|
Pelajaran
Kesepuluh: Permusuhan dan Caci Maki
Saudaraku yang mulia, jauhilah kedengkian dan permusuhan karena hal itu hanya
akan mengakibatkan penyesalan dan sakit hati di dunia dan juga di akherat.
Bahkan efeknya adalah saling melaknat, berkelahi dan menikam. Tidaklah diragukan
lagi tentang keburukan sifat-sifat tersebut terutama rasa dengki.
Diriwayatkan dari Rasulullah Saw beliau bersabda:
"Sesungguhnya Allah mengharamkan surga bagi setiap pencaci maki dan
orang yang mempunyai sedikit rasa malu, yaitu orang yang tidak perduli dengan
apa yang ia ucapkan dan dengan apa yang dikatakan orang lain kepadanya.
Sesungguhnya apabila engkau melihat dan meneliti hal tersebu,t maka engkau
tidak akan mendapatinya melainkan pada seorang anak hasil zina atau teman
setan". [1].
Dalam hadist yang lain diriwayatkan dari Rasulullah Saw beliau bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang berbuat keji dan suka
mencaci maki". [2].
Dan hadist lainnya
"Sesungguhnya surga itu haram untuk dimasuki oleh orang yang suka
mencaci maki".[3]
Diriwayatkan dari Muhammad bin 'Ali al Baqir As beliau bersabda:
"Ucapkanlah kepada manusia sebaik-baiknya ucapan sebagaimana engkau
mencintai apa yang diucapkan kepada kalian. Karena sesungguhnya Allah murka
kepada para pencaci maki dan orang-orang yang melaknat serta mengutuk atas
orang-orang yang beriman yang berbuat keji dan mencaci maki serta yang
meminta-minta ".[4]
Pada hadist yang lainnya beliau bersabda:
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang afif yaitu orang yang
menjaga kehormatannya dan murka kepada orang yang duduk dan
peminta-minta". [5]
Saudaraku, ketahuilah sesungguhnya mencaci maki termasuk perbuatan keji yang
ditimbulkan dari sekedar murka dan kemarahan dan juga ditimbulkan dari akibat
bergaul dengan orang-orang yang buruk, fasiq dan orang-orang yang suka
berleha-leha dan suka mengutuk, maka hal itu akan menjadi kebiasaan bagi
teman-teman yang bergaul bersama mereka. Dan akibatnya ia akan menjadi
pencerca dan pencaci maki tanpa adanya permusuhan dan permukaan. Barangkali
engkau pernah menyaksikan orang-orang yang hatinya buruk dan orang-orang
jalanan dimana mereka mengeluarkan kata-kata keji kepada sebagiannya yang
lain khususnya kepada ibu-ibu mereka dan kepada keluarga mereka karena
bergurau. Tidak diragukan lagi bahwa orang-orang yang berbuat seperti itu
jauh dari sifat-sifat kemanusiaan.
________________________________________
[1]Safinatul Bihar, J.2, hal. 268, hadist ke 2.
[2]Kanzul Ummal, hadist ke 8078.
[3] Kanzul Ummal, hadist ke 8085.
[4]Biharul Anwar, J. 78, hal. 181.
[5] Biharul Anwar, J. 79, hal. 111.
Pelajaran
Kesebelas: Ujub (Bangga diri)
Wahai saudaraku, jauhkanlah dirimu dari mengagungkan diri sendiri dan ujub
terhadapnya, karena hal itu merupakan suatu perbuatan dosa yang bibitnya
adalah kufur, tanahnya adalah nifak, airnya adalah kerusakan,
cabang-cabangnya adalah kebodohan, dedaunannya adalah kesesatan dan buahnya
adalah laknat dan kutukan, bahkan akan kekal di neraka jahanam. Apabila
engkau ingin berbangga diri, maka pikirkanlah keadaan dan kondisimu,
bagaimana asal mula terjadinya dirimu yang bermula dari setetes air mani yang
menjijikkan, kemudian berakhir sebagai sebuah bangkai yang kotor. Dan di
antara dua masa itu, engkau hanya sebagai pembawa berbagai najis yang bau dan
berkeliling membawa kotoran yang bermacam-macam (di dalam perutmu).
Renungkanlah keagungan yang Mahakuasa dan pikirkanlah betapa hina dan
rendahnya dirimu, kefakiranmu dan kelemahanmu, dibandingkan dengan seekor
lalat dan serangga. Betapa lemahnya dirimu untuk menolak berbagai bencana dan
malapetaka yang akan menimpamu. Jadikanlah kelemahan dirimu sebagai bagimu,
karena hal itu merupakan paling utamanya sifat dan akan mendatangkan manfaat
di dunia dan di akhirat yang tidak terbatas. Allah Swt berfirman:
"Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya
yang buruk, lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama) dengan orang yang
tidak ditipu oleh setan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang
dikehendaki Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki Nya..." (Qs.
Faathir:8).
Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda:
"Sesungguhnya tidak ada seorang hambapun yang bangga dan ujub dengan
kebaikan-kebaikannya melainkan dia akan hancur dan binasa"[1]
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As, beliau bersabda:
"Dan hati-hatilah engkau dari sifat ujub dan berbangga kepada dirimu
sendiri, dan percaya terhadap hal-hal yang membuatmu kagum dari padanya serta
cinta menampakkan diri, karena hal itu adalah merupakan kesempatan yang
paling baik bagi setan dengan dirinya untuk menghapuskan segala
perbuatan-perbuatan atau kebaikan-kebaikan orang yang berbuat baik"
Dan riwayat yang lainnya:
"Sesungguhnya ujub dan bangga diri itu mengakibatkan kepada
ketergelinciran".
Hadist yang lainnya:
"Sesungguhnya buah dan hasil dari ujub dan bangga diri adalah kemurkaan
dan kemarahan".
"Sesungguhnya keridhaanmu atas dirimu yaitu ujub adalah bagian dari
rusaknya akalmu".
Hadist yang lainnya :
"Orang yang berbangga diri tidak mempunyai akal"
Dan hadist yang lain:
"Ujub itu merupakan perbuatan yang bodoh dan dungu"[2]
________________________________________
[1]. Biharul Anwar, Alamah Majlisi, J. 72, hal. 321.
[2]. Ghurarul Hikam, hal. 308 dan Biharul Anwar, J.77, hal 263.
Pelajaran
Keduabelas: Takabbur (Angkuh) & Tawadhu (Rendah Hati)
Wahai saudaraku, hendaklah engkau berusaha sebisa mungkin untuk tidak
takabbur dan congkak. Karena sesungguhnya orang yang angkuh, congkak dan
takabbur itu akan digiring di padang pada hari kiamat dalam bentuk
kecil-kecil seperti kecilnya semut. Dan ketika itu, mereka akan diinjak-injak
oleh manusia, karena mereka tidak ada harganya dan tidak ada nilainya sama
sekali di sisi Allah Swt.[1]
Allah Swt berfirman:
" Dan mereka seluruhnya bersujud kepada Adam kecuali iblis karena ia
congkak dan sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang kafir". (Qs.
Shaad:73-74)
Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda:
" Hendaklah engkau menjauhkan sifat takabbur dan congkak, karena sifat
takabbur dan congkak itu berada pada kaki dan sesungguhnya bagian atasnya
terdapat aba'ah (pakaian lapisan luar gamis seperti jubah)"[2]
Dalam hadits yang lain diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib
As, beliau bersabda:
"Berhati-hatilah engkau jangan sampai mempunyai sifat takabbur dan
congkak, karena sifat takabbur itu merupakan dosa yang paling besar dan
merupakan puncak atau sumber segala aib dan ia merupakan hiasan bagi
iblis"[3]
Dan pada hadits yang lain disebutkan:
" Paling buruknya bahaya akal adalah takabbur dan congkak"
Hadits lainnya berbunyi:
"Paling buruknya akhlak adalah takabbur dan congkak"
Hadits lainnya:
" Berhati-hatilah dan jauhkanlah dirimu dari sifat takabbur dan angkuh,
karena ia merupakan puncaknya kezaliman dan maksiat kepada Allah Yang Maha
Rahman"[4]
Diriwayatkan dari Imam Sajjad bin Husein As, beliau bersabda:
"Barang siapa yang mengucapkan Astaghfirullaha wa atuubu ilaih ( aku
memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada Nya), maka ia bukan termasuk
orang yang congkak dan takabbur dan juga tidak termasuk orang yang jabbar
atau lalim"
Sesungguhnya orang yang congkak dan takabbur adalah orang yang senantiasa
melakukan dosa, ia dikalahkan oleh hawa nafsunya dan ia lebih memilih
dunianya daripada akhiratnya.[5]
Diriwayatkan dari Imam Ja'far bin Muhammad as Sadiq As, beliau bersabda:
"Takabbur ialah engkau merendahkan orang lain dan meremehkan
kebenaran"[6]
Hadits yang lainnya:
"Takabbur ialah orang yang bodoh terhadap haq dan dia menikam atas
ahlinya"[8]
Diriwayatkan dari Imam Sadiq As, beliau bersabda:
"Sesungguhnya di dalam neraka jahanam terdapat jurang dan lembah yang
dikhususkan untuk orang-orang yang takabbur dan congkak. Lembah itu dinamakan
saqar.Saking panasnya jahanam, lembah itu mengadu kepada Allah Swt dan
meminta izin untuk sedikit bernafas kemudian dia bernafas maka jahanam
membakarnya"[8]
Oleh karena itu saudaraku, berusahalah dengan sekuat tenagamu untuk menjadi
orang yang rendah hati dan tawadhu. Ketahuilah bahwa sesungguhnya rendah hati
dan tawadhu itu tidak akan mengurangi kebesaran dan kehormatanmu sama sekali,
bahkan akan menyampaikanmu kepada derajat dan kemuliaan yang tinggi. Adapun
takabbur dan congkak adalah termasuk sifat-sifat yang dan rendah, dan akan
menyebabkan orang-orang jatuh terjerumus. Dan orang-orang yang berusaha untuk
besar dengan jalan menutupi kekurangan-kekurangan mereka dengan kecongkakan
dan takabbur, sesungguhnya mereka itu malah akan membuka keburukan-keburukan
dan menyingkap aib-aib mereka sendiri.
________________________________________
[1].Diriwayatkan oleh Syaikh Kulainy Ra. dalam Al-Kafi, J. 2, hal. 235,
hadist ke 11.
[2]. Kanzul Ummal, hadist ke 7735.
[3]. Ghurarul Hikam , hal. 309, hadist ke 8124.
[4]. Ghurarul Hikam , hal. 309.
[5]. Biharul Anwar, J. 93, hal. 277.
[6]..Al Kafi, J. 2, hal. 234, hadist ke 8 dan 9.
[7]. Biharul Anwar , J. 73, hal. 217.
[8]. Al Kafi, J. 2, bab Al-Kibr, hal. 234, hadist ke 10.
Pelajaran
Ketigabelas: Al-Qasawah (Keras Hati)
Keras hati ialah adanya rasa tidak peduli terhadap kesusahan orang lain.
Seseorang yang hatinya mengalami kondisi tersebut tidak merasakan kepedihan
dan penderitaan orang lain. Sumber keras hati ini adalah karena ia dikalahkan
oleh kekuatan buas hawa nafsunya. Kebanyakan dari perbuatan-perbuatan yang
tercela, seperti aniaya, menyakiti orang lain, tidak menjawab atau
mengabulkan panggilan orang lain yang terzalimi, tidak membantu orang-orang
fakir dan orang-orang yang membutuhkan bantuan, itu semua timbul dari sifat
atau kondisi keras hati. Mengobati penyakit hati seperti ini sangat sulit.
Dan orang yang tertimpa penyakit seperti ini, hendaklah ia senantiasa
melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat membuat hatinya lunak kembali, agar
jiwanya mempunyai potesi untuk menerima curahan sifat belas kasih sayang dari
sumber rahmat Allah Swt, agar nantinya sifat dan kondisi keras hatinya
tersebut dapat menjadi sirna. Apabila seseorang yang tertimpa penyakit
tersebut tidak berusaha mengobati dirinya, maka dia akan keluar dari daerah
atau batasan manusia.
Allah Swt berfirman:
"(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka dan Kami
jadikan hati mereka keras membatu." (Qs. Al Maidah:13)
Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda:
"Janganlah kalian memperbanyak ucapan selain berzikir kepada Allah Swt,
karena banyak berbicara selain berzikir kepada Allah Swt, dapat mengakibatkan
keras hati. Sesungguhnya paling jauhnya manusia dari Allah adalah orang yang
hatinya keras"[1]
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As, beliau bersabda:
"Tidak akan kering air mata, melainkan orang yang keras hati. Dan tidak
akan keras hati melainkan orang yang banyak dosanya"[2]
Dalam riwayat yang lain Rasulullah Saw bersabda :
"Ada tiga perkara yang akan membuat keras hati, yaitu mendengarkan
sesuatu yang sia-sia, memburu binatang dan menghampiri pintu
kerajaan"[3]
Diriwayatkan dari Al Masih binti Maryam Isa As, beliau bersabda:
"Sesungguhnya binatang apabila tidak ditunggangi, tidak diuji dan tidak
digunakan, maka nantinya ia akan menjadi sulit dan akan berubah sikapnya.
Demikian pula hati manusia, apabila dia tidak dilembutkan dengan mengingat
kematian dan tidak diikut sertakan dengan senantiasa beribadah, maka ia akan
menjadi keras seperti batu"[4]
Penyair Sa'di Syirazi dalam sebuah syairnya berkata yang artinya:
Anak-anak Adam adalah anggota satu sama lainnya,
Mereka diciptakan dari mutiara yang satu
Apabila salah satu dari mereka tertimpa kesulitan suatu penyakit
Maka anggota-anggota yang lain akan merasakan penderitaan tersebut
Apabila engkau tidak mengambil faedah dari bencana orang lain
Maka ketahuilah, bahwa engkau tidak layak dinamakan sebagai anak Adam.
________________________________________
[1]. Kanzul Ummal, hadist ke 1840 dan 18960.
[2].Biharul Anwar, J. 70, hal. 55.
[3]Biharul Anwar, J. 75, hal. 370.
[4]. Biharul Anwar, J. 14, hal. 309.
Pelajaran
Keempatbelas: Asy-Syarrah (Keburukan)
Saudaraku yang mulia, hendaklah engkau menjauhkan diri dari menghamba
perutmu. Sesungguhnya akibat buruk yang disebabkan oleh menghamba perut itu
banyak sekali, seperti hina, bodoh, dungu dan lain sebagainya, bahkan
termasuk bahaya paling besar yang menimpa manusia itu timbul dari mengikuti
hawa nafsu perutnya. Seandainya tidak ada kezaliman dari arah perut yang
ditimbulkan oleh hawa nafsu makan, maka tidak akan terjerumus seekor
burungpun ke dalam perangkap, bahkan tidak ada seorang pemburu pun yang
menyiapkan perangkapnya.
Ketahuilah sesungguhnya perut itu mengandung bahaya dan penyakit yang
bermacam-macam dan sesungguhnya lapar itu mempunyai faedah dan manfaat yang
banyak sekali. Karena sesungguhnya lapar dapat menerangi hati, menyinari dan
menerangkan pikiran bahkan akan menyampaikan seseorang kepada kelezatan dan
keindahan yang hakiki dalam bermunajat, berdzikir dan beribadah kepada Allah
Swt. Lapar juga akan mengingatkan seseorang kepada hari kiamat dan
menampakkan kerendahan nafsu amarahnya serta memperlancar dan mempermudah
untuk taat dan beribadah, sehingga dengan lapar seseorang menjadi ringan dan
sehat badannya serta akan tersingkir dari berbagai macam penyakit.
Rasulullah Saw dalam sebuah hadistnya bersabda:
"Janganlah kalian matikan hati kalian dengan banyak makan dan minum,
karena sesungguhnya hati itu seperti tanaman yang akan mati apabila terlalu
banyak disiramai air".
Oleh karena itu, wahai orang-orang yang mengikuti hawa nafsu perutnya dengan
banyak makan, hendaklah kalian mengobati jiwa dan diri kalian, dan jangan
sampai terhalangi dari faedah-faedah dan manfaat lapar. Hendaklah mereka
mengikuti tata cara para nabi, para ulama besar dan para urafa, karena
sesungguhnya tidak ada seorang pun yang akan mencapai derajat yang tinggi
tanpa memperhatikan rasa lapar. Hendaklah mereka memilih antara berteman
dengan para malaikat dengan melalui rasa lapar daripada berteman dengan
binatang-binatang yang selalu berteman dengan biji-bijian.
Pelajaran
Kelimabelas: Hubb ad-Dunya (Cinta Dunia)
Saudaraku yang berbahagia, berhati-hatilah dari mencintai dunia yang hina.
Karena sesungguhnya cinta dunia itu merupakan pokok dan sumber dari segala
keburukan[1]. Dan pencari dunia akan hancur dan rusak serta sia-sia amal dan
perbuatannya. Dunia merupakan bagian dari manfaat bagi seseorang setelah
kematiannya. Dan haknya manfaat dunia itu akan terlihat pada seseorang
setelah kematiannya. Ketahuilah, bahwa dunia yang diinginkan dan dicari oleh
seseorang demi memperoleh pahala dan buah akhirat, hal itu tidaklah dinamakan
dunia yang terhina. Sesungguhnya dunia tidak dianggap terhina apabila kadar
dunia itu digunakan oleh seseorang untuk tujuan melangsungkan kehidupannya di
dunia ini, seperti memenuhi kehidupan keluarganya, menjaga kehormatannya dan
hal-hal lain yang ia perlukan. Bahkan hal semacam itu tidak dianggap dunia,
tetapi merupakan amal-amal yang shaleh.
Diriwayatkan dari Imam Baqir As, beliau bersabda dalam salah satu hadistnya:
"Barang siapa mencari rizki di dalam dunia ini untuk menjaga
kehormatannya dari orang lain dan untuk menghidupi keluarganya dan membantu
tetangganya, maka ia akan berjumpa dengan Allah Swt sedangkan wajahnya
bagaikan bulan di malam purnama"[2]
Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya dunia itu diumpamakan seperti air
laut, setiap kali orang yang merasa haus minum air tersebut, ia akan
bertambah haus sehingga ia hsmpir mati karenanya.[3]
Nabi Isa al-Masih As pernah bersabda:
"Sesungguhnya pencari dunia adalah seperti orang yang minum air lautan,
setiap kali ia meminumnya, akan bertambah rasa hausnya sehingga air itu
hampir membunuhnya sendiri"[4]
Dunia laksana seekor ular yang bagian luarnya lembut dan terukir indah,
tetapi bagian dalamnya penuh dengan racun yang mematikan dan mengandung
bahaya yang besar.
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As pernah menulis sepucuk surat kepada
Salman al Farisi, dalam surat itu beliau mengatakan:
"Perumpamaan dunia ini bagaikan seekor ular yang ketika disentuh ia
lembut, tetapi racunnya akan membunuh. Maka berpalinglah dari segala sesuatu
yang menakjubkanmu, karena sedikitnya sesuatu yang menemanimu. Dan
enyahkanlah segala kesusahannya, karena engkau yakin akan
meninggalkannya".[5]
Allah Swt pernah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa As yang isinya: "Wahai
Musa, ketahuilah bahwa sesungguhnya setiap fitnah itu bibit dan sumbernya
adalah cinta dunia".[6]
Diriwayatkan dari Rasulullah, beliau bersabda:
"Dosa yang paling besar adalah cinta dunia".[7]
Dalam riwayat yang lain beliau bersabda:
"Cinta dunia merupakan sumber segala maksiat dan awal segala
kedustaan".[8]
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As, beliau bersabda:
"Cinta dunia merupakan sumber segala fitnah dan dasar segala
cobaan".
Dalam riwayat yang lain beliau mengatakan:
"Sumber segala bencana adalah gandrung dan cinta dunia. Dan sesungguhnya
engkau tidak akan menjumpai Allah Swt dengan suatu amal perbuatan yang lebih
berbahaya atasmu selain dari pada cinta dunia".
Riwayat lainnya mengatakan:
"Sesungguhnya dunia itu merusak agama dan mencabut keyakinan".[9]
________________________________________
[1] Al Kafi, J. 2, hal. 238, hadist ke 1.
[2]. Diriwayatkan oleh Sayyid 'Abdullah Shubbar dalam kitab Akhlak, hal. 211.
[3]. Kulainy dalam kitab Al-Kafi, J. 2, hal. 810, hadist ke 24.
[4]. Sayyid 'Abdullah Shubbar dalam kitab Akhlak, hal. 215.
[5]. Diriwayatkan oleh Sayyid 'Abdullah Shubbar dalam kitab Akhlak, hal. 214.
[6]. Bihar al-Anwar , J.13, hal. 351.
[7]. Kanz al-'Ummal, hadist ke 6074.
[8]. Tanbih al-Khawaatir, hal. 362.
[9]. Ghurar al-Hikam, hal. 139.
Pelajaran
Keenambelas: Al-Faqr (Fakir)
Saudaraku yang fakir, janganlah engkau bersedih dengan kefakiranmu, karena
fakir merupakan hiasan bagi seorang mukmin dan hal itu lebih baik daripada
pelana yang dijadikan sebagai hiasan kuda. dan setiap manusia pasti
merindukan surga, sementara surga itu rindu kepada orang-orang fakir.
Al-Alamah al Majlisi meriwayatkan sebuah hadist dalam kitabnya Al Bihar jilid
72 hal 48 hadist ke 58. Di dalam hadis tersebut Rasulullah Saw bersabda:
"Orang-orang fakir merupakan raja-raja ahli surga, dan seluruh manusia
rindu kepada surga. Sedangkan surga rindu kepada orang-orang fakir".
Cukuplah bagi seorang fakir untuk menghibur hatinya dengan ucapan pemimpin
umat manusia pemberi kabar gembira Rasulullah Saw, beliau bersabda:
"Kefakiran adalah kebanggaanku".[1]
Dalam riwayat yang lain beliau bersabda: "Kefakiran adalah kebanggaanku
dan dengan kefakiran itu aku merasa bangga".[2]
Dan dalam hadist yang lainnya lagi beliau bersabda:
"Ya Allah, hidupkanlah aku dalam kondisi miskin, matikanlah aku dalam
kondisi miskin dan giringlah aku di padang mahsyar bersama kelompok
orang-orang yang miskin".[3]
Di dalam hadist yang lain Rasulullah Saw bersabda:
"Barang siapa berusaha untuk membantu keluarganya dari sesuatu yang
halal, maka dia bagaikan seorang mujahid (pejuang ) di jalan Allah Swt. Dan
barang siapa mencari dunia yang halal untuk tujuan iffah (menjaga diri dan
kehormatan) maka dia akan sederajat dengan orang-orang yang mati
syahid".[4]
Amirul Mukminin Al Imam Ali bin Abi Thalib As bersabda:
"Raja-raja dunia dan akhirat adalah orang-orang fakir yang
rela".[5]
Dalam riwayat yang lain Rasulullah Saw bersabda:
"Tidakkah kalian ingin aku kabarkan tentang ahli-ahli surga?". Para
sahabat menjawab : "Tentu ya Rasulullah", lalu beliau bersabda:
"Raja-raja ahli surga adalah setiap orang yang lemah dan mustadh'af yang
wajahnya berdebu dan rambutnya kusut dan hanya memakan dua butir kurma.
Orang-orang tidak perduli kepadanya, tetapi apabila dia bersumpah atas Asma
Allah, pasti Allah akan mengabulkannya".[6]
________________________________________
[1]Jam' al-Akhbaar oleh Sabzewary dari A'lamul-qurnus-saabi', hal. 302, pasal
ke 67.
[2]Mishkat al-Anwar, Tabarsy, hal. 133.
[3]. Bihar al-Anwar, J. 69, bab ke 94, pasal Al Fakir wal Fuqara.
[4]. Al-Mahjat al-Baidha, J. 3, Akhlak Shubbar, hal. 211 dan Jami'
as-Sa'aadat, J. 2, hal. 19, cetakan Najaf.
[5]. Ghurar al-Hikam, hal. 366, hadist ke 8243.
[6]. Jam'i as-Sa'adaat, J. 2, hal. 83, cetakan Najaf.
Pelajaran
Ketujuhbelas: Memohon
Saudaraku yang mulia, angkatlah kedua tanganmu sebisa mungkin untuk memohon
kepada Tuhanmu. Mintalah kepada Nya segala hajat dan kebutuhanmu dan
janganlah engkau tumpahkan wajahmu di hadapan orang-orang yang terkutuk hanya
demi sesuap nasi.
Di dalam sebuah riwayat Rasulullah Saw bersabda bahwa orang kaya itu bukanlah
orang yang banyak hartanya, tetapi orang kaya adalah orang yang jiwanya
terhormat. Dalam tempat yang lain kepada seorang Badui yang memohon nasihat
kepadanya, beliau bersabda: "Apabila engkau melakukan shalat maka
lakukanlah seperti orang yang melakukan shalat terakhir kalinya, janganlah
engkau berkata-kata dengan ucapan yang menyebabkan keesokan harinya engkau
akan menyesal. Dan himpunlah rasa putus asa dari apa-apa yang ada di tangan manusia".
Imam Shadiq As bersabda:
"Sesungguhnya syia'ah-syi'ah kami adalah orang-orang yang tidak meminta
sesuatu dari manusia dan orang lain, sekalipun ia mati kelaparan".
Beliau bersabda dalam hadits yang lain:
"Ada tiga perkara yang merupakan kebanggaan seorang mukmin dan akan
menjadi hiasan baginya di dunia dan akhirat, yaitu shalat pada akhir malam
dan merasa putus asa dalam mengharap apa yang berada di tangan orang lain dan
berwilayah kepada Imam dari keluarga Muhammad Saw".[1]
Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa pakaian seorang raja sekalipun ia mulia,
tetapi sesungguhnya ia lebih rendah daripada pakaian seorang fakir yang sabar
dan rela dengan kefakirannya tersebut. Sesungguhnya makanan orang yang
berleha-leha sekalipun nampaknya lezat, tetapi sesungguhnya roti kering yang
dimakan oleh orang-orang fakir itu lebih lezat.
Wahai saudaraku, janganlah engkau merasa gelisah karena sedikitnya uangmu,
janganlah engkau menjual agamamu untuk duniamu, karena sesungguhnya pada hari
pembalasan nanti kemuliaan itu terdapat pada agama dan bukan terdapat pada
uang. Derajatmu akan naik dengan agamamu dan bukan dengan uangmu.
Hukama (orang-orang bijak) berkata "Seandainya air kehidupan itu dijual
dan diganti dengan air wajah (kehormatan), maka tidak akan ada seorang alimpun
yang bersedia untuk membelinya. Sesungguhnya mati karena sakit itu lebih baik
daripada hidup dengan segala kehinaan".
Oleh karena itu wahai saudaraku bertawakallah sepenuhnya kepada Allah Swt dan
hindarilah rasa tamak dengan melihat apa yang ada pada orang lain dan
janganlah engkau perduli dengan yang ada pada mereka. Imam Shadiq As
bersabda:
"Apabila kalian menghendaki agar Tuhan kalian tidak mengabulkan suatu
permintaanpun melainkan ia pasti memberikannya, maka hendaklah kalian
berputus asa dari seluruh manusia dan tidak lagi menaruh harapan selain dari
Allah Swt. Apabila Allah Swt mengetahui hal itu dan apa yang ada di dalam
lubuk hati kalian maka apa yang dia minta pasti Allah akan
memberikannya".[2]
Allah Swt berfirman: "…. orang yang tidak tahu menyangka bahwa mereka
itu orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka
dengan sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara
mendesak…". (Qs. Al-Baqarah:273).
Rasulullah Saw bersabda kepada Abu Dzar: "Wahai Abu Dzar, hendaklah
engkau jangan meminta-meminta, karena hal itu merupakan kehinaan yang
berwujud dan merupakan kefakiran yang cepat dan di dalamnya terdapat hisab
yang panjang di hari kiamat".[3]
Dalam hadits yang lain diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Wahai Ali seandainya kedua tanganku ini di masukkan ke dalam mulut at
tannin sampai ke sikuku hal itu lebih aku sukai daripada aku harus meminta
dari orang lain yang tidak ada di sana".[4]
Amirul Mukminin Ali As pernah bersabda: "Sesungguhnya meminta-minta itu
akan melemahkan lisan orang yang berbicara dan akan memecahkan hati yang
berani dan membuat orang yang merdeka dan mulia itu bersikap bagaikan sikap
seorang budak yang hina dan menghilangkan kehormatan muka dan menghapuskan
rizki".[5]
Dalam hadits yang lain beliau bersabda:
"Sesungguhnya taqarrub kepada Allah Swt itu dilakukan dengan memohon
kepada Nya dan dengan cara meninggalkan apa yang ada pada manusia".
Dalam riwayat yang lain beliau bersabda:
"Sesungguhnya Syi'ahku adalah orang yang tidak menjilat-jilat bagaikan
seekor anjing dan orang yang tidak tamak sebagaimana tamaknya burung elang
dan tidak meminta-minta kepada orang lain meskipun ia mati kelaparan".
Pada hadist yang lain beliau bersabda bahwa meminta-minta kepada orang lain
adalah kunci dari kefakiran. Rasulullah Saw bersabda:
"Tidak ada seorang hambapun yang membuka pintu pada dirinya untuk
meminta-minta kepada orang lain melainkan Allah akan membukakan atasnya tujuh
puluh pintu kefakiran".
Imam Shadiq As bersabda:
"Barang siapa yang memohon kebutuhannya kepada orang lain, maka akan
tercabut kehormatan dan rasa malunya. Dan dengan berputus asa atau tidak
mengharapkan apa yang ada pada manusia adalah merupakan kemuliaan bagi
seorang mukmin di dalam agamanya, sedangkan tamak adalah merupakan fakir yang
hadir".[6]
________________________________________
[1]. Jam'i as-Sa'adaat, J.2, hal. 107.
[2]. Diriwayatkan oleh Kulainy dalam Al-Kafi, J.2, hal. 119, hadist ke 2.
[3].Bihar al-Anwar, J. 77, hal. 59 dan 60.
[4].Makarim al-Akhlak, hal. 433, cetakan Beirut dan Bihar al-Anwar, J. 77,
hal. 59 dan 60.
[5].Jam'i al-Akhbar, hal. 379.
[6].Miskhat al-Anwar, hal. 185.
Pelajaran
Kedelapanbelas: Al-Hirsh (Rakus)
Saudaraku yang mulia, hindari dan buanglah jauh-jauh sifat rakus karena sifat
tersebut merupakan padang pasir yang luas tidak bertepi, ke arah mana saja
engkau menghadapkan wajahmu maka engkau tidak akan dapat melihat dan
menjangkau batasnya. Rakus merupakan lautan yang tiada bertepi dan tidak
dapat dijangkau kedalamannya sekalipun kamu menyelaminya. Sungguh betapa rugi
dan celakanya orang yang ditimpa penyakit rakus ini, karena ia akan
mencelakakan dan menyesatkan dan sulit untuk diselamatkan.
Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya orang yang rakus itu mahrum
(terhalangi,) dan dengan adanya penghalang ini dia akan menjadi terhina dalam
hal apa saja. Bagaimana ia tidak akan menjadi mahrum dan terhalangi sedangkan
ia kabur dari ikatan janji Allah Swt?".[1]
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As bersabda : "Sesungguhnya rakus itu
lebih panas dari api neraka". Dalam riwayat yang lain beliau bersabda:
"Sesungguhnya sifat rakus itu dapat menghalangi kadar dan kemuliaan
seseorang dan sifat ini tidak akan menambahkan rizki kepadanya".
Dalam riwayat yang lain beliau bersabda bahwa orang yang rakus itu adalah
fakir meskipun ia memiliki dunia dan isinya. Diriwayatkan dari Imam Baqir As,
beliau bersabda bahwa perumpamaan orang yang rakus terhadap dunia adalah
seperti ulat sutra, dimana setiap kali bertambah lipatan sutra pada dirinya
maka akan semakin jauh pulalah dirinya untuk dapat keluar dari lipatan
tersebut.[2]
Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya qanaah (merasa cukup) adalah
merupakan suatu sifat yang penuh dengan keutamaan dan fadhilah dan merupakan
sifat yang membuat ketenangan seseorang di dunia dan akhirat.
Al Alamah An Niraqi dalam kitabnya Jami'u Sa'adat jilid 2 hal 101 berkata
bahwa qanaah dan merasa cukup itu merupakan lawan dari rakus. Qanaah adalah
suatu sifat terpuji yang jika melekat pada diri seseorang dapat menjadikannya
merasa cukup dengan sekedar kebutuhannya dari harta tanpa berusaha untuk
susah payah mencari tambahannya. Qanaah merupakan sifat yang mulia dan utama,
dimana sifat-sifat mulia yang lain bergantung pada sifat tersebut. Dan
ketiadaan sifat qanaah tersebut akan menjadikan dan menyebabkan seseorang
menjadi terjerumus kepada akhlak dan budi pekerti yang buruk. Orang-orang
yang qanaah, dengan hanya satu hidangan makanan akan bisa mencukupi sepuluh
orang. Tetapi sebaliknya, sifat rakus itu tak ubahnya bagaikan dua anjing
yang akan berkelahi hanya untuk memperebutkan sebuah bangkai. Demikianlah
orang yang rakus, dia akan tetap lapar meskipun dunia seisinya telah menjadi
milikinya. Sementara orang yang merasa cukup dan qanaah akan merasa kenyang
sekalipun hanya dengan sebuah roti kering.
________________________________________
[1] Biharul Anwar, J. 73, hal. 165.
[2] Kafi, J.2, hal. 134.
Pelajaran
Kesembilanbelas: Tamak (Serakah)
Wahai saudaraku, ketahuilah bahwa tamak merupakan sebuah sifat yang sama
dengan sifat rakus. Lawan dari sifat ini adalah tidak butuh kepda orang lain.
Telah diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: "Tamak akan
menghilangkan hikmah dari kalbu-kalbu para ulama".[1]
Dan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As, beliau bersabda:
"Mulialah orang yang qanaah, yaitu orang yang merasa cukup dengan apa
yang dimilikinya dan hinalah orang yang tamak".[2]
Dari Ali bin Husain as Sajjad As bersabda:"Aku melihat kebaikan yang
awalnya terkumpul dan menjadi terputus karena ketamakan manusia".[3]
________________________________________
[1]. Kanzul Ummal, hadist ke 7576.
[2]. Kalimat pertama, dalam Syarah Ghurarul Hikam, J. 4, hal. 474, dan
kalimat kedua dengan sedikit perbedaan dalam J. 5, hal 451.
[3]. Biharul Anwar, J. 70, hal 171.
Pelajaran
Keduapuluh: Bakhil (Kikir)
Saudaraku yang mulia, hindarkan dan jauhkanlah dirimu dari sifat bakhil dan
pelit, karena sesungguhnya orang yang bakhil dan pelit itu terhina, rendah
dan tidak berharga. Cukuplah dalam keburukan sifat ini bahwa tidak akan ada
seorang pun yang menyukainya di dunia ini. Dan masyarakat, bahkan
anak-anaknya sendiri akan memusuhinya dan keluarga serta familinya senantiasa
akan menunggu kematiannya, supaya dalam duka citanya mereka bisa mengenakan
pakaian yang paling lusuh akan tetapi mereka akan membawa pakaian yang paling
baik.
Sebagian ulama mengatakan: "Akar bakhil itu dari tanah dan dia akan
tumbuh ketika hendak menuju ke tanah".
Dan ketahuilah wahai saudaraku, bahwa orang bakhil tidak akan pernah diingat
setelah kematiannya, karena telah jelas bahwa barang siapa tidak memakan
rotinya ketika hidupnya, maka tidak akan ada yang menyebutkan namanya ketika
matinya.
"Dan barang siapa yang kikir, sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap
dirinya sendiri". (Qs.Muhammad:38).
Pelajaran
ke dua puluh satu: AS - SAKHO' (MURAH HATI)
Wahai saudaraku yang budiman, sesungguhnya kebalikan dari sifat bakhil adalah
sakho' atau murah hati. Sakho' adalah sebuah sifat yang merupakan akhlak
tinggi dan mulia dimana pemiliknya senantiasa akan diterima oleh para penghuni
ufuk. Keutamaan dari sifat ini begitu jelas dan terang, karena orang yang
memiliki sifat ini akan menjadi orang yang dicintai dan dipuji di sisi Khaliq
dan di sisi makhluk. Orang yang pemurah akan dicintai oleh para penghuni
langit dan penghuni bumi, dan namanya akan senantiasa terukir dalam kebaikan.
Wahai saudaraku yang mulia, ketahuilah bahwa kekayaan merupakan perantara
untuk memudahkan kehidupan. Dan kehidupan ini bukan merupakan sarana untuk
mengumpulkan kekayaan. Seorang 'Aqil (orang yang berakal sehat) pernah
ditanya: "Siapakah yang dimaksud dengan orang yang beruntung, dan apakah
yang dimaksud dengan kemalangan?" Sang Aqil berkata: "Beruntung
adalah memakan dan memanen, sedangkan malang adalah mati dan tenggelam".
Dengarlah baik-baik nasihat Hadhrat Musa As kepada Qarun, beliau berkata:
"Berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik
kepadamu, wahai Qarun engkau tidak mendengarkannya dan akibatnya engkau
melihat keburukannya dan apa yang engkau capai"
Para cerdik pandai berkata: "telah meninggal dunia dua orang dan
keduanya menyesal, karena yang satu mempunyai tetapi tidak memakannya dan
yang satunya lagi mengetahui tetapi tidak mengamalkannya".
Wahai saudaraku, karena engkau telah mengetahui keutamaan sifat murah hati, maka
ketahuilah bahwa sifat ini terbagi menjadi dua bagian yaitu pemberian dan
infak.
Pertama: adalah infak-infak wajib, dan yang termasuk di dalamnya seperti:
zakat, khumus, nafkah keluarga dan sepertinya.
Kedua: adalah pemberian-pemberian mustahab seperti sedekah, hadiah,
mengundang tamu, memberikan hak ma'lum dan hak hashad , memberikan pinjaman,
membantu para muslim, membangun masjid, madrasah, jembatan, istal kuda,
membangun kanal-kanal, mencetak buku-buku agama dan lain sebagainya, yang
kesemuanya ini merupakan sedekah jariyah (yang akan selalu mengalir
pahalanya-pen) dan merupakan baqiyatus-shalihaat (peninggalan amal shaleh).
Pelajaran
ke dua puluh dua: MENGHINDARI HARTA HARAM
Wahai saudaraku yang budiman, hindarkan dan jauhkanlah dirimu dari harta yang
haram, karena hal itu akan menimbulkan bahaya yang teramat besar, dan
merupakan penghalang terbesar dalam memperoleh kebahagiaan. Ketahuilah, bahwa
sebagian besar manusia yang tidak memiliki harapan lagi untuk memperoleh
karunia dan berkah Ilahy, sebabnya adalah karena mereka tidak mau menjauhkan
diri dari harta yang haram. Dan sesungguhnya hati yang tumbuh dari suapan
makanan haram, akan berada di suatu tempat yang tidak lagi layak untuk
menerima karunia dari Yang Maha Suci.
Oleh karena itu wahai saudaraku, ingatlah, jika engkau ingin mencari
keselamatan, engkau harus mencari sesuatu yang halal dan harus menahan tangan
serta perutmu dari memakan setiap makanan yang ada. Hindarilah berbuat zalim,
keras kepala, berkhianat dalam amanat, menipu, licik, marah, mencuri,
mengurangi timbangan, melakukan riba dan sebagainya. Wahai saudaraku,
sebaliknya kenakanlah baju taqwa dan wara' di atas tubuhmu karena
sesungguhnya: " Pakaian takwa itulah yang paling baik".
Pelajaran
ke dua puluh tiga: PERCAKAPAN YANG TIDAK BERMANFAAT
Wahai saudaraku yang mulia, berusahalah semampumu untuk menutup mulut, dan
jauhkanlah dirimu dari tenggelam dalam kebatilan, dari percakapan yang tidak
bermanfaat dan dari ikut campur dalam urusan orang lain. Karena hal itu akan
menyebabkan tersia-sianya waktumu yang merupakan modal perdagangan dan modal
keselamatan.
Oleh karena itu wahai saudaraku, perhatikanlah bahwa waktu untuk
mempersiapkan perjalanan akhirat lebih sempit dari melakukan hal-hal di atas,
karena sesungguhnya kita adalah para musafir yang hanya berkesempatan
mengikat bekal perjalanan, lalu seberapakah banyaknya waktu luang kita
sehingga masih sempat duduk-duduk dan bercakap-cakap mengenai hal-hal yang
tidak ada manfaatnya.
Pelajaran
ke dua puluh empat: HASAD(IRI HATI)
Wahai saudaraku yang mulia, hindarkan dan jauhkanlah dirimu dari sifat iri
hati sekuat kemampuanmu, karena orang yang iri hati akan merasa tersiksa
dengan azab yang berat, baik di dunia maupun di akhirat dan tidak akan pernah
terlepas dari kesedihan dan kesusahan.
Apabila engkau perhatikan orang yang terjangkiti penyakit ini dengan baik,
maka engkau akan mendapatkan bahwa dia memiliki watak keras kepala dan
bersifat keras terhadap orang lain, bahkan menganggap Allah Swt (wal 'iyaadzu
billah) adalah jahil, atau dia menganggap dirinya lebih mengetahui
kemaslahatan dan keburukan hamba Allah. Ketahuilah, bahwa kedua-duanya ini
merupakan kekufuran dan juhud (pengingkaran), sehingga dia akan menyandang
julukan si hasad yang malang.
Maka wahai saudaraku, jadilah mahsud (orang yang dijadikan obyek untuk iri
hati-pen) dan janganlah menjadi haasid (pelaku hasad), karena sesungguhnya
mizan kebaikan para haasid senantiasa akan menjadi ringan, karena kebaikannya
itu dipindahkan ke mizan para mahsud.
Hadhrat Rasulullah Saw dalam sebuah hadist bersabda: "Sedikit sekali
manusia hasad yang bisa merasakan kenikmatan".
Dan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As bersabda: "Sifat hasad tidak
akan membawa keberuntungan".
Terdapat perumpamaan masyhur yang mengatakan: "Telah cukup bagi para
penghasud dengan hasadnya".
Apabila engkau ingin mengetahui kemalangan yang akan dibawa oleh para
penghasad, maka perhatikanlah baik-baik, bahwa sebenarnya -di dalam kehidupan
dunia yang hanya beberapa hari saja- tidak pantas sama sekali untuk iri hati
kepada hamba Allah yang lain. Karena dalam waktu yang hanya sekejap mata, si
haasid dengan mahsud akan segera terkubur di dalam tanah, dan nama mereka
akan terhapus dari lembaran masa.
Pelajaran
ke dua puluh lima: MERENDAHKAN ORANG LAIN
Wahai saudaraku yang mulia, hindarkanlah dirimu dari menghina dan merendahkan
orang lain dari hamba-hamba Allah.
Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: "Barang siapa
menghina salah satu dari sahabatku berarti dia telah mengikatkan tali
peperangan denganku".
Oleh karena itu wahai saudaraku, seharusnya engkau senantiasa menghormati dan
memuliakan seluruh tingkatan rakyat sesuai dengan keberadaan mereka,
khususnya dari keturunan mulia; ahli ilmu, ahli fadhilah dan pemilik sifat
wara' dan takwa. Demikian pula terhadap orang-orang tua dan para pendahulu
Islam dan keturunan agung para sadat.
Pelajaran
ke dua puluh enam: ZALIM DAN KASAR
Wahai saudaraku yang mulia, hindarkanlah dirimu sebisa mungkin dari berbuat
zalim dan kasar. Sesungguhnya aniaya dan zalim menurut pendapat siapapun di
alam ini, merupakan perbuatan yang buruk. Di dalam Al Qur'an al Majid
dijelaskan bahwa orang-orang yang berbuat zalim berada dalam laknat yang
sangat keras. Banyak sekali hadist-hadist Rasulullah Saw yang menjelaskan tentang
celaan serta ancaman yang berat bagi orang-orang yang zalim.
Allah Swt dalam salah satu ayatnya berfirman: "Dan Allah tidak menyukai
orang-orang yang zalim"
Terdapat sebuah riwayat yang mengatakan bahwa berbuat zalim dan kekerasan
dalam satu jam itu lebih buruk di sisi Allah dari melakukan dosa selama enam
puluh tahun. Dan barang siapa yang takut dengan balasannya, maka dia pasti
akan menjauhkan diri dari melakukan kezaliman tersebut, karena muntaqim (yang
mengambil balas dendam) hakiki akan mengambil intiqam (balas dendam) dari
setiap orang yang berbuat kezaliman, lalu memberikan balasan yang sesuai
untuknya.
Demikianlah, Sultan Mahmud Ghaznawi mengatakan: "Aku tidak terlalu takut
dengan pedang para lelaki singa, tetapi aku lebih takut pada amir perempuan
tua".
telah diriwayatkan pula bahwa berbuat zalim atau berteman dengan orang yang
zalim, dan rela dengan kezalimannya, mereka semua berada dalam kedudukan yang
sama. Oleh karena itu wahai saudaraku yang mulia, berbuatlah sesuatu dengan
adil dan hindarkanlah dirimu dari berbuat zalim kepada hamba-hamba Allah,
karena kemuliaan sifat adil berada di luar sifatnya. Dan cukuplah dalam
posisi sebagaimana apa yang kita lihat dalam sebuah cerita bahwa setelah
lebih dari seribu tahun Anushirwan yang adil terkuburkan, tetapi ternyata
rakyat masih saja menyebutkan kebaikan namanya, hal ini dikarenakan satu
sifat yang mulia dan tali umurnya yang selama sekian ribu tahun dalam
kesultanan telah ditancapkan pada paku ajal, akan tetapi hingga kini nyanyian
rantai keadilannya masih terikat erat di kubahnya.
Pelajaran
ke dua puluh tujuh: MEMENUHI HAJAT MUSLIMIN
Wahai saudaraku yang mulia, senantiasa bersungguh-sungguhlah dalam memenuhi
dan membantu kebutuhan serta hajat para muslim, dan berusahalah untuk
memberikan hal-hal yang lebih penting bagi mereka.
Ketahuilah, bahwa keutamaan para muqarrab adalah karena usaha mereka yang
serius untuk memenuhi keperluan orang-orang yang butuh.
Hadhrat Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As bersabda dalam salah satu
hadistnya kepada Kumail bin Ziyad: "Wahai Kumail, perintahkanlah kepada
keluargamu untuk berusaha meraih kemuliaan dengan berupaya memenuhi kebutuhan
orang-orang yang memerlukan".
Pelajaran
ke dua puluh delapan: MEMBAHAGIAKAN HATI MUKMIN
Wahai saudaraku yang mulia, bahagiakanlah hati para mukmin semampumu, karena
betapa besar dan banyaknya pahala dari perbuatan tersebut. Dan ketahuilah
bahwa membuat bahagia dan gembira hati kaum mukmin lebih baik dan lebih utama
daripada meramaikan sebuah bangsa.
Hadhrat Rasul Saw bersabda: "Amalan yang paling dicintai di sisi Allah
Swt adalah memberikan kebahagiaan atas para mukmin".
Pelajaran
ke dua puluh sembilan: AMR MA'RUF DAN NAHI MUNGKAR
Wahai saudaraku yang budiman, janganlah engkau menganggap ringan pelaksanaan
amr ma'ruf dan nahi mungkar, karena melalaikan masalah ini dapat
mengakibatkan bahaya yang sangat fatal. Dan bahaya yang ditimbulkan oleh hal
ini bersifat universal, dan kerusakan yang akan terjadipun bersifat global
dan memenuhi segala segmen.
Dari Hadhrat Baqir al Ulum As telah diriwayatkan, beliau bersabda bahwa Haq
Ta'ala telah mengirimkan wahyu kepada Nabi Syu'aib As dengan berfirman bahwa
"Aku akan menurunkan azab kepada seratus ribu orang dari kaummu, empat
puluh ribu darinya berasal dari golongan yang buruk dan enam puluh ribu
lainnya dari golongan yang baik". Nabi Syu'aib bertanya: "Tetapi
mengapa golongan yang baik-baik pun mendapatkan azab?", Lalu beliu
mendengar jawaban bahwa "Hal itu terjadi karena mereka menjilat dan
menganggap sepele para pembuat maksiat, dan mereka tidak memarahi dengan
kemarahan-Ku".
Pelajaran
ke tiga puluh: KEKELUARGAAN
Wahai saudaraku yang budiman, ketahuilah bahwa mempunyai sifat kekeluargaan
atau familiar serta damai dengan masyarakat, merupakan sebuah sifat yang
terpuji dan akhlak yang mulia. Sehubungan dengan masalah ini terdapat begitu
banyak hadist yang mengungkapkan tentang keutamaan melakukan ziarah kepada
para mukmin, mengucapkan salam, bersalaman dengan mereka, menjenguk mereka
yang sakit, mengiringi jenazah dan mengucapkan tasliyat kepada orang-orang
yang terkena musibah dan yang semisalnya.
Wahai saudaraku, apabila engkau perhatikan dengan baik hadist-hadist yang
berkaitan dengan masalah ini, maka engkau akan mengetahui betapa besarnya
perhatian Allah Swt terhadap persoalan rasa kekeluargaan di antara seluruh
makhluknya, dan betapa banyaknya sunnah-sunnah yang telah Dia tetapkan untuk
mempertahankan sifat ini. Tetapi sayang dan ironis sekali, ternyata pada
zaman kita sekarang ini, sebagian besar dari sunnah-sunnah tersebut telah
ditinggalkan, tidak ada yang tertinggal dari nubuwwah melainkan formalitasnya
dan tidak ada yang tertinggal dari syari'at kecuali namanya. Setan-setan
dengan berbagai usahanya telah berhasil menyebarkan berbagai rencana
busuknya. Sehingga umat ini jatuh dan tejerumus ke dalam perbuatan nifak dan
perpecahan di antara mereka. Bahkan umat ini, kini telah berani membelakangi
segala sesuatu, padahal Allah telah memberikan perhatiannya begitu besar.
Mereka tidak menjenguk sesamanya, kecuali karena riya atau untuk menampakkan
dan menyebarkan keburukan. Mereka menganggap bahwa memberikan salam merupakan
satu perbuatan yang tercela, tetapi mereka senantiasa mengharap agar orang
lain memberikan salam kepadanya. Dan merekapun menganggap bahwa bersalaman
merupakan sebuah kebiasaan yang dungu.
|