Total Tayangan Halaman

Rabu, 09 Oktober 2013

Manaqib Al-Imam As-Sayyid Ahmad Badawi





Setiap hari, dari pagi hingga sore, sayidi Ahmad Badawi menatap matahari, sehingga kornea matanya merah membara. Apa yang dilihatnya bisa terbakar, khawatir terjadinya hal itu, saat berjalan ia lebih sering menatap langit, bagaikan orang yang sombong. Sejak masa kanak kanak, ia suka berkhalwat dan riyadhoh, pernah empat puluh hari lebih perutnya tak terisi makanan dan minuman. Ia lebih memilih diam dan berbicara dengan bahasa isyarat, bila ingin berkomunikasi dengan seseorang. Ia tak sedetikpun lepas dari kalimat toyyibah, berdzikir dan bersholawat. Dalam perjalanan riyadhohnya, ia pernah tinggal di loteng negara Thondata selama 12 tahun, dan selama 8 tahun ia berada diatas atap, riyadhoh siang dan malam.
Beliau hidup pada tahun 596-675 H dan wafat di Mesir, makamnya di kota Tonto, yang setiap waktunya tak pernah sepi dari peziarah. Pada usia dini ia telah hafal Al-Qur’an, untuk memperdalam ilmu agama ia berguru kepada Syeikh Abdul Qadir al-Jailani dan syeikh Ahmad Rifai. Ia adalah Waliullah Qutbol Gaust, Assayyid, Assyarif Ahmad al Badawi. Suatu hari, ketika sang Murid telah sampai ketingkatannya, Syech Abdul Qodir Jaelani, menawarkan kepadanya ; ”Manakah yang kau inginkan ya Ahmad Badawi, kunci Masyriq atau Magrib, akan kuberikan untukmu”, hal yang sama juga diucapkan oleh gurunya Sayyid Ahmad Rifai, dengan lembut, dan menjaga tatakrama murid kepada gurunya, ia menjawab; ”Aku tak mengambil kunci kecuali dari Al Fattah (Allah )”.
Suatu hari datang kepadanya, seorang janda mohon pertolongan, anak lelakinya ditahan di Perancis, dan sang ibu ingin agar anak itu kembali dalam keadaan selamat. Oleh Sayyidi Ahmad Al Badawi, janda itu disuruhnya untuk pulang, dan berkata sayidi Ahmad Badawi: “Insya Allah anak ibu sudah berada dirumah”. Bergegas sang ibu menuju rumahnya, dan betapa bahagia, bercampur haru, dan penuh keheranan, ia dapati anaknya telah berada di rumah dalam keadaan terbelenggu. Sayyidi aAhmad Badawi banyak menolong orang yang ditahan secara zalim oleh penguasa Prancis saat itu, dan semua pulang ke rumahnya dalam keadaan tangannya tetap terbelenggu.
Pernah suatu ketika Syaikh Ibnul Labban mengumpat Sayyidi Ahmad Badawi, seketika itu juga hafalan Al-Qur’an dan iman Syaikh Ibnul Labban menjadi hilang. Ia bingung dan berusaha dengan beristighosah dan meminta bantuan do’a, orang orang terkemuka di zaman itu (agar ilmu dan imannya kembali lagi), tetapi tidak satupun dari yang dimintainya doa, berani mencampuri urusannya, karena terkait dengan Sayyidi Ahmad Badawi. Padahal diriwayatkan, saat itu Sayyidi Al Badawi telah wafat. Orang terkemuka yang dimintainya doa, hanya berani memberi saran kepada Syaikh Ibnul Labban, agar dia menghadap Syeikh Yaqut al-‘Arsyiy, waliullah terkemuka pada saat itu, dan kholifah sayyidi Abil Hasan As-Syadzili. Ibnu Labban segera menemui Syech Yaqut dan minta pertolongannya, dalam urusannya dengan sayyidi Ahmad Al-Badawi. Setelah dimintai pertolongan oleh Syaikh Ibnul labban, Syeikh Yaqut Arsyiy berangkat menuju ke makam Sayyidi al-Badawi dan berkata : “ Wahai guru, hendaklah tuan memberi ma’af kepada orang ini!”. Dari dalam makamnya, terdengar jawaban “Apakah kamu berkehendak untuk mengembalikan tandanya orang miskin itu ? ya…sudah, tapi dengan syarat ia mau bertaubat”. Syeikh Ibbnul Labbanpun akhirnya bertaubat, dan tidak lama kemudian kembalilah ilmu dan imannya seperti sedia kala dan ia juga mengakui kewalian Syeikh Yaqut, karena peristiwa tersebut. Ia kemudian dinikahkan dengan putrinya Syeikh Yaqut. (Di ambil dari kitab al-Jaami’).
Syeikh Muhammad asy-Syanawi menceritakan, bahwa pada waktu itu ada orang yang tidak mau menghadiri dan bahkan mengingkari peringatan maulidnya Syeikh Ahmad Badawi, maka seketika hilanglah iman orang itu dan menjadi merasa tidak senang terhadap agama Islam. Orang itu kemudian berziarah ke makamnya Sayyid Badawi untuk minta tolong dan memohon maaf atas kesalahannya. Kemudian terdengarlah suara sayyidi Badawi dari dalam kubur : “iya, saya ma’afkan, tapi jangan berbuat lagi. Na’am (iya) jawab orang itu, spontan imannya kembali lagi. Beliau lalu meneruskan ucapannya : “Apa sebabnya kamu mengingkari kami semua”. Dijawabnya : “Karena di dalam acara itu banyak orang laki-laki dan perempuan bercampur baur menjadi satu” (tanpa ada garis pembatas). Sayyidi Badawi lalu mengatakan : “Di tempat thowaf sana, dimana banyak orang yang menunaikan ibadah haji disekitar Ka’bah, mereka juga bercampur laki-laki dan perempuan, kenapa tidak ada yang melarang”. Demi mulianya Tuhanku, orang-orang yang ada untuk menghadiri acara maulidku ini tidaklah ada yang menjalankan dosa kecuali pasti mau bertaubat dan akan bagus taubatnya. Hewan-hewan di hutan dan ikan-ikan di laut, semua itu dapat aku pelihara dan kulindungi diantara satu dengan lainnya sehingga menjadi aman dengan izin Allah. Lalu, apakah kiranya Allah Ta’ala, tidak akan memberi aku kekuatan untuk mampu menjaga dan memelihara keamanannya orang-orang yang menghadiri acara maulidku itu ? ”Suatu ketika Syeikh Ibnu Daqiq berkumpul dengan Sayyidi Badawi, dan ia bertanya kepada beliau : “Mengapa engkau tidak pernah sholat, yang demikian itu bukanlah perjalanannya para shalihin“. Lalu beliau menjawab : “Diam kamu! Kalau tidak mau diam aku hamburkan daqiqmu (tepung)”. Dan di tendanglah Syeikh Daqiq oleh beliau hingga berada disuatu pulau yang luas dalam kondisi tidak sadarkan diri. Setelah sadar, iapun termangu karena merasa asing dengan pulau tersebut. Dalam kebingungannya, datanglah seorang lelaki menghampirinya dan memberi nasehat agar jangan mengganggu orang type syekh al-Badawi, dan sekarang kamu berjalanlah menuju qubah yang terlihat itu, nanti jika sudah tiba di sana kau berhentilah di depan pintu hingga menunggu waktu ‘ashar dan ikutlah shalat berjamaah dibelakangnya imam tersebut, sebab nanti syaikh Ahmad Badawi akan ikut di dalamnya. Setelah bertemu dia ucapkanlah salam, peganglah lengan bajunya dan mohonlah ampun atas ucapanmu tadi. Ia menuruti kata-kata orang itu yang tidak lain adalah waliyullah Khidir a.s. Setelah semua nasehatnya dilaksanakan, betapa terkejutnya ia karena yang menjadi imam sholat waktu itu adalah Sayyidi Badawi. Setelah selesai sholat ia langsung menghampiri dan menciumi tangan dan menarik lengan Sayyidi al-Badawi, sambil berkata seperti yang diamanatkan orang tadi. Dan berkatalah Sayyidi Ahmad Badawi sambil menendang Syeikh Daqiq,” Pergilah sana murid-muridmu sudah menantimu dan jangan kau ulangi lagi!. Seketika itu juga ia sudah sampai di rumahnya dan murid-muridnya telah menunggu kedatangan Syeikh Daqiq. Dijelaskan bahwa yang menjadi makmum sholat berjamaah dengan Sayyidi Badawi pada kejadian itu adalah para wali.
Syekh Imam al Munawi berkata : “Ada seorang Syeikh yang setiap akan bepergian selalu berziarah di makamnya Syeikh Ahmad al-Badawi untuk minta ijin, lalu terdengar suara dari dalam kubur dengan jelas :”Ya pergilah dengan tawakkal, Insya Allah niatmu berhasil, kejadian tersebut didengar juga oleh Syeikh abdul wahab Assya’roni, padahal saat itu Syeikh Ahmad al-Badawi sudah meninggal 200 tahun silam, jadi para aulia’ itu walaupun sudah meninggal ratusan tahun, namun masih bisa emberi petunjuk.
Berkata Syeikh Muhammad al-Adawi : Setengah dari keindahan keramat beliau ialah, pada saat banyaknya orang yang ingin berusaha membatalkan peringatan maulidnya beliau, dimana orang-orang tersebut menghadap dan meminta kepada Syeikh Imam Yahya al-Munawiy agar beliau mau menyetujuinya. Sebagai orang yang berpengaruh dan berpendirian kuat pada masa itu, Syeikh Yahya tidak menyetujuinya, akhirnya orang-orang tersebut melapor kepada sang raja azh-Zhohir Jaqmaq. Sang rajapun berusaha membujuk agar Syeikh Yahya bersedia memberi fatwa untuk membatalkan maulidnya Sayyidi Ahmad Badawi. Akan tetapi Syeikh Yahya tetap tidak mau dan hanya bersedia memberikan fatwa melarang keharaman-keharaman yang terjadi di acara itu. Maka acara maulid tetap dilaksanakan seperti biasa. Dan Syeikh Yahya bekata kepada sang raja: “Aku tetap tak berani sama sekali berfatwa yang demikian, karena Sayyidi Badawi adalah wali yang agung dan seorang fanatik (nguwalati= bahasa jawanya). Hai raja, tunggu saja, kamu akan tahu akibat bahayanya orang-orang yang berusaha menghilangkan peringatan maulid Sayyidi Ahmad Badawi. Memang benar, tak lama kemudian mereka yang bertujuan menghilangkan peringatan maulid Sayyidi Badawi tertimpa bencana. Orang-orang tersebut ada yang dicopot jabatannya dan diasingkan oleh rajanya. Ada yang melarikan diri ke Dimyath akan tetapi kemudian ditarik kembali dan diberi pengajaran, dirantai dan dipenjara selama setengah bulan. Bahkan diantara mereka yang mempunyai jabatan tinggi dikerajaan itu lalu banyak yang ditangkap, disidang dengan kelihatan terhina, disiksa dan diborgol besi di depan majlis hakim syara’ lalu dihadapkan raja yang kemudian dibuang di negara Maghrib.
Sayyidi Ahmad Badawi pernah berkata kepada seseorang : “Bahwa pada tahun ini hendaknya kamu menyimpan gandum yang banyak yang tujuanmu nanti akan kau berikan kepada para fakir miskin, sebab nanti akan terjadi musim paceklik pangan. Kemudian orang tadi menjalankan apa yang diperintahkan beliau, dan akhirnya memang terbukti kebenaran ucapan Sayyidi Ahmad Badawi.
Berkata al-Imam Sya’roni : “Pada tahun 948 H aku ketinggalan tidak dapat menghadiri acara maulidnya Sayyidi Badawi. Lalu ada salah satu aulia’ memberi tahu kepadaku bahwa Sayyidi Badawi pada waktu peringatan itu memperlihatkan diri di makamnya dan bertanya : “Mana Abdul Wahhab Sya’roni, kenapa tidak datang ?” Pada suatu tahun, al-Imam Sya’roni juga pernah berkeinginan tidak akan mendatangi maulid beliau. Lalu aku melihat beliau memegang pelepah kurma hijau sambil mengajak orang-orang dari berbagai negara. Jadi orang-orang yang berada dibelakangnya, dikanan dan kirinya banyak sekali tak terhingga jumlahnya. Terus beliau melewati aku di Mesir, sayyidi Badawi berkata : “Kenapa kamu tidak berangkat ?”. Aku sedang sakit tuan, jawabku. Sakit tidak menghalang-halangi orang cinta. Terus aku diperlihatkan orang banyak dari para aulia’dan para masayikh, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat, dan orang-orang yang lumpuh semua berjalan dengan merangkak dan memakai kain kafannya, mereka mengikuti dibelakang sayyidi Badawi menghadiri maulid beliau. Terus aku juga diperlihatkan jama’ah dan sekelompok tawanan yang masih dalam keadaan terbalut dan terbelenggu juga ikut datang menghadiri maulidnya. Lalu beliau berkata: lihatlah ! itu semua tidak ada yang mau ketinggalan, akhirnya aku berkehendak untuk mau menghadiri, dan aku berkata : Insya Allah aku hadir tuan guru ?. Kalau begitu kamu harus dengan pendamping, jawab sayyidi Badawi. Kemudian beliau memberi aku dua harimau hitam besar dan gajah, yang dijanji tidak akan berpisah denganku sebelum sampai di tempat. Peristiwa ini kemudian aku ceritakan kepada guruku Syeikh Muhammad asy-Syanawi, beliau lalu menjelaskan: memang pada umumnya para aulia’ mengajak orang-orang itu dengan perantaraan, akan tetapi sayyidi Ahmad Badawi langsung dengan sendirinya menyuruh orang-orang mengajak datang. Sungguh banyak keramat beliau, hingga al-Imam Sya’roni mengatakan,”Seandainya keajaiban atau keramat-keramat beliau ditulis di dalam buku, tidaklah akan muat karena terlalu banyaknya. Tetapi ada peninggalan Syeikh ahmad Badawi yang sangat utama, yaitu bacaan sholawat badawiyah sughro dan sholawat badawiyah kubro. Demikianlah sekelumit manakib Sayyidi Ahmad Al Badawi disajikan kehadapan pembaca, untuk dapat diambil hikmahnya.

13 wasiat rasululloh saw kepada saydina ali bin abi thalib



RASULULLAH SAW ada menyampaikan pesanan dan wasiat kepada isteri, anak, kaum kerabat dan umat Islam seluruhnya. Namun antara wasiat yang menarik dan boleh dijadikan bahan renungan bersama ialah wasiatnya kepada menantu baginda, Saidina Ali Abu Talib. Sungguhpun wasiat itu khusus kepada Ali, namun kita sebagai Muslim dan muslimah, perlu menjadikannya sebagai iktibar lalu menjadikannya amalan. Larangan dan suruhan Rasulullah saw melalui wasiat itu, adalah juga untuk kaum Muslimin dan muslimat. Malah, boleh dikatakan semua perkara dalam wasiat itu adalah ciri-ciri utama orang beriman.

Berikut adalah antara wasiat Nabi kepada Ali seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas: Ibnu Abbas meriwayatkan, bahawa Ali Abu Talib berkata: "Pada hari perkahwinan dengan Fatimah, Rasulullah saw bersabda kepadaku, mengutarakan tiga belas wasiat khusus untukku:"
  1. Wahai Ali, takutilah engkau daripada memasuki tempat mandi (hammam) tanpa memakai kain separas pinggang. Bahawasanya barang siapa memasuki tempat mandi tanpa kain separas pinggang, maka dia mendapat laknat (mal'un).
  2. Wahai Ali, janganlah engkau memakai cincin di jari telunjuk dan di jari tengah'. Sesungguhnya itu adalah apa yang dilakukan oleh kaum Lut.
  3. Wahai Ali, sesungguhnya Allah mengagumi hamba-Nya yang melafazkan istighfar: "Rabighfirli fainnahu la yaghfirul-zunuba illa Anta" ( Tuhanku, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampunkan dosa melainkan Engkau). Allah lalu berfirman: "Hai malaikat-Ku, sesungguhnya hamba-Ku ini mengetahui bahawasanya tiada yang mengampunkan dosa melainkan Aku. Hai malaikat-Ku: Jadilah saksi, bahawasanya aku telah mengampuni dia".
  4. Wahai Ali, takutilah engkau daripada berdusta. Bahawasanya berdusta itu menghitamkan muka dan disuratkan oleh Allah sebagai kazzab (pendusta). Dan, bahawasanya benar itu memutihkan muka dan disuratkan oleh Allah sebagai sadiq. Ketahuilah engkau, bahawasanya sidq (benar) itu berkat dan kizb (dusta) itu celaka.
  5. Wahai Ali, peliharalah diri engkau daripada mengumpat dan mengadu-dumba. Bahawasanya orang berbuat demikian itu diwajibkan ke atasnya seksaan kubur dan menjadi penghalang kepadanya di pintu syurga.
  6. Wahai Ali, janganlah engkau bersumpah dengan nama Allah, sama ada dusta atau benar, kecuali dalam keadaan darurat, dan janganlah jadikan Allah permainan sumpah engkau. Sesungguhnya Allah tidak menyucikan dan tidak mengasihani orang yang bersumpah dusta dengan nama-Nya.
  7. Wahai Ali, janganlah engkau mencita-citakan rezeki untuk hari esok. Bahawasanya Allah mendatangkan rezeki engkau setiap hari.
  8. Wahai Ali, takutilah engkau daripada berbantah-bantah dan berkelahi dengan maki-hamun dan sumpah-seranah. Bahawasanya perbuatan itu pada awalnya jahil dan pada akhirnya penyesalan.
  9. Wahai Ali, sentiasalah engkau bersugi dan mencolek (mencungkil) gigi. Bahawasanya bersugi itu menyucikan mulut, mencerahkan mata dan diredai Allah, manakala mencolek gigi itu dikasihi malaikat kerana malaikat amat tidak senang dengan bau mulut kerana sisa-sisa makanan di celah gigi tidak dicolek selepas makan.
  10. Wahai Ali, janganlah engkau melayani rasa marah. Apabila timbul rasa marah, duduklah engkau dan fikirkanlah mengenai kekuasaan dan kesabaran Allah Taala ke atas hamba-Nya. Pertahankah diri engkau daripada dikuasai kemarahan dan kembalilah engkau kepada kesabaran.
  11. Wahai Ali, perhitungkanlah (tahassub) kurniaan Allah yang telah engkau nafkahkan untuk diri engkau dan keluarga engkau, nescaya engkau peroleh peruntukan daripada Allah.
  12. Wahai Ali, apa yang engkau benci pada diri engkau, maka engkau bencikan juga pada diri saudara engkau dan apa yang engkau kasih pada diri engkau maka engkau kasihkan juga pada diri saudara engkau, yakni engkau hendaklah berlaku adil dalam memberi hukuman. Dengan itu, engkau dikasihi seluruh isi langit dan bumi.
  13. Wahai Ali, perbaikkanlah perhubungan di antara penduduk (jiran) sekampung dan antara ahli rumah engkau. Hiduplah dengan mereka sekaliannya dengan rasa persahabatan dan kekeluargaan, nescaya disuratkan darjat yang tinggi bagi engkau.
Wahai Ali, peliharakanlah pesananku (wasiatku). Engkau akan peroleh kemenangan dan kelepasan.

10 jurus peninggalan rasululloh saw



بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
Manusia selalu berusaha dengan berbagai macam cara untuk melindungi dirinya dari  ganguan dan kejahatan orang lain. Banyak cara yang di tempuh dan jalan yang di lalui  untuk tujuan ini.
Sejak zaman dahulu dalam dunia persilatan  telah kita dengar berbagai macam nama  ilmu kesaktian. Kalau dulu anda pernah  mengikuti sandiwara Saur sepuh tentu anda akan kenal pada Ajian serat jiwa dan Lampah umpuh ilmu pamungkas raja  Madangkara Brama kumbara
 Di zaman rudal dan senjata muttakhir  sekarang ini pun masih banyak orang yang  mengejar ilmu kesaktian semacam ini, dengan berbagai macam tujuan dan  alasan. Untuk menjaga diri, agar tekenal  sebagai jawara, atau mungkin seorang  ustadz atau dai’ mempelajarinya agar  da’waknya lancar karena dapat  mengalahkan atau paling tidak melindungin diri dari kejahatan orang yang tidak senang  pada kebaikan.
 Perlu juga kita ketahui, ilmu kadikjayaan ini  ada dua sumber yang berbeda, biasa  dikenal dengan sebutan ilmu hitam dan ilmu  putih. Ilmu putih adalah kesaktian yang diperoleh dengan amalan tertentu yang tidak bertentangan dengan syariat islam,  sedangkang ilmu hitam adalah  kebalikannya kesaktian itu diperoleh dengan malakukan suatu amalan yang  dilarang Allah. Dalam tulisan ini saya ingin menujukkan kepada pembaca pada suatu kesaktian luar biasa  sangat penting untuk kita miliki, hususnya  yang berkecimpung dalam dunia da’wah.
Ilmu ini adalah ilmu kebal yang diajarkan  dan diwariskan Rasulullah SAW kepada sahabat-sahabatnya.
Yang saya maksud dengan ilmu kebal disini  bukan kita tidak mempan disabet pedang,  atau tidak bisa ditembus oleh peluru. Ilmu  kebal tingkat tinggi yang diajarkan  Rasulullah SAW adalah kekebalan hati. Orang yang menguasai ilmu ini tidak akan  mudah sakit hati, tidak gampang tersulut  kemarahannya, tidak gampang termakan  hasutan orang, jauh dari dengki dan hasud  sehingga hidupnya terasa benar-benar tentram. Rasulullah sangat pemaaf, tidak mudah  merasa sakit hati walaupun diperlakukan dengan perbuatan yang sangat  menyakitkan sekalipun. Beliau dicaci dihina  disakiti tetapi dengan mudahnya beliau  melupakan itu semua.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah setiap kali  pulang dari masjid Beliau diludahi oleh  seorang kafir, suatu hari Raulullah SAW  tidak mendapati orang tersebut, ketika  Rasulullah mengetahui orang itu ternyata  sakit beliau bergegas untuk menjenguknya, dan sebab itulah orang tersebut masuk islam. Dalam perjalanan da’wah ke Thaif pun  tidak kalah pedihnya cobaan yang  Rasulullah SAW hadapi, Rasulullah SAW  ditolak oleh pemimpin Tsaqiif bahkan beliau  dilempari batu oleh budak-budak dan orang-orang bodoh dari mereka sehingga  kedua kakinya berlumuran darah.  Ketika malaikat Jibril menawarkan untuk  membinasakan mereka Rasulullah SAW  menolak bahkan Rasulullah SAW mendoakan mereka agar mendapat pengampunan Allah.
Bukankah kita sering kali merasa sakit hati, tersinggung dan kecewa hanya karena hal  sepele?  Keadaan seperti ini membuat kita mudah  marah, menyimpan kebencian dan dendam pada orang yang ada disekitar  kita. Padahal perasaan seperti itu kalau dibiarkan akan mengganggu kesehatan  jasmani juga, seperti penyakit darah tinggi,  jantung da lain-lain. kalau begitu kiranya  anda sangat perlu untuk mendalami jurus- jurus sakti ini.  Apakah sepuluh jurus itu, dan bagaimana  kita mengusainya? Jurus-jurus itu adalah  ayat-ayat al-quran dan hadis-hadis  Rasulullah SAW. Cara mendapatkan  kekebalan itu adalah dengan memahami, menghayati dan berusaha mencontoh rasulullah SAW dalam mengamalkannya.  Orang yang dapat mengusai jurus-jurus ini  dengan sempurna bukan saja ia akan sakti  di dunia, namun diakhiratpun dia dianggap  sebagai jawara yang telah dapat mengalahkan hawa nafsunya. Ia akan  mendapat pahala yang besar dan kemulian  ari Allah SWT.
Jurus pertama : Menahan Marah
Jurus ini mengingatkan kita untuk dapat  menahan amarah. Allah berfirman:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya : Dan orang-orang yang menahan  amarahnya dan memaafkan( kesalahan)  orang lain. Dan Allah mencintai orang-  orang yang berbat kebajikan.(Ali Imran:  134)
Jurus kedua : Akhlaq Paling Utama
Jurus ini mengingatkan kita untuk dapat meraih ahlaq paing utama. Rasulullah SAW  bersabda :
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : يا عقبة ألا أخبرك بأفضل أخلاق أهل الدنيا وأهل الآخرة تصل من قطعك وتعطى من حرمك وتعفو عمن ظلمك . جامع الأحاديث – (ج 37 / ص 309)
 Artinya :  Wahai Uqbah  tidakkah aku memberitahumu akan ahlaq  paling utama bagi penghuni dunia dan akhirat ? Engkau menyambung hubungan  terhadap orang yang memutus hubungan  denganmu, engkau memberi orang yang tidak mau memberimu, dan engkau  memaafkan orang yang mendzalimimu. (jami’ul hadis juz 37, hal : 309)
Jurus ketiga : Memaafkan
Jurus ini mengingatkan kita untuk mudah  memafkan.
فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ [الحجر/85]
Artinya : Maka maafkanlah dengan cara  yang baik.(QS: Al-Hijr: 85)
Jurus keempat : Ampunan Allah
 Jurus ini mengingatkan kita agar mendapat  ampunan Allah.

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ [النور/22
Artinya : dan hendaklah mereka memafkan  dan berlapang dada. Apakah kamu tidak  suka bahwa Allah megampunimu? Dan  Allah Maha pengampun lagi maha  Penyayang.(QS: An-Nur: 22)
Jurus kelima: Sabar
Jurus ini mengingatkan kita agar bersifat  sabar. Allah berfirman :
وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ [الشورى/43
Artinya: Barang siapa yang bersabar dan  memaafkan, sesungguhnya yang demikian  itu termasuk perbuatan yang mulia. (QS: As-  Syuraa: 43)
Jurus keenam : Wasiat Nabi
Jurus ini mengingatkan kita pada sebuah wasiat Baginda nabi SAW. Rasulullah SAW bersabda :

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رجلا قال للنبي صلى الله عليه وسلم : أوصني قال : لا تغضب ، فردد مرارا فقال لا تغضب . رواه البخاري
Artinya : Dari Abu Hurairah ra. Bahwa ada  seorang berkata kepada Nabi SAW : “Berilah aku  wasiat” Nabi berkata : “Janganlah egkau  marah”. Orang itu mengulagi berkali-kali  permintaannya, nabipun berkata : “janganlah engkau marah”. HR. Imam  Buhori.
Jurus ketujuh : Lemah lembut
Jurus ini mengingatkan kita akan  kehebatan sikap lemah lembut. Rasulullah  SAW bersabda :
عن عائشة رضي الله عنها قالت : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه ولا ينزع من شيء إلا شانه . رواه مسلم
Artinya : dari Sayyidah A’isyah ra. Ia  berkata: rasulullah SAW bersabda:  Sesungguhnya lemah  lembut tidaklah berada pada suatu apapun  kecuali akan menhiasinya, dan tidaklah  dicabut sifat lemah lembut itu dari sesuatu kecuali akan menjadikannya buruk. HR. Imam Muslim.

Jurus kedelapan : Kekuatan inti
Jurus ini mengingatkan kita bahwa  kekuatan yang sesungguhnya adalah  menahan amarah. Rasulullah SAW bersabda :
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ليس الشديد بالصرعة ، إنما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب . متفق عليه
Artinya : dari Abu Hurairah ra. Bahwa  rAsulullah SAW bersabda: Tidaklah  kekuatan itu dengan menag dalam bergulat, akan tetapi orang yang kuat  adalah orang yang dapat menahan  amarahnya ketika ia marah. HR. Imam Bukhari Muslim.
Jurus kesembilan : Ihtimalul adza
Jurus ini mengingatkan kita bahwa ihtimalul  adza (bersabar atas keburukan orang)  adalah pembuka pertolongan Allah. Rasulullah SAW bersabda :
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : أن رجلا قال يا رسول الله ، إن لي قرابة أصلهم ويقطعونني ، وأحسن إليهم ويسيئون إلي ، وأحلمعنهم ويجهلون علي ، فقال : لئن كنت كما قلت كأنما تسفهم المل ، ولا يزال معك من الله ظهير عليهم ما دمت على ذلك . رواه مسلم
Dari Abu Hurairah ra. Bahwa seorang  berkata kepada rasulullah SAW:  “Sesungguhnya aku mempunyai kerabat,  aku selalu menyambung hubungan baik  dengan mereka tetapi mereka selalu  memutuskannya, aku berbuat baik akan tetapi mereka membalasnya dengan  keburukan, aku berlaku bijak akan tetapi  mereka berlaku bodoh. Rasulullah SAW  kemudian bersabda: Bila keadaannya  seperti yang engkau katakan, mereka itu  seperti meminum abu yang panas, dan senantiasa Allah akan memberikan  pertolongan kepadamu selama kamu  dalam keadaan demikian itu. ( HR Imam Muslim)
Jurus kesepuluh : Do’a pamungkas
Mendoakan orang yang mendholimi dan menyakiti kita dengan doa yang baik  adalah suatu yang luar bisa, seperti yang  dilakukan rasulullah SAW terhadap  penduduk Taif. Orang tidak akan dapat  mendoakan orang yang menyakitinya  dengan doa’ yang baik kecuali orang yang berhati mulia, dan itulah salah satu cirri-ciri  penghuni surga.
Itulah  KESEPULUH JURUS KEKEBALAN  tersebut, jikalau anda  tidak setuju dengan penamaannya dengan judul diatas, silahkan anda memeberinya nama dengan nama apa saja yang anda  sukai tapi saya yakin andapun sependapat  dengan saya inilah akhlaq yang diajarkan  rasulullah SAW untuk melatih kekuatan hati.
Hafalkanlah kesepuluh jurus ini dengan baik  pahami dan hayati ma’nanya dalam-dalam. Cobalah disaat anda merasa disakiti orang,  hadirkan jurus-jurus ini satu demi satu, ajak  hati anda untuk memahami menghayatidan membayangkan keagungan Ahlaq  Rasulullah SAW, katakan pada hati anda  bahwa Rasulullah SAW adalah suri tauladan bagi orang yang menginginkan  kebahagiaan dunia dan akhirat yang  dijanjikan Allah. Semoga dengan demikian  kita tidak akan mudah merasa sakit hati.
Selamat mencoba…!
وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه