Total Tayangan Halaman

Rabu, 26 Agustus 2020

Amalan-amalan Setiap bulan, Hari Raya Naoruz (Tahun Baru Hijriyah-Syamsiyah) dan Bulan-bulan Romawi (Masehi)

Amalan-amalan Setiap bulan, Hari Raya Naoruz (Tahun Baru Hijriyah-Syamsiyah) dan Bulan-bulan Romawi (Masehi) Ketika Anda hendak bepergian, sebaiknya berpuasalah pada hari-hari berikut: Rabu, Kamis, dan Jumat. Pilihlah hari-hari bepergian pada hari Sabtu, Selasa atau Kamis. Hindarilah bepergian pada hari Senin, Rabu dan sebelum Zuhur di hari Jumat. Hindarilah juga untuk bepergian pada waktu-waktu yang tersebut dalam bait-bait syair berikut: Tujuh hari naas dalam sebulan, jauhilah bepergian darinya, supaya terhindar dari petaka, di hari ke-3, ke-5, ke-13, ke-16, ke-21, ke-24 dan ke-25 pada setiap bulan. Demikian juga, hindarilah bepergian di tiga hari terakhir bulan Hijriah-Qamariah dan di kala bulan di langit dalam kitaran gugusan bintang Kalajengking (Scorpio). Sekiranya penting dan terjadi juga bepergian di waktu-waktu tersebut, maka berdoa dan bersedekah penting untuk dilakukan di kala itu. Dalam riwayat, seorang laki-laki dari sahabat Imam Muhammad Bagir as, hendak bepergian. Sebelumnya, dia mendatangi beliau untuk berpamitan. Kepadanya, Imam Muhammad Baqir as berkata, “Ayahku Ali bin Husain as, setiap kali ingin bepergian, beliau membelanjakan sebagian harta miliknya untuk membeli keselamatan diri dari Allah Swt dengan apa yang mudah dilakukannya, yaitu beliau bersedekah sesuai dengan kesanggupannya. Hal ini dilakukannya ketika beliau meletakkan kaki di kendaraan, dan juga saat pulang dari bepergian dengan selamat. Beliau bersyukur kepada Allah Swt dengan kembali bersedekah seberapa pun kemampuannya.” Setelah mengucap salam perpisahan kepada Imam Muhammad Baqir as, lelaki itu pergi dan mengabaikan pesan Imam tersebut. Di tengah perjalanan, dia tertimpa musibah, ketika berita ini terdengar oleh Imam Muhammad Baqir as, beliau pun berkata, “Oh... Seandainya ia menerima nasihat yang aku berikan!” Sebaiknya, mandi sebelum bepergian, lalu mengumpulkan anggota keluarga, serta melakukan dua rakaat shalat, dan mintalah kebaikan dan keselamatan diri kepada Allah Swt, bacalah Ayat Kursi, puja dan pujilah Allah Swt, serta mengirim shalawat kepada Nabi dan keluarganya as, karena Allah Swt pun telah menyampaikan salam kepada mereka as. Kemudian ucapkanlah, اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَوْدِعُكَ الْيَوْمَ نَفْسِي وَ أَهْلِي وَ مَالِي وَ وُلْدِي وَ مَنْ كَانَ مِنِّي بِسَبِيْلٍ الشَّاهِدَ مِنْهُمْ وَ الْغَائِبَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْنَا بِحِفْظِ اْلإِيْمَانِ وَ احْفَظْ عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا (اجْمَعْنَا) فِي رَحْمَتِكَ وَ لاَ تَسْلُبْنَا فَضْلَكَ، إِنَّا إِلَيْكَ رَاغِبُوْنَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَ كَابَةِ الْمُنْقَلَبِ وَ سُوْءِ الْمَنْظَرِ فِي اْلأَهْلِ وَ الْمَالِ وَ الْوَلَدِ فِي الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ هَذَا التَّوَجُّهَ طَلَباً لِمَرْضَاتِكَ وَ تَقَرُّباً إِلَيْكَ، (اللَّهُمَ) فَبَلِّغْنِيْ مَا أُؤَمِّلُهُ وَ أَرْجُوْهُ فِيْكَ وَ فِي أَوْلِيَائِكَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ Ya Allah, aku sandarkan kepada-Mu di hari ini, jiwaku, keluargaku, anak-anakku dan siapa saja yang mempunyai hak dariku, dalam keadaan hadir maupun gaib! Ya Allah, jagalah kami dengan perlindungan iman, maka lindungilah kami! Ya Allah, himpunlah kami bersama rahmat-Mu, jangan hadang kami untuk memperoleh anugerah-Mu, karena Engkaulah yang kami rindukan! Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kesulitan selama perjalanan, putus harapan untuk kembali, dan pandangan yang buruk kepada keluarga kami, harta dan anak-anak kami di dunia dan di akhirat! Ya Allah, sungguh aku hadapkan perhatianku kepada-Mu sebagai harapan untuk mendapatkan ridha-Mu dan mendekatkan diri kepada-Mu, maka penuhilah harapanku, aku hanya mengharap-Mu dan wali-wali-Mu, Wahai Yang kasih-Nya mengungguli para pengasih! Lalu berpamitanlah kepada keluarga, kemudian berdiri di depan pintu rumah sembari bershalawat kepada Fathimah Zahra as, dan bacalah surah al-Fâtihah dan Ayat Kursi dengan menghadap ke tiga arah: Depan, Kanan dan Kiri, lalu bacalah doa berikut, اَللَّهُمَّ إِلَيْكَ وَجَّهْتُ وَجْهِي وَ عَلَيْكَ خَلَّفْتُ أَهْلِي وَ مَالِي وَ مَا خَوَّلْتَنِي وَ قَدْ وَثِقْتُ بِكَ فَلاَ تُخَيِّبْنِي يَا مَنْ لاَ يُخَيِّبُ مَنْ أَرَادَهُ وَ لاَ يُضَيِّعُ مَنْ حَفِظَهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ وَ احْفَظْنِي فِيْمَا غِبْتُ عَنْهُ وَ لاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ Ya Allah! Kepada-Mu aku hadapkan perhatianku, kepada-Mu aku percayakan keluargaku, harta dan semua yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, sungguh aku mempercayai-Mu, maka jangan putuskan harapanku, Wahai Yang tidak memutuskan harapan orang yang mendamba-Nya, tidak menyirnakan orang yang dijaga oleh-Nya! Ya Allah, anugerahkan kesejahteraan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, jagalah aku dalam ketaktahuanku, jangan percayakan aku kepada nafsuku, wahai yang kasih-Nya mengungguli para pengasih! Kemudian bacalah surah al-Ikhlâsh, sebanyak sebelas kali dan surah al-Qadr, Ayat Kursi, surah an-Nâs, dan surah al-Falaq, lalu mengusapkan tangan ke seluruh badan. Bersedekahlah sesuai dengan kemampuan. Kemudian berdoalah dengan doa berikut ini, اَللَّهُمَّ إِنِّي اشْتَرَيْتُ بِهَذِهِ الصَّدَقَةِ سَلاَمَتِي وَ سَلاَمَةَ سَفَرِي وَ مَا مَعِي، اَللَّهُمَّ احْفَظْنِي وَ احْفَظْ مَا مَعِيَ وَ سَلِّمْنِي وَ سَلِّمْ مَا مَعِيَ وَ بَلِّغْنِي وَ بَلِّغْ مَا مَعِيَ بِبَلاَغِكَ الْحَسَنِ الْجَمِيْلِ Ya Allah! Sungguh aku menebus keselamatanku, keselamatan perjalananku, dan keselamatan semua yang bersamaku dengan sedekah ini! Ya Allah! Jagalah aku dan jagalah semua yang menyertaiku, selamatkanlah aku dan selamatkanlah semua yang bersamaku, dan sampaikanlah ke tempat tujuanku dan sampaikanlah semua yang bersamaku dengan penyampaian-Mu yang baik dan indah! Bawalah sebuah tongkat yang terbuat dari batang pohon Kenari pahit, karena telah diriwayatkan bahwa sesiapa yang bepergian dan membawa satu tongkat batang Kenari pahit dan membaca ayat 22-28, surah al-Qashash, وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسَى رَبِّي أَنْ يَهْدِيَنِي سَوَاءَ السَّبِيْلِ (22) وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُوْنَ وَ وَجَدَ مِنْ دُوْنِهِمْ إِمْرَأَتَيْنِ تَذُوْدَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لاَ نَسْقِيْ حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَ أَبُوْنَا شَيْخٌ كَبِيْرٌ (23) فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ (24) فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِيْ عَلَى إِسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوْكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءَهُ وَ قَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لاَ تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ (25) قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ اْلأَمِيْنُ (26) قَالَ إِنِّيْ أُرِيْدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَةَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْراً فَمِنْ عِنْدِكَ وَ مَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِيْنَ (27) قَالَ ذَلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ أَيَّمَا اْلأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلاَ عُدْوَانَ عَلَيَّ وَاللَّهُ عَلَى مَا نَقُوْلُ وَكِيْلٌ (28) Dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Madyan ia berdoa (lagi), “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar.” Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata, “Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)?” Kedua wanita itu menjawab, “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.” Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, “Ya Tuhanku! Sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata, “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar dia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syuaib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syuaib berkata, “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.” Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” Berkatalah dia (Syuaib), “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan engkau Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik.” Dia (Musa) berkata, “Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan.” Maka, Allah berhak menjaganya dari segala gangguan binatang buas, dari pencuri dan penjahat, dari binatang yang berbisa, hingga ia kembali ke rumahnya. Tujuh puluh tujuh malaikat akan menyertai perjalanannya dan memintakan ampunan untuknya hingga ia kembali. Disunahkan meletakkan tongkat tersebut dan keluar dengan mengenakan sorban yang ujungnya diletakkan di bawah dagu (melingkari leher). Hal ini akan mencegah musibah, pencurian, tenggelam dan kebakaran. Bawalah tanah (turbah) Imam Husain as, dan ketika mengambilnya ucapkanlah doa berikut, اَللَّهُمَّ هَذِهِ طِيْنَةُ قَبْرِ الْحُسَيْنِ عَلَيْهِ اَلسَّلاَمُ وَلِيِّكَ وَ ابْنِ وَلِيِّكَ اتَّخَذْتُهَا حِرْزًا لِمَا أَخَافُ وَ مَا لاَ أَخَافُ Ya Allah! Tanah ini adalah pusara al-Husain as, wali-Mu, putra dari wali-Mu, aku mengambilnya sebagai hiriz (keterjagaanku), dari semua yang aku takuti atau yang tidak aku takuti! Kenakanlah cincin bermata batu Akik dan cincin bermata Pirus, khususnya Akik yang berwarna kuning dan diukir dengan kalimat berikut: مَا شَاءَ اللَّهَ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ Allah menghendaki sesuatu, tiada kekuatan kecuali dengan kekuatan Allah, aku memohon ampunan kepada Allah! Dan terukir kalimat, مُحَمَّدٌ وَ عَلِيٌّ (Muhammad dan Ali). Sayid Ibnu Thawus dalam kitab al-Akhthâr meriwayatkan dari Abi Muhammad Qasim bin ‘Ala dari Shafi (pelayan Imam Ali Taqi as) yang berkata, “Ketika aku meminta izin kepada Imam untuk menziarahi kakek beliau, Imam ali Ridha as, beliau menganjurkan agar aku membawa satu cincin Akik berwarna kuning dan berukir kalimat, مَا شَاءَ اللَّهُ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ dan kalimat, مُحَمَّدٌ وَ عَلِيٌّ, karena cincin ini akan membantu mengamankan aku dari kejahatan pencuri dan perampok, dan menjadi sebab sempurnanya keselamatanku.” Pelayan itu berkata lagi, “Kemudian aku pergi mengambil cincin yang disebutkan oleh Imam as dan kembali berpamitan kepada beliau as. Setelah agak jauh berjalan meninggalkan Imam as, beliau memanggilku seraya menganjurkan aku untuk memakai cincin Piruz, karena di antara kota Thusi dan Nisyapur, ada seekor singa akan menghadang jalanku dan menghalangi kafilah dari perjalanan. Oleh Imam as, aku disuruh maju menghadapi singa itu dan menunjukkan cincin itu kepada singa seraya berkata, ‘Hai singa, Tuanku berpesan kepadaku agar engkau menyingkir dari jalan ini!” Ukirlah hendaknya di salah satu bagian dari mata Piruz itu dengan kalimat, اللَّهُ الْمَلِكُ dan juga kalimat, الْمُلْكُ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ. Ukiran cincin Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as adalah kalimat, اللَّهُ الْمَلِكُ. Setelah kepemimpinan negara kembali kepada Imam Ali as, beliau mengukir cincinnya dengan kalimat, الْمُلْكُ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ. Batu Pirus yang diukir dengan kalimat itu akan menjauhkan seseorang yang memakainya dari gangguan binatang buas, mendatangkan kejayaan dan kemenangan dalam peperangan. Shafi berkata, “Ketika aku bepergian untuk berziarah, demi Tuhan, tepat pada tempat yang disebutkan oleh Imam Ali Taqi as, seekor singa menghadang jalanku, serta-merta kulakukan semua anjuran Imam as. Saat itu juga singa pun berlari menjauhi kami. Sepulang dari perjalanan, aku menceritakan kejadian tersebut kepada Imam Ali Taqi as. Kemudian beliau berkata kepadaku, ‘Engkau tidak menceritakan semua peristiwa yang kau alami selama berziarah. Jika peristiwa yang engkau alami itu ada yang terlupakan, maukah engkau mendengar jika aku yang menceritakannya?’ Aku menjawab, ‘Wahai Tuanku, mungkin aku terlupa.’ Beliau berkata, ‘Di malam itu, di dekat kuburan mulia itu, engkau tertidur. Saat itu, sekelompok jin yang berziarah ke kuburan Imam Ali Ridha as melihat cincin yang ada di tanganmu dan membaca ukirannya, lalu mereka mengambilnya dari jarimu, kemudian menyelupkannya ke dalam air dan diminumkan kepada salah satu dari mereka yang sakit. Seketika penyakit pun lenyap. Kemudian sekelompok jin itu mengembalikan cincin itu ke jari kirimu, sementara sebelum tertidur cincin itu engkau kenakan di jari sebelah kanan. Tentu, saat itu engkau menjadi heran dan engkau tidak tahu bagaimana perstiwa ini bisa terjadi. Keherananmu semakin bertambah ketika engkau menemukan batu Yaqut di kepalamu, lalu engkau mengambilnya dan sekarang batu Yaqut itu engkau bawa. Juallah batu Yaqut itu ke pasar seharga 80 syarafi (mata uang kuno). Ketahuilah bahwa batu Yaqut ini adalah hadiah yang diberikan sekelompok jin tersebut untukmu.’ Kemudian aku membawa batu Yaqut tersebut ke pasar dan menjualnya.’” Dan diriwayatkan dari Imam Ja‘far Shadiq as bahwa orang yang membaca Ayat Kursi dan sebuah doa (di bawah ini) di setiap malam selama perjalanan akan terjaga keselamatannya, demikian juga dengan semua yang bersamanya.ermata Firuz itu terukir kalimat:an dari njukan cincin itu kepada singa dan katakanlah:"Tuan-ku berkata jauhlah engkau dari jal اَللَّهُمَّ اجْعَلْ مَسِيْرِي عِبَرًا وَ صَمْتِي تَفَكُّرًا وَ كَلاَمِي ذِكْرًا Ya Allah! Jadikanlah perjalananku ini sebagai ibrah (sesuatu yang sarat dengan pelajaran dan nasihat), diamku sebagai tafakur dan bicaraku sebagai zikir! Diriwayatkan bahwa Imam Ali Zainal Abidin as pernah berkata bahwa beliau tidak pernah mengalami rasa takut setiap kali membaca doa di bawah ini, meskipun jin dan manusia bersekutu untuk mencelakakan beliau. بِسْمِ اللَّهِ وَ بِاللَّهِ وَ مِنَ اللَّهِ وَ إِلَى اللَّهِ وَ فِي سَبِيْلِ اللَّهِ، اَللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَسْلَمْتُ نَفْسِي وَ إِلَيْكَ وَجَّهْتُ وَجْهِي وَ إِلَيْكَ فَوَّضْتُ أَمْرِي، فَاحْفَظْنِي بِحِفْظِ اْلإِيْمَانِ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَ مِنْ خَلْفِي وَ عَنْ يَمِيْنِي وَ عَنْ شِمَالِي وَ مِنْ فَوْقِي وَ مِنْ تَحْتِي وَ ادْفَعْ عَنِّي بِحَوْلِكَ وَ قُوَّتِكَ، فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ Dengan nama Allah, bersama Allah, dari Allah, kepada Allah, dan di jalan Allah. Ya Allah, kepada-Mu aku menyerahkan jiwaku, kepada-Mu kuhadapkan wajahku, kepada-Mu kupercayakan urusanku, maka jagalah aku dengan perlindungan iman dari kedua tanganku di depan dan di belakang, dari kanan dan kiriku, dari atas dan bawahku, belalah aku dengan daya dan kekuatan-Mu, maka sesungguhnya tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan Allah Yang Mahamulia lagi Mahaagung! Penyusun buku ini menjelaskan akan banyaknya doa dan adab bepergian. Namun beliau hanya menyebutkan sebagiannya saja. Pertama, bagi setiap orang yang hendak bepergian dengan membaca, بِسْمِ اللَّهِ. Kedua, menjaga perbekalannya dengan meletakannya di tempat yang aman. Ketiga, membantu teman seperjalanan, tidak mengabaikannya dengan mementingkan diri sendiri, dan perbuatan ini akan menyebabkan Allah Swt menjauhkan tujuh puluh tiga kesedihan darinya, melindunginya di dunia dan menghindarkannya dari ketakutan dan derita hari Kiamat. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa Imam Ali Zainal Abidin as tidak akan bepergian kecuali dengan orang yang tidak mengenali beliau. Hal ini beliau lakukan agar dapat membantunya di perjalanan. Jika beliau bepergian dengan orang yang dikenalnya, maka orang itu tidak akan mau dibantu oleh beliau. Akhlak yang dilakukan Imam Ali Zainal Abidin as adalah akhlak Rasulullah saw. Sebagaimana disebutkan sebuah riwayat, ketika beliau saw bersama para sahabatnya melakukan perjalanan, mereka menyembelih seekor kambing. “Aku yang menyembelihnya!” Kata seseorang. “Aku yang mengulitinya!” Sahut yang lain. “Aku yang memasaknya!” Ujar orang ketiga. Rasulullah saw berkata, “Aku yang mengumpulkan kayu bakarnya!” Para sahabat menyahut, “Ya Rasulallah! Biarkan ini kami menyelesaikannya! Anda tak perlu melakukannya! Beliau saw bersabda, “Aku tahu kalian akan menyelesaikan pekerjaan ini, tetapi aku tidak menghendaki ada orang yang merasa memiliki keutamaan dari selainnya. Allah Swt membenci hamba yang membedakan dirinya dengan temannya karena merasa lebih mulia. Ketahuilah, orang yang paling menyulitkan teman-teman seperjalanannya adalah dia yang memiliki badan sehat dan sempurna, tetapi malas dan tidak mau menyibukan diri dengan satu pekerjaan pun. Dia hanya menunggu teman yang akan melakukan pekerjaannya. Bepergianlah dengan teman yang dermawan. Janganlah meminum air di sembarang tempat. Jadikan kesopanan dan kesantunan sebagai perhiasan diri. Bawalah perbekalan Anda sendiri, karena kemuliaan seorang manusia adalah hendaknya membawa perbekalannya dengan baik terutama ketika bepergian ke kota Mekkah. Bawalah bekal yang lezat seperti halwa (manis-manisan) dan baryani.” Namun ketika berziarah kepada Imam Husain as, seseorang tidak layak membawa perbekalan yang lezat sebagaimana pada bagian yang telah disebutkan dalam adab berziarah kepada Imam as. Ibnu A‘sam berkata, “Membawa bekal dengan baik dan cukup dalam perjalanan adalah suatu kemuliaan. Hendaknya manusia lebih memperbaiki perilakunya ketika dalam bepergian dari ketika dia berdiam di rumah. Ketika membuka tempat makanannya, hendaknya ia menawarkan kepada saudaranya yang hadir kala itu. Jadikanlah suasana riang bersama teman seperjalanan selama tidak bermaksiat kepada Allah dan tidak menyakitkan. Bagi orang yang singgah untuk bertamu di rumah saudaranya, maka hendaknya tuan rumah menjamunya dengan baik selama dua malam, dengan makanan yang biasa dimakan oleh keluarganya.” Yang paling penting untuk diperhatikan dalam perjalanan adalah menunaikan shalat wajib, dengan syarat-syarat dan batas-batas awal waktunya. Betapa banyak jamaah haji dan ziarah mengabaikan shalat wajibnya selama perjalanan, tidak menunaikan shalat tepat waktu, atau mereka melakukannya dalam kendaraan, baik dengan berwudhu atau dengan tayamum, atau badan dan pakaian dalam keadaan najis. Semua ini menunjukkan ketidakpeduliannya dan menyepelekan shalat. Imam Ja‘far Shadiq as bersabda, “Shalat wajib lebih baik dari dua puluh haji yang setiap hajinya lebih baik dari rumah yang dipenuhi oleh emas, yang kesemua emas itu dikeluarkan sebagai sedekah hingga habis. Jangan meninggalkan zikir berikut setiap selesai mengerjakan shalat Qashar,ninggalkanzdikir umah yang dipenuhi oleh emas,yang kesemua emas itu dikeluarkan sebagai sedek سُبْحَانَ للَّهِ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَ اللَّهُ أَكْبَرُ Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah dan Allah Mahabesar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar