, Al Ajli, Ibnu Ady, Ibnu Sa’ad, Ibnu Hibban, Ibnu Syahin menyatakan ia tsiqat. [At Tahdzib juz 7 no 97]. Ibnu Hajar menyatakan tsiqat tasyayyu’ [At Taqrib 1/640]. Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat [Al Kasyf no 3593].

* Isa bin Umar Al Qari adalah perawi Tirmidzi dan Nasa’i. Ahmad , Al Bazzar dan Abu Hatim berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban, Waki’, Al Khatib, Nasa’i, Al Ajli, Ibnu Numair menyatakan ia tsiqat. [At Tahdzib juz 8 no 415]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/773]

* As Suddi adalah Ismail bin Abdurrahman As Suddi perawi Muslim dan Ashabus Sunan seorang Imam dalam tafsir. Yahya bin Sa’id Al Qattan berkata “tidak ada masalah padanya”. Ahmad bin Hanbal menyatakan ia tsiqat, Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Ady berkata “hadisnya lurus, jujur dan tidak ada masalah padanya”. Al Ajli dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat. Telah meriwayatkan darinya Syu’bah yang berarti Syu’bah menyatakan tsiqat padanya. Ia dilemahkan oleh sebagian ulama seperti Ibnu Ma’in, Abu Zar’ah dan Abu Hatim tanpa menyebutkan alasannya sehingga jarh mereka adalah jarh mubham padahal ia telah mendapatkan ta’dil dari ulama yang mu’tabar. [At Tahdzib juz 1 no 572]. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq yahim [At Taqrib 1/97] dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib bahwa As Suddi seorang yang shaduq hasanul hadis [Tahrir At Taqrib no 463]. Adz Dzahabi menyatakan ia hasanul hadits [Al Kasyf no 391]. Pendapat yang rajih adalah As Suddi seorang yang tsiqat apalagi ia telah dijadikan hujjah oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya.

Hadis ini sudah jelas shahih dan diriwayatkan oleh para perawi tsiqat. At Tirmidzi berkata setelah meriwayatkan hadis ini

هذا حديث غريب لا نعرفه من حديث السدي إلا من هذا الوجه وقد روى من غير وجه عن أنس و عيسى بن عمر هو كوفي و السدي إسمعيل بن عبد الرحمن وسمع من أنس بن مالك ورأى الحسين بن علي و ثقة


شعبة و سفيان الثوري و زائدة ووثقه يحيى بن سعيد القطان


Hadis ini gharib, tidak dikenal dari hadis As Suddi kecuali dengan jalan ini. Dan sungguh telah diriwayatkan oleh jalan yang lain dari Anas. Isa bin Umar ia Al Kufi dan Al Asdi . Ismail bin Abdurrahman mendengar dari Anas bin Malik dan melihat Husain bin Ali, ia dinyatakan tsiqat oleh Syu’bah, Sufyan Ats Tsawri dan Za’idah dan ia dinyatakan tsiqat oleh Yahya bin Sa’id Al Qattan [Sunan Tirmidzi 5/636 no 3721]

Isa bin Umar memang menyendiri meriwayatkan hadis ini dari As Suddi tetapi itu tidaklah merusak kedudukan hadisnya sebagaimana hal yang ma’ruf dalam ilmu hadis bahwa jika perawi tsiqat menyendiri dalam meriwayatkan hadis shahih maka hadisnya tetaplah diterima. Isa bin Umar adalah seorang yang tsiqat dan riwayatnya dari As Suddi adalah shahih.

Selain riwayat As Suddi dari Anas terdapat sanad lain yang jayyid yaitu riwayat Utsman Ath Thawil dari Anas. Riwayat Utsman Ath Thawil dari Anas bin Malik RA disebutkan dalam kitab Tarikh Ibnu Asakir 42/250 dan Al Bukhari dalam Tarikh Al Kabir juz 2 no 1488. Berikut sanad riwayat Al Bukhari

قال لي محمد بن يوسف حدثنا أحمد قال ثنا زهير قال ثنا عثمان الطويل عن أنس بن مالك


Telah berkata kepadaku Muhammad bin Yusuf yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad yang berkata telah menceritakan kepada kami Zuhair yang berkata telah menceritakan kepada kami Utsman Ath Thawil dari Anas bin Malik [Tarikh Al Kabir juz 2 no 1488]

Utsman dari Anas ini memiliki sanad yang hasan shahih. Utsman Ath Thawil adalah seorang tabiin yang telah meriwayatkan darinya para perawi tsiqah diantaranya Syu’bah [Syu’bah hanya meriwayatkan dari perawi tsiqah]

* Muhammad bin Yusuf Al Bukhari adalah Syaikh [gurunya] Al Bukhari . Al Khalili menyatakan ia tsiqat muttafaq alaih [Al Irsyad 3/184]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 2/150].

* Ahmad adalah Ahmad bin Yazid bin Ibrahim Abu Hasan Al Harrani. Ia dinyatakan tsiqat oleh Maslamah bin Qasim dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Abu Hatim mendhaifkannya [At Tahdzib juz 1 no 158]. Disebutkan kalau Nasa’i menyatakan ia tsiqat [Tahrir At Taqrib no 127]. Pendapat yang rajih adalah ia seorang yang tsiqat apalagi Abu Hatim dikenal berlebihan dalam menjarh dan banyak mencacatkan para perawi shahih oleh karena itu jika ia menyendiri dalam mencacatkan perawi yang telah dita’dilkan ulama lain maka jarhnya tidaklah diterima.

* Zuhair adalah Zuhair bin Muawiyah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ibnu Ma’in, Abu Zar’ah, Nasa’i, Al Ajli, Ibnu Sa’ad, Ibnu Hibban, Al Bazzar menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 3 no 648]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit [At Taqrib 1/317]. Adz Dzahabi menyatakan ia Al Hafizh tsiqat hujjah [Al Kasyf no 1668]

* Utsman Ath Thawil adalah tabiin yang meriwayatkan dari Anas bin Malik. Telah meriwayatkan darinya para perawi tsiqat diantaranya Laits bin Abi Sulaim, Syu’bah, ‘Anbasah bin Sa’id dan Zuhair bin Muawiyah. Abu Hatim berkata “Syaikh” [Al Jarh Wat Ta’dil 6/173 no 950]. Perkataan “Syaikh” adalah salah satu bentuk ta’dil ditambah lagi telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqat bahkan Syu’bah telah meriwayatkan darinya yang berarti Syu’bah menganggapnya tsiqah. Jadi Utsman Ath Thawil adalah tabiin yang tsiqah.

Al Bukhari setelah membawakan riwayat ini ia berkata “tidak dikenal Utsman mendengar langsung dari Anas” [Tarikh Al Kabir juz 2 no 1488]. Pernyataan ini tidak bisa dijadikan hujjah untuk mencacatkan hadis tersebut atau menyatakannya inqitha’. Hal ini disebabkan bahwa Bukhari tidak menyatakan kalau Utsman tidak mendengar dari Anas. Bukhari berkata bahwa tidak dikenal penyimakan Utsman dari Anas karena ia tidak mengetahui atau tidak bisa memastikan apakah Utsman bertemu dengan Anas RA. Bukhari memiliki persyaratan tersendiri mengenai hal ini, ia menyatakan suatu sanad muttashil atau bersambung jika kedua perawi dipastikan bertemu. Persyaratan ini tidaklah menjadi hujjah bagi jumhur ulama hadis, mereka lebih menyukai persyaratan Imam Muslim bahwa kedua perawi tidak mesti dipastikan bertemu tetapi cukup dengan memastikan bahwa kedua perawinya tsiqah berada dalam satu masa maka an an ahnya dapat dianggap muttashil. Oleh karena itu cukup banyak para perawi tsiqat yang meriwayatkan dengan ‘an an ah dan tidak dikenal penyimakannya tetapi hadis mereka tetap dianggap muttashil

Jadi pernyataan Bukhari di atas tidaklah mencacatkan hadis tersebut karena Utsman adalah tabiin yang tsiqat dan ia bukan mudallis jadi riwayat an an ahnya dari Anas dapat dianggap muttashil. Apalagi Bukhari sendiri dalam biografi Utsman Ath Thawil tetap menegaskan kalau ia meriwayatkan dari Anas bin Malik, tidak sedikitpun ia menyatakan riwayat Utsman dari Anas mursal[Tarikh Al Kabir juz 6 no 2338]. Hadis Utsman Ath Thawil ini dapat dijadikan penguat bagi riwayat As Suddi dan keduanya bersama-sama menunjukkan bahwa hadis tersebut shahih tanpa keraguan.


Singkat Tentang Matan Hadis

Hadis di atas menunjukkan bahwa manusia yang paling dicintai Allah SWT adalah Ali bin Abi Thalib. Perhatikanlah bahwa kejadian ini terjadi ketika Rasulullah SAW masih hidup dan tentu saja pada saat itu sudah ada para sahabat Nabi SAW diantaranya Abu Bakar dan Umar. Allah SWT mengabulkan doa Nabi SAW dengan mendatangkan Ali bin Abi Thalib RA. Bukankah ini bukti kalau Imam Ali lebih utama dari para sahabat lainnya termasuk Abu Bakar dan Umar.

Beberapa ulama menganggap matan hadis ini mungkar, maka kami katakan perkataan seperti ini tidak perlu dihiraukan karena mereka akan selalu menganggap setiap keutamaan Imam Ali yang melebihi Abu Bakar dan Umar adalah mungkar. Itulah keyakinan bathil mereka yang tanpa disadari membuat mereka menentang hadis-hadis shahih. Mengutamakan Imam Ali di atas Abu Bakar dan Umar adalah keyakinan yang berlandaskan hadis-hadis shahih jadi sungguh keliru sekali menyatakan bahwa keyakinan seperti itu hanyalah milik Syiah atau menyatakan keyakinan tersebut mungkar. Sekedar informasi, masih banyak hadis-hadis shahih lain yang menunjukkan keutamaan Imam Ali di atas Abu Bakar dan Umar, diketahui oleh mereka yang mengetahuinya dan ditolak oleh mereka yang sakit hatinya. Wallahu’alam

Shahih : Hadis Imam Ali Pintu Kota Hikmah


Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya. Kami akan menambahkan satu lagi sanad yang jayyid dengan matan hadis “pintu kota hikmah”. Hadis ini juga merupakan bukti kalau hadis madinatul ilmi adalah hadis yang shahih dan Abu Shult Al Harawi tidak memalsukan hadis ini. Hadis yang dimaksud adalah riwayat Khaitsamah bin Sulaiman


حدثنا ابن عوف حدثنا محفوظ بن بحر الأنطاكي حدثنا موسى بن محمد الأنصاري الكوفي عن أبي معاوية عن الأعمش عن مجاهد عن ابن عباس رضي الله عنهما مرفوعا أنا مدينة الحكمة وعلي بابها


Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Auf yang berkata telah menceritakan kepada kami Mahfuzh bin Bahr Al Anthakiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Musa bin Muhammad Al Anshari Al Kufi dari Abi Muawiyah dari Al ‘Amasy dari Mujahid dari Ibnu Abbas RA secara marfu’[dari Rasulullah SAW] “Aku adalah kota hikmah dan Ali adalah pintunya”. [Min Hadits Khaitsamah bin Sulaiman 1/184 no 174]

Hadis ini shahih diriwayatkan oleh para perawi tsiqah. Khaitsamah bin Sulaiman adalah seorang Imam tsiqat Al Muhaddis dari Syam seperti yang dikatakan oleh Adz Dzahabi [As Siyar 15/412 no 230]

* Ibnu Auf adalah Muhammad bin Auf bin Sufyan Ath Tha’iy Abu Ja’far Al Himshi seorang Hafiz. Abu Hatim menyatakan ia shaduq dan ia dinyatakan tsiqat oleh Nasa’i dan Ibnu Hibban. Al Khallal menyebutnya Imam Hafizh [At Tahdzib juz 9 no 634]. Ibnu Hajar menyatakan ia seorang hafizh yang tsiqat [At Taqrib 2/121]

* Mahfuzh bin Bahr Al Anthaky adalah seorang yang tsiqat dan hadisnya lurus. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat seraya berkata “seorang yang hadisnya lurus” [Ats Tsiqat juz 9 no 16026]. Telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqat dan hafizh yaitu Muhammad bin Auf Ath Tha’iy, Muhammad bin Abdullah Al Hadhramy, Ahmad Abu Bakar Al Hafizh Baghdad, Abu Muhammad Ja’far bin Ahmad Asy Syamati dan Al Hafizh Utsman bin Khurrazadz Al Anthaky.

* Musa bin Muhammad Al Anshari Al Kufy adalah seorang yang tsiqat. Abu Ja’far menyatakan ia tsiqat. Ibnu Ma’in juga menyatakan ia tsiqat dan Abu Hatim berkata “la ba’sa bihi” (tidak ada masalah dengannya) [Al Jarh Wat Ta’dil 8/160 no 711]

Sama seperti pembahasan sebelumnya Abu Muawiyah Ad Dharir yaitu Muhammad bin Khazim At Tamimi seorang perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat [At Taqrib 2/70]. Sulaiman bin Mihran Al ‘Amasy juga perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat [At Taqrib 1/392] dan Mujahid adalah seorang tabiin perawi kutubus sittah yang juga dikenal tsiqat [At Taqrib 2/159].


Syubhat Para Pengingkar

Salafy nashibi ternyata pantang menyerah dalam mendhaifkan hadis ini. Mereka bersusaha melemahkan hadis ini dengan mencacatkan salah seorang perawinya yaitu Mahfuzh bin Bahr Al Anthaky. Mereka menukil Adz Dzahabi dan Ibnu Ady yang melemahkan Mahfuzh.

* Ibnu Ady mengatakan kalau ia mendengar dari Abu Arubah bahwa Mahfuzh berdusta. [Al Kamil 6/441]

* Adz Dzahabi mengutip Abu ‘Arubah yang mendustakan Mahfuzh bin Bahr Al Anthaky kemudian Adz Dzahabi mengutip hadis ini serta menyatakan kalau cacat hadis ini ada pada Mahfuzh [Mizan Al ‘Itidal juz 3 no 7092]

Pada dasarnya cacat yang ditujukan kepada Mahfuzh bin Bahr bersandar pada perkataan Abu Arubah. Sumber perkataan Abu Arubah ini adalah dari muridnya Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil sedangkan para ulama muta’akhirin seperti Adz Dzahabi, Ibnu Hajar dan Sibthu Ibnu Ajami hanya mengutip dari Ibnu Ady. Perlu diketahui manhaj penulisan Ibnu Ady dalam kitabnya Al Kamil adalah ketika ia menuliskan biografi perawi hadis ia juga menyebutkan hadis yang diriwayatkan oleh perawi tersebut. Jadi jika seorang perawi dinyatakan sebagai “mungkar hadis” Ibnu Ady akan menyebutkan hadis-hadis mungkar yang diriwayatkan oleh perawi tersebut. Begitu pula jika seorang perawi dikatakan dusta maka Ibnu Ady akan menyebutkan hadis-hadis yang menunjukkan bukti kedustaan perawi tersebut.


Pencacatan Abu Arubah

Dalam Al Kamil 6/441 Ibnu Ady menuliskan biografi Mahfuzh dan mengutip hadis maudhu’

ثنا علي بن أحمد الجرجاني ثنا محفوظ بن بحر ثنا الوليد بن عبد الواحد عن عمر بن موسى عن خالد بن معدان عن أبي أمامة قال رسول الله صلى الله عليه وسلم رب عابد جاهل ورب عالم فاجر فاحذروا الجهال

من العباد والفجار من العلماء


Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ahmad Al Jurjani yang berkata telah menceritakan kepada kami Mahfuzh bin Bahr yang berkata telah menceritakan kepada kami Walid bin Abdul Wahid dari Umar bin Musa dari Khalid bin Ma’dan dari Abi Umamah bahwa Rasulullah SAW bersabda “betapa banyak ahli ibadah yang bodoh dan orang alim yang rusak [buruk] akhlaknya maka berhati-hatilah dari kebodohan ahli ibadah dan keburukan para ulama”. [Al Kamil 6/441]

Ibnu Ady menuliskan hadis ini dalam biografi Mahfuzh bin Bahr Al Antakhy tetapi ia sendiri mengatakan kalau hadis ini mungkar dan yang memalsukan hadis ini adalah Umar bin Musa bin Wajih bukan Mahfuzh bin Bahr Al Antakhy. Memang benar yang memalsukan hadis ini bukan Mahfuzh bin Bahr tetapi Umar bin Musa karena Umar bin Musa bin Wajih telah didustakan para ulama. Bukhari berkata “mungkar al hadis”. Ibnu Ma’in berkata “tidak tsiqat” di saat lain ia berkata “pendusta dan tidak ada nilainya”. Abu Hatim dan Ibnu Ady berkata “ ia pemalsu hadis”. An Nasa’i dan Daruquthni berkata “matruk”. [Lisan Al Mizan juz 4 no 944].

Timbul pertanyaan, kalau memang Ibnu Ady mengakui hadis ini dipalsukan oleh Umar bin Musa bin Wajih maka mengapa ia memasukkan hadis ini dalam biografi Mahfudzh bin Bahr? . Jawabannya tidak lain karena hadis ini dipermasalahkan oleh gurunya Abu Arubah yang mendustakan hadis Mahfuzh. Karena Mahfudz meriwayatkan hadis ini maka Abu Arubah mendustakannya.

Hadis yang disebutkan oleh Ibnu Ady dalam biografi Mahfuzh tersebut adalah hadis yang dikenal palsu diriwayatkan oleh Bisyr bin Ibrahim. Ibnu Hajar menuliskan hadis ini dalam biografi Bisyr bin Ibrahim dan menyatakan Bisyr yang memalsukan hadis ini [Lisan Al Mizan juz 2 no 66]. Bahkan Ibnu Asakir menyebutkan kalau Bisyr bin Ibrahim menyendiri dalam meriwayatkan hadis ini. Jadi hadis ini cukup dikenal sebagai hadis palsu di kalangan ulama. Sehingga ketika Mahfuzh meriwayatkan hadis ini dengan sanad yang tidak berasal dari Bisyr bin Ibrahim maka tuduhan dusta disematkan padanya, menurut kami inilah alasan mengapa Abu Arubah mendustakan hadis Mahfuzh bin Bahr Al Antakhy. Padahal dalam sanad riwayat Mahfuzh yang bertanggung jawab memalsukan hadis ini adalah Umar bin Musa bin Wajih bukan Mahfuzh bin Bahr. Jadi bisa dikatakan kalau tuduhan Abu Arubah itu tidak benar.

Ibnu Ady yang mengutip Abu Arubah sepertinya tidak sependapat dengan gurunya itu [Abu Arubah] buktinya Ibnu Ady tidak berhasil menunjukkan satu hadispun sebagai bukti kedustaan Mahfuzh. Ibnu Ady hanya membawakan satu hadis maudhu’ mungkar dan ia sendiri memastikan kalau yang memalsukan hadis itu bukan Mahfuzh tetapi Umar bin Musa. Hanya saja dalam Al Kamil 6/441 Ibnu Ady mengatakan kalau Mahfuzh memiliki hadis-hadis maushul [bersambung] dimana yang lain mengirsalkan hadis tersebut dan ia memarfu’kan hadis-hadis dimana yang lain memauqufkannya. Kami akan buktikan nanti kalau perkataan Ibnu Ady tidaklah benar apalagi Ibnu Ady tidak menunjukkan satupun hadis-hadis Mahfuzh yang ia katakan maushul tetapi yang lain mengirsalkannya. Yang ingin kami garisbawahi disini adalah Ibnu Ady tidak berhasil menunjukkan satu hadispun sebagai bukti cacatnya Mahfuzh bin Bahr Al Anthaky.



Hadis-hadis Mahfuzh bin Bahr Al Anthaky

Mahfuzh bin Bahr Al Anthaky bukanlah perawi yang memiliki banyak hadis. Kami menemukan lima hadis yang diriwayatkan oleh Mahfuzh bin Bahr [selain hadis Madinatul hikmah]

1. Hadis Mahfuzh bin Bahr dalam Mu’jam Al Awsath At Thabrani 2/75 no 1294. Hadis ini adalah hadis shahih dari Qasim dari Aisyah RA, hadis ini diriwayatkan pula dalam Sunan Abu Dawud 1/118 no 261 [shahih menurut Syaikh Al Albani]

2. Hadis Mahfuzh bin Bahr dalam Mu’jam Al Awsath At Thabrani 6/47 no 5754. Hadis ini adalah hadis hasan dari Ibnu Umar sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Jami’ As Shaghir no 3045 dan Silsilah Ahadits As Shahihah no 1802 [hasan menurut syaikh Al Albani]

3. Hadis Mahfuzh bin Bahr dalam Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 4/18 no 3521. Hadis ini adalah hadis shahih dari Habib bin Maslamah diriwayatkan pula dalam Musnad Ahmad 4/159 no 17497 &17498 [shahih oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth] dan diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud 2/88 no 2748 [shahih oleh Syaikh Al Albani]

4. Hadis Mahfuzh bin Bahr dalam Mu’jam Al Awsath 6/68 no 5814. Hadis ini adalah hadis Ubaidah dari Ibnu Mas’ud yang diperselisihkan sanad-sanadnya. Daruquthni dalam Al Ilal no 809 menyebutkan kalau hadis ini juga diriwayatkan dari Al ‘Amasy dan Abul Jahhaf dari Amru bin Murrah dari Abdullah bin Salamah dari Ubaidah dari Ibnu Mas’ud. Sedangkan sanad Thabrani adalah dari Mahfuzh dari Abu Maryam Abdul Ghaffar bin Qasim dari Amru bin Murrah dari Ibrahim bin Yazid dari Ubaidah dari Ibnu Mas’ud. Daruquthni mengatakan sanad Amasy dan Abu Jahhaf lebih shahih. Jika kita menjamak kedua sanad tersebut maka mungkin saja Amru bin Murrah meriwayatkan hadis tersebut dari Abdullah bin Salamah dan Ibrahim An Nakha’i yang keduanya meriwayatkan dari Ubaidah. Jika memang mau mentarjih maka jalan Abdullah bin Salamah lebih shahih karena jalan Ibrahim An Nakha’i [riwayat Mahfuzh] dalam sanadnya terdapat Abu Maryam Abdul Ghaffar bin Qasim yang didhaifkan sebagian ulama.

5. Hadis Mahfuzh bin Bahr dalam Mu’jam Al Awsath Ath Thabrani 6/67 no 5813. Hadis ini adalah hadis Ibnu Abbas dengan sanad yang dhaif. Mahfuzh meriwayatkan hadis ini dari Walid bin Abdul Wahid dari Umar bin Musa bin Wajih dan sebagaimana disebutkan sebelumnya Umar bin Musa bin Wajih adalah seorang pemalsu hadis.

Kami telah meneliti hadis-hadis Mahfuzh bin Bahr tersebut dan kami menemukan hadis-hadisnya terbagi menjadi

* Hadis-hadis Mahfuzh dimana hadis tersebut memiliki syahid atau penguat dari yang lain [hadis pertama, kedua, ketiga, dan keempat]

* Hadis-hadis Mahfuzh yang dhaif tetapi penyebab kedhaifannya berasal dari perawi lain, dengan kata lain Mahfuzh tidak tertuduh dalam hadis tersebut [hadis keempat dan kelima].

Dari hadis-hadis yang dimiliki Mahfuzh bin Bahr tidak ada petunjuk yang menguatkan perkataan Ibnu Ady kalau Mahfuzh sering menyambungkan hadis yang diirsalkan oleh perawi lain. Oleh karena itu perkataan Ibnu Ady tidak bisa diterima apalagi Ibnu Hibban dengan jelas menyebutkan kalau Mahfuzh bin Bahr Al Anthaky seorang yang hadisnya lurus dan dengan melihat hadis-hadisnya maka memang demikianlah keadaannya.

Pembahasan panjang lebar ini membuktikan kalau jarh terhadap Mahfuzh tidaklah tsabit. Tuduhan dusta Abu Arubah itu tidak bisa dijadikan pegangan dan pada kenyataannya memang cukup banyak perawi tsiqah yang dituduh dusta seperti

* Ibnu Ishaq yang dituduh dusta oleh Malik, Hisyam dan Yahya atau

* Ibnu Qutaibah yang dikatakan dusta oleh Al Hakim atau

* Ibnu Abi Dawud yang dinyatakan dusta oleh Ibrahim Al Ashbahan dan Abu Dawud atau

* Abu Bakar Al Baghandi Muhammad bin Muhammad bin Sulaiman yang dinyatakan dusta oleh Ibrahim Al Ashbahan.

Tuduhan-tuduhan tersebut tidak dijadikan pegangan oleh para ulama sehingga baik Ibnu Ishaq dan Ibnu Qutaibah tetap dinyatakan tsiqah begitu pula Ibnu Abi Dawud dan Abu Bakar Al Baghandi.

Mengenai Mahfuzh bin Bahr Al Antakhy dia seorang tsiqah yang hadisnya lurus [seperti yang dikatakan oleh Ibnu Hibban] apalagi telah meriwayatkan hadis darinya para hafizh yang tsiqah.

* Al Hafizh Muhammad bin Auf Al Himshi meriwayatkan hadis dari Mahfuzh bin Bahr [Min Hadits Khaitsamah bin Sulaiman 1/184 no 174]

* Al Hafizh Muhammad bin Abdullah Al Hadhramy seorang hafiz yang tsiqat [Tarajum Syuyukh Thabrani no 943] telah meriwayatkan hadis dari Mahfuzh bin Bahr [Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 4/18 no 3521]

* Al Hafizh Ahmad Abu Bakar Baghdad seorang hafiz yang tsiqat tsiqat [Tarajum Syuyukh Thabrani no 195] meriwayatkan hadis dari Mahfuzh bin Bahr [Mu’jam Al Awsath At Thabrani 2/75 no 1294]

* Al Hafizh Utsman bin Abdullah bin Muhammad Al Anthaky seorang hafiz yang tsiqat [Siyar ‘Alam An Nubala 13/379] meriwayatkan hadis dari Mahfuzh bin Bahr [Al Laly Al Mashnu’ah As Suyuthi Manaqib Khulafa Al Arba’ah pembahasan hadis Rad Al Syam]


Kesimpulan

Hadis Madinatul Hikmah di atas adalah hadis yang shahih karena telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat. Beberapa ulama seenaknya mencacatkan Mahfuzh dikarenakan ia meriwayatkan hadis ini seperti yang dilakukan Adz Dzahabi [Al Mizan juz 3 no 7092] dan Ibrahim Sibth Ibnu Ajami [Kasyf Al Hatsits no 601]. Mereka berdua menyatakan kalau Mahfuzh yang memalsukan hadis ini. Mereka berdua sudah dari awal menganggap hadis ini palsu sehingga ketika mereka menemukan sanad Khaitsamah bin Sulaiman ini maka mereka berusaha mencari-cari kelemahan sanad tersebut. Berbeda halnya dengan Ibnu Hajar ia berpendapat kalau Mahfuzh tidak memalsukan hadis ini karena hadis ini telah diriwayatkan oleh perawi yang lainnya dari Abu Muawiyah [Lisan Al Mizan juz 5 no 70]. Seperti yang sudah kami jelaskan mereka berdua [Adz Dzahabi dan Sibth Ibnu Ajami] hanya mengutip perkataan Abu Arubah yang mendustakan Mahfuzh. Perkataan ini mereka jadikan dasar untuk mencela Mahfuzh karena diantara perawi lain hanya Mahfuzh yang bisa dijadikan sasaran untuk menyatakan hadis ini palsu yaitu dengan berpegang pada Abu Arubah yang mendustakan Mahfuzh. Padahal perkataan Abu Arubah ini tidak bisa dijadikan pegangan seperti yang telah dibahas sebelumnya. Wallahu’alam.

Sabda Nabi saw: “Ali dariku dan aku dari Ali”


Oleh: Syamsuri Rifai

Dalam Shahih Bukhari, kitab Ash-Shalh, bab kayfa yaktub: Hadza mashalaha fulan bin fulan:
Al-Barra’ bin ‘Azib berkata: Pada bulan Dzul Qa’idah Nabi saw melakukan umrah. Penduduk Mekkah enggan mengundang beliau untuk berkunjung ke Mekkah, sehingga beliau memutuskan untuk muqim di Mekkah selama tiga hari. Ketika beliau menyuruh menulis surat: “Ini adalah ketentuan Muhammad Rasul Allah.” Kemudian mereka berkata: Kami tidak menetapkan hal itu, sekiranya kami mengetahui bahwa engkau adalah utusan Allah, apa yang menghalangi kami terhadapmu, engkau hanyalah Muhammad putera Abdullah. Nabi saw bersabda: “Aku adalah utusan Allah dan aku adalah Muhammad putera Abdullah.

Kemudian Nabi saw bersabda kepada Ali (as): Hapuslah kalimat ‘Rasul Allah’. Ali (as) berkata: Tidak, demi Allah, aku selamanya tidak akan menghapusmu. Kemudian Nabi saw mengambil surat itu, lalu menulis: Ini adalah ketetapan Muhammad bin Abdillah: Kami akan datang ke Mekkah bukan untuk peperangan tatapi untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan tidak akan membawa keluar seorang pun penduduk Mekkah yang ingin mengikuti, serta tidak melarang sahabat-sahabatnya yang hendak muqim di dalamnya.

Ketika beliau memasuki Mekkah, berselang beberapa saat, mereka mendatangi Ali (as) lalu berkata: Katakan pada sahabatmu! Keluarlah dari kota kami. Setelah berselang beberapa waktu, Nabi saw meninggalkan Mekkah, kemudian puteri Hamzah mengikuti rombongan Nabi saw sambil memanggil, wahai pamanku wahai pamanku. Kemudian Ali (as) mendekatinya lalu memegang tangannya dan berkata kepada Fatimah (as): Selainmu adalah puteri pamanmu. Kemudian Fatimah (as) membawanya. Lalu terjadi perdebatan antara Ali (as), Zaid dan Ja’far. Ali (as) berkata: Aku lebih berhak terhadapnya, dia adalah puteri pamanku. Ja’far berkata: dia juga puteri pamanku dan bibiknya berada dalam lindunganku. Zaid berkata: dia adalah puteri saudaraku. Kemudian Nabi saw membuat ketetapan dan bersabda: Bibik adalah seperti kedudukan ibu. Dan bersabda kepada Ali (as):


أنت مني وأنا منك


“Engkau dariku dan aku darimu.” Kemudian bersabda kepada Ja’far: “Engkau menyerupai keterciptaabku dan akhlakku.” Dan bersabda kepada Zaid: “Engkau adalah saudaraku dan junjunganku.”

Hadis ini juga disebutkan dalam kitab:

1. Shahih Bukhari, awal penciptaan, bab Umrah qadha’.
2. Sunan Al-Kubra, Al-Baihaqi, jilid 8 halaman 5, bab 13, hadis ke 15768.
3. Khashaish An-Nasa’i, halaman 51.
4. Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1 halaman 98, hadis ke 772.
5. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3 halaman 120.
6. Tarikh Baghdad, Khathib Al-Baghdadi, jilid 4 halaman 140.
7. Musykil Al-Atsar, Ath-Thahawi, jilid 4 halaman 173.

Dalam Shahih Ath-Tirmidzi 2: 297, kitab manaqib, bab 20:Imran bin Hashin berkata: Pada suatu hari Rasulullah mengirim pasukan di bawah pimpinan Ali bin Abi Thalib (as). Setelah peperangan itu terjadilah musibah pada seorang budak perempuan, lalu mengingkarinya. Empat orang dari sahabat Nabi saw saling berjanji dan berkata: Jika nanti kami berjumpa dengan Rasulullah saw, kami akan memberitakan kepadanya apa yang dilakukan oleh Ali (as). Ketika kaum muslimin kembali dari perjalanannya, mereka menjumpai Rasulullah saw, lalu mengucapkan salam padanya lalu mereka pulang. Kemudian datanglah rombongan pasukan dan mereka mengucapkan salam kepada Nabi saw, lalu berdirilah salah seorang dari empat orang sahabat itu dan berkata: Ya Rasulallah, tidakkah melihat Ali bin Abi Thalib melakukan demikian dan demikian? Kemudian Nabi saw berpaling darinya. Kemudian yang satu lagi berdiri dan berkata seperti yang pertama, kemudian Nabi saw berpaling darinya. Kemudian yang ketiga berdiri dan berkata dengan perkataan yang sama, kemudian Nabi saw berpaling darinya. Kemudian yang keempat berdiri dan berkata dengan perkataan yang sama. Lalu Rasulullah saw menghadap kepada mereka dengan nampak marah di wajahnya dan bersabda:

ما تريدون من عليّ ؟ ما تريدون من عليّ ؟ ما تريدون من عليّ ؟ إن علياً مني وأنا منه ، وهو ولي كل مؤمن بعدي


“Apa yang kalian inginkan dari Ali? Apa yang kalian inginkan dari Ali? Sesungguhnya Ali adalah dariku dan aku darinya, dia adalah pemimpin setiap mukmin sesudahku.”

Hadis ini juga terdapat dalam kitab:

1. Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 4 halaman 437, hadis ke 19426.
2. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3 halaman 110, kitab Ma’rifah Ash-Shahabah.
3. Musnad Abu Dawud, jilid 3 halaman 111, hadis 829.
4. Hilyah Al-Awliya’, Abu Na’im, jilid 6 halaman 294.
5. Kanzul Ummal, Al-Muttaqi Al-Hindi, jilid 6 halaman 399: Fadhail Ali (as).
6. Khashaish An-Nasa’i, halaman 23.

Dalam Shahih At-Tirmidzi 2: 299, bab 21, hadis ke 3716:Barra’ bin ‘Azib berkata bahwa Rasulullah saw bersabda kepada Ali (as):

أنت مني وأنا منك


“Engkau dariku dan aku darimu.” (juga dalam Khashaish An-Nasa’i, halaman19)
Dalam Shahih At-Tirmidzi 2: 299, kitab Manaqib, bab 21, hadis ke 3719:Habasyi bin Junadah berkata bahwa Rasulullah saw:

عليّ مني وأنا من عليّ ولا يؤدّي عني إلاّ أنا أو علي


“Ali dariku dan aku dari Ali, dan tidak akan mengenalku yang sebenarnya kecuali aku dan Ali.”

Hadis ini juga terdapat dalam:

1. Sunan Ibnu Majah, halaman 12, Mukaddimah, bab 11, hadis ke 119.
2. Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 4 halaman 164 dan 165, hadis ke 17051, 17052, 17056, 17057, 17058.
3. Khashaish An-Nasa’i, halaman 19 dan 20.
4. Ar-Riyadh An-Nadhrah, Muhibuddin Ath-Thabari, jilid 2 halaman 174.

50 Butir Akhlak Mulia







(Bimbingan Menjadi Orang yang Berbudi Mulia)


Oleh:

Syaikh Abbas Al-Qummy


Penerjemah: Abu Qurba Amin

Judul asli: Khamsuna Darsan fil Akhlak





Daftar Isi:

Pengantar penerjemah
Pengantar peneliti
Sekilas riwayat hidup Syaikh Abbas Al-Qummy
Mukadimah penulis
Pelajaran pertama: Khauf dan khasyyah
Pelajaran kedua : Al-Raja' (Harapan)
Pelajaran ketiga : Girah dan Himyah (Cemburu dan Memelihara)
Pelajaran keempat : Tercelanya tergesa-gesa
Pelajaran kelima : Ghadab (Marah)
Pelajaran keenam : Al-Hilmu (Lembut)
Pelajaran ketujuh : Al-'Afwu (Memaafkan)
Pelajaran kedelapan : Al-Rifqu (Lemah lembut)
Pelajaran kesembilan : Akhlak Buruk
Pelajaran kesepuluh : Permusuhan dan Caci Maki
Pelajaran kesebelas : Ujub (Bangga diri)
Pelajaran kedua belas : Takabbur (Angkuh) dan
Tawadhu (Rendah Hati)
Pelajaran ketiga belas : Al-Qasawah (Keras hati)
Pelajaran keempat belas : Asy-Syarrah (Keburukan)
Pelajaran kelima belas : Hubb ad-Dunya (Cinta dunia)
Pelajaran keenam belas : Al-Faqr (Fakir)
Pelajaran ketujuh belas : Memohon
Pelajaran kedelapan belas : Al-Hirsh (Rakus)
Pelajaran kesembilan belas : Tamak (Serakah)
Pelajaran kedua puluh : Bakhil (Kikir)
Pelajaran kedua puluh satu : As-Sakho (Murah hati)
Pelajaran kedua puluh dua : Menghindari harta haram
Pelajaran kedua puluh tiga : Percakapan yang Tidak Bermanfaat.
Pelajaran kedua puluh empat : Hasad (Iri hati)
Pelajaran kedua puluh lima : Merendahkan orang lain
Pelajaran kedua puluh enam : Dzalim dan kasar
Pelajaran kedua puluh tujuh : Memenuhi hajat muslimin
Pelajaran kedua puluh delapan : Membahagiakan hati mukmin
Pelajaran kedua puluh sembian: Amr ma'ruf dan nahi munkar Pelajaran ketiga puluh : Kekeluargaan
Pelajaran ketiga puluh satu : Silaturahmi
Pelajaran ketiga puluh dua : Menyakiti kedua orang tua
Pelajaran ketiga puluh tiga : Perhatian kepada tetangga
Pelajaran ketiga puluh empat : Mencari aib orang lain
Pelajaran ketiga puluh lima : Menjaga rahasia
Pelajaran ketiga puluh enam : Menggunjing
Pelajaran ketiga puluh tujuh : Kegirangan
Pelajaran ketiga puluh delapan : Bertengkar dan berdebat
Pelajaran ketiga puluh sembilan : Mengolok-olok dan mengejek
Pelajaran keempat puluh : Berlebihan dalam bercanda
Pelajaran keeempat puluh satu : Ghibah
Pelajaran keempat puluh dua : Bohong
Pelajaran keempat puluh tiga : Bahaya lisan
Pelajaran keempat puluh empat : Hubburiyasah
(Cinta Kekuasaan)
Pelajaran keempat puluh lima : Khumul (Tak ingin dikenal)
Pelajaran keempat puluh enam : Riya' (Pamer)
Pelajaran keempat puluh tujuh : Panjang angan-angan
Pelajaran keempat puluh delapan : Ridha
Pelajaran keempat puluh sembilan : Sabar
Pelajaran kelima puluh : Syukur
Penutup
Pengantar penerjemah

Beberapa bulan silam, hamba yang dha'if ini diminta oleh salah seorang rekan karib -yang aktif dalam bidang dakwah dan membantu berbagai kesulitan kaum dhu'afa dan fakir miskin- untuk menterjemahkan sebuah kitab akhlak yang ukurannya nampak kecil dan ringkas, namun isinya penuh dengan berbagai mutiara indah dan mahal harganya. Akhuna Syaikh Abu Zahra, terus saja mendesak hamba untuk segera melakukan usaha penerjemahan kutaib tersebut. Dengan rasa berat hati, mengingat saya sendiri belum mampu mengamalkan sebagian kecil isi dan kandungan kutaib tersebut, apalagi memahami dan mengamalkan seluruh yang dituangkan di dalam kutaib tersebut. Di samping itu pula banyaknya kesibukan, baik yang berhubungan dengan studi mapun aktivitas lainnya yang berupa situs, ta'lif, terjemah istiftaat, dll.

Ya, akhirnya -dengan bertawakal kepada Allah Swt dan dengan tujuan ishlahu nafsiy- permohonan itu saya kabulkan. Dan dengan bantuan istri Muhammad Adlany, akhirnya terjemahan ini dapat kami rampungkan juga, walaupun tentunya masih banyak kekurangan di sana-sini. Kepada Akhi ustadz Muhammad Adlany sekeluarga, saya ucapkan banyak terimakasih yang telah banyak membatu saya, baik dalam menerjemahkan kutaib ini maupun kegiatan terjemahan lainnya, seperti di situs : www.telagahikmah.org, www.albalaghalmobeen.net, di daftar Rahbar Hf dan lain-lain.
Ucapan terimakasih yang tak terhingga -secara khusus- saya sampaikan kepada Umu Qurba tercinta, puteri mertua saya, yang telah banyak mengorbankan tenaga, pikiran dan waktunya demi membantu ayah kedua orang puteranya (Ahmad Zainal Qurba Amin dan Muhammad Baqir Amin) dalam menjalankan berbagai aktivitas, baik di hauzah maupun di masyarakat sekitar.
Pahala sederhana yang mungkin saya peroleh dari upaya menerjemahkan kutaib ini, saya hadiahkan kepada penghulu seluruh wanita alamin, buah hati dan belahan dada Rasulullah Saw, Ummul Hasanain As; Fatimah Az-Zahra (salamullahi 'alaiha). Dengan wasilah ini saya berharap kiranya beliau pun sudi memberikan bantuan dan syafa'atnya kepada Ummu Qurba tercinta sekeluarga, baik selama hayat di alam fana ini, maupun di alam barzakh dan pada hari ketika semua amal ibadah dihisab. Amin……

Harapan dan doa saya, semoga kiranya usaha penerjemahan kandungan kutaib akhlak yang berat ini menjadi pemicu saya dan keluarga untuk dapat sedikit demi sedikit memahami dan mengamalkannya. Dan menjadi bekal yang berharga bagi kami dan pembaca budiman lainnya untuk kembali ke wathan asli (alam akhirat). Tak lupa pula kami senantiasa mohon doa dari para pembaca yang budiman agar kami diberikan karunia Khusnul Khatimah dalam kehidupan di dunai yang fana ini.

Akhirul kalam, Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Qum al-Muqaddasah
Akhir Dzul Qa'dah 1426 H
Al-Ahqar: Abu Qurba Amin



Pengantar Peneliti

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah Swt yang mengatur alam semesta. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi besar Muhammad Saw dan seluruh keluarganya yang suci dan mulia ( alaihim salamullahi ajma'in ) dan semoga pula laknat dan kutukan Allah Swt senantiasa ditimpakan kepada musuh-musuh mereka sejak sekarang sampai tiba hari kiamat.
Amin Ya Rabbal Alamin……

Ilmu akhlak merupakan persoalan sosial yang paling utama. Bahkan akhlak merupakan pondasi kehidupan sosial. Karena suatu masyarakat dan bangsa akan jaya dan maju dengan mengamalkan nilai-nilai akhlak yang luhur, bukan dengan kebudayaannya dan bukan pula dengan usianya yang tua. Tanpa menjunjung nilai-nilai akhlak, kehidupan umat manusia akan sirna dan bumi ini akan menjadi hutan belantara yang dikuasai oleh orang-orang yang kuat, sementara mereka yang lemah akan hidup teraniaya sepanjang hayatnya.
Sesungguhnya akhlak dapat dijadikan sebagai tolok ukur dan barometer bagi hal-hal lainnya. Setiap orang yang mengkaji perilaku Ahlul Bait As dan riwayat-riwayat mereka, pasti mengetahui bahwa ahklak yang baik akan menjadi sebab masuknya seseorang ke dalam surga di akhirat kelak. Sedangkan di dunia, akhlak merupakan wasilah untuk meningkatkan derajat seseorang kepada kesempurnaan.
Rasulullah Saw diutus untuk seluruh umat manusia pada masa di mana kesesatan, kerusakan dan kebingungan menyelimuti seantero jagat raya. Beliau bersabda:
"Aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak dan budi pekerti yang mulia"
Beliau Saw mengetahui betul akan hakikat akhlak mulia dan sejauh mana pengaruhnya terhadap masyarakat dan sosial. Mengingat pentingnya akhlak dan peranannya yang aktif dalam jiwa setiap manusia, maka kita lihat bahwa Allah Swt memuji rasul-Nya yang mulia dengan akhlaknya yang baik. Allah Swt. berfirman:
"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung".
Beliau Saw merupakan manusia maksum yang sempurna dalam segala hal dan dimensi. Ketika beliau berada pada titik kesempurnaan insaniahnya yang tinggi, Allah Swt memilih beliau sebagai kekasih-Nya dan memujinya dengan ungkapan yang ringkas tetapi mengandung nilai yang begitu tinggi dan makna yang dalam dengan ungkapan : "Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung".

Oleh karena itu betapa agung dan mulia nilai akhlak yang baik di sisi Allah Swt sehingga Dia memilihnya dengan seluruh sifat-sifat dan kesempurnaan nabawiyah. Di samping itu kita perhatikan -di sepanjang perjalanan sejarah kehidupan manusia- bahwa sesungguhnya orang-orang yang berakhlak mulia memiliki nama baik dan harum yang abadi di tengah-tengah masyarakatnya lantaran akhlak dan budi pekertinya yang luhur. Dan mereka senantiasa dikenal oleh generasi berikutnya di sepanjang hari dan tahun. Sebaliknya orang-orang yang berakhlak buruk senantiasa menerima hujan laknat dan kutukan di sepanjang sejarah akibat akhlak mereka yang buruk dan hati mereka yang keras. Oleh karena itu kita melihat bahwa para ulama yang mengetahui rahasia dan kemuliaan berusaha menyebarluaskan akhlak di tengah-tengah masyarakat, mereka berupaya keras untuk menulis dan menyusun berbagai macam kitab akhlak di sepanjang kurun dan waktu. Di antara mereka adalah:

1. Aminul Islam Fadl bin Hasan At Tabarsi, penulis kitab tafsir Majma'ul Bayan. Beliau termasuk ulama yang hidup pada abad ke 6 Hijriyah dan wafat pada tahun 548 H. Beliau menyusun sebuah kitab akhlak yang berjudul al-Adabu Diniyyah (Adab-adab Agama).
2. Ibnu Aminul Islam Radliyuddin abi Nashr At Tabarsi. Beliau menulis sebuah kitab yang cukup terkenal yang diberi nama Makarimul Akhlak (Akhlak-akhlak yang mulia).
3. Putra penulis kitab Makarimul Akhlak yang bernama Abil Fadl 'Ali at Tabarsi yang wafat pada permulaan abad ke 7 Hijriyah. Beliau menulis sebuah kitab yang diberi nama Misykatul Anwar fi Ghuraril Akhbar.
4. Hujjah Nashiruddin Thusi yang wafat pada th. 672 Hijriyah. Beliau menulis sebuah kitab yang bernama Aushaful Asyraf (Sifat-sifat orang mulia).
5. Muhammad bin Muhammad As Sabzawari, ulama yang hidup pada abad ke 7 Hijriyah. Beliau menulis sebuah kitab yang bernama Jami'ul Akhbar (Penghimpun riwayat-riwayat).
6. 'Allamah Muhammad Baqir Al Majlisi, penulis kitab Biharul Anwar. Beliau menulis sebuah kitab yang bernama Khilyatul Muttaqin (Hiasan orang-orang taqwa).
7. Al Faidh Al Kasyani. Beliau menulis sebuah kitab yang bernama al- Mahajjatul Baidha.
8. As Syaikh Al Jalil Muhammad Mahdi An Niraqy yang wafat pada tahun 1209 H. Beliau menulis sebuah kitab yang bernama Jami'u as- Sa'adah ( Penghimpun Kebahagiaan).
9. As Sayid Abdullah Syubbar yang wafat pada tahun 1232 Hijriyah. Beliau menulis sebuah kitab yang bernama al Akhlak.
10. Termasuk di antara mereka yang mulia adalah as-Syaikh Al Muhaddis Tsiqah Abbas al Qummy ra penulis sebuah kitab yang ternama bernama Mafatihul Jinan. Beliau dikenal dengan keikhlasan, taqwa, zuhud dan wara'nya. Beliau dilahirkan pada tahun 1294 Hijriyah dan wafat pada tahun 1359 Hijriyah. Sepanjang hayatnya beliau telah menulis beberapa kitab berharga yang memenuhi perpustakaan-perpustakaan Islam. Di antaranya adalah kitab Akhlak yang kini berada di hadapan pembaca. Kitab ini berisi lima puluh pelajaran akhlak yang disiapkan sebagai pelajaran yang ringkas dan bermanfaat dan betul-betul dibutuhkan.
Kitab ini pada awalnya ditulis dengan bahasa Persia, beberapa tahun kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan pada cetakan-cetakan berikutnya telah dilakukan perbaikan dan penyempurnaan.

Semoga Allah Swt dapat menerima jerih payah yang sederhana ini dan kita mohon kepada-Nya agar mendapat taufik untuk mengamalkan pelajaran-pelajaran akhlak yang mulia ini dengan haq Muhammad dan keluarganya.

Amin Yaa Rabbal 'Alamin.

18 Syawal 1424 H.
Nezar Ni'matul Hasan.
Qom al Muqaddasah


SEKILAS RIWAYAT HIDUP SYAIKH ABBAS AL-QUMMI

Syeikh Abbas Al Qummy, sebagaimana yang tertulis di dalam kitab Al Fawaaidur RadHawiyyah dilahirkan pada tahun 1294 Hijriyah di kota suci Qum. Beliau hidup di kota tersebut sejak masa kecil hingga masa remaja dan akhir hayatnya. Di kota kelahirannya itu pula beliau mempelajari berbagai mata pelajaran mukadimah, mulai dari ilmu-ilmu fiqih dan usul. Pada tahun 1316 H. Al Muhaddis Al Qummy pergi merantau ke kota Najaf Asyraf - Irak untuk melanjutkan studinya. Di sana beliau mengikuti khlaqah-khlaqah pelajaran yang disampaikan oleh para ulama terkenal dan guru-guru besar. Tetapi minat beliau dalam mempelajari ilmu hadist lebih tinggi daripada minatnya mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya. Sejak saat itulah beliau bertekad untuk berusaha mendalami ilmu hadist dan berusaha keras dalam mengkajinya. Oleh karena itu beliau senantiasa mendatangi seorang muhaddist ternama dan 'alamah besar yaitu Mirza Husain An Nury penulis kitab Mustadraqul Wasaail. Dari beliaulah Syeikh Abbas Al Qummy banyak mengambil pelajaran-pelajaran dan pancaran ilmu pengetahuannya.
Sifat zuhudnya

Kehidupan Syeikh Abbas Al Qummy jauh lebih sederhana dibanding rata-rata orang lainnya. Aba'ah yang senantiasa beliau kenakan terbuat dari bahan yang kasar, tetapi selalu berbau harum dan bersih, dan beliau tidak pernah menggantinya selama beberapa tahun karena beliau tidak pernah memikirkan kekayaan dan bagaimana berhias. Beliau sama sekali tidak menggunakan saham Imam Zaman As untuk keperluan hidupnya, beliau berkata: " Aku tidak pantas untuk itu ". Beliau sangat berhati-hati dalam hal makan dan minum dan senantiasa khawatir akan terkena hal-hal yang syubhat. Pada suatu hari dua orang perempuan syiah dari India mendatanginya, kedua wanita tersebut ingin memberikan uang sejumlah 75 rupee India sebagai syahriyah atau bia siswa untuk keperluan hidup beliau sehari-hari, tetapi beliau menolaknya. Pengeluaran beliau pada setiap bulannya -ketika itu- kira-kira sebesar 50 rupee. Salah seorang kerabatnya memaksa beliau untuk menerima pemberian tersebut, tetapi beliau menjawab dan mengatakan: "Sesungguhnya aku tidak tahu bagaimana aku harus memberikan jawaban di hadapan Allah pada hari kiamat tentang uang yang akan aku gunakan sekarang ini. Betapa beratnya tanggung jawabku untuk menerima unag tersebut ".
Keikhlasan beliau

Pada suatu hari beliau berkata kepada putranya: " Setelah aku menulis kitab Manazilul Akhirah (Peringkat-peringkat Hari Akhirat) dan mencetakknya, aku pergi mengunjungi kota suci Qom. Di sana aku lihat kitabku itu sampai di tangan Syeikh Abdul Razak di mana beliau senantiasa memberikan nasihat kepada masyarakat di Haram Sayyidah Maksumah As setiap sebelum shalat Dzuhur. Ayahku Muhammad Ridha yang termasuk murid Syeikh Abdul Razaak hadir pula ketika itu. Syeikh Abdul Razak membuka kitab Manazilaul Akhirat-ku tersebut kemudian membacakannya di hadapan hadirin. Suatu hari ayahku datang ke rumahku dan berkata kepadaku: " Wahai Syeikh Abbas seandainya saja engkau seperti Syeikh Abdul Razak yang senantiasa naik ke atas mimbar dan membacakan kitab ini ?". Ketika itu aku diam dan tidak memberikan jawaban bahwa kitab tersebut sebenarnya adalah kitabku. Tapi aku berkata kepada ayahku: " Wahai ayahku berdoalah untukku semoga Allah Swt memberikan taufik untuk hal itu".

Syeik Muhaddis Al Qummy adalah seorang yang wara', ikhlas, tidak pernah meninggalkan shalat malam, shaleh , muallif, muhaddis dan mempunyai keperdulian yang tinggi terhadap kitab-kitab, terutama kitab-kitab yang menjelaskan tentang ilmu-ilmu Ahlul Bait As yang berupa hadist-hadist, doa-doa dan yang lainnya. Beliau telah menulis puluhan kitab-kitab yang berharga di antaranya ialah Safinatul Bihar, Mafatihul Jinan, Nafsul Mahmum, Al Fawaaidur Radhawiyyah, Muntahal Aamal, lima puluh pelajaran akhlak dan yang lainnya yang beliau tulis dengan bahasa Persia yang kemudian diterjemahan ke dalam bahasa Arab.

Akhirnya, semoga kita dapat menggunakan waktu-waktu kita dengan baik dan tidak menyia-nyiakannya dengan banyak berkata-kata yang tidak ada manfaatnya sehingga Allah Swt menganugerahkan kita kesempatan untuk dapat mengkaji kitab-kitab beliau yang sarat dengan ilmu pengetanuan Ahlul Bait As tersebut dan dapat pula memahaminya dan mengamalkannya dengan baik dan ikhlas. Amin………

Mukadimah Penulis

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah yang mengatur seluruh alam jagat raya, salawat dan salam sejahtera semoga senantiasa tercurah atas nabi besar Muhammad Saw dan keluarganya yang suci As.
Sesungguhnya hamba yang telah patah kedua sayapnya ini, lemah kondisinya dan telah terjerembab ke dalam tangga angan-angan dan khayalan -yang bernama Abbas bin Muhammad Ridha al Qummy, semoga Allah memperlihatkan berbagai aib dan cacat dirinya dan menjadikan masa depan kondisi hatinya lebih baik daripada hari-hari sebelumnya- berkata:

"sesungguhnya buku sederhana ini mencakup beberapa kalimat yang indah dan nasihat-nasihat serta hikmah-hikmah yang mulia. Aku berharap kiranya orang-orang yang mempunyai akal sehat tidak hanya melihatnya sebagai coretan-coretan dan tulisan-tulisan belaka, tetapi hendaknya mereka melihatnya sebagai mutiara-mutiara yang tinggi dan merekam semua ini di telinga-telinga mereka untuk kemudian mengamalkan kandungannya. Dan aku juga mengharap agar mereka tidak melupakan kami; seorang durjana dan lalai ini dengan doa-doa kebaikan".
Pelajaran Pertama: Khauf dan Khasyyah

Wahai sudaraku yang mulia, takutlah kepada Allah 'azza wa jalla dan ingatlah akan keagungan dan kebesaran-Nya, hendaklah engkau senantiasa memikirkan tentang hal ihwal hari perhitungan amal dan ingatlah berbagai macam azab Allah Swt. Gambarkanlah tentang kematian dan kesulitan yang akan terjadi di alam barzakh dan pembalasan pada hari kiamat, baca dan renungkanlah ayat-ayat dan riwayat-riwayat yang berhubungan dengan surga, neraka dan hal ihwal orang-orang yang takwa dan orang-orang yang saleh. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya setiap kali makrifah dan pengetahuan seorang hamba tentang kebesaran Khaliq Sang Pencipta yang Maha Agung itu bertambah, maka ia akan lebih banyak mengetahui aib dan cacat dalam dirinya dan akan bertambah pula rasa takutnya kepada Allah Swt. Sesungguhnya Allah Swt menisbatkan khauf dan khasyyah kepada-Nya dengan takut dan khasyyahnya para ulama. Allah Swt berfirman:
"Sesungguhnya di antara para hamba-hamba- Nya hanya para ulamalah yang takut kepada Allah Swt "(Qs. al-Faathir:28)
Rasulullah Saw bersabda:
" Sesungguhnya aku adalah hamba yang paling takut kepada Allah Swt"[1]
Seorang perawi yang bernama Sa'labi meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Abi Ishaq dari Abi Huzaifah bahwa seorang sahabat nabi berkata kepada beliau: "Ya Rasulallah, betapa cepatnya engkau beruban",
Rasul Saw menjawab:
"Sesungguhnya Hud dan saudari-saudarinya telah membuatku beruban"[2]
Di dalam hadis yang lain Rasulullah Sawbersabda:
"Telah membuatku beruban surat Hud, Waqiah, Mursalat, dan 'Amma Yatasaalun"[3]
Walaupun engkau belum pernah berjumpa dan melihat para nabi, tetapi pasti engkau telah mendengar kisah-kisah tentang takutnya para nabi dan para muqarrabbin (orang-orang yang dekat dengan Allah Swt), ghaibubah-nya Amirul mu'minin 'Ali bin Abi Talib As dan tadarruk-nya Sayyidus Sajidin di dalam munajat-munajatnya.
________________________________________
[1]Jam'us-sa'aadat, J. 1, Pasal Khauful-mahmud, hal 218.
[2] Tafsir Nur Tsaqalain, J. 2, hal. 334, dalam tafsir surah Huud.
[3] l Khisal, J.1, hal. 119, Bab keempat.

Pelajaran Kedua: Harapan

Wahai saudaraku yang mulia, janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah Swt. Jadilah orang yang mempunyai harapan dan optimis. Ketahuilah bahwa sesungguhnya dunia ini merupakan ladang akhirat sedangkan hati setiap anak adam merupakan tanahnya. Iman sebagai bibitnya, sementara taat sebagai air yang mengaliri bumi hati dan membersihkannya dari berbagai kotoran maksiat. Dan akhlak yang tercela merupakan duri-duri dan kayu, sedang hari kiamat adalah waktu untuk menuai tanaman tersebut. Ketahuilah barang siapa yang bercocok tanam di dunia ini dengan cara seperti itu kemudian dia memiliki rasa optimis, maka harapannya akan terpenuhi. Jika tidak, maka apa yang telah ia lakukan itu tiada lain kecuali ghurur, congkak dan kebodohannya.

Pelajaran Ketiga: Ghirah dan Himyah (Cemburu dan Memelihara)

Saudaraku yang budiman, janganlah engkau teledor dan lalai dalam menjaga dan memelihara agamamu, kehormatanmu, anak-anakmu dan harta bendamu. Hendaklah engkau senantiasa menolak berbagai bid'ah dari para pembuat bid'ah dan berbagai keraguan para pengingkar agama yang nyata.
Serius dan bersungguh-sunguhlah dalam menyebarkan syari'at yang mulia. Janganlah engkau melalaikan amar maruf dan nahi munkar. Janganlah engkau angkat penutup haibahmu dari wanita-wanita keluargamu dan kerabatmu. Berusahalah semampu mungkin agar para wanita keluargamu tidak memandang lelaki. Cegahlah mereka dari segala sesuatu yang kemungkinan dapat merusak iman dan akhlak mereka, seperti mendengarkan musik dan lagu-lagu, keluar dari rumah dan berkumpul dengan orang-orang yang tidak dikenal serta mendengarkan kisah-kisah dan cerita-cerita yang membangkitkan syahwat. Berlakulah lemah lembut kepada mereka dan seriuslah dalam meneliti dan memperhatikan hal ihwal mereka.

Pelajaran Keempat: Tercelanya Tergesa-gesa

Anakku yang baik, janganlah engkau tergesa-gesa dan terburu-buru dalam suatu urusan. Hendaklah engkau memikirkan segala perbuatan dan ucapan-ucapanmu terlebih dahulu. Ketahuilah bahwa segala urusan yang dilakukan oleh seseorang tanpa berfikir terlebih dahulu akan mengakibatkan kerugian dan menyebabkan pelakunya menyesal. Setiap ketergesa-gesaan dan gampangnya mengeluarkan pendapat dan pandangan, dapat menjadikannya hina di hadapan orang-orang dan tidak akan mendapat tempat nantinya di hati mereka.
Pujangga Sa'di berkata: "Sesungguhnya segala amal perbuatan itu dapat dikerjakan dengan baik dengan kesabaran, pertimbangan dan berfikir. Setiap orang yang tergesa gesa pasti akan jatuh. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri di padang pasir, bagaimana orang yang berjalan perlahan-lahan, lambat dan berhati-hati akan tiba terlebih dahulu. Sementara kuda yang berlari kencang jatuh tersungkur. Lihatlah bagaimana unta dapat menyelesaikan perjalanannya yang jauh dengan hati-hati dan perlahan-lahan".

Pelajaran Kelima: Ghadhab (Marah)

Saudaraku yang budiman, berusahalah sebisa mungkin untuk tidak marah dan murka. Hiasilah jiwa dan dirimu dengan hiasan kesabaran dan ketabahan. Ketahuilah sesungguhnya marah dan murka itu merupakan kunci segala keburukan dan bisa jadi bahwa puncak kemarahan itu akan mengakibatkan kepada kematian secara tiba-tiba.
Rasulullah Saw. bersabda:
"Sesungguhnya murka dan marah itu dapat merusak iman sebagaimana cuka dapat merusak madu"[1]
Cukuplah terhinanya murka dan marah sebagai pelajaran bagimu, yaitu engkau berfikir dan merenung tentang perbuatan seseorang di saat ia murka dan marah.
________________________________________
[1] Al Kafi, J. 2, hal. 229, Bab Al Ghadhab.

Pelajaran Keenam: Al-Hilmu (Lembut)

Hilm merupakan sikap berhati-hati dan menahan murka sehingga tidak dengan mudah membangkitkan kekuatan marah. Dan sifat hilmini tidak akan mengakibatkan kegoncangan jiwa dan stres sepanjang masa.
Dan kazhmul ghaizh (menahan diri dari murka) adalah merupakan suatu perbuatan menyembunyikan dan mengekang rasa marah. Kedua sifat ini yaitu hilm dan kazhmul ghaizh adalah merupakan akhlak yang sangat baik dan terpuji.
Cukuplah hilm ini merupakan sifat terpuji karena ia banyak terdapat dan disinggung di dalam riwayat-riwayat yang dibarengi dengan al-'ilm (ilmu pengetahuan).
Dikatakan bahwa hilm merupakan garamnya akhlak. Sebagaimana setiap makanan tidak bisa dirasakan nikmatnya kecuali dengan garam, maka begitu pula dengan hilm. Akhlak dan budi pekerti tidak dianggap indah kecuali dengan adanya sifat hilm. Maka sifat hilm bagi setiap akhlak seperti garam bagi setiap makanan.
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As. berkata:
"Sesungguhnya hilm itu merupakan cahaya yang esensinya adalah akal"[1]
Dalam hadist yang lain dikatakan bahwa:
"Sesungguhnya hilm itu merupakan kesempurnaan akal"[2]
Dikatakan pula dalam riwayat yang lain:
"Hilm itu merupakan tatanan urusan seorang mukmin"[3]
Riwayat yang lainnya mengatakan:
" Hilm adalah kekasih dan teman dekat seorang mukmin dan merupakan wazirnya"[4]
Riwayat yang lain lagi mengatakan:
" Keindahan seorang laik-laki terletak pada sifat hilmnya"[5]
Riwayat lainnya lagi mengatakan:
" Barang siapa membuatmu murka dengan melontarkan ucapan buruk kepadamu maka balaslah dengan kebaikan sifat hilm"[6]
Riwayat yang lainnya lagi mengatakan:
" Apabila engkau tidak memiliki sifat hilm maka berusahalah untuk menjadi orang yang halim "[7]


________________________________________
[1]Ghurarul Hikam, hal. 286, hadist ke 6412.
[2]Ibid, hadist ke 6411.
[3]Ibid.
[4]Ibid.
[5] Ibid, hal. 285, hadist ke 6392.
[6] Ibid, hadist ke 6400.
[7]Usul Kafi, J. 2, hal. 92.

Pelajaran Ketujuh: Afwu (Memaafkan)

Maaf adalah merupakan sifat Ilahy, Allah Swt menyebutkan sifat maaf tersebut ketika memberikan pujian dan sanjungan.
Rasulullah Saw. bersabda:
" Sesungguhnya maaf atau memberikan maaf itu lebih berhak untuk dilakukan "
"Sesungguhnya Allah mencintai orang yang memberikan maaf"
" Saling memafkanlah maka kedengkian di antara kalian akan sirna "
" Hendaklah engkau pemberi maaf karena memaafkan itu tidak menambahkan seorang hamba melainkan kemuliaan "[1]
Diriwayatkan dari 'Ali bin al-Husein as-Sajjad As., ia bersabda:
" Engkau ya Allah yang telah menamakan dirimu Pemaaf maka maafkanlah segala kesalahanku "[2]
Ketahuilah wahai saudarakau bahwa sesungguhnya dosa, apabila dosa itu besar maka sesungguhnya keutamaan maaf itu akan menjadi besar pula.
Di dalam sebuah syair di katakan:
Sesungguhnya berlaku buruk pada orang yang berbuat buruk adalah sebuah hal yang mudah. Apabila engkau betul-betul seorang lelaki maka berbuat baiklah kepada orang yang berbuat buruk padamu.
________________________________________
[1] Usul Kafi, J. 2, hal. 88, hadist ke 5, bab 'Afuu.
[2] Lihat Sahifah Sajjadiyah, do'a ke 16.

Pelajaran Kedelapan: Ar-Rifqu(Lemah lembut)

Saudaraku yang mulia, jauhkanlah dirimu sebisa mungkin dari sikap keras dalam perkataan dan perbuatan, karena hal itu merupakan sifat yang buruk yang dijauhkan oleh setiap orang. Keras itu termasuk sifat yang tercela dan apabila engkau menyandangnya, maka orang-orang akan lari darimu dan akan merusak segala urusan hidupmu. Tidakkah engkau melihat bahwa Allah Swt memberikan petunjuk Nya kepada Rasul Nya Saw dengan firmannya:
"Apabila engkau berlaku dan bersifat keras hati maka mereka akan lari meninggalkanmu"[1]
Dan kebalikannya adalah sifat rifq yaitu lemah lembut dalam ucapan dan perbuatan dan hal itu sangat terpuji di dalam berbagai keadaan dan kondisi.
Rasulullah Saw bersabda:
"Sesungguhnya lemah lembut itu tidak diletakkan di atas sesuatu melainkan ia lebih berat "[2]
Dalam hadist lain dikatakan:
"Lemah lembut itu separoh dari kehidupan"[3]
Dalam hadist yang lain lagi di katakan :
"Barang siapa yang diberikan bagian dari sifat lemah lembut maka dia akan diberikan bagian dari kehidupan dunia dan akherat"[4]
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin 'Ali bin Abi Thalib As. :
" Hendaklah engkau bersifat lemah lembut karena hal itu merupakan kunci kebenaran dan sifat mulia bagi orang-orang yang mempunyai akal yang sehat ".[5]


________________________________________
[1]Surah Ali Imran, ayat ke 159.
[2] Mishkatun-nuur lil- Tabarisy, hal. 180.
[3]Usul Kafi, J. 2, hadist ke 11, bab Ar Rifq.
[4]Usul Kafi, J.2, hal. 97.
[5]Lihat Ghurarul Hikam , hal. 24, hadist ke 4967, bab Fadzilatur-rifq.

Pelajaran Kesembilan: Akhlak Buruk

Saudaraku yang mulia, hindarkanlah dirimu dari akhlak yang menyimpang, karena akhlak yang seperti ini akan menjauhkan seseorang dari Khalik dan makhluk Nya, dan dia akan senantiasa mendapatkan azab. Hal ini dikarenakan orang yang berakhlak buruk akan senantiasa tersiksa di tangan musuhnya dimana setiap kali dia pergi ke suatu tempat dia tidak akan pernah terlepas dari cengkeraman balasan.
Dan ketahuilah wahai saudaraku, bahwa akhlak dan budi pekerti yang baik merupakan lebih utama dari sifat-sifat para wali.
Ayat berikut ini merupakan saksi dari apa yang telah tertera di atas dimana Allah Swt berfirman:
"Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Qs. al-Qalam:4).



Pelajaran Kesepuluh: Permusuhan dan Caci Maki

Saudaraku yang mulia, jauhilah kedengkian dan permusuhan karena hal itu hanya akan mengakibatkan penyesalan dan sakit hati di dunia dan juga di akherat. Bahkan efeknya adalah saling melaknat, berkelahi dan menikam. Tidaklah diragukan lagi tentang keburukan sifat-sifat tersebut terutama rasa dengki. Diriwayatkan dari Rasulullah Saw beliau bersabda:
"Sesungguhnya Allah mengharamkan surga bagi setiap pencaci maki dan orang yang mempunyai sedikit rasa malu, yaitu orang yang tidak perduli dengan apa yang ia ucapkan dan dengan apa yang dikatakan orang lain kepadanya. Sesungguhnya apabila engkau melihat dan meneliti hal tersebu,t maka engkau tidak akan mendapatinya melainkan pada seorang anak hasil zina atau teman setan". [1].
Dalam hadist yang lain diriwayatkan dari Rasulullah Saw beliau bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang berbuat keji dan suka mencaci maki". [2].
Dan hadist lainnya
"Sesungguhnya surga itu haram untuk dimasuki oleh orang yang suka mencaci maki".[3]
Diriwayatkan dari Muhammad bin 'Ali al Baqir As beliau bersabda:
"Ucapkanlah kepada manusia sebaik-baiknya ucapan sebagaimana engkau mencintai apa yang diucapkan kepada kalian. Karena sesungguhnya Allah murka kepada para pencaci maki dan orang-orang yang melaknat serta mengutuk atas orang-orang yang beriman yang berbuat keji dan mencaci maki serta yang meminta-minta ".[4]
Pada hadist yang lainnya beliau bersabda:
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang afif yaitu orang yang menjaga kehormatannya dan murka kepada orang yang duduk dan peminta-minta". [5]
Saudaraku, ketahuilah sesungguhnya mencaci maki termasuk perbuatan keji yang ditimbulkan dari sekedar murka dan kemarahan dan juga ditimbulkan dari akibat bergaul dengan orang-orang yang buruk, fasiq dan orang-orang yang suka berleha-leha dan suka mengutuk, maka hal itu akan menjadi kebiasaan bagi teman-teman yang bergaul bersama mereka. Dan akibatnya ia akan menjadi pencerca dan pencaci maki tanpa adanya permusuhan dan permukaan. Barangkali engkau pernah menyaksikan orang-orang yang hatinya buruk dan orang-orang jalanan dimana mereka mengeluarkan kata-kata keji kepada sebagiannya yang lain khususnya kepada ibu-ibu mereka dan kepada keluarga mereka karena bergurau. Tidak diragukan lagi bahwa orang-orang yang berbuat seperti itu jauh dari sifat-sifat kemanusiaan.

________________________________________
[1]Safinatul Bihar, J.2, hal. 268, hadist ke 2.
[2]Kanzul Ummal, hadist ke 8078.
[3] Kanzul Ummal, hadist ke 8085.
[4]Biharul Anwar, J. 78, hal. 181.
[5] Biharul Anwar, J. 79, hal. 111.

Pelajaran Kesebelas: Ujub (Bangga diri)

Wahai saudaraku, jauhkanlah dirimu dari mengagungkan diri sendiri dan ujub terhadapnya, karena hal itu merupakan suatu perbuatan dosa yang bibitnya adalah kufur, tanahnya adalah nifak, airnya adalah kerusakan, cabang-cabangnya adalah kebodohan, dedaunannya adalah kesesatan dan buahnya adalah laknat dan kutukan, bahkan akan kekal di neraka jahanam. Apabila engkau ingin berbangga diri, maka pikirkanlah keadaan dan kondisimu, bagaimana asal mula terjadinya dirimu yang bermula dari setetes air mani yang menjijikkan, kemudian berakhir sebagai sebuah bangkai yang kotor. Dan di antara dua masa itu, engkau hanya sebagai pembawa berbagai najis yang bau dan berkeliling membawa kotoran yang bermacam-macam (di dalam perutmu). Renungkanlah keagungan yang Mahakuasa dan pikirkanlah betapa hina dan rendahnya dirimu, kefakiranmu dan kelemahanmu, dibandingkan dengan seekor lalat dan serangga. Betapa lemahnya dirimu untuk menolak berbagai bencana dan malapetaka yang akan menimpamu. Jadikanlah kelemahan dirimu sebagai bagimu, karena hal itu merupakan paling utamanya sifat dan akan mendatangkan manfaat di dunia dan di akhirat yang tidak terbatas. Allah Swt berfirman:
"Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk, lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama) dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki Nya..." (Qs. Faathir:8).
Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda:
"Sesungguhnya tidak ada seorang hambapun yang bangga dan ujub dengan kebaikan-kebaikannya melainkan dia akan hancur dan binasa"[1]
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As, beliau bersabda:
"Dan hati-hatilah engkau dari sifat ujub dan berbangga kepada dirimu sendiri, dan percaya terhadap hal-hal yang membuatmu kagum dari padanya serta cinta menampakkan diri, karena hal itu adalah merupakan kesempatan yang paling baik bagi setan dengan dirinya untuk menghapuskan segala perbuatan-perbuatan atau kebaikan-kebaikan orang yang berbuat baik"
Dan riwayat yang lainnya:
"Sesungguhnya ujub dan bangga diri itu mengakibatkan kepada ketergelinciran".
Hadist yang lainnya:
"Sesungguhnya buah dan hasil dari ujub dan bangga diri adalah kemurkaan dan kemarahan".
"Sesungguhnya keridhaanmu atas dirimu yaitu ujub adalah bagian dari rusaknya akalmu".
Hadist yang lainnya :
"Orang yang berbangga diri tidak mempunyai akal"
Dan hadist yang lain:
"Ujub itu merupakan perbuatan yang bodoh dan dungu"[2]
________________________________________
[1]. Biharul Anwar, Alamah Majlisi, J. 72, hal. 321.
[2]. Ghurarul Hikam, hal. 308 dan Biharul Anwar, J.77, hal 263.

Pelajaran Keduabelas: Takabbur (Angkuh) & Tawadhu (Rendah Hati)

Wahai saudaraku, hendaklah engkau berusaha sebisa mungkin untuk tidak takabbur dan congkak. Karena sesungguhnya orang yang angkuh, congkak dan takabbur itu akan digiring di padang pada hari kiamat dalam bentuk kecil-kecil seperti kecilnya semut. Dan ketika itu, mereka akan diinjak-injak oleh manusia, karena mereka tidak ada harganya dan tidak ada nilainya sama sekali di sisi Allah Swt.[1]
Allah Swt berfirman:
" Dan mereka seluruhnya bersujud kepada Adam kecuali iblis karena ia congkak dan sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang kafir". (Qs. Shaad:73-74)
Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda:
" Hendaklah engkau menjauhkan sifat takabbur dan congkak, karena sifat takabbur dan congkak itu berada pada kaki dan sesungguhnya bagian atasnya terdapat aba'ah (pakaian lapisan luar gamis seperti jubah)"[2]
Dalam hadits yang lain diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As, beliau bersabda:
"Berhati-hatilah engkau jangan sampai mempunyai sifat takabbur dan congkak, karena sifat takabbur itu merupakan dosa yang paling besar dan merupakan puncak atau sumber segala aib dan ia merupakan hiasan bagi iblis"[3]
Dan pada hadits yang lain disebutkan:
" Paling buruknya bahaya akal adalah takabbur dan congkak"
Hadits lainnya berbunyi:
"Paling buruknya akhlak adalah takabbur dan congkak"
Hadits lainnya:
" Berhati-hatilah dan jauhkanlah dirimu dari sifat takabbur dan angkuh, karena ia merupakan puncaknya kezaliman dan maksiat kepada Allah Yang Maha Rahman"[4]
Diriwayatkan dari Imam Sajjad bin Husein As, beliau bersabda:
"Barang siapa yang mengucapkan Astaghfirullaha wa atuubu ilaih ( aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada Nya), maka ia bukan termasuk orang yang congkak dan takabbur dan juga tidak termasuk orang yang jabbar atau lalim"
Sesungguhnya orang yang congkak dan takabbur adalah orang yang senantiasa melakukan dosa, ia dikalahkan oleh hawa nafsunya dan ia lebih memilih dunianya daripada akhiratnya.[5]
Diriwayatkan dari Imam Ja'far bin Muhammad as Sadiq As, beliau bersabda:
"Takabbur ialah engkau merendahkan orang lain dan meremehkan kebenaran"[6]
Hadits yang lainnya:
"Takabbur ialah orang yang bodoh terhadap haq dan dia menikam atas ahlinya"[8]
Diriwayatkan dari Imam Sadiq As, beliau bersabda:
"Sesungguhnya di dalam neraka jahanam terdapat jurang dan lembah yang dikhususkan untuk orang-orang yang takabbur dan congkak. Lembah itu dinamakan saqar.Saking panasnya jahanam, lembah itu mengadu kepada Allah Swt dan meminta izin untuk sedikit bernafas kemudian dia bernafas maka jahanam membakarnya"[8]
Oleh karena itu saudaraku, berusahalah dengan sekuat tenagamu untuk menjadi orang yang rendah hati dan tawadhu. Ketahuilah bahwa sesungguhnya rendah hati dan tawadhu itu tidak akan mengurangi kebesaran dan kehormatanmu sama sekali, bahkan akan menyampaikanmu kepada derajat dan kemuliaan yang tinggi. Adapun takabbur dan congkak adalah termasuk sifat-sifat yang dan rendah, dan akan menyebabkan orang-orang jatuh terjerumus. Dan orang-orang yang berusaha untuk besar dengan jalan menutupi kekurangan-kekurangan mereka dengan kecongkakan dan takabbur, sesungguhnya mereka itu malah akan membuka keburukan-keburukan dan menyingkap aib-aib mereka sendiri.
________________________________________
[1].Diriwayatkan oleh Syaikh Kulainy Ra. dalam Al-Kafi, J. 2, hal. 235, hadist ke 11.
[2]. Kanzul Ummal, hadist ke 7735.
[3]. Ghurarul Hikam , hal. 309, hadist ke 8124.
[4]. Ghurarul Hikam , hal. 309.
[5]. Biharul Anwar, J. 93, hal. 277.
[6]..Al Kafi, J. 2, hal. 234, hadist ke 8 dan 9.
[7]. Biharul Anwar , J. 73, hal. 217.
[8]. Al Kafi, J. 2, bab Al-Kibr, hal. 234, hadist ke 10.

Pelajaran Ketigabelas: Al-Qasawah (Keras Hati)

Keras hati ialah adanya rasa tidak peduli terhadap kesusahan orang lain. Seseorang yang hatinya mengalami kondisi tersebut tidak merasakan kepedihan dan penderitaan orang lain. Sumber keras hati ini adalah karena ia dikalahkan oleh kekuatan buas hawa nafsunya. Kebanyakan dari perbuatan-perbuatan yang tercela, seperti aniaya, menyakiti orang lain, tidak menjawab atau mengabulkan panggilan orang lain yang terzalimi, tidak membantu orang-orang fakir dan orang-orang yang membutuhkan bantuan, itu semua timbul dari sifat atau kondisi keras hati. Mengobati penyakit hati seperti ini sangat sulit. Dan orang yang tertimpa penyakit seperti ini, hendaklah ia senantiasa melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat membuat hatinya lunak kembali, agar jiwanya mempunyai potesi untuk menerima curahan sifat belas kasih sayang dari sumber rahmat Allah Swt, agar nantinya sifat dan kondisi keras hatinya tersebut dapat menjadi sirna. Apabila seseorang yang tertimpa penyakit tersebut tidak berusaha mengobati dirinya, maka dia akan keluar dari daerah atau batasan manusia.
Allah Swt berfirman:
"(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu." (Qs. Al Maidah:13)
Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda:
"Janganlah kalian memperbanyak ucapan selain berzikir kepada Allah Swt, karena banyak berbicara selain berzikir kepada Allah Swt, dapat mengakibatkan keras hati. Sesungguhnya paling jauhnya manusia dari Allah adalah orang yang hatinya keras"[1]
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As, beliau bersabda:
"Tidak akan kering air mata, melainkan orang yang keras hati. Dan tidak akan keras hati melainkan orang yang banyak dosanya"[2]
Dalam riwayat yang lain Rasulullah Saw bersabda :
"Ada tiga perkara yang akan membuat keras hati, yaitu mendengarkan sesuatu yang sia-sia, memburu binatang dan menghampiri pintu kerajaan"[3]
Diriwayatkan dari Al Masih binti Maryam Isa As, beliau bersabda:
"Sesungguhnya binatang apabila tidak ditunggangi, tidak diuji dan tidak digunakan, maka nantinya ia akan menjadi sulit dan akan berubah sikapnya. Demikian pula hati manusia, apabila dia tidak dilembutkan dengan mengingat kematian dan tidak diikut sertakan dengan senantiasa beribadah, maka ia akan menjadi keras seperti batu"[4]
Penyair Sa'di Syirazi dalam sebuah syairnya berkata yang artinya:
Anak-anak Adam adalah anggota satu sama lainnya,
Mereka diciptakan dari mutiara yang satu
Apabila salah satu dari mereka tertimpa kesulitan suatu penyakit
Maka anggota-anggota yang lain akan merasakan penderitaan tersebut
Apabila engkau tidak mengambil faedah dari bencana orang lain
Maka ketahuilah, bahwa engkau tidak layak dinamakan sebagai anak Adam.


________________________________________
[1]. Kanzul Ummal, hadist ke 1840 dan 18960.
[2].Biharul Anwar, J. 70, hal. 55.
[3]Biharul Anwar, J. 75, hal. 370.
[4]. Biharul Anwar, J. 14, hal. 309.

Pelajaran Keempatbelas: Asy-Syarrah (Keburukan)

Saudaraku yang mulia, hendaklah engkau menjauhkan diri dari menghamba perutmu. Sesungguhnya akibat buruk yang disebabkan oleh menghamba perut itu banyak sekali, seperti hina, bodoh, dungu dan lain sebagainya, bahkan termasuk bahaya paling besar yang menimpa manusia itu timbul dari mengikuti hawa nafsu perutnya. Seandainya tidak ada kezaliman dari arah perut yang ditimbulkan oleh hawa nafsu makan, maka tidak akan terjerumus seekor burungpun ke dalam perangkap, bahkan tidak ada seorang pemburu pun yang menyiapkan perangkapnya.
Ketahuilah sesungguhnya perut itu mengandung bahaya dan penyakit yang bermacam-macam dan sesungguhnya lapar itu mempunyai faedah dan manfaat yang banyak sekali. Karena sesungguhnya lapar dapat menerangi hati, menyinari dan menerangkan pikiran bahkan akan menyampaikan seseorang kepada kelezatan dan keindahan yang hakiki dalam bermunajat, berdzikir dan beribadah kepada Allah Swt. Lapar juga akan mengingatkan seseorang kepada hari kiamat dan menampakkan kerendahan nafsu amarahnya serta memperlancar dan mempermudah untuk taat dan beribadah, sehingga dengan lapar seseorang menjadi ringan dan sehat badannya serta akan tersingkir dari berbagai macam penyakit.
Rasulullah Saw dalam sebuah hadistnya bersabda:
"Janganlah kalian matikan hati kalian dengan banyak makan dan minum, karena sesungguhnya hati itu seperti tanaman yang akan mati apabila terlalu banyak disiramai air".
Oleh karena itu, wahai orang-orang yang mengikuti hawa nafsu perutnya dengan banyak makan, hendaklah kalian mengobati jiwa dan diri kalian, dan jangan sampai terhalangi dari faedah-faedah dan manfaat lapar. Hendaklah mereka mengikuti tata cara para nabi, para ulama besar dan para urafa, karena sesungguhnya tidak ada seorang pun yang akan mencapai derajat yang tinggi tanpa memperhatikan rasa lapar. Hendaklah mereka memilih antara berteman dengan para malaikat dengan melalui rasa lapar daripada berteman dengan binatang-binatang yang selalu berteman dengan biji-bijian.

Pelajaran Kelimabelas: Hubb ad-Dunya (Cinta Dunia)

Saudaraku yang berbahagia, berhati-hatilah dari mencintai dunia yang hina. Karena sesungguhnya cinta dunia itu merupakan pokok dan sumber dari segala keburukan[1]. Dan pencari dunia akan hancur dan rusak serta sia-sia amal dan perbuatannya. Dunia merupakan bagian dari manfaat bagi seseorang setelah kematiannya. Dan haknya manfaat dunia itu akan terlihat pada seseorang setelah kematiannya. Ketahuilah, bahwa dunia yang diinginkan dan dicari oleh seseorang demi memperoleh pahala dan buah akhirat, hal itu tidaklah dinamakan dunia yang terhina. Sesungguhnya dunia tidak dianggap terhina apabila kadar dunia itu digunakan oleh seseorang untuk tujuan melangsungkan kehidupannya di dunia ini, seperti memenuhi kehidupan keluarganya, menjaga kehormatannya dan hal-hal lain yang ia perlukan. Bahkan hal semacam itu tidak dianggap dunia, tetapi merupakan amal-amal yang shaleh.
Diriwayatkan dari Imam Baqir As, beliau bersabda dalam salah satu hadistnya: "Barang siapa mencari rizki di dalam dunia ini untuk menjaga kehormatannya dari orang lain dan untuk menghidupi keluarganya dan membantu tetangganya, maka ia akan berjumpa dengan Allah Swt sedangkan wajahnya bagaikan bulan di malam purnama"[2]
Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya dunia itu diumpamakan seperti air laut, setiap kali orang yang merasa haus minum air tersebut, ia akan bertambah haus sehingga ia hsmpir mati karenanya.[3]
Nabi Isa al-Masih As pernah bersabda:
"Sesungguhnya pencari dunia adalah seperti orang yang minum air lautan, setiap kali ia meminumnya, akan bertambah rasa hausnya sehingga air itu hampir membunuhnya sendiri"[4]
Dunia laksana seekor ular yang bagian luarnya lembut dan terukir indah, tetapi bagian dalamnya penuh dengan racun yang mematikan dan mengandung bahaya yang besar.
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As pernah menulis sepucuk surat kepada Salman al Farisi, dalam surat itu beliau mengatakan:
"Perumpamaan dunia ini bagaikan seekor ular yang ketika disentuh ia lembut, tetapi racunnya akan membunuh. Maka berpalinglah dari segala sesuatu yang menakjubkanmu, karena sedikitnya sesuatu yang menemanimu. Dan enyahkanlah segala kesusahannya, karena engkau yakin akan meninggalkannya".[5]
Allah Swt pernah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa As yang isinya: "Wahai Musa, ketahuilah bahwa sesungguhnya setiap fitnah itu bibit dan sumbernya adalah cinta dunia".[6]
Diriwayatkan dari Rasulullah, beliau bersabda:
"Dosa yang paling besar adalah cinta dunia".[7]
Dalam riwayat yang lain beliau bersabda:
"Cinta dunia merupakan sumber segala maksiat dan awal segala kedustaan".[8]
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As, beliau bersabda:
"Cinta dunia merupakan sumber segala fitnah dan dasar segala cobaan".
Dalam riwayat yang lain beliau mengatakan:
"Sumber segala bencana adalah gandrung dan cinta dunia. Dan sesungguhnya engkau tidak akan menjumpai Allah Swt dengan suatu amal perbuatan yang lebih berbahaya atasmu selain dari pada cinta dunia".
Riwayat lainnya mengatakan:
"Sesungguhnya dunia itu merusak agama dan mencabut keyakinan".[9]


________________________________________
[1] Al Kafi, J. 2, hal. 238, hadist ke 1.
[2]. Diriwayatkan oleh Sayyid 'Abdullah Shubbar dalam kitab Akhlak, hal. 211.
[3]. Kulainy dalam kitab Al-Kafi, J. 2, hal. 810, hadist ke 24.
[4]. Sayyid 'Abdullah Shubbar dalam kitab Akhlak, hal. 215.
[5]. Diriwayatkan oleh Sayyid 'Abdullah Shubbar dalam kitab Akhlak, hal. 214.
[6]. Bihar al-Anwar , J.13, hal. 351.
[7]. Kanz al-'Ummal, hadist ke 6074.
[8]. Tanbih al-Khawaatir, hal. 362.
[9]. Ghurar al-Hikam, hal. 139.

Pelajaran Keenambelas: Al-Faqr (Fakir)

Saudaraku yang fakir, janganlah engkau bersedih dengan kefakiranmu, karena fakir merupakan hiasan bagi seorang mukmin dan hal itu lebih baik daripada pelana yang dijadikan sebagai hiasan kuda. dan setiap manusia pasti merindukan surga, sementara surga itu rindu kepada orang-orang fakir.
Al-Alamah al Majlisi meriwayatkan sebuah hadist dalam kitabnya Al Bihar jilid 72 hal 48 hadist ke 58. Di dalam hadis tersebut Rasulullah Saw bersabda:
"Orang-orang fakir merupakan raja-raja ahli surga, dan seluruh manusia rindu kepada surga. Sedangkan surga rindu kepada orang-orang fakir".
Cukuplah bagi seorang fakir untuk menghibur hatinya dengan ucapan pemimpin umat manusia pemberi kabar gembira Rasulullah Saw, beliau bersabda: "Kefakiran adalah kebanggaanku".[1]
Dalam riwayat yang lain beliau bersabda: "Kefakiran adalah kebanggaanku dan dengan kefakiran itu aku merasa bangga".[2]
Dan dalam hadist yang lainnya lagi beliau bersabda:
"Ya Allah, hidupkanlah aku dalam kondisi miskin, matikanlah aku dalam kondisi miskin dan giringlah aku di padang mahsyar bersama kelompok orang-orang yang miskin".[3]
Di dalam hadist yang lain Rasulullah Saw bersabda:
"Barang siapa berusaha untuk membantu keluarganya dari sesuatu yang halal, maka dia bagaikan seorang mujahid (pejuang ) di jalan Allah Swt. Dan barang siapa mencari dunia yang halal untuk tujuan iffah (menjaga diri dan kehormatan) maka dia akan sederajat dengan orang-orang yang mati syahid".[4]
Amirul Mukminin Al Imam Ali bin Abi Thalib As bersabda:
"Raja-raja dunia dan akhirat adalah orang-orang fakir yang rela".[5]
Dalam riwayat yang lain Rasulullah Saw bersabda:
"Tidakkah kalian ingin aku kabarkan tentang ahli-ahli surga?". Para sahabat menjawab : "Tentu ya Rasulullah", lalu beliau bersabda: "Raja-raja ahli surga adalah setiap orang yang lemah dan mustadh'af yang wajahnya berdebu dan rambutnya kusut dan hanya memakan dua butir kurma. Orang-orang tidak perduli kepadanya, tetapi apabila dia bersumpah atas Asma Allah, pasti Allah akan mengabulkannya".[6]


________________________________________
[1]Jam' al-Akhbaar oleh Sabzewary dari A'lamul-qurnus-saabi', hal. 302, pasal ke 67.
[2]Mishkat al-Anwar, Tabarsy, hal. 133.
[3]. Bihar al-Anwar, J. 69, bab ke 94, pasal Al Fakir wal Fuqara.
[4]. Al-Mahjat al-Baidha, J. 3, Akhlak Shubbar, hal. 211 dan Jami' as-Sa'aadat, J. 2, hal. 19, cetakan Najaf.
[5]. Ghurar al-Hikam, hal. 366, hadist ke 8243.
[6]. Jam'i as-Sa'adaat, J. 2, hal. 83, cetakan Najaf.

Pelajaran Ketujuhbelas: Memohon

Saudaraku yang mulia, angkatlah kedua tanganmu sebisa mungkin untuk memohon kepada Tuhanmu. Mintalah kepada Nya segala hajat dan kebutuhanmu dan janganlah engkau tumpahkan wajahmu di hadapan orang-orang yang terkutuk hanya demi sesuap nasi.
Di dalam sebuah riwayat Rasulullah Saw bersabda bahwa orang kaya itu bukanlah orang yang banyak hartanya, tetapi orang kaya adalah orang yang jiwanya terhormat. Dalam tempat yang lain kepada seorang Badui yang memohon nasihat kepadanya, beliau bersabda: "Apabila engkau melakukan shalat maka lakukanlah seperti orang yang melakukan shalat terakhir kalinya, janganlah engkau berkata-kata dengan ucapan yang menyebabkan keesokan harinya engkau akan menyesal. Dan himpunlah rasa putus asa dari apa-apa yang ada di tangan manusia".

Imam Shadiq As bersabda:
"Sesungguhnya syia'ah-syi'ah kami adalah orang-orang yang tidak meminta sesuatu dari manusia dan orang lain, sekalipun ia mati kelaparan".
Beliau bersabda dalam hadits yang lain:
"Ada tiga perkara yang merupakan kebanggaan seorang mukmin dan akan menjadi hiasan baginya di dunia dan akhirat, yaitu shalat pada akhir malam dan merasa putus asa dalam mengharap apa yang berada di tangan orang lain dan berwilayah kepada Imam dari keluarga Muhammad Saw".[1]
Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa pakaian seorang raja sekalipun ia mulia, tetapi sesungguhnya ia lebih rendah daripada pakaian seorang fakir yang sabar dan rela dengan kefakirannya tersebut. Sesungguhnya makanan orang yang berleha-leha sekalipun nampaknya lezat, tetapi sesungguhnya roti kering yang dimakan oleh orang-orang fakir itu lebih lezat.
Wahai saudaraku, janganlah engkau merasa gelisah karena sedikitnya uangmu, janganlah engkau menjual agamamu untuk duniamu, karena sesungguhnya pada hari pembalasan nanti kemuliaan itu terdapat pada agama dan bukan terdapat pada uang. Derajatmu akan naik dengan agamamu dan bukan dengan uangmu.
Hukama (orang-orang bijak) berkata "Seandainya air kehidupan itu dijual dan diganti dengan air wajah (kehormatan), maka tidak akan ada seorang alimpun yang bersedia untuk membelinya. Sesungguhnya mati karena sakit itu lebih baik daripada hidup dengan segala kehinaan".
Oleh karena itu wahai saudaraku bertawakallah sepenuhnya kepada Allah Swt dan hindarilah rasa tamak dengan melihat apa yang ada pada orang lain dan janganlah engkau perduli dengan yang ada pada mereka. Imam Shadiq As bersabda:
"Apabila kalian menghendaki agar Tuhan kalian tidak mengabulkan suatu permintaanpun melainkan ia pasti memberikannya, maka hendaklah kalian berputus asa dari seluruh manusia dan tidak lagi menaruh harapan selain dari Allah Swt. Apabila Allah Swt mengetahui hal itu dan apa yang ada di dalam lubuk hati kalian maka apa yang dia minta pasti Allah akan memberikannya".[2]
Allah Swt berfirman: "…. orang yang tidak tahu menyangka bahwa mereka itu orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak…". (Qs. Al-Baqarah:273).
Rasulullah Saw bersabda kepada Abu Dzar: "Wahai Abu Dzar, hendaklah engkau jangan meminta-meminta, karena hal itu merupakan kehinaan yang berwujud dan merupakan kefakiran yang cepat dan di dalamnya terdapat hisab yang panjang di hari kiamat".[3]
Dalam hadits yang lain diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Wahai Ali seandainya kedua tanganku ini di masukkan ke dalam mulut at tannin sampai ke sikuku hal itu lebih aku sukai daripada aku harus meminta dari orang lain yang tidak ada di sana".[4]
Amirul Mukminin Ali As pernah bersabda: "Sesungguhnya meminta-minta itu akan melemahkan lisan orang yang berbicara dan akan memecahkan hati yang berani dan membuat orang yang merdeka dan mulia itu bersikap bagaikan sikap seorang budak yang hina dan menghilangkan kehormatan muka dan menghapuskan rizki".[5]
Dalam hadits yang lain beliau bersabda:
"Sesungguhnya taqarrub kepada Allah Swt itu dilakukan dengan memohon kepada Nya dan dengan cara meninggalkan apa yang ada pada manusia".
Dalam riwayat yang lain beliau bersabda:
"Sesungguhnya Syi'ahku adalah orang yang tidak menjilat-jilat bagaikan seekor anjing dan orang yang tidak tamak sebagaimana tamaknya burung elang dan tidak meminta-minta kepada orang lain meskipun ia mati kelaparan".
Pada hadist yang lain beliau bersabda bahwa meminta-minta kepada orang lain adalah kunci dari kefakiran. Rasulullah Saw bersabda:
"Tidak ada seorang hambapun yang membuka pintu pada dirinya untuk meminta-minta kepada orang lain melainkan Allah akan membukakan atasnya tujuh puluh pintu kefakiran".
Imam Shadiq As bersabda:
"Barang siapa yang memohon kebutuhannya kepada orang lain, maka akan tercabut kehormatan dan rasa malunya. Dan dengan berputus asa atau tidak mengharapkan apa yang ada pada manusia adalah merupakan kemuliaan bagi seorang mukmin di dalam agamanya, sedangkan tamak adalah merupakan fakir yang hadir".[6]

________________________________________
[1]. Jam'i as-Sa'adaat, J.2, hal. 107.
[2]. Diriwayatkan oleh Kulainy dalam Al-Kafi, J.2, hal. 119, hadist ke 2.
[3].Bihar al-Anwar, J. 77, hal. 59 dan 60.
[4].Makarim al-Akhlak, hal. 433, cetakan Beirut dan Bihar al-Anwar, J. 77, hal. 59 dan 60.
[5].Jam'i al-Akhbar, hal. 379.
[6].Miskhat al-Anwar, hal. 185.

Pelajaran Kedelapanbelas: Al-Hirsh (Rakus)

Saudaraku yang mulia, hindari dan buanglah jauh-jauh sifat rakus karena sifat tersebut merupakan padang pasir yang luas tidak bertepi, ke arah mana saja engkau menghadapkan wajahmu maka engkau tidak akan dapat melihat dan menjangkau batasnya. Rakus merupakan lautan yang tiada bertepi dan tidak dapat dijangkau kedalamannya sekalipun kamu menyelaminya. Sungguh betapa rugi dan celakanya orang yang ditimpa penyakit rakus ini, karena ia akan mencelakakan dan menyesatkan dan sulit untuk diselamatkan.
Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya orang yang rakus itu mahrum (terhalangi,) dan dengan adanya penghalang ini dia akan menjadi terhina dalam hal apa saja. Bagaimana ia tidak akan menjadi mahrum dan terhalangi sedangkan ia kabur dari ikatan janji Allah Swt?".[1]
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As bersabda : "Sesungguhnya rakus itu lebih panas dari api neraka". Dalam riwayat yang lain beliau bersabda: "Sesungguhnya sifat rakus itu dapat menghalangi kadar dan kemuliaan seseorang dan sifat ini tidak akan menambahkan rizki kepadanya".
Dalam riwayat yang lain beliau bersabda bahwa orang yang rakus itu adalah fakir meskipun ia memiliki dunia dan isinya. Diriwayatkan dari Imam Baqir As, beliau bersabda bahwa perumpamaan orang yang rakus terhadap dunia adalah seperti ulat sutra, dimana setiap kali bertambah lipatan sutra pada dirinya maka akan semakin jauh pulalah dirinya untuk dapat keluar dari lipatan tersebut.[2]
Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya qanaah (merasa cukup) adalah merupakan suatu sifat yang penuh dengan keutamaan dan fadhilah dan merupakan sifat yang membuat ketenangan seseorang di dunia dan akhirat.
Al Alamah An Niraqi dalam kitabnya Jami'u Sa'adat jilid 2 hal 101 berkata bahwa qanaah dan merasa cukup itu merupakan lawan dari rakus. Qanaah adalah suatu sifat terpuji yang jika melekat pada diri seseorang dapat menjadikannya merasa cukup dengan sekedar kebutuhannya dari harta tanpa berusaha untuk susah payah mencari tambahannya. Qanaah merupakan sifat yang mulia dan utama, dimana sifat-sifat mulia yang lain bergantung pada sifat tersebut. Dan ketiadaan sifat qanaah tersebut akan menjadikan dan menyebabkan seseorang menjadi terjerumus kepada akhlak dan budi pekerti yang buruk. Orang-orang yang qanaah, dengan hanya satu hidangan makanan akan bisa mencukupi sepuluh orang. Tetapi sebaliknya, sifat rakus itu tak ubahnya bagaikan dua anjing yang akan berkelahi hanya untuk memperebutkan sebuah bangkai. Demikianlah orang yang rakus, dia akan tetap lapar meskipun dunia seisinya telah menjadi milikinya. Sementara orang yang merasa cukup dan qanaah akan merasa kenyang sekalipun hanya dengan sebuah roti kering.

________________________________________
[1] Biharul Anwar, J. 73, hal. 165.
[2] Kafi, J.2, hal. 134.

Pelajaran Kesembilanbelas: Tamak (Serakah)

Wahai saudaraku, ketahuilah bahwa tamak merupakan sebuah sifat yang sama dengan sifat rakus. Lawan dari sifat ini adalah tidak butuh kepda orang lain.
Telah diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: "Tamak akan menghilangkan hikmah dari kalbu-kalbu para ulama".[1]
Dan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As, beliau bersabda:
"Mulialah orang yang qanaah, yaitu orang yang merasa cukup dengan apa yang dimilikinya dan hinalah orang yang tamak".[2]
Dari Ali bin Husain as Sajjad As bersabda:"Aku melihat kebaikan yang awalnya terkumpul dan menjadi terputus karena ketamakan manusia".[3]
________________________________________
[1]. Kanzul Ummal, hadist ke 7576.
[2]. Kalimat pertama, dalam Syarah Ghurarul Hikam, J. 4, hal. 474, dan kalimat kedua dengan sedikit perbedaan dalam J. 5, hal 451.
[3]. Biharul Anwar, J. 70, hal 171.

Pelajaran Keduapuluh: Bakhil (Kikir)

Saudaraku yang mulia, hindarkan dan jauhkanlah dirimu dari sifat bakhil dan pelit, karena sesungguhnya orang yang bakhil dan pelit itu terhina, rendah dan tidak berharga. Cukuplah dalam keburukan sifat ini bahwa tidak akan ada seorang pun yang menyukainya di dunia ini. Dan masyarakat, bahkan anak-anaknya sendiri akan memusuhinya dan keluarga serta familinya senantiasa akan menunggu kematiannya, supaya dalam duka citanya mereka bisa mengenakan pakaian yang paling lusuh akan tetapi mereka akan membawa pakaian yang paling baik.
Sebagian ulama mengatakan: "Akar bakhil itu dari tanah dan dia akan tumbuh ketika hendak menuju ke tanah".
Dan ketahuilah wahai saudaraku, bahwa orang bakhil tidak akan pernah diingat setelah kematiannya, karena telah jelas bahwa barang siapa tidak memakan rotinya ketika hidupnya, maka tidak akan ada yang menyebutkan namanya ketika matinya.
"Dan barang siapa yang kikir, sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri". (Qs.Muhammad:38).

Pelajaran ke dua puluh satu: AS - SAKHO' (MURAH HATI)

Wahai saudaraku yang budiman, sesungguhnya kebalikan dari sifat bakhil adalah sakho' atau murah hati. Sakho' adalah sebuah sifat yang merupakan akhlak tinggi dan mulia dimana pemiliknya senantiasa akan diterima oleh para penghuni ufuk. Keutamaan dari sifat ini begitu jelas dan terang, karena orang yang memiliki sifat ini akan menjadi orang yang dicintai dan dipuji di sisi Khaliq dan di sisi makhluk. Orang yang pemurah akan dicintai oleh para penghuni langit dan penghuni bumi, dan namanya akan senantiasa terukir dalam kebaikan.
Wahai saudaraku yang mulia, ketahuilah bahwa kekayaan merupakan perantara untuk memudahkan kehidupan. Dan kehidupan ini bukan merupakan sarana untuk mengumpulkan kekayaan. Seorang 'Aqil (orang yang berakal sehat) pernah ditanya: "Siapakah yang dimaksud dengan orang yang beruntung, dan apakah yang dimaksud dengan kemalangan?" Sang Aqil berkata: "Beruntung adalah memakan dan memanen, sedangkan malang adalah mati dan tenggelam". Dengarlah baik-baik nasihat Hadhrat Musa As kepada Qarun, beliau berkata: "Berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, wahai Qarun engkau tidak mendengarkannya dan akibatnya engkau melihat keburukannya dan apa yang engkau capai"
Para cerdik pandai berkata: "telah meninggal dunia dua orang dan keduanya menyesal, karena yang satu mempunyai tetapi tidak memakannya dan yang satunya lagi mengetahui tetapi tidak mengamalkannya".
Wahai saudaraku, karena engkau telah mengetahui keutamaan sifat murah hati, maka ketahuilah bahwa sifat ini terbagi menjadi dua bagian yaitu pemberian dan infak.
Pertama: adalah infak-infak wajib, dan yang termasuk di dalamnya seperti: zakat, khumus, nafkah keluarga dan sepertinya.
Kedua: adalah pemberian-pemberian mustahab seperti sedekah, hadiah, mengundang tamu, memberikan hak ma'lum dan hak hashad , memberikan pinjaman, membantu para muslim, membangun masjid, madrasah, jembatan, istal kuda, membangun kanal-kanal, mencetak buku-buku agama dan lain sebagainya, yang kesemuanya ini merupakan sedekah jariyah (yang akan selalu mengalir pahalanya-pen) dan merupakan baqiyatus-shalihaat (peninggalan amal shaleh).

Pelajaran ke dua puluh dua: MENGHINDARI HARTA HARAM

Wahai saudaraku yang budiman, hindarkan dan jauhkanlah dirimu dari harta yang haram, karena hal itu akan menimbulkan bahaya yang teramat besar, dan merupakan penghalang terbesar dalam memperoleh kebahagiaan. Ketahuilah, bahwa sebagian besar manusia yang tidak memiliki harapan lagi untuk memperoleh karunia dan berkah Ilahy, sebabnya adalah karena mereka tidak mau menjauhkan diri dari harta yang haram. Dan sesungguhnya hati yang tumbuh dari suapan makanan haram, akan berada di suatu tempat yang tidak lagi layak untuk menerima karunia dari Yang Maha Suci.
Oleh karena itu wahai saudaraku, ingatlah, jika engkau ingin mencari keselamatan, engkau harus mencari sesuatu yang halal dan harus menahan tangan serta perutmu dari memakan setiap makanan yang ada. Hindarilah berbuat zalim, keras kepala, berkhianat dalam amanat, menipu, licik, marah, mencuri, mengurangi timbangan, melakukan riba dan sebagainya. Wahai saudaraku, sebaliknya kenakanlah baju taqwa dan wara' di atas tubuhmu karena sesungguhnya: " Pakaian takwa itulah yang paling baik".

Pelajaran ke dua puluh tiga: PERCAKAPAN YANG TIDAK BERMANFAAT

Wahai saudaraku yang mulia, berusahalah semampumu untuk menutup mulut, dan jauhkanlah dirimu dari tenggelam dalam kebatilan, dari percakapan yang tidak bermanfaat dan dari ikut campur dalam urusan orang lain. Karena hal itu akan menyebabkan tersia-sianya waktumu yang merupakan modal perdagangan dan modal keselamatan.
Oleh karena itu wahai saudaraku, perhatikanlah bahwa waktu untuk mempersiapkan perjalanan akhirat lebih sempit dari melakukan hal-hal di atas, karena sesungguhnya kita adalah para musafir yang hanya berkesempatan mengikat bekal perjalanan, lalu seberapakah banyaknya waktu luang kita sehingga masih sempat duduk-duduk dan bercakap-cakap mengenai hal-hal yang tidak ada manfaatnya.

Pelajaran ke dua puluh empat: HASAD(IRI HATI)

Wahai saudaraku yang mulia, hindarkan dan jauhkanlah dirimu dari sifat iri hati sekuat kemampuanmu, karena orang yang iri hati akan merasa tersiksa dengan azab yang berat, baik di dunia maupun di akhirat dan tidak akan pernah terlepas dari kesedihan dan kesusahan.
Apabila engkau perhatikan orang yang terjangkiti penyakit ini dengan baik, maka engkau akan mendapatkan bahwa dia memiliki watak keras kepala dan bersifat keras terhadap orang lain, bahkan menganggap Allah Swt (wal 'iyaadzu billah) adalah jahil, atau dia menganggap dirinya lebih mengetahui kemaslahatan dan keburukan hamba Allah. Ketahuilah, bahwa kedua-duanya ini merupakan kekufuran dan juhud (pengingkaran), sehingga dia akan menyandang julukan si hasad yang malang.
Maka wahai saudaraku, jadilah mahsud (orang yang dijadikan obyek untuk iri hati-pen) dan janganlah menjadi haasid (pelaku hasad), karena sesungguhnya mizan kebaikan para haasid senantiasa akan menjadi ringan, karena kebaikannya itu dipindahkan ke mizan para mahsud.
Hadhrat Rasulullah Saw dalam sebuah hadist bersabda: "Sedikit sekali manusia hasad yang bisa merasakan kenikmatan".
Dan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As bersabda: "Sifat hasad tidak akan membawa keberuntungan".
Terdapat perumpamaan masyhur yang mengatakan: "Telah cukup bagi para penghasud dengan hasadnya".
Apabila engkau ingin mengetahui kemalangan yang akan dibawa oleh para penghasad, maka perhatikanlah baik-baik, bahwa sebenarnya -di dalam kehidupan dunia yang hanya beberapa hari saja- tidak pantas sama sekali untuk iri hati kepada hamba Allah yang lain. Karena dalam waktu yang hanya sekejap mata, si haasid dengan mahsud akan segera terkubur di dalam tanah, dan nama mereka akan terhapus dari lembaran masa.

Pelajaran ke dua puluh lima: MERENDAHKAN ORANG LAIN

Wahai saudaraku yang mulia, hindarkanlah dirimu dari menghina dan merendahkan orang lain dari hamba-hamba Allah.
Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: "Barang siapa menghina salah satu dari sahabatku berarti dia telah mengikatkan tali peperangan denganku".
Oleh karena itu wahai saudaraku, seharusnya engkau senantiasa menghormati dan memuliakan seluruh tingkatan rakyat sesuai dengan keberadaan mereka, khususnya dari keturunan mulia; ahli ilmu, ahli fadhilah dan pemilik sifat wara' dan takwa. Demikian pula terhadap orang-orang tua dan para pendahulu Islam dan keturunan agung para sadat.

Pelajaran ke dua puluh enam: ZALIM DAN KASAR

Wahai saudaraku yang mulia, hindarkanlah dirimu sebisa mungkin dari berbuat zalim dan kasar. Sesungguhnya aniaya dan zalim menurut pendapat siapapun di alam ini, merupakan perbuatan yang buruk. Di dalam Al Qur'an al Majid dijelaskan bahwa orang-orang yang berbuat zalim berada dalam laknat yang sangat keras. Banyak sekali hadist-hadist Rasulullah Saw yang menjelaskan tentang celaan serta ancaman yang berat bagi orang-orang yang zalim.
Allah Swt dalam salah satu ayatnya berfirman: "Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim"

Terdapat sebuah riwayat yang mengatakan bahwa berbuat zalim dan kekerasan dalam satu jam itu lebih buruk di sisi Allah dari melakukan dosa selama enam puluh tahun. Dan barang siapa yang takut dengan balasannya, maka dia pasti akan menjauhkan diri dari melakukan kezaliman tersebut, karena muntaqim (yang mengambil balas dendam) hakiki akan mengambil intiqam (balas dendam) dari setiap orang yang berbuat kezaliman, lalu memberikan balasan yang sesuai untuknya.
Demikianlah, Sultan Mahmud Ghaznawi mengatakan: "Aku tidak terlalu takut dengan pedang para lelaki singa, tetapi aku lebih takut pada amir perempuan tua".
telah diriwayatkan pula bahwa berbuat zalim atau berteman dengan orang yang zalim, dan rela dengan kezalimannya, mereka semua berada dalam kedudukan yang sama. Oleh karena itu wahai saudaraku yang mulia, berbuatlah sesuatu dengan adil dan hindarkanlah dirimu dari berbuat zalim kepada hamba-hamba Allah, karena kemuliaan sifat adil berada di luar sifatnya. Dan cukuplah dalam posisi sebagaimana apa yang kita lihat dalam sebuah cerita bahwa setelah lebih dari seribu tahun Anushirwan yang adil terkuburkan, tetapi ternyata rakyat masih saja menyebutkan kebaikan namanya, hal ini dikarenakan satu sifat yang mulia dan tali umurnya yang selama sekian ribu tahun dalam kesultanan telah ditancapkan pada paku ajal, akan tetapi hingga kini nyanyian rantai keadilannya masih terikat erat di kubahnya.

Pelajaran ke dua puluh tujuh: MEMENUHI HAJAT MUSLIMIN

Wahai saudaraku yang mulia, senantiasa bersungguh-sungguhlah dalam memenuhi dan membantu kebutuhan serta hajat para muslim, dan berusahalah untuk memberikan hal-hal yang lebih penting bagi mereka.
Ketahuilah, bahwa keutamaan para muqarrab adalah karena usaha mereka yang serius untuk memenuhi keperluan orang-orang yang butuh.
Hadhrat Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As bersabda dalam salah satu hadistnya kepada Kumail bin Ziyad: "Wahai Kumail, perintahkanlah kepada keluargamu untuk berusaha meraih kemuliaan dengan berupaya memenuhi kebutuhan orang-orang yang memerlukan".

Pelajaran ke dua puluh delapan: MEMBAHAGIAKAN HATI MUKMIN

Wahai saudaraku yang mulia, bahagiakanlah hati para mukmin semampumu, karena betapa besar dan banyaknya pahala dari perbuatan tersebut. Dan ketahuilah bahwa membuat bahagia dan gembira hati kaum mukmin lebih baik dan lebih utama daripada meramaikan sebuah bangsa.
Hadhrat Rasul Saw bersabda: "Amalan yang paling dicintai di sisi Allah Swt adalah memberikan kebahagiaan atas para mukmin".

Pelajaran ke dua puluh sembilan: AMR MA'RUF DAN NAHI MUNGKAR

Wahai saudaraku yang budiman, janganlah engkau menganggap ringan pelaksanaan amr ma'ruf dan nahi mungkar, karena melalaikan masalah ini dapat mengakibatkan bahaya yang sangat fatal. Dan bahaya yang ditimbulkan oleh hal ini bersifat universal, dan kerusakan yang akan terjadipun bersifat global dan memenuhi segala segmen.
Dari Hadhrat Baqir al Ulum As telah diriwayatkan, beliau bersabda bahwa Haq Ta'ala telah mengirimkan wahyu kepada Nabi Syu'aib As dengan berfirman bahwa "Aku akan menurunkan azab kepada seratus ribu orang dari kaummu, empat puluh ribu darinya berasal dari golongan yang buruk dan enam puluh ribu lainnya dari golongan yang baik". Nabi Syu'aib bertanya: "Tetapi mengapa golongan yang baik-baik pun mendapatkan azab?", Lalu beliu mendengar jawaban bahwa "Hal itu terjadi karena mereka menjilat dan menganggap sepele para pembuat maksiat, dan mereka tidak memarahi dengan kemarahan-Ku".

Pelajaran ke tiga puluh: KEKELUARGAAN

Wahai saudaraku yang budiman, ketahuilah bahwa mempunyai sifat kekeluargaan atau familiar serta damai dengan masyarakat, merupakan sebuah sifat yang terpuji dan akhlak yang mulia. Sehubungan dengan masalah ini terdapat begitu banyak hadist yang mengungkapkan tentang keutamaan melakukan ziarah kepada para mukmin, mengucapkan salam, bersalaman dengan mereka, menjenguk mereka yang sakit, mengiringi jenazah dan mengucapkan tasliyat kepada orang-orang yang terkena musibah dan yang semisalnya.
Wahai saudaraku, apabila engkau perhatikan dengan baik hadist-hadist yang berkaitan dengan masalah ini, maka engkau akan mengetahui betapa besarnya perhatian Allah Swt terhadap persoalan rasa kekeluargaan di antara seluruh makhluknya, dan betapa banyaknya sunnah-sunnah yang telah Dia tetapkan untuk mempertahankan sifat ini. Tetapi sayang dan ironis sekali, ternyata pada zaman kita sekarang ini, sebagian besar dari sunnah-sunnah tersebut telah ditinggalkan, tidak ada yang tertinggal dari nubuwwah melainkan formalitasnya dan tidak ada yang tertinggal dari syari'at kecuali namanya. Setan-setan dengan berbagai usahanya telah berhasil menyebarkan berbagai rencana busuknya. Sehingga umat ini jatuh dan tejerumus ke dalam perbuatan nifak dan perpecahan di antara mereka. Bahkan umat ini, kini telah berani membelakangi segala sesuatu, padahal Allah telah memberikan perhatiannya begitu besar. Mereka tidak menjenguk sesamanya, kecuali karena riya atau untuk menampakkan dan menyebarkan keburukan. Mereka menganggap bahwa memberikan salam merupakan satu perbuatan yang tercela, tetapi mereka senantiasa mengharap agar orang lain memberikan salam kepadanya. Dan merekapun menganggap bahwa bersalaman merupakan sebuah kebiasaan yang dungu.




Pelajaran ke tiga puluh satu: SILATURAHMI

Wahai saudaraku, silaturahmi dan menjalin ikatan persaudaraan dan kekeluargaan dengan sanak keluarga merupakan sebuah ketaatan yang sangat dianjurkan Islam. Bahkan melakukan hal ini lebih utama dari ibadah sunat. Cukuplah mengenai keutamaan perbuatan ini bahwa hal itu dapat memperpanjang umur dan memperbanyak rizki serta mempermudah hisab pada hari kiamat. Sedang memutus silaturahmi dapat menyebabkan ditimpanya azab akhirat dan malapetaka dunia.
Dari hadist dan pengalaman membuktikan bahwa memutuskan silaturahmi dapat menyebabkan kefakiran dan ketidaktenangan serta akan memperpendek umur. Cukuplah dalam keburukannya bahwa Haq Ta'ala dalam Al Quran al Majid berfirman: "Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan merusak apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan yang mengadakan kerusakan di bumi, itulah yang akan memperoleh kutukan"

Pada ayat yang lainnya Allah Swt berfirman: "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?"
Pelajaran ke tiga puluh dua: MENYAKITI KEDUA ORANG TUA

Yang dimaksud dengan menyakiti kedua orang tua adalah membuat mereka marah, mengecewakan dan merusak ketenangan keduanya. Bahkan mengganggu ketenangan salah satu dari mereka pun dapat dikategorikan menyakitinya. Dan hal ini merupakan paling parahnya jenis pemutusan silaturahmi dan -tentunya- tanpa diragukan lagi merupakan sebuah dosa yang besar.
Betapa malang nasib orang yang menyakiti kedua orang tuanya baik di dunia maupun di akhirat, karena dengan melakukan hal ini tidak ada lagi yang akan dia peroleh dari umurnya, dan tidak ada pula kemuliaannya. Usianya akan menjadi pendek dan kehidupannya merupakan hukuman baginya. Sakaratul maut akan menjadi susah dan cabutan nyawapun akan menjadi hal yang sangat menyakitkan baginya.
Oleh karena itu wahai saudaraku yang budiman, kasihanilah jiwamu dan hindarkanlah dirimu dari duri yang menyakitkan ini. Ingatlah selalu jerih payah dan hari-hari kedua orang tuamu yang tanpa tidur dan istirahat yang cukup telah membimbing dan membesarkanmu. Bertahun-tahun engkau berada dalam pelukan mereka yang hangat dan penuh kasih saying, dan membesarkanmu dengan memeras jiwa. Ingatlah bahwa engkau terlahir tanpa daya, lalu layakkah setelah engkau mendapatkan sedikit kekuatan dalam dirimu, engkau segera melupakan semuanya itu?

Pelajaran ke tiga puluh tiga: PERHATIAN KEPADA TETANGGA

Wahai saudaraku yang mulia, janganlah engkau mengganggu dan menyakiti para tetanggamu dan perhatikanlah haq mereka. Janganlah engkau melihat ke arah rumah mereka, jangan mengalirkan talang ke arah rumah mereka dan jangan pula meletakkan sampah di depan rumah mereka. Dan jangan sampai engkau mengganggu mereka dengan bau atau asap masakanmu, tetapi saling membantulah engkau dengan mereka.
Ingatlah, jangan sampai engkau tidur pada malam hari dalam keadaan kenyang sementara mereka tidur dalam keadaan kelaparan atau engkau hidup dalam keadaan tenang, tetapi mereka hidup dalam kesulitan, kesusahan, kedinginan dan mengenakan baju yang compang camping.
Janganlah kalian tidak memberikan ketika mereka memerlukan garam, air, api dan semacamnya. Dan apabila mereka ingin meminjam sesuatu dari kebutuhan pokok rumah, maka berikanlah apa yang mereka inginkan.
Wahai saudaraku, perhatikanlah segala sesuatunya, karena mereka yang berbuat baik terhadap para tetangganya, umur mereka akan menjadi panjang dan akan memperluas rumahnya. Sesungguhnya Ahli Bayt As telah menegaskan dan menekankan masalah bertetangga ini dalam banyak bab.

Pelajaran ketiga puluh empat: MENCARI AIB ORANG LAIN

Mencari aib dan keburukan orang lain merupakan indikasi keburukan jiwa, keburukan karakter dan kehinaan pelakunya. Karena setiap orang yang mempunyai aib dan sifat buruk, pasti ingin menampakkan aib dan kekurangan orang lain.
Di riwayatkan dalam salah satu hadist Rasulullah Saw, beliau bersabda: "Barang siapa yang menampakkan amal orang lain yang tidak layak, sesungguhnya dia telah menempatkan dirinya pada posisi tersebut".
Pengalaman membuktikan bahwa barang siapa meletakkan dirinya untuk senantiasa membuka aib orang lain, berarti dia telah membuat malu orang lain dan akan membuat dirinya tidak dipercaya.
Oleh karena itu, betapa bodohnya orang yang melihat dirinya sendiri bergelimang dengan beribu aib dan seluruh anggota -dari kaki hingga kepala- dipenuhi oleh maksiat, tetapi dia menutup matanya dari aibnya sendiri, lalu malah sibuk membuka mulutnya untuk mencari aib dan kesalahan orang lain.
Hadhrat Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As dalam salah satu kalimatnya mengumpamakan orang-orang yang senantiasa mencari aib orang lain lalu menukilkan aib tersebut, tetapi tidak menukilkan kebaikannya, dengan perumpamaan seekor lalat yang senantiasa mencari tempat-tempat jorok dan kotor dari badan manusia lalu hinggap di atasnya dan tidak melakukan sesuatupun pada tempat-tempat yang bersih.
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As telah bersabda dalam sebuah hadistnya: "Paling besarnya aib seseorang adalah yang menjelek-jelekkan orang lain dengan keburukan yang ada pada dirinya sendiri".
Pelajaran ke tiga puluh lima: MENJAGA RAHASIA

Wahai saudaraku, janganlah engkau membuka dan menceritakan rahasia yang engkau sembunyikan kepada orang lain, meskipun dia adalah sahabat sejatimu. Karena dia mempunyai banyak teman dan teman-temannya pun mempunyai banyak teman. Para cerdik pandai mengatakan: setiap rahasia yang telah keluar dari mulut dua orang, berarti rahasia tersebut telah tersebar. Atau segala sesuatu yang telah keluar dari dua bibir, berarti telah tersebar.

Pelajaran ke tiga puluh enam: MENGGUNJING

Wahai saudaraku yang budiman, ketahuilah bahwa sesungguhnya perbuatan menggunjing, baik hal tersebut dilakukan dengan perkataan, tulisan, secara langsung ataupun dengan isyarat, merupakan paling rendahnya sifat di antara sifat-sifat yang tercela. Dan sepertiga azab kubur itu muncul karena sifat buruk ini . Bahkan dapat dipahami dari kalam Ilahy bahwa menggunjing seorang anakpun haram hukumnya. Demikian juga Allah Swt berfirman dalam ayatnya: " yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah - yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa - yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya"
Setiap orang yang mengetahui hakikat dari sifat ini, dia akan mengetahui bahwa menggunjing merupakan paling celakanya dan paling buruknya orang. Dan paling buruknya penggunjing adalah berkata-kata buruk. Yaitu menggunjing di dekat orang yang dia takut terhadap bahaya, siksaan dan pembunuhan seperti para sultan, para penguasa dan para pemimpin.
Pelajaran ke tiga puluh tujuh: KEGIRANGAN

Yang dimaksud dengan kegirangan adalah: ketika seseorang mendengar bahwa satu musibah dan petaka telah menimpa seorang rekan atau saudaranya se-iman meskipun karena kejahatan atau keburukannya, lalu dia merasa girang dan ceria dengan kejadian tersebut.
Dari hadist dan pengalaman telah terbukti bahwa orang-orang yang gembira dengan musibah yang menimpa orang lain, maka dia tidak akan meninggalkan dunia ini sebelum dia mengalami musibah sebagaimana yang telah ditimpakan kepada orang lain. Oleh karena itu orang yang berakal tidak akan merasa aman dari berbagai musibah dunia, dan karenanya dia tidak akan merasa gembira dengan musibah saudaranya yang se-iman.

Pelajaran ke tiga puluh delapan: BERTENGKAR DAN BERDEBAT

Yang dimaksud dengan bertengkar dan berdebat adalah merasa keberatan atas perkataan orang lain dan menampakkan kelemahan serta mengacaukan percakapan orang tersebut dengan maksud untuk merendahkannya serta untuk menampakkan kebesarannya tanpa adanya manfaat ukhrawi. Ketahuilah bahwa perbuatan seperti ini merupakan salah satu dari akhlak yang sangat tercela.
Dalam salah satu hadist Rasul Saw bersabda bahwa hakikat keimanan seorang hamba tidak akan bisa mencapai kesempurnaan, selama dia tidak meninggalkan pertengkaran dan perdebatan, meskipun kebenaran berada pada dirinya.
Tidak diragukan lagi bahwa apabila seseorang menganggap hal ini sebagai sebuah sifat yang tercela, pasti dia tidak akan pernah menyempatkan diri untuk melakukannya, karena pelaku perbuatan tercela ini diumpamakan sebagaimana seekor anjing liar yang senantiasa akan menyambung keinginannya. Dia akan ikut terperosok dengan setiap orang dan senantiasa akan mencari keinginannya ini, sehingga setiap dia mendengar percakapan orang lain, dia akan melakukan perdebatan dengannya serta mencari kelanjutannya, bahkan dia merasa nikmat dengan perbuatannya tersebut. Terutama dalam kemajemukan seperti sekarang ini, dimana sebagian dari orang-orang yang lemah akalnya malah memuji orang yang mempunyai sifat tercela semacam ini. Orang-orang yang lemah akalnya itu mengatakan bahwa si fulan pendebat atau si fulan yang banyak bicara dan penceramah hebat itu tidak bisa didebat dan tidak ada yang mengalahkannya. Oleh karena itulah biasanya orang semacam ini, yaitu orang yang hobinya berdebat, selalu memilih lawan debatnya dari kelompok orang-orang yang jahil dan bodoh, sehingga dia akan bisa mengalahkannya. Sungguh malang sekali nasib orang seperti ini, karena dia tidak mengetahui bahwa barang siapa yang melakukan perdebatan dengan orang yang lebih bodoh darinya untuk mengetahui bahwa dirinya lebih pandai, sesungguhnya dia adalah orang yang bodoh.

Pelajaran ke tiga puluh sembilan: MENGOLOK-OLOK DAN MENGEJEK

Yang dimaksud dengan mengejek dan mengolok-olok adalah menirukan kelakuan, perbuatan, gerak-gerik dan sifat-sifat orang lain, baik dilakukan dengan perkataan, perbuatan, isyarat, sindiran atau kiasan, sehingga menyebabkan orang lain tertawa. Ketahuilah bahwa hal ini dapat menyebabkan timbulnya perpecahan, kecongkakan atau kehinaan orang yang diolok-olok. Dan bisa jadi hal ini, yakni membuat orang lain tertawa dan menganggapnya lucu, disebabkan karena ketamakan terhadap kotoran duniawi. Tak pelak lagi bahwa perbuatan semacam ini tidak akan keluar kecuali dari orang-orang yang rendah akhlaknya, tidak berpendidikan dan pemilik fitrah yang tercela. Bahkan pelaku perbuatan tersebut termasuk orang yang tidak memiliki pengetahuan agama dan tidak juga memiliki insaniah.

Pelajaran ke empat puluh: BERLEBIHAN DALAM BERCANDA

Berlebihan dalam bercanda dan melawak adalah sebuah perbuatan yang buruk, bahkan akan menyebabkan kekurangsabaran, turun kehormatannya dan akan menghasilkan kehinaan serta mematikan hati.
Perbuatan inipun akan membuat lupa terhadap akhirat dan bisa jadi akan menyebabkan perpecahan dan permusuhan pula atau akan menyebabkan ketersingungan dan memalukan para mukmin.
Tetapi tidak berlebihan dalam hal ini dan tidak membuat keburukan sebagaimana di atas dan tidak membuka mulut serta tertawa tanpa manfaat, merupakan hal yang terpuji.

Pelajaran ke empat puluh satu: GHIBAH

Ghibah atau menggosip adalah mengatakan sesuatu yang tidak ada pada diri seseorang dengan maksud untuk menjelekkannya atau mencari kekurangannya, dimana apabila orang tersebut mendengar perkataannya ini, dia tidak akan senang, bahkan akan merasa sedih dan tidak rela dengan perkataan tersebut. Baik apa yang dikatakan kepadanya tersebut merupakan kekurangannya yang terdapat di tubuhnya, keturunannya, sifatnya, perbuatannya ataupun perkataannya, ataupun pada segala sesuatu yang berhubungan atau berkaitan dengannya. Sebagaimana dikatakan dalam hadist Rasulullah Saw, belaiu bersabda: Apakah kalian tahu apakah ghibah itu? Mereka menjawab: Ya Rasulullah, Allah dan Utusan Nya Saw lah yang lebih mengetahuinya!. Beliau bersabda: "Ghibah ialah: seseorang menyebut-nyebut saudaranya dengan sesuatu yang akan membuatnya tidak senang".
Salah seorang dari mereka bertanya" Ya Rasulullah apabila sifat tersebut betul-betul ada bersamanya, apakah hal ini tetap merupakan suatu keburukan?" Beliau menjawab: "Apabila kekurangan tersebut ada padanya maka hal ini merupakan ghibah, dan apabila tidak ada padanya maka hal ini merupakan fitnah"
Dan tidak ada perbedaan antara ghibah yang dilakukan dengan sindiran atau yang langsung, bahkan bisa jadi sindiran itu lebih buruk, dan pendengar ghibah berada dalam hukum pelaku ghibah.
Ketahuilah bahwa ghibah merupakan paling besarnya bahaya, dan menurut pendapat semua ulama Islam dan sesuai dengan apa yang ditegaskan dalam kitab dan sunnah, hal ini merupakan perbuatan yang telah jelas keharamannya.
Dari hadist yang begitu banyak dapat dipahami bahwa ghibah itu lebih buruk dari pada berzina . Dan ghibah akan memakan kebaikan yang ada sebagaimana api membakar kayu . Allah Swt tidak akan mengabulkan shalat dan puasa pelaku ghibah hingga empat puluh hari empat puluh malam.
Begitu banyak hadist-hadist yang menjelaskan betapa tercelanya perbuatan ini. Dan penyakit yang sangat berbahaya ini tidak akan bisa sembuh kecuali dengan merujuk kepada ayat-ayat dan hadist-hadist yang mencela perbuatan ini. Kemudian fikirkanlah dan bertafakkurlah dalam masalah ini bahwa apabila seseorang melakukan ghibah atasmu di sampingmu, apakah engkau tidak akan kecewa dan marah? Sebagaimana engkau tidak akan rela untuk dirimu sendiri dalam hal yang tidak engkau sukai. Hendaklah engkau memperhatikan apa-apa yang engkau ucapkan dan berfikir dalam percakapan. Sumber ghibah itu biasanya muncul dalam bentuk kemarahan, perpecahan, sindiran, hasad, candaan murni, lelucon atau dengan maksud mengejek, mencemooh, bangga dan semisalnya.

Pelajaran ke empat puluh dua: BOHONG

Bohong dalam berbicara merupakan sebuah sifat yang dapat membuat pelakunya menjadi orang yang rendah, hina, tanpa malu dan tidak dipercaya lagi. Hal ini merupakan modal dari perbuatan, harga diri dan hitamnya wajah di dunia dan di akhirat.
Ayat-ayat dan hadist-hadist yang menyebutkan tentang keburukan dari sifat ini begitu banyak. Dalam salah satu hadist Rasulullah Saw bersabda: Setiap kali para mukmin berkata bohong tanpa adanya halangan syar'i, maka tujuh puluh ribu malaikat akan melaknatnya dan akan keluar bau yang sangat busuk dari hatinya dan dalam keadaan seperti itulah dia akan naik ke atas hingga sampai ke arsy Ilahy. Maka akan dilaknatlah dia oleh para penyangga 'arsy. Allah Swt -dengan perantaraan satu kebohongan ini- akan menuliskan tujuh puluh zina atasnya dimana paling rendahnya zina tersebut adalah seperti melakukan zina dengan ibunya sendiri.
Dari hadist yang lainnya dapat dipahami bahwa pembohong tidak mempunyai iman, dan wajahnya berwarna hitam . Berbohong itu lebih jelek dari meminum minuman keras . Bohong merupakan kunci sebuah rumah dimana seluruh keburukan berada di dalamnya . Dan bohong merupakan paling buruknya riba, mewariskan fakir dan lupa dan mengambil wajah insaniyah pelakunya . Para pembohong akan diazab dengan azab yang khusus di dalam kuburnya . Pembohong mempunyai kelembutan hati yang lebih sedikt dibanding segala makhluk yang ada , dan masih begitu banyak lagi kalimat-kalimat yang menjelaskan tentang keburukan dari berkata-kata bohong.
Cara untuk melepaskan diri dari keburukan ini adalah dengan merujuk kepada ayat-ayat dan hadist-hadist yang mencela perbuatan tesebut. Di samping itu juga hendaknya berfikir bahwa berbohong akan menyebabkan kematian yang abadi dan akan menyebabkan hilangnya rasa malu seseorang, kehinaan dan sumber dari jatuhnya harga diri serta kepercayaan. Cukuplah dalam sebab-sebab ketiadaan rasa malu dengan apa yang telah dikatakan dalam hadist dimana Allah Ta'ala meletakkan penyakit lupa pada pelakunya . Persoalan ini telah sampai pada pengalaman dimana dalam perumpamaan globalnya dikatakan bahwa pembohong tidak mempunyai ingatan.
Ketahuilah bahwa berkata bohong sebagaimana sabetan pedang, apabila terdapat luka karenanya maka luka tersebut akan tetap meninggalkan bekasnya. Karena saudara-saudara Yusuf As menampakkan aib kebohongannya maka tidak ada kepercayaan dalam perkataan mereka yang benar.
Allah Swt berfirman: " Ya'kub berkata: "Sesungguhnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (buruk ) itu, maka kesabaran yang baik itulah kesabaranku"
Dan ketahuilah, bahwa lawan dari berbohong adalah jujur dan berkata benar. Hal ini merupakan sifat yang baik dan merupakan pemimpin akhlak yang terpuji. Allah Swt berfirman dalam salah satu ayatnya: "Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama-sama orang yang benar"

Dari Hadhrat Shadiq As diriwayatkan bahwa beliau bersabda: "Janganlah engkau melihat seseorang pada lama dan panjangnya rukuk serta sujudnya, karena bias jadi hal itu dia lakukan karena kebiasaannya yang apabila dia meninggalkannya, dia akan merasa tidak nyaman. Tetapi lihatlah seseorang itu pada benar tidaknya perkataannya dan bagaimana dia mengembalikan amanat yang berada di tangannya" .

Pelajaran ke empat puluh tiga: BAHAYA LISAN

Tidak disangkal lagi mengenai banyaknya bahaya akibat dari melakukan ghibah, fitnah, bohong, mencemooh, berdebat, riya, melawak, ikut campur dalam percakapan, kata-kata kasar dan sebagainya. Dan semua itu merupakan kerusakan dan keburukan yang bersumber dari lisan. Bahaya yang timbul dari anggota badan yang satu ini bagi seluruh anggota badan seseorang, sangat banyak dan bermacam-macam.
Lisan merupakan alat dan sarana yang paling ampuh bagi setan untuk menyesatkan bani Adam dan umat manusia. Setan tidak tinggal diam dan senantiasa berusaha menyeret manusia ke dalam kesesatan dan kehancuran dengan berbagai usaha dan sarana, diantaranya adalah dengan jalan lisan manusia.
Dalam hadist Nabawi Saw telah diriwayatkan bahwa satu alat yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka jahanam adalah lisan dan kemaluannya . Di dalam riwayat lainnya beliau bersabda bahwa barang siapa yang terjaga dari keburukan perut, kemaluan dan lisannya, maka sesungguhnya dia telah terjaga dari seluruh keburukan.
Di dalam sebuah riwayat Hadhrat Imam Ja'far As bersabda bahwa tidak ada satu haripun kecuali pada hari itu setiap anggota badan mampu bercakap dan berkata kepada manusia: aku bersumpah kepada Allah, janganlah engkau jatuhkan kami ke dalam adzab.
Dalam riwayat lainnya setiap anggota badan itu berkata: takutlah kepada Allah dalam hak kami, karena apabila kamu benar mengatakannya, maka kamipun akan mengatakannya dengan benar, dan apabila kamu menyimpang, maka kami semua akan menyimpang.

Ketahuilah bahwa kebanyakan dari kesulitan-kesulitan dan kerusakan duniawi itu bersumber dari lisan. Sedangkan lawan dari keburukan lisan adalah diam dan tidak brcakap apa-apa. Diam merupakan hiasan bagi para alim dan tirai bagi para jahil. Karena diam merupakan sebuah pintu dari pintu-pintu hikmah. Rasulullah Saw bersabda dalam sebuah hadist: Barang siapa yang diam, maka sesungguhnya dia telah terselamatkan. Dalam sebuah wasiat, Lukman al-Hakim berkata kepada putranya: Apabila engkau banyak memberi nasihat, maka ucapanmu itu adalah perak. Ketahuilah bahwa diam adalah emas.
Hadhrat Imam Baqir As dalam sebuah hadistnya bersabda bahwa "syi'ah kami dan sahabat-sahabat kami adalah orang-orang yang lisannya bisu".
Oleh karena itu wahai saudaraku yang mulia, biasakanlah dirimu sebisa mungkin untuk senantiasa diam. Janganlah engklau meremehkan faedah yang terkandung di dalamnya. Ketahuilah bahwa orang-orang yang dungu itu bukanlah mereka yang diam. Apabila engkau diam dan mengetahui maslahat darinya, maka engkau bukan termasuk orang yang dungu. Justru di sinilah letak kebijakanmu.

Pelajaran ke empat puluh empat: HUBURRIYASAH(CINTA KEKUASAAN)

Hakikat kekuasaan adalah memegang tampuk kepemimpinan kalbu rakyat dan menjadikan dirinya sebagai pemilik hati mereka. Hal ini tidak kosong dari berbagai bahaya yang sangat fatal.
Persoalan kekuasaan dapat menyebabkan keburukan dan kerusakan yang teramat besar serta akan menghasilkan kerugian duniawi dan ukhrawi. Hal itu akan terjadi apabila pemilik kekuasaan dan pangkat mengarahkan sasarannya untuk memaksa orang-orang yang keras kepala dan senantiasa takut terhadap hina dan kemuliaan dirinya, setiap saat pikirannya akan senantiasa berada dalam cengkeraman fikiran yang batil.
Penguasa semacam itu dari satu sisi, otak dan pikirannya disibukkan dengan berbagai aturan, undang-undang dan kewajiban-kewajiban yang harus dia susun untuk para budak dan pengikutnya, dan pada saat yang lain pikirannya disibukkan bagaimana cara menumpuk kekayaan materi sebanyak-banyaknya dan memperoleh reputasi di mata masyarakat setinggi-tingginya. Waktu-waktunya senantiasa diisi dan dihiasi dengan basa-basi dan penyambutan yang tanpa henti, dan umurnya dihabiskan untuk melakukan nifak di sana-sini. Dia tidak dapat tidur pada malam hari dan tidak pula beristirahat dan tenang pada siang hari. Wal 'iyadzu Billah……

Pelajaran ke empat puluh lima: KHUMUL(TAK INGIN DIKENAL)

Khumul -salah satu cabang dari sifat zuhud- merupakan sifat terpuji para muqarrab mukmin dan merupakan indikasi calon-calon penghuni surga. Dan Allah Swt mencintai orang-orang yang memiliki sifat seperti ini. Bahkan pada sebagian riwayat (di dalam hadist qudsi) dikatakan bahwa Allah Swt berfirman: "Tidakkah Aku telah memberikan nikmat kepadamu, tidakkah Aku telah menutupimu di antara manusia dan tidakkah namamu telah Ku hilangkan dari kalangan manusia?".
Adakah kedudukan yang lebih tinggi dari seseorang yang telah mengenal Tuhannya dengan baik, mencukupkan dirinya di dunia ini dengan sesuatu yang sedikit, sementara tidak seorangpun yang mengenalnya. Begitu malam tiba setelah selesai melakukan ibadahnya, dia beristirahat dengan perasaan yang tenang dan damai, dan begitu matahari telah menyebulkan dirinya, dengan konsentrasi penuh dia menyibukkan diri dalam aktifitasnya. Karena inilah, maka sebagian para pembesar agama dan salafus-shalihin membuat kamar khusus untuk dirinya. Di sudut kamar itulah mereka sibuk mendekatkan diri dan bermunajat kepada Sang Kekasih Sejati, sibuk menghitung-hitung aib diri mereka dan menyembunyikan namanya dri pandangan masyarakatnya. Mereka sama sekali tidak mengharapkan acungan jempol dari siapapun selain kekasihnya itu.
Pelajaran ke empat puluh enam: RIYA'(PAMER)

Riya' merupakan salah satu akhlak yang buruk dan merupakan tempat kematian yang sangat besar bagi seseorang. Dalam begitu banyak kitab, ayat-ayat, sunnah dan riwayat terdapat begitu banyak celaan untuk sifat yang satu ini. Dalam sebuah hadist Nabi Saw dikatakan bahwa sifat yang paling dekat dengan riya' adalah syirik . Dalam riwayat lain beliau Saw bersabda bahwa pelaku riya' pada hari kiamat akan diseru dengan tiga panggilan: wahai kafir, wahai fajir (yang bermoral bejat), wahai ghadir (pengkhianat), wahai khasir (yang merugi), amalanmu rusak dan pahalamu batal. Hari ini kamu tidak mempunyai ganjaran lagi di sisi Kami, karena itu ambillah pahalamu dari orang-orang dimana kamu melakukan amalan ibadah tersebut untuk dipuji oleh mereka, hai penipu. Dalam hadist lain disebutkan bahwa surga akan berbicara dan mengatakan bahwa "sesungguhnya aku diharamkan untuk orang-orang yang bakhil dan riya'".
Hadist yang mencela perbuatan riya' ini begitu banyak, dan cukuplah dalam keburukannya bahwa dalam segala amalan yang dimasukinya berdasarkan fatwa para fuqaha, amal tersebut akan menjadi batal dan akan jatuh dari derajat keterkabulannya.
Sebagian dari ulama mengatakan, jangan sampai orang-orang yang jahil karena ketidakfahamannya menisbatkan kebohongan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan mengambil kesimpulan bahwa riya' dalam duka cita terhadap Hadhrat Sayyidus Syuhada itu diperbolehkan dan bukan merupakan syarat bagi keikhlasan. Secara dharuri, menangis untuk Hadhrat Husain As adalah ibadah, dan riya dalam ibadah sebagaimana riba dan maksiat lainnya sama sekali tidak diperbolehkan.
Sungguh mengherankan, bagaimana bisa orang-orang yang berakal sehat itu memberikan asumsi bahwa wujud mulia Hadhrat Husain As yang menanggung semua musibah demi menegakkan hukum-hukum dasar tauhid Allah Swt dan demi mengibarkan kalimat haq guna menguatkan pondasi agama penerang, lalu untuk mempertahankannya harus dengan melalui bid'ah-bid'ah para pengingkar, kemudian menjadikannya sebagai sebab untuk memperbolehkan kemaksiatan dan penjara yang lebih besar, yaitu riya dan syirik kecil ?! "Ini tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan"

Pelajaran ke empat puluh tujuh: PANJANG ANGAN-ANGAN

Pada salah satu hadist mulia, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As bersabda: "Ada dua hal yang aku takutkan atas diri kalian, pertama: mengikuti hawa nafsu dan kedua: ber angan-angan panjang"
Yang dimaksud dengan panjang angan-angan adalah banyak berangan-angan, berkeinginan terlampau jauh serta terlalu berharap pada kehidupan dunia. Penyebab hal tersebut adalah dua hal, yaitu:
Pertama: Jahil dan angkuh. Orang yang jahil senantiasa meyakini kemudaan dan kesehatan tubuhnya, ia tidak merasa yakin bahwa sebenarnya kematian itu bisa menjemputnya pada masa muda dan dalam keadaan sehat. Ketahuilah bahwa orang seperti ini telah lalai terhadap kematian kanak-kanak serta para remaja yang tak terhitung banyaknya, serta lalai dengan adanya berbagai macam penyakit yang muncul secara mendadak dan menimbulkan kematian yang tiba-tiba.
Kedua: Cinta dunia. Cinta kepada dunia dan materi itu dekat kepada kenikmatan dan kelezatan yang fana. Ketika manusia telah terjebak dalam kecintaan dan kedekatan seperti ini, maka perpisahan dengannya akan menjadi sesuatu yang mahal harganya, sehingga karena hal ini dia tidak pernah berpikir lagi tentang kematian. Dan terkadang, apabila pikirannya secara selintas menuju ke arah kematian, maka dia akan segera mengalihkan perhatiannya pada hal-hal yang lainnya. Apabila sekali waktu ingatannya terpaku pada kehidupan akhirat, maka setan dan nafsu amarahnya akan menjanjikan sesuatu yang palsu kepadanya dengan mengatakan bahwa sekarang kamu masih berada pada awal umurmu. Oleh karena itu pergunakanlah hal ini untuk bersuka ria, berfoya-foya dan sibukkanlah dirimu dengan mengumpulkan perlengkapan duniamu, ketika telah besar nanti, bertaubatlah serta persiapkanlah amalan-amalan untuk akhiratmu. Ketika telah menginjak usia dewasa, dia akan mengatakan: usiamu masih cukup muda, kamu masih mempunyai banyak waktu untuk sampai ke masa tuamu. Kemudian masa tuapun tiba. Kali ini dia akan mengatakan: insya Allah aku akan memperbaiki lahan ini terlebih dahulu atau mengatakan aku akan persiapkan anak gadisku ini untuk mengumpulkan peralatan rumah tangganya, atau aku akan memperindah rumahku, setelah itu baru aku akan melupakan dunia ini. Dengan demikian aku akan bisa dengan bebas mengepakkan sayap dan menyibukkan diri dengan beribadah. Tetapi setiap kali pekerjaannya yang satu selesai, maka dengan segera dia akan menemukan pekerjaan yang baru. Dia hanya terhenti pada perkataan hari ini dan esok, hingga secara tiba-tiba sebuah seruan datang menghampirinya. Tuan fulan yang malang ini telah lalai bahwa janji yang akan diberikan untuk keesokan harinya tetap bersamanya dan apa yang dinamakan dengan terbebas dan mendapatkan waktu luang dari segala khayalan dan aktifitas dunia, tidak akan pernah ada hasilnya.
Yang dimaksud dengan pemilik waktu luang adalah orang yang sekaligus dalam satu waktu meninggalkan kesemua hal tersebut. Oleh karena itu, orang yang usianya telah sampai sekitar empat puluh tahun, apabila mereka masih berpikir tentang dunia, maka hal ini merupakan kelalaiannya dan merupakan tipuan setan, karena sebenarnya hari-hari penuh keindahan dan masa mudanya telah lewat dan hari-hari bahagia dan sukarianya telah terlampaui. Sedangkan sekarang, setiap hari satu persatu anggota badannya mengalami kelumpuhan. Tetapi si malang ini masih saja lalai terhadap semuanya dan menyibukkan diri dalam fikiran-fikiran yang batil. "Wahai generasi yang telah mencapai usia empat puluh tahun, berhati-hatilah kalian, karena sesungguhnya ladang telah dekat pada masa panennya" .
Tak ada obat penyembuh dari panjang angan-angan ini selain dari kematian. Karena membayangkan kematian, akan menyebabkan seseorang merasa sedih terhadap dunia dan akan membuat hati merasa kenyang terhadapnya. Oleh karena itulah Hadhrat Rasul Saw bersabda: "Perbanyaklah dalam mengingat pencabut kelezatan" . Pada riwayat yang lain beliau bersabda bahwa tidak ada sebuah keluarga pun kecuali malaikat maut sebanyak lima kali dalam sehari semalam memeriksa waktu-waktu shalat mereka .
Oleh karena itu wahai saudaraku yang mulia, pergilah sejenak ke pekuburan serta makam para sahabat, dan ambillah pelajaran serta ibrah pada apa yang dihamparkan di pekuburan. Dan berpikirlah tentang peristiwa dan perbincangan apa yang tengah terjadi di bawah tanah yang hanya berjarak dua jengkal dari kakimu.
Setelah itu berpikirlah sejenak tentang keadaan dirimu, karena bagaimanapun juga engkau pun pasti akan seperti mereka. Umurmu pun pasti akan habis dan kode kematian akan mendatangimu dari arah manapun, sementara para tabib tidak sanggup lagi menyembuhkanmu. Anggota badanmu akan berhenti dari aktifitasnya, keringat kematian akan muncul di dahimu dan malaikat maut dengan perintah dari Tuhan telah datang, mau ataupun tidak mau, cengkeraman kematian akan menancap pada tubuhmu yang telah lemah, lalu membuat jarak antara jasad dengan ruhmu. Setelah itu sahabat-sahabat serta saudara- saudaramu akan membuat teriakan sesal dan kesedihan, sehingga tangisan para saudara dan teman-temanmu pun dimulai. Tak lama setelah itu, mereka akan menaikkanmu pada sebuah keranda serta memenjarakanmu pada sebuah lobang dan meninggalkanmu di sana sendirian tanpa teman dengan segala kengerian. Pada saat itulah engkau akan menyesali hari-hari kehidupanmu, kemudaan dan kesehatan serta waktu luangmu di dunia, karena apa yang telah engkau peroleh, kini telah hilang dari tanganmu dan engkau tidak menyimpannya sedikit pun untuk akhiratmu.

Pelajaran ke empat puluh delapan: RIDHA(RELA)

Yang dimaksud dengan ridha dan rela adalah meninggalkan kecaman dan tidak memprotes takdir Ilahy, baik secara lahir maupun batin, secara lisan maupun perbuatan. Orang yang telah mencapai peringkat ini akan senantiasa bahagia, nikmat, mulia dan tenang. Baginya tidak ada perbedaan sama sekali antara fakir dan kaya, senang ataupun susah, mulia ataupun hina dan sehat ataupun sakit. Karena dia mengetahui bahwa segala sesuatunya berasal dari Allah Swt. Dan dengan kecintaan dan kasih saying-Nya yang telah tercerap dalam hatinya telah menyebabkannya begitu mencintai segala perbuatan-Nya, dan dia merasa senang dengan segala apa yang sampai padanya sebagaimana kehendak-Nya.

Ketahuilah bahwa sabar dan ridha merupakan pemimpin semua ketaatan. Telah dinukilkan dari Hadhrat Shadiq As. Beliau bersabda:
"Aku heran terhadap apa yang dilakukan oleh seorang muslim, karena esungguhnya Allah tidak akan mentakdirkan sebuah persoalanpun baginya melainkan untuk kebaikannya (apabila badannya telah terpotong-potong karena penyakit yang dideritanya, hal inipun adalah untuk kebaikannya dan) apabila malaikat barat dan timur telah diberikan keadaannya, inipun untuk kebaikannya".

Dalam sebuah hadist qudsi Allah Swt berfirman:
"Akulah Tuhan yang tidak ada Tuhan selain Ku. Barang siapa yang tidak sabar dengan musibah Ku dan tidak ridha dengan qada Ku serta tidak bersyukur dengan nikmat-nikmat Ku, maka silahkan mencari tuhan yang seperti Ku".
Ketahuilah bahwa buah dari ridha adalah kecintaan dan kasih sayang. Hal itu dapat diperoleh dengan berusaha meraih kecintaan dan kasih sayang Allah, senantiasa berfikir, berdzikir dan melakukan segala sesuatu yang menyebabkan tercurahnya kasih sayang Ilahy. Selain dari itu, hendaklah dia memikirkan apa yang akan terjadi dengan ketidakridhaannya dan apa manfaat dari ketidaksukaan serta kemarahannya. Karena sesungguhnya hal semacam ini tidak akan pernah mengubah qada dan takdir untuknya. Di samping itu tidak akan terjadi perubahan atas apa yang telah terjadi dengan alasan untuk kebahagiaan hatinya. Ketidaktenangannya tidak akan pernah memberikan manfaat yang lain selain akan melemahkan dan menghancurkan kehidupannya dan mengambil berkahnya waktu.
Para pencari derajat ridha itu senantiasa memperhatikan ayat-ayat dan hadist-hadist yang berada dalam ketinggian maqam para pemilik bencana. Ketahuilah bahwa segala kesulitan pada masa lalu merupakan harta karun untuk masa kini, dan setiap kesedihan merupakan ketenangan untuk masa selanjutnya. Oleh karena itu wahai saudaraku yang budiman, berharaplah dengan pahala dari Allah Swt, karena kesejatian seorang lelaki itu dengan menapaki perjalanan musibah dan bencana dengan langkah ketenangan dan kesabaran sehingga kesulitan yang didapatkan pada perjalanan ini akan menjadi mudah dan ringan baginya. Sebagaimana orang yang sakit mampu menahan sakitnya ketika dilakukan hijamat (bekam) dan rasa pahit obat.
Hendaklah diketahui bahwa tidak terdapat kontradiksi antara ridha dengan do'a, karena kita telah diperintahkan untuk berdo'a oleh syari'at. Sedangkan Allah Yang Maha Tahu menghendaki do'a dari kita dan Dia membuatnya menjadi sebuah kunci kebahagiaan dan hajat.

Pelajaran ke empat puluh sembilan: SABAR

Sabar ialah tidak panik dalam menghadapi petaka dan musibah. Kebalikan dari keadaan ini adalah tidak mempunyai kesabaran dalam menghadapi musibah. Dengan ungkapan lain: melepaskan diri dari tali kekang musibah dan petaka yang menimpanya dengan berteriak, mengeluh, meratap, merobek pakaian, memukul-mukul diri bahkan dengan berburuk muka dan seterusnya yang kesemuanya ini akan menjadi penyebab bagi lemahnya jiwa.
Sabar terdiri dari beberapa pembagian, seperti sabar dalam perang yang muncul dari orang-orang pemberani, sabar dalam kemarahan yang hal ini merupakan hilm, sabar menghadapi sulitnya ketaatan, sabar atas tuntutan syahwat dan selainnya. Pada hakikatnya kebanyakan dari akhlak yang mulia senantiasa berada dalam ujian kesabaran.
Posisi sabar berada dalam derajat yang tinggi. Allah Swt akan memberikan kebaikan lebih banyak kepada orang-orang yang sabar, dan kebanyakan dari derajat-derajat surga berkaitan dengan mereka.
Lebih dari tujuh puluh pembahasan telah disebutkan dan telah dibuktikan tentang begitu banyaknya sifat-sifat para sabirin di mana telah diletakkan bagi mereka salawat, rahmat dan hidayat serta pahala yang besar itu telah sampai kepada mereka.
Telah disinggung di dalam hadist-hadist tentang begitu banyaknya keutamaan bagi orang-orang yang sabar. Telah diriwayatkan bahwa posisi sabar di dalam iman seseorang itu sebagaimana posisi kepala terhadap badan manusia. Seseorang yang tidak mempunyai kepala pasti tidak mempunyai badan. Demikian juga orang yang tidak memiliki kesabaran, berarti dia tidak mempunyai iman.
Metode untuk memperoleh jenjang-jenjang kesabaran adalah dengan memperhatikan beberapa persoalan di bawah ini:
Pertama: Perbanyaklah mempelajari hadist-hadist yang membahas tentang keutamaan-keutamaan bala dan musibah dunia, dan perhatikanlah bahwa berhadapan dengan setiap musibah akan menaikkan derajat atau menghilangkan kejahatan dalam diri seseorang. Yakinlah bahwa tidak akan ada kebaikan pada seseorang yang mendapatkan musibah tanpa adanya kesusahan.
Kedua: Berfikirlah bahwa masa musibah sangatlah pendek, hanya sekejap dan segera setelah itu akan terbebas, lalu kembali ke rumah yang damai untuk beristirahat.
Ketiga: Berfikirlah terhadap manfaat dari ketidaksabaran dan panik, meskipun apapun yang menjadi takdir akhirnya akan terjadi. Ketahuilah bahwa ketidaksabaran tidak akan memberikan keuntungan sama sekali, dan apa yang telah terjadi tidak akan bisa dirubah meskipun mereka telah menentukannya. Bahkan, ketahuilah bahwa ketidaksabaran dan panik justru akan menghancurkan pahala seseorang dan akan menjatuhkan sifat kesabaran yang dimilikinya.
Keempat: Perhatikanlah keadaan orang-orang yang telah tertimpa bala dan musibah yang lebih berat dan lebih pahit dari dirimu.
Kelima: Ketahuilah bahwa bala dan musibah merupakan dalil dari keutamaan dan kebahagiaan seseorang.
Keenam: Ketahuilah bahwa orang-orang yang ridha terhadap musibah akan mendapatkan kesempurnaan.
Ketujuh: Berfikirlah bahwa musibah yang terjadi itu berasal dari Haq Ta'ala dimana Dia merupakan paling dekatnya sahabat yang tidak menginginkan sesuatu dari engkau selain kebaikan dan kebenaranmu.
Kedelapan: Ikutilah prilaku para muqarrabin dan perhatikanlah musibah yang menimpa mereka serta lihatlah kesabaran mereka dalam menghadapi musibah tersebut, sehingga hal ini akan memunculkan kesabaran dan potensi ruh dalam dirimu.
Dan ketahuilah bahwa yang dimaksud dengan sabar adalah sebagaimana yang telah disebutkan pada awal pembahasan. Tetapi sedihnya hati serta keluarnya air mata merupakan tuntutan insan, dan hal ini tidak akan mengeluarkannya dari batas kesabaran. Contoh dari hal ini adalah orang yang sakit rela untuk di-hijamat, tetapi dia tetap terpengaruh oleh rasa sakit yang ditimbulkan oleh hijamat tersebut.
Pelajaran ke lima puluh: SYUKUR

Syukur atas nikmat ialah mengenali si mun'im (pemberi nikmat)-nya, dan merasa bahagia terhadap nikmat tersebut serta menggunakannya dalam hal-hal yang diridhai oleh mun'imnya.
Posisi syukur lebih mulia dari posisi orang-orang yang beruntung, dan merupakan faktor pemberangus musibah serta akan menyebabkan bertambahnya kenikmatan. Oleh karena itulah syukur merupakan suatu hal yang diperintahkan dan sangat ditekankan. Allah Swt. berfirman:
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat Ku) maka sesungguhnya azab Ku sangat pedih".
Dari ayat ini dan dari hadist-hadist yang muktabar diketahui bahwa para pengingkar nikmat yang menolak untuk bersyukur akan menyebabkan mereka mendapatkan kemalangan pada hari pembalasan dan akan menyebabkan tidak tercurahnya rizki serta akan menjadikan kelambatan turunnya nikmat di dunia.
Makna syukur adalah menggunakan nikmat dimana dalam menggunakannya terdapat keridhaan Mun'im. Oleh karenanya, merupakan hal yang urgen bagi para pensyukur nikmat untuk mengenali segala sesuatu dimana keridhaan Ilahy terdapat di dalamnya serta terdapatnya pengetahuan terhadap persoalan-persoalan yang makruh dan melanggar keridhaan Ilahy, sehingga dengan hal ini mereka mampu untuk mensyukuri serta meninggalkan pengingkaran terhadapanya.
Metode yang bisa dipergunakan untuk menemukan rangkaian dari segala yang dicintai oleh Allah, dan segala yang dimakruhkan-Nya adalah dengan mengenal agama yang muqaddas, dimana segala sesuatu yang menyebabkan keridhaan-Nya atau yang melanggar keridhaan-Nya terangkum secara keseluruhan di dalamnya. Posisi pertama adalah hal-hal yang wajib dan mustahab dan pada posisi kedua adalah hal-hal yang makruh dan haram. Oleh karena itu barang siapa yang tidak mempunyai informasi terhadap serangkaian hukum-hukum syari'at suci ini di dalam amalan dan perbuatan-perbuatannya, berarti dia tidak mempunyai kemampuan untuk melaksanakan hak syukur kepada Allah Swt.
Ketahuilah bahwa cara untuk bersyukur kepada Allah terpaku pada beberapa hal:
Pertama: Melihat kepada yang lebih rendah darinya dalam persoalan-persoalan yang berhubungan dengan keduniaan, dan melihat kepada yang lebih tinggi dalam persoalan-persoalan agama.
Kedua: Memperhatikan keadaan orang-orang yang telah meninggal, serta berfikir bahwa akhir yang sesuai buat mereka adalah dikembalikannya mereka ke dunia ini sehingga mereka bisa melakukan amal yang baik di dunia. Oleh karena itu, misalkanlah dirimu pada posisi mereka dan berimajinasilah bahwa hal ini bisa terjadi dan bisa kembali lagi ke dunia.
Ketiga: Ingatlah apa yang telah terjadi pada dirimu dengan melihat musibah-musibah dan penyakit-penyakit yang mematikan yang tidak ada lagi harapan untuk sembuh. Oleh karena itu, hargailah sebaik mungkin terbebasnya dari kesemua itu.
Keempat: Syukurilah segala musibah yang terjadi pada dirimu, karena sebenarnya engkau tidak mengalami musibah yang lebih berat dari itu, atau bersyukurlah karena musibah tidak sampai pada agamamu.
Kelima: Perdalamlah pengenalan terhadap Tuhanmu, dan bertafakkurlah dalam ciptaan Ilahy serta segala keragaman nikmat lahir maupun batin dimana kesemuanya itu lebih banyak dari apa yang telah engkau dapatkan. Allah Swt. berfirman: "Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, maka tidaklah kamu dapat menghitungnya".

PENUTUP.

Ketahuilah bahwa untuk mensucikan jiwa dari sifat-sifat yang rendah dan tercela serta menghiasinya dengan sifat-sifat yang indah serta terpuji, terdapat beberapa hal urgensi yang perlu untuk dilakukan:
Pertama: Senantiasa mempertahankan serta mengaplikasikan diri dengan amalan-amalan yang merupakan pengaruh dari sifat-sifat terpuji, dan mau tidak mau memacu jiwa kepada aktifitas-aktifitas yang melahirkan sebuah sifat yang merupakan tuntutan edukasinya atau berada dalam intensi keabadian dan penjagaan terhadapnya.
Kedua: Senantiasa melakukan perenungan terhadap kondisi dan memberikan atensi terhadap amalan serta aktifitas diri. Pada setiap amalan yang hendak dilakukan, terlebih dahulu harus merenungkannya sehingga tidak akan ada kontradiksi dengan urgensi penempatan kebaikan, dan tidak lalai dari keadaan dirinya dalam segala kondisi. Bahkan setiap hari dan malam hendaknya membuka buku amalannya serta melakukan perhitungan dari kepala hingga kakinya dan meneliti serta mengamati apa yang telah muncul dan telah dia lakukan. Apabila merupakan suatu amalan yang baik dan terpuji, maka hendaklah bersyukur. Dan apabila merupakan amalan yang berada dalam keburukan, maka hendaknya bertaubat serta melakukan kontemplasi tentangnya.
Ketiga: Menghindarkan hal-hal yang membuat semakin bangkitnya potensi syahwat atau kemarahan, misalnya: menghindarkan mata, telinga dan hati dari melihat, mendengar dan membayangkan segala sesuatu yang dapat membangkitkan syahwat dan kemarahannya. Berusahalah untuk semakin banyak menjaga hati dari khayalan terhadapnya.
Keempat: Jangan tertipu dengan nafsu sendiri, dan sama sekali janganlah menganggap apa yang dilakukannya itu benar, dan berusahalah untuk semakin banyak mencari aib dan cacat diri, serta berusahalah dengan pandangan yang cermat untuk mencari keburukan diri yang tersembunyi. Ketika berhadapan dengan sesuatu darinya, maka berusahalah untuk menghilangkannya. Ketahuilah bahwa setiap nafsu dan jiwa adalah pecinta dari sifat dan aktifitasnya sendiri. Oleh karena itu amalan serta aktifitasnya senantiasa benar dalam pandangannya. Orang semacam ini tidak akan pernah bangkit tanpa terlebih dahulu berfikir dan meneliti kekurangan dirinya. Dan sebaiknya meminta bantuan dari orang-orang yang bisa dipercaya dan para sahabatnya untuk meneliti kekurangan dan aib dirinya. Hendaknya senantiasa menunggu apa yang ditampakkan oleh para musuh serta lawannya dalam mengungkap kekurangannya. Setelah itu berusaha untuk meredam dan menghilangkannya. Dan sebaiknya menjadikan apa yang dikatakan oleh orang lain sebagai refleksi dari penampakan aib dirinya. Oleh karena itu, hendaklah berfikir positif terhadap apa yang keluar dari mereka serta menganggap buruk amalnya tersebut. Dan ketika berhadapan dengan keburukan segala sesuatu, dia tetap mengetahui meskipun amalan tersebut keluar darinya, amalan tersebut tetap merupakan amalan yang buruk. Dan ketika berhadapan dengan kebaikan dimana amalan tersebut pun berasal darinya, maka tetap pula menganggapnya sebagai sebuah amalan kebaikan. Oleh karena itu berusahalah untuk memberanguskan keburukan diri dan bertekadlah untuk mencari etika yang hasanah.
Kelima: Menganggap penting untuk menghindarkan diri dari percakapan-percakapan yang buruk serta jahat. Dan menganggap bahwa menjauhkan diri dari teman sebangku yang berakhlak buruk adalah sebagai suatu kewajiban, dan sebaliknya hendaklah senantiasa melakukan percakapan dengan para orang-orang yang memiliki akhlak terpuji serta para petinggi agama, karena majelis serta percakapan dengan setiap orang akan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap dirinya. Sebagaimana karakter seorang pencuri yang senantiasa mengambil secara paksa apa saja yang dia lihat dari orang lain. Dalam sebuah sya'ir dikatakan:
Karena duduk dengan orang-orang tercela,
Putra Nuh telah kehilangan keturunan nubuwwahnya.
Tetapi, karena hanya beberapa hari bersama orang-orang mulia,
anjing Ashabul Kahfi telah berubah menjadi manusia.
Selain itu, barang siapa yang berkumpul dengan para pelaku maksiat, berarti dia telah bersama dalam azab mereka dan terbakar bersama api mereka. Allah Swt. berfirman:
"Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh oleh api neraka".
Untuk menegaskan betapa besarnya pengaruh yang akan ditimbulkan oleh berkumpul dengan para pelaku maksiat, kami akan menukilkan sebuah hadist mulia yang di dalamnya terangkum serangkaian manfaat agung, dan dengan ini pula kami akan menutup risalah ini.
Syeikh Kulainy ra telah meriwayatkan sebuah hadist dari Imam Shadiq As, beliau As bersabda:
"Suatu hari Hadhrat Isa Al Masih As melewati sebuah perkampungan di mana penghuninya, burung-burung dan hewan-hewan, seluruhnya telah mati. Hadhrat Isa melihat pemandangan semacam ini bersabda kepada para khawariyyun: "Lihatlah, penghuni perkampungan ini telah mati karena azab Allah Swt. Seadainya mereka mati pada waktu yang berbeda pasti di antara mereka akan saling menguburkan yang lainnya"
Khawariyyun -yang merupakan sahabat-sahabat khusus Hadzrat Isa As- bertanya kepada beliau: "Wahai Ruhullah, mintalah kepada Allah Swt agar Dia menghidupkan mereka kembali, supaya mereka memberitahukan kepada kami amalan seperti apakah yang telah menyebabkan mereka mendapatkan azab seperti ini, sehingga kami bisa menghindari perbuatan tersebut".
Memenuhi permohonan mereka, Hadhrat Isa As berdo'a dan memohon kepada Nya. Tidak lama kemudian muncullah suara yang mengatakan untuk memanggil penghuni perkampungan tersebut. Pada malam harinya Hadhrat Isa As pergi menuju ke tempat yang tinggi dan bersabda: "Wahai penghuni kampung!", lalu salah seorang penghuni kampung menjawab: "Labbaika, ya Ruhullah". Kemudain Isa Kalimatullah bersabda: "Katakan, apakah yang telah kalian lakukan di dunia?"
Dia berkata: "Kami beribadah kepada thaghut, bersahabat dengan dunia tanpa rasa takut kecuali sedikit, mempunyai harapan yang panjang dan lalai serta sibuk dengan berfoya-foya"
Isa As bersabda: "Hingga seberapakah kecintaan kalian kepada dunia?".
Dia berkata: "Kecintaan kami kepada dunia sebagaimana kecintaan seorang anak kepada ibunya. Setiap kali mereka menghampiri kami, maka kami sangat gembira menyambutnya, dan setiap kali mereka membelakangi kami, maka kami menangis dan bersedih hati".
Al-Masih As bersabda: "Bagaimanakah ibadah kalian kepada thaghut?".
Dia menjawab: "Kami mentaati para pelaku maksiat, yaitu dalam semua persoalan batil, dan setiap kali kami ditugaskan untuk itu, kami senantiasa mentaatinya".
Isa As bersabda: "Lalu apakah yang kalian peroleh dari penugasan tersebut?".
Dia berkata: "Malam hari kami dapat tidur dengan nyenyak dan lelap, tetapi pada keesokan harinya kami melihat diri kami berada di dalam neraka".
Isa As bersabda: "Apakah neraka itu".
Dia menjawab: "Adalah sijjin".
Isa As bersabda: "Lalu apakah sijjin itu?"
Dia menjawab: "Adalah gunung-guung yang berasal dari api yang senantiasa akan tertumpahkan apinya kepada kami hingga hari kiamat".
Isa bersabda: "Lalu apa yang kalian katakan dan apa jawaban yang diberikan kepada kalian".
Dia menjawab: "Kami berkata bahwa kembalikanlah kami ke dunia hingga kami hidup dengan zuhud dan sederhana, dan jawaban atas kami adalah kalian adalah pembohong".
Isa As bersabda: "Apa sebabnya kok hanya kamu yang dapat bercakap-cakap denganku di antara mereka yang ada?".
Dia berkata: "Ya Ruhullah, sebabnya adalah: mulut mereka telah ditutupi oleh tali kekang api, dimana tali kekang tersebut dipegang oleh tangan para malaikat dengan kuat dan kencang sehingga menjadikannya sebagai wakil mereka. Sebenarnya aku ini tidak termasuk golongan mereka. Namun karena aku berada di antara mereka, maka begitu azab ini terjadi atas mereka, akupun menjadi terseret ke dalamnya. Oleh karena itulah aku bergelantungan pada sehelai rambut di samping jahannam. Aku tidak tahu apakah akhirnya akan jatuh ke dalamnya ataukah akan terselamatkan".
Setelah mendengar jawaban ini Hadhrat Isa As menghadap kepada khawariyyun dan bersabda: "Wahai para sahabatku, sesungguhnya memakan roti kasar dengan garam dan tidur di atas sampah, tetapi tetap mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat, merupakan sebuah kebaikan yang sangat besar, dan kalian harus menyadari dan menghargai kenikmatan ini".
Tidak terelakkan lagi bahwa apa yang dikatakan oleh laki-laki ini dengan keadaan perkampungannya tersebut kepada Hadhrat Isa As, persis sebagaimana keadaan kita dan keadaan para manusia pada zaman kita sekarang ini. Banyak dari kita yang bahkan tidak memiliki rasa takut hatta sedikitpun, sementara mereka memilikinya. Dan tentang kecintaan kita kepada dunia, panjangnya angan-angan kita, kelalaian serta sifat foya-foya kita, merupakan sebuah kondisi yang sangat jelas dan kita saksikan sendiri. Setiap orang yang melihat keadaan dirinya dan keadaan para penghuni zamannya, maka hal-hal di atas menjadi sangat jelas buat dirinya sendiri.
Betapa indahnya perumpamaan yang dikisahkan oleh para hukama bahwa keadaan kita, kelalaian, keangkuhan kita di dunia ini, sebenarnya persis seperti keadaan seorang lelaki yang berada di tengah sahara. Tiba-tiba ia melihat seekor harimau buas di belakangnya. Dengan segera laki-laki ini bersembunyi di samping sebuah sumur. Lelaki malang ini memiliki sebuah tali yang ia ikatkan di pinggang nya. Lalu tali tersebut dia ikatkan pada sebatang ranting yang terletak di samping sumur sehingga dengan tali tersebut tubuhnya bisa menggelantung di tengah-tengah lobang sumur. Kemudian pada saat tubuhnya bergelantungan, dia menengok ke arah bawah sumur dan dia melihat seekor ular besar yang tengah membuka mulutnya. Ular itu menunggunya, dan ketika pada saatnya nanti dia jatuh dari tali tersebut, dengan segera ia menyantapnya. Dalam kondisi seperti ini diapun mendapatkan dua ekor tikus yang berwarna hitam dan putih yang mulai menggerogoti tali yang terlilit di pinggangnya. Sementara pada saat yang bersamaan matanya tertuju pada sarang madu yang bercampur tanah yang terletak di samping sumur dengan begitu banyak lebah yang berkumpul di sekitarnya. Lelaki malang ini sejenak lupa dengan keberadaan tikus yang tengah menggerogoti tali pinggangnya tersebut. Bahkan diapun lengah dengan dirinya yang sebentar lagi akan jatuh ke dalam mulut ular. Pada kondisi seperti itu dia malah menyibukkan diri dengan memakan madu bercampur tanah tersebut dan bertengkar dengan lebah-lebah.
Siapapun yang mendengar hikayat ini, pasti akan berkomentar bahwa betapa dungu dan tololnya lelaki tersebut. Bagaimana mungkin dalam kondisi seperti itu dia bisa lalai, dan bagaimana pula dia bisa menikmati madu tersebut, padahal seharusnya dia lebih mementingkan untuk mencari jalan keselamatan.
Sebenarnya, hikayat ini persis seperti keadaan kita, dimana dunia ini berada dalam posisi sumur. Ular naga yang sedang membuka mulutnya adalah ajal dan kematian serta kubur kita. Dua tikus yang berwarna hitam dan putih adalah malam dan siang yang senantiasa akan menggerogoti umur kita serta memutuskannya. Sementara madu yang bercampur tanah itu merupakan kelezatan duniawi yang termanifestasikan dalam kesulitan yang begitu banyak. Sedangkan lebah merupakan anak-anak dunia, dimana kita senantiasa bermusuhan dengan mereka karena persoalan-persoalan dunia.

Ya Ilahi, kokohkan hati ini agar tetap memiliki tekad yang membaja untuk dapat mentalak dunia dan materinya dengan talak tiga. Oh…dunia, Gurri ghayri. Qad thallaqtuki tsalatsan. Wala roj'ata fiki.
Wal-hamdulillahi Rabbil 'Alamin………………….

Qum al-Muqaddasah
Akhir Dzul Qa'dah 1426 H

Hamba yang faqir: Abu Qurba