Total Tayangan Halaman

Minggu, 01 Januari 2017

FADHILAH SYAHADATAIN



Soal : Apakah membaca syahadat itu ada fadhilahnya ?
Jawab             : Ya, ada fadhilahnya, bahkan Rasulullah SAW. memerintahkan untuk membacanya.
            Diantara fadhilahnya adalah firman Allah SWT : “Sesungguhnya orang yang mengucapkan : “Allah Tuhan kami”, kemudian selalu beristiqomah, maka akan turun malaikat kepada mereka dengan mengatakan; janganlah kamu merasa takut dan sedih dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Fushshilat/Assajdah ayat 30).
            Dan termasuk istiqomah adalah terus menerus membaca kalimat syahadat di setiap waktu.

Disebutkan dalam Tafsir SHOWI dari Juz awal halaman 135 sesungguhnya syahadat itu akan menghancurkan sendi-sendi kemusyrikan didalam hati dan menghilangkan keraguan, karena itu para arifin memilih syahadat untuk dibaca setiap selesai shalat.

Dan di terangkan pula dalam Tafsir SHIROJUL MUNIR Juz awal halaman 436, sebagai berikut : Ibnu Abbas r.a. berkata : “Barang siapa mendawamkan syahadat selama hidup didunia maka Allah SWT akan menetapkan syahadat itu kepadanya didalam quburnya dan Allah akan menuntunnya membaca dua kalimat syahadat”.
“ Allah akan menetapkan ucapan-ucapan yang ditetapkan oleh orang yang briman pada waktu hidup di dunia dan di akhirat dan Allah akan menyesatkan orang orang yang dzalim. Dan Allah akan berbuat apa yang dikehendaki-Nya.”
Soal    :  Apakah Rasulullah SAW membaca syahadat setelah beliau shalat ?
Jawab :  Ya, Rasulullah SAW membacanya setelah salam dari shalat, sebagaimana terdapat dalam hadits yang ada pada kitab Ibnu Sunni : Dari Anas r.a. dia berkata : Rasulullah SAW setelah selesai shalat beliau memegang dahi dengan tangan kanan seraya mengucapkan “Aku bersaksi bahwasanya tiada tuhan melainkan Allah yang maha pengasih dan penyayang, Ya Allah, lepaskanlah dariku kesusahan dan kesedihan”. (ADZKAARUN NAWAWY Halaman 69).
Soal : Mengapa Rasulullah SAW tidak membaca syahadat rasul sedangkan kita membacanya?
Jawab :  Karena Rasulullah SAW telah bersaksi bahwa dirinya adalah Rasulullah adapun kita adalah ummat rasul seandainya tergelincir kedalam syirik atau murtad, maka wajib membaca dua kalimat syahadat, apalagi di zaman akhir ini, didalam hadits, Abu Hurairah r.a. ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Fitnah di zaman akhir dapat menjadikan seseorang mu’min di pagi hari, dan kafir di sore hari, kecuali orang yang telah diselamatkan oleh Allah SWT dengan ilmu pengetahuan atau dengan seorang guru yang memberi petunjuk (Guru mursyid) (DASUQY Halaman 89) ; Apakah anda tidak senang Habib Umar mengajarkan dua kalimat syahadat di zaman ini.
Syirik lebih samar dari pada semut hitam kecil yang berjalan diatas batu hitam yang licin pada waktu malam hari yang gelap gulita.
Soal : Apakah hikmah dan maksud membaca dua kalimat syahadat tiga kali setelah salam dari shalat ?
Jawab : Hikmah dan maksud (tujuan) nya ada tiga :
           Pertama          :  Mohon ditetapkan Iman Islam saat dicabut rukh
           Kedua : Mohon ditetapkan dua kalimat syahadat untuk menjawab pertanyaan mlaikat Munkar Nakir didalam kubur.
           Ketiga  : Mohon diselamatkan dari kebingungan pada hari Qiyamat dan makhsyar.
Wasallam dibaca fiil madhi, karena dalam kitab Alfiyah dalam bab ‘ataf, fiil madhi boleh di’atafkan kepada fiil amar dengan sama tujuannya.
Imam Ibu Aqil mengatakan bahwa ‘athaf tidak dikhususkan pada isim saja, bahkan bisa diterapkan dalam isim dan fiil seperti dalam kalimat  يَقُوْمُ وَ يَقْعُدُ زَيْدٌ وَ رَكِبَ وَ اِضْرِبْ زَ يْدًا وَ قُمْ dan seperti dalam ayat al-Qur’an :  فَالْمُغِيْرَاتِ صُبْحًا فَأَثَرْنَ بِه نَقْعًا  (IBNU AQIL Halaman 137).
Soal  : Apakah boleh talqin mayyit hanya dengan membacakan dua kalimat syahadat ?
Jawab : Ya boleh, bahkan yang dimaksud dengan talqin adalah menalqinkan dua kalimat syahadat, seperti yang tertera dalam buku talqin yang biasa digunakan oleh kaum muslimin itu ada ucapan :
Ingatlah akan perjanjian ketika engkau keluar dari dunia ke akhirat, ialah mengenai syahadat, yaitu menyaksikan tidak ada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah.
Dan sebagaimana tersebut dalam kitab RIYADHUSSHOLIHIN dari Barra Bin ‘Azib, bahwa Rasulullah SAW., bersabda : Apabila mayat ditanya oleh malaikat Munkar Nakir dikuburnya, dan menyaksikan tidak ada tuhan melainkan Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah. Allah berfirman : Allah menetapkan kepada orang-orang mu’min ucapan-ucapan yang tetap pada waktu hidup di dunia dan di akhirat. (HR. Buchari Muslim).
Soal    : Adakah dalil yang menunjukkan membaca tasbih, tahmid dan takbir dibaca tiga kali ?
Jawab : Ya, ada dalilnya ; sebagaimana tersebut dalam ATTUHFAH juz awal halaman 277 (peringatan) sesungguhnya ada riwaat-riwayat bahwa ada yang kurang dan ada yang lebih dari 33 kali, seperti 25, 11, 3, 1 ada pula yang 70 dan 100 kali dalam membaca tasbih.
Soal    : Mengapa kita memakai pakaian putih ketika shalat ?
Jawab : Karena Rasulullah SAW., memakai dan memerintahkannya. Seperti yang tersebut dala kitab BULUGHULMARAM halaman 63 terdapat keterangan dari Ibnu Abbas r.a. sesungguhnya Nabi SAW, telah bersabda : “Pakailah olehmu pakaian yang putih, sesunguhnya pakaian yang putih itu adalah pakaian yang terbaik bagimu, dan bungkuslah mayatmu dengan kain putih. (Diriwayatkan oleh : Lima Ulama kecuali Imam an-Nasa’i dan di shahihkan oleh Imam Turmudzi).
Dan tersebut didalam kitab FATHUL WAHHAB halaman 87 dan kitab IQNA’ halaman 179 dan Kitab JAMI’ISH SHAGHIIR halaman 130 dari juz 2 hadits nomor 5515 : tetapkanlah atasmu pakaian yang putih dan pakailah bagi orang yang hidup dengan pakaian yang putih, dan bungkuslah mayatmu dengan pakaian yang putih, sesungguhnya pakaian putih adalah pakaian yang terbaik bagimu.
Dan telah tersebut dalam kitab IHYA pada juz awal dalam bab adabul jum’at, telah berkata Imam Syafi’i : “ Barang siapa bersih pakaiannya, maka sedikit susahnya, dan barang siapa wangi baunya, akan ditambah akalnya, dan adapun pakaian yang lebih dicintai adalah pakaian putih, karena pakaian yang lebih dicintai oleh Allah adalah pakaian putih yang tidak loreng, dan berpakaian hitam tidak termasuk sunnah, dan tidak ada fadhilahnya (keutamaannya) bahkan sekelompok ulama, memakruhkan melihatnya, karena bid’ah yang diada-adakan sesudah wafatnya Rasulullah SAW., dan sorban disunnahkan sampai hari ini.
Soal : Mengapa kita memakai Gamis, Jubbah, dan sorban khususnya pada waktu shalat ?
Jawab :           Karena sunnat, seperti dalam Kitab BUGHYATUL MUSTARSYIDIIN halaman 86 terdapat masalah : disunnahkan memakai Gamis, sarung dan sorban dan thoilasan (pakaian untuk menutup kepala sebelum memakai sorban) diwaktu shalat atau diluar shalat, kecuali diwaktu tidur dan sebagainya akan tetapi thoilasan itu khusus bagi orang-orang yang mulia dari ulama dan pemimpin.
Dan telah berkata dalam kitab DI’AMAH halaman 8-9 ; terdapat keterangan bahwa Imam Ad-Dailamy telah menerangkan dalam kitab Musnadil Firdaus dari Jabir , Hadits marfu’ : shalat satu raka’at dengan memakai sorban itu lebih baik dari pada 70 roka’at dengan tidak memakai sorban. Dan Imam Munawi telah memberi keterangan dalam kitab Taisir : sesungguhnya shalat itu menghadap raja (Allah) adapun menghadap raja tidak memakai pakaian yang baik adalah tidak beradab. Dan shalat jum’at sekali dengan memakai sorban adalah berlipat 70 kali lipat (pahala) jum’atan dengan tidak memakai sorban.
Soal : Mengapa kita bertawassul kepada para Nabi para wali dan para sholihin ?
Jawab : Karena kita beramal atas dasar firman Allah yang ada dalam surat al-Maidah ayat 35 : “Hai oang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah, dan carilah jalan yang mendekatan diri kepada-Nya, dan berjihadlah kepadanya, supaya kamu mendapat keberuntungan (surga). Sebagaimana tersebut dalam kitab FATAWI ALKHALILI Halaman 258.
Dan telah berkata IBNU ABBAS r.a. : Sesungguhnyawasilah itu adalah sesuatu yang bisa mendekatkan diri kepada Allah.
Dan yang termasuk wasilah adalah cinta kepada para Nabi, kepada para wali , shodaqoh, ziyarah kepada para kekasih Allah, memperbanyak do’a dan lain-lain. Yang dimaksud, kerjakanlah sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah, dan tinggalkanlah sesuatu yang menjauhkan diri kepada Allah. Karena itu kita diharapkan tahu, maka termasuk kekeliruan dan merugi orang yang mengatakan kafir kepada orang yang berziyarah kepada waliyullah dengan bersyakwa sangka bahwa ziyarahnya itu beribadah selain kepada Allah. Janganlah demikian, justeru yang demikian itu termasuk cinta kepada Allah. Rasulullah SAW., bersabda : “Ingatlah tidak sempurna iman seseorang yang tidak mahabbah (mencintai) kepadanya”. (TAFSIR SHOWI Juz awal halaman 265).
Dan telah bersabda Nabi SAW. : “Manusia itu bersama orang yang dicintai” Dan Nabi SAW. telah bersabda pula : “Ingatlah ! (wahai ummatku) kepada Allah jika ia tidak bisa mengingat, maka berkumpullah bersama orang yang ingat kepada Allah”. Dan diterangkan oleh sebagian ulama bahwa cinta kepada guru, itu sebagian permulaan cinta kepada Allah. Sebagaimana tersbut dalam kitab TANWIRUL QULUB halaman 57.
Dan telah berkata dalam kitab BAJURI dari juz kedua halaman 700 ; Dan telah berkata dalam Nahjissa’adah Rasulullah SAW., telahbersabda : “Bertawassullah kamu dengan ku dan degan ahli bait ku, sesungguhnya orang yang bertawassul kepada ku tidak akan ditolak” (H.R. IBNU HIBBAN dalam Hadits Shahihnya).
Dan Nabi SAW telah bersabda : “Bertawassullah kamu dengan kebesaranku, sesungguhnya sifat kehormatanku bagi Allah adalah suatu perkara yang berfaidah” (sebagaimana tersebut dalam kitab BUGHYATUL AWAM).
Dan tersebut dalam kitab IHYA Juz awal halaman 233; Rasulullah SAW telah mengajar Abu Bakar Ash-shiddiq r.a. supaya membaca doa :
اَللّهُمَّ إِ نِّيْ أَسْـئـــَلُكَ بِمُحَمَّدٍ .... الخ
Dan telah diterangkan dalam kitab BUGHYATUL MUSTARSYIDIIN halaman 358 : “adapun bertwassul dengan para Nabi dan para sholihin adalah sesuatu yang dicintai syara’ dan sudah ditetapkan dengan hadits yang shohih. Dan para ulama telah sepakat dengan menjalankan tawassul bahkan sudah tetap (diperbolehkan) tawassul dengan amal shaleh padahal amal shaleh itu suatu sifat, maka dari itu lebih utama tawassul dengan dzat, adapun tawassul dengan para Nabi dan para wali dimasa hidupnya dan sesudah wafatnya itu diperbolehkan secara hukum syara’, seperti yang telah berlaku dalam hadits yang shohih.

Dan telah berkata dalam kitab Adzkar pada bab Dzikir dalam shalat Istisqa’, halaman 134 : Dan disunnatkan bertawassul dengan orang-orang yang masyhur kebaikannya seperti berdo’a dengan membaca : اَللّهُمَّ إِنــَّا نَسْتَسْقِيْ.... الخ
Soal  : Boleh atau tidak memanggil-manggil para Nabi, para Wali, atau guru dipinggir quburan pada waktu ada kesulitan dan apakan para Nabi, para Wali dan Guru itu bisa memberi pertologan kepada orang yang minta tolong ?
Jawa  : Boleh dan para Nabi, Wali atau guru itu masih bisa memberi pertolongan pada orang yang minta tolong sesuai dengan keterangan dari Hamis-nya (penjelasan pinggir) kitab FATAWY AL-KUBRA halaman 382 juz 4 yang artinya : “bagaimana orang awam yang mengucapkan : “Ya Rasulullah, ya syaikh fulan ….” dan yang semacam dengan itu, dipinggir Quburan dengan tujuan meminta pertolongan kepada mereka, apakah mereka masih bisa memberi pertolongan ? (Jawabannya) boleh dan masih bisa memberi pertolongan , karena mukjizat para Nabi dan karomat para Wali tidak putus karena kematiannya. Namun para Nabi dan para Wali hidup di alam quburnya, masih menjalankan shalat dan haji, seperti dalam Hadits : Para Nabi masih bisa memberi pertolongan kepada yang meminta tolong sebagai mukjizatnya. Dan para syuhadapun masih hidup dan bisamembantu orang-orang yang perang dijalan Allah (sabilillah). Para Wali, Guru juga masih bisa memberi pertolongan kepada orang yang meminta tolong sebagai karomahnya, sesungguhnya para ulama ahli haq sekeyakinan dalam hal karomah, syafa’at, mu’jizat, sesungguhnya beberapa perkara yang tidak seperti biasanya (mustahil menurut akal) seperti yang sering terjadi di kalangan para Wali, baik sengaja ataupun tidak, itu sesuatu yang aneh (yang diluar kebiasaan) yang dijalankan Allah. Dalil adanya karomah, bahwa karomah itu suatu perkara yang mungkin, tidak termasuk sesuatu yang mustahil dan semua keadaan ini sesuatu yang mungkin, masalah tersebut sama dengan kisah Siti Maryam pada waktu mash kecil, ditemptkan di loteng kamar masjid baitul muqaddas dan pintunya dikunci rapat oleh Nabi Zakaria, setiap pagi Nabi Zakaria membuka pintunya dengan maksud memberi makanan pada Siti Maryam, akan tetapi didepan Siti Maryam sudah terhidang buah-buahan, pada musim hujan terhidang buah-buahan musim kemarau dan pada musim kemarau terhidang buah-buahan musim hujan. Ini sudah di Nash dalam al-Qur’an.
Karomah para wali jelas dan nyata tidak bisa diingkari, keterangan dari kitab SIROJUL BAYAN halaman 15 : Dan dalam kitab SIROTUSYSYAMIYAH ada keterangan bahwa Ahli sunnah wal jama’ah berpendapat tentang adanya karomah para wali baik semasa hidupnya maupun setelah wafatnya.
Rasulullah SAW telah bersabda : Apabila kamu mempunyai kesulitan dalam suatu masalah maka mintalah pertolongan pada ahli qubur  (Dari Kitab Bahjatussaniyyah halaman 14)
Soal : Dengan cara apakah berdo’a kepada Allah yang lebih utama ? apakah dengan tawassul kepada Nabi, Wali, atau Guru ? atau secara langsung tidak dengan cara tawassul ?
Jawab :                       Masalah tersebut bersifat tafsil artinya tergantung keadaan, bagi orang awam seperti kita, apabila berdo’a atau beribadah kepada Allah belum bisa wusul (rukhaninya kepada Allah), sehingga tidak mempunyai rasa adanya panca indra atau badan yang wujud ini, maka berdo’a itu lebih utama dengan cara tawassul, bagi orang yang bisa wusul, maa berdo’a itu lebih utama langsung seperti : Nabi Ibrohim pada waktu dilemparkan kedalam bara api, juga seperti Siti Aisyah pada waktu dituduh zina dengan sahabat Sofwan Bin Muaththal Assulami, setelah Siti Aisyah mempunyai perasaan bahwa wujud dirinya itu terasa wusunya (konsentrasi wusulnya kepada Allah) terasa kurang, maka Siti Aisyah dengan segera tawassul kepada Nabi SAW, karena syukuran kepadanya. Sebagaimana Rasulullah SAW telah bersabda : “Tidak bersyukur kepada Allah, barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia” (HIKAM Juz 2 halaman 87).
Soal  :  Bolehkah memanggil gurunya dengan ucapan Yaa hadii, yaa ‘aliim, yaa khobiir, yaa mubiin, yaa waliy, yaa hamiid, yaa qowiim, yaa hafiidz ? yag dimaksud guru disini adalah Habib Umar, dalam ucapannya, adapun hakekatnya adalah memohon kepada Allah SWT ?
Jawab :           Boleh, karena Habib Umar termasuk ahli bait Rasulullah SAW da waliyullah (pendapat kami), sebagaimana Rasulullah SAW telah bersabda : “bertawassullah kamu sekalian dengan ku dan dengan keluargaku, sesungguhnya tidak akan ditolak orang yang bertawasssul dengan kami. (H.R. IBNU HIBBAN dalam shohihnya). Begitu pula IMAM HAKIM meriwayatkan dari Sahabat Abu Dzarrin, bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Ahli Baitku bagimu laksana kapalnya Nabi Nuh AS. bagi kaumnya, orang yang mengikuti kebaikan akan selamat dan oang yang tida mengikuti dalam kebaikan akan tenggelam”.
IMAM MUNAWY berkata : karena ini berpendapatlah para ulama : sesungguhnya kutubul auliya, dalam setiap masa itu terdiri dari mereka ahli bait Nabi, dan murid-murid Al-Habib Umar, termasukkutubul auliya dizaman kita, dan hadits-hadits ini menunjukkan tentang bolehnya seseorang murid minta tolong kepada seorang guru dan hal itu dinamakan robithoh artinya ikatan hati murid dengan gurunya. Dan Habib Umar adalah orang yang mulia, lagi pula dzurriyat Rasulullah SAW, dan ahli warisnya dalam ucapan, perbuatan, dan keadaannya. Dan warisan yang paling sempurna adalah tiga : ucapan, perbuatan (kelakuan), dan i’tikad (kata hati) sebagaimana Rasulullah SAW telah bersabda : “Syari’at adalah ucapanku, Thoriqot adalah perbuatanku, Hakekat adalah keadaanku. Dan mencintai Ahlullah adalah wajib, sebab merekalah orang yang tergolong ahlushshafa wal wafaa (orang yang bersih dan mengabdikan diri kepada Allah) bahkan bagi orang yang mengikuti jejak langkah mereka (ahlushshafaa wal wafaa).
IMAM SUFYAN berkata : Sesungguhnya orang yang cinta kepada orang yang mencintai Allah, berarti orang tersebut mencintai Allah, dan orang yang memuliakan terhadap orang yang memuliakan Allah, berarti orang tersebut memuliakan Allah. Dan sebuah Hadits yang panjang dari Sayyidina Umar r.a. Bahwa Rasulullah SAW ditanya : Siapakah aali (Keluarga) Muhammad yang harus kami cintai dan harus kami muliakan ? dan kami diperintah untuk berbuat baik kepada mereka ?. Maka berkata ahlush shafaa wal wafaa : yang beriman kepadaku dan ikhlas. Hai saudara-saudaraku fahamilah hadits-hadits auliya, agar kalian tidak termasuk golongan yang dikecam oleh Allah. Dialam hadits Qudsi diterangkan : Barang siapa memusuhi kekasihku, maka kami memberitahu kepadanya dengan perang.
Soal  :  Bolehkah murid berdo’a (Tawassul) kepada gurunya dengan mengucapkan ucapan khalifatu Rasulillah ?
Jawab :           Ya boleh, seperti Sabda Rasulullah SAW yang tertera dalam Syarah Azkiya halaman 83 : “Rakhmat Allah mudah-mudahan tetap atas khalifahku”. Sebagian sahabat bertanya : “Siapakah khalifah-khalifahmu ya Rasulullah ?”. Nabi SAW menjawab : “Khalifah-khalifahku dalah orang-orang yang menghidupkan dan mengamalkan sunnah-sunnahku dan mengajarkan kepada hamba-hamba Allah”. Sedangkan guru kita yang mulia (Al-Habib Umar Bin Isma’il Bin Yahya) sebagian dari orang yang menghidupkan, mengamalkan dan mengajarkan kepada hamba Allah akan sunnah-sunnah Rasul yang tidak diamalkan oleh umat Islam masa sekarang ini terutama mengajarkan dua kalimat syahadat.
Soal  : Bolehkah memakai asma’ul husna (nama) dari Asma Allah untuk seseorang ?
Jawab :           Ya Boleh sebagaimana dijelaskan dalam kitab Sulam Taufiq halaman 4 : Allah SWT telah memberikan kepada hamba-Nya (Adam AS.) beberapa sifat dan digunakan sebagai nama. Digunakannya nama itu bagi Allah SWT adalah sebagai penghormatan kepada hamba itu. Misalnya aku hidup …… dan sebagainya, akan tetapi jelas berbeda dengan sifat Allah SWT pada hakekatnya.
Soal  :  Apakah boleh berdzikir sambil berdiri, sambil duduk dan lainnya ?
Jawab :           Ya, boleh, Berdzikir dalam posisi apapun kecuali seperti pada waktu buang air besar, maksiyat, seperti diterangkan dalam kitab ADZKAR halaman 7, demikian : “ketahuilah bahwa keutamaan dzikir itu tidak di khususkan pada ucapan tasbih, tahmid, takbir, dan semacamnya. Bahkan setiap orang beramal karena Allah dengan taat,itu termasuk orang yang dzikir kepada Allah. Begitu pula dikatakan oleh Said Bin Jabir r.a. dan yang lainnya yakni dari para ulama berkata Ibnu Abbas dalam menafsirkan firman Allah : Yang dimaksud adalah mereka yang berdzikir kepada Allah , setelah melaksanakan shalat, pada waktu pagi, waktu sore, berdzikr sambil tiduran, dan setiap bangun dari tidurnya, dan tiap-tiap berangkat pagi atau pulang sore ke rumahnya, maka dia berdzikir kepada Allah. Berkata Imam Mujahid : “Tidak termasuk orang yang banyak berdzikir kepada Allah, kecuali dia berdzikir sambil berdiri, duduk, dan tiduran.
Dan tersebut dalam kitab FATAWY AL-KHALILI halaman 259 sebagai berikut : meriwayatkan Imam Khafidz Abu Na’im dengan Sanadnya dari sahabat Ali Bin Abi Thalib, bahwa beliau pada suatu hari menerangkan keadaan para sahabat, mereka berdzikir kepada Allah SWT, maka mereka bergerak-gerak, seperti gerakannya pohon yang diterpa oleh hembusan angin besar, dan mereka berdzikir sambil menangis, air matanya membasahi pakaiannya.
Dan berkata Siti Aisyah r.a. Bahwa Nabi SAW berdzikir kepada Allah SWT., dalam seluruh waktunya. Kesimpulan dari hadits ini bahwa orang tidak bisa disalahkan berdzikir dengan gerakannya atau sambil duduk, sambil berdiri, atau tenang (tidak bergerak-gerak). Dan Firman Allah SWT dalam surat AN-NISA’ ayat 103 dijelaskan : “Apabil kamu telah selesai mengerjakan shalat hendaklah kamu ingat kepada Allah (berdzikir kepada Allah), dengan berdiri, begerak dan berbaring. Apabila kamu telah aman (tenang) maka dirikanlah shalat sebaik-baiknya. Sesungguhnya shalat itu diperlukan atas orang-orang mukmin pada waktunya (shalat itu diwajibkan atas semua orang mukmin)”. Dan didalam surat ALI-IMRAN ayat 190-191 : “Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang menjadi tanda atas kekuasaan Allah SWT bagi orang-orang yang berakal yaitu orang-orang yang mengingat Allah (berdzikir kepada Allah) ketika berdiri, duduk, dan saat berbaring. Dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi sambil berkata : Ya tuhan kami, bukankah engkau jadikan ini dengan percuma (sia-sia). Maha suci engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. Dalam dua ayat ini ada penjelasan dengan adanya gerakan-gerakan pada waktu berdzikir. Karena berdiri, duduk dan berbaring, itu merupakan gerakan seperti gerakannya mereka yang berdiri ketika mendengarkan cerita kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Dan tersebut dalam kitab MADARIJISSU’UD halaman 15 dan didalam kitab FASYNI halaman 91 syair mengatakan : Orang yang mulia, mereka bangun ketika mendengar asma Nabi disebut, sambil berdiri dan berbaris atau berdiri diatas lutut.
Dan IMAM TAQIYUDDIN ASSUBUKI, beliau pasti bangun ketika mendengar sebutan asma Nabi. IMAM SIBRO MALISI mengatakan : merupakan kebiasaan orang-orang dari golongan mukhibbin, mereka berdiri ketika mendengar sifat-sifat Nabi SAW karena mengagungkan beliau.
Dan tersebut dalam kitab ADZKAR pada halaman 6 : “Ketahuilah bahwa sebagaimana disunnatkan berdzikir, juga disunnatkan duduk-duduk dilingkungan dzikir, dan amat jelas dalil-dalil yang menunjukkan hal itu. Hadits Ibnu Umar r.a. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW : “Apabila kalian melewati taman-taman surga maka menggembalalah disana (mampirlah disana)”. Mereka bertanya : “Apakah taman surga itu ya Rasulullah ?”. Rasulullah SAW menjawab : “Taman surga adalah lingkungan dzikir dan apabila mereka menghadirinya, dengan duduk berlingkar”.
Telah berkata Al-Habib Muhammad Bin Ahmad Al-Mahdhor Surabaya :
“Andaikata mereka tidak berdiri untuk memuliakannya maka mereka akan mendapat kebodohan dan bahayanya”.
Manusia tidak murtad (kufur) dengan mengerjakan maksiyat, akan tetapi dia kufur sebab meninggalkan hormat (tidak hormat).
Dan dalam hadits qudsi, Allah berfirman : Bahwa aku mempunyai hamba, hamb yang mencintaiku dan aku mencintai mereka, dan mereka merindukanku, akupun rindu kepada mereka. Mereka menyebut-nyebut aku, dan akupun menyebut-nyebut mereka. Sebagian orang (Shiddiqiin) bertanya : Ya Allah bagaimana ciri-ciri mereka ?. ciri-ciri mereka diantaranya adalah berteriak-teriak dan menangis sambil memanggil-manggil serta mengaduka persoalan kepadaku, dan diantara mereka, ada yang ruku’, ada yang berdiri, ada yang sujud. Maka yang pertama aku berikan kepada mereka tiga hal :
Yang pertama : aku meletakkan nur-ku sendiri dalam hati mereka
Yang kedua : apabila langit dan bumi beserta isinya ditimbang dengan amal mereka , pasti aku katakan timbangan itu sedikit dibandingkan amal mereka.
Yang ketiga : aku hadapkan wajahku kepada mereka.
Tersebut dalam kitab FASYNI Halaman 91. (Faidatun) Imam Ibnu Juzi dari Ibnu Sufyan Bin Uyainah, beliau berkata : “Apabila disebut-sebut orang yang soleh, maka turunlah rokhmat terebut”. Dalam Kitab Khoirotul khisan halaman 19.

Soal  :  Bagaimanakah hukum berdzikir dengan suara keras setelah salam dari shalat?
Jawab :           Hukumnya sunnah karena Allah berfirman dalam al-Qur’an surat an-Nur ayat 36 ; “didalam masjid, Allah mengizinkan dzikir dikeraskan, disebut didalamnya akan asma-Nya, memaha sucikan kepada-Nya didalam masjid di waktu pagi dan sore”.
Dan tersebut dalam kitab FATAWY AL-KHALILY Halaman 262 sebagaimana berikut : Dzikir adalah seperti membaca Al-Qur’an dengan keterangan ayat dan beberapa riwayat, dan dzikir dengan suara keras itu lebih utama. Dan dalil yang menunjukkan keutamaannya dzikir dengan suara keras, bahwasanya beramal dengan suara keras itu lebih besar manfaatnya terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain, membangunkan hati pembaca, menyatukan himmah, mengumpulkan cita-cita dan pikiran, mengkhususkan pendengaran. Dan dengan suara keras, hilanglah rasa kantuk, bertambah giat, membangunkan yang oranglain dari tidur dan lupa, dan menggiatkannya, maka apabila dengan niat-niat ini, berdzikir dengan suara keras itu lebih utama.
Dan tertera dalam hadits qudsi yang tujuannya diperintahkan berdzikir dengan suara keras, sebagaimana hadits ini : Allah SWT berfirman : Dan apabila dia menyebut-nyebut aku di suatu tempat yang ramai, maka akupun menyebut-nyebutnya di tempat yang lebih ramai darinya (H.R. Bukhari, Muslim, Nasa’i, da Ibnu Majah). Dan menyebut di tempat ramai itu tidak ada kecuali dengan suara keras.
Dan tersebut dalam kitab RIMAHI HIZBIRROHIIM halaman 167 sebagaimana berikut : Dari Abdullah Bin Abbas r.a. : Bahwa berdzikir dengan suara keras ketika selesai dari shalat itu sudah ada sejak masa Rasulullah SAW.
Dan tersebut dalam kitab RIMAHIHIZBIRROHIIM Juz Awal halaman 167 : Dalam menyenangkan (membiasakan) saat berkumpul untuk berdzikir dan bersuara keras, dan menganjurkan atasnya. Dan memberitahu bahwa bersuara keras itu patut untuk dipegangnya karena keutamaannya dan menolak terhadap orang yang mengingkari berdzikir dengan berjamaah karena kebodohannya dengan kitab, hadits dan sepakatnya para ulama.
Dan tersebut dalam kitab RIMAHI HIZBIRRAHIIM, halaman 172. Dan jumhur mengambil dalil dengan hadits tersebut, atas disunnahkannya dzikir dengan suara keras pada waktru membaca dan berdo’a, kecuali dengan ucapannya orang yang syaz (sekehendak sendiri). Sebagian dari ulama salaf atas hadits ini, yakni disunnahkannya suara keras ketika bertakbir, berdzikir setelah shalat fardhu dan diantara yang menyamarkannya dari golongan muta’akhkhirin ialah Ibnu Khazmin.
Adapun firman Allah SWT yang artinya sebagai berikut : “Sebutlah Tuhan mu di hatimu dengan rendah diri dan menyamar”. Itu adalah ayat makiyyah seperti ayat Isra, yang maknanya : “Janganlah engkau mengerjakan shalat dengan terang-terangan”, ayat ini diturunkan agar tidak didengarkan oleh orang-orang musyrik, yang akhirnya mereka mencela al-Qur’an dan yang menurunkan al-Qur’an (Allah) maka diperintah dengan suara pelan untuk menghindari celaan, sebagaimana dilarang dari mencela berhala, yang buktinya sekarang tidak ada.
Soal : Apakah Dzikir dengan berjama’ah itu ada faedahnya ?
Jawab : Ya, ada, tersebut dalam kitab RIYADHUSSHOLIHIIN ; dan tertera dalam hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW beliau telah bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT mempunyai sekelompok malaikat yang ditugaskan untuk mencari lingkaran dzikir, maka apabila mereka menjumpai lingkaran dzikir, maka mereka duduk bersama orang-orang yang berdzikir, dan membuka sayap-sayap mereka, dan memenuhi majlis dzikir sampai ke langit, apabila mereka selesai berdzikir, maka para malaikat kembali ke langit, kemudian Allah bertanya kepada malaikat : Hai malaikat-malaikat ku, kalian dari mana ? Malaikat menjawab : Kami datang dari hamba-Mu di bumi, yang mereka mensucikan Tuhan, memuji, bertahlil, dan mereka memohon kepada Tuhan. Allah SWT bertanya : Apakah yang mereka pinta ? Malaikat berkata : Sorga-Mu, Allah SWT bertanya : Apakah mereka sudah mengetahui sorga-Ku ? Malaikat menjawab : belum mengetahui, Allah SWT bertanya : Bagaimanakah apabila mereka mengetahui sorga-Ku ? Jawab Malaikat : Dan mereka memohon selamat kepada-Mu, Allah SWT bertanya : Minta selamat kepada-Ku dari apa ? Malaikat menjawab : Dari Neraka-Mu, Allah SWT bertanya : Apakah mereka sudah mengetahui neraka-Ku ? Bertanyalah Malaikat : mereka mohon ampunan kepada-Mu, Allah SWT menjawab : Aku telah mengampuni mereka dan Aku akan mengabulkan permohonannya, dan Aku selamatkan mereka dari apa-apa yang mereka mohon (mohon selamat). Malaikat menjawab : Ya Tuhanku disitu ada si Fulan yang banyak dosanya, dan dia datang hanya untuk duduk bersama mereka, Allah SWT menjawab : Aku sudah mengampuninya, mereka adalah kaum yang tidak akan rugi bagi orang yang mengikutinya.
Soal  : Apakah sebabnya mengangkat kedua tangan ketika berdo’a ?
Jawab : Sebab langit itu tempat turunnya wahyu, tempat turunnya hujan, tempat suci, dan tempat malaikat, dan kelangitlah tempat diangkatnya amal ibadah dan diatas langitlah arasy dan surganya Allah SWT.

 Dalam Kitab IKHYA Juz awal alaman 275 Nabi SAW bersabda : “Apabila kamu memohon kepada Allah, mintalah dengan telapak tangan mu dan jangan dengan puggung tangan mu”. (HR.Abu Dawud dari Malik bin Yasir Al-Kufi dan Ibnu Majah da Thabrani dalam kitab KABIR, dan Imam Hakim dari Kitab Mustadroknya, dan Imam Hakim menambahkan : Dan usaplah mukamu dengan kedua telapak tangan mu.
Soal  : Apakah boleh berdo’a dengan mengangkat kedua telapak tangan sambil ditelungkupkan, sebagaimana diperbolehkannya berdo’a dengan menengadahkan telapak tangan ke langit ?
Jawab : Boleh, bahkan sunnah, tertera dalam kitab Fatkhul mubin, syarah arba’in halaman 139 bahwa Rasulullah SAW ketika beliau berdo’a kadang-kadang menjadikan kedua telapak tangan menelungkup, pendapat ahli hadits bahwa berdo’a dengan menengadahkan tangan ke langit yakni ketika beliau memohon sesuatu yang di inginkan dan berdo’a dengan menelungkupkan tangan ketika memohon dihilangkan musibah-musibah (bencana).
Soal  : Apakah yang dilakukan Imam setelah salam dari shalat ?
Jawab :           Disunnahkan menghadap kepada Makmum dan masing-masing duduk berdzikir kepada Allah SWT, setelah shalat shubuh sampai matahari terbit (IRSYADUL IBAD Halaman 20)
Soal  : Bagaimana hukumnya memakai Hadits Dho’if dalam keutamaan beramal ?
Jawab :           Boleh, dan disunnahkan memakai Hadits Dho’if dalam masalah fadha’il (keutamaan), Targhib dan Tarhib, asal bukan Hadits Maudhu’ (sangat dho’if) (ADZKAARUNNAWAWIY Halaman 7)
Soal  : Apakah makna Ali Adam dan Ali Jibril ?
Jawab :           Makna Ali terbagi atas 3 makna :
1.      makna Keluarga, yakni isteri, anak, dan keturunan
2.      makna Jiwa, seperti firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 33 :
إِنَّ  اللهَ  إِصْطَفى  ادَمَ  وَنُوْحًا وَّالَ  إِبْرَاهِيْمَ  وَالَ عِمْرَانَ  عَلَى الْعَالَمِيْنَ 
3.      makna teman (bala tentara) seperti firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 8 :

وَإِذ  ْ  نَجَّيْنَاكُمْ  مِنْ الِ  فِرْعَوْنَ  ... الخ 
Soal : Apakah duduk setelah shalat shubuh sampai matahari terbit itu ada fadhilahnya ?
Jawab            :           Ya, ada fadhilahnya, seperti diterangkan dalam kitab IRSYADUL IBAD halaman 20, Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa shalat shubuh dengan berjama’ah, kemudian duduk berdzikir sampai matahari terbit, kemudian shalat dua raka’at, maka baginya seperti pahala ibadah haji dan umroh yang sempurna (HR. TURMUDZI dan Imam TURMUDZI menghasankan haditsnya)
Soal : Apakah boleh Wanita keluar malam pergi ke masjid untuk shalat ?
Jawab            : Ya Boleh, sebagaimana Ibnu Umar berkata ; Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kamu cegah wanita untuk keluar untuk pergi ke masjid pada malam hari”

DIALOG IBLIS LAKNATULLOH DENGAN RASULULLOH SAW




Diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal r.a. dari Ibn Abbas r.a., ia berkata : ” Kami bersama Rasululah SAW berada di rumah seorang sahabat dari golongan Anshar dalam sebuah jamaah.
…
Tiba-tiba, ada yang memanggil dari luar : ” Wahai para penghuni rumah, apakah kalian mengizinkanku masuk, karena kalian membutuhkanku “.
Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat :” Apakah kalian tahu siapa yang menyeru itu ?”.
Para sahabat menjawab , ” Tentu Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Rasulullah berkata : ” Dia adalah Iblis yang terkutuk ? semoga Allah senantiasa melaknatnya”.
Umar bin Khattab r.a. berkata :” Ya, Rasulullah, apakah engkau mengijinkanku untuk membunuhnya?”.
Nabi SAW berkata pelan :” Bersabarlah wahai Umar, apakah engkau tidak tahu bahwa dia termasuk mereka yang tertunda kematiannya sampai waktu yang ditentukan [hari kiyamat]?. Sekarang silakan bukakan pintu untuknya, karena ia sedang diperintahkan Allah SWT. Fahamilah apa yang dia ucapkan dan dengarkan apa yang akan dia sampaikan kepada kalian! “.
Ibnu Abbas berkata : ” Maka dibukalah pintu, kemudian Iblis masuk ke tengah-tengah kami. Ternyata dia adalah seorang yang sudah tua bangka dan buta sebelah mata. Dagunya berjanggut sebanyak tujuh helai rambut yang panjangnya seperti rambut kuda, kedua kelopak matanya [masyquqatani] memanjang [terbelah ke-atas, tidak kesamping], kepalanya seperti kepala gajah yang sangat besar, gigi taringnya memanjang keluar seperti taring babi, kedua bibirnya seperti bibir macan / kerbau [tsur].
Dia berkata, ” Assalamu ‘alaika ya Muhammad, assalamu ‘alaikum ya jamaa’atal-muslimin [salam untuk kalian semua wahai golongan muslimin]”.
Nabi SAW menjawab :” Assamu lillah ya la’iin [Keselamatan hanya milik Allah SWT, wahai makhluq yang terlaknat. Aku telah mengetahui, engkau punya keperluan kepada kami. Apa keperluanmu wahai Iblis”.
Iblis berkata :” Wahai Muhammad, aku datang bukan karena keinginanku sendiri, tetapi aku datang karena terpaksa [diperintah].”
Nabi SAW berkata :” Apa yang membuatmu terpaksa harus datang kesini, wahai terlaknat?”.
Iblis berkata,” Aku didatangi oleh seorang malaikat utusan Tuhan Yang Maha Agung, ia berkata kepada-ku ‘Sesungguhnya Allah SWT menyuruhmu untuk datang kepada Muhammad SAW dalam keadaan hina dan bersahaja. Engkau harus memberitahu kepadanya bagaimana tipu muslihat, godaanmu dan rekayasamu terhadap Bani Adam, bagaimana engkau membujuk dan merayu mereka. Engkau harus menjawab dengan jujur apa saja yang ditanyakan kepa-damu’. Allah SWT bersabda,” Demi kemulia-an dan keagungan-Ku, jika engkau berbohong sekali saja dan tidak berkata benar, niscaya Aku jadikan kamu debu yang dihempas oleh angin dan Aku puaskan musuhmu karena bencana yang menimpamu”. Wahai Muhammad, sekarang aku datang kepadamu sebagaimana aku diperintah.
Tanyakanlah kepadaku apa yang kau inginkan. Jika aku tidak memuaskanmu tentang apa yang kamu tanyakan kepadaku, niscaya musuhku akan puas atas musibah yang terjadi padaku. Tiada beban yang lebih berat bagiku daripada leganya musuh-musuhku yang menimpa diriku”.
Rasulullah kemudian mulai bertanya :
” Jika kamu jujur, beritahukanlah kepada-ku, siapakah orang yang paling kamu benci ?”.
Iblis menjawab :” Engkau, wahai Muhammad, engkau adalah makhluq Allah yang paling aku benci, dan kemudian orang-orang yang mengikuti agamamu”.
Rasulullah SAW :” Siapa lagi yang kamu benci?”.
Iblis :” Anak muda yang taqwa, yang menyerahkan jiwanya kepada Allah SWT”.
Rasulullah :” Lalu siapa lagi ?”.
Iblis :” Orang Alim dan Wara [menjaga diri dari syubhat] yang saya tahu, lagi penyabar”.
Rasulullah :” Lalu, siapa lagi ?”.
Iblis :” Orang yang terus menerus menjaga diri dalam keadaan suci dari kotoran – [menjaga wudhu]”.
Rasulullah :” Lalu, siapa lagi ?”.
Iblis :” Orang miskin [fakir] yang sabar, yang tidak menceritakan kefakirannya kepada orang lain dan tidak mengadukan keluh-kesahnya “.
Rasulullah :” Bagaimana kamu tahu bahwa ia itu penyabar ?”.
Iblis :” Wahai Muhammad, jika ia mengadukan keluh kesahnya kepada makhluq sesamanya selama tiga hari, Tuhan tidak memasukkan dirinya ke dalam golongan orang-orang yang sabar “.
Rasulullah :” Lalu, siapa lagi ?”.
Iblis :” Orang kaya yang bersyukur “.
Rasulullah bertanya :” Bagaimana kamu tahu bahwa ia bersyukur ?”.
Iblis :” Jika aku melihatnya meng-ambil dari dan meletakkannya pada tempat yang halal”.
Rassulullah :”Bagaimana keadaanmu jika umatku mengerjakan shalat ?”.
Iblis :”Aku merasa panas dan gemetar”.
Rasulullah :”Kenapa, wahai terlaknat?”.
Iblis :” Sesungguhnya, jika seorang hamba bersujud kepada Allah sekali sujud saja, maka Allah mengangkat derajatnya satu tingkat”.
Rassulullah :”Jika mereka shaum ?”.
Iblis : ” Saya terbelenggu sampai mereka berbuka puasa”.
Rasulullah :” Jika mereka menunaikan haji ?”.
Iblis :” Saya menjadi gila”.
Rasulullah :”Jika mereka membaca Al Qur’an ?’.
Iblis :’ Aku meleleh seperti timah meleleh di atas api”.
Rasulullah :” Jika mereka berzakat ?”.
Iblis :” Seakan-akan orang yang berzakat itu mengambil gergaji / kapak dan memotongku menjadi dua”.
Rasulullah :” Mengapa begitu, wahai Abu Murrah ?”.
Iblis :” Sesungguhnya ada empat manfaat dalam zakat itu. Pertama, Tuhan menurunkan berkah atas hartanya. Kedua, menjadikan orang yang bezakat disenangi makhluq-Nya yang lain. Ketiga, menjadikan zakatnya sebagai penghalang antara dirinya dengan api neraka. Ke-empat, dengan zakat, Tuhan mencegah bencana dan malapetaka agar tidak menimpanya”.
Rasulullah :”Apa pendapatmu tentang Abu Bakar?”.
Iblis :” Wahai Muhammad, pada zaman jahiliyah, dia tidak taat kepadaku, bagaimana mungkin dia akan mentaatiku pada masa Islam”.
Rasulullah :” Apa pendapatmu tentang Umar ?”.
Iblis :” Demi Tuhan, tiada aku ketemu dengannya kecuali aku lari darinya”.
Rasulullah :”Apa pendapatmu tentang Utsman ?”.
Iblis :” Aku malu dengan orang yang para malaikat saja malu kepadanya”.
Rasulullah :”Apa pendapatmu tentang Ali bin Abi Thalib ?”.
Iblis :” Andai saja aku dapat selamat darinya dan tidak pernah bertemu dengannya [menukar darinya kepala dengan kepala], dan kemudian ia meninggalkanku dan aku meninggalkannya, tetapi dia sama sekali tidak pernah melakukan hal itu”.
Rasulullah :” Segala puji hanya bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu sampai hari kiamat”.
Iblis yang terlaknat berkata kepada Muhammad :” Hay-hata hay-hata [tidak mungkin- tidak mungkin]. Mana bisa umatmu bahagia sementara aku hidup dan tidak mati sampai hari kiamat. Bagaimana kamu senang dengan umatmu sementara aku masuk ke dalam diri mereka melalui aliran darah, daging, sedangkan mereka tidak melihatku. Demi Tuhan yang menciptakanku dan membuatku menunggu sampai hari mereka dibangkitkan. Akan aku sesatkan mereka semua, baik yang bodoh maupun yang pandai, yang buta-huruf dan yang melek-huruf. Yang kafir dan yang suka beribadah, kecuali hamba yang
mukhlis [ikhlas]”.
Rasulullah :”Siapa yang mukhlis itu menurutmu ?”.
Iblis dengan panjang-lebar menjawab :
” Apakah engkau tidak tahu, wahai Muhammad. Barangsiapa cinta dirham dan dinar, dia tidak termasuk orang ikhlas untuk Allah. Jika aku melihat orang tidak suka dirham dan dinar, tidak suka puji dan pujaan, aku tahu bahwa dia itu ikhlas karena Allah, maka aku tinggalkan ia. Sesungguhnya hamba yang mencintai harta, pujian dan hatinya tergantung pada nafsu [syahwat] dunia, dia lebih rakus dari orang yang saya jelaskan kepadamu. Tak tahukah engkau, bahwa cinta harta termasuk salah satu dosa besar.
Wahai Muhammad, tak tahukan engkau bahwa cinta kedudukan [riyasah] termasuk dosa besar. Dan bahwa sombong, juga termasuk dosa besar.
Wahai Muhammad, tidak tahukan engkau, bahwa aku punya 70,000 anak. Setiap anak dari mereka, punya 70,000 syaithan. Diantara mereka telah aku tugaskan untuk menggoda golongan ulama, dan sebagian lagi menggoda anak muda, sebagian lagi menggoda orang-orang tua, dan sebagian lagi menggoda orang-orang lemah. Adapun anak-anak muda, tidak ada perbedaan di antara kami dan mereka, sementara anak-anak kecilnya, mereka bermain apa saja yang mereka kehendaki bersamanya.
Sebagian lagi telah aku tugaskan untuk menggoda orang-orang yang rajin beribadah, sebagian lagi untuk kaum yang menjauhi dunia [zuhud]. Setan masuk ke dalam dan keluar dari diri mereka, dari suatu keadaan ke keadaan yang lain, dari satu pintu ke pintu yang lain, sampai mereka mempengaruhi manusia dengan satu sebab dari sebab-sebab yang banyak. Lalu syaithan mengambil keikhlasan dari mereka. Menjadikan mereka menyembah Allah tanpa rasa ikhlas, tetapi mereka tidak merasa.
Apakah engkau tidak tahu, tentang Barshisha, sang pendeta yang beribadah secara ikhlas selama tujuh puluh tahun, hingga setiap orang yang sakit menjadi sehat berkat da’wahnya. Aku tidak meninggalkannya sampai dia dia berzina, membunuh, dan kafir [ingkar]. Dialah yang disebut oleh Allah dalam Qur’an dengan firmannya [dalam Surah Al Hasyr] :
” (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syaitan ketika mereka berkata pada manusia:”Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata:”Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam”. (QS. 59:16).
Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa kebohongan itu berasal dariku. Akulah orang yang pertama kali berbohong. Barangsiapa berbohong, dia adalah temanku, dan barangsiapa berbohong kepada Allah, dia adalah kekasihku.
Apakah engkau tidak tahu, bahwa aku bersumpah kepada Adam dan Hawa, ” Demi Allah aku adalah penasihat kamu berdua”. Maka, sumpah palsu merupakan kesenangan hatiku, ghibah, membicarakan kejelekan orang lain, dan namimah, meng-adu domba adalah buah kesukaanku, melihat yang jelek-jelek adalah kesukaan dan kesenanganku.
Barangsiapa thalaq, bersumpah untuk cerai, dia mendekati perbuatan dosa, meskipun hanya sekali, dan meskipun ia benar. Barangsiapa membiasakan lisannya dengan ucapan cerai, istrinya menjadi haram baginya. Jika mereka masih memiliki keturunan sampai hari kiyamat, maka anak mereka semuanya adalah anak-anak hasil zina. Mereka masuk neraka hanya karena satu kata saja.
Wahai Muhammad, sesungguhnya diantara umatmu ada yang meng-akhirkan shalat barang satu dua jam. Setiap kali mau shalat, aku temani dia dan aku goda dia. Kemudian aku katakan kepadanya:” Masih ada waktu, sementara engkau sibuk”. Sehingga dia mengakhirkan shalatnya dan mengerjakannya tidak pada waktunya, maka Tuhan memukul wajahnya. Jika ia menang atasku, maka aku kirim satu syaithan yang membuatnya lupa waktu shalat. Jika ia menang atasku, aku tinggalkan dia sampai ketika mengerjakan shalat aku katakan kepadanya,’ Lihatlah kiri-kanan’, lalu ia menengok. Saat itu aku usap wajahnya dengan tanganku dan aku cium antara kedua matanya dan aku katakan kepadanya,’ Aku telah menyuruh apa yang tidak baik selamanya’. Dan engkau sendiri tahu wahai Muhammad, siapa yang sering menoleh dalam shalatnya, Allah akan memukul wajahnya.
Jika ia menang atasku dalam hal shalat, ketika shalat sendirian, aku perintahkan dia untuk tergesa-gesa. Maka ia ‘mencucuk’ shalat seperti ayam mematuk biji-bijian dengan tergesa-gesa. Jika ia menang atasku, maka ketika shalat berjamaah aku cambuk dia dengan ‘lijam’ [cambuk] lalu aku angkat kepalanya sebelum imam mengangkat kepalanya. Aku letakkan ia hingga mendahului imam. Kamu tahu bahwa siapa yang melakukan itu, batal-lah shalatnya dan Allah akan mengganti kepalanya dengan kepala keledai pada hari kiyamat nanti.
Jika ia masih menang atasku, aku perintahkan dia untuk mengacungkan jari-jarinya ketika shalat sehingga dia mensucikan aku ketika ia sholat. Jika ia masih menang, aku tiup hidungnya sampai dia menguap. Jika ia tidak menaruh tangan di mulutnya, syaithan masuk ke dalam perutnya dan dengan begitu ia bertambah rakus di dunia dan cinta dunia. Dia menjadi pendengar kami yang setia.
Bagaimana umatmu bahagia sementara aku menyuruh orang miskin untuk meninggalkan shalat. Aku katakan kepadanya,’ Shalat tidak wajib atasmu. Shalat hanya diwajibkan atas orang-orang yang mendapatkan ni’mat dari Allah’. Aku katakan kepada orang yang sakit :” Tinggalkanlah shalat, sebab ia tidak wajib atasmu. Shalat hanya wajib atas orang yang sehat, karena Allah berkata :” Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, ???
Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya. (QS. 24:61) Tidak ada dosa bagi orang yang sakit. Jika kamu sembuh, kamu harus shalat yang diwajibkan”. Sampai dia mati dalam keadaan kafir. Jika dia mati dan meninggalkan shalat ketika sakit, dia bertemu Tuhan dan Tuhan marah kepadanya.
Wahai Muhammad, jika aku bohong dan ngawur, maka mintalah kepada Tuhan untuk membuatku jadi pasir. Wahai Muhammad, bagaimana engkau bahagia melihat umatmu, sementara aku mengeluarkan seper-enam umatmu dari Islam.
Nabi berkata :” Wahai terlaknat, siapa teman dudukmu ?”.
Iblis :” Pemakan riba”.
Nabi :” Siapa teman kepercayaanmu [shadiq] ?”.
Iblis :” Pe-zina”.
Nabi :” Siapa teman tidurmu ?”.
Iblis :” Orang yang mabuk”.
Nabi :” Siapa tamumu ?”.
Iblis :” Pencuri”.
Nabi:” Siapa utusanmu ?”.
Iblis :”Tukang Sihir”.
Nabi :” Apa kesukaanmu ?”.
Iblis :” Orang yang bersumpah cerai”.
Nabi :”Siapa kekasihmu ?”.
Iblis :”Orang yang meninggalkan shalat Jum’at”.
Nabi :”Wahai terlaknat, siapa yang memotong punggungmu ?”.
Iblis :”Ringkikan kuda untuk berperang di jalan Allah”.
Nabi :” Apa yang melelehkan badanmu ?”.
Iblis:”Tobatnya orang yang bertaubat”.
Nabi:”Apa yang menggosongkan [membuat panas] hatimu ?”.
Iblis:” Istighfar yang banyak kepada Allah siang-malam.
Nabi:” Apa yang memuramkan wajahmu (membuat merasa malu dan hina)?”.
Iblis:”: Zakat secara sembunyi-sembunyi”.
Nabi:” Apa yang membutakan matamu ?”.
Iblis :” Shalat diwaktu sahur [menjelang shubuh]”.
Nabi:” Apa yang memukul kepalamu ?”.
Iblis:” Memperbanyak shalat berjamaah”.
Nabi:” Siapa yang paling bisa membahagiakanmu ?”.
Iblis :” Orang yang sengaja meninggalkan shalat”.
Nabi:” siapa manusia yang paling sengsara [celaka] menurutmu?”.
Iblis:”Orang kikir / pelit”.
Nabi:” Siapa yang paling menyita pekerjaanmu [menyibukkanmu] ?”.
Iblis:” Majlis-majlis ulama”.
Nabi:” Bagaimana kamu makan ?”.
Iblis:”Dengan tangan kiriku dan dengan jari-jariku”.
Nabi:”Dimana kamu lindungkan anak-anakmu ketika panas ?”.
Iblis:” Dibalik kuku-kuku manusia”.
Nabi:” Berapa keperluanmu yang kau mintakan kepada Allah ?”.
Iblis:” Sepuluh perkara”.
Nabi:” Apa itu wahai terlaknat ?”.
Iblis :” (1)Aku minta kepada-Nya untuk agar saya dapat berserikat dalam diri Bani Adam, dalam harta dan anak-anak mereka. Dia mengijinkanku berserikat dalam kelompok mereka.
Itulah maksud firman Allah : Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. (QS. 17:64)
(2)Setiap harta yang tidak dikeluarkan zakatnya maka saya ikut memakannya. Saya juga ikut makan makanan yang bercampur riba dan haram serta segala harta yang tidak dimohonkan perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.
(3)Setiap orang yang tidak memohon perlindungan kepada Allah dari syaithan ketika bersetubuih dengan istrinya maka syaithan akan ikut bersetubuh. Akhirnya melahirkan anak yang mendengar dan taat kepadaku. Begitu pula orang yang naik kendaraan dengan maksud mencari penghasilan yang tidak dihalalkan, maka saya adalah temannya. Itulah maksud firman Allah :” ??. , dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki ?? (QS. 17:64) .
(4)Saya memohon kepada-Nya agar saya punya rumah, maka rumahku adalah kamar-mandi.
(5)Saya memohon agar saya punya masjid, akhirnya pasar menjadi masjidku.
(6)Aku memohon agar saya punya al-Qur’an, maka syair adalah al-Qur’anku.
(7)Saya memohon agar punya adzan, maka terompet adalah panggilan adzanku.
(8)Saya memohon agar saya punya tempat tidur, maka orang-orang mabuk adalah tempat tidurku.
(9)Saya memohon agar saya punya teman-teman yang menolongku, maka maka kelompok al-Qadariyyah menjadi teman-teman yang membantuku.
(10)Dan saya memohon agar saya memiliki teman-teman dekat, maka orang-orang yang menginfaq-kan harta kekayaannya untuk kemaksiyatan adalah teman dekat-ku. Ia kemudian membaca ayat : Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya. (QS. 17:27)
Rasulullah berkata :” Andaikata tidak setiap apa yang engkau ucapkan didukung oleh ayat-ayat dari Kitabullah tentu aku tidak akan membenarkanmu”.
Lalu Iblis meneruskan :” Wahai Muhammad, saya memohon kepada Allah agar saya bisa melihat anak-cucu Adam sementara mereka tidak dapat melihatku. Kemudian Allah menjadikan aku dapat mengalir melalui peredaran darah mereka. Diriku dapat berjalan kemanapun sesuai dengan kemauanku dan dengan cara bagaimanapun. Kalau saya mau, dalam sesaatpun bisa. Kemudian Allah berfirman kepadaku :” Engkau dapat melakukan apa saja yang kau minta”. Akhirnya saya merasa senang dan bangga sampai hari kiamat. Sesungguhnya orang yang mengikutiku lebih banyak daripada yang mengikutimu. Sebagian besar anak-cucu Adam akan mengikutiku sampai hari kiamat.
Saya memiliki anak yang saya beri nama:
(1)Atamah. Ia akan kencing di telinga seorang hamba ketika ia tidur meninggalkan shalat Isya. Andaikata tidak karenanya tentu ia tidak akan tidur lebih dahulu sebelum menjalankan shalat. Saya juga punya anak yang saya beri nama (2)Mutaqadhi. Apabila ada seorang hamba melakukan ketaatan ibadah dengan rahasia dan ingin menutupinya, maka anak saya tersebut senantiasa membatalkannya dan dipamer-kan ditengah-tengah manusia sehingga semua manusia tahu. Akhirnya Allah membatalkan sembilan puluh sembilan dari seratus pahala-Nya sehingga yang tersisa hanya satu pahala, sebab, setiap ketaatan yang dilakukan secara rahasia akan diberi seratus pahala. Saya punya anak lagi yang bernama (3)Kuhyal. Ia bertugas mengusapi celak mata semua orang yang sedang ada di majlis pengajian dan ketika khatib sedang memberikan khutbah, sehingga, mereka terkantuk dan akhirnya tidur, tidak dapat mendengarkan apa yang dibicarakan para ulama. Bagi mereka yang tertidur tidak akan ditulis pahala sedikitpun untuk selamanya. (4) Setiap kali ada perempuan keluar pasti ada syaithan (kedua anaku) yang duduk di pinggulnya, ada pula yang duduk di daging yang mengelilingi kukunya. Dimana mereka akan menghiasi kepada orang-orang yang melihatnya. Kedua syaithan itu kemudian berkata kepadanya,’ keluarkan tanganmu’. Akhirnya ia mengeluarkan tangannya, kemudian kukunya tampak, lalu kelihatan nodanya.
Wahai Muhammad, sebenarnya saya tidak dapat menyesatkan sedikitpun, akan tetapi saya hanya akan mengganggu dan menghiasi. Andaikata saya memiliki hak dan kemampuan untuk menyesatkan, tentu saya tidak akan membiarkan segelintir manusia-pun di muka bumi ini yang masih sempat mengucapkan ” Tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan-Nya”, dan tidak akan ada lagi orang yang shalat dan berpuasa.
Sebagaimana engkau wahai Muhammad, tidak berhak memberikan hidayat sedikitpun kepada siapa saja, akan tetapi engkau adalah seorang utusan dan penyampai amanah dari Tuhan. Andaikata engkau memiliki hak dan kemampuan untuk memberi hidayah, tentu engkau tidak akan membiarkan segelintir orang-pun kafir di muka bumi ini. Engkau hanyalah sebagai hujjah [argumentasi] Tuhan terhadap makhluq-Nya.
Sementara saya adalah hanyalah menjadi sebab celakanya orang yang sebelumnya sudah dicap oleh Allah menjadi orang celaka. Orang yang bahagia dan beruntung adalah orang yang dijadikan bahagia oleh Allah sejak dalam perut ibunya, sedangkan orang yang celaka adalah orang yang dijadikan celaka oleh Allah sejak dalam perut ibunya.
Kemudian Rasulullah SAW membacakan firman dalam QS Hud : Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, (QS. 11:118) kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Rabbmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan; sesungguh-nya Aku akan memenuhi neraka jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. (QS. 11:119) dilanjutkan dengan : Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku, (QS. 33:38)”.
Kemudian Rasulullah berkata lagi kepada Iblis : ” Wahai Abu Murrah [Iblis], apakah engkau masih mungkin bertaubat dan kembali kepada Allah, sementara saya akan menjamin-mu masuk surga”.
Ia Iblis menjawab :” Wahai Rasulullah, ketentuan telah memutuskan dan Qalam-pun telah kering dengan apa yang terjadi seperti ini hingga hari kiamat nanti. Maka Maha Suci Tuhan, yang telah menjadikanmu sebagai tuan para Nabi dan Khatib para penduduk surga. Dia, telah memilih dan meng-khususkan dirimu. Sementara Dia telah menjadikan saya sebagai tuan orang-orang yang celaka dan khatib para penduduk neraka. Saya adalah makhluq celaka lagi terusir. Ini adalah akhir dari apa yang saya beritahukan kepadamu dan saya mengatakan yang sejujurnya”.
Segala puji hanya milik Allah SWT , Tuhan Semesta Alam, awal dan akhir, dzahir dan bathin. Semoga shalawat dan salam sejahtera tetap selalu diberikan kepada seorang Nabi yang Ummi dan kepada para keluarga dan sahabatnya serta para Utusan dan Para Nabi.
Hikmah dari Kisah tersebut di atas
Sebagai upaya mencari hikmah dalah kisah di atas, rangkuman ini barangkali berguna untuk direnungkan :
– Kita perlu semakin menancapkan keyakinan, bahwa syaithan tidak punya kuasa sedikitpun bagi orang-orang yang disucikan-Nya.
– Jadi upaya kita adalah memohon kepada Allah Ta’Ala agar Dia ridho dan berkenan membersihkan segala dosa baik sengaja maupun tidak untuk mendapatkan ampunan-Nya.
– Bila kita simak, perbedaan mendasar keyakinan Iblis adalah tidak ada keinginannya untuk bertaubat, walau Rasulullah SAW telah menghimbaunya bahkan dengan menawarkan jaminan untuk mendapatkan ampunan. Dengan tegas Allah berfirman : Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar. (QS. 20:82).
– Bila kita cermati hadangan dan rintangan yang akan dilakukan oleh Iblis dari kisah tersebut membuat kesadaran bahwa upaya untuk menjalani kehidupan sungguh tidak mudah.
– Hanya karena Maha Rahman dan Maha Rakhiim-Nya sajalah kita akan selamat dalam menjalani kehidupan ini hingga akan selamat dari jebakan-jebakan syaithan.
Namun perlu juga di-ingat, Rasulullah juga pernah mengata-kan bahwa Jihad Terbesar adalah Mengalahkan Hawa Nafsu Kita Sendiri.
– Dari berbagai referensi yang ada, cara yang yang jitu untuk berusaha menghindar dari godaan syetan yang terkutuk dalam bentuk apapun, hanya dengan meminta pertolongan kepada Alloh, paling tidak rajin-rajinlah mengucapkan Ta’awudz dan istighfar, jika diperlukan ditambah dengan sural al-Falaq, surat An-nas, ayat kursi (ada riwayatnya dari pengalaman abu haraira), dan surat albaqoroh. Karena dengan alasan, yang menguasai syetan dan iblis hanyalah Alloh, maka rajin-rajinlah meminta perlindungan kepada Alloh dalam segala Hal termasuk dalam beribadah, agar terhindar dari segala bentuk jebakan syetan.
– Bacalah “Robbi A’uudzubika min hamazatisy syayaatiini wa a’udzubika robbi iy yakhdhuruun (ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mudari bisikan-bisikan syetan. Dan aku berlindung kepada-Mu, ya Tuhanku, agar merek tidak mendekatiku (QS. Al-Mu’minun 97-98]
– Au dzu billahi minasyaithoni rrojiim…..
– Wallahu bisho wab
Wassalamu ‘alaykum warohmatullahi Wa barokaatuh

77 CABANG IMAN



Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda,

“Iman itu memiliki tujuh puluh cabang (riwayat lain tujuh puluh tujuh cabang) dan yang paling utama ialah Laa ilaaha illa Allah, dan yang terendah ialah mebuang duri dari jalan. Dan malu juga merupakan salah satu cabang iman.” (Ashhabus Sittah).

Banyak ahli hadits yang menulis risalah mengenai cabang iman di antaranya ialah : Abu Abdillah Halimi rah a dalam Fawaidul Minhaj, Imam Baihaqi rah a dalam Syu’bul Iman, Syaikh Abdul Jalil rah a dalam Syu’bul Iman, Ishaq bin Qurthubi rah a dalam An Nashaih, dan Imam Abu Hatim rah a dalam Washful Iman wa Syu’buhu.
Para pensyarah kitab Bukhari rah a menjelaskan serta mengumpulkan ringkasan masalah ini dalam kitab-kitab tersebut. Walhasil pada hakikatnya iman yang sempurna itu mempunyai 3 (tiga) bagian :
1.    Tashdiq bil Qalbi, yaitu meyakini dengan hati,
2.    Iqrar bil Lisan, mengucapkan dengan lisan, dan
3.    Amal bil Arkan, mengamalkan dengan anggota badan.
Cabang iman terbagi lagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu yang berhubungan dengan :

1)      Niat, aqidah, dan amalan hati;
2)      Lidah; dan
3)      Seluruh anggota tubuh.

1.    Yang Berhubungan dengan Niat, Aqidah, dan Hati
1)      Beriman kepada Allah, kepada Dzat-Nya, dan segala sifat-Nya, meyakini bahwa Allah adalah Maha Suci, Esa, dan tiada bandingan serta perumpamaannya.
2)      Selain Allah semuanya adalah ciptaan-Nya. Dialah yang Esa.
3)      Beriman kepada para malaikat.
4)      Beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada para Rasul-Nya.
5)      Beriman kepada para Rasul.
6)      Beriman kepada takdir yang baik maupun buruk, bahwa semua itu dating dari Allah.
7)      Beriman kepada hari Kiamat, termasuk siksa dan pertanyaan di dalam kubur, kehidupan setelah mati, hisab, penimbangan amal, dan menyeberangi shirat.
8)      Meyakini akan adanya Syurga dan Insya Allah semua mukmin akan memasukinya.
9)      Meyakini neraka dan siksanya yang sangat pedih untuk selamanya.
10)  Mencintai ALLAH
11)  Mencintai karena Allah dan membenci karena Allah termasuk mencintai para sahabat, khususnya Muhajirin dan Anshar, juga keluarga Nabi Muhammad saw dan keturunannya.
12)  Mencintai Rasulullah saw, termasuk siapa saja yang memuliakan beliau, bershalawat atasnya, dan mengikuti sunnahnya.
13)  Ikhlash, tidak riya dalam beramal dan menjauhi nifaq.
14)  Bertaubat, menyesali dosa-dosanya dalam hati disertai janji tidak akan mengulanginya lagi.
15)  Takut kepada Allah.
16)  Selalu mengharap Rahmat Allah.
17)  Tidak berputus asa dari Rahmat Allah.
18)  Syukur.
19)  Menunaikan amanah.
20)  Sabar.
21)  Tawadhu dan menghormati yang lebih tua.
22)  Kasih saying, termasuk mencintai anak-anak kecil.
23)  Menerima dan ridha dengan apa yang telah ditakdirkan.
24)  Tawakkal.
25)  Meninggalkan sifat takabbur dan membanggakan diri, termasuk menundukkan hawa nafsu.
26)  Tidak dengki dan iri hati.
27)  Rasa malu.
28)  Tidak menjadi pemarah.
29)  Tidak menipu, termasuk tidak berburuk sangka dan tidak merencanakan keburukan atau maker kepada siapapun.
30)  Mengeluarkan segala cinta dunia dari hati, termasuk cinta harta dan pangkat.

2. Yang Berhubungan dengan Lidah

31)  Membaca kalimat Thayyibah.
32)  Membaca Al Quran yang suci.
33)  Menuntut ilmu.
34)  Mengajarkan ilmu.
35)  Berdoa.
36)  Dzikrullah, termasuk istighfar.
37)  Menghindari bicara sia-sia.

3. Yang berhubungan dengan Anggota Tubuh

38)  Bersuci. Termasuk kesucian badan, pakaian, dan tempat tinggal.
39)  Menjaga shalat. Termasuk shalat fardhu, sunnah, dan qadha’.
40)  Bersedekah. Termasuk zakat fitrah, zakat harta, member makan, memuliakan tamu, serta membebaskan hamba sahaya.
41)  Berpuasa, wajib maupun sunnah.
42)  Haji, fardhu maupun sunnah.
43)  Beriktikaf, termasuk mencari lailatul qadar di dalamnya.
44)  Menjaga agama dan meninggalkan rumah untuk berhijrah sementara waktu.
45)  Menyempurnakan nazar.
46)  Menyempurnakan sumpah.
47)  Menyempurnakan kifarah.
48)  Menutup aurat ketika shalat dan di luar shalat.
49)  Berkorban hewan, termasuk memperhatikan hewan korban yang akan disembelih dan menjaganya dengan baik.
50)  Mengurus jenazah.
51)  Menunaikan utang.
52)  Meluruskan mu’amalah dan meninggalkan riba.
53)  Bersaksi benar dan jujur, tidak menutupi kebenaran.
54)  Menikah untuk menghindari perbuatan keji dan haram.
55)  Menunaikan hak keluarga dan sanak kerabat, serta menunaikan hak hamba sahaya.
56)  Berbakti dan menunaikan hak orang tua.
57)  Mendidikan anak-anak dengan tarbiyah yang baik.
58)  Menjaga silaturrahmi.
59)  Taat kepada orang tua atau yang dituakan dalam agama.
60)  Menegakkan pemerintahan yang adil
61)  Mendukung jemaah yang bergerak di dalam kebenaran.
62)  Mentaati hakim (pemerintah) dengan syarat tidak melanggar syariat.
63)  Memperbaiki mu’amalah dengan sesama.
64)  Membantu orang lain dalam kebaikan.
65)  Amar makruh Nahi Mungkar.
66)  Menegakkan hukum Islam.
67)  Berjihad, termasuk menjaga perbatasan.
68)  Menunaikan amanah, termasuk mengeluarkan 1/5 harta rampasan perang.
69)  Memberi dan membayar utang.
70)  Memberikan hak tetangga dan memuliakannya.
71)  Mencari harta dengan cara yang halal.
72)  Menyumbangkan harta pada tempatnya, termasuk menghindari sifat boros dan kikir.
73)  Memberi dan menjawab salam.
74)  Mendoakan orang yang bersin.
75)  Menghindari perbuatan yang merugikan dan menyusahkan orang lain.
76)  Menghindari permainan dan senda gurau.
77)  Menjauhkan benda-benda yang mengganggu di jalan.

3 KUMPULAN MANUSIA DALAM BERTAUHID


Ibnu Athaillah As Sakandary

Manusia terbagi menjadi tiga kelompok dalam bertauhid dan berdzikir :
Kelompok pertama, adalah kalangan umum, yaitu kalangan pemula. Maka tauhidnya adalah bersifat lisan (oratif) belaka, baik dalam ungkapan, wacana, akidahnya,
dan keikhlasan, melalui Cahaya Syahadat Tauhid, " Laa Ilaaha Illallah Muhamadur Rasululullah"
Ini diklasifikasikan tahap Islam. Kelompok kedua, kalangan Khusus Menengah, yaitu Tauhid Qalbu, baik dalam apresiasi, kinerja qalbu maupun akidah, serta keikhlasannya. Inilah disebut tahap Iman. Khususul Khusus, yaitu Tauhidnya akal, baik melalui pandangan nyata, yaqin dan penyaksian (musyahadah) kepadaNya. Inilah Tahap Ihsan.Maqomat Dzikir
Dzikir mempunyai tiga tahap (maqomat) :

   1. Dzikir melalui Lisan : Yaitu dzikir bagi umumnya makhluk.
   2. Dzikir melalui Qalbu : Yaitu dzikir bagi kalangan khusus dari orang beriman.
   3. Dzikir melalui Ruh: Yaitu dzikir bagai kalangan lebih khusus, yakni dzikirnya kaum 'arifin melalui fana'nya  atas dzikirnya sendiri dan lebih menyaksikan pada Yang Maha Didzikiri serta anugerahnya apada mereka.

Perilaku Dzikir "Allah"
Bagi pendzikir Ismul Mufrad "Allah" ada tiga kondisi ruhani:
Pertama: Kondisi remuk redam dan fana'.
Kedua: Kondisi hidup dan baqo'.
Ketiga: Kondisi nikmat dan ridlo.

Keadaan pertama: Remuk redam dan fana'iaitu dzikir orang yang membatasi pada dzikir "Allah" saja, bukan Asma-asma lain, yang secara khusus dilakukan pada awal mula penempuhan. Ismul Mufrod tersebut dijadikan sebagai munajatnya, lalu mengokohkan manifestasi "Haa' di dalamnya ketika berdzikir.

Siapa yang mendawamkan (melanggengkannya) maka nuansa lahiriyahnya terfana'kan dan batinnya terhanguskan. Secara lahiriyah ia seperti orang gila, akalnya terhanguskan dan remuk redam, tak satu pun diterima oleh orang. Manusia menghindarinya bahkan ia pun menghindar dari manusia, demi kokohnya remuk redam dirinya sebagai pakaian lahiriahnya. Rahasia Asma "Allah" inilah yang hanya disebut. Bila menyebutkan sifat Uluhiyah, maka tak satu pun manusia mampu menyifatinya. Ia tidak menetapi suatu tempat, yang bisa berhubungan dengan jiwa seseorang, walau di tengah khalayak publik, sebagaimana firman Allah swt :
"Tidak ada lagi pertalian nasab diantara mereka di hari itu dan tidak ada pula saling bertanya." (Al-Mu'minun: 101)

Sedangkan kondisi batinnya seperti mayat yang fana, karena dzat dan sifatnya diam belaka. Diam pula dari segala kecondongan dirinya maupun kebiasaan sehari-harinya, disamping anggota tubuhnya lunglai, hatinya yang tunduk dan khusyu'.

Sebagaimana firmanNya :
"Sesungguhnya Kami akan  menurunkan kepadamu perkataan yang berat." (Al-Muzammil: 5)
"Dan kamu lihat bumi ini kering, dan apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah, dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumjbuhan yang indah." (Al-Hajj : 5)

Kondisi kedua: Dari kondisi hidup dan abadi (baqo'), yaitu manakala orang yang berdzikir dengan Ismul Mufrod "Allah" tadi mencapai hakikatnya, kokoh dan melunakkan dirinya, maka simbol-simbilnya dan sifat-sifatnya terhanguskan.
Allah meniupkan Ruh Ridlo setelah "kematian ikhtiar dan hasrat kehendaknya". Ia telah fana' dari hasrat kebiasaan diri dan syahwatnya, dan telah keluar dari sifat-sifat tercelanya, lalu berpindah (transformasi) dari kondisi remuk redam nan fana' menuju kondisi hidup dan baqo'. Kondisi tersebut menimbulkan nuansa kharismatik dan kehebatan dalam semesta, dimana segalanya takut, mengagungkan dan metrasa hina dihadapan hamba itu bahkan semesta meraih berkah kehadirannya.

Kondisi ketiga: Kondisi Nikmat dan Ridlo, maka bagi orang yang mendzikirkan "Allah" pada kondisi ini senantiasa mengagungkan apa pun perintah Allah swt, jiwanya dipenuhi rasa kasih sayang terhadap sesame makhluk Allah Ta'ala, tidak lagi sembunyi-sembunyi dalam mengajak manusia menuju agama Allah swt. Dari jiwanya terhampar luas bersama Allah swt,  hanya bagi Allah swt.

Rahmat Allah swt meliputi keleluasaannya, dan tak satu pun makhluk mempengaruhinya, bahkan atak ada sesuatu yang tersisa kecuali melalui jalan izin Allah swt. Ia telah berpindah dari kondisi ruhani hidup dan baqo', menuju kondisi nikmat dan ridlo, hidup dengan kehidupan yang penuh limpahan nikmat selamanya, mulia, segar dan penuh ridloNya. Tak sedikit pun ada kekeruhan maupun perubahan. Selamat, lurus dan mandiri dalam kondisi ruhaninya, aman dan tenteram.
Sebegitu kokohnya, ia bagaikan hujan deras yang menyirami kegersangan makhluk, dimana pun ia berada, maka tumbuhlah dan suburlah jiwa-jiwa makhluk karenanya. Hingga ia raih kenikmatan dan ridlo bersama Allah Ta'ala, dan Allah pun meridloinya. Allah swt berfirman :
"Kemudian Kami bangkitkan dalam kehidupan makhluk (berbentuk) lain, maka  Maha Berkah Allah sebagai Sebagus-bagus Pencipta" (Al-Mu'minun: 14)

Suatu hari seorang Sufi sedang berada di tengah majlisnya Asy-Syibly, tiba-tiba berteriak, "Allah!"
Asy-Syibly menimpali, "Apa-apaan ini! Kalau kamu memang jujur, maka kamu masyhur (di langit), jika kamu dusta, kamu benar-benar hancur!".

Seorang lelaki juga berteriak di hadapan Abul Qasim al-Junayd ra, dan Al-Junayd berkomentar, "Saudaraku Bila yang anda sebut itu menyaksikanmu dan anda pun hadir bersamaNya, berarti engkau telah mengoyak tirai dan kehormatan, dan mendapatkan kecemburuan aroma pecinta yang diberikan. Namun jika anda mengingatNya, sedangkan anda ghaib dariNya, maka menyebut yang ghaib (tidak hadir) berarti menggunjing. Padahal menggunjing itu haram."
Dikisahkan dari Abul Hasan ats-Tasury ra,  ketika beliau berada di rumahnya selama tujuh hari tidak makan dan tidak minum serta tidak tidur, ia tetap terus menerus menyebut Allah…Allah…

Kisah ini disampaikan kepada Al-Junayd atas tingkah lakunya itu.
"Apakah dia menjaga kewajiban waktunya?" Tanya al-Junayd.
"Dia tetap sholat tetap pada waktunya."
"Alhamdulillah, Allah yang menjagaNya, dan tidak memberikan jalan kepada syetan padanya." Kata al-Junayd.
Kemudian al-Junayd berkata kepada para santri-santrinya, "Ayo kalian semua berdiri dan mendatanginya, mungkin kita bias memberi manfaat padanya atau sebaliknya kita mengambil faedah darinya."

Ketika al-Junayd masuk di hadapannya, al-Junayd berkata, "Wahai Abul Hasan, apakah ucapanmu Allah..Allah..itu bersama Allah (Billah) atau bersama dirimu sendiri? Bila engkau mengucapkan bersama Allah, maka bukan andalah yang mengucapkannya. Karena Dialah yang berkalam melalui lisan hambaNya. Sang Pendzikir adalah diriNya bersama DiriNya. Namun bila yang menyebut tadi adalah dirimu bersama dirimu, sedangkan anda juga bersama dirimu sendiri, maka apalah artinya remuk redam."
"Engkaulah sebaik-baik sang pendidik wahai Ustadz," kata Ats-Tsaury. Dan rasa gelisah remuk redamnya tiba-tiba hilang.

Dan aku remuk redam bersamamu karena mengenangmu
Dan benar atas kebaikan yang melimpah dengan kenangnanmu
Dan fana bersasmamu penuh keasyikan.
Siapa yang tak pernah merindu pada cinta
Asmara yang mengalahkan akalnya
Demi umurku sungguh ia celaka.
Tak ada dzikir melainkan tenggelam sirna dengan dzikirnya dari merasa berdzikir
Hanya kepada Yang Diingatlah yang terkenang
Dalam fana dan pertemuan
Siapa yang masih ada akalnya, ia tak akan pernah berdzikir
Siapa yang hilang dari dzikir, maka benarlah ia telah membubung kepadaNya

Dzikir itu sendiri merupakan pembersihan dari kealpaan dan kelupaan, melalui pelanggengan hadirnya qalbu dan keikhlasan dzikir lisan, disertai memandangNya, dariNya. Sang Tuanlah yang mengalurkan ucapan dzikir melalui lisan hambaNya.
Dikatakan, Dzikir adalah keluar dari medan kealpaan menuju padang musyahadah (penyaksian kepadaNya).

Hakikat dzikir adalah mengkonsentrasikan Yang didzikir, dengan sirrnya si pendzikir dari dzikirnya, dan fananya si pendzikir dalam musayahadah dan kehadiran jiwa, sehingga ia tidak terhilangkan dirinya melalui musyahadah kepadaNya di dalam musyahadahnya. Maka si pendzikir menyaksikan Allah bersama Allah, sehingga Allahlah Yang Berdzikir dan Yang Didzikir.

Maka dari segi kemudahan dariNya untuk si hamba, dan keleluasaan untuk berdzikir melalui lisannya, maka Dialah Yang Berdzikir kepadahambaNya, lalu segala yang disebutnya adalah dariNya.
Dari segi intuisi awal yang dating dariNya, maka Dialah Yang Berdzikir pada DiriNya melalui lisan hambaNya. Sebagaimana riwayat hadits shahih disebutkan, bahwa Allah Ta'ala berfirman: "Akulah pendengaran yang dengannya ia mendengar, dan Akulah penghlihatan yang dengannya ia melihat, dan Akulah lisannya yang dengannya ia bicara."
Dalam riwayat lain juga disebutkan, "Maka Akulah pendengaran, penglihatan, lisan, tangan dan penguat baginya."