Total Tayangan Halaman

Kamis, 15 Februari 2018

Futuuhul ghaib syekh abdul qodir jailani 1 - 6

Risalah 1
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Tiga hal mutlak bagi seorang Mukmin, dalam segala keadaan, iaitu:
(1) harus menjaga perintah-perintah Allah,
(2) harus menghindar dari segala yang haram,
(3) harus redha dengan takdir Yang Maha Kuasa. Jadi seorang Mukmin, paling tidak, memiliki tiga hal ini. Bererti, ia harus memutuskan untuk ini, dan berbicara dengan diri sendiri tentang hal ini serta mengikat organ-organ tubuhnya dengan ini.

Risalah 2
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Ikutilah (Sunnah Rasul) dengan penuh keimanan, jangan membuat bid'ah, patuhilah selalu kepada Allah dan Rasul-Nya, jangan melanggar; junjung tinggilah tauhid dan jangan menyekutukan Dia; sucikanlah Dia senantiasa dan jangan menisbahkan sesuatu keburukan pun kepada-Nya. Pertahankan Kebenaran-Nya dan jangan ragu sedikit pun. Bersabarlah selalu dan jangan menunjukkan ketidaksabaran. Beristiqomahlah; berharaplah kepada-Nya, jangan kesal, tetapi bersabarlah. Bekerjasamalah dalam ketaatan dan jangan berpecah-belah. Saling mencintailah dan jangan saling mendendam. Jauhilah kejahatan dan jangan ternoda olehnya. Percantiklah dirimu dengan ketaatan kepada Tuhanmu; jangan menjauh dari pintu-pintu Tuhanmu; jangan berpaling dari-Nya.
Segeralah bertaubat dan kembali kepada-Nya. Jangan merasa jemu dalam memohon ampunan kepada Khaliqmu, baik siang mahupun malam; (jika kamu berlaku begini) niscaya rahmat dinampakkan kepadamu, maka kamu bahagia, terjauhkan dari api neraka dan hidup bahagia di syurga, bertemu Allah, menikmati rahmat-Nya, bersama-sama bidadari di syurga dan tinggal di dalamnya untuk selamanya; mengendarai kuda-kuda putih, bersuka ria dengan hurhur bermata putih dan aneka aroma, dan melodi-melodi hamba-hamba sahaya wanita, dengan kurnia-kurnia lainnya; termuliakan bersama para nabi, para shiddiq, para syahid, dan para shaleh di syurga yang tinggi.

Risalah 3
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani




Apabila seorang hamba Allah mengalami kesulitan hidup, maka pertama-tama ia cuba mengatasinya dengan upayanya sendiri. Bila gagal ia mencari pertolongan kepada sesamanya, khususnya kepada raja, penguasa, hartawan; atau bila dia sakit, kepada doktor. Bila hal ini pun gagal, maka ia berpaling kepada Khaliqnya, Tuhan Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, dan berdo'a kepada-Nya dengan kerendah-hatian dan pujian. Bila ia mampu mengatasinya sendiri, maka ia takkan berpaling kepada sesamanya, demikian pula bila ia berhasil kerana sesamanya, maka ia takkan berpaling kepada sang Khaliq.

Kemudian bila tak juga memperolehi pertolongan dari Allah, maka dipasrahkannya dirinya kepada Allah, dan terus demikian, mengemis, berdo'a merendah diri, memuji, memohon dengan harap-harap cemas. Namun, Allah Yang Maha Besar dan Maha Kuasa membiarkan ia letih dalam berdo'a dan tak mengabulkannya, hingga ia sedemikian terkecewa terhadap segala sarana duniawi. Maka kehendak-Nya mewujud melaluinya, dan hamba Allah ini berlalu dari segala sarana duniawi, segala aktiviti dan upaya duniawi, dan bertumpu pada rohaninya.

Pada peringkat ini, tiada terlihat olehnya, selain kehendak Allah Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, dan sampailah dia tentang Keesaan Allah, pada peringkat haqqul yaqin (* tingkat keyakinan tertinggi yang diperolehi setelah menyaksikan dengan mata kepala dan mata hati). Bahawa pada hakikatnya, tiada yang melakukan segala sesuatu kecuali Allah; tak ada penggerak tak pula penghenti, selain Dia; tak ada kebaikan, kejahatan, tak pula kerugian dan keuntungan, tiada faedah, tiada memberi tiada pula menahan, tiada awal, tiada akhir, tak ada kehidupan dan kematian, tiada kemuliaan dan kehinaan, tak ada kelimpahan dan kemiskinan, kecuali kerana ALLAH.

Maka di hadapan Allah, ia bagai bayi di tangan perawat, bagai mayat dimandikan, dan bagai bola di tongkat pemain polo, berputar dan bergulir dari keadaan ke keadaan, dan ia merasa tak berdaya. Dengan demikian, ia lepas dari dirinya sendiri, dan melebur dalam kehendak Allah. Maka tak dilihatnya kecuali Tuhannya dan kehendak-Nya, tak didengar dan tak dipahaminya, kecuali Ia. Jika melihat sesuatu, maka sesuatu itu adalah kehendak-Nya; bila ia mendengar atau mengetahui sesuatu, maka ia mendengar firman-Nya, dan mengetahui lewat ilmu-Nya. Maka terkurniailah dia dengan kurnia-Nya, dan beruntung lewat kedekatan dengan-Nya, dan melalui kedekatan ini, ia menjadi mulia, redha, bahagia, dan puas dengan janji-Nya, dan bertumpu pada firman-Nya. Ia merasa enggan dan menolak segala selain Allah, ia rindu dan senantiasa mengingati-Nya; makin mantaplah keyakinannya pada-Nya, Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa. Ia bertumpu pada-Nya, memperolehi petunjuk dari-Nya, berbusana nur ilmu-Nya, dan termuliakan oleh ilmu-Nya. Yang didengar dan diingatnya adalah dari-Nya. Maka segala syukur, puji, dan sembah tertuju kepada-Nya.

Risalah 4
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Bila kamu abaikan ciptaan, maka: "Semoga Allah merahmatimu," Allah melepaskanmu dari kedirian, "Semoga Allah merahmatimu," Ia mematikan kehendakmu; "Semoga Allah merahmatimu," maka Allah mendapatkanmu dalam kehidupan (baru).
Kini kau terkurniai kehidupan abadi; diperkaya dengan kekayaan abadi; dikurniai kemudahan dan kebahagiaan nan abadi, dirahmati, dilimpahi ilmu yang tak kenal kejahilan; dilindungi dari ketakutan; dimuliakan, hingga tak terhina lagi; senantiasa terdekatkan kepada Allah, senantiasa termuliakan; senantiasa tersucikan; maka menjadilah kau pemenuh segala harapan, dan ibaan pinta orang mewujud pada dirimu; hingga kau sedemikian termuliakan, unik, dan tiada tara; tersembunyi dan terahsia.
Maka, kau menjadi pengganti para Rasul, para Nabi dan para shiddiq. Kaulah puncak wilayat, dan para wali yang masih hidup akan mengerumunimu. Segala kesulitan terpecahkan melaluimu, dan sawah ladang terpaneni melalui do'amu; dan sirnalah melalui do'amu, segala petaka yang menimpa orang-orang di desa terpencil pun, para penguasa dan yang dikuasai, para pemimpin dan para pengikut, dan semua ciptaan. Dengan demikian kau menjadi agen polisi (kalau boleh disebut begitu) bagi kota-kota dan masyarakat.
Orang-orang bergegas-gegas mendatangimu, membawa bingkisan dan hadiah, dan mengabdi kepadamu, dalam segala kehidupan, dengan izin sang Pencipta segalanya. Lidah mereka senantiasa sibuk dengan doa dan syukur bagimu, di manapun mereka berada. Tiada dua orang Mukmin berselisih tentangmu. Duhai, yang terbaik di antara penghuni bumi, inilah rahmat Allah, dan Allahlah Pemilik segala rahmat.

Risalah 5
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Bila kau melihat dunia ini, berada di tangan mereka, dengan segala hiasan, dan tipuannya, dengan segala bisa mematikannya, yang tampak lembut sentuhannya, padahal, sebenarnya mematikan bagi yang menyentuhnya, mengecoh mereka, dan membuat mereka mengabaikan kemudharatan tipu daya dan janji-janji palsunya - bila kau lihat semua ini - berlakulah bagai orang yang melihat seseorang menuruti nalurinya, menonjolkan diri, dan kerananya, mengeluarkan bau busuk. Bila (dalam situasi semacam itu) kau enggan memerhatikan kebusukannya, dan menutup hidung dari bau busuk itu, begitu pula kau berlaku terhadap dunia; bila kau melihatnya, palingkan penglihatanmu dari segala kepalsuan, dan tutuplah hidungmu dari kebusukan hawa nafsu, agar kau aman darinya dan segala tipu-dayanya, sedang bahagianmu menghampirimu segera, dan kau menikmatinya. Allah telah berfirman kepada Nabi pilihan-Nya: "Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia, untuk Kami uji mereka dengannya, dan kurnia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal." (QS.20 -Thaaha :131).

Risalah 6
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Lenyaplah dari (pandangan) manusia, dengan perintah Allah, dan dari kedirian, dengan perintah-Nya, hingga kau menjadi bahtera ilmu-Nya. Lenyapnya diri dari manusia, ditandai oleh pemutusan diri sepenuhnya dari mereka, dan pembebasan jiwa dari segala harapan mereka. Tanda lenyapnya diri dari segala nafsu ialah, membuang segala upaya memperolehi sarana-sarana duniawi dan berhubungan dengan mereka demi sesuatu manfaat, menghindarkan kemudharatan; dan tak bergerak demi kepentingan peribadi, dan tak bergantung pada diri sendiri dalam hal-hal yang berkenaan dengan dirimu, tak melindungi atau membantu diri, tetapi memasrahkan semuanya hanya kepada Allah, kerana Ia pemilik segalanya sejak awal hingga akhirnya; sebagaimana kuasaNya, ketika kau masih disusui.

Hilangnya kemahuanmu dengan kehendakNya, ditandai dengan ketak-pernahan menentukan diri, ketakbertujuan, ketakbutuhan, kerana tak satu tujuan pun termiliki, kecuali satu, iaitu Allah. Maka, kehendak Allah mewujud dalam dirimu, sehingga kala kehendakNya beraksi, maka pasiflah organ-organ tubuh, hati pun tenang, fikiran pun cerah, berserilah wajah dan rohanimu, dan kau atasi kebutuhan-kebutuhan bendawi berkat berhubungan dengan Pencipta segalanya. Tangan Kekuasaan senantiasa menggerakkanmu, lidah Keabadian selalu menyeru namamu, Tuhan Semesta alam mengajarmu, dan membusanaimu dengan nurNya dan busana rohani, dan mendapatkanmu sejajar dengan para ahli hikmah yang telah mendahuluimu.

Sesudah ini, kau selalu berhasil menaklukkan diri, hingga tiada lagi pada dirimu kedirian, bagai sebuah bejana yang hancur lebur, yang bersih dari air, atau larutan. Dan kau terjauhkan dari segala gerak manusiawi, hingga rohanimu menolak segala sesuatu, kecuali kehendak Allah. Pada maqam ini, keajaiban dan adialami akan ternisbahkan kepadamu. Hal-hal ini tampak seolah-olah darimu, padahal sebenarnya dari Allah.

Maka kau diakui sebagai orang yang hatinya telah tertundukkan, dan kediriannya telah musnah, maka kau diilhami oleh kehendak Ilahi dan dambaan-dambaan baru dalam kemaujudan sehari-hari. Mengenai maqam ini, Nabi Suci saw, telah bersabda: "Tiga hal yang kusenangi dari dunia - wewangian, wanita (isteri solehah) dan shalat - yang pada mereka menyejukkan mataku." Sungguh, hal-hal dinisbahkan kepadanya, setelah hal-hal itu sirna darinya, sebagaimana telah kami isyaratkan. Allah berfirman: "Aku bersama orang-orang yang patah hati demi Aku."

Allah Yang Maha Tinggi takkan besertamu, sampai kedirianmu sirna. Dan bila kedirianmu telah sirna, dan kau abaikan segala sesuatu, kecuali Dia, maka Allah menyegarbugarkan kamu, dan memberimu kekuatan baru, yang dengan itu, kau berkehendak. Bila di dalam dirimu masih juga terdapat noda terkecil pun, maka Allah meremukkanmu lagi, hingga kau senantiasa patah-hati. Dengan cara begini Ia terus menciptakan kemahuan baru di dalam dirimu, dan bila kedirian masih maujud, maka Dia hancurkan lagi, sampai akhir hayat dan bertemu (liqa') dengan Tuhan. Inilah makna firman Allah: " Aku bersama orang-orang yang putus asa demi Aku, " Dan makna kata: "Kedirian masih maujud" ialah kemasih-kukuhan dan kemasih puasan dengan keinginan-keinginan barumu. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman kepada Nabi Suci saw: "Hamba-Ku yang beriman senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku, dengan mengerjakan shalat-shalat sunnah yang diutamakan, sehingga Aku mencintainya, dan apabila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi telinganya, dengannya ia mendengar, dan menjadi matanya, dengannya ia melihat, dan menjadi tangannya, dengannya ia bekerja, dan menjadi kakinya, dengannya ia berjalan." Tak diragukan lagi, beginilah keadaan fana.

Maka Dia menyelamatkanmu dari kejahatan makhluq-Nya, dan menenggelamkanmu ke dalam samudera kebaikanNya; sehingga kau menjadi pusat kebaikan, sumber rahmat, kebahagiaan, kenikmatan, kecerahan, kedamaian, dan kesentosaan. Maka fana (penafian diri) menjadi tujuan akhir, dan sekaigus dasar perjalanan para wali. Para wali terdahulu, dari berbagai maqam, senantiasa beralih, hingga akhir hayat mereka, dari kehendak peribadi kepada kehendak Allah. Kerana itulah mereka disebut badal (sebuah kata yang diturunkan dari badala, yang bererti: berubah). Bagi peribadi-peribadi ini, menggabungkan kehendak peribadi dengan kehendak Allah, adalah suatu dosa.

Bila mereka lalai, terbawa oleh tipuan perasaan dan ketakutan, maka Allah Yang Maha Besar menolong mereka dengan kasih sayangNya, dengan mengingatkan mereka sehingga mereka sedar dan berlindung kepada Tuhan, kerana tak satu pun mutlak bersih dari dosa kehendak, kecuali para malaikat. Para malaikat senantiasa suci dalam kehendak, para Nabi senantiasa terbebas dari kedirian, sedang para jin dan manusia yang dibebani pertanggung jawaban moral, tak terlindungi. Tentu, para wali terlindung dari kedirian, dan para badal dari kekotoran kehendak. Kendati mereka tak bisa dianggap terbebas dari dua keburukan ini, kerana mungkin bagi mereka berkecenderung kepada dua kelemahan ini, tapi Allah melimpahi rahmatNya dan menyedarkan mereka.




Minggu, 22 Oktober 2017

BAGAIMANA MENGATASI LALAI DALAM SHOLAT



Tuhan ada berfirman di dalam Al Quran yang bermaksud: “Neraka Wail bagi orang yang sembahyang iaitu mereka yang lalai dalam sembahyangnya.” (Ayat Al Maun: 4 & 5)
Terdapat banyak tafsiran dan kupasan tentang maksud “lalai” dalam ayat ini. Maksud pertamanya ialah cuai bersembahyang hingga habis waktunya. Sembahyang itu sama ada diqadha ataupun ditinggalkan terus.
Maksud “lalai” yang kedua ialah tidak khusyuk dalam sembahyang. Iaitu tidak hadir hati dalam sembahyang. Dalam sembahyang teringat perkara-perkara diluar sembahyang yang tidak ada kena mengena dengan sembahyang. Malahan, bukan sahaja tidak hadir hati dalam sembahyang, maksud perbuatan dan lafaz dalam sembahyang pun tidak diketahui atau difahami. Jauh sekali untuk dihayati atau dijiwai.
Ketiga ialah tidak melaksanakan segala ikrar dan janji yang dibuat di dalam sembahyang. Dalam sembahyang berbagai-bagai ikrar dan janji dibuat. Diantaranya kita berikrar bahawa segala sembahyang, ibadah, hidup dan mati kita hanyalah kerana Allah. Tetapi selesai sahaja sembahyang , janji itu dilupakan. Buat kerja seolah-olah Tuhan itu tidak wujud atau tidak relevan.
Walau bagaimana pun , kalau kita kaji betul-betul ketiga-tiga tafsiran di atas, kita akan dapati puncanya berbalik juga kepada ketiadaan khusyuk dalam sembahyang. Tidak khusyuk dalam sembahyang adalah kerana tidak khusyuk di luar sembahyang. Sekiranya seseorang itu khusyuk diluar sembahyang, khusyuk itu sudah pasti berterusan dan akan dibawa ke dalam sembahyang. Ertinya, orang yang khusyuk dalam hidupnya diluar sembahyang akan merasa khusyuk dalam sembahyang. Hanya apabila di dalam sembahyang, rasa khusyuknya lebih subur dan lebih tajam kerana sembahyang itu ada rukun dan disiplinnya.
Bagi orang yang khusyuk, tidak timbul masalah cuai bersembahyang hingga habis waktu kerana orang yang khusyuk itu selalu menanti-nanti dan menunggu-nunggu waktu untuk bersembahyang. Menunggu sembahyang itu baginya seperti menunggu untuk bertemu kekasih.Tidak juga timbul hati tidak hadir dalam sembahyang atau teringat perkara-perkara lain diluar sembahyang kerana orang yang khusyuk itu hatinya sentiasa bergelora dengan Tuhan.
Tidak menunaikan ikrar dan janji yang dibuat di dalam sembahyang adalah berpunca dari ketiadaan khusyuk. Apabila tidak khusyuk, segala janji yang dibuat hanyalah di lidah semata-mata. Paling tinggi, akal mungkin turut serta dalam membuat ikrar dan janji tersebut.
Tetapi hati tidak ada peranan kerana tiada khusyuk. Khusyuk itu perkara hati. Oleh itu ikrar dan janji berkenaan dibuat tanpa komitmen dan kesungguhan kerana hati tidak dilibatkan dan tidak dibawa bersama. Ertinya ikrar dan janji itu tidak dibuat dari hati. Janji yang bukan dari hati bukan janjilah namanya. Tidak hairanlah kenapa janji hanya tinggal janji.
Khusyuk yang dituntut dari manusia bukan hanya ketika dalam sembahyang. Tuhan bukan wujud dalam sembahyang sahaja. Tuhan wujud setiap masa dan ketika. Oleh itu kita perlu khusyuk sepanjang masa. Orang yang khusyuk sembahyang itu ialah orang mukmin yang berjiwa Tauhid. Orang yang rasa cinta dan takutnya dengan Tuhan sentiasa mencengkam jiwa dan hati nuraninya. Rasa-rasa ini dibawanya ke mana-mana sahaja dia pergi. Lebih-lebih lagilah dalam sembahyangnya.

Lalai dalam sembahyang pula ada beberapa peringkat seperti berikut:
1. Lalai habis. Takbir sahaja sudah ingat perkara lain di luar sembahyang yang tidak ada kena mengena langsung dengan sembahyang. Ia berterusan sampai salam. Tidak ada rasa apa-apa dengan Tuhan sepanjang sembahyang. Malahan sedar pun tidak.
2. Dalam sembahyang, ada masa lalai dan ada masanya ingat dan sedar bahawa dia sedang bersembahyang. Sembahyang diselang-seli dengan lalai dan mengingat hal-hal dunia.
3.Boleh ikut dan menyorot apa yang dia baca dalam sembahyang tetapi tidak faham akan maksud apa yang dibaca dan dilafazkan. Kalau hendak diukur dengan nisbah khusyuk, ini masih dianggap lalai. Bila tidak faham, masakan boleh menghayati. Kalau tidak menghayati, masakan boleh merasa apa-apa dengan Tuhan.
4. Boleh faham segala apa yang dibuat, dibaca dan dilafazkan di dalam sembahyang. Sembahyang seperti ini sudah agak baik. Namun ini masih dianggap lalai mengikut kehendak dan tuntutan sembahyang kerana belum ada apa-apa rasa dengan Tuhan. Khusyuk adalah rasa bukan setakat tahu atau faham.
5. Faham akan segala apa yang dibaca dan dilafazkan dalam sembyang dan kadang-kadang ada rasa tetapi tidak pada sepanjang masa dan waktu di dalam sembahyang. Walaupun ini sudah baik tetapi masih ada lalai. Walaupun tidak membawa dunia ke dalam sembahyang tetapi rasa-rasa dengan Tuhan tidak wujud sepanjang waktu dalam sembahyang.
6.Sembahyang yang tidak lalai itu ialah yang sentiasa mempunyai rasa dengan Tuhan yang berubah-rubah dari satu rasa ke satu rasa yang lain mengikut apa yang dibaca dan apa yang dilafazkan,bermula dari takbiratulihram hinggalah kepada salam. Inilah sembahyang yang tidak lalai. Inilah sembahyang yang benar-benar khusyuk.
Pernahkah kita bersedih tertinggal sembahyang? Pernahkah susah hati terlewat mengerjakannya? Pernahkah terasa rugi tertinggal jemaah mendirikan sembahyang? Pernahkah kita risau hati lalai di dalam sembahyang? Pernahkah terasa berdosa tidak beradab menghadapi Tuhan? Jawapannya ada pada diri kita sendiri. Setiap orang boleh menilai dirinya. Tanyalah diri kita akan dapat jawapannya. Bila dapat jawapannya engkau kenal diri engkau. Bila engkau kenal diri engkau, engkau kenal siapa engkau. Kalau engkau kenal diri engkau engkau tidak akan nampak lagi kejahatan orang lain. Begitulah beberapa pertanyaan yang kita ajukan. Sebagai contoh untuk bertanya diri sendiri yang tidak disebutkan kita datangkan atau fikirkan tentu kita juga akan dapat jawapannya. Cara ini adalah salah satu cara buat kita menilai diri jika kita mahu menilai diri sendiri. Lebih-lebih lagi jika hendak membaiki diri tapi berapa ramaikah orang boleh ikut jalan ini?!
Sesuailah pembahagian peringkat-peringkat lalai ini dengan erti sebenar khusyuk dalam sembahyang. Khusyuk bukan setakat dapat menumpukan perhatian dan faham apa yang dibaca dalam sembahyang tetapi ialah dapat menimbulkan rasa-rasa dengan Tuhan. Kalau tidak ada rasa-rasa yang berubah dalam sembahayng seperti gerun, hebat, cinta, takut, berharap kepada Tuhan dan lain-lain, maka itu tanda tak khusyuk.
Lalai berpunca dari pengaruh dunia. Kalau dunia berada di hati,amat sukar untuk mendapat khusyuk dalam sembahyang. Dunia akan terbawa dalam sembahyang. Sebab itu kalau pun ada rasa di dalam sembahyang, hanyalah ada rasa-rasa keduniaan seperti seronok tadi baru berjumpa kawan atau rasa takut tengah-tengah sembahyang polis saman kereta kita salah parking atau tengah sembahyang, bimbang takut tak sempat pergi ke bank sebelum bank tutup dan sebagainya. Rasa-rasa ini ialah rasa dunia yang melalaikan, bukan rasa-rasa khusyuk.
Kalau kita berjalan-jalan dalam hutan dan keindahan hutan itu sangat mempengaruhi hati kita hingga apabila terserempak dengan harimau pun kita tak sedar dan tidak merasa takut, maka kita sebenarnya tidak kenal harimau. Kalau kenal, sudah tentu secara spontan kita rasa gerun dan takut. Begitu juga, kalau kita seronok dengan nikmat dunia ini hingga terbawa-bawa ke dalam sembahyang sampai kehadiran Tuhan sewaktu kita bersembahyang pun kita tak sedar, itu tanda kita tidak kenal Tuhan dan tidak terkesan atau terpengaruh dengan kehadiran Tuhan.
Sekiranya kita tidak kenal Tuhan, hanya setakat tahu dan percaya sahaja , kita tidak akan dapat rasa khusyuk. Paling tinggi ketauhidan kita hanya diperingkat akal atau fikiran sahaja kerana tahu dan percaya itu perkara akal. Kita dikatakan orang yang berfikiran tauhid, bukan yang berjiwa tauhid.
Mengenal Tuhan ialah langkah pertama untuk mendapat khusyuk. Setelah Tuhan kita kenal, barulah kita akan dapat merasakan kehebatan dan keagungan Tuhan dihati kita kerana kenal itu perkara hati. Barulah kita akan dapat rasa berTuhan. Selagi hati kita tidak dapat rasa berTuhan, ia tidak akan dapat rasa kehambaan dan ia tidak akan dapat rasa khusyuk.
Ada hadis berbunyi: “Awal-awal agama adalah mengenal Allah”
Maksudnya, selagi kita tidak kenal Allah, agak sukar untuk kita beragama. Kita tidak akan boleh khusyuk. Selagi kita tidak boleh khusyuk kita sebenarnya belum berjiwa Tauhid. Kalau kita belum berjiwa Tauhid kita tidak akan mampu mengamal dan menegakkan syariat Islam secara lahir dan batin. Mungkin kita boleh laksanakan syariat lahir tetapi batinnya kosong. Tidak ada khusyuk, tidak ada roh dan tidak ada jiwa. Padahal Islam itu mesti ada lahir dan batinnya.

SOLAT SYARIAT dan SOLAT TAREQAT



Solat ada 2 iaitu SOLAT SYARIAT dan SOLAT TAREQAT

SOLAT SYARIAT ialah Solat seluroh badan yang zahir dengan gerakan seperti badan berdiri,lidah membaca,ruku,sujud,mengeluarkan suara dan bacaan 2.Olih itu dalam al quran ianya di sebut SELAWAT.

SOLAT TARIQAT ialah solat nya hati selama lama nya seperti di sebut dalam al quran …SOLATUL WUSTA iaitu solat hati,kerana hati berada di tengah badan,antara kanan dan kiri, antara atas dan bawah, antara BAHGIA DAN CELAKA !!

!Rasul berkata !!Sesunggoh nya hati manusia di antara 2 jari ALLAH,ALLAH membolak balikan nya sesuai dengan kehendak nya…2 jari ALLAH yang dimaksud kan ialah sifat ALLAH..1..Memaksa(hukum) 2.Pengaseh. Ini bermakna dalam solat,pokok nya kena jaga iaitu HATI,bila hati merewang dan lupa, rosak lah pokok,bila rosak pokok, rosak lah solat !!kata nabi…Tidak lah sah salat sesaorang kecuali hadir hati nya.!!

SOLAT SYARIAT ada batas waktu sehari semalam samada solat wajib atau solat sunnat.Salat ini kena ikut rukun dan apa yang di syariat kan olih rasul saw.

SOLAT TAREKAT ialah dilaku kan bila bila waktu samaada di dunia atau akhirat.Masjid NYA ADALAH HATI !.Jamaah nya IALAH TERPADU NYA KESUCIAN BATIN DENGAN SELALU MENGUCAP TASBIH TAUHID DENGAN LISAN BATIN.imam nya IALAH RASA RINDU KEPADA KEKASIH..IAITU..ALLAH, UNTUK SAMPAI KEPADA ALLAH.kiblat nya IALAH KE HADIRAT ALLAH YANG MAHA TUNGGAL DAN KEINDAHAN SIFAT ALLAH ITU BERDIRI SENDIRI.

Itulah dia solat yang hakiki dan maha sempurna, Hati dan roh bersolat bersama tidak terpisah juga ianya !!Hati yang tidak pernah tidur tanpa suara,tanpa lagu,..samaada duduk berdiri, berjalan,sentiasa berkata ‘AKAN ENGKAU LAH AKU IBADAT,AKAN ENGKAU LAH AKU MOHON PERTOLONGAN !!kerana begitu lah sunnah rasul !!!tidak lupa pada tuhan nya walau apa jua kaadaan nya !!!ALLAH HU AKBAR.
Kalau kita sudah mendapat solat se begini,baru lah kita makrifat kepada ALLAH,berpindah hati hanya kepada ALLAH, beralih ke HADRAT AHADIYAT( selalu berasa bersama ALLAH)…para wali dan nabi sentiasa solat samaada berpindah alam(wafat) seperti mana mereka bersolat di rumah !!hadith nabi.
Ini menunjukan mereka tidak mati, hidup disisi tuhan nya mendapat rezeki dari yuhan nya !!
Paduan antara SOLAT SYARIAT dan SOLAT TAREQAT tadi baru lah dikira kita benar benar bersolat,tinggi darjat nya jasmani solat itu dan batin nya solat itu..yang ARIF BILLAH.Untuk mencapai solat begitu, hati mesti lah di rendah kan hanya pada ALLAH,muhasabah diri,bersuluk (berduan dengan ALLAH)….

ALLOH SWT MEMBERIKAN 3 PELUANG DALAM SHOLAT



Imam Jakfar Shadiq as berkata,

“Ketika seorang hamba shalat, Allah Swt akan memalingkan wajah-Nya kepada hamba dan selalu memperhatikannya sampai hamba-Nya berpaling dari Allah sebanyak tiga kali, dan ketika hamba berpaling tiga kali, maka ketika itulah Allah juga akan berpaling darinya.”

Ulama' terkenal menjelaskan hadis tersebut dan mengatakan, 

“Itu adalah terjemahan  dari riwayat tersebut, dan akan saya kemukakan beberapa poin. 

Pertama, jelas sudah bahwa ketika hamba menghadap dan memalingkan muka kepada Allah Swt, maka Allah juga akan berpaling kepadanya. Inilah inti dari riwayat tersebut.
Mengapa? Karena shalat adalah ritual menghadap kepada Allah Swt dan jika hamba memalingkan perhatiannya kepada Allah, maka Allah juga akan memperhatikannya dengan perhatian penuh.”


“Kedua, jika hamba memalingkan wajah (perhatian) dari Allah Swt maka Dia juga akan memalingkan wajah-Nya (perhatian) dari hamba itu. Untuk yang satu ini ada batasnya, jika sekali ia memalimgkan wajahnya dari Allah Swt, maka Allah masih akan memperhatikan hamba-Nya. Sampai tiga kali, dan ketika sudah tiga kali hamba itu memalingkan perhatiannya dari Allah Swt, maka Allah Swt juga tidak akan memperhatikannya lagi. Riwayat ini tentang shalat. Dalam shalat memalingkan wajah dari Allah Swt berarti hamba ketika shalat memperhatikan selain Allah Swt. Dalam riwayat disebutkan bahwa ketika manusia shalat dua rakaat dan sepenuhnya khusyu, maka Allah Swt akan mengampuni dosa-dosa kecilnya. Perhatian atau khusyu berarti agar manusia tidak memikirkan masalah duniawi ketika shalat. Yakni ketika kalian shalat, untuk beberapa menit saja jangan kalian memikirkan apapun kecuali memperhatikan Allah Swt. Karena shalat itu tidak lebih dari beberapa menit saja!”
“Ada  satu cerita tentang almarhum ulama  yang tidak ingin saya sebutkan namanya. Saya ingat waktu itu hari wafat. Kebetulan saya masih berada di jalan ketika waktu mendekati Zuhur. Ketika Zuhur, saya pergi shalat berjamaah di masjid beliau. Selesai shalat, beliau berdiri dan melihat ke arah saya padahal saya berdiri di tempat yang tidak mudah dilihat. Beliau menyalami saya. Dengan nada bergurau saya mengatakan, Anda shalat cepat sekali. Beliau menjawab, jangan bilang shalat saya cepat tapi bilang kepada mereka yang dua shalat mereka sama seperti satu shalat saya.”
“Intinya adalah mengapa harus tergesa-gesa dalam shalat. Bukankah shalat tidak lebih dari beberapa menit saja, mengapa harus tergesa-gesa? Perhatikan riwayat ini, jika kalian bepaling maka Aku juga akan berpaling. Aku (Allah Swt) akan memperhatikan kalian sepenuhnya, jika sekali kalian berpaling dari-Ku, maka Aku tetap akan memperhatikan kalian. Dua kali kalian bepaling dari-Ku, Akun tetap akan memperhatikan kalian. Akan tetapi untuk kali ketiga maka Aku juga akan berpaling dari kalian.”
“Sekarang, saya ingin menjelaskan bahwa kalian tahu shalat merupakan salah satu sarana terkabulkannya doa. Bahkan kita memiliki riwayat yang menyebutkan bahwa jika seseorang menunaikan shalat, shalat wajib, dan setelah shalat ia berdoa, maka doanya akan terkabul.
 Tapi doa kita tidak terkabul? Itu berarti kalian tidak khusyu dalam shalat! Kalian tidak memperhatikan Allah dalam shalat! Perhatian kalian tertuju pada masalah -masalah duniawi. Ketika tidak ada perhatian dalam shalat maka tidak ada gunanya.”