Total Tayangan Halaman

Minggu, 23 Agustus 2020

Ruh menangisi jasad

Ruhani sudah Esa dengan Tuhan. Jangan sampai jasad tidak esa dengan Tuhan, ruhani akan menuntut. "Itulah kamu jasad, kebinasaan kamu itu karena kamu tidak mau mengenal aku ini ruhmu. Ruh yang sudah diberi tahu Tuhan sebagai wa fii anfusikum afalaa tubsirun [Q.S. Adz-Dzariyaat:21]. Karena kamu tidak kenal aku ada pada dirimu juga, bagaimanalah aku akan memberi petunjuk Tuhan padamu? Kamu tidak kenal." "Karena kamu tidak kenal, setan- Iblis yang memberimu petunjuk. Kamu kira itu dari Tuhan. Kalau sudah begini, binasalah kau jasad. Aku juga merasakan." "Kalau kamu kenal aku ini, kamu akan tahu mana yang dari setan-Iblis dan dari makhluk-makhluk lainnya dan kamu akan tahu yang dari aku itu dari Allah. Maka kau kenalilah wa fii anfusikum ini. Sudah berapa lama aku bersama manusia, tapi sedikit sekali manusia yang mau kenal dengan aku." "Sejak kau lahir sampai mendekat akhir hayat, tidak ada sekali kamu mau mengenal aku. Jika kaurasakan kesedihanku akan kamu, hai jasad, mungkin kamu tidak akan berhenti menangis saat ini juga. Apalah artinya hidup bersama-sama di dunia yang fana ini jika di alam barzakh dan alam baqa kita bercerai. Hendaklah bersama-sama juga." "Tuhan sudah memberi tahu, wa huwa ma`akum ainama kuntum: di mana kamu, di situ Aku [Q.S. Al-Hadiid:4]. Berarti kita berdua tidak boleh bercerai dan tidak ada ingat-mengingat. Jagalah, ingat itu bukan dekat, melainkan jauh. Bahkan Tuhan menjelaskan lagi, kita berdua ini tidak ada antara. Kalau urat lehermu itu dekat dengan kamu, aku terlebih dekat lagi dengan kamu." "Berarti kamu dengan aku; aku dengan kamu itu sudah esa. Satu. Bukan bersatu, bukan menyatu, melainkan Satu. Tidak ada antara lagi. Pahamilah hikmah ini dan selidikilah pengertian satu ini. "Aku selalu mengingatkan jasad, tetapi kebanyakan jasad berkehendak terus dengan nafsu. Tetapi aku menghendaki aku dengan jasadku tidak bercerai. Jasad saja yang suka bercerai denganku karena jasad mengikuti kehendak nafsu, bukannya dengan kehendak ruhani." MAHA RUANG QIBLAT MAQAMI Kosong yang kita pandang ini Sifat. Kalau yang di Maharuang, tidak ada Sifat, hanya Zat Mutlak semata-mata. Maharuang itu bentuk dan rupanya tidak dapat dilihat, tapi suaranya ada. Yang bersuara itu hanya Nur. Suara Nur itu qadim. Suara qadim itu tidak ada `ain-nya (bentuk) dan tidak ada bekasnya. Tidak pula meninggalkan tempatnya. Hanya para wali yang tahu cerita ini. Tuhan itu nyawa hakiki semata-mata (Nur Ilahi semata-mata). Inilah yang meluas dan besar dan tidak mengambil tempat. Cahaya iniah Cahaya Qadim yang terlebih azali. Dalilnya, "nuurun `alaa nuurin"; Yang disebut Cahaya di atas cahaya itu yang terlebih bercahaya daripada Nur. yang terlebih bercahaya daripada Nur, Dia-lah itu. Yang begitu, begitulah adanya. Tidak bisa berubah lagi karena sudah ditetapkan begitu. Tidak bermasa. Begitulah selama-lamanya. Tidak ada permulaah dan tidak ada penghabisan-Nya. Ada di dalam diam, yakni diam sediam-diamnya. Bagaimana mau tahu Tuhan Yang Satu kalau tidak tahu Yang Kedua. Bagaimana mau tahu Yang Kedua, kalau tidak kenal Yang Satu. Shalat ada di dalam yang diam dan ada yang di dalam diam. Yang ada di dalam diam: sibuk. Di padang pasir pun masjid juga [Maharuang = Kiblat Maqami. Masjid itu tempat beribadah dan menyembah Tuhan. Sebelum ada makhluk, dijadikan-Nya dulu Cahaya Diri-Nya [Nur Ilahi/Zat Mutlak sebagai Kosong Maharuang yang menjadi tempat bagi sekalian makhluk. Tentulah tempat beribadah pertama itu Tubuh-Nya. Inilah juga penjelasan tentang Yang Kesatu dan Yang Kedua. Maksud pembicaraan ini mengarah pada skema penciptaan (Mux)]. Kif yaa Muhammad, Ana Rabbaka yushalli. Ini shalatnya tidak cepat. Di dalam diam itu rukun 13. Di tempat ini baru yakin saja karena di mana tempat pun: masjid. Orang yang tidak pernah bertafakur, tulangnya lembut semua karena Tuhan itu tidak ada lemahnya. Shalat itu tafakur juga. Dinamakan tafakur itu hanya sebentar saja. Shalat itu sunnaturrasul. Kalau tafakur, berilmu tinggi. Orang yang tidak pernah bertafakur seumur hidup: jahil murakab. Jahil pada dirinya sendiri dan pada Tuhannya. Tidak ada yang mengetahui Tuhan melainkan Tuhan atau Ruh Qudus. Ruh Qudus tetap ada di Mekah (Baitullah). Nur, kalau dia meninggalkan tempatnya, bisa tidur kita. Tuhan hakiki, dari dada sampai Maharuang. Yang mengenal Ruh Qudus hanya Adam. Tafakur majati itu: dirasakannya yang diam di sama-tengah hati. Tafakur hakiki tidak dirasakan, dirasakan semua. Ini dinamai Zahiru Rabbi wal bathinu abdi. Yang majati itu Rahasia Allah. Bersifat kosong sekosong-kosongnya. Yang utama dipakai, tafakur hakiki. Ketika shalat, takbirlah panjangnya 3 alif (harakat) kemudian tafakur hakikilah. Berdiri shalat, diketahui yang ada di Maharuang. Ruh Qudus yang mengetahui yang ada di Maharuang itu. Hakiki itulah takbir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar