Total Tayangan Halaman

Rabu, 26 Agustus 2020

Tata Cara Berziarah

Banyak tata cara berziarah. Di sini akan disebutkan sebagiannya saja: Pertama: Mandi sebelum pergi berziarah. Kedua: Tidak berbicara tentang tema-tema yang tidak bermanfaat, tidak bertengkar atau bercekcok dalam perjalanan. Ketiga: Melakukan mandi untuk setiap kali menziarahi setiap imam as dan membaca doa ziarah. Keempat: Suci dari hadas besar dan kecil. Kelima: Mengenakan pakaian yang suci dan bersih, baru dan rapi dan berwarna putih. Keenam: Ketika mendekati kuburan suci mereka as, hendaknya berjalan secara perlahan, merendah dan khusyuk, menundukkan kepala serta tidak menengok ke atas dan ke sekeliling. Ketujuh: Mengenakan wewangian, kecuali ketika menziarahi Imam Husain as. Kedelapan: Ketika pergi menuju tempat suci mereka as, hendaknya selalu bertakbir, bertahmid, bertasbih, tahlil, bertamjid dan mewangikan mulut dengan mengucapkan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya as. Kesembilan: Berdiri di depan pintu makam mulia as, dengan memohon izin masuk dan berusaha untuk khusyuk, merunduk dengan perasaan haru dengan membayangkan dan memikirkan keagungan, kemegahan nilai pemilik Marqad Munawwar (kuburan orang suci) sedang menyaksikan Anda yang sedang berdiri, mendengar pembicaraan, membalas salam dan semua yang Anda lakukan di sana. Ketika membaca doa izin masuk makam, renungkanlah cinta manusia suci kepada para pengikutnya dan para penziarahnya as, dan mengingat keburukan dan penganiayaan yang dilakukan kepada mereka as. Ingatlah bahwa para manusia maksum dan kerabat serta sahabat mereka teraniaya sepanjang hidup. Jika hal ini benar-benar Anda lakukan niscaya kaki Anda tidak akan sanggup lagi melangkah, perasaan Anda akan luruh, air mata Anda akan bercucuran. Ketika Anda sudah mengalami perasaan demikian, sempurnalah adab menziarahi para maksum as. Kami akan menukil syair Sakhawi yang dapat dijadikan sebuah ilustrasi ketika berziarah. Syair tersebut dinukil oleh Allamah Majlisi dalam kitab Bihârul-Anwâr, dari kitab ‘Uyûnul-Mu‘jizât. Syairnya adalah sebagai berikut, قَالُوْا غَدًا نَأْتِي دِيَارَ الْحِمَى وَ يَنْزِلُ الرَّكْبُ بِمَغْنَاهُمُ فَكُلُّ مَنْ كَانَ مُطِيْعًا لَهُمْ أَصْبَحَ مَسْرُوْرًا بِلُقْيَاهُمُ قُلْتُ فَلِي ذَنْبٌ فَمَا حِيْلَتِي بِأَيِّ وَجْهٍ أَتَلَقَّاهُمُ قَالُوْا أَلَيْسَ الْعَفْوُ مِنْ شَأْنِهِمْ لاَ سِيَّمَا عَمَّنْ تَرَجَّاهُمُ فَجِئْتُهُمْ أَسْعَى إِلَى بَابِهِمْ أَرْجُوْهُمُ طَوْرًا وَ أَخْشَاهُمُ Mereka berkata, “Esok kita melawat pusara suci! Rombongan pun turun dengan tenang Mereka yang taat kepada para msnusia suci itu bergembira bertemu para manusia suci Tapi aku pendosa! Adakah jalan bagiku! Bagaimana harus kuhadapkan wajahku ! Bagaimana kujumpa para manusia suci itu! Mereka menyahut: Bukankah ampunan mereka diberikan kepada pengharapnya!” Sebuah riwayat menyebutkan Ibrahim Jamal (seorang pengikut Ahlulbait as) ingin berkhidmat kepada Ali bin Yaqthin ra. Ibrahim adalah aparat keamanan dan Ali bin Yaqthin seorang menteri Harun Rasyid. Ibrahim pun dianggap tidak layak untuk menghadiri acara yang diadakan oleh Ali bin Yaqthin. Pada tahun itu pula, Ali bin Yaqthin menunaikan ibadah haji, ketika berada di Madinah, dia berkeinginan berkhidmat kepada Imam Musa bin Ja‘far as, namun beliau as tidak mengizinkannya. Kemudian Ali bin Yaqthin bertanya kepada beliau, “Wahai Tuanku! Apakah sebabnya Anda tidak mengizinkanku untuk berkhidmat kepada Anda!” Imam as menjawab, “Bukankah engkau juga tidak memberi izin kepada saudaramu, Ibrahim Jamal. Allah berhak menolak terkabulnya keinginanmu, kecuali jika kamu dimaafkan oleh Ibrahim Jamal.” “Wahai Tuanku! Bagaimanakah aku dapat menjumpai Ibrahim Jamal? Saat ini aku berada di Madinah, sedangkan Ibrahim Jamal berada di Kufah!” Imam as menjawab, “Ketika malam tiba, pergilah ke Baqi seorang diri, jangan sampai ada orang yang tahu, meskipun ia sahabat dan pelayan Anda! Di tempat itu, kamu akan menjumpai seekor unta yang dihias indah. Tunggangilah unta itu kemudian pergilah ke Kufah.” Ali bin Yaqthin pun melaksanakan amanat Imam as. Dia berangkat menuju Baqi, dan di tempat itu ia menjumpai unta yang disebutkan Imam as. Bergegas dia menungganginya dan pergi menuju Kufah. Dalam waktu yang cepat, sampailah dia di Kufah. Sesampainya di depan rumah Ibrahim, dia merebahkan untanya, kemudian diketuknya pintu rumah itu dan Ibrahim pun menyahut. Setelah diizinkan masuk oleh Ibrahim, Ali bin Yaqthin berkata, “Wahai Ibrahim! Tuanku berkata kepadaku bahwa permohonanku tidak akan terkabul kecuali engkau memaafkanku!” “Allah memaafkan Anda!” Jawab Ibrahim Jamal. Saat itu juga Ali bin Yaqthin melakukan sujud syukur. “Injaklah mukaku, wahai Ibrahim!” Ali bin Yaqthin meminta, namun Ibrahim menolaknya. Namun Ali bersumpah agar Ibrahim bersedia melakukannya. Akhirnya, Ibrahim pun mengusapkan kakinya ke wajah Ali bin Yaqthin. Ketika itu, Ali bin Yaqthin berkata, “Ya Allah, saksikanlah!” Setelah itu, dia pamit pada Ibrahim Jamal untuk kembali ke Madinah. Sesampainya di depan rumah Imam Musa bin Ja‘far as, dia menegetuk pintu. Imam as pun mengizinkannya masuk. Riwayat ini memberitahukan kepada kita bahwa kita harus memperhatikan hak saudara Muslim yang ada pada kita meski sekecil apa pun. Kemudian, ciumlah pusara mulia Imam as. Syekh Syahid ra berkata “Jika pelaku ziarah melakukan sujud dan berniat untuk Allah Swt, maka apa yang dilakukannya ini sangat baik. Kemudian, langkahkan kaki kanan terlebih dahulu ketika masuk ke makam suci dan langkahkan kaki kiri terbih dahulu ketika ke luar dari makam, seperti ketika masuk dan keluar mesjid. Kemudian, mendekatlah ke pusara suci Imam as seraya sedekat mungkin. Pendapat yang mengatakan bahwa adab berziarah dengan berdiri di kejauhan dari pusara Imam as dalah keliru, karena yang diajarakan di banyak riwayat adalah mendekatkan badan dan menciumnya (pusara atau pagarnya). Kemudian, ketika berziarah, berdirilah dengan punggung menghadap ke arah kiblat dan muka menghadap kearah kubur suci as. Adab ini khusus dilakukan dalam ziarah para makshum as. Setelah membaca doa ziarah, letakkanlah lengan sebelah kanan ke atas pusara, dengan keadaan merendahkan diri, lalu berdoalah, kemudian letakkan lengan sebelah kiri sambil memanggil Allah dan berkata, “Dengan hak penghuni kubur ini, tetapkanlah aku sebagai orang yang mendapatkan syafaatnya as.” Perbanyaklah berberdoa. Setelah itu, hampirilah arah kepala suci beliau as sembari berdiri menghadap ke arah Kiblat dan berdoalah. Kemudian, bacalah doa ziarah dengan berdiri jika tidak ada halangan atau kesulitan untuk melakukannya. Kemudian, ucapkan takbir ketika melihat kubur suci Imam as (sebelum memulai membaca ziarah). Sebuah riwayat menyebutkan bahwa sesiapa yang bertakbir ketika melihat makam Imam as dan mengucapkan kalimat di bawah ini maka ia akan tercatat sebagai orang yang mendapat ridha Allah. Kalimat tersebut adalah, لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ “Tiada tuhan selain Allah Yang Mahaesa dan tiada sekutu bagi-Nya.” Kemudian, bacalah doa Ziarah Ma’sturah yang diriwayatkan dari para makshum as. Janganlah membaca doa-doa ziarah yang dibuat oleh orang yang bukan ahlinya. Banyak doa doa ziarah palsu yang disertakan dalam doa ziarah muktabar. Syekh Kulaini ra meriwayatkan dari Abdul Rahim Qashir yang pernah berkata kepada imam Ja‘far Shadiq bahwa dirinya telah mengarang sebuah doa. Imam Ja‘far Shadiq as berkata, “Serahkanlah doa itu kepadaku. Biarkanlah aku yang menyusunnya. Setiap Anda memiliki kebutuhan, bertawasulah kepada Rasulullah saw dan keluarganya, lalu lakukanlah shalat dua rakaat sebagai hadiah kepada beliau saw. Kemudian, lakukanlah shalat ziarah, sedikitnya dua rakaat, Syekh Syahid berkata, “Jika berziarah kepada Rasulullah saw, lakukanlah shalat dalam kawasan pagar makam beliau dan jika berziarah ke pusara para Imam as, lakukanlah shalat di arah kepala beliau as, dan boleh melakukannya di dalam mesjid dalam lingkungan di haram.” Allamah Majlisi ra berkata, “Sebaiknya shalat ziarah dan yang lainnya, sebaiknya dilakukan di bagian belakang kepala dan di atasnya.” Allamah Bahrul Ulum berkata, juga -Ulumr,sebaiknya melakukan sholat ziarat dan yang lainnya,sebaiknya dilakukan di bagian belakang kepala dan di ata “Dari hadis Karbala dan Ka‘bah ada penjelasan bahwa Karbala mempunyai martabat dan kedudukan yang tinggi, demikian juga selainnya seperti seluruh pusara syuhada. Berdasarkan bukti riwayat yang banyak dianjurkan menjaga prilaku di dekat tempat-tempat tersebut dengan melakukan shalat di sisi kepala dan belakang pusara, nash yang jelas mengenai kesunahannya sangat jelas. Keutamaan pusara mereka as dengan selainnya seperti cahaya benderang di atas gunung, karena jadi mustahab berusaha untuk melakukan shalat di sisinya, bahkan menyampaikan permohonan serta mendekatkan diri sedekat mungkin dengan pusara.” Bacalah surah Yâsîn di rakaat pertama dan surah ar-Rahmân di rakaat kedua dalam shalat ziarah. Berdoalah dengan teks yang disebutkan dalam riwayat atau berdoa sesuai dengan keinginan. Semoga doa Anda terkabul. Syekh Syahid ra berkata, “Seseorang yang memasuki tempat suci dan menyaksikan jamaah sedang melakukan shalat, maka hendaknya pertama kali melakukan shalat berjamaah sebelum melakukan ziarah. Hendaknya dia juga menghentikan ziarah ketika waktu shalat. Bila masuk waktu shalat belum tiba, mendahulukan ziarah lebih utama dari yang lain karena itu adalah tujuan Anda. Jika sedang berziarah waktu shalat tiba adalah makruh, maka penziarah dimustahabkan untuk menghentikan ziarahnya dan melakukan shalat. Membaca doa ziarah jika waktu shalat telah tiba. Hendaknya para penjaga tempat suci menyeru masyarakat yang ada di tempat itu untuk mendirikan shalat.” Syekh Syahid ra menganggap membaca al-Quran di dekat pusara suci as sebagai bagian dari tata cara ziarah dan menghadiahkannya untuk ruh suci as yang sedang diziarahi. Penziarah sendiri yang akan memperoleh manfaatnya, meskipun ziarah dilakukan untuk penghormatan kepada Imam as. Kemudian, janganlah berbicara tentang hal-hal yang tidak layak, kalimat-kalimat yang sia-sia dan tidak bermanfaat, seperti membicarakan hal-hal duniawi yang akan mencegah datangnya rezeki dan menyebabkan kerasnya hati. Kemudian, pelankanlah suara ketika membaca doa ziarah. Kemudian, bacalah doa perpisahan dengan Imam as, ketika hendak meninggalkan beliau as. Kemudian, bertaubatlah dan memomohon ampunan atas dosa-dosa yang pernah dilakukan dan memohon perbaikan keadaan diri, perilaku dan perkataan setelah melakukan ziarah. Kemudian, berinfaklah semampunya kepada orang-orang yang mengabdi di pusara Imam as. Seharusnya para pengabdi itu adalah orang-orang baik, ahli agama dan berwibawa serta mampu mengemban tugas, mampu mengendalikan amarahnya, tidak menuduh salah dan tidak kepada para peziarah, melayani kebutuhan-kebutuhan mereka. Kemudian, berinfaklah kepada fakir miskin yang bersikap berziarah dan orang-rang miskin yang ada di kota Imam as, khususnya kepada para sayid dan ulama serta para perantau yang tertimpa musibah kemiskinan. Syekh Syahid berkata, “Ketika kaum wanita hendak melakukan ziarah, sebaiknya mereka memisahkan diri dari kaum pria. Lebih baik mereka berziarah pula malam ini. Hendaknya mereka mengenakan pakaian sederhana. Berziarah dengan kaum pria, sekalipun diperbolehkan, makruh hukumnya.” Dari keterangan di atas dapat dipahami bahwa kaum wanita yang melakukan ziarah dengan menghias diri dan mengenakan pakaian yang mewah akan mengganggu pria yang bukan muhrimnya di makam suci as. Imam Ja‘far Shadiq as meriwayatkan bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as berkata kepada penduduk Irak, “Wahai penduduk Irak! Telah sampai berita kepadaku bahwa para wanita kalian saling bertemu dengan kaum lelaki di jalan-jalan! Apakah kalian tidak malu?” Dalam kitab al-Faqîh diriwayatkan oleh Ashbagh bin Nabatah, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata, “Akan menjadi jelas di akhir zaman, ketika hari Kiamat semakin dekat. Saat itulah keaadaan zaman mencapai puncak keburukan, kaum wanita tidak mengenakan hijab, telanjang memamerkan perhiasan seperti orang yang berhias untuk keluar dari agama, tenggelam dalam fitnah yang mengundang syahwat, berselera menikmati kelezatan, menghalalkan yang haram, merekalah yang akan kekal dalam neraka Jahanam.” Kemudian, pada saat tertentu banyak para peziarah, bagi orang yang terlebih dahulu mendekati pusara suci as, hendaknya menghentikan ziarahnya dan bersegera untuk keluar, sehingga yang lain mendapatkan kesempatan untuk mendekati pusara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar