Total Tayangan Halaman

Rabu, 26 Agustus 2020

Keutamaan Berziarah Kepada Imam Husain As

(Dalam pasal ini akan dibahas keutamaan ziarah), tatakrama yang harus diperhatikan oleh seorang peziarah ketika dia masih berada di tengah perjalanan dan di makam suci beliau dan cara berziarah kepada beliau. Dengan demikian, pasal ini terdiri dari tiga bagian: Keutamaan Berziarah Kepada Imam Husain as Katahuilah bahwa keutamaan berziarah kepada Imam Husain as tidak dapat dijelaskan dengan ucapan. Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa berziarah kepada beliau as adalah sama dengan melaksanakan haji, umrah dan jihad, bahkan lebih tinggi dan utama beberapa derajat dari semua itu, dapat mendatangkan ampunan, meringankan perhitungan amal (hisab), meninggikan derajat, terkabulnya doa, memanjangkan umur, menjaga badan dan harta, menambah rezeki, terkabulkannya segala hajat dan menghilangkan kesedihan dan kegundahan. Dan meninggalkan hal itu adalah menyebabkan kelemahan dalam agama, iman dan pelecehan terhadap salah satu hak dari hak-hak Rasulullah saw. Minimal pahala yang akan diperoleh oleh orang yang berziarah ke makam suci beliau as adalah dosa-dosanya akan diampuni, Allah Swt akan menjaga jiwa dan hartanya hingga Dia mengembalikannya kepada keluarganya dan pada hari Kiamat, Dia akan lebih menjaganya daripada di dunia. Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa berziarah kepada beliau dapat menghilangkan kesedihan dan memudahkan napas terakhir terhembus dan kedahsyatan alam kubur, serta setiap harta yang dikeluarkan untuk berziarah kepada beliau, setiap dirhamnya akan diberi pahala seribu dirham, bahkan sepuluh ribu dirham. Ketika dia menuju ke makan beliau as, dia akan disambut oleh empat ribu malaikat dan ketika dia ingin pulang, mereka akan mengiringinya. Para nabi, para washi mereka, para imam suci as dan para malaikat akan datang berziarah ke makam suci beliau as seraya mendoakan para peziarahnya dan memberikan berita gembira kepada mereka, serta Allah Swt akan memandang mereka dengan pandangan penuh rahmat melebihi para jamaah haji di Arafah. Pada hari Kiamat karena menyaksikan kemuliaan dan keagungan beliau as, setiap orang berharap seandainya dia dapat berziarah ke makan beliau as (ketika masih di dunia). Hadis-hadis dalam hal ini sangat banyak sekali dan dalam beberapa hadis khusus kami akan menyebutkan keutamaan berziarah kepada beliau as. Pada kesempatan ini, kami hanya akan menyebutkan satu hadis saja. Ibnu Qaulawaeh, Allamah Kulaini, Sayid Ibnu Thawus dan yang lain meriwayatkan dari seorang tsiqah (kepercayaan) yang agung, Muawiyah bin Wahab Bajali Kufi dengan sanad-sanad muktabar bahwa dia berkata, “Pada suatu saat aku pernah bertamu ke rumah Imam Ja‘far Shadiq as. Kulihat beliau sedang mengerjakan shalat di mihrabnya. Aku duduk (menunggu) hingga shalat beliau usai. Beliau bermunajat kepada Allah seraya berkata, ‘Wahai Tuhan yang telah mengistimewakan kami dengan kemuliaan, menjanjikan kami dengan syafaat, menganugerahkan kepada kami ilmu risalah, menjadikan kami sebagai pewaris para nabi, menutup umat-umat terdahulu dengan kami, menjadikan kami sebagai (pengemban) wasiat khusus Rasulullah saw, menganugerahkan kepada kami ilmu umat terdahulu dan terakhir dan menyondongkan hati umat manusia kepada kami, ampunilah aku, seluruh saudaraku dan para peziarah ayahku, Husain bin Ali as. Yaitu, mereka yang telah bersedia mengeluarkan harta dan keluar dari kota-kota mereka karena mengharapkan kebaikan kami, berharap pahala-Mu dengan menyambung silaturahmi kepada kami, ingin membahagiakan Rasul-Mu, mendengarkan perintah-perintah kami, membuat para musuh marah (dengan pekerjaan itu) dan tujuan mereka hanyalah keridhaan-Mu. Oleh karena itu, balaslah mereka dengan keridhaan-Mu, jagalah mereka siang dan malam, jadilah pengganti mereka yang baik (untuk menjaga) keluarga dan anak-anak yang mereka tinggalkan di negeri mereka, jadilah Sahabat mereka, tolaklah dari mereka kejahatan setiap penguasa yang jahat dan seluruh makhluk, baik yang lemah maupun yang kuat, serta kejahatan seluruh setan, jin dan manusia dan anugerahkan kepada mereka sesuatu yang lebih dari apa yang mereka harapkan dari-Mu dengan mereka rela meninggalkan negeri mereka dan lebih mementingkan kami daripada keluarga dan anak-anak mereka. Ya Allah! Para musuh kami mencela mereka karena mereka telah keluar untuk berziarah kepada kami dan hal itu tidak menjadi penghalang bagi tekad mereka dan bagi kehendak untuk keluar menuju kami meskipun mereka tidak suka. Maka, kasihanilah wajah-wajah mereka yang terbakar oleh terik matahari itu, rahmatilah pipi-pipi yang dibolak-balikkan di atas makam suci Abi Abdillah as, kasihanilah mata-mata yang telah menangis karena kasihan kepada kami, rahmatilah hati-hati yang terbakar karena (mengingat) musibah kami dan kasihanilah jeritan-jeritan yang membumbung tinggi mengenang musibah kami. Ya Allah! Kutitipkan jiwa dan tubuh-tubuh itu kepada-Mu sehingga Kaupuaskan mereka dengan air telaga Kautsar pada hari kehausan.’ Beliau membaca doa-doa itu secara terus-menerus dalam kondisi sujud. Ketika beliau telah menyelesaikan semua itu, aku bertanya, ‘Jika doa yang telah kudengarkan dari Anda itu Anda doakan untuk orang yang tidak mengenal Allah, aku yakin bahwa api Neraka tidak akan pernah menyentuhnya. Demi Allah, seandainya aku berziarah kepada beliau as dan tidak pergi haji.’ Beliau berkata, ‘Engkau sangat dekat dengannya. Apa yang mencegahmu untuk berziarah, wahai Muawiyah? Janganlah engkau tinggalkan ziarah itu.’ ‘Semoga aku menjadi tebusan Anda! Aku tidak pernah tahu jika ziarah itu memiliki pahala yang tak terhingga,’ jawabku. Beliau berkata, ‘Wahai Muawiyah, mereka yang mendoakan para peziarah beliau di langit adalah lebih banyak dari mereka yang mendokan mereka di bumi. Janganlah engkau tinggalkan berziarah kepada beliau karena takut kepada seseorang. Karena orang yang meninggalkan ziarah karena takut, dia akan sangat menyesal sehingga dia akan berharap supaya dapat tinggal di sisi makam suci beliau dan dikuburkan di sana. Apakah engkau tidak ingin Allah melihatmu berada di antara orang-orang yang didoakan oleh Rasulullah, Ali, Fathimah dan para imam suci as? Apakah engkau tidak ingin bersama orang-orang yang dijabat-tangani oleh para malaikat? Apakah engkau tidak ingin berada di antara orang-orang yang datang pada hari Kiamat sedang mereka tidak memiliki dosa sedikit pun? Apakah engkau tidak ingin berada di antara orang-orang yang dijabat-tangani oleh Rasulullah pada hari Kiamat?’”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar