Total Tayangan Halaman

Rabu, 26 Agustus 2020

Tatakrama yang Harus Diperhatikan oleh Para Peziarah Imam Husain as, Baik Ketika Masih Berada di Jalan Maupun di Makam

Tatakrama yang Harus Diperhatikan oleh Para Peziarah Imam Husain as, Baik Ketika Masih Berada di Jalan Maupun di Makam Pertama , Berpuasa selama tiga hari sebelum Anda keluar dari rumah. Mandilah pada hari ketiga sebagaimana Imam Shadiq as memerintahkan Shafwan Jammal untuk melakukan mandi dan tata caranya akan disebutkan dalam pembahasan ziarah ketujuh. Syekh Muhammad bin Masyhadi dalam mukadimah ziarah dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) berkata, “Jika Anda ingin berziarah kepada beliau as, maka berpuasalah selama tiga hari dan pada hari ketiga mandilah, kumpulkanlah keluarga Anda seraya membaca doa, اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَوْدِعُكَ الْيَوْمَ نَفْسِي وَ أَهْلِي وَ مَالِي وَ وُلْدِي وَ كُلَّ مَنْ كَانَ مِنِّي بِسَبِيْلٍ الشَّاهِدَ مِنْهُمْ وَ الْغَائِبَ، اللَّهُمَّ احْفَظْنَا بِحِفْظِكَ بِحِفْظِ اْلإِيْمَانِ وَ احْفَظْ عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِي حِرْزِكَ وَ لاَ تَسْلُبْنَا نِعْمَتَكَ وَ لاَ تُغَيِّرْ مَا بِنَا مِنْ نِعْمَةٍ وَ عَافِيَةٍ وَ زِدْنَا مِنْ فَضْلِكَ، إِنَّا إِلَيْكَ رَاغِبُوْنَ Ya Allah! Pada hari ini, kutitipkan kepada-Mu diriku, keluarga, harta dan anak-anakku, serta seluruh orang yang memiliki hubungan denganku, baik yang hadir maupun yang tidak hadir. Ya Allah! Jagalah kami dengan penjagaan-Mu, penjagaan iman dan awasilah kami. Ya Allah! Jadikanlah kami dalam lindungan-Mu, jangan Kaucabut karunia-Mu dari kami, jangan Kauubah segala karunia dan kesehatan yang telah kami miliki dan tambahkanlah karunia-Mu terhadap kami. Sesungguhnya kami selalu merindukan-Mu. Setelah itu, keluarlah dari rumah Anda dengan khusyuk dan bacalah selalu, لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَ اللَّهِ أَكْبَرُ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ ‏ Tiada tuhan selalin Allah, Allah Mahabesar dan segala puji bagi Allah. Ucapkanlah pujian kepada Allah dan kirimkanlah shalawat atas Muhammad dan keluarganya as. Lalu, melangkahlah pelan-pelan dan penuh kewibawaan. Disebutkan dalam sebuah hadis bahwa Allah akan menciptakan 70.000 malaikat yang selalu bertasbih kepada Allah dan memintakan ampun untuknya dan untuk seluruh peziarah beliau hingga hari Kiamat terjadi dari setiap tetesan keringat para peziarah Imam Husain as. Kedua , Diriwayatkan dari Imam Shadiq as, “Jika Engkau pergi berziarah kepada Imam Husain as, maka berziarahlah kepada beliau dalam keadaan sedih, rambut yang awut-awutan, berlumuran debu, lapar dan haus, karena beliau syahid dalam keadaan demikian, mintalah seluruh hajatmu dan kembalilah (ke rumahmu), serta janganlah kau jadikan makam suci itu sebagai tempat berdomisilimu.” Ketiga , Janganlah membawa bekal makanan yang lezat, seperti ayam bakar dan manis-manisan, bahkan bawalah bekal roti dan susu atau yoghurt saja. Diriwayatkan bahwa Imam Shadiq as berkata, “Aku mendengar berita bahwa ada sebuah rombongan pergi berziarah kepada Imam Husain as dan mereka membawa bekal yang terdiri dari kambing bakar dan manis-manisan, sedangkan jika mereka pergi berziarah kepada kuburan ayah atau para sahabat mereka, mereka tidak membawa bekal yang sedemikian rupa.” Dalam sebuah hadis yang muktabar disebutkan bahwa beliau pernah berpesan kepada Mufadhdhal bin Umar, “Kalian berziarah kepada Imam Husain as lebih baik daripada kalian tidak menziarahi beliau dan kalian tidak menziarahi beliau lebih baik daripada kalian menziarahai beliau.’ ‘Anda telah membuatku pusing (untuk memahami maksud Anda),’ kata Mufadhdhal. Beliau berkata, ‘Demi Allah, jika kalian berziarah ke kuburan ayah kalian, kalian pergi dalam kondisi sedih dan ketika kalian pergi berziarah kepada beliau, kalian membawa bekal (yang berwarna-warni). Berziarahlah kepada beliau dengan rambut yang awut-awutan dan berlumuran debu.’” Penulis berkata: Sangat layak sekali jika orang-orang kaya dan para saudagar memerhatikan hal ini dalam perjalanan ziarah (suci) ini. Ketika mereka diundang oleh para sahabat di sebuah negeri yang terdapat di pertengahan perjalanan mereka hingga Karbala atau sebelum berangkat telah disediakan bagi mereka acara makan siang yang terdiri dari masakan-masakan lezat dan dipenuhi oleh ayam-ayam panggang dan masakan-masakan panggangan lainnya, hendaknya mereka jangan menerima dan mengatakan kepada mereka, “Kami sedang dalam perjalanan menuju Karbala dan sangat tidak layak bagi kami untuk menyantap menu-menu masakan semacam ini. Syekh Kulaini ra meriwayatkan bahwa setelah kesyahidan Imam Husain as, istri beliau yang berasal dari Bani Kalb mendirikan acara bela sungkawa untuknya. Ia menangis disertai oleh seluruh wanita dan para pembantu yang hadir hingga air mata mereka kering dan tak dapat menetes lagi. Penduduk suatu daerah mengirimkan hadiah burung merpati kepada wanita yang sudah lemah itu dengan harapan dengan memakannya, ia dapat memiliki tenaga kembali sehingga dapat menangisi syahadah beliau kembali. Ketika melihat bingkisan itu, ia bertanya, “Bingkisan apakah ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah sebuah hadiah dari seseorang yang dikirim untuk Anda sehingga (dengan memakannya), Anda dapat memiliki energi kembali untuk menangisi Imam Husain as.’ Ia menjawab, ‘Kita tidak sedang berada dalam acara pernikahan. Kita tidak membutuhkannya.’” Lalu, ia memerintahkan supaya hadiah itu dibawa keluar. Keempat , Salah satu hal yang disunnahkan dalam perjalanan ziarah ke Imam Husain as adalah rendah hati dan berjalan sebagaimana hamba sahaya berjalan. Oleh karena itu, orang-orang yang dalam perjalanan ziarah menuju ke haribaan beliau as mengendarai alat-alat tranportasi modern yang digerakkan dengan kekuatan mesin hendaknya mereka berhati-hati jangan sampai menyombongkan diri, menganggap diri lebih agung dari hamba-hamba Allah yang berhasil datang ke Karbala dengan seribu kesulitan dan jangan menghina mereka. Ketika menceritakan kondisi Ashabul Kahfi, para ulama menulis bahwa mereka adalah orang dekat Diqyanus dan para menterinya. Ketika Allah mencurahkan rahmat-Nya atas mereka dan mereka mengambil keputusan untuk menyembah Allah dan membenahi diri, mereka melihat harus mengasingkan diri dari khalayak dan menyepi dalam sebuah goa untuk beribadah kepada Allah. Lalu, mereka pergi dengan mengendarai kuda dan keluar dari kota. Ketika mereka sudah mencapai tiga mil perjalanan, salah seorang dari mereka yang bernama Tamilkha berkata, “Wahai saudara-saudaraku, (jalan) kemiskinan menuju akhirat telah datang dan kerajaan dunia telah sirna. Oleh karena itu, turunlah dari kuda kalian dan berjalanlah di atas kaki kalian semoga Tuhan kalian mencurahkan rahmat-Nya atas kalian dan menciptakan jalan keluar bagi urusan kalian ini.” Serta-merta mereka turun dari kuda mereka dan pada hari itu, orang-orang mulia dan agung itu berjalan kaki sepanjang 7 farsakh sehingga kaki-kaki mereka terluka dan bercucuran darah. Atas dasar ini, hendaknya para perziarah makam suci suci ini memerhatikan kisah tersebut dan mengetahui bahwa ketika mereka semakian merendahkan diri dalam perjalanan ziarah ini, hal itu akan menyebabkan tingginya kedudukan mereka. Oleh karena itu, berkenaan dengan tatakrama berziarah kepada beliau diriwayatkan dari Imam Shadiq as bahwa sesiapa berziarah ke makam suci Imam Husain as dengan berjalan kaki, Allah akan menuliskan baginya seribu kebaikan untuk setiap langkahnya dan menghapus seribu dosa, serta mengangkat derajatnya sebanyak seribu derajat di surga. Ketika Anda telah sampai di tepi sungai Efrat, madilah di situ, telanjangilah kaki Anda, tentenglah alas kaki Anda dan berjalanlah sebagaiman hamba sahaya berjalan. Kelima , Jika Anda melihat seorang peziarah di pertengahan jalan yang sudah kelelahan dan kehabisan bekal, lalu dia meminta pertolongan kepada Anda, hendaknya—jika mungkin—Anda memerhatikannya dan membawanya hingga ke rumahnya. Jangan sampai Anda meremehkan dan tidak memedulikannya. Syekh Kulaini ra meriwayatkan dengan sanad yang muktabar dari Abu Harun bahwa dia bercerita, “Suatu hari aku berada di rumah Imam Shadiq as. Beliau berkata kepada orang-orang yang hadir di situ, ‘Apa yang telah terjadi pada kalian sehingga kalian meremehkan kami?’ Salah seorang dari penduduk Khurasan bangun dari duduknya seraya berkata, ‘Kami berlindung kepada Allah atas peremehan kami terhadap Anda atau atas perintah Anda.’ ‘Engkau termasuk salah seorang yang telah meremehkan dan menghinakanku,’ kata beliau. ‘Aku berlindung kepada Allah jika aku telah menghinakan Anda,’ jawab lelaki itu. ‘Celakalah engkau! Apakah engkau tidak mendengar ucapan si Fulan ketika kalian berada di dekat Juhfah. Dia berkata kepadamu, ‘Bawalah aku menaiki tunggangan kalian sejauh 1 mil. Demi Allah, aku telah merasa kelelahan.’ Demi Allah, engkau tidak mendongahkan kepalamu sedikit pun dan meremehkannya. Sesiapa menghina seorang Mukmin, dia telah menghinakan kami dan mengenyahkan kehormatan Allah,’” kata beliau selanjutnya. Penulis berkata : Kami telah menyebutkan sebuah hadis dari Ali bin Yaqthin yang sangat sesuai dengan pembahasan ini dalam pembahasan tatakrama berziarah, tatakrama kesembilan. Silakan Anda merujuk ke pembahasan tersebut, niscaya Anda menemukan sebuah nasihat yang baik. Tatakrama yang telah disebutkan di atas tidak hanya dikhususkan untuk para peziarah Imam Husain as. Akan tetapi, karena hal itu sering terjadi dalam perjalanan ziarah ke makam suci beliau as, kami menyebutkannya pada kesempatan ini. Keenam , Diriwayatkan dari Muhammad bin Muslim, seorang tsiqah yang agung bahwa dia pernah bertanya kepada Imam Muhammad Baqir as, “Ketika kami ingin pergi berziarah ke makam suci ayah Anda, Husain bin Ali as, apakah kami juga harus berperilaku sebagaimana kami berada di dalam ibadah haji?’ ‘Ya,’ jawab beliau. ‘Jika begitu, diwajibkan atas kami apa yang diwajibkan atas para jamaah haji?,’ tanyanya kembali. Beliau menjawab, ‘Hendaknya engkau berperilaku baik kepada sahabatmu, hendaknya engkau sedikit berbicara kecuali berbiacara kebaikan, hendaknya engkau selalu mengingat Allah, hendaknya pakaianmu selalu bersih, hendaknya engkau mandi sebelum memasuki makam, hendaknya engkau selalu khusyuk dan mengerjakan shalat, selalu mengirimkan shalawat atas Muhammad dan keluarganya, hendaknya engkau menghindarkan dirimu dari hal-hal yang tidak layak bagimu, hendaknya engkau menutup matamu dari segala yang haram dan syubhat dan berbuat kebajikan kepada saudara Mukminmu yang sedang ditimpa kesusahan. Jika engkau melihat seseorang yang kehabisan bekal, hendaknya engkau menanggungnya dan membagikan bekalmu dengannya secara sama. Hendaknya engkau melakukan taqiyah, karena tegaknya agamamu hanya dengannya, menghindarkan diri dari segala sesuatu yang telah dilarang oleh Allah dan meninggalkan permusuhan, bersumpah serapah dan berdebat yang disertai dengan sumpah. Jika engkau telah melakukan demikian, maka engkau akan mendapatkan pahala haji dan umrah dan engkau berhak untuk memperoleh pengampunan dosa dan keridhaan Allah dari orang yang engkau meminta pahala darinya dengan mengeluarkan harta dan jauh dari keluarga (demi berziarah) itu.’” Ketujuh , Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hamzah Tsumali dari Imam Shadiq as berkenaan dengan berziarah kepada Imam Husain as disebutkan bahwa ketika Anda telah sampai di Nainawa, letakkanlah semua bekal Anda di situ, jangan memakai minyak (untuk pelembab misalnya), jangan memakai celak mata dan jangan memakan daging selama Anda berdomisili di sana. Kedelapan , Mandi dengan air sungai Efrat. Banyak sekali hadis yang telah menjelaskan keutamaan mandi dengan air sungai itu. Dalam sebuah hadis dari Imam Shadiq as bahwa sesiapa mandi dengan air sungai Efrat dan berziarah ke makam suci Imam Husain as, dia akan terkosongkan dari dosa seperti pada hari dia dilahirkan dari ibunya meskipun dia memiliki dosa besar. Diriwayatkan bahwa beliau pernah ditanya, “Sering kali kami berziarah ke makam suci Imam Husain as dan sangat sulit bagi kami untuk melakukan mandi ziarah karena dinginnya cuaca atau karena sebab lain.’ Beliau menjawab, ‘Sesiapa mandi di sungai Efrat dan menziarahi makam suci Husain as, maka akan ditulis baginya keutamaan yang tak terhitung jumlahnya.’” Diriwayatkan dari Dasyir Dahhan bahwa Imam Shadiq as berkata, “Sesiapa menziarahi kubur Husain bin Ali as, lalu dia berwudhu dan mandi di sungai Efrat, maka dia tidak akan melangkahkan kaki kecuali Allah akan menulis baginya (pahala) haji dan umrah.” Dalam sebagian hadis disebutkan bahwa mandilah di sungai Efrat di tempat yang berhadapan dengan makam suci beliau. Dan alangkah baiknya—sebagaimana dapat dipahami dari beberapa hadis—ketika Anda sampai di sungai Efrat, bacalah Allâhu akbar, lâ ilâha illa-llâh dan shalawat atas Rasulullah saw dan keluarga beliau masing-masing sebanyak seratus kali. Kesembilan , Ketika Anda ingin memasuki makam, masuklah dari pintu yang berada di sebelah Timur sebagaimana Imam Shadiq as telah memerintahkan Yusuf Kannas untuk melakukan demikian. Kesepuluh , Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Qaulawaeh disebutkan bahwa Imam Shadiq as berkata kepada Mufadhdhal bin Umar, “Wahai Mufadhdhal, ketika engkau telah sampai di makam suci Imam Husain as, berdirilah di depan pintu Raudhah dan bacalah bacaan berikut ini, karena untuk setiapnya, engkau akan mendapatkan rahmat Ilahi.” السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا وَارِثَ آدَمَ صَفْوَةِ اللَّهِ، Salam sejahtera atasmu, wahai pewaris Adam, pilihan Allah. السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا وَارِثَ نُوْحٍ نَبِيِّ اللَّهِ، Salam sejahtera atasmu, wahai pewaris Nuh, Nabi Allah. السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا وَارِثَ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلِ اللَّهِ، Salam sejahtera atasmu, wahai pewaris Ibrahim, Khalilullah. السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا وَارِثَ مُوْسَى كَلِيْمِ اللَّهِ، Salam sejahtera atasmu, wahai pewaris Musa, Kalimullah. السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا وَارِثَ عِيْسَى رُوْحِ اللَّهِ، Salam sejahtera atasmu, wahai pewaris Isa, Ruhullah. السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا وَارِثَ مُحَمَّدٍ حَبِيْبِ اللَّهِ، Salam sejahtera atasmu, wahai pewaris Muhammad, kekasih Allah. السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا وَارِثَ عَلِيٍّ وَصِيِّ رَسُوْلِ اللَّهِ، Salam sejahtera atasmu, wahai pewaris Ali, washi Rasulullah. السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا وَارِثَ الْحَسَنِ الرَّضِيِّ، Salam sejahtera atasmu, wahai pewaris Hasan ar-Radhi. السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا وَارِثَ فَاطِمَةَ بِنْتِ رَسُوْلِ اللَّهِ، Salam sejahtera atasmu, wahai pewaris Fathimah, putri Rasulullah. السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا الشَّهِيْدُ الصِّدِّيْقُ، Salam sejahtera atasmu, wahai syahid yang benar. السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا الْوَصِيُّ الْبَارُّ التَّقِيُّ، Salam sejahtera atasmu, wahai washi yang selalu berbuat kebajikan dan bertakwa. السَّلاَمُ عَلَى اْلأَرْوَاحِ الَّتِي حَلَّتْ بِفِنَائِكَ وَ أَنَاخَتْ بِرَحْلِكَ، Salam atas ruh-ruh yang terbaring di haribaanmu dan tinggal di (sekitar) pembaringanmu. السَّلاَمُ عَلَى مَلآئِكَةِ اللَّهِ الْمُحْدِقِيْنَ بِكَ، Salam atas para malaikat Allah yang mengelilingimu. أَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ أَقَمْتَ الصَّلاَةَ وَ آتَيْتَ الزَّكَاةَ وَ أَمَرْتَ بِالْمَعْرُوْفِ وَ نَهَيْتَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ عَبَدْتَ اللَّهَ مُخْلِصًا حَتَّى أَتَاكَ الْيَقِيْنُ، Aku bersaksi bahwa engkau telah mendirikan shalat, menuniakan zakat, memerintahkan kebaikan, mencegah kemungkaran dan menyembah kepada Allah dengan tulus sehingga ajal datang menghampirimu. السَّلامُ عَلَيْكَ وَ رَحْمَةُ اللَّهِ وَ بَرَكَاتُهُ Salam sejahtera atasmu, begitu juga rahmat Allah dan berkah-Nya. Kemudian, melangkahlah menuju makam. Untuk setiap langkah yang Anda langkahkan, Anda akan mendapatkan pahala orang yang sedang menggeliat-geliat di dalam darahnya karena membela Allah. Ketika Anda telah mendekati makam, usapkanlah tangan Anda di atas makam suci dan bacalah, السَّلامُ عَلَيْكَ يَا حُجَّةَ اللَّهِ فِي أَرْضِهِ وَ سَمَائِهِ‏ Salam sejahtera atasmu, wahai hujah Allah di bumi dan di langit-Nya. Setelah itu, melangkahlah untuk melakukan shalat. Untuk setiap rakaat yang Anda kerjakan di sisi makam suci beliau, Anda akan mendapatkan pahala orang yang telah melakukan haji dan umrah sebanyak seribu kali, membebaskan seribu budak dan melakukan jihad bersama seorang nabi utusan sebanyak seribu kali. Kesebelas , Diriwayatkan dari Abu Sa‘id Madaini bahwa dia berkata, “Saya pernah menjumpai Imam Shadiq as dan bertanya, ‘Bagaimana jika aku pergi menziarahi makam suci Husain as?’ ‘Ya! Pergilah berziarah ke makam suci Husain as. Beliau adalah putra Rasulullah saw, orang terbaik, orang tersuci dan sebaik-baik orang-orang yang berbuat kebajikan. Jika engkau menziarahi beliau, bacalah di dekat kepala beliau Tasbih Amirul Mukminin as sebanyak seribu kali dan bacalah Tasbih Sayidah Fathimah Zahra as di kaki beliau sebanyak seribu kali. Kemudian, kerjakanlah shalat di dekat beliau sebanyak dua rakaat dan bacalah surah Yâsîn dan ar-Rahmân di dua rakaat itu. Jika engkau telah melakukan demikian, engkau akan mendapatkan pahala yang sangat besar,’ jawab beliau. ‘Semoga jiwaku menjadi tebusan Anda! Ajarkanlah kepadaku Tasbih Ali dan Tasbih Fathimah,’ tanyaku lagi. Beliau menjawab, ‘Ya, akan kuajarkan padamu, wahai Abu Sa‘id. Tasbih Ali as adalah, سُبْحَانَ الَّذِي لاَ تَنْفَدُ خَزَائِنُهُ، سُبْحَانَ الَّذِي لاَ تَبِيْدُ مَعَالِمُهُ، سُبْحَانَ الَّذِي لاَ يَفْنَى مَا عِنْدَهُ، سُبْحَانَ الَّذِي لاَ يُشْرِكُ أَحَدًا فِي حُكْمِهِ، سُبْحَانَ الَّذِي لاَ اضْمِحْلاَلَ لِفَخْرِهِ، سُبْحَانَ الَّذِي لاَ انْقِطَاعَ لِمُدَّتِهِ، سُبْحَانَ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ Mahasuci Zat Yang tak pernah habis simpanan-Nya. Mahasuci Zat Yang tak pernah musnah tanda-tanda kekuasaan-Nya. Mahasuci Zat Yang tak akan fana segala yang berada di sisi-Nya. Mahasuci Zat Yang tidak mengikut sertakan seorang pun dalam hukum-Nya. Mahasuci Zat Yang tiada kesirnaan bagi kebanggaan-Nya. Mahasuci Zat Yang tiada keterputusan bagi masa-Nya. Mahasuci Zat Yang tiada tuhan selain-Nya. Dan Tasbih Sayidah Zahra as adalah, سُبْحَانَ ذِي الْجَلاَلِ الْبَاذِخِ الْعَظِيْمِ، سُبْحَانَ ذِي الْعِزِّ الشَّامِخِ الْمُنِيْفِ، سُبْحَانَ ذِي الْمُلْكِ الْفَاخِرِ الْقَدِيْمِ، سُبْحَانَ ذِي الْبَهْجَةِ وَ الْجَمَالِ، سُبْحَانَ مَنْ تَرَدَّى بِالنُّوْرِ وَ الْوَقَارِ، سُبْحَانَ مَنْ يَرَى أَثَرَ النَّمْلِ فِي الصَّفَا وَ وَقْعَ الطَّيْرِ فِي الْهَوَاءِ Mahasuci Zat Pemilik keagungan Yang Mahabesar nan Agung. Mahasuci Zat Pemiliki kemuliaan Yang Mahatinggi. Mahasuci Zat Pemilik kerajaan Yang cemerlang nan terdahulu. Mahasuci Zat Pemilik kecemerlangan dan keindahan. Mahasuci Zat Yang berselimut cahaya dan keagungan. Mahasuci Zat Yang Melihat bekas kaki semut di atas batu karang dan bekas burung di udara. Kedua belas , Mengerjakan shalat-shalat wajib dan sunnah di makam suci Imam Husain as. Karena shalat di sisi beliau as pasti dikabulkan. Sayid Ibnu Thawus ra berkata, “Berusahalah sekuat tenaga supaya jangan sampai Anda ketinggalan shalat wajib dan sunnah di makam suci suci ini. Telah disebutkan dalam sebuah hadis bahwa pahala shalat wajib di sisi beliau as adalah sama dengan ibadah haji dan pahala shalat sunnah adalah sama dengan ibadah umrah.” Penulis berkata: Dalam hadis Mufadhdhal telah disebutkan pahala yang tak terhingga bagi shalat di makam suci yang suci ini. Dalam sebuah hadis Imam Shadiq as yang dapat dibuat pegangan (muktabar) disebutkan bahwa sesiapa berziarah ke makam suci beliau as dan mengerjakan shalat sebanyak dua atau empat rakaat di sisi beliau as, akan ditulis baginya pahala haji dan umrah. Yang dapat dipahami dari lahiriah hadis ini adalah mengerjakan shalat selain shalat ziarah di belakang makam suci atau di dekat kepala beliau adalah sangat baik. Jika Anda mengerjakan shalat tersebut di dekat kepala beliau as, hendaknya Anda berdiri agak ke belakang sekiranya tidak berhadapan langsung dengan makam suci asli beliau. Dalam hadis Abu Hamzah Tsumali yang diriwayatkan dari Imam Shadiq as disebutkan bahwa kerjakanlah shalat sebanyak dua rakaat di dekat kepala beliau dan bacalah pada rakaat pertama surah al-Fâtihah dan surah Yâsîn dan pada rakaat kedua surah al-Fâtihah dan ar-Rahmân. Jika Anda menginginkan, kerjakanlah shalat itu di belakang makam. Akan tetapi, jika shalat itu dikerjakan di sebelah kepala beliau, hal itu adalah lebih baik. Jika Anda telah selesai mengerjakannya, kerjakanlah shalat sesuai dengan kehendak Anda. Akan tetapi, dua rakaat shalat ziarah itu hendaklah Anda lakukan di mana pun Anda melakukan ziarah kubur. Ibnu Qaulawaeh meriwayatkan dari Imam Baqir as bahwa beliau pernah berkata kepada seseorang, “Wahai Fulan, jika engkau memiliki sebuah hajat, apa yang mencegahmu untuk pergi berziarah ke makam suci Husain as, lalu kau kerjakan shalat sebanyak empat rakaat di sisi beliau dan setelah itu, kau mohon hajatmu itu? Sesungguhnya shalat wajib di sisi beliau adalah sama dengan ibadah haji dan shalat sunnah adalah sama dengan ibadah umrah.” Ketiga belas , Ketahuilah bahwa amalan utama di makam suci suci Imam Husain as adalah doa. Karena pengabulan doa di bawah kubah yang agung itu adalah salah satu anugerah yang telah dianugerahkan oleh Allah Swt sebagai ganti dari syahadah beliau. Dan seorang peziarah hendaknya menggunakan kesempatan baik ini sebaik-baiknya dan tidak bermalas-malasan dalam merendahkan diri (kepada Allah), bertaubat dan meminta hajat. Di samping doa-doa ziarah beliau as, terdapat doa-doa yang tak terhingga dengan kandungan yang sangat tinggi. Jika saya tidak mengambil keputusan untuk menulis kitab ini secara ringkas, niscaya akan kusebutkan sebagian darinya. Dan yang terbaik adalah membaca doa-doa dari kitab ash-Shahîfah as-Sajjâdiyyah, karena doa-doanya adalah yang terbaik. Di akhir bab ini, setelah menyebutkan doa-doa ziarah yang dapat dibaca ketika kita berziarah ke makam suci seorang imam, kami akan menyebutkan sebuah doa yang dapat dibaca di semua makam suci suci para imam as. Pada kesempatan ini, kami akan menyebutkan sebuah doa ringkas yang telah disebutkan bersamaan dengan sebagian doa-doa ziarah (dalam sebuah buku). Doa itu adalah sebagai berikut. Bacalah doa ini di dalam makam suci suci itu dengan tangan diangkat ke langit, اللَّهُمَّ قَدْ تَرَى مَكَانِي وَ تَسْمَعُ كَلاَمِي وَ تَرَى مَقَامِي (مَكَانِي) وَ تَضَرُّعِي وَ مَلاَذِيْ بِقَبْرِ حُجَّتِكَ وَ ابْنِ نَبِيِّكَ Ya Allah! Engkau telah melihat tempatku, mendengarkan ucapanku, melihat kedudukanku, kemerendahan diriku dan kebernaunganku kepada makam suci hujah-Mu dan putra Nabi-Mu, وَ قَدْ عَلِمْتَ يَا سَيِّدِي حَوَائِجِي وَ لاَ يَخْفَى عَلَيْكَ حَالِي، وَ قَدْ تَوَجَّهْتُ إِلَيْكَ بِابْنِ رَسُوْلِكَ وَ حُجَّتِكَ وَ أَمِيْنِكَ، Sedangkan Engkau telah mengetahui, wahai Tuanku seluruh hajatku dan tidak tersembunyi bagi-Mu keadaanku, aku telah menghadap kepada-Mu dengan (perantara) putra Rasul-Mu, hujah dan kepercayaan-Mu, وَ قَدْ أَتَيْتُكَ مُتَقَرِّبًا بِهِ إِلَيْكَ وَ إِلَى رَسُوْلِكَ فَاجْعَلْنِي بِهِ عِنْدَكَ وَجِيْهًا فِي الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ وَ مِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ، Dan datang kepada-Mu dengan mendekatkan diri melalui (perantara)nya kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu. Maka, jadikanlah aku melalui (perantara)nya sebagai orang yang berharga diri di sisi-Mu di dunia dan akhirat dan di antara orang-orang yang dekat (ke haribaan-Mu), وَ أَعْطِنِي بِزِيَارَتِيْ أَمَلِي، وَ هَبْ لِي مُنَايَ، Berikanlah kepadaku demi ziarahku ini harapanku. Anugerahkanlah kepadaku cita-citaku. وَ تَفَضَّلْ عَلَيَّ بِشَهْوَتِيْ (بِسُؤْلِي) وَ رَغْبَتِي، وَ اقْضِ لِي حَوَائِجِي، وَ لاَ تَرُدَّنِيْ خَائِبًا، وَ لاَ تَقْطَعْ رَجَائِي، وَ لاَ تُخَيِّبْ دُعَائِي، Kucurkanlah karunia atasku demi keinginan dan kerinduanku, wujudkanlah seluruh hajatku, janganlah Kautolak aku sia-sia, janganlah Kauputus harapanku, janganlah Kausia-siakan doaku, وَ عَرِّفْنِيَ اْلإِجَابَةَ فِي جَمِيْعِ مَا دَعَوْتُكَ مِنْ أَمْرِ الدِّينِ وَ الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ، وَ اجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ الَّذِيْنَ صَرَفْتَ عَنْهُمُ الْبَلاَيَا وَ اْلأَمْرَاضَ وَ الْفِتَنَ وَ اْلأَعْرَاضَ مِنَ الَّذِيْنَ تُحْيِيْهِمْ فِي عَافِيَةٍ وَ تُمِيْتُهُمْ فِي عَافِيَةٍ وَ تُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ فِي عَافِيَةٍ وَ تُجِيْرُهُمْ مِنَ النَّارِ فِي عَافِيَةٍ، Tunjukkanlah kepadaku pengabulan seluruh apa yang aku menyeru-Mu, baik berkenaan dengan urusan agama, dunia maupun akhirat, jadikanlah aku di antara hamba-hamba-Mu yang telah Kausingkirkan dari mereka segala malapetaka, penyakit, fitnah dan musibah; di antara hamba-hamba-Mu yang Engkau menghidupkan mereka dalam kesehatan, mematikan mereka dalam kesehatan, memasukkan mereka ke dalam surga dengan penuh sehat dan melindungi mereka dari api Neraka dengan penuh sehat, وَ وَفِّقْ لِي بِمَنٍّ مِنْكَ صَلاَحَ مَا أُؤَمِّلُ فِي نَفْسِي وَ أَهْلِي وَ وُلْدِي (وَلَدِي) وَ إِخْوَانِي وَ مَالِي وَ جَمِيْعِ مَا أَنْعَمْتَ بِهِ عَلَيَّ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ‏ Dan anugerahkanlah taufik kepadaku dengan karunia-Mu (untuk menggapai) kemaslahatan apa yang kuharapkan untuk diriku, keluarga, anak-cucu, seluruh saudara, harta dan seluruh karuniaku yang telah anugerahkan kepadaku, wahai Yang Lebih Pengasih dari para pengasih. Keempat belas , Di antara amalan-amalan (yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan) di dalam makam suci Imam Husain as adalah mengirimkan shalawat kepada beliau as. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa ketika hendak mengirimkan shalawat kepada Rasulullah saw dan kepada beliau as, berdirilah di dekat bahunya. Dan Sayid Ibnu Thawus as dalam kitab Mishbâhuz-Zâir setelah menyebutkan salah satu doa ziarah untuk beliau as menukil shalawat tersebut demikian, اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ وَ صَلِّ عَلَى الْحُسَيْنِ الْمَظْلُوْمِ الشَّهِيْدِ قَتِيْلِ الْعَبَرَاتِ وَ أَسِيْرِ الْكُرُبَاتِ صَلاَةً نَامِيَةً زَاكِيَةً مُبَارَكَةً يَصْعَدُ أَوَّلُهَا وَ لاَ يَنْفَدُ آخِرُهَا أَفْضَلَ مَا صَلَّيْتَ عَلَى أَحَدٍ مِنْ أَوْلاَدِ اْلأَنْبِيَاءِ وَ الْمُرْسَلِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، Ya Allah! Curahkanlah shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad dan curahkanlah shalawat atas Husain yang telah dizalimi dan syahid, yang terbunuh oleh air mata (yang menetes) dan terpenjara oleh malapetaka dan duka, shalawat yang berkembang biak, suci, penuh berkah yang awalnya naik (ke langit) dan akhirnya tak pernah sirna, shalawat paling utama yang pernah Kaucurahkan atas salah seorang dari putra-putra para nabi dan rasul, wahai Tuhan semesta alam. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى اْلإِمَامِ الشَّهِيْدِ الْمَقْتُوْلِ الْمَظْلُوْمِ الْمَخْذُوْلِ وَ السَّيِّدِ الْقَائِدِ وَ الْعَابِدِ الزَّاهِدِ الْوَصِيِّ الْخَلِيْفَةِ اْلإِمَامِ الصِّدِّيْقِ الطُّهْرِ الطَّاهِرِ الطَّيِّبِ الْمُبَارَكِ وَ الرَّضِيِّ الْمَرْضِيِّ وَ التَّقِيِّ الْهَادِي الْمَهْدِيِّ الزَّاهِدِ الذَّائِدِ الْمُجَاهِدِ الْعَالِمِ إِمَامِ الْهُدَى سِبْطِ الرَّسُوْلِ وَ قُرَّةِ عَيْنِ الْبَتُوْلِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ، Ya Allah! Curahkanlah shalawat atas Imam yang syahid, terbunuh, terzalimi, tercampakan (tanpa penolong), seorang pemimpin yang agung, seorang penghamba yang zahid, seorang washi, seorang khalifah, seorang pemimpin yang benar, suci, baik dan penuh berkah, seorang yang telah mendapatkan keridhaan Ilahi, seorang yang bertakwa yang selalu memberikan petunjuk dan mendapatkan petunjuk, seorang zahid pembela (kebenaran), seorang mujahid yang alim, Imam petunjuk, cucu Rasul dan mata hati al-Batul—shalawat Allah atasnya dan atas keluarganya. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِي وَ مَوْلاَيَ كَمَا عَمِلَ بِطَاعَتِكَ وَ نَهَى عَنْ مَعْصِيَتِكَ وَ بَالَغَ فِي رِضْوَانِكَ وَ أَقْبَلَ عَلَى إِيْمَانِكَ غَيْرَ قَابِلٍ فِيْكَ عُذْرًا سِرًّا وَ عَلاَنِيَةً، يَدْعُو الْعِبَادَ إِلَيْكَ وَ يَدُلُّهُمْ عَلَيْكَ وَ قَامَ بَيْنَ يَدَيْكَ يَهْدِمُ الْجَوْرَ بِالصَّوَابِ وَ يُحْيِي السُّنَّةَ بِالْكِتَابِ Ya Allah! Curahkanlah shalawat atas tuan dan maulaku sebagaimana dia telah melakukan ketaatan kepada-Mu, melarang maksiat kepada-Mu, berusaha keras dalam menggapai keridhaan-Mu, menyongsong keimanan kepada-Mu dengan tidak menerima alasan apa pun, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Dia telah mengajak para hamba kepada-Mu dan menuntun mereka menuju-Mu, serta dia berdiri di hadapan-Mu dengan meluluh-lantakkan kezaliman dengan kebenaran dan menghidupkan sunnah dengan kitab(-Mu). فَعَاشَ فِي رِضْوَانِكَ مَكْدُوْدًا وَ مَضَى عَلَى طَاعَتِكَ وَ فِي أَوْلِيَائِكَ مَكْدُوْحًا وَ قَضَى إِلَيْكَ مَفْقُوْدًا، لَمْ يَعْصِكَ فِي لَيْلٍ وَ لاَ نَهَارٍ، بَلْ جَاهَدَ فِيْكَ الْمُنَافِقِيْنَ وَ الْكُفَّارَ، Lalu, dia hidup dalam keridhaan-Mu dengan penuh susah-payah, pergi (dari dunia ini) atas dasar ketaatan kepada-Mu dan masuk dalam golongan para kekasih-Mu dengan jerih-payah dan menuju ke haribaan-Mu dengan terlenyapkan. Dia tidak pernah bermaksiat kepada-Mu siang dan malam, bahkan dia memerangi di jalan-Mu kaum munafik dan kafir. اللَّهُمَّ فَاجْزِهِ خَيْرَ جَزَاءِ الصَّادِقِيْنَ اْلأَبْرَارِ وَ ضَاعِفْ عَلَيْهِمُ الْعَذَابَ وَ لِقَاتِلِيْهِ الْعِقَابَ، فَقَدْ قَاتَلَ كَرِيْمًا وَ قُتِلَ مَظْلُوْمًا وَ مَضَى مَرْحُوْمًا، يَقُوْلُ أَنَا ابْنُ رَسُوْلِ اللَّهِ مُحَمَّدٍ وَ ابْنُ مَنْ زَكَّى وَ عَبَدَ، فَقَتَلُوْهُ بِالْعَمْدِ الْمُعْتَمَدِ، قَتَلُوْهُ عَلَى الْإِيْمَانِ وَ أَطَاعُوْا فِي قَتْلِهِ الشَّيْطَانَ وَ لَمْ يُرَاقِبُوْا فِيْهِ الرَّحْمَنَ، Ya Allah! Balaslah dia dengan sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang benar dan baik serta lipat-gandakanlah bagi mereka (para musuhnya) azab dan bagi para pembunuhnya siksa. Dia telah berperang dengan penuh kemuliaan dan terbunuh dalam keadaan terzalimi, serta pergi (menuju haribaan-Mu) dalam keadaan dirahmati. Dia berkata, “Akulah putra Rasulullah dan putra orang yang telah memberikan zakat (kepada para fakir-miskin) dan menyembah (Allah).” Lalu, mereka membunuhnya dengan sengaja, mereka membunuhnya karena keimanannya, dalam membunuhnya itu mereka telah menaati setan dan tidak takut kepada Zat Yang Maha Penyayang. اللَّهُمَّ فَصَلِّ عَلَى سَيِّدِي وَ مَوْلاَيَ صَلاَةً تَرْفَعُ بِهَا ذِكْرَهُ وَ تُظْهِرُ بِهَا أَمْرَهُ وَ تُعَجِّلُ بِهَا نَصْرَهُ وَ اخْصُصْهُ بِأَفْضَلِ قِسَمِ الْفَضَائِلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَ زِدْهُ شَرَفًا فِي أَعْلَى عِلِّيِّيْنَ وَ بَلِّغْهُ أَعْلَى شَرَفِ الْمُكَرَّمِيْنَ وَ ارْفَعْهُ مِنْ شَرَفِ رَحْمَتِكَ فِي شَرَفِ الْمُقَرَّبِيْنَ فِي الرَّفِيْعِ اْلأَعْلَى وَ بَلِّغْهُ الْوَسِيْلَةَ وَ الْمَنْزِلَةَ الْجَلِيْلَةَ وَ الْفَضْلَ وَ الْفَضِيْلَةَ وَ الْكَرَامَةَ الْجَزِيْلَةَ، Ya Allah! Curahkanlah shalawat atas tuan dan maulaku, shalawat yang dengannya Kauangkat sebutannya, Kautampakkan urusannya dan Kaucepatkan pertolongannya, khususkanlah dia dengan bagian keutamaan yang paling utama pada hari Kiamat, tambahkan baginya kemuliaan di surga ‘Illiyyin yang tertinggi, sampaikanlah dia ke puncak tertinggi kemuliaan orang-orang yang telah mendapatkan kemuliaan, angkatlah dia demi kemuliaan rahmat-Mu ke tingkatan kemuliaan orang-orang yang telah memiliki kedudukan dekat (dengan-Mu) di surga yang tertinggi, sampaikanlah dia kepada kedudukan menjadi perantara, ke kedudukan yang agung, keutamaan dan kemuliaan yang agung. اللَّهُمَّ فَاجْزِهِ عَنَّا أَفْضَلَ مَا جَازَيْتَ إِمَامًا عَنْ رَعِيَّتِهِ وَ صَلِّ عَلَى سَيِّدِي وَ مَوْلاَيَ كُلَّمَا ذُكِرَ وَ كُلَّمَا لَمْ يُذْكَرْ، Ya Allah! Balaslah dia dari kami sebaik-baik balasan yang telah Kaubalaskan kepada seorang pemimpin dari rakyatnya dan curahkanlah shalawat atas junjungan dan maulaku setiap dia diingat dan setiap dia tidak diingat. يَا سَيِّدِي وَ مَوْلاَيَ أَدْخِلْنِي فِي حِزْبِكَ وَ زُمْرَتِكَ وَ اسْتَوْهِبْنِي مِنْ رَبِّكَ وَ رَبِّي، فَإِنَّ لَكَ عِنْدَ اللَّهِ جَاهًا وَ قَدْرًا وَ مَنْزِلَةً رَفِيْعَةً، إِنْ سَأَلْتَ أُعْطِيْتَ وَ إِنْ شَفَعْتَ شُفِّعْتَ، اللَّهَ اللَّهَ فِي عَبْدِكَ وَ مَوْلاَكَ، لاَ تُخَلِّنِي عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَ اْلأَهْوَالِ لِسُوْءِ عَمَلِي وَ قَبِيْحِ فِعْلِي وَ عَظِيْمِ جُرْمِي، Wahai tuan dan maulaku, masukkanlah aku ke dalam partai dan golonganmu dan mohonkanlah anugerah untukku dari Tuhanmu dan Tuhanku. Sesungguhnya engkau di sisi Allah memiliki kedudukan, nilai dan kedudukan yang tinggi. Jika engkau memohon, pasti engkau akan diberi dan jika engkau memberikan syafaat, pasti syafaatmu akan terkabulkan. Ingatlah Allah berkenaan dengan budak dan sahayamu ini. Janganlah engkau biarkan aku sendirian dalam kesusahan dan keguncangan karena jeleknya perilakuku, buruknya amalanku dan besarnya kejahatanku. فَإِنَّكَ أَمَلِي وَ رَجَائِي وَ ثِقَتِي وَ مُعْتَمَدِي وَ وَسِيْلَتِي إِلَى اللَّهِ رَبِّي وَ رَبِّكَ، لَمْ يَتَوَسَّلِ الْمُتَوَسِّلُوْنَ إِلَى اللَّهِ بِوَسِيْلَةٍ هِيَ أَعْظَمُ حَقًّا وَ لاَ أَوْجَبُ حُرْمَةً وَ لاَ أَجَلُّ قَدْرًا عِنْدَهُ مِنْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ، لاَ خَلَّفَنِيَ اللَّهُ عَنْكُمْ بِذُنُوْبِي وَ جَمَعَنِي وَ إِيَّاكُمْ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ الَّتِي أَعَدَّهَا لَكُمْ وَ لِأَوْلِيَائِكُمْ، إِنَّهُ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ، Karena engkaulah harapan, kepercayaan dan perantaraku menuju Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Orang-orang yang bertawasul belum pernah bertawasul menuju Allah dengan menggunakan perantara yang lebih agung haknya, lebih wajib menghormatinya dan yang lebih agung nilainya di sisi-Nya dari kalian, Ahlulbait. Semoga Allah tidak menjauhkan diriku dari kalian karena dosa-dosaku dan mengumpulkanku bersama kalian di dalam surga Aden yang telah Dia persiapkan untuk kalian dan para kekasih kalian. Sesungguhnya Dia adalah sebaik-baik Pengampun dan Lebih Pengasih dari para pengasih. اللَّهُمَّ أَبْلِغْ سَيِّدِي وَ مَوْلاَيَ تَحِيَّةً كَثِيْرَةً وَ سَلاَمًا وَ ارْدُدْ عَلَيْنَا مِنْهُ السَّلاَمَ، إِنَّكَ جَوَّادٌ كَرِيْمٌ وَ صَلِّ عَلَيْهِ كُلَّمَا ذُكِرَ السَّلاَمُ وَ كُلَّمَا لَمْ يُذْكَرْ، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ‏ Ya Allah! Sampaikanlah kepada tuan dan maulaku penghormatan yang tak terhingga dan salam dan kembalikanlah kepada kami salam darinya, sesungguhnya Engkau Maha Dermawan nan Pemurah, serta curahkanlah shalawat atasnya setiap kali dikumandangkan salam dan tidak dikumandangkan, wahai Tuhan semesta alam. Penulis berkata: Kami telah menukil doa ziarah di atas di bab amalan-amalan siang hari Asyura. Dan kami akan menyebutkan juga beberapa doa shalawat untuk para hujah yang suci as di mana doa shalawat ringkas untuk Imam Husain juga akan disebutkan di situ. Diharapkan jangan sampai Anda tidak membacanya. Kelima belas , Di antara amalan-amalan yang layak dibaca di makam suci yang mulia itu adalah doa seorang yang terzalimi atas orang zalim. Yaitu, jika seseorang sudah tidak mampu lagi menahan kezaliman seseorang yang selalu menzaliminya, hendaknya dia membaca doa tersebut di makam suci suci ini. Syekh Thusi ra dalam kitab Mishbâh al-Mutahajjid dalam Bab amalan hari Jumat berkata, “Disunnahkan untuk membaca doa orang yang terzalimi di sisi makam suci Abu Abdillah (Imam Husain) as. Doa itu adalah sebagai berikut, اللَّهُمَّ إِنِّي أَعْتَزُّ بِدِيْنِكَ وَ أَكْرُمُ بِهِدَايَتِكَ وَ فُلاَنٌ يُذِلُّنِي بِشَرِّهِ وَ يُهِيْنُنِي بِأَذِيَّتِهِ وَ يُعِيْبُنِي بِوَلاَءِ أَوْلِيَائِكَ وَ يَبْهَتُنِي بِدَعْوَاهُ وَ قَدْ جِئْتُ إِلَى مَوْضِعِ الدُّعَاءِ وَ ضَمَانِكَ اْلإِجَابَةَ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ وَ أَعِدْنِيْ عَلَيْهِ السَّاعَةَ السَّاعَةَ Ya Allah! Aku menjadi mulia dengan (perantara) agama dan petunjuk-Mu dan si Fulan menghinaku dengan keburukannya, meremahkanku dengan gangguannya, mencelaku karena aku berwilayah kepada para kekasih-Mu dan membuatku tercengang dengan pengakuannya, sedangkan aku telah mendatangi tempat doa dan jaminan-Mu untuk mengabulkannya. Ya Allah! Curahkanlah shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad dan kembalikanlah (shalawat) kepadanya pada saat ini juga, pada saat ini juga. Kemudian, rebahkanlah diri Anda ke atas makam suci dan ucapkanlah, مَوْلايَ إِمَامِي مَظْلُوْمٌ اسْتَعْدَى عَلَى ظَالِمِهِ النَّصْرَ النَّصْرَ Wahai maulaku, wahai imamku, seorang yang terzalimi datang mengadukan orang yang menzaliminya. Bantulah dia, bantulah dia! Bacalah kalimat an-Nashr tersebut hingga napas Anda terputus. Keenam belas , Di antara amalan-amalan di dalam makam suci suci itu adalah sebuah doa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Fahd dalam kitab ‘Uddah ad-Dâ‘î dari Imam Shadiq as. Beliau berkata, “Jika seseorang memiliki sebuah hajat kepada Allah, maka berdirilah di dekat kepala Imam Husain as dan ucapkanlah, يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّكَ تَشْهَدُ مَقَامِي وَ تَسْمَعُ كَلاَمِي وَ أَنَّكَ حَيٌّ عِنْدَ رَبِّكَ تُرْزَقُ، فَاسْأَلْ رَبَّكَ وَ رَبِّي فِي قَضَاءِ حَوَائِجِي Wahai Abu Abdillah, aku bersaksi bahwa engkau melihat tempatku dan mendengar ucapanku, serta bahwa engkau adalah hidup di sisi Tuhanmu dengan mendapatkan kucuran rezeki. Maka, mohonlah kepada Tuhanmu dan Tuhanku untuk mewujudkan seluruh hajatku. Sesungguhnya hajat pasti akan terwujudkan, insya Allah.” Ketujuh belas , Di antara amalan-amalan di dalam makam suci suci itu adalah shalat sebanyak dua rakaat dengan membaca surah ar-Rahmân dan al-Mulk di dekat kepala beliau as. Sayid Ibnu Thawus ra meriwayatkan bahwa sesiapa mengerjakan shalat ini, niscaya Allah Yang Maha Pemberi anugerah akan menulis baginya dua puluh lima kali haji yang dikabulkan dan mabrur yang telah dikerjakannya bersama Rasulullah saw. Kedelapan belas , Di antara amalan-amalan di dalam makam suci suci itu adalah melakukan istikharah. Caranya adalah seperti yang dianjurkan oleh Allamah Majlisi ra. Asal hadis ini terdapat dalam kitab Qurb al-Isnâd karya Himyari. Allamah berkata, “Diriwayatkan dari Imam Shadiq as bahwa setiap hamba yang dalam urusannya beristikharah kepada Tuhan semesta alam sebanyak seratus kali dengan berdiri di dekat kepala Imam Husain as seraya membaca Alhamdu lillâh wa lâ ilâha illa-llâh wa subhânallâh, mengingat Allah dengan keagungan, memuji-Nya sesuai dengan diri-Nya dan beristikharah kepada-Nya sebanyak seratus kali, niscaya Dia akan mewujudkan urusan itu sesuai dengan kebaikan dirinya.” Sesuai dengan hadis yang lain, beristikharah dengan membaca bacaan berikut ini sebanyak seratus kali, أَسْتَخِيْرُ اللَّهَ بِرَحْمَتِهِ خِيَرَةً فِي عَافِيَةٍ Aku memohon kebaikan kepada Allah dengan rahmat-Nya, kebaikan dalam keselamatan. Kesembilan belas , Syekh Abul Qasim Ja‘far bin Qaulawaeh Qummi meriwayatkan dari Imam Shadiq as bahwa beliau berkata, “Ketika kalian berziarah ke makam suci Abu Abdillah as, hentikanlah pembicaraan kecuali dalam kebaikan. Sesungguhnya siang dan malam para malaikat penjaga mendatangi para malaikat yang berada di makam suci beliau as dengan tujuan untuk berjabatan tangan. Para malaikat yang berada di makam suci itu tidak menghiraukan mereka, karena mereka selalu sibuk menangis kecuali pada waktu tergelincir matahari (zawal) dan fajar (di pagi hari). Pada kedua waktu itu, mereka baru berbicara dengan para malaikat penjaga itu dan para malaikat penjaga itu menanyakan kepada mereka tentang urusan langit. Adapun di antara kedua waktu tersebut, para malaikat yang berada di makam suci itu enggan untuk berbicara dan selalu menangis dan berdoa.” Dia juga meriwayatkan dari beliau bahwa Allah Swt mengirim empat ribu malaikat ke makam suci Imam Husain as dalam kondisi rambut awut-awutan dan berlumuran tanah. Mereka menangisi beliau as bak orang-orang yang tertimpa musibah dari saat fajar menyingsing hingga waktu Zuhur tiba. Ketika waktu Zuhur tiba, empat ribu malaikat lagi turun ke bawah dan mereka naik ke atas. Mereka senantiasa menangis hingga fajar pagi hari tiba. Sangat banyak hadis yang searti dengan kedua hadis tersebut. Dari hadis-hadis itu dapat dipahami bahwa menangis untuk beliau di makam suci suci itu sangat dianjurkan. Bahkan, sangat layak untuk dijadikan sebagai salah satu amalan di makam suci yang penuh berkah itu sebagai tempat duka-cita para pengikut Ahlulbait as. Dari hadis Shafwan yang diriwayatkan dari Imam Shadiq as dapat dipahami bahwa para malaikat selalu khusyuk di sisi Allah dalam melaknat para pembunuh Amirul Mukminin as dan Imam Husain as, para jin merintih terhadap beliau dan para malaikat yang berada di sekitar makam suci Imam Husain as selalu menangis. Kesedihan mereka begitu menyayat hati sehingga jika seseorang mendengarnya, niscaya makan, minum dan tidur tidak akan terasa enak baginya. Dalam hadis Abdullah bin Hammad Bashri, Imam Shadiq as pernah berkata kepadanya, “Aku mendapat berita bahwa sekelompok orang datang ke kuburan Husain as dari pinggiran kota Kufah. Dan sebagian lagi bukan dari pengikut dan para wanita yang menangis terhadap beliau. Hal itu terjadi pada pertengahan Sya‘ban. Sebagian dari mereka ada yang membaca (doa ziarah) dan sebagian lagi membacakan kisah syahadah dan seluruh musibah (yang telah menimpa beliau), serta kelompok ketiga menangis sambil membaca belasungkawa ‘‘azâ.’ ‘Ya, semoga aku menjadi tebusan Anda. Aku telah melihat sendiri sebagian yang telah Anda tuturkan itu,’ jawabku. Beliau berkata lagi, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memilih di antara umat ini orang-orang yang mau datang kepada kami untuk memuji kami dan membaca ‘azâ untuk kami dan menjadikan para musuh kami orang-orang yang mencerca mereka, baik mereka berasal dari keluarga kami atau selain mereka, mengancam mereka dan menganggap jelek perbuatan mereka ini.’” Di permulaan hadis ini disebutkan bahwa sesiapa pergi berziarah kepadanya, dia akan menangis. Sesiapa yang tidak (sempat) pergi berziarah kepadanya, dia akan sedih terhadap musibahnya dan hatinya seakan-akan terbakar. Sesiapa mengingatnya, dia akan merasa belas kasihan. Sesiapa melihat kuburan putranya di bawah kakinya, (dia akan melihat) bahwa kuburannya tergeletak sendirian tiada keluarga dan sahabat di sisinya. Mereka telah merampas haknya dan sekelompok orang kafir dan murtad telah berkumpul dan bersekongkol untuk membunuhnya. Mereka membiarkannya tergeletak di padang pasir dan tidak menguburkannya, serta mencegahnya untuk meminum air sungai Efrat, padahal anjing-anjing dapat meminumnya. Mereka telah memusnahkan hak Rasulullah saw dan wasiat yang telah beliau tekankan berkenaan dengannya dan keluarganya. Ibnu Qaulawaeh meriwayatkan dari Harits A‘war bahwa Amirul Mukminin as berkata, “Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusan Husain yang syahid di belakang Kufah! Demi Allah, aku melihat binatang-binatang padang sahara dari segala jenisnya menjulurkan lehernya di atas makamnya dan mereka menangis dari malam hingga pagi hari. Jika demikian halnya, maka hindarilah berbuat zalim (dengan tidak menziarahinya).” Hadis dalam hal ini sangat banyak sekali. Kedua puluh , Sayid Ibnu Thawus ra berkata, “Disunnahkan bagi seseorang yang telah selesai berziarah kepada beliau dan dia ingin keluar dari makam suci suci itu untuk menempalkan badannya ke makam suci itu dan menciumnya seraya membaca, السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا مَوْلاَيَ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا حُجَّةَ اللَّهِ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا صَفْوَةَ اللَّهِ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا خَالِصَةَ اللَّهِ، Salam sejahtera atasmu, wahai maulaku. Salam sejahtera atasmu, wahai hujah Allah. Salam sejahtera atasmu, wahai pilihan Allah. Salam sejahtera atasmu, wahai pilihan murni Allah. السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا قَتِيْلَ الظَّمَاءِ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا غَرِيْبَ الْغُرَبَاءِ، Salam sejahtera atasmu, wahai yang terbunuh dalam kehausan. Salam sejahtera atasmu, wahai yang terasing dari orang-orang yang terasing. السَّلامُ عَلَيْكَ سَلاَمَ مُوَدِّعٍ لاَ سَئِمٍ وَ لاَ قَالٍ، فَإِنْ أَمْضِ فَلاَ عَنْ مَلاَلَةٍ، وَ إِنْ أُقِمْ فَلاَ عَنْ سُوْءِ ظَنٍّ بِمَا وَعَدَ اللَّهُ الصَّابِرِيْنَ، Salam sejahtera atasmu, salam orang yang ingin berpisah, tidak jemu dan tidak memusuhi. Jika aku pergi, hal itu bukan disebabkan oleh kepenatan(ku) dan jika aku bertahan (di sini), hal itu bukan dikarenakan oleh buruk sangka terhadap janji Allah kepada orang-orang yang sabar. لاَ جَعَلَهُ اللَّهُ آخِرَ الْعَهْدِ مِنِّي لِزِيَارَتِكَ وَ رَزَقَنِيَ اللَّهُ الْعَوْدَ إِلَى مَشْهَدِكَ وَ الْمَقَامَ بِفِنَائِكَ وَ الْقِيَامَ فِي حَرَمِكَ، وَ إِيَّاهُ أَسْأَلُ أَنْ يُسْعِدَنِي بِكُمْ وَ يَجْعَلَنِي مَعَكُمْ فِي الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ Semoga Allah tidak menjadikannya sebagai akhir pernjanjianku untuk meziarahimu dan menganugerahkan kepadaku untuk kembali kepada makammu, bersemayam di haribaanmu dan beribadah di astanamu. Hanya kepada-Nya aku memohon agar membahagiakanku dengan (perantara) kalian dan menjadikanku bersama kalian di dunia dan akhirat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar