Total Tayangan Halaman
Rabu, 26 Agustus 2020
Ziarah kepada Abdul Azim Hasani as
Syekh Abdul Azim juga termasuk dari kelurga para manusia maksum as yang wajib dihormati, hirarki keturunan beliau bersambung ke empat orang yang ujungnya adalah Imam Hasan Mujtaba as. Beliau adalah Abdul Azim bin Abdullah bin Ali bin Hasan bin Zaid bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib as. Makamnya terletak di Ray, kota yang terkenal. Keagungan dan kemuliaannya lebih jelas dari matahari, sebab beliau termasuk dari cucu Nabi saw, ahli hadis ternama, pembesar para ulama, zuhud, warak dan bertakwa. Beliau salah satu sahabat Imam Muhammad Jawad dan Imam Ali Hadi as yang selalu tunduk, patuh dan taat kepada mereka berdua. Beliau banyak meriwayatkan hadis dari mereka. Beliau adalah pengarang buku Khathab Amirul Mukminin as (Khotbah-khotbah Amirul Mukminin) dan buku al-Yawm wa al-Laylah. Beliaulah orang yang pernah berkata kepada Imam Ali Hadi as dengan ungkapan membenarkan beliau, “Demi Allah, ini adalah agama Allah yang diridhai, tetapkanlah dia atasnya, semoga Allah menetapkanmu dengan Qawlun Tsâbit di dunia dan akhirat.”
Shahib bin Ubbad telah menulis risalah ringkas mengenai sosok besar ini. Syekh Nuri menukil ringkasan tersebut di akhir bukunya al-Mustadrak. Di dalam buku itu dan buku Rijâl an-Najâsyi diceritakan bahwa Abdul Azim adalah seorang yang diintimidasi oleh penguasa saat itu. Kemudian dia pergi ke daerah-daerah lain menghindari penguasa yang menindasnya. Akhirnya, dia sampai ke kota Ray dan berdomosili di Sarbanan.
Diriwayat oleh Najasyi bahwa Sayid Abdul Azim tinggal di Sarab di rumah salah seorang pecinta Ahlulbait di Sikkatul Mawla. Di sana beliau terus beribadah, siang berpuasa dan malamnya melakukan shalat malam. Dia keluar secara sembunyi-sembunyi dan berziarah ke sebuah makam. Dia berkata, “Makam ini adalah makam putra Musa bin Ja‘far as.” Setelah sekian lama tinggal di Sarab, para pecinta Ahlulbait mengetahui kabar tentang siapa sebenarnya orang alim ini.
Salah seorang pecinta Ahlulbait as pernah melihat Rasululllah saw dalam mimpinya. Di dalam mimpinya, Rasulullah saw berkata kepadanya bahwa salah satu dari putra beliau akan dibawa dari Sikkatul Mawla dan dikebumikan di bawah pohon apel di kebun Abdul Jabbar bin Abdul Wahab, kemudian Rasulullah saw memperlihatkan makam tersebut kepadanya. Setelah bermimpi, laki-laki berniat membeli pohon tersebut berikut tanahnya dari pemiliknya. Setelah mengutarakan niatnya kepada pemilik pohon apel itu, sang pemilik pohon bertanya mengapa ia berniat membeli pohon apel berikut tanahnya. Kemudian dia menjawab dengan menceritakan mimpinya. Ternyata pemilik pohon apel itu juga pernah bermimpi sama seperti mimpinya.
Kemudian pohon apel itu diwakafkan kepada Sayid Abdul Azim dan para pecinta Ahlulbait as untuk dijadikan makam. Tak lama kemudian, Sayid Abdul Azim jatuh sakit dan meninggal dunia. Ketika jenazah beliau hendak dimandikan, ditemukan secarik kertas di sakunya bertuliskan, “Aku adalah Abul Qasim Abdul Azim bin Abdullah bin Ali bin Hasan bin Zaid bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib as.”
Shahib bin Ubbad meriwayatkan dari Abu Turab Ruyani dari Abi Hammad Razi yang berkata, “Aku pernah menemui Imam Ali Naqi as di Samara dan aku bertanya tentang halal dan haram kepadanya. Beliau menjelaskannya. Ketika aku hendak pergi, beliau berpesan kepadaku jika aku mendapat kesulitan dalam urusan agama di kota Ray, maka aku diminta bertanya kepada Abdul Azim bin Abdullah Hasani dan beliau menitipkan salam kepadanya.”
Muhaqqiq Mir Damad dalam bukunya ar-Rawâsyih berkata, “Banyak riwayat yang berbicara tentang keutamaan ziarah ke makam Abdul Azim. Diriwayatkan bahwa sesiapa yang berziarah kepadanya, maka surga balasannya.” Hadis ini juga diriwayatkan oleh Syahid Tsani ra dalam bukunya Hawâsyi al-Khalâshah. Ibnu Babuwaih dan Ibnu Quluweih dengan sanad akurat meriwayatkan dari seorang lelaki Ray yang meriwayatkan dari Imam Ali Naqi as. Lelaki Ray itu berkata, “Aku pernah berkunjung kepada beliau. Kemudian beliau bertanya di mana tempat tinggalku. Kemudian aku memeberitahu tempat tinggalku dan saat itu aku hendak berziarah ke pusara suci Imam Husain as. Beliau menjelaskan kepadaku bahwa jika aku berziarah ke makam Abdul Azim, pahalanya sama seperti orang yang berziarah ke makam Husain bin Ali as.”
Para ulama tidak menyebutkan tata cara ziarah khusus kepada beliau, namun Fakhrul Muhaqqiqin Jamaluddin dalam bukunya al-Mazâr menjelaskan bahwa tidak salah jika membaca ziarah berikut untuk beliau.
اَلسَّلاَمُ عَلَى آدَمَ صِفْوَةِ اللَّهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَى نُوحٍ نَبِيِّ اللَّهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلِ اللَّهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَى مُوْسَى كَلِيْمِ اللَّهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَى عِيْسَى رُوحِ اللَّهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا خَيْرَ خَلْقِ اللَّهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا صَفِيَّ اللَّهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ خَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلِيَّ بْنَ أَبِيْ طَالِبٍ وَصِيَّ رَسُولِ اللَّهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا فَاطِمَةُ سَيِّدَةَ نِسَاءِ الْعَالَمِيْنَ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمَا يَا سِبْطَيِ الرَّحْمَةِ وَ سَيِّدَيْ شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا عَلِيَّ بْنَ الْحُسَيْنِ سَيِّدَ الْعَابِدِيْنَ وَ قُرَّةَ عَيْنِ النَّاظِرِيْنَ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدَ بْنَ عَلِيٍّ بَاقِرَ الْعِلْمِ بَعْدَ النَّبِيِّ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا جَعْفَرَ بْنَ مُحَمَّدٍ الصَّادِقَ الْبَارَّ اْلأَمِيْنَ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا مُوْسَى بْنَ جَعْفَرٍ الطَّاهِرَ الطُّهْرَ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا عَلِيَّ بْنَ مُوْسَى الرِّضَا الْمُرْتَضَى، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدَ بْنَ عَلِيٍّ التَّقِيَّ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا عَلِيَّ بْنَ مُحَمَّدٍ النَّقِيَّ النَّاصِحَ اْلأَمِيْنَ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا حَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ، اَلسَّلاَمُ عَلَى الْوَصِيِّ مِنْ بَعْدِهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نُوْرِكَ وَ سِرَاجِكَ وَ وَلِيِّ وَلِيِّكَ وَ وَصِيِّ وَصِيِّكَ وَ حُجَّتِكَ عَلَى خَلْقِكَ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا السَّيِّدُ الزَّكِيُّ وَ الطَّاهِرُ الصَّفِيُّ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا ابْنَ السَّادَةِ اْلأَطْهَارِ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا ابْنَ الْمُصْطَفَيْنَ اْلأَخْيَارِ، اَلسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَ عَلَى ذُرِّيَّةِ رَسُولِ اللَّهِ وَ رَحْمَةُ اللَّهِ وَ بَرَكَاتُهُ، اَلسَّلاَمُ عَلَى الْعَبْدِ الصَّالِحِ الْمُطِيْعِ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَ لِرَسُوْلِهِ وَ لِأََمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا أَبَا الْقَاسِمِ ابْنَ السِّبْطِ الْمُنْتَجَبِ الْمُجْتَبَى، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا مَنْ بِزِيَارَتِهِ ثَوَابُ زِيَارَةِ سَيِّدِ الشُّهَدَاءِ يُرْتَجَى، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ عَرَّفَ اللَّهُ بَيْنَنَا وَ بَيْنَكُمْ فِي الْجَنَّةِ وَ حَشَرَنَا فِي زُمْرَتِكُمْ وَ أَوْرَدَنَا حَوْضَ نَبِيِّكُمْ وَ سَقَانَا بِكَأْسِ جَدِّكُمْ مِنْ يَدِ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ أَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يُرِيَنَا فِيْكُمُ السُّرُوْرَ وَ الْفَرَجَ وَ أَنْ يَجْمَعَنَا وَ إِيَّاكُمْ فِيْ زُمْرَةِ جَدِّكُمْ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ أَنْ لاَ يَسْلُبَنَا مَعْرِفَتَكُمْ إِنَّهُ وَلِيٌّ قَدِيْرٌ أَتَقَرَّبُ إِلَى اللَّهِ بِحُبِّكُمْ وَ الْبَرَاءَةِ مِنْ أَعْدَائِكُمْ وَ التَّسْلِيْمِ إِلَى اللَّهِ رَاضِياً بِهِ غَيْرَ مُنْكِرٍ وَ لاَ مُسْتَكْبِرٍ وَ عَلَى يَقِيْنِ مَا أَتَى بِهِ مُحَمَّدٌ نَطْلُبُ بِذَلِكَ وَجْهَكَ يَا سَيِّدِيْ، اَللَّهُمَّ وَ رِضَاكَ وَ الدَّارَ اْلآخِرَةَ يَا سَيِّدِيْ وَ ابْنَ سَيِّدِيْ إِشْفَعْ لِيْ فِي الْجَنَّةِ فَإِنَّ لَكَ عِنْدَ اللَّهِ شَأْناً مِنَ الشَّأْنِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أََسْأَلُكَ أَنْ تَخْتِمَ لِيْ بِالسَّعَادَةِ فَلاَ تَسْلُبْ مِنِّيْ مَا أَنَا فِيْهِ وَ لاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، اَللَّهُمَّ اسْتَجِبْ لَنَا وَ تَقَبَّلْهُ بِكَرَمِكَ وَ عِزَّتِكَ وَ بِرَحْمَتِكَ وَ عَافِيَتِكَ وَ صَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ أَجْمَعِيْنَ وَ سَلَّمَ تَسْلِيْماً، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Salam kepadamu wahai Adam pilihan Allah! Salam kepadamu wahai Nuh Nabi Allah! Salam kepadamu wahai Ibrahim kekasih Allah! Salam kepadamu wahai Musa lisan Allah! Salam kepadamu wahai Isa ruhullah! Salam kepadamu wahai Rasulullah! Salam kepadamu wahai sebaik-baik ciptaan Allah! Salam kepadamu wahai pilihan Allah! Salam kepadamu wahai Muhammad bin Abdillah penutup para nabi! Salam kepadamu wahai Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib washi Rasulullah! Salam kepadamu wahai Fathimah pemimpin wanita semesta alam! Salam kepada kalian berdua wahai cucu nabi dan penghulu pemuda surga! Salam kepadamu wahai Ali bin Husain tuan orang yang ahli ibadah dan penyejuk mata! Salam kepadamu wahai Muhammad putra Ali gudang ilmu setelah Nabi! Salam kepadamu wahai Ja‘far bin Muhammad yang jujur, baik dan dipercaya! Salam kepadamu wahai Musa bin Ja‘far yang suci! Salam kepadamu wahai Ali Ridha al-Murtadha putra Musa! Salam kepadamu wahai Muhammad Taqi putra Ali! Salam kepadamu wahai Ali putra Muhammad yang suci dan penasihat yang jujur! Salam kepadamu wahai Hasan putra Ali! Salam kepadamu wahai washi setelahnya! Ya Allah, anugerahkanlah shalawat kepada cahaya-Mu, penerang-Mu, wali dari wali-Mu, washi dari wasi-Mu dan hujah-Mu atas ciptaan-Mu! Salam kepadamu wahai tuan yang suci, bersih dan tulus! Salam kepadamu wahai putra Imam-imam suci! Salam kepadamu wahai putra hamba-hamba pilihan yang baik, salam kepada Rasulullah dan keluarga Rasulullah, semoga rahmat Allah dan berkah-Nya selalu menyertainya, salam kepada hamba yang saleh, taat kepada Allah Tuhan alam semesta, taat kepada Rasul-Nya dan Amirul Mukminin! Salam kepadamu wahai Abal Qasim putra cucu Hasan Mujtaba! Salam kepadamu wahai hamba yang pahala ziarahnya diharapkan seperti pahala ziarah tuan para syahid (Imam Husain)! Salam kepadamu, semoga Allah memperkenalkan kami kepada kalian di surga, memasukkan kami ke dalam kelompok kalian, menyertakan kami ke telaga nabimu dan menyuguhi kami air dengan gelas kakakmu lewat tangan Ali bin Abi Thalib, shalawat Allah kepada kalian, aku memohon kepada Allah agar memperlihatkan kebahagiaan dan kesejahteraan kepada kalian, menghimpun kami bersama kalian di sisi kakek kalian, Muhammad saw dan tidak menghilangkan makrifat dan kecintaan kami kepada kalian dari hati kami! Sesunnguhnya Dia Mahamampu! Aku mendekatkan diri kepada Allah melalui kecintaan kepada kalian, lepas tangan dari musuh-musuh kalian dan tunduk kepada Allah dengan kerelaan hati, tidak ingkar dan tidak sombong, aku yakin kepada semua yang telah dibawa oleh Muhammad, karena keimanan ini aku merindukanmu wahai junjunganku! Ya Allah, aku mengharap ridha-Mu dan kebahagiaan akhirat! Wahai junjunganku dan putra tuanku syafaatilah aku di surga karena sesungguhnya engkau memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah! Ya Allah, aku memohon-Mu untuk mengakhiri kehidupanku dengan kebahagiaan, maka jangan ambil keyakinan ini dariku, tiada kekuatan kecuali kekuatan Allah Yang Maha agung! Ya Allah, terimalah kami dengan perantara kemuliaan, keagungan, rahmat, dan kemurahan-Mu! Semoga allah menganugerahkan shalawat dan salam kepada Muhammad dan keluarganya, wahai yang Maha Pengasih dari segala pengasih!
Muhaqqiq Jamaluddin berkata, “Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa Abdul Azim ketika di Ray selalu keluar secara sembunyi-sembunyi untuk menziarahi makam yang sekarang ini berhadap-hadapan dengan makamnya. Di tengah-tengah dua makam itu terdapat jalan yang mengantarkan para peziarah langsung menuju ke makam putra Musa bin Ja‘far as. Di sana juga terdapat makam Hamzah putra Imam Musa as. Sangat besar kemungkinannya bahwa makam itu adalah makam yang diziarahi oleh Abdul Azim. Tidak ada salahnya jika makam itu diziarahi dengan ziarah di atas hanya saja kalimat Assalâmu ‘alayka ya Abal-Qasim dan kalimat setelahnya tidak dibaca. Bahwa makam panutan para ahli tafsir, yaitu Syekh Jamaluddin Abil-Futuh Husain bin Ali Khuzai pengarang tafsir yang tersohor berada di lokasi makam Hamzah as, makam beliau juga bisa diziarahi. Makam Syekh Shaduq ahli hadis yang terkenal dengan sebutan Ibnu Babuwaih ada di daerah yang dekat dengan daerah Abdul Azim, maka jangan lupa pula untuk menziarahinya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar