Total Tayangan Halaman
Rabu, 26 Agustus 2020
Keutamaan Ziarah Rasulullah Saw
Setiap Muslim, khususnya para jamaah haji, sangat dianjurkan untuk berziarah ke pusara dan kota suci, kebanggaan seluruh jagat, penghulu para rasul Allah, Muhammad bin Abdullah saw dan keluarganya. Meninggalkan ziarah kepada beliau bisa diartikan sebagai pelecehan kebenaran yang beliau bawa.
Syekh Syahid berkata, “Jika umat meninggalkan ziarah kepada beliau saw berarti melecehkan tanah Haram.”
Syekh Shaduq meriwayatkan bahwa Imam Ja‘far Shadiq as berkata, “Setiap orang dari kalian yang datang untuk menunaikan ibadah haji, harus mengakhiri hajinya dengan menziarahi kami, karena ziarah ini adalah penyempurna haji.”
Diriwayatkan bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as berkata, “Sempurnakanlah haji kalian dengan berziarah kepada Rasulullah Muhammad saw. Jika ada yang sengaja meninggalkan ziarah ini ketika melaksanakan ibadah haji berarti melecehkan dan menentang budaya yang telah diperintahkan kepada kalian semua, pergilah menziarahi kuburan mereka as, karena Allah yang mengharuskan kepadamu untuk menziarahi mereka. Mintalah rezeki kepada Allah di dekat kuburan mereka as.”
Abu Shalat Harawi meriwayatkan bahwa ketika ia bertemu dengan Imam Ali Ridha as bertanya tentang hadis yang menjelaskan bahwa kelak di surga kaum Mukmin akan menziarahi Tuhan mereka.
Kemudian Imam Ali Ridha as menjelaskan kepadanya, “Wahai Abu Shalat! Allah memberikan keutamaan kepada Nabi Muhammad saw melebihi seluruh makhluk, melebihi para nabi dan malaikat. Allah menganggap orang yang taat dan berbaiat kepada beliau sebagai orang yang menaati dan berbaiat kepada-Nya, menziarahi beliau saw berarti menziarahi-Nya sebagaimana firman-Nya:
مَنْ يُطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَ إِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيْهِمْ
Siapa yang menaati Rasul maka dia telah menaati Allah, dan ayat yang berbunyi, “Sesungguhnya mereka yang membaiatmu (wahai Rasul) maka mereka sungguh membaiat Allah, tangan Allah di atas tangan mereka.”
Rasulullah saw bersabda, “Setiap orang yang menziarahi aku di kala hidupku atau setelah meninggalku, seperti menziarahi Allah Ta‘ala...”
Humairi dalam kitab Qurbil-Asnâd meriwayatkan dari Imam Ja‘far Shadiq as bahwa Rasulullah saw bersabda, “Setiap orang yang menziarahi aku di kala aku hidup atau sepeninggalku, maka aku akan mensyafaatinya di hari Kiamat.”
Di sebuah hari raya, Imam Ja‘far Shadiq as pernah berada di Madinah. Saat itu, beliau menziarahi Rasulullah Muhammad saw. Imam Ja‘far Shadiq mengucapkan salam kepada Rasulullah Muhammad saw. Setelah itu, Imam Ja‘far Shadiq menjelaskan, “Kita mempunyai keutamaan di setiap kota, baik Mekkah atau selainnya disebabkan ziarah yang kita lakukan (kepada Rasulullah saw) dan salam yang kita ucapkan kepada Rasulullah saw.”
Allamah Majlisi ra berkata, “Hadis muktabar dari Abdullah bin Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Setiap orang yang menziarahi Imam Hasan as di pekuburan Baqi akan melangkah di atas shirath dengan tenang ketika banyak orang yang melangkahinya gemetar dan hilang keseimbangan.”
Imam Ja‘far Shadiq as berkata, “Setiap orang yang menziarahiku akan terampuni dosa-dosanya dan tidak akan meninggal dalam kefakiran dan ketakutan.”
Syekh Thusi dalam kitab at-Tahdzîb meriwayatkan bahwa Imam Hasan Askari as berkata, “Setiap orang yang menziarahi Imam Ja‘far Shadiq as dan ayahnya, Imam Muhammad Baqir as tidak akan mengalami sakit mata, bahkan tidak akan terkena satu penyakit pun dan tidak akan meninggal dalam keadaan terkena bencana.”
Ibnu Quluweih dalam sebuah hadis panjang meriwayatkan dari Maitsam bin Salim yang mencatat jawaban Imam Ja‘far Shadiq as atas pertanyaan. Ada seorang lelaki menjumpai Imam Ja‘far Shadiq as dan bertanya, “Apakah ziarah kepada ayah Anda harus dilakukan?”
Imam Ja‘far Shadiq as menjawab, “Ya!”
Lelaki itu bertanya kembali, “Apa yang akan didapatkan oleh orang yang menziarahinya?”
Imam Ja‘far Shadiq as menjawab, “Surga akan dihadiahkan kepadanya, jika ia meyakini kepemimpinan beliau as serta mengikuti beliau as.”
Lelaki itu bertanya lagi, “Apakah yang akan terjadi bagi orang yang sengaja tidak menziarahinya?”
Imam Ja‘far Shadiq as menjawab, “Dia akan menyesal di hari Penyesalan dan di hari Kiamat!”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar